21. Vacation
"Matt." Panggilku, membuat ia memalingkan wajahnya, menatapku lekat dari balik goggles jingga yang dikenakannya. "Bagaimana kau bisa menemukanku?"

"Well... bukan hal yang mudah." Ia tersenyum lagi dan menaruh pizza tuna di meja kecil sebelah ranjang. "Sebenarnya setelah kau pergi, aku baru mau memberitahumu bahwa aku memutuskan akan mengambil multimedia dan IT." Matt mengangkat kakinya ke ranjang dan menggigit pizza di tangannya. "Ya dan aku hanya melacak keberadaanmu."

Aku mengernyitkan alisku. "Hm? Itu bukan hal yang mudah juga, Matt."

"Aku belajar dengan cepat. Um... Mello..."

"Hm?"

"Setelah Near dan kau pergi dari Wammy's, aku menjadi juara satu." Ia berkata dengan pipi yang agak merah. Sangat imut, membuatku ingin loncat dan menciuminya. "Ini." Ia menyodorkan coklat Hershey's.

"Favoritku." Aku tersenyum dan mengambil coklat itu dari tangan Matt.

Tidak ada satu pun diantara kami yang berbicara mengenai hubungan yang pernah kamu lakukan di Wammy's. Yah, sebenarnya memang lebih baik begitu sih. Matt menceritakan segala kejadian dari setelah aku meninggalkan Wammy's hingga ia menyusulku.

Entah kenapa, aku merasa rindu dengan tempat itu... Setelah kegilaan ini selesai, aku pasti akan kembali lagi kesana, menggerek Matt kalau perlu.

22. Mother Nature
"Tempat ini indah..." Aku berkata sambil menerawang ke arah matahari senja yang menyejukkan.

"Hm." Matt mengangguk pelan dan duduk disisiku.

Sudah berapa lama kiranya sejak aku belum melihat suasana yang menentramkan. Selama ini aku hanya duduk di dalam bangunan tua milik mafia yang gelap dan membosankan.

"Sial. perban ini mengganggu." Aku menggerutu sambil menyentuh benda putih yang menutupi pandangaku itu.

"He-hey, jangan." Matt memegang tanganku. "Lukamu belum kering..."

Menyadari ia menggenggam pergelangan tangaku, aku diam dan menatapnya lekat. Matt sadar apa yang ia sedang ia lakukan dan wajahnya memerah, menarik tangannya kembali.

"Maaf..."

"Tidak apa-apa." Aku berkata, memalingkan wajahku ke tempat lain, berusaha menutupi rona di wajahku.

23. Cat
"Cih, mana anak itu?" Aku menyandar pada tiang lampu sambil menunggu Matt yang katanya mau ke toilet. Hujan mulai turun rintik-rintik.

"Mello, maaf aku lama!"

"Yeah, kau harus minta maaf." Aku berkacak pinggang.

"Tadi aku sedang berpikir apakah aku harus membawah hewan malang ini..." Ia berkata sambil mengangkat seekor anak kucing di tangannya. "Sebentar lagi akan hujan deras jadi..."

"Kita tidak ada waktu untuk mengurusi kucing itu, Matt."

"Tapi kasihan, kan!"

"Kita ada kasus yang jauh lebih penting untuk diselesaikan."

"Meeelllooooo... pleasseee! Setidaknya bawa saja ia kerumaahh!"

Aku memutar bola mataku dan berpikir, 'Dasar tolol, itu kan rumahmu.'

"Ya? Ya?"

"Fine!" Aku membalikkan badanku. "Aku tidak mengurusi kucing itu."

"He? Kok begitu?"

"Ini keputusanmu, jelek."

"Mello, kau... tak berperikebinatangan!"

24. No Time
"Matt, aku mau mandi dulu." Ujarku sambil mencuri satu handuk.

"Kau tidak bisa mandi tanpaku." Matt menjawab dengan jari-jari gesit yang menekan tombol PSP.

