Chapter 3 /
Sanghyuk dan Hongbin kembali bertemu dua kali lagi sejak yang terakhir.
Di sebuah akhir minggu yang membosankan, satu pesan singkat lain membuat Sanghyuk nyaris menabrak pot bonsai kesayangan sang ayah, saat berlari kilat keluar rumah.
Walau tempat yang ia tuju sudah ramai sesak akan pengunjung, dimana didominasi oleh remaja seusianya, tidak butuh waktu lama baginya untuk menemukan si pengirim pesan yang tengah berdiri—dengan stunningnya—tak jauh dari ticket booth berbalut kaos rock-band Royal Pirates, jaket varsity yang dipadu chinos cokelat, dan tentu tak lupa, kamera.
Hongbin mengeluarkan tiket BLASTIN' Volume dari rogohan sakunya yang kemudian disambut Sanghyuk dengan setengah tidak percaya kalau ia akan segera menonton acara yang mendatangkan band-band indie baik yang terkenal maupun pendatang baru, baik dari dalam dan luar negeri, yang diadakan di blok A tersebut.
Terlebih dengan orang yang selalu ingin ia ajak.
Dentuman bass, gitar, drum dan vokal pun pecah membaur jadi satu. Hongbin tersenyum melihat bagaimana Sanghyuk yang tidak bisa diam dan terus dengan hiper-nya melafalkan tiap lirik masing-masing guest star yang tampil. Tidak ada yang menyangka kalau ternyata mereka berbagi selera musik yang sama. Jace, Rose Motel, Never Mind, Eye Candy, Guckkasten dan list berjalan terus.
"Apa kau bercanda Hyung?! Aku kira hanya aku di sekolah yang mendengarkan mereka!", histeris Sanghyuk, sesaat sebelum giliran Jace naik panggung untuk membawakan Serenade.
'Can you fall into deep inside of my heart? Love of my life, love of my life
I will sing for you from inside of my mind, only for you, a serenade',
Seperti tidak ada hari esok, keduanya mengeluarkan seluruh energi yang bisa mereka kerahkan dari rongga dada mereka. Segala euforia saat adrenalin mengalir kencang dalam darah, dengan satu tangan yang mengayun di udara dan tangan yang lain saling merangkul. Melompat bersama Hyungnya. Semua seperti terjadi dalam slow-motion bagi Sanghyuk.
Ia dapat merasakan suaranya mulai habis di seperempat bagian terakhir.
Namun Sanghyuk berani bertaruh, ia tidak bisa lebih puas dari ini.
Hari sudah gelap ketika Jaywalking dari Eye Candy melantun menutup hari terakhir festival musik tiga tahunan itu. Hongbin kukuh ingin mengantar Sanghyuk pulang walaupun juniornya terus menolak dengan alasan akan merepotkan.
Sayang, Hongbin tidak menerima penolakan dan nafas Sanghyuk harus tertahan sekali lagi saat Hongbin mengalungkan jaket pada tubuh Sanghyuk yang menurutnya kedinginan, karena tangannya yang daritadi tanpa sadar, saling berpegangan dengan miliknya,
juga dingin.
-
Di taman dekat rumah Hongbin, selanjutnya adalah Hyuk yang minta berhubung ia masih punya "hutang" dengan Hyungnya dan Sanghyuk bukanlah tipe orang yang suka menyimpan hutang terlalu lama.
Ia mengidekan balasan traktiran berupa es serut.
Alis Hongbin terangkat sebelah melihat pemandangan Sanghyuk yang datang dengan catatan fisika, ransel dan beberapa pulpen, persis seperti mau pergi ke sekolah. "Hey! Ini tidak sesuai perjanjian-kan, aku menjadi tutormu?", kekehnya. Walau begitu, menjadi seorang Hyung dan anak kelas 3 yang baik, Hongbin, berhasil menguraikan benang kusut yang selama ini bergumul di pikiran si anak kelas 2 di hadapannya.
Di antara sepoi angin dan sinar matahari yang cukup cerah, Sanghyuk belajar dan mencerna banyak hari itu.
Mulai dari rumus magnet yang ternyata menjadi sangat sederhana dengan trik yang diajarkan oleh Hongbin sampai diri Hongbin sendiri.
