"Hei kalian! Kenapa tidak memandang kalau kami ini lebih muda dari kalian!"
Aku membentaki ketiga pria yang sepertinya masih berumur sekitar SMA itu karena telah menganiaya Boboiboy tepat dekat dari kedainya. Dua pria yang memegang balok kayu melirik aku dengan wajah garang, sedang satu lagi masih menjambak rambut Boboiboy sadis—membuat orang yang ditariknya dipaksakan berdiri.
Hei Boboiboy! Kau tidak selemah ini bukan? Mengapa kau tidak bisa setidaknya amengeluarkan golem-mu untuk menghajar mereka? Justru kau malah seperti kewalahan menghadapi mereka seperti tingkat anak biasa-biasa saja tanpa kekuatan?
"Siapa kamu? Kau tahu tidak alasan kami menghajar anak ini kenapa?" salah satu dari mereka berucap. Walaupun wajah remaja mereka menampakkan paras lumayan, namun saat mereka menunjukkan raut garang itu mirip seperti penjahat bermuka jelek.
"Tch! Pergi atau aku takkan segan-segan menyerang kalian!" ancamku.
Sebenarnya aku bingung dengan situasi sekarang. Yaya, Ying, dan Gopal yang merupakan sahabat bocah bertopi itu lama sebelum aku mengenal Boboiboy mengapa tidak sama sekali bergerak untuk setidaknya meninju wajah orang bejat itu? Ditambah lagi sekarang kakek Aba dan Ochobot ada dimana? Terakhir, mengapa sepertinya cuma aku yang geram sekali ingin menghajar musuh di depanku? Padahal aku bukan apa-apanya Boboiboy.
Ketiga remaja SMA itu tertawa. Mereka menghadap satu sama lain saling memberi isyarat.
"PERGI KALIAN! HARIMAU BAYANG!"
.
.
"IYA KAMI PERGI! JANGAN MENGGIGIT GYAAAAAA!"
Para pemuda brengsek tadi pun berlari gaya wanita dengan belakang celana sobek karena gigitan harimau milikku. Aku berlari menuju arah Boboiboy yang kini terkulai setelah dilepaskan, dan menangkapnya.
"Boboiboy! Bangun! Boboiboy!"
"F—Fang... Maaf..." katanya lirih. Ia mengenggam salah satu tanganku erat.
"Boboiboy?"
Ia hanya membalas dengan senyuman kecil, lalu memejamkan kedua matanya dimana salah satunya terdapat bekas memar.
.
.
Kolaborasi Api dan Kegelapan
BoBoiBoy © Animonsta Studios
Sedikit mengecewakan sih dapet reviewnya lebih sedikit dari yang lalu, tapi gapapa deh. Makasih buat Nanas RabbitFox, AqariFiaRsd, Yuriko-chan, rin-san (kamu ambil Fang, saya ambil BBB Api buat guling di rumah ya? /dibakarorangnya), gitaanggra277, Yuktry the Fantasy Girl, satandowski (haduh ni review awalnya bikin saya ngakak tengah malam, maaf buat kata ambigunya), TsubasaKEI (hello :D), Fadhjimori (Akhirnya datang nih pembaca setia :3 /ditamvar), roleparody, Yuki Jaeger, sama PhantomSorceress06.
Yang protes chap kemarin pendek itu apakah kalian tahu bahwa kalian tertipu saat peletakkan judul ini? Sebelum buat judul ini, cerita awalnya udah sampe 500k words loh!
.
.
Warning! Cerita ini hanya fiktif belaka yang tidak ada dalam cerita aslinya. BBB Api x Fang. Slight FangxBBB
.
.
Enjoy!
.
.
Aku membaringkan tubuh lelaki yang penuh akan cacat luka itu di atas sofa berdebu. Tempat duduk bernuansa hijau dan terlihat usang, namun masih layak diduduki.
"Maaf ya membaringkanmu disini," kataku.
Sekarang aku dan Boboiboy berada di rumah hantu yang menjadi tempat tinggalku tidak beberapa lama ini. Aku begitu kecewa dengan reaksi kawan-kawan rivalku ini yang hanya bisa diam melihat kawannya disabotase se-mengerikan mungkin. Bayangkan sahabatmu yang dipukul dengan balok tepat di bagian batok kepala, satu matanya dijotos sampai memar, sampai jaket dan celananya lecet. Dan kawan-kawanmu hanya diam disaat kau menderita butuh pertolongan.
Makanya. Aku melampiaskan kekesalanku dengan membawa Boboiboy kabur sehabis membentak dengan biadab kepada mereka.
"Kamu juga kenapa tidak memberontak? Kau kan kuat! Kau bisa mengalahkan naga bayang-ku saat itu!" pekikku yang terduduk di sebelah pria bertopi dimana kini ia tertidur lelap. Berharap ia akan bangun dan menyahut ucapanku, namun nihil.
"Hei bangun bodoh! Banyak orang yang masih memerlukan tenagamu!"
Tidak ada sahutan.
"BANGUN BODOH! ATAU AKU AKAN MENERKAMMU DENGAN NAGA BAYANGKU!"
Emosiku terlalu meluap sampai mencengkeram ujung jaket rivalku gemas. Aku menatap tajam fokus pada wajah pria yang hobi bermain sepak bola ini.
"Bo...boboiboy—ah, Boboiboy?" aku berhasil menahan emosiku saat memandang wajahnya dalam. Entah mengapa kini aku seakan terhipnotis untuk mendekati wajahnya yang terpejam.
Dehaman kecil keluar dari mulutku canggung. Kupanjangkan leherku dan tangan yang awalnya kugunakan untuk melilitkan ujung jaket Boboiboy pada kepalan tanganku aku lepaskan perlahan dan kugerakkan menuju topi jingga kegemarannya. Topi yang jarang dilepasnya itu akhirnya bisa aku lepaskan tanpa hambatan.
Rambut acak kehitamannya tampak berkilau, membuat mataku menangkap biasan indah dari beberapa helai rambutnya. Air bulir yang merupakan keringat yang terkumpul akibat kepanasan menjalar pada pelipis pria pemilik kekuatan tiga elemen ini.
"Aku jadi mengerti kenapa kau populer. Tanpa topi, rupanya kau kelihatan tampan sekali," desisku.
Kuraih helaian rambut cepaknya dan menarik kepalanya disamping aku ikut meggerakkan leherku mendekati wajahnya.
Cup!
Aku mencium keningnya pelan, namun lama untuk dapat lepas. Kugerakkan tanganku untuk turun pada pinggangnya, menahan tubuhnya agar tidak menjauh dariku.
"Hngg... apa yang kau lakukan—"
Suara ini...
"—Fang?"
"GYAAAA!" aku melepaskan kecupanku dan melepas pelukku. Tubuhnya pun secara tidak elit mendarat secara keras, menghasilkan suara dentuman keras dari tulang punggungnya—kurasa.
"S—Sakittt!"
"M—maaf Boboiboy!" pipiku begitu hangat kurasakan. Tubuhku gemetaran kuat. Astaga apa yang barusan kulakukan?!
"Kau itu—kalau mengobati jangan canggung! Lihat tulang punggungku mau retak!" keluhnya meringis. Ia mengelus belakang punggungnya lemah. Sepertinya dia mengira aku tengah merawatnya. Yah tidak apa asal dia tidak menebak apa yang barusan aku lakukan.
"Maaf, aku minta maaf," ulangku. Aku memalingkan wajahku dan berpura-pura memperbaiki kacamataku.
Apa yang barusan aku lakukan? Tingkahku menjadi sangat agresif tadi, dan bersyukur aku masih bisa mengendalikan akal sehat untuk menjauhkan tubuhnya dariku.
"Ohok! Dan aku terbaring di sofa berdebu—ohok!" berganti dari meringis, Boboiboy kini batuk-batuk ala orang tua.
"Berhenti untuk mengeluh, kalau ingin tetap hidup," ucapku datar. Secepat mungkin aku menenangkan rasa panik luar biasa yang sempat memacu detak jantungku kuat. "Jadi, mana bagian tubuhmu yang sakit?"
"Ngg..." dia terlihat canggung, dan mulai bangkit hingga duduk di sebelahku. "Haruskah aku lepas jaket ya?"
"Kalau sakitnya di area tubuh mungkin boleh," jawabku. Wajahnya tiba-tiba memerah.
"H—hah?! Tidak ah!"
"Kalau mau sembuh cepat aja. Lagian kau itu bocah! Sunat saja belum! Tiap hari mandi bugil depan orang tua kok! Ngapain malu depan teman sendiri?!"
"Ngomongin sunat kenapa sih?! Sensitiif sekali dengan area kelamin aku?! Lagian aku masa kecil mandi dalam toilet, asal kau tahu!"
"Mandi dalam toilet dalam keadaan pintu terbuka kan?! Bahkan mau buang air kecil saja pasti minta temenin kakek kamu kan?!"
"Sembarangan! Aku ini mandiri! Aku tidak takut hantu!"
"Muka kamu mirip monyet minta dilepas dari kandang."
Dia pun mendorong pundakku kuat. Aku menggeram dan ikut membalas dengan melakukan hal sama. Dia tidak mau kalah, dan kembali mendorongku. Aku membalasnya kembali. Begitu terus kami saling berseteru untuk mendorong pundak lawan masing-masing. Semakin lama semakin kuat. Berulang-ulang.
Muak selama nyaris setengah jam digunakan untuk bertarung hal yan tiada hasilnya, aku lelah untuk bersabar dan memilih menggunakan bantuan.
"JARI BAYANG!"
.
.
"AAAA!"
Boboiboy terlihat seperti cacing kepanasan ketika beberapa lengan hitam menahan tubuhnya masih di atas sofa. Aku menanggalkan jaketnya hati-hati.
"Tuh lihat, bukan hanya memar di tubuhmu itu," ucapku saat berhasil membuka kaos dalamnya. Beberapa luka memar dan goresan seakan disabit silet menghiasi punggungnya. Beberapa luka mengangga sudah cukup mengering bersamaan dengan cairan merah yang membeku. "Ayolah Boboiboy, kau tidak mau luka lecet dimana-mana kan? Memang kau pembunuh bayaran?"
Dia diam tidak merespon. Kepalanya ia tundukkan, pasrah ditahan oleh beberapa tangan hitam yang kukawal.
"Ya sudah kalau tidak mau menjawab."
Aku bangkit dan meletakkan jaketnya diatas sofa, lalu berjalan menuju pintu luar. Tangan-tangan hitam pun menyusut kembali pada bayanganku seiring aku berjalan dan membukakan pintu rumah yang tertutup.
"Mau kemana, Fang? Ini kan sudah sore?"
"Tunggu saja," ucapku penuh misteri tanpa melengoknya.
Aku berlari keluar dari teras rumah menuju suatu tempat dan membeli apa yang aku perlukan. Setelah mendapatkan bahan-bahan tersebut, kembali aku berlari menuju rumah dan melihat Boboiboy terbaring lemas di atas sofa.
"Eh kau membeli es?" tanya Boboiboy sambil dia memperbaiki sikap dengan kembali duduk di atas sofa. "Untuk apa?"
"Untuk meredakan keras kepalamu," balasku.
.
.
Malam pun tiba. Selesai mengobati sekujur tubuh Boboiboy yang memar juga beberapa luka yang dibersihkan karena mengering, aku dan dia pun duduk di atas atap rumah yang kami tempati untuk beristirahat tadi. Dia sesekali menghembuskan napas, lalu menghirup lagi pelan. Kalau kedinginan rasanya tidak mungkin, aku mengembalikan jaket lecetnya kembali dan dia mengenakannya.
Kami berdua saling diam tanpa bicara, seakan tidak kenal satu sama lain. Ini yang kuharapkan. Tidak berbicara dengannya sedikitpun.
Selintas aku memikirkan sesuatu, yang menganggu pikiranku. Cukup membuatku sangat penasaran dan aku menyerah untuk diam.
"Boboiboy..." panggilku mengetes apakah dia mendengarkanku.
"Hmmm?" balasnya.
"Kau tidak mau melawan kakak-kakak asing itu, mengapa?"
Pria bertopi jingga bercorak dinosaurus itu menunduk.
"Aku tidak bisa menyakiti orang," ujarnya kecil. "Nanti kakekku yang repot."
Alasan yang mungkin memang jujur. Alasan aku berpikir dia jujur karena dahulu saat menahan tiga penjahat di bank Pulau Rintis, dia juga tidak menggunakan kekerasan untuk menangkap mereka.
"Tapi mereka kan sampai membuatmu pingsan. Kenapa setidaknya melarikan diri saja tidak bisa?"
"Entah," jawabnya. "Saat itu aku merasa kepalaku begitu pusing dengan hebat. Serasa mengantuk karena kurang tidur."
"Semacam anemia?"
Dia membalas dengan mengangguk. Saat ini aku memikirkan alasan dia kurang tidur karena kami berdua bercerita semalam penuh, dan dia tidak menyadarinya. Sekarang aku sangat merasa bersalah.
"Mungkin kau perlu tidur?" saranku. "Kekurangan sel darah merah bisa membuat konsentrasi terganggu. Nanti pusing."
"Tidur di rumahmu? Yang banyak debunya ini?"
"MAAF SAJA YA KALAU RUMAH INI TIDAK SE-HIGIENIS RUMAH KAKEKMU," ucapku lantang. Aku tersinggung dengan ucapan blak-blakkannya.
"Ahaha—aku bercanda Fang! Aku kan bisa pulang juga—hoammm—" dia menguap cukup lebar. "Kalau sanggup berjalan..."
"Mau ditemani?"
"Tidak perlu—"
"Boboiboy!"
Kami berdua serentak menengok pada pemanggil seruan nama bocah di sebelahku ini. Kakek Aba bersama Ochobot memanggil Boboiboy dari teras, dan mendongak melihat kami duduk berdua.
"Kakek?"
"Ayo pulang!" ajak kakeknya.
Boboiboy mengangguk dan turun dari atap rumah secara perlahan. Ia berjalan mendekati kakeknya, lalu kembali menatapku.
"Maaf ya merepotkanmu," desisnya. Aku hanya mengangguk kecil mengiyakan.
"Kek, maaf atas ucapan kasar saya tadi siang."
"Tak apa. Ying, Yaya, dan Gopal langsung merencanakan acara permintaan maaf besok," kata sang kakek.
"Eh acara?"
"Namanya juga anak-anak, ya kan Ochobot?"
"Betul! Tapi jangan bilang kalau kakek menceritakannya, Fang!" Ucap Ochobot.
"Kalau begitu kami pulang dulu Fang," Boboiboy menyudahi perbincangan. Dengan semangat ia menarik tangan kakeknya kuat. Ochobot hanya mengikuti dari belakang.
Rasanya cukup aneh saat melihat Ochobot sepertinya menatapku mengawasi. Dia melengokkan tubuhnya melihatku, dan kembali berpaling melayang mengikuti Boboiboy bersama kakeknya.
"Eh apa ada yang salah dariku?"
.
.
"Ayo Fang! Buat elang bayang makin besar!"
Aku berkonsentrasi memusatkan pikiranku membayangkan bagaimana makhluk gelap yang akan kubuat. Aku silangkan kedua telapak tanganku dan kedua jempol aku kaitkan walau tanganku berselimut fingerless, dan mengangkatnya tinggi.
"Elang bayang!"
Sosok gelap mengepakkan kedua sayapnya ke udara dengan kedua mata merahnya. Ia melesat ke udara, meliuk-liuk bebas pada ruang seakan tidak terkekang hukum gravitasi bumi.
"Semburan naga api!"
Keluar api yang cukup mencolok warnanya menyembur pada burung yang terbang di udara dari mulut Boboiboy.
"Elang bayang! Berputar membuat pusaran api!"
Burung gelap itupun mempercepat terbangnya, berputar-putar mengelilingi semburan api mencoba meninggikan jarak jalarannya.
"Kakkkk!"
Elang bayang malah terjatuh ke daratan dengan kejang-kejang. Sayapnya terkena api hingga tidak bisa terbang.
"Aku bingung. Api kan hanya perlu oksigen dan bahan yang bisa dibakar agar tetap hidup, tapi kenapa elang bayang bisa terbakar?" tanyaku. Lawan bicaraku duduk bersila pada lapangan sepak bola dan mulai mengupil.
"Entah. Mungkin kolaborasi kita tidak bakal jadi."
"Yah, mungkin tidak bakal jadi."
Aku mendongak pada langit. Ini adalah kedua kalinya kami bertemu dengan kondisi malam yang sama—bulan purnama benderang. Malam yang sama kami berdua bisa beradu kekuatan walau hasilnya tidak ada.
"Untuk apa latihan kita yang hanya bisa saat bulan purnama selama ini? Tidak ada hasilnya!" ketusku. Sudah nyaris sebulan sejak pertemuan awal kami latihan menggabungkan kekuatan tidak latihan, saat sudah ada hari yang cocok pun hasilnya nihil.
"Ayolah. Saat tidak ada fase bulan purnama kan kita tiduran bersama~" goda Boboiboy Api yang kini mengingat momen bersama kami saat aku tidak bisa mengeluarkan kekuatanku.
Cukup ngeri aku membayangkan ketika ia mengigau dengan masih mode Api. Saat dipeluk, digulingkan, sampai nyaris dahiku dicium olehnya pernah terjadi. Yang paling penting, dia pernah menggerutu untuk menjadi kekasihku.
Itu... menjijikkan.
"Sekali lagi kita latihan!" tegasku. "Ayo Api! Ki—"
"Sudah kami duga Fang berkhianat pada kami!"
DEG!
Apa? Mengapa ada Ying disini?
Disamping Ying berdiri, Yaya dan Gopal keluar dari persembunyian mereka. Diikuti juga oleh robot kuning kesayangan kami, Ochobot.
Sial. Ketahuan semua rahasiaku.
"Kau mau memanfaatkan Boboiboy ya?" prasangka Gopal.
"Diam kamu!"
"Fang! Boboiboy Api itu bahaya! Ingat dulu kita pernah dikalahkan dia secara gampang?" ceramah Ochobot. "Kalau dia menyakitimu, nanti apa yang kau lakukan?"
"Dia tidak bahaya Ochobot! Percayalah! Dia hanya kesepian!" jeritku membela. Boboiboy Api hanya diam dengan masih memposisikan diri duduk.
"Dia itu bahaya. Makanya kalian sampai minta ulur tangan aku kan?"
Sial. Tambah lagi satu makhluk yang seharusnya tidak perlu hadir.
"Untuk apa kau kesini, Adu Du!"
Alien hijau berkepala kotak yang duduk diatas kepala robot besar kesayangannya itu menatapku dengan ulasan senyum licik.
"Aku hanya diminta untuk membuat Boboiboy menyadari posisinya sebagai pahlawan. Ya kan Ochobot?" tanya Adu Du sambil melengok pada Ochobot.
"Apa benar Ochobot?"
Robot berbentuk bola kuning corak hitam itu memandangku lