Yankee

Disclaimer: Fujimaki Tadatoshi

Genre: Romance

Warning: OOC, geje, dll

,

,

,

,

,

"Kita sampai" Kise membuka matanya, ia tak menyangka ia sudah tidur di punggung Aomine. Aomine menurunkan Kise secara perlahan. Dengan cepat, Kise langsung melesat ke papan pengumuman. Kise melihat namanya berada di kelas 1-A dan dibawah namanya adalah nama Aomine ia juga masuk di kelas 1-A.

"Dah, yeah" Aomine berjalan keluar. Kise langsung melihat Aomine.

"Aominecchi, kok gak masuk kelas ssu~?"

"Tidak, aku kesini hanya mau membantu mu"

"Tapi ini hari pertama kita masuk sekolah ssu~!"

"Ogah"

"Ayolah Aominecchi"

"Tidak, jangan ikut campur urusanku"

"Kumohon"

"Cih"

"Sensei maaf kami telat ssu~" Kise dan Aomine masuk kelas bersama. Aomine bingung mengapa ia begitu mudahnya di taklukkan oleh si pirang ceriah ini sih. Puppel eyesnya membuat Aomine iba dengan Kise, itu membuat Aomine lemah terhadap Kise. Dan Aomine tidak suka itu.

"Baiklah kembali ke tempat duduk kalian masing-masing" kata Senseinya, masih memegang buku absen. Ternyata mereka tidak terlalu terlambat, bukan?

"Hai"

"Cih"

Kise berjalan duluan, mengambil tempat belakang, duduk dengan tenang. Aomine berjalan menuju tepat duduk di depan Kise, mendorong kursinya ke belakang dengan keras dan mulai duduk di kursinya. Semua orang menatap Aomine. Yankee benar-benar menakutkan, pikir hampir semua anak di kelasnya.

"Cih ini benar-benar menyebalkan" Gerutu Aomine.

Pelajaran di mulai dengan matematika, semua orang begitu serius mencatat, mencermati gurunya, dan lainnya yang berhubungan dengan belajar, kecuali untuk Aomine tentu saja. Aomine melihat buku pelajarannya yang di selipkan majalah harem kesayanganya, majalah Mai-chan.

"Aomine-san disini ada pertanyaan, tolong-" senseinya menunjuk pertanyaan pertama kepada Aomine. Tapi Aomine menghiraukannya

"Aku tidak tahu"

"Ini ada pertanyaan-" Senseinya menunjuk pertannyaan yang kedua, tapi Aomine tidak memedulikannya lagi.

"Aku tidak tahu"

"Ini ada-"

"Aku tidak tahu" katanya sekali lagi kepeda gurunya.

"Apakah kau mendengarkan?" sensei mendesah melihat tingkah anak didiknya.

"Apakah aku harus?"

"kemudian bergi pulang," seorang anak laki-laki berambut hijau berkata dengan rasa jengkel dengan sikap Aomine. Menurutnya, Aomine tidak pantas sekolah disini.

", Sensei, aku akan mengerjakannya" anak laki-laki itu berdiri dari tempat duduknya dan mulai mengerjakan tiga soal yang seharusnya milik Aomine. Dia mengerjakan soal dengan cepat dan selesai hanya dengan lima menit. Semua orang menatapnya, termasuk Aomine.

"Sensei, sebaiknya kita melanjutkan Bab selanjutnya" katanya memberikan kapur kepada guru dan kembali ke tempat Aomine dengan tatapan sinis, Aomine juga merasakan tatapan sinis itu. Sensei mencocokkan jawaban yang di papan tulis dengan yang ada di bukunya.

"semuanya benar"

"Wow itu luar biasa"

"Mengagumkan"

"Hebatnya ia bisa mengerjakan dengan secepat itu"

Aomine hanya meringis melihat kejadian itu, ia tak percaya, ia sangat diremehkan di kelas ini.

"Hebat? Heh ..." gumam Aomine. Aomine menendak mejanya dan mulai keluar dari kelas yang gerah ini. Membuka pintu dan mulai menutup pintu dengan keras.

Bruggh!

"Apa yang dia lakukan, Yankee benar-benar menakutkan" kata salah satu anak di kelasnya.

Kise hanya bingung dengan tingkah Aomine. Mengapa Aomine harus marah? Bukannya bagus ada yang mau menolongnya mengerjakan soal yang diberikan guru? Tapi, disisi lain ia terkagum-kagum dengan kepandaian laki-laki berambut hijau itu. Kise, tak menyangka di kelasnya akan ada orang yang pintar. Menurutnya itu adalah anugrah.

-_- / ^0^ / x_x

Teeet ...

"Kau Midorima Shintarou, bukan?" laki-laki berambut hijau yang dipanggil Midorima menengok kebelakang. Terlihat anak laki-laki berambut pirang menatapnya.

"ya, Ada apa?" katanya masih merapihkan bukunya.

"Nee ... mau makan bersama ssu~" setelah merapihkan tasnya, Midorima kembali melihat kembali ke Kise. Terlihat kotak bekal yang berada di tanggannya.

"Tidak terima kasih, aku akan makan dikantin" Midorima tidak menatapnya kembali, dan sekarang mulai mengelap kacamatanya.

"Tapi kan? Di SMA Touto, kantin sangat ramai kalau kau tidak langsung kesana jika sudah bel, selai itu aku merasa tak masalah jika kita saling berbagi bekal"

"Tidak terima kasih, aku akan makan dikantin" katanya mulai keluar dari kelas.

Kise hanya bisa menatap pintu. Dalam beberapa detik terdengar suara langkah kaki murid kelas tiga datang seperti segerombolan zebra yang baru saja melintas.

