Apa yang dikatakan Kris bertahun-tahun lalu benar adanya.
Zaman berubah, dunia berubah.
Kereta kuda tak lagi digunakan.
Perapian tak lagi ada di tiap rumah.
Gedung-gedung tinggi tersebar seperti sampah yang berserakkan.
Dan mereka hidup di dalamnya.
Zitao tak perlu alarm untuk membuatnya terjaga di pagi hari, karena kedua matanya tak benar-benar terpejam. Pagi menjelang namun langit masih sedikit gelap, tubuhnya masih nyaman terbalut selimut putih tebal selagi jarum jam terus bergerak.
Separuh wajahnya menempel di bantal, kelopak matanya enggan untuk terbuka, sekilas menangkap bayang-bayang langit berwarna biru gelap dari kaca jendela kamar yang tak tertutup.
Biru. Menenangkan.
Suasana kamarnya begitu sepi dan hening.
Dan dirinya benar-benar tidak ingin bangun dari tempat tidur super empuk miliknya.
"Lui!"
Pemuda gagak itu awalnya sibuk mempersiapkan secangkir kopi pahit di dapur bergegas meninggalkan pekerjaannya menuju ke sumber suara yang memanggilnya sepagi ini.
"Ya Tuan?" sampai di depan pintu kamar yang terbuka.
Laki-laki tinggi tegap dengan rambut hitam yang masih basah dan mengenakkan bathrobe berwarna senada. Menoleh pada asistennya dengan alis menukik, Kris berjalan mendekat, membawa selembar kertas di tangan kanannya.
"Ada apa Tuan Kris?" Lui tak mengerti kenapa sosok yang dihormatinya itu terlihat marah pagi ini.
"Apa kau yang membuat laporan ini?"
Kertas itu terangkat di depan wajahnya. Lui mengambilnya, membaca isinya dan langsung mengetahui penyebab amarah Kris pagi ini.
"Bukan Tuan. Park Jimin yang membuat laporan Hotel XX"
"Kembalikan padanya, katakan dia harus membuat laporan baru. Sore ini harus sudah berada di mejaku" Lui mengangguk mengerti. "Lalu bagaimana dengan Taehyung? Kenapa dia belum menghubungiku?"
"Akan saya tanyakan nanti"
"Ya sudah pergilah. Pagi ini benar-benar menjengkelkan" Kris menggerutu di akhir kalimat.
Lui beranjak dari ambang pintu, dan Kris masih berdiri di sana dengan kedua tangan berada di pinggang. Satu alisnya terangkat menyadari sesuatu, memutuskan untuk keluar dari kamarnya menuju ke lantai atas.
Diikuti tatapan Lui yang mengintip dari dalam dapur. Pemuda itu mendengus keras.
Tapi baru anak tangga ke empat, bel apartemen berbunyi. Kris menoleh ke belakang punggungnya, mendapati Lui yang mengintip dirinya, dan pemuda itupun segera menuju ke depan untuk mengakhiri bunyi bel yang agak menganggu di pagi ini.
Kris melipat kedua tangannya di bawah dada, menunggu Lui yang terdengar sedang berbicara dengan seseorang di depan. Tak lama pemuda dengan tinggi 175cm itu kembali bersama seorang pemuda berseragam sekolah menengah atas yang terlihat sangat canggung.
Siapa dia?
Pemuda itu mengarahkan pandangannya ke bawah, agak takut saat pria dewasa yang berdiri di bawah tangga menatapnya dengan tatapan tajam. Tatapan menyelidik dari atas ke bawah, seperti dia adalah pencuri yang berhasil tertangkap.
"Dia teman sekolah Zitao, katanya mereka janji untuk berangkat sekolah bersama hari ini. Karena itu dia datang kemari untuk menjemput Zitao, Tuan" kata Lui.
"Teman sekolah Tao?" Kris mengulangi. Pemuda berambut hitam itu mengangguk, melirik si Tuan Rumah dari balik poninya. Dia tidak berani mengangkat wajahnya.
"Siapa namamu?"
"J-Jeon Jungkook, paman"
"Ini pertama kalinya teman sekolah Tao datang. Naiklah, kamarnya ada di atas. Kurasa bayi besar itu masih bermalas-malasan di kamarnya"
Jungkook mengangguk cepat kemudian lebar-lebar melangkahkan kakinya menaiki tangga, melewati Kris. Hingga pemuda berusia 17 tahun itu menghilang di atas tangga, Kris masih berdiri di sana.
"Zitao benar-benar sudah besar. Dia pasti punya banyak teman di sekolah" ucapnya melepas lipatan tangannya, menuruni empat anak tangga.
"Saya tidak mengerti, Tuan"
Suara Lui menghentikan langkah Kris yang hendak menuju kamarnya. Menoleh pada si pemuda gagak.
"Kenapa anda masih mengurusi Zitao, dia sudah dewasa dan pasti bisa mengurus dirinya sendiri. Kenapa anda harus repot-repot? Sosok seperti anda tidak seharusnya melakukan semua ini" Lui mengatakannya penuh keberanian kali ini, tatapannya tak menuju ke bawah, melainkan tepat pada sepasang mata keemasan milik Kris.
"Kau selalu mengatakan hal seperti ini padaku beberapa kali. Aku tidak memberi perintah padamu untuk mengikutiku, kau yang memilih untuk melayaniku saat aku memutuskan untuk bekerja di Dunia ini. Dan sekarang kau keberatan dengan apa yang ku lakukan?"
Suara Kris memberat, nada suaranya berbeda dari biasanya. Seperti geraman. Seperti seekor Serigala yang marah saat tidurnya diganggu.
Lui menundukkan kepala, tatapan matanya tidak fokus mengarah pada lantai.
"Maaf, maafkan saya Tuan. Maafkan kelancangan saya"
"Jika kau tidak suka dengan apa yang ku lakukan, kau bisa kembali kapan saja ke neraka"
Setelah mengatakan itu Kris kembali melanjutkan langkahnya. Moodnya sedang buruk.
Bel istirahat siang berbunyi, kelas sejarah siang ini pun berakhir. Guru meninggalkan ruangan, membebaskan para murid untuk sementara waktu sampai bel masuk kelas berbunyi, sekitar 30 menit lagi.
Zitao merenggangkan otot tubuhnya, meluruskan kaki panjangnya di bawah meja, seraya menarik kedua tangannya ke atas, lalu menghembuskan nafas panjang.
"Ku dengar guru olahraga diganti" kata seorang pemuda bertubuh mungil yang duduk di barisan terdepan. Membalikan tubuhnya menghadap belakang menatap Zitao.
"Benarkah? Aku baru dengar" ucapnya mengerutkan dahi samar. "Kau dengar soal itu, Kookie?" menoleh ke teman dekatnya yang berada tepat di samping kirinya.
Kelas sudah sepi, menyisakan tiga siswa yang sepertinya enggan untuk meninggalkan ruangan.
Pemuda bergigi kelinci itu mengangguk, membuat poninya bergoyang. "Aku dengar dari anak kelas sebelah, katanya Choi-songsaenim melanjutkan study S3 nya ke luar negeri"
Zitao menopang dagu, "Kira-kira seperti apa penganti Choi-songsaenim? Ku harap dia tidak kejam"
"Oh, hei Kyung" sepertinya Jungkook teringat sesuatu. Membuat pemuda mungil yang dipanggil urung memutar tubuhnya ke depan.
"Apa?" Mata bulat Kyungsoo berkedip.
"Semalam aku melihat di tv, apa benar ditemukan mayat di sana? Bukankah lokasinya dekat dengan rumah mu?"
Satu alis Zitao terangkat, ia menatap Jungkook dan Kyungsoo bergantian. Memasang telinga baik-baik karena sepertinya telah terjadi sesuatu yang serius.
"Ya, sekitar 3 blok dari rumah ku. Aku juga melihatnya di tv semalam"
"Ada apa? Semalam terjadi apa di dekat rumah Kyungsoo?" Zitao bertanya penasaran.
"Kau tidak tahu?" Jungkook memicingkan mata. Zitao menggelengkan kepala. "Kau tidak melihat tv?"
"Tidak. Aku jarang menontonnya. Ada apa 'sih?"
"Semalam terjadi pembunuhan di dekat rumah ku. Itu kata Polisi" Kyungsoo yang menyahut. Pemuda mungil itu bangkit dari kursinya dan berjalan menuju meja Zitao. Sembari berkutat dengan ponselnya, lalu memberikannya pada Zitao.
Jungkook ikut bergabung di meja temannya itu, dan Zitao sibuk membaca sebuah artikel disebuah portal berita yang ada di layar ponsel Kyungsoo. Dari wajahnya terlihat sebuah keterkejutan, hingga wajahnya terangkat untuk menatap kedua teman sekelasnya.
"Apa ini sungguhan? Kejam sekali. Seperti di dalam film saja" Zitao menyerahkan ponsel Kyungsoo kembali. Bergidik kecil.
"Ku rasa pembunuhnya terobsesi dengan suatu adegan film" Kyungsoo meletakkan bokongnya di kursi meja depan bangku milik Zitao.
"Dunia sudah semakin gila. Kita harus berhati-hati, terutama kau Kyung" ujar Jungkook.
"Tenang saja, aku tidak pernah keluar malam"
"Kau juga bodoh. Bukankah kau masih bekerja part time?"
"Seminggu lagi kerja sambilan ku berakhir. Dan kurasa aku harus libur dulu untuk mencari yang baru"
"Jangan memaksakan dirimu Kookie" Zitao mengusap bahu Jungkook, yang dibalas oleh senyum kecil pemuda itu.
"Kalian tidak lapar?" Kyungsoo memegangi perutnya.
"Aku bawa bekal" sahut Jungkook cepat.
"Kau Zi?"
"Aku sedang tidak lapar. Kurasa aku akan membeli minuman saja, kau mau sesuatu Kookie?"
"Tidak" sahutnya seraya kembali ke mejanya.
"Aku yang traktir" sambung Zitao kemudian.
"Sungguh?"
"Kapan aku pernah berbohong padamu?"
Jungkook tersenyum lebar. "Kalau begitu aku mau jus jeruk"
"Oke. Ayo Kyung"
Jungkook mengeluarkan bekalnya, Zitao dan Kyungsoo meninggalkan kelas untuk menuju kafetaria. Koridor sekolah memang tidak pernah sepi saat jam istirahat seperti ini. Tapi keramaian yang tidak wajar di salah satu sudut membuat Zitao dan Kyungsoo penasaran.
Para siswi berdiri bergerombol di dekat jendela koridor, beberapa siswa juga tampak berdiri di bagian belakang.
Zitao memiliki tubuh tinggi semampai, dan dia dengan mudah melihat ke luar jendela yang menjadi penyebab gerombolan itu tercipta. Tapi dirinya tidak tahu apa yang sudah membuat mereka berkumpul seperti ini.
"Ada apa di luar?" tanyanya bingung. Seorang pemuda di dekatnya menoleh, lalu mengangkat bahu.
"Guru olahraga yang baru ada di lapangan. Mereka sudah seperti ini sejak pagi, asal kau tahu"
Zitao melihatnya, sosok guru yang dimaksud oleh pemuda di sampingnya.
Laki-laki tinggi berambut pendek dan sedikit kurus jika dilihat. Rambutnya agak ikal, berwarna hitam legam, dan Zitao tidak yakin melihat ini. Tapi pria itu seperti memiliki mata yang sama seperti dirinya. Lingkaran hitam itu.
Siapapun yang sedang diperhatikan seperti ini pasti akan segera menyadarinya, jadi bukan hal yang mengherankan jika guru baru itu tiba-tiba menatap ke atas tempat siswa-siswa itu bergerombol.
"Dia punya mata yang tajam"
Zitao menoleh ke sisi kirinya, melihat Kyungsoo yang baru saja berceletuk.
"Sudahlah ayo, aku haus sekali" menarik lengan pemuda mungil itu, mereka melanjutkan langkah menuju kafetaria.
[End?]
Jangan senang dulu yaaa xD
Seperti yg udah gw bilang dipart sebelumnya kalo gw ga tau ff ini bakal terus berlanjut atau ada kelanjutannya apa ga. Selama masih ada notif berarti ff ini masih berlanjut(selama ide gw ga buntu).
Ff ini condong ke hubungan dan latar belakang tokohnya aja sih. Jd bukan ff yg berat. Jadi kalau misal ada yg ngerasa konfliknya atau latar belakangnya kurang jelas(memang ga terlalu ditonjolkan) ya simpan dalam hati aja kwkw
Anyway, ff ini terinspirasi dari manhwa BL di Lezhin yang berjudul "I'm Yours, Blood Soul"
Regards, Skylar
01-07-2018
