Chapter 3

"pasien baik baik saja, untung saja ia tidak terlambat di bawa kerumah sakit sehingga dia belum kehilangan banyak darah. Dan untunglah janin yang dikandungnya dalam sehat dan sangat kuat"

"ap..apa? janin?"

"anda belum mengetahuinya? Pasien sekarang sedang hamil. Tapi untunglah kejadian ini tidak berdampak buruk pada kandungannya. Sekarang pasien sudah bisa dijenguk. Mungkin sekitar 3-4 jam lagi pasien akan siuman. Saya permisi dulu"

"…" keheningan melanda. Tak adak seorangpun yang menyahuti perkataan dokter tadi. Semua yang ada di sana sibuk dengan pemikirannya masing masing.

.

.

.

.

Junsu keluar dari kamar jaejoong. Ia melihat yunho sedang duduk sendirian di bangku yang disediakan di depan kamar jaejoong dengan pandangan kosong. Sepertinya banyak sekali yang dipikirkan di dalam kepalanya saat ini. Junsu pun paham. Yunho pasti sangat terkejut dengan berita ini. Begitupun ia sendiri. Walaupun ia tahu sejak awal kemungkinan jaejoong hamil sangat besar. Tapi dirinya juga tidak bisa menahan untuk tidak terkejut. Junsu sekarang juga tidak bisa menutup mata. Berpura pura tidak mengetahui apa yang ia ketahui sendiri. Bahwa yunho menyukai jaejoong. Kedekatan mereka ditambah dengan tinggalnya mereka dalam satu rumah. Tidak mungkin benih benih cinta itu tidak tumbuh di hati yunho tapi entahlah bagaimana dengan hati jaejoong. Ia pun belum mengetahuinya. Junsu menghampiri yunho.

"oppa. Kau tidak ingin masuk?"

"…"

Merasa tidak ada jawaban dari yuho. Junsu memilih duduk di sebelah namja tampan itu.

"ottoke" secara reflek junsu menoleh kepada yunho

"…"

"dia hamil. Hamil. Ini pasti sangat berat buatnya. Apa yang harus kulakukan su…"

"oppa.."

"dia pasti tidak akan mudah menerima semua ini. Jaejoong melakukan hal nekat itu pasti karena masalah ini. Aku tidak ingin melihatnya sama seperti 2 bulan yang lalu. Mata yang terus memancarkan keputusasaan, kekecewaan, . aku tidak ingin dia seperti itu lagi. Sudah cukup yang selama ini ia alami" terlihat dari sorot mata yunho yang memacarkan kekhawatiran yang luar biasa. Yunho terlihat sangat kacau. Sesekali ia mengacak rambutnya frustasi.

" . mungkin ini akan menjadi masa yang sulit untuk jae eonni. Karena itulah kita harus selalu disisinya. Memberi semangat untuknya dan meyakinkannya bahwa semuanya akan baik baik saja." Yunho terdiam mencerna semua ucapan lama yunho mulai agak tenang

"ne. kau benar junsu-ah. Gomawo" ucap yunho sambil tersenyum.

.

.

.

.

"gugurkan…gugurkan bayi ini dokter"

dapat kita dengar kalimat itu keluar dari bibir pucat yeoja cantik yang menempati sebuah kamar rawat. Setelah sadar, jaejoong tidak mengucapkan sebuah katapun. Hanya isak tangis yang terdengar dan air mata yang terus saja keluar dari mata bulatnya. Jaejoong terus saja menangis sampai akhirnya dokter yang menanganinya datang untuk memeriksakan keadaannya pasca siuman. Saat dokter hendak keluar selesai memeriksanya. Kalimat itu pun terucap dari bibirnya.

"JAE!"

Semua yang ada di ruangan itu langsung memandang jaejoong. Yeoja cantik itu seperti tidak ada beban setelah mengatakan ia meminta dokter menggugurkan janinnya.