Tap, Tap, Tap, Tap, Tap, Tap, Tap, Tap, Tap, Tap, Tap, Tap,

Bruggh!

Aaaaaa...

Uaaaaa ...

Oh, tidak bekal ku!

Setel mendengar kejadian itu, Midorima kembali dengan baju compang camping, wajah yang kusut, rambut yang berantakan, dan kaca matanya sudah tidak tau entah kemana.

"Baik aku akan menerima tawaranmu" katanya dengan datar.

"Hmm" Kise menganggu dan mulai mempersiapkan tempat untuk mereka makan. Kise juga membawa sumpit dua, jadi mereka bisa makan. Sedangkan Midorima membenarkan bajunya yang tadi habis kena gerombolan zebra dan juga mengambil kacamata cadangannya di dalam tasnya. Midorima duduk berhadapan dengan Kise.

"Ittadakimasu~" Kise mulai membuka bekalnya. Tampang Midorima yang datar berubah dengan wajah pasrah.

Mengapa saya menerima tawarannya ...

Midorimah melihat makan Kise yang warnanya biru ? dan didominasi dengan warna hitam. Apakah ini bisa di anggap dengan makanan? Midorima mengerang sedikit saat melihat makanan yang ada di hadapannya.

Kise mulai memakannya dan melahapnya tanpa ragu, dan menelannya sambil tersenyum seperti 'TAK ADA MASALAH DENGAN MAKANAN INI' itu membuat Midorima tercengang.

Kise mulai menatap pemuda yang berada di depannya, bertanya-tanya mengapa pemuda yang ada di depanya tidak memakan makananya.

"Midorima-kun, kok gak makan?" Midorima yang tadinya menatap makanan yang mempunyai aura membunuh, langsung menatap malaikan tanpa dosa yang membuat makanan yang terkutuk itu.

"Ayo dicoba, ini enak ssu~ aku sendiri yang membuatnya" Midorima mendengar pengakuan si pembuat makanan yang –terkutuk- itu. Langsung mengambil makanan yang berada di bento dan langsung memasukkan ke dalam mulutnya dengan setengah hatinya.

'Aku tak percaya ini enak juga' kata pikirannya setelah menelan makanan itu.

"Bagaimana rasanya nee~ ?"

"Bukanya aku memuji, hanya saja makanan ini cukup enak, tak seperti cover-nya" katanya mulai mencicipi makanan yang sekarang yang warnanya biru ?

"hmm, benarkan?" katanya dengan senyuman besar di wajahnya. Midorima melihat itu langsung merasa pipinya merah sedikit dan langsung mengalihkan pandanggannya.

'Mengapa ia tersenyum padaku?' Pikirnya masih mengunya makanan

"Itu buka pujian" Midorima mencoba menguba suasana di sekitarnya agar tidak aneh seperti ini, namun gagal. Midorima masih bisa melihat senyuman Kise itu.

Pintu kelas terbuka, Kise langsung melihat siapa yang membuka pintu. Terlihat seorang pria berambut biru, berkulit coklat, dan ia memakai seragam SMA Touto, itu Aomine.

"Aominecchi, mau makan bersama?" tawar Kise. Aomine menatap kise dan Midorima.

"Tidak, aku akan pulang"

"Tapi ini kan masih jam sekolah ssu~?"

"Sudah jangan ikut campur urusanku Kise" Aomine marah. Kise hanya diam, tak bisa berbuat apa-apa.

Aomine berjalan menuju mejamya dan mengambil barang-barangnya dan tasnya. Aomine keluar dari kelas dan ia menghindari pandangannya dengan Kise.

Bragh!

Pintu Kelas yang malang terbanting kembali.

Kise melihat tingkan Aomine, ia masih bingung dengan kejadian ini. Kise merasa, Aomine sangat marah, tapi ia tidak tahu siapa orang yang Aomine tujukan.

Setelah beberapa menit Midorima melihat kejadian itu, ia langsung menghela napas. "Kise, terimakasih atas makanannya" perkataan Midorima membuat Kise membuyarkan lamunannya.

"Mengapa, Midorima-kun? Apakah kau tak menyukai makananku?"

"Tidak, aku merasa aku sudah kenyang"

-_- / ^0^ / x_x

Aomine berjalan menuju gerbang sekolah. Aomine sudah menelepon Himuro datang ke sekolahnya untuk menjemputnya.

Aomine berjalan dengan kasar. Aomine merasa hari ini, hari tersialnya. Ia mulai mengutuk dari taman yang ia tempati, si pirang, sekolah ini, dan juga orang yang ada di sekolah ini.

Aomine benar-benar marah, merasakan harga dirinya jatuh di tangan si alien hijau itu dan lagi mengapa harus Kise harus makan bersama dengan si alien itu. Itu membuat Aomine frustasi.

Aomine sudah sampai di gerbang, melihat ke sekitar, orang yang ia tunggu belum datang. Aomine benar tidak bisa menahan emosinya sekarang. tempramen Aomine benar-benar buruk untuk saat ini.

'Mana sih, Himuro-teme itu' pikir Aomine yang benar-benar marah. Aomine berdoa, semoga saja tidak hal buruk menimpanya lagi.

,

,

,

,

,

TBC

Gomenasai, Chapter 2 masih terlalu sedikit! Aku akan membuat lebih panjang lagi di Chapter 3 nya. Menurut kalian bagaimana adegannya, romancenya dapet enggak? Maaf kalau kurang dapet Cute Little Cat masih susah buat Romance. Sebenarnya, buat romance adalah tantangan terberat buat Cute Little Cat. Tapi, aku akan berusaha ^_^

Aku membuat adegan MidoKi di sini dan membuat Aomine cemburu disini. Hehe.. aku pikir Aomine sangatlah imut pada saat cemburu.

Jangan lupa R & R, ya ...