Author: Kyung064
Tittle: Idol's Angel
Cast: Jeon Wonwoo, Kim Mingyu, Seventeen
Other Cast:
Leeteuk(Park Jungsoo), Jeon Jungkook, Cho Kyuhyun, Choi Junhong, Pledis&YG&SM&JYP's artists, and other
Rated: T
Genre: Family, Romance, Drama, D.I.D syndrom, hospital-life etc.
Language: Indonesian
Desclaimer: I do not own the character(s) but the plots are mine.
Words: 5435
Contact Here: Athiya Almas (Facebook)
Athiya064 . wordpress . com
Athiya064 on every site!
Happy reading

.

'Whether it's easy or hard,

Please tell me,

Because you have me now.'

.

..

Beberapa kertas berisi data pasien maupun jurnal pribadi yang belum sempat dijilid melayang ke udara akibat lemparan seorang laki-laki ketua departemen psikologi itu. Kertas tersebut sebagian ada yang menampar wajah tampan lelaki berseragam dokter yang saat ini sedang berdiri di tengah ruangan.

"Bagaimana bisa ini terjadi?" tanya dokter Park –pelaku pelemparan itu— dengan suara dingin, selama ini Jungsoo sangat jarang menggunakan nada tersebut ketika berbicara. "Joisonghamnida, aku melakukannya diluar kendali. Karena pada saat itu aku harus melakukan sesuatu supaya tidak tertusuk,"

Dada Jungsoo naik turun dengan tidak teratur, bukti lelaki itu berusaha meredakan emosinya. "Kenapa kau ke rumah sakit tanpa memakai seragam dan tanpa membawa alat kerjamu dokter Jeon? Kenapa kau masih nekat mengambil flashdisk yang tertinggal? Dan kenapa pula kau tidak menghindar? Apa Kim Mingyu menahan lenganmu begitu?"

Benar..

Mengapa Wonwoo tidak menghindar?

Malam itu ia hanya penasaran dengan suara pecahan, dan mencaritahunya. Seharusnya dia bisa lari di detik pertama melihat lelaki itu keluar dari bilik, tetapi dia malah menanyakan identitas kepribadiannya. Mengapa menghindar tidak terlintas sedikitpun di otaknya saat itu?

Malahan ia melakukan sesuatu yang bisa dibilang anarkis, "Dokter Jeon, kau membuat Mingyu-ssi tertahan di rumah sakit lebih lama dari seharusnya. Penggemarnya yang selalu menunggu di luar rumah sakit dan media yang selalu mencari tahu akan curiga, bagaimana kalau mereka tahu kau memukulnya? Dan bagaimana kalau mereka tahu alasan kau memukulnya adalah karena kepribadiannya yang lain muncul? Masih ingat kalau kita harus menjaga privasi pasien?"

"Jeongmal joisonghamnida hyung, aku benar-benar tidak sengaja. Aku sudah meminta dokter Cho untuk menjahit luka di dahinya dengan rapi. Dan aku berjanji untuk menjaga privasi pasien tanggunganku,"

Karena tidak punya hal untuk didebatkan lagi, Jungsoo menyuruh Wonwoo untuk meninggalkan ruangannya. Lelaki bertinggi seratus delapan puluh senti itu menundukkan kepalanya dan izin untuk keluar.

Di depan ia sudah disambut oleh Junhong, Seulgi, Seunghee, dan Junhoe yang ternyata menguping. "Dokter! Bagaimana? Apa kau dimarahi?" Seunghee buka suara, Wonwoo menggeleng ia terlalu merasa bersalah untuk sekedar menjawabnya. "Oh? Isanghae," komentar Junhoe.

Mereka berempat berjalan ke meja resepsionis Seulgi, dan berusaha mencari tahu berhubung kebetulan lantai dua sedang sepi. Yugyeom perawat bagian makanan pasien ikut bergabung dengan mereka, "Jangan-jangan dokter Jeon benar-benar tidak ingin mengurusi pasien tersebut ya? Makanya ia melakukan hal itu," mereka memang tidak tahu kejadian yang sebenarnya, hanya tahu karena tiba-tiba tadi malam Wonwoo berteriak memanggil semua dokter bedah yang bertugas agar bisa menjahitkan dahi artis itu. Padahal kalau sekedar jahitan kecil, dia sendiri juga bisa melakukannya.

Kebetulan Kyuhyun baru selesai bertugas dan bisa membantunya, dan jangan lupakan dokter Cho yang merupakan sahabat dokter Park itu kenapa beritanya bisa sampai ke telinga Jungsoo. Wonwoo yang baru saja kembali dari apartemennya seusai mengambil baju langsung dipanggil ke ruangan Jungsoo, itu alasan mereka bertanya-tanya mengapa Wonwoo tiba-tiba dimarahi.

Perkataan Yugyeom dihadiahi jitakan manis di dahinya oleh Seulgi, "Tidak mungkin begitu, dokter Jeon itu bukan orang tak bertanggungjawab seperti itu! Benar kan dokter Choi?" perempuan itu menatap sosok paling tinggi disana, tapi tidak dapat balasan. "Dokter Choi? Choi Junhong?" panggilnya lagi.

Barulah Junhong menoleh, "O—oh tentu saja," jawabnya ganjil. Lelaki itu kembali fokus menatap pintu ruangan Wonwoo yang tertutup rapat, apa mungkin perkataan Yugyeom benar? Wonwoo memukul lelaki itu karena kesal dengan tugasnya? Karena tidak ada yang membantunya?

Tapi.. tidak mungkin kan?

Atau ada masalah dengan kepribadian yang lain?

Mungkin ia harus mengorek jawaban dari mulut dokter itu sendiri, nanti.

. . .

Sudah satu hari dua malam semenjak kejadian itu berlangsung, dan Mingyu juga sudah dipindah ke kamar inap biasa. Tetapi Wonwoo masih dibaluti rasa bersalah bagaimana bisa ia melukai pasiennya sendiri , dan ia merasa semakin jadi seorang pengecut karena tidak dapat meminta maaf.