"Hah?"

"Maksudku kau kan diperban. Aku akan membantumu mandi." Ia mengoreksi ucapannya.

"Oh. Aku bisa kok menyuci tubuhku."

"No shit." Ia mematikan benda hitam itu. "Aku akan memandikanmu." Ia tersenyum manis; mematikan menurutku, dan mendorongku ke dalam kamar mandi, mengunci pintunya.

That... seems so wrong...

Matt melepas vest miliknya, melemparnya ke dekat pintu dan selanjutnya, ia membuka baju stripes merah hitamnya.

"Tunggu apa lagi, Mello?"

"Kau bertindak seperti mas-mas yang menyewa pelacur..."

Matt tertawa lepas. "Kalau begitu... sekarang aku akan bertindak seperti pemerkosa handal!" Ia menyeringai dan dengan lincah membuka baju kulitku, melepas belt hitam milikku dan memeloroti celanaku.

"H-HEI! JANGAN! MAAATT!"

25. Trouble Lurking
"Memata-matai?"

"Ya."

"Misa Amane?"

"Ya."

"Sekarang?"

"Ya."

"Tapi, Mello... apa kau yakin ia Kira ke dua? Ia terlihat seperti gadis biasa saja..." Bantah Matt.

"Kau meragukan L?"

"Bukan begitu..."

"Jadi?"

"Lebih baik jangan sekarang." Ia berkata sambil melihat kebawah.

"And why is that?" Aku menaikan satu alisku.

"Aku mau lukamu mengering dulu." Matt tersenyum. "Baru kau boleh mengaturku."

Mendengar hal itu, hatiku melembut.

26. Tears
Aku terdiam melihat refleksi diriku sendiri di cermin. Wajahku memucat dan tangan kananku menyentuh bagian kiri wajahku yang dulu mulus.

'What the heck...'

Dengan ekspresi yang ketakutan, aku dapat merasakan bekas luka yang kasar. Sangat menjijikan dan menggelikan.

'...is this...'

Aku menutup kedua mataku dan membukanya lagi. Luka tersebut masih ada, belum hilang. Tanpa sebab yang jelas, setetes air mata jatuh dari pelupuk mataku.

Perasaan apa ini?

27. Foreign
Aku mungkin tidak menyadari bahwa kakiku sedang bergerak dengan sangat cepat, melesat keluar dari apatermen Matt menuju ke sebuah tempat yang tidak jelas. Apa yang akan dikatakan orang-orang bila melihat lukaku? Jelas, aku sangat malu.

Aku baru sadar kalau hujan sedang turun dengan derasnya ketika aku berhenti di dekat trotoar dan berpaling ke belakang untuk melihat gemerlapnya cahaya lampu jalan. Beberapa mobil berjalan melewatiku dan tak jarang, beberapa orang dengan payung berlarian.

Satu jam lamanya aku berdiri disana, tak bergerak, terdiam memandang jalan aspal.

Dunia terasa sangat asing.

28. Loneliness
Kenapa aku lari dari apatermen milik Matt? Dan kenapa aku menangis tadi? Otakku tidak dapat memberikan jawaban yang benar.

Terduduk di trotoar, aku memandang bulan sabit di langit yang gelap.

Untuk apa aku terdiam disini?

29. Sorrow
Kedua mataku tertutup rapat. Tubuhku menyandar di batang pohon yang kokoh. Lutut mengarah ke dagu dan tanganku memeluk mereka erat.

Hujan terus mengguyur bumi, membasahi semua yang ada di bawahnya, termasuk aku.

Suara mobil, motor maupun tapak kaki orang yang berlarian sudah tidak terdengar lagi. Mereka pasti sudah ada di rumah, bersama orang-orang yang mereka sayangi. Aku juga seharusnya berada di posisi mereka, kan? Bersama orang yang paling ku cintai...

Namun dengan wajah seperti ini? Ia tidak akan mencintaiku...

Tidak mungkin...

Bahkan dalam mimpi sekalipun...

30. Under the Rain
Splash

Satu...

Splash

Dua...

Splash

Tiga...

'Masih ada saja yang terjebak dalam hujan...' Aku menggumam sambil terus melihat ke arah rumput yang tengah kududuki. 'Cepatlah pulang... Sudah banyak yang menunggumu...' Pikirku ketika mendengar langkah kaki itu berhenti.

Seketika, hujan berhenti mengguyurku. Aku menengadah ke atas untuk melihat seseorang telah menghalanginya dengan sebuah payung.

"... Matt?" Aku berdiri dengan penuh tanda tanya. "Kau mau apa?"

Tangan yang dibalut gloves itu bergerak dengan kecepatan penuh dari kanan ke kiri.

SLAP

"A-aku mencarimu selama tiga jam penuh! Dan... itukah balasannya? 'Kau mau apa?' Mello! Aku... benar-benar... khawatir... Aku takut sesuatu yang buruk terjadi padamu..." Meskipun tanpa payung yang menahan air hujan, aku tahu... ia sedang menangis. "Kenapa kau pergi tanpa bilang kepadaku?"

"Mencari udara segar..."

"Udara segar? Hujan-hujan begini? Mello... aku tahu sifatmu. Tolong jangan berbohong..."

"Aku... hanya ingin... udara segar..." Ucapku, terbata-bata.

"Mello! Kenapa kau begitu takut mengatakan yang sebenarnya?" Bentaknya. "A-aku ini... t-temanmu, kan?"

"Matt, aku tidak ingin memberitahumu."

"KENAPA? KENAPA? Mello! Kau mau lari dariku kan? Itu kan? Karena kau pikir aku ini hanya batu sandungan! Aku tidak lebih dari bocah kecil yang menghentikanmu dari memaksakan diri! Kau mau-"

"KARENA AKU MALU, MATT!"

"Ma-malu...?" Tanyanya dengan air yang masih menggenang di balik goggles.

"Aku ini bercacat!" Ujarku, menunjuk belahan wajah kiriku yang kini telah dipenuhi oleh bekas luka yang menjijikan. "Aku tidak layak berdekatan dengan orang sepertimu! Lebih lagi, aku ini mafia... Kau? Kau hanya mantan anak Wammy's yang paling suka membuat graffiti..."

SLAP

"Kau ini... orang paling bodoh yang pernah kutemui..." Matt berkata setelah menamparku lagi. "Aku telah jatuh cinta padamu, Mihael. Sejak dari Wammy's, aku ingin memberitahumu..."

"Karena itu aku takut! Aku tidak mau kau sampai berlari pergi dari hidupku karena luka ini! Karena diriku! Aku tidak mau kau meninggalkanku karena aku juga cinta padamu, Mail!" Bentakku.

Payung yang ada di genggaman Matt terjatuh ke tanah. Mulutnya bergetar tanpa ada suara keluar.

Pada saat itu juga, ia memeluk tubuhku.

"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Mihael... Bahkan dalam mimpi sekalipun... tidak akan." Ia berbisik dengan nada terseguk. "Meskipun kamu buta, tuli, cacat... aku tidak akan pernah pergi dari sisimu... Bahkan ketika kau memukulku diriku atau merusak hatiku... tidak sekalipun aku akan berpaling darimu... Because my love for you is sincere and humble, Mihael..."

Mendengar pernyataan itu, aku dapat merasakan mataku memanas dan air berjatuhan, terbawa derasnya hujan.

"Thanks..." Ucapku, tidak bisa memikirkan hal yang lebih indah untuk diucapkan yang dapat mengalahkan pernyataan cinta Matt.

Saat itu juga, kebimbangan dalam otakku sirna.

Matt menyentuh bibirku dengan miliknya, lembut... perlahan... dan manis...

Even sweeter than every chocolate in this world...

TBC