Dari jaraknya dengan Hyung yang tengah mengajarinya sedekat ini, Sanghyuk mengamati bahwa disamping cerukan lesung pipitnya, ternyata Hongbin memiliki sepasang iris cokelat yang begitu indah, bingkai mata yang membentuk bulan sabit sempurna dan kerutan menggemaskan di ujungnya setiap tersenyum. Di lain sisi, bibir yang mengerucut dan alis yang bertemu saat ia memikirkan sesuatu dalam-dalam. Sanghyuk membayangkan apakah orang tua dan kakak atau adik Hongbin memiliki semua fitur yang sama indah dengannya.
Sanghyuk mengeratkan bibirnya kemudian, "Maaf, Hyung", mendengar cerita Hongbin kalau ia pernah kehilangan kakak laki-lakinya saat berumur 10 tahun, menjadikannya anak tunggal. Sinar mata Hongbin sendu sebelum tersenyum lepas kembali.
Tidak hanya Sanghyuk yang belajar, dirinya-pun
Hongbin sekarang tahu kalau dessert favorit adik kelasnya ini adalah patbingsu—es kacang merah—dari menu yang ia pesan dan juga gantungan handphone lucunya di atas meja.
Ia sekarang juga tahu kalau Sanghyuk paling tidak suka saat difoto close-up karena hidungnya akan terlihat besar dan dia membencinya. Respon Sanghyuk memunculkan sisi iseng dan sepasang tanduk setan imajiner dari puncak kepala Hongbin.
Klik, klik, klik.
Tekan telunjuk Hongbin bertubi-tubi pada tombol shutter sebelum terbahak geli memegangi perutnya. "Sanghyuk-ah kau harus lihat ini kamu seperti hippopotamus! Mulai sekarang aku akan men-save nomormu dengan nama Hyukppopotamus oke? Hahahaha", tawanya lagi sebelum mendadak berubah jadi horor.
"Hyukkie?"
Sanghyuk yang ia isengi memunggungi dan melipat tangannya kesal. Kini ia tidak bisa berhenti mengutuki dirinya sendiri ketika Sanghyuk mulai beranjak pergi tanpa sepatah kata-pun.
"Han Sanghyukkie, ayolah aku cuma bercanda!", ucapnya penuh penyesalan.
Sanghyuk menahan dirinya untuk tidak ber-squeal ria akan panggilan yang diberikan namun lebih menahan diri untuk tidak mendokumentasikan raut wajah Hongbin layaknya ia telah melakukan dosa paling besar di bumi, "Haha! Kena kau, Hyung!", balas Sanghyuk usil, membuat sang fotografer tertegun.
Satu detik kemudian ia duduk di sampingnya kembali, ikut menertawakan foto konyol dirinya pada layar LCD canon eos 5D itu.
Sang fotografer masih tertegun dan dengan kepala kemudian menggantung, Hongbin menggumamkan sesuatu yang sulit diterjemahkan namun jelas di telinga Sanghyuk yang ujungnya memerah.
"Hah dasar. Melihatmu seperti tadi, untuk sejenak aku kira aku akan kehilanganmu selamanya. Jangan diulangi"
Keduanya belajar lebih banyak dari masing-masing hari itu.
Dan Sanghyuk harus terus dan terus mengingatkan dirinya akan janji yang ia buat sendiri.
-
Sanghyuk kembali akan bertemu, meskipun tanpa sms seperti biasanya, untuk mengembalikan jaket milik si ketua fotografi yang dipinjamkan tempo hari, sebentar lagi sebelum latihan dance. Ingat, berhutang lama tidak ada dalam kamusnya kan?
"OHOK! HUOHOKHOK"
"Jae lo kenapa dah? TBC?", tukas Jackson sok tau.
"Engga Jek, gue kayanya kena virus", Sungjae berhenti sejenak, "virus-virus cinta yang ditebarin Hyok"
"Wkakwkakwkakwa"
"Lo sendiri kenapa Jek, kok daritadi megangin pipi mulu? Sakit gigi?"
"Iya nih Jae, gigi gue sakit gegara kebanyakan deket-deket sama hidup si Hyuk yang terlalu manis"
"Wkakwkakkakakawakakakwkakwkakwaka"
Sanghyuk hanya bisa mengurut dada menjadi korban dialog penindasan verbal di atas, "sabar...sabar...", desisnya.
"Hyuk kalo jadian bilang-bilang kali"
"Iya Hyok, sekarang udah jadian aja temenlo dilupain, huhu", kata Sungjae yang kemudian akting nangis. (Sakit hati gara-gara beberapa hari lalu main ke rumah Hyuk malah ketemu Ms. Han lagi nyiram di halaman depan, "lho, tadi Hyuk udah jalan sama siapa itu—Hong-hong, kakak kelasnya", "…Hongbin tante", "Oiya, Hongbin! Cakep lho nak Sungjae! Kayanya tante bakal ikhlas kalo punya calon menantu kaya dia!", Sungjae kini mengerti maksud peribahasa kalau buah tak akan jatuh jauh dari pohonnya)
Hyuk tidak memasang wajah apa-apa kecuali wajah bingung. Heh, siapa yang tidak bingung kalau tiba-tiba dituduh jadian, terlebih melupakan sahabat kesayangannya sendiri.
Sanghyuk meringis, "Haha, paansih! Gak bakal jadian-lah"
"Ayyyy~", Jackson membekap mulut Sungjae untuk stop meng-elu-elukan Sanghyuk di saat yang kurang tepat ini. Suara Sanghyuk bergetar dan Jackson, menjadi seseorang yang sudah berteman dengannya sejak taman kanak-kanak, mengerti benar kalau suara Sanghyuk hanya bergetar saat ia sedang ada masalah.
"Terjadi...sesuatu?", tanyanya penuh selidik. Di dalam pertanyaan Jackson, Sanghyuk dapat menemukan maksud tersirat semacam 'kalau lo apa-apain teman gue, gak peduli siapa, lo urusan sama Wang Jackson', 'dan Yook Sungjae!', tambah Sungjae secara telepati.
Sanghyuk menggeleng instan, Jackson memilih untuk tidak percaya terlalu cepat. Bocah malang di depannya ini terlihat seperti anak anjing yang kehilangan induknya. Kebingungan, apa yang diucapkan bertolak belakang dengan apa yang ia mau, "Gue harus stop ngejar dia" Sanghyuk mengendikkan bahu. Kelas sudah kosong jadi ia tidak harus memelankan volume suaranya, "Like, lebih baik gue…gue sama Hongbin Hyung jadi temen aja. Jadi junior-senior biasa", final Sanghyuk, tanpa menyebut penyebab yang temannya tidak minta juga.
Memberi sinyal minta tolong untuk menghentikan keheningan yang tidak pernah ada ketika trio itu berkumpul, Sungjae menyikut Jackson yang malah balik menyikut Sungjae. Kemudian keduanya malah sikut-sikutan sampe jitak-jitakkan bahkan tiban-tibanan. Sanghyuk menggulirkan bola matanya ke belakang akan ke-ekstriman adegan kekerasan jangan dilakukan di rumah tersebut.
"Hmph, liat aja nanti", sahut Sungjae tak menyerah yang kini berusaha bangkit setelah nyungsep dengan elegan ke belakang lemari karena bingo kena tendangan Jackson.
"Liat aja nanti apa?"
"Liat aja nanti kalo tiba-tiba gue sampe rumah trus ada undangan kawin lo sama Hongbin Hyung di kotak pos", Hyuk hanya bisa menepuk jidat akan celetukan Sungjae dengan pemikirannya yang selalu 10 tahun di masa depan dan Jackson yang kompak kembali meng-amin-kan dengan khidmat.
-
Sanghyuk naik ke lantai atas setelah tugas piketnya kelar.
Di anak tangga terakhir ia mengingat apa saja yang telah terjadi hari ini. Sanghyuk tidak bisa menyembunyikan senyum saat mengingat pujian Ms. Kim akan dirinya yang berhasil meraih nilai tertinggi di kelas. 97. Nyaris sempurna untuk ujian fisika. Senyumnya bertambah lebar mengingat Hongbin sangat berperan di dalamnya. Sanghyuk membuat catatan besar-besar di pikirannya untuk berterima-kasih kepada "sang guru" dan mungkin mengajaknya lagi ke suatu tempat untuk menghabiskan waktu bersama. Ah, atau rasanya itu hanya akal-akalannya saja untuk bisa melihat iris mata cokelat muda Hongbin yang sudah menjadi candu dirinya lebih sering. Sanghyuk tertawa sendiri.
Kebahagiannya meredup, dan langkah tidak sabar bertemu dengan orang yang ia sukai perlahan memelan lalu mati seiring sayup suara yang berasal dari ruang fotografi.
"Oke, Hyung, dengarkan aku"
Sanghyuk berjinjit di ujung-ujung jari kakinya, mencoba mendapatkan view yang lebih jelas hingga kini ia dapat melihat dua siluet yang tengah berhadapan, dengan yang lebih pendek menenggerkan tangannya pada bahu yang lebih tinggi. Pembicaraan yang intense, ia bisa simpulkan. Sanghyuk menggigit bibir bawahnya terlalu kuat sampai cairan berasa tembaga itu tersesap di lidahnya.
Dua sosok yang ia kenal.
"Begini", suara familiar itu berhenti sebentar, satu tarikan nafas panjang dapat terdengar berikutnya sebelum melanjutkan "Mungkin ini terdengar terlalu tidak masuk akal", Sanghyuk mengeratkan pegangannya lebih jauh pada tas kertas manila yang berisi jaket dengan harum lavender itu di kedua tangannya.
"Aku…aku serius"
Jangan...
Jangan bilang...
Ia akan menyatakan—
"...terimalah perasaanku", there, he said it.
Sanghyuk limbung.
Tas kertas itu jatuh ke lantai bersamaan dengan hatinya.
Kegaduhan yang disebabkan olehnya mengundang perhatian si pemilik suara untuk keluar menampakkan diri, Sanghyuk dapat melihat jelas saturasi merah kedua pipi itu lebih nyata dari yang pernah ia lihat selama ini, "S-sanghyuk!"
"Hyu—"
"Kong-ah? Ada siapa di sana?", panggil keheranan orang satu lagi dari dalam.
Sanghyuk ciut, menunduk menghindari pandangan yang seolah mengasihani itu, "Ma-maaf mengganggu. Hongbin Hyung", ia tidak ingin dikasihani.
Dan ia memutar arahnya, berlari sekencang mungkin setelah permintaan maaf, yang entah, mungkin terdengar tidak relevan termuntahkan dalam satu tarikan nafas. Menuruni tangga, menyeberang lorong. Ia bisa mendengar suara bass Hongbin meneriakkan namanya tapi enggan rasa untuk menanggapi. Benaknya sudah penuh oleh suara hatinya sendiri, tidak ada lagi tempat bagi Hongbin. Apa yang ia rasakan sekarang? Sedih? Marah? Kecewa? Terhina?
Bukannya dia sendiri yang bilang Hongbin dan dirinya hanya akan menjadi sebatas adik dan kakak kelas biasa, hanya sebatas teman? Ia bukan siapa-siapanya lantas kenapa ia merasa dipecundangi oleh perkataannya sendiri sekarang.
Ini bukan salah Hongbin apalagi Hyoshin-sunbae, Sanghyuk menelan senyum pahit, meskipun Hyungnya telah memberikan harapan besar di kemarin hari dan menyatakan perasaannya kepada yang lain di depan mata kepalanya keesokan hari. Mungkin Hongbin hanya suka bermain dengannya. Mata Sanghyuk memanas namun ia tidak bisa menangis. Menurutnya, menangis hanya untuk orang yang memang benar-benar tidak tahu jika akhirnya akan begini.
Ia tahu. Ia sudah tahu.
Hakyeon sudah memulai latihan gladiresik saat Sanghyuk masuk ke ruangan latihan dance di ruang serbaguna. Perhatiannya terpecah saat mendengar suara pintu yang ditutup dan gerakan Sanghyuk yang hancur tanpa konsentrasi meski telah satu jam berlatih. Ia menghampiri anak laki-laki yang tubuhnya seperti di sini, namun pikirannya di tempat lain itu. Hakyeon menyuruh yang lain untuk melanjutkan latihan dan mendekap Sanghyuk dalam hangat yang ia butuhkan sekarang. "Sssh, Hyung mengerti. Tapi, apapun yang sedang ada dalam pikiranmu...cobalah untuk tetap fokus, ne?"
Sanghyuk mengangguk sekuatnya, kompetisi besar, Hanlim Arts and Sports Festival 2014, adalah besok.
-bersambung-
Terima kasih banyak yang sudah review, udah author bales satu-satu di personal message^^ maaf ya Vixx yang lain belum bisa muncul di chapter ini! Next chapter deh pasti dan pairingnya…bakal Navi & Keo!