Langkahnya berhenti di depan pintu geser kamar inap laki-laki itu, ia berniat menggesernya sebelum matanya menangkap dua orang yang sepertinya pengunjung itu. Karena tidak mengenali dua orang yang ada di sisi ranjang Mingyu, ia memutuskan untuk berdiri di pintu saja dengan kondisi pintu yang setengah terbuka. Kedua tangannya terlipat di dada dan ia dengan sabar menunggu sambil menyandar di daun pintu.

Kalau dari gaya dan penyamaran berupa topi dan masker yang mereka gunakan kembali, sepertinya mereka merupakan groupmate Mingyu. Samar-samar ia bisa mendengar percakapan di dalam.

"Kapan kau akan kembali? Memang kau sedang promosi solo, tapi tetap saja kau harus kembali ke grup." Mingyu tertawa pelan, tawa yang tidak tulus. "Peranku dalam grup hanya sebagai visual saja, dan jahitan di dahi dan leher ini membuatku tak pantas menyandang posisi tersebut lagi Jisoo hyung," tanggapnya sarkas pada lelaki berambut merah kecokelatan di hadapannya.

Sementara di sisi yang lain, yang berambut cokelat pirang tampak kesal. "Sekarang kau bisa menghilangkan bekasnya melalui bedah plastik hyung!" Mingyu kembali tertawa, "Bedah plastik? Aku akan dibash oleh haters kalau kedapatan melakukannya, aku tidak ingin nama grup kita tercoreng akibat itu Vernon,"

Tidak ada yang menanggapi kembali, sementara itu memberi pukulan bagi Wonwoo. Rasa menyesalnya makin besar, ia yang melempar vas itu ke kepala Mingyu, ia yang mungkin menjadi penghancur karir lelaki itu. "Lagipula kenapa dengan dahimu?" tanya Jisoo. "Aku jatuh,"

Dusta.

Wonwoo ingin berteriak bahwa ia yang melakukannya, dan perasaan itu membuatnya secara reflek membuka pintu hingga menimbulkan suara yang tidak pelan. Ketiga lelaki di ruangan tersebut menoleh bersamaan, "Doktermu sudah datang, kita pamit dulu. Tolong jaga dia uisa," pesan Jisoo, aura lembut ala gentleman tampak jelas dari laki-laki tersebut meski ia tidak tahu. Wonwoo tersenyum sambil menutupi nametagnya, mereka tidak boleh tahu bahwa ia adalah dokter jiwa.

Ketika dua orang yang lain meninggalkan ruangan, Wonwoo menatap Mingyu yang terbaring. "Joisonghamnida tuan Kim," Mingyu menatapnya, "Ada apa? Ada kaitannya denganku yang tiba-tiba terbangun di meja operasi lagi?"

Dokter Jeon mengangguk, "Sebenarnya aku.. yang membuat dahimu terluka, aku benar-benar tidak bermaksud memukulmu. Maaf, aku membuat wajahmu dilukai oleh bekas jahitan," sesal Wonwoo, ia benar-benar menyesal sampai-sampai Mingyu hampir tak menangkap suara lirihnya. "Beruntunglah aku tak ingat apapun dokter Jeon, apa alasan kau melakukannya?"

Mingyu penasaran, dan Wonwoo sedang menimang apa ia perlu mengatakan kejadiannya. "Kim Jongmin-ssi muncul," jawabnya kemudian, Mingyu diam. "Dia yang paling arogan dari semua kepribadianku yang pernah muncul," terangnya. "Aku pasti melakukan sesuatu yang buruk dengan tubuh ini lagi,"

"Besok kau bisa keluar dari rumah sakit," Wonwoo mengalihkan pembicaraan, dan Mingyu mengangguk paham. "Kemana aku dibawa?" tanyanya, entah mengapa ia bisa berkomunikasi dengan lelaki itu tanpa diwarnai nada sombongnya. "Rumah dokter Park, dia bilang kau tidak bisa pulang ke rumah."

Memang benar, sebenarnya kepribadian-kepribadian Mingyu itu tidak muncul baru-baru ini, tetapi lelaki itu tidak pernah melakukan hal yang mencurigakan. Tetapi tiba-tiba saja, hari itu Jongmin yang muncul. Dan bagaimana bisa Jongmin melakukannya di hadapan ratusan bahkan ribuan penggemarnya?

.

..

"Psst! Dia tidak punya manajer yang bisa mengurusinya apa?" Junhoe bertanya pada Junhong berbisik-bisik, Junhong menoleh pada Jungsoo, "Dia sendiri yang minta untuk tidak didekatkan pada kerabatnya termasuk manajernya dulu, manajer itu sudah diberhentikerjakan. Takut-takut kehilangan kendali atas pergantian kepribadiannya, makanya aku suruh Wonwoo secara khusus memantaunya untuk terapi hingga selesai, minimal kita tunggu perkembangannya."

Kedua laki-laki yang mendengarkan mengangguk, "Sampai kapan dokter?" tanya Yugyeom. "Sampai.. entahlah, dia punya acara khusus yang menunggu. Dan agensi hanya memberi jatah hiatus dua minggu,"

Itu memang benar, Siwon secara khusus meminta Jungsoo merawatnya. Kemudian ia tidak kembali ke grup dan aktivitasnya dulu, selain itu ia dijauhkan dengan semua orang dalam waktu yang belum ditentukan. "Semuanya sudah selesai termasuk persyaratan administrasinya tuan," Seunghee menyerahkan struk ke Mingyu. "Ayo Wonwoo,"

Bersama dokter Jungsoo, mereka keluar lewat pintu belakang. Mingyu memakai penyamarannya dan Wonwoo melepas atribut dokternya yang kemudian ia simpan di dalam tas. Dokter Park mengendarai mobilnya dan mengantar mereka ke daerah yang tidak jauh dari pusat kota Seoul.

Mobilnya melewati jalanan yang agak menanjak dan berhenti di depan rumah dengan pagar berwarna cokelat, pagar itu terbuka otomatis dan mereka masuk di pekarangan rumah model minimalis itu. Tidak pernah tahu kalau Jungsoo punya rumah indah seperti itu.

Warna catnya didominasi warna putih, tentu saja dia kan agak maniak dengan warna itu. Tanamannya tumbuh subur dan hanya ada jalan setapak di tengah rumput hias yang ditanam. "Indahnya," gumam Wonwoo, Jungsoo tersenyum, "Investasi kalau kelak aku punya anak, aku ingin membesarkan mereka di rumah ini bukannya mengurung mereka dalam apartemen."

Sementara Mingyu diam saja, Wonwoo membantu lelaki itu untuk menarik kopernya masuk. Dokter Jungsoo mengarahkan mereka, "Nah Mingyu kau bisa pakai kamar di sudut itu, aku juga sudah pasang cctv sesuai yang Siwon minta. Di belakang ada dapur, dan taman lagi. Kemudian disana adalah ruang makannya, ruang tamu, dan kau bisa menginap di kamar yang ada di seberang kamar Mingyu dokter Jeon,"

Buru-buru Wonwoo menggeleng, "Ah annio hyung, aku harus pulang karena ada adikku di rumah. Lagipula sesuai janjimu aku hanya ada disini sampai jam kerjaku berakhir," Jungsoo tersenyum, Wonwoo itu semangat sekali bekerja. "Kau tenang saja, pasienmu akan diambil alih oleh Junhong untuk sementara waktu. Kami akan menghubungimu apabila butuh bantuan,"

Penjelasan Jungsoo membuatnya lega, "Algesseumnida(understood)," jawabnya patuh. "Kalau begitu, aku pergi dulu. Ah, dan ada nomor delivery yang bisa kau hubungi nomornya aku tempel di pintu kulkas. Aku tahu kemampuan memasakmu dokter Jeon," dan Wonwoo tertawa canggung.

Ia melepas kepergian Jungsoo dari rumahnya itu, Wonwoo sendiri bisa kembali menggunakan taksi. Ia kembali ke dalam rumah dan menatap Mingyu yang masih berdiri dengan canggung sambil menatap interior rumah itu. "Kau tunggulah sambil menonton televisi tuan Kim, aku akan rapikan kamar dan barang-barangmu."

Tanpa menunggu jawaban, Wonwoo menarik koper Mingyu masuk ke kamar barunya. Ia mengeluarkan beberapa pakaian dan menggantungnya di lemari, ia juga memastikan agar seprai tempat tidur lelaki itu tidak kotor dan kusut. "Warna putih dimana-mana, bisa gila aku lama-lama dengan selera dokter Park. Dia perlu menambah warna lain, ini tidak ada bedanya dengan rumah sakit," gerutunya pelan.

Kringg.. kring..

Suara telepon rumah mengganggu Wonwoo sedikit, mungkin itu adalah telepon yang ditujukan untuk Jungsoo. Wonwoo yang baru saja menemukan bedcover berwarna abu-abu –dia masih bersikeras mengganti warnanya agar tidak berwarna putih semua— memilih tidak mengangkat telepon tersebut dan merapikan bedcover saja.

Tetapi suara deringan itu tidak berhenti, mungkin saja penting, dari kerabat Jungsoo misalnya? Jadi ia menoleh ke arah pintu, "Mingyu-ssi! Mingyu-ssi! Tolong angkat teleponnya!" pintanya.

Sementara itu di luar Mingyu yang duduk dengan diam di sofa sambil sebelah tangan menggonta-ganti channel televisi dengan remot tersentak begitu mendengar suara dering telepon rumah. Deringnya panjang dan seolah membelah rumah dokter Park yang sunyi karena hanya dihuni dua orang saja.

Kriinggg.. krinnngg..

Tiap deringan itu seolah merupakan jarum bagi pendengarannya, ia merasa tertusuk, takut, gelisah, dan tertekan dalam bersamaan. Mingyu hanya berharap dering telepon itu akan segera berakhir atau minimal Wonwoo akan mengangkatnya. Ia meringkuk di sudut sofa dan membesarkan volume televisi agar deringnya teredam.

"Mingyu-ssi! Mingyu-ssi! Tolong angkat teleponnya!" kali ini ia mendengar suara Wonwoo dari dalam kamar, rahang lelaki tinggi itu mengeras, bimbang apa ia harus mengangkatnya atau tetap diam?

Dan dering itu pun perlahan berhenti, Mingyu menghembuskan nafas lega. Tapi sang dokter tak kunjung keluar dari kamar tersebut, dan parahnya telepon itu kembali berdering untuk kesekian kalinya. "Mingyu-ssi, bisa kau tolong aku angkat teleponnya? Aku sedang sibuk disini, tolong sekali saja!" Wonwoo terdengar kesal dari dalam ruangan.

Karena tidak enak dengan dokter tersebut, ia memantapkan hatinya dan bangkit. Sudah sepuluh tahun berlalu, mengapa ia masih saja seperti ini? Itu hanya sebuah telepon rumah bukan? Kakinya melangkah dengan langkah yang bergetar, sampai-sampai Mingyu perlu berpegangan pada dinding untuk menyeimbangkan tubuhnya.

Ya, ia memiliki semacam fobia terhadap telepon rumah. Dan tidak ada yang tahu selain ibu kandungnya.

Mingyu kecil berlari menuju pintu rumahnya yang sederhana, ia selalu bahagia ketika mendapati orangtuanya datang ke rumah. Mereka akan datang dengan makanan kecil atau mainan baru untuk dia dan kakaknya. "Eomma datang! Eomma sudah datang!" pekiknya riang.

Baru saja ia berniat membuka pintu rumah, tetapi yang didapatinya bukan orangtuanya. Melainkan hanya ayah tirinya saja, dengan wanita cantik yang berbeda lagi dari yang terakhir ia ingat. Ayah tirinya itu nampak mengabaikannya bahkan melewatinya begitu saja dan berjalan sambil berciuman panas dengan wanita yang bukan ibunya itu.

"A—Aboeji.."

Ucapannya diabaikan sepenuhnya, tidak ada yang memperdulikan keberadaannya. Mingyu terdiam di sudut ruangan dan kedua kaki telanjangnya bertautan, ayah tirinya merupakan laki-laki yang keras kepala dan suka memukul kalau ia bertanya macam-macam maka ia akan jadi sasaran pukul ayahnya kembali.

Bahkan keadaan rumah yang kecil dan tidak memiliki ruang lebih tidak menjadi penghalan bagi laki-laki itu untuk melakukan tindakan yang tidak sepantasnya dilihat oleh anak sekecil Mingyu. Anak berumur tujuh tahun itu sudah terlalu terbiasa melihat adegan dewasa itu di setiap bagian rumah setiap kali ibunya tidak ada.

Tiba-tiba pandangan Mingyu menggelap, "Jangan dilihat," pasti sepasang tangan kakak laki-lakinya sedang menutupi matanya lagi. "Hyung.. aboeji itu sedang apa?" tanyanya bingung.

Kakak yang dua tahun lebih tua dan pastinya lebih dewasa itu berpikir sejenak, "Bermain. Tapi permainan itu bahaya, jangan pernah menirukannya kau mengerti kan Kim Mingyu?" ia mengangguk pelan, kakaknya melepaskan kedua tangan itu dari mata Mingyu dan membalik tubuh adiknya yang lebih pendek darinya. "Mau makan ice cream?"

Dan Mingyu mengangguk ceria, "Ayo! Ayo!" tanpa sadar suaranya terlampau keras dan membuat ayah tirinya terusik sedikit, laki-laki itu berdiri dan mendatangi mereka dengan bertelanjang dada. "Mau kemana kalian berdua?" tanyanya dengan nada tinggi, "Beli ice cream, aboeji." Jawab Mingyu takut-takut.

Tatapan meremehkan langsung mereka terima, "Memang kalian punya uang? Atau kalian curi uangku? Atau.. kiriman dari ayah kandung kalian yang kaya itu? Atau dari paman kalian? Kemarikan uangnya!" lelaki itu menarik badan kecil Mingyu dan berusaha menggeledahi saku bajunya, mencari dimana kira-kira anak itu menyembunyikan uangnya.

"Hentikan!" kakaknya menarik Mingyu agar menjauh dari lelaki itu. "Berhenti merampas uang kami, itu hak kami. Yang dari paman Siwon juga milik kami, kau laki-laki bajingan." Mingyu menatap kakaknya tak percaya darimana kakaknya menirukan kosakata kasar tersebut?

"APA KATAMU?!" tangan ayah tirinya itu langsung mencengkram leher kakaknya, mencekik kakaknya tersebut. "A—aboeji hentikan, aboejiii!" perintah Mingyu namun diabaikan, suara pukulan terdengar menghantam bahu kakaknya. Mingyu memejamkan mata, ia tidak tahu harus melakukan apa.

Wanita cantik yang sedari tadi memperhatikan hal itu terkejut, mungkin baru menyadari perangai jahat kekasihnya. Mingyu melihat wanita itu berniat melarikan diri, wanita itu menoleh pada Mingyu seolah memberi isyarat agar anak itu turut lari bersamanya. Namun Mingyu menggeleng, kakaknya perlu pertolongan.

Jadi wanita itu berlari lebih dahulu dan Mingyu berjalan menuju dapur, ia menemukan pisau dapur yang diletakkan di atas meja makan. Tangannya bergetar dan ia melangkah dengan bergetar.

Buk!

Suara pukulan kembali terdengar, bahkan kepala kakaknya sampai terbentur tembok akibat pukulan yang terlalu keras tersebut. Mingyu menggigit bibirnya ragu, sebelum ayahnya memukul sang kakak lagi ia mengayunkan pisau di genggamannya.

"Arghh!" satu jeritan lolos dari sang ayah, laki-laki itu berteriak menahan rasa sakit dan melepaskan cekikannya pada leher anak sulungnya. Sementara itu sang kakak menarik nafas banyak-banyak, ia hampir saja kehilangan kesadarannya tadi. Tanpa ia sadari ayahnya berbalik menghadap Mingyu.

Buru-buru Mingyu menarik pisau yang menancap di punggung ayahnya, "Kau! Apa yang kau lakukan bedebah!" dan Mingyu yang hanya mampu memikirkan cara tersebut memandang pisau yang masih berlumuran darah, "Kurang ajar!"

"Mianhaeyo aboeji!"

Dan ia menancapkan pisau itu kembali di dada ayahnya, membuat laki-laki yang jauh lebih tua dari mereka itu jatuh sambil mengerang kesakitan. Mingyu menarik pisau itu lagi dan menghujamkannya kembali di titik yang berbeda, melakukan hal itu berulang-ulang sampai laki-laki di hadapannya berhenti mengeluarkan suara dan bergerak. "G—Geumanhae, donsaengie.."

Kakaknya menahan bahu Mingyu, membuatnya berhenti melakukan hal itu. Kali itu Mingyu baru menyadari tangannya yang sudah berlumuran darah, "Hyung.. apa—apa yang sudah aku lakukan? A—aku harus apa?" mendadak rasa panik menyelimutinya, ia hanya anak tujuh tahun yang tak tahu apa-apa.

Dan tanpa akal sehatnya sadari, ia sudah melakukan tindak pembunuhan pada ayah tirinya. Bayangan akan ada polisi yang menangkapnya seperti di televisi menakutinya, Mingyu ketakutan.

Kriiinggg..

Telepon rumah mereka berbunyi, kakaknya menekan tombol speaker agar tak perlu mengangkat gagang teleponnya. "Yeobboseyyo benar dengan keluarga Kim? Kami dari pihak kepolisian, seorang wanita melaporkan ada tindak kekerasan disana apa benar terjadi? Apa baik-baik saja?"

"Yeobboseyyo?"

"Yeobboseyyo?!"

Suara polisi memanggil-manggil membuat keduanya panik namun memilih bungkam, hanya tiba-tiba Mingyu terisak pelan. "Gwaenchanayo?" polisi itu berteriak di ujung panggilan begitu mendengar suara isakan. Kakaknya memilih menutup panggilan tersebut, "Hyung.. ada polisi,"

Sang kakak mengangguk, "Cucilah tanganmu Gyu-ie," suara kakaknya menyakinkan, Mingyu bangkit tertatih dan mencuci tangannya yang terkena cipratan darah. Ia juga mengganti pakaiannya, sementara sang kakak memegang pisau yang digunakan Mingyu untuk menusuk ayah tirinya. Apa ia harus mengubur mayat ayah tirinya sekarang?

Cklek!

Suara pintu terbuka mengejutkannya, kakak Mingyu langsung berdiri dan mendapati ibunya yang baru saja pulang bekerja. "OMO! Ada apa ini?" ibunya memekik panik, dan menyaksikan anak sulungnya sedang berjongkok di depan mayat suaminya dengan sebuah pisau di tangannya.

Wanita itu menutup mulutnya panik, "Apa yang kau lakukan?" Mingyu keluar dengan bajunya yang baru, ikut terkejut melihat sosok ibunya disana. Dan beberapa menit kemudian sebelum sang kakak maupun Mingyu bisa menjelaskan, derap langkah kaki mendatangi mereka.

Polisi yang awalnya berniat menyelamatkan dua anak kecil itu nampak kaget melihat situasi yang terjadi. Lantas suasana berubah gaduh, polisi itu mengarahkan pandangan pada di sulung Kim yang memegang pisau yang berlumuran darah.

Karena tidak ada yang mampu memberi jawaban apalagi sepertinya nyonya Kim masih dilanda keterkejutan polisi terpaksa membawa kakak Mingyu, "Maaf tapi kau harus ikut kami sebentar, adeul."

"Andwae! Andwae! Bukan hyung yang salah, jangan bawa hyungku! Hajimaaaa! K—kajima hyung! Hyungggg!"

. . .

Wonwoo yang selesai merapikan kamar dan menata baju Mingyu keluar, teleponnya sudah tidak berdering lagi namun suara beep panjang yang merupakan tanda ada pesan suara yang ditinggal membuat dokter itu yakin Kim Mingyu tidak mengangkat telepon tersebut. Apa pasiennya itu tertidur? Kenapa tidak mengangkatnya? Lagipula dokter Park cukup kuno juga masih menyimpan telepon rumah yang seperti itu di jaman dimana semua orang sudah beralih pada telepon seluler.

Lelaki itu menoleh karena suara televisi yang disetel cukup keras, tapi tidak ada yang menontonnya. Ia berdecak pelan lalu berniat menuju ke telepon rumah yang masih berbunyi itu, tetapi pemandangan di hadapannya membuat Wonwoo terkejut. "Mingyu-ssi?" panggilnya, pasalnya Mingyu sedang terduduk di dekat buffet dan tangannya berpegangan disana, ia juga memegangi kepalanya.

Buru-buru ia melangkah dan duduk di hadapan lelaki itu, "Apa kau baik-baik saja? Bernafaslah pelan-pelan.." Wonwoo mengusap lengan lelaki itu, kedua tangan Mingyu memegangi sisi kepalanya, menekannya keras seolah berusaha menghilangkan rasa sakit yang ia rasakan. "Mingyu?"

Tidak nampak ada jawaban dari laki-laki itu, Wonwoo sudah berniat mengambil sebuah obat untuk menenangkan pasiennya, sebelum tangannya dicengkram erat oleh lelaki tinggi itu. "Apa ada yang kau butuhkan?" tanyanya ramah.

Mingyu menggeleng, namun ada sesuatu yang berbeda dari tatapan wajahnya. Juga senyum misterius yang agak sedikit, um, genit itu. "J—Jongmin-ssi?" panggil Wonwoo takut-takut, ia sudah bersiap kabur kalau Jongmin yang muncul.

"Omo, sejak kapan Mingyu mengenal orang setampan dirimu? Omo, omo, sesange! Aku harus muncul lebih sering mulai saat ini, namamu siapa tampan?" mata Wonwoo melebar, cengkraman tangan Mingyu di tangannya makin mengerat. Wonwoo mencoba berdiri dan menarik tangannya.

Brukk!

Kali ini ia malah terperangkap dalam tubuh Mingyu, kepalanya bahkan terbenam di dada artis tinggi tersebut. "Mingyu-ssi! Lepaskan!" jeritnya, tapi Mingyu malah memeluknya makin erat. "Hororok! Kau tampan sekali, apa kau mau pergi kencan denganku? Dan psst, aku bukan Mingyu, aku Song Gukjoo. Karena kau tampan dan manis kau boleh panggil aku Gukjoo eonnie,"

"Y—Ye, Gukjoo-ssi, sekarang lepaskan aku. Aku tidak bisa bernafas, dan maaf aku tidak bisa memanggilmu eonnie karena aku laki-laki. Namaku Wonwoo,"

Aduh Wonwoo sampai lupa mempelajari tentang berapa jumlah kepribadian pasien ini seperti perintah Leeteuk, dan benar saja kan, dia selalu tidak siap menghadapi kepribadian baru yang akan muncul. Dan apapula ini yang muncul? Wanita maniak laki-laki manis?

Dan mau sampai kapan wanita bertubuh Mingyu ini akan memeluknya?

Beruntung saja sesaat kemudian mereka berdua mendengar suara 'kruuk' aneh, Gukjoo akhirnya melepaskan pelukannya pada Wonwoo yang terengah-engah. Dapat dipastikan suara itu berasal dari perut Mingyu, "Aku lapar." Gumamnya.

Mendengar itu Wonwoo mengangguk, memang ini sudah waktunya makan siang, tentu saja wajar jika sedang lapar. "Baegopeujjyoing~(cutely hungry)" dengan suara beratnya yang sekarang sudah mirip perempuan, dan dengan nada yang diimut-imutkan Mingyu melonjak-lonjak. Sesaat pemandangan tersebut membuat Wonwoo ingin muntah, tidak pantas sama sekali dan menyakiti mata.

"Baiklah, aku akan coba masakkan sesuatu."

Begitu dokter itu akan melangkah ke dapur, Mingyu menahannya kembali. "Ada apa Gukjoo-ssi?" tanyanya mencoba ramah. "Apa pekerjaanmu tampan?" tanyanya dengan tatapan memicing. Wonwoo diam sesaat, apa ia harus memberitahunya?

Lagipula.. ah sudahlah, "Aku? Dokter, mulai saat ini, aku dokternya Kim Mingyu." Jawabnya. "Punya keahlian memasak tidak?" pertanyaan bernada menyelidik itu kembali ia terima, Wonwoo merasa diinterograsi saat ini. "Sedikit, aku bisa memasak nasi di magic com, memanaskan sayur dalam microwave, kemudian ramen dan—"

"Layanan delivery,"

Perkataannya yang dipotong membuat Wonwoo melongo, "Kenapa? Kalau sekedar bubur aku bisa membuatnya kok." Gukjoo menggeleng keras-keras, "Seingatku aku ini tidak sakit. Dan aku tidak mau makan bubur, jadi biarkan aku menghubungi toko samgyeopsal langgananku, oke?"

Dan entah bagaimana Mingyu menggunakan ponselnya untuk menghubungi restauran samgyeopsal langganannya, "Aku pesan enam porsi, ya, dikirim ke.. hei, dimana alamat lengkapnya?" tampaknya Gukjoo baru sadar kalau rumah yang mereka tempati berbeda, "Distrik Gangdong-gu xx,"

Kemudian disinilah mereka berdua sekarang, berhadapan di meja makan dengan panggangan daging elektrik di atas meja. Wonwoo membiarkan Gukjoo membolak-balik daging-daging itu dengan terampil. "Kau pasti penasaran denganku, sudah beberapa minggu ini aku tidak muncul. Dan biasanya aku hanya muncul kalau Mingyu sedang tertekan, pasti terjadi sesuatu yang buruk sebelum ini?"

Wonwoo menggeleng, "Entahlah Gukjoo-ssi, aku menemukannya terjatuh tadi." Jujurnya, sepertinya dari kepribadian lain yang pernah Wonwoo temui, Gukjoo yang paling pengertian dan tidak ingin merebut kendali atas tubuh Mingyu. Mungkin tidak akan susah untuk menghapus kepribadian yang satu ini. "Mingyu selalu menggunakanku untuk menghindari masalah, dia juga tidak suka berada di tempat ramai, sehingga ketika penggemarnya muncul dan mengerubunginya maka dia akan membangunkanku."

Gukjoo menjelaskan sambil memberikan daging untuk Wonwoo, "Sudah segini saja Gukjoo-ssi," Gukjoo memandanginya, "Pantas saja tubuhmu seperti papan berjalan tampan, makanmu sedikit sekali. Ah, aku benar-benar harus sering muncul dan memberimu kehidupan yang lebih baik." Wonwoo tertawa, pemandangan Gukjoo yang perhatian dengan aegyo disana-sini sungguh jauh berbeda dengan Mingyu. "Anda sendiri jangan terlalu banyak makan, karena Kim Mingyu merupakan seorang idol, harus menjaga bentuk tubuhnya." Tentu saja diabaikan oleh Gukjoo.

"Dokter, suapi aku," Gukjoo mencondongkan tubuhnya, Wonwoo tersentak. Ragu-ragu, "Ayolah, ppuing-ppuing!" rajuknya, akhirnya Wonwoo meraih daun selada dan memasukkan dua potong daging kedalamnya beserta bawang putih dan potongan cabai dan membungkus daun selada itu.

Ia juga ikut mencondongkan badannya dan menyuapkan wrap itu ke mulut Mingyu, lelaki itu memakannya dengan lahap. Sementara Wonwoo terkejut karena barusan, bibir Mingyu menyentuh jari-jarinya meski tidak sengaja. Entah mengapa tiba-tiba ia merasa sedikit aneh, seharusnya tidak begini bukan?

Jadi pemuda Jeon itu memilih untuk memalingkan wajahnya dan menyudahi acara makan tersebut, ia membawa mangkoknya ke wastafel dan mencuci peralatan makannya disana. Mungkin akhir-akhir ini ia terlalu lama bekerja dan kelelahan, sampai-sampai otaknya bekerja dengan tidak benar.

Tiba-tiba suara musik cukup keras terdengar dari ruang tengah, "Wah, johda! Aigoo, rumah siapa ini? Dia punya hometheater yang lengkap, dokter! Kemarilah!" karena tidak ingin melihat ruangan yang kacau Wonwoo melangkah ke ruang tengah, musik video milik G-friend berjudul 'Me Gusta tu' diputar.

Enam perempuan itu tampak menari dengan enerjik dengan iringan lagu yang enak didengar juga, "Dokter! Ayo bernyanyi!" Gukjoo menyerahkan microphone yang entah ia dapatkan dari mana pada Wonwoo, membuat dokter itu terpaksa ikut menyanyi dengan konyol pula.

Hampir dua jam mereka habiskan untuk berkaraoke di ruang tengah itu, Wonwoo benar-benar kehilangan energinya dan memutuskan untuk duduk sesaat. "Dokter!" panggil Gukjoo, Wonwoo menaikkan telapak tangannya, memberi isyarat kalau ia sudah lelah dan tak ingin menyanyi kembali.

"Gumawo,"

Mata rubah Wonwoo yang awalnya terpejam, terbuka pelan. "Aku selalu berharap pemilikku merupakan wanita cantik sehingga aku bisa bertemu dengan pria-pria tampan di luar sana. Tapi pemilikku adalah idol tampan yang sayangnya antisosial, dia memang tampan tapi aku tidak mungkin menatap tubuh ini dengan mataku sendiri bukan? Lagipula, kebiasaan anehnya yang suka sendirian itu memuakkan. Sekarang ada kau, jadi aku senang."

Mingyu tersenyum ramah, meski itu bukan Kim Mingyu yang asli, namun senyum itu sungguh menghangatkan. Tapi sayang Wonwoo terlalu lelah untuk menanggapinya, "Aku harap, aku bisa muncul lebih sering dan bertemu denganmu. Aku suka padamu dokter."

Chu

Wonwoo terperangah, Song Gukjoo—bukan! Entahlah yang jelas tubuh Kim Mingyu ini sedang mencium pipinya, ia ingin berteriak dan mendorong tubuh itu. Lain kali Gukjoo benar-benar tidak boleh muncul! Bahaya! "Aku tidur dulu dokter,"

Meninggalkan Wonwoo yang masih bertanya-tanya, "H—HAA! Kenapa dia menciumku asdfghjkl—"

. . .

"Meja nomor sepuluh!" seorang laki-laki berambut panjang berteriak cukup nyaring, teriakannya membuat seseorang berpakaian pelayan berjalan lebih cepat dengan dua buah cangkir dan semangkuk ramen panas di atas nampan yang ia bawa.

Kedai itu cukup ramai di jam makan siang seperti ini, walaupun musim panas sedang hangat-hangatnya, hal tersebut tidak menyurutkan minat mereka untuk mencicipi ramen dengan harga yang tak terlalu mahal tersebut. "Silahkan dinikmati tuan," ucap pelayan berambut hitam itu kaku.

Begitu ia akan beranjak, pelanggan tadi menahan lengannya, "Wah, apa ini? Choi Seungcheol bekerja di kedai kecil seperti ini?" mendengar seseorang menyebutkan namanya, pelayan tadi terdiam. Ia tidak membalik tubuhnya hingga laki-laki yang memanggilnya tadi melakukan hal tersebut, "Benar, kau Seungcheol. Apa kabar? Masih pergi ke klub setiap hari Sabtu?"

Seungcheol diam, "Kau dikenal sebagai underground rapper yang berkelas dan kaya, tapi—ternyata kau ada disini," pemuda tampan itu menarik perhatian dari pelanggan lain yang juga sedang makan, sosok berambut panjang yang merupakan pemilik kedai tersebut berjalan mendekat. "Maaf, ada apa ini?"

Pemuda tampan bernama Jonghyun dengan nama panggung JR itu tersenyum mengejek, "Tidak, hanya ternyata aku menemukan gembel disini." Yang berambut panjang menatap kesal, "Jaga bicara anda tuan, dia ini—"

"Sudahlah Jeonghan, maaf atas ketidaknyamanan anda." Seungcheol membungkukkan badannya sedikit, mengesampingkan segala egoisme dalam dirinya dan berjalan membawa nampan kosong itu. Lelaki itu menuju ke arah belakang dan menghilang dibalik pintu bertuliskan 'Staff Only'.

Jeonghan tak habis pikir, meninggalkan pemuda dengan raut arogan tadi dan menyusul Seungcheol. Ia melihat Seungcheol mengenakan apronnya dan mengaduk ramen yang ia masukkan bersama kimchi dalam panci besar, sekali cium saja Jeonghan tahu porsi kimchinya lebih banyak dari biasanya.

Jadi ia berjalan dengan langkah cepat menuju kompor, memasukkan satu ramen lagi dan menambahkan airnya, kemudian mendorong badan Seungcheol yang kaku menjauh dari kompor. "Berikan padaku sumpitnya!" laki-laki itu mengalah dan memberikan sepasang sumpit besi itu pada Jeonghan.

Lelaki cantik itu melirik dari balik bahunya, Seungcheol masih belum bergeming. Wajahnya tegas tetapi tidak mengatakan apapun, "Moonbin-ah!" panggil Jeonghan, membuat anak yang tiga tahun lebih muda darinya berjalan terburu-buru ke arah dapur, "Ini, masak ramennya dan berikan pada meja tiga belas dan meja tujuh nanti,"

"Loh tapi hyung, aku sedang mengelap kaca—"

"Aku saja, kau kembalilah mengelap." Jeonghan berkacak pinggang, "Ya Choi Seungcheol! Kau mau buat aku bangkrut! Kemampuan memasakmu itu payah dan baru saja membaik akhir-akhir ini, aku tidak mau kedaiku bangkrut karena suasana hatimu yang buruk. Mengelap kacanya nanti saja, akan kuserahkan pada yang lain. Moonbin masak ramennya dan kau ikut keluar bersamaku!"

Tidak punya pilihan, ia hanya mengikuti langkah Yoon Jeonghan menuju halaman belakang kedai mereka. Keduanya duduk di atas tempat duduk yang terbuat dari semen, di depan mereka terdapat pekarangan bunga yang tak terlalu luas namun sangat menyenangkan. "Geu saram, nuguya?(Who's that person?)"

Bahu Seungcheol yang bidang bergerak sedikit, ia melepas apronnya dan melipatnya menjadi bujur sangkar dengan rapi. "Bukan siapa-siapa, hanya teman—rival maksudnya. Sama-sama underground rapper sepertiku, namanya Jonghyun aka JR."

Penjelasan itu rinci, jadi Jeonghan hanya mengangguk. "Sebenarnya aku juga bingung, kau bilang kau begitu terkenal di dunia rapper itu. Dan kau punya teman sepertinya. Kau kaya dan aku tahu itu, kalau tidak mana mungkin kau tidur di apartemen mewah. Namun mengapa tiga tahun lalu kau datang ke kedaiku? Meminta diberi pekerjaan ayahku pula,"

Pertanyaan polos itu tidak memberi jawaban dari Seungcheol, malahan lelaki itu hanya memasang seulas senyum. "Karena aku juga butuh biaya untuk tetap tinggal di apartemen itu," jawabnya.

Selalu misterius, kenal bertahun-tahun dengannya juga tidak membuat Jeonghan benar-benar mengenalnya. Ia percaya ada sesuatu yang sedang disembunyikan laki-laki tersebut, "Kau marah kan?" Seungcheol menatapnya, "Kenapa aku harus marah?" tanyanya balik.

Tangan Jeonghan mengelus kelopak mawarnya yang baru tumbuh lembut, tetapi tidak memetiknya. "Harusnya kau marah dijelekkan seperti itu, kenapa kau diam? Aku tidak masalah kau buat ribut di kedaiku, karena itu kesalahan pelanggan tadi." Seungcheol menggeleng, "Aku tidak bisa bertindak ceroboh. Kalau aku menuruti egoisku, memang aku akan lega, namun aku pasti memberi dampak buruk untukmu, untuk kedaimu, dan untuk diriku sendiri kalau sampai polisi mengetahuinya."

Selalu seperti itu, selalu jawaban Seungcheol terkesan ia menghindari sesuatu. "Kau ini sebenarnya siapa? Buronan polisi? Gembong narkoba? Mafia?" lagi-lagi hanya seulas senyum yang ditampilkan, "Bukan.. mungkin,"

"Apa maksudnya itu?" Jeonghan emosi sedikit karena Seungcheol yang susah dibaca.

"Gumawo, Jeonghan-ah." Seungcheol mengelus pelan pipi Jeonghan, kemudian menepuk bahu laki-laki itu. "Karena kau, aku punya kehidupan seperti ini. Karena kau, aku tidak bertindak bodoh lagi. Ah, andai aboejimu masih hidup aku juga akan berterimakasih padanya setiap hari."

Setelah berkata begitu, Seungcheol bangkit dan menepuk celananya. Meninggalkan Jeonghan yang terbengong-bengong sendirian, "Dia itu siapa sih? Aish, seperti berbicara dengan orang gila saja."

. . .

Tok! Tok!

Wonwoo langsung menegakkan tubuhnya begitu mendengar suara ketukan, ia terbangun dan baru sadar kalau baru saja tertidur di meja makan. "Kau tidur atau pingsan? Lama sekali," nadanya ketus, sudah bisa dipastikan yang berbicara dengannya merupakan Kim Mingyu.

Sang dokter mengerjapkan matanya beberapa kali, tubuhnya kaku. Memang bisa dibilang kalau ia pingsan, karena saat ini sepertinya sudah malam. "Uisa majayo?(aren't you a doctor?) Kau terlihat mudah lelah," mengabaikan protes itu, Wonwoo bangkit dan menuju ke kamar mandi untuk mencuci mukanya, aroma gochujang alias saus korea yang berwarna merah memasuki indera penciumannya.

Jadi ia mengikuti darimana aroma itu berasal, ternyata itu berasal dari Mingyu yang sedang memasak di dapur. Ternyata laki-laki itu bisa memasak, dan dari gerakan tangannya sepertinya ia sudah biasa melakukan pekerjaan itu. Oh, Wonwoo baru tahu juga kalau laki-laki itu merupakan seorang kidal.

"Kapan kau pulang?" tanyanya, Wonwoo melirik jam, baru jam delapan malam. "Kau mengusirku?" tanya Wonwoo balik. Mingyu langsung berdecak dan menatap Wonwoo kesal, masalahnya Mingyu terlihat lucu dengan apron bunga-bunga itu. Seperti ahjumma penjaga kedai ayam goreng saja.

Wonwoo merapikan jas kerjanya, "Sebentar lagi, aku pasti pulang Mingyu-ssi. Kau tenang saja," Mingyu mengendikkan bahunya dan menyajikan Kimchi, nasi, ramen, dan acar lobak untuk mereka berdua. Wonwoo makan dalam diam, ternyata Mingyu memang punya selera makan yang besar, baik ia jadi dirinya sendiri maupun kepribadiannya yang lain.

Tapi dia tidak gendut, mungkin ia punya hormon pertumbuhan yang bagus, sehingga tubuhnya tumbuh ke atas secara proposional bukannya kesamping. "Kenapa kau berhenti makan dan menatapku seperti itu?" Wonwoo langsung mengalihkan pandangannya, tiba-tiba teringat dengan Gukjoo yang mencium pipinya tadi siang.

Hal itu tidak boleh dibiarkan, itu hanya kepribadiannya yang berupa perempuan saja, bukan Mingyu asli. "Tadi siang Gukjoo-ssi muncul," ceritanya, "Aku tahu, aku sudah mengecek rekaman cctvnya lebih dahulu tadi karena kau tertidur sangat lama." Rona merah mewarnai pipi Wonwoo, apa itu artinya Mingyu sadar kalau ia mencium Wonwoo?

Lupakan!

Getaran ponsel Wonwoo menginterupsi mereka, Wonwoo berjalan menjauh dari meja makan dan menerima panggilan dari dokter Park itu. "Kau masih disana Wonwoo-ya?" pertanyaan itu dijawab dengan gumaman oleh sang dokter muda, "Apa ada kepribadian lain yang muncul?"

"Ada hyung, Song Gukjoo." Jungsoo terkekeh diseberang panggilan, "Josimhae, Gukjoo lemah dengan laki-laki tampan. Ah tunggu dulu, apa ada masalah? Tidak biasanya Gukjoo muncul," bahkan hingga saat ini Wonwoo pun belum menyadari alasan dibalik kemunculan Gukjoo.

Mungkin ia perlu memeriksa rekaman cctv nya seperti Mingyu tadi, "Dia tiba-tiba saja kesakitan, dan berubah ketika aku menemukannya." Jelas Wonwoo, "Pasti ada yang terjadi, kau cari tahu. Ah, dan Wonwoo, aku lupa memberitahumu. Mingyu itu.."

Wonwoo menahan nafasnya. Takut akan mendengar sesuatu yang buruk dari mulut dokter Park.

"Dia kehilangan ingatan masa kecilnya dan.. dulu dia tidak ingat anggota keluarganya selain sang ibu, dan dikenalkan kembali pada anggota keluarganya. mungkin kalau masa lalunya bisa terkuak perlahan, dia bisa menghilangkan kepribadiannya yang lain."

T B C

Halo aku balik hehe. Pasti chapt ini mengecewakan, maafkan akuuuu aku bakal berusaha bikin yang paling baik :)

Oh iya sekali lagi aku bilang kalau kepribadiannya ga sampai 12 ya, nulisnya bingung, karena pada akhir cerita tentu aja kita harus ngehapus kepribadian2 Mingyu yang lain dan hanya menyisakan mingyu (?)

Chapt depan bakal dikenalin kepribadiannya Mingyu yaaa, aku sih kayanya Cuma bikin 4 kepribadian aja. Dan juga mulai nyari tau di masa lalu Mingyu kaya gimana. Dan nasib keluarganya yang dia lupakan.

Juga mulai ada romance kayanya di chapt depan, doain aja hewhewhew.

So review please?:3