"kehadirannya adalah sebuah kesalahan"

"Jae ! bayi itu darah dagingmu sendiri. Kau tega membunuhnya ha?"

"aku tidak menginginkannya ! Dokter tolong gugurkan saja"

Yunho tidak habis pikir dengan jaejoong. Tapi ia tidak bisa sepenuhnya menyalahkan jaejoong. itu hal yang wajar jika ia ada di posisi jaejoong sekarang. Ingin sekali rasanya yunho menghajar pria brengsek itu.

"tapi nyonya kim. proses aborsi adalah hal yang beresiko dan akan menimbulkan banyak efek negative di masa depan" sang dokter mencoba member pengertian berharap jaejoong merubah keinginannya.

"aku tidak peduli. Aku hanya ingin bayi ini lenyap dari tubuhku . Anak ini pembawa sial. Namja brengsek itu sudah merusak hidupku ditambah lagi anak SIALAN INI"

"KIM JAEJOONG CUKUP ! HENTIKAN ! "

"…"

"dokter,bisakah tinggalkan kami berdua. Junsu-ah kau juga?"

Setelah semua keluar menyisakan yang hanya menyisakan yunho dan jaejoong disana. Tak ada yang bersuara. Jaejoong berbaring memunggungi yunho. Dapat yunho lihat bahu jaejoong yang bergetar dan terdengar isakan yang begitu memilukan. Hati yunho bagaikan diremat dengan kencang mendengarnya. Disentuhnya bahu jaejoong dengan lembut setelah ia bisa mengontrol emosinya.

"jae…"

Hiks..hiks..

"jae.. mianhae"

"kau tidak mengerti yun hiks. aku hanya tidak ingin sisa-sisa namja brengsek itu tertinggal di tubuhku. Hiks.. Termasuk anak ini. Aku ingin anak ini mati saja. Aku membencinya. Ia hanya akan menjadi kesialan dalam hidupku."

"tapi jae. Dia juga anakmu. Darah dagingmu sendiri. Bahkan kau yang mengandungnya sekarang. Dia sedang berjuang untuk hidup. Apa kau tega jae?"

"kau tidak mengerti perasaanku yun. Hiks.. hikss..Rasanya sangat sakit saat kesucianku terenggut dengan pakasa. Dan sekarang aku harus mengandung anaknya. Aku tidak sudi ..huk.. Kumohon mengertilah. ..hiks hiks."tangis jaejoong semakin kencang

Yunho membawa jaejoong kedalam dekapannya dengan posisi jaejoong masih berbaring. Jaejoong tidak menolakna. Malah semakin merapatkan tubuhnya ke tubuh yunho yang entah mengapa membuatnya merasa tenang disertai dengan elusan lembut di punggunggnya dan bisikan penenang yunho. Setelah merasa jaejoong sedikit tenang, yunho melepas pelukan mereka melihat kedalam mata bulat itu yang juga dibalas oleh jaejoong.

"arraseo.. aku akan bicara dengan dokter nanti. Uljima ne?" ada perang batin saat yunho mengucapkan itu. Apakah keputusannya sudah benar. Berbicara pada dokter untuk agar menyetujui keinginan jaejoong. Bukankah sama saja dia juga ikut andil dalam kematian bayi tak berdosa itu. Semua ini membuat yunho pusing memikirkannya. Hal ini bisa saja terlihat mudah jika saja jaejoong mau menerima bayinya, dirinya akan ikhlas menjadi ayah dari bayi itu walaupun itu bukan darah dagingnya. Yunho sudah menyadari dirinya menyukai jaejoong. Dan dia bersedia menikahi jaejoong, menerima bayi jaejoong dan akan membahagiakan mereka sekuat tenaganya. Tapi itu hanyalah sebuah rencana yang mungkin tidak bisa diwujudkan.

"gomawo yun." sebuah senyum tipis terukir diwajah jaejoong.

.

.

.

oOo

.

.

.

.

Ceklek.

Yunho memasuki ruang rawat jaejoong. Tak hanya jaejoong saja, disana juga ada junsu yang menemani orang itu menolehkan wajahnya dan melihat yunholah yang membuka pintu itu.

Setelah menutup pintu, yunho mengampiri jaejoong dan junsu. Dilihatnya wajah jaejoong sudah tidak sepucat tadi.

"yun. . kau sudah bicara dengan dokter kan"

Tak ada jawaban dari yunho. Namja itu terus berjalan lalu duduk dikursi yang ada di sebelah ranjang jaejoong. Junsu yang tidak mengerti kemana arah pembicaraan jaejoong hanya diam dan memandangi mereka secara bergantian dengan pandangan bingung.

Sebelum menjawab pertanyaan jaejoong. Yunho menghembuskan nafas untuk meyakinkan dirinya sendiri. Setelah itu ia memandang jaejoong yang menatapnya dengan tidak sabar mendengar jawaban dari yunho.

"ne. dokter bersedia melakukannya"

"benarkah?" senyum lebar terukir di wajah jaejoong

"ne" tanpa adanya semangat dalam jawaban yunho.

"tunggu ! sebenarnya apa yang kalian bicarakan? Dokter bersedia melakukan apa?" ujar junsu

"aku akan melakukan aborsi suie"

"APAA!. Aku kalian tidak bercanda kan? Oppa. katakan kalau yang barusan kudengar ini salah!"

"…"

"oppa!"

" akan melakukan aborsi"

"eonni. Kau sangat keterlaluan. Apa kau tega membunuh anakmu sendiri ha?"

"dia bukan anakku dan tidak akan pernah menjadi anakku" ujar jaejoong dengan nada datar

"tetap saja. Dia tumbuh dalam rahim mu sendiri. Kau yang mengandungnya. Anak itu tidak berdosa. Dia tidak tahu ap-"

"cukup. Aku tidak mau tahu. Keputusanku sudah bulat dan dokterpun sudah setuju"

"eonni. Aku tak percaya ini. Kau sunggu tega" Setelah mengucapkan itu junsu membalikan badan dan keluar dari ruangan itu

BRAK

Pintu ruangan ditutup dengan bantingan yang keras seolah menunjukan betama marahnya junsu sekarang. Jaejoong melihat kepergian junsu. Setelah itu pandangannya dialihkan pada namja tampan yang sedari tadi diam duduk di sebelahnya.

"jadi yun. Kapan aborsinya akan dilakukan?"

Yunho melihat tak ada keraguan dalam mata jaejoong. Bahkan jaejoong terlihat antusias

"tidak sekarang jae. Tidak dalam waktu dekat ini"

"w-wae? Kenapa tidak segera saja"

"dokter mengatakan kalau keadaanmu masih lemah. Dan bila dilakukan dalam waktu dekat akan berakibat fatal untukmu. Dokter tidak mau mengabil resiko lebih besar lagi, jadi beliau menganjurkan untuk menundanya sementara"

Jaejoong lemas mendengar penuturan yunho. Ia kira akan terbebas dari anak ini sesegera mungkin.

"lalu kapan?"

"kira-kira sekitar 2 bulan lagi"

"apa? Kenapa lama sekali. Tidak bisa kah lebih dipercepat. Aku merasa sudah baik baik saja."

Yunho menggeleng pelan

"Ah aku tahu pasti dokter itu hanya mencari-cari alasan agar aku membatalkan niatku. Benarkan?"

"hah. sudahlah jae. Turuti saja. Ini juga demi kebaikanmu kan"

"tapi yun– " jaejoong berusaha untuk protes

Yunho memegang pundak jaejoong "Pada akhirnya juga kau akan melakukannya. Jadi bersabarlah" sambil menepuk pundak jaejoong

Jaejoong hanya mengangguk pasrah. Dan yunho hanya tersenyum kecil melihatnya.

.

.

.

.

oOo

.

.

.

.

Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit. Akhirnya jaejoong sudah diperbolehkan untuk pulang. sejak dirumah sakit sampai jaejoong diperbolehkan untuk pulang, hanya yunho yang selalu menemani jaejoong. Sejak hari itu memang junsu tidak pernah mengunjungi jaejoong. Tentu saja ia masih marah dengan yunho dan jaejoong.

Yunho menuntun jaejoong masuk ke dalam rumah. Sebenarnya jaejoong agak merasa risih dengan tindakan yunho itu. Dia merasa diperlakukan seperti orang sakit padahal jaejoong merasa baik-baik saja.

"duduklah di sini. Akan ku ambilkan minum"

"tid-" belum selesai perkataan jaejoong, yunho sudah meluncur ke dapur.

"ini minumlah" yunho menyodorkan segelas air

"kau tidak perlu repot-repot. Aku juga tidak haus yun."

"gwenchana. Aku senang melakukannya. Oh ya. Apa kau lapar? Kau menginkan sesuatu? Kalau ada nanti sepulang kerja akan ku belikan. Orang hamil kan pasti mengidam. Apa kau juga jae?" tutur yunho tanpa henti. Jaejoong yang melihatnya semakin heran. Yunho menjadi semakin cerewet.

"tidak. Aku tidak butuh apapun. Lebih baik kau segera berangkat kerja. Aku akan membereskan rumah ini. Beberapa hari kutinggal rumah ini sudah sangat berdebu" jawab jaejoong sambil melihat sekeliling rumah.

"Tidak ! kau tidak boleh melakukan apapun. Kau itu sedang hamil. Tidak boleh melakukan hal-hal berat. Itu tidak baik bagi kandunganmu"

"buat apa kau peduli dengan kandunganku. Kau bukan suamiku dan kau juga bukan ayahnya. Bukannya bagus kalau kandunganku ada masalah, semakin cepat juga dia lenyap." Ucap jaejoong dengan nada kental penuh amarah. Entah kenapa jika menyinggung tentang "hal itu" selalu membuat emosinya naik.

"oke oke. Aku minta maaf. Aku hanya khawatir karena kau baru saja keluar dari rumah sakit." Jaejoong hanya membuang muka

"kalau begitu aku pergi ne. baik baik lah di rumah. Jangan melakukan hal yang berbahaya" jaejoong hanya diam dan masih membelakangi yunho.

.

.

.

oOo

.

.

.

Setelah keluar dari rumahnya. Tak sengaja yunho melihat junsu yang juga hendak pergi. Yunho pun menghampiri junsu

"su.." junsu terus berjalan melewati yunho tanpa menghiraukan panggilannya. Yunho mengejar junsu dan menahan tangannya.

"lepaskan" sambil memberontak agar tangannya dilepaskan

"tidak. Kita harus bicara sekarang" yunho semakin mengeratkan pegangannya.

"aku tidak punya waktu bicara dengan orang yang tidak memiliki hati sepertimu."

"suie. Kumohon dengarkan penjelasanku dulu, ini tidak seperti yang kau pikirkan."

"lalu pikiran seperti apa yang seharusnya saat aku mendengar jae eonni ingin melakukan aborsi dan kau mendukungnya ha?" keheningan terjadi beberapa saat.

"ne. memang seperti itu. Tapi kau harus dengarkan penjelasanku dulu" yunho menatap mata junsu menunjukan keyakinannya. Dan junsupun tidak menolak. Akhirnya ia pun mengagguk.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

Note:

Haloo. Ini apdetan tercepat yang pernah aku buat. Makasi banget dah setia nungguin ff padahal apdetnya lama banget.

Gimana chapter kemaren dan chapter ini menurut kalian? Apa makin bagus atau makin jelek? Alurnya kecepetan? Mulai ngebosenin? Feel nya kurang dapet? Tolong kasih masukan ya.

Dan mungkin aku bakal vakum lama. Ya biasalah dah jadi mahasiswa tua. Mian kalau bakal update lama.

Oke segitu aja. Thank you and see you next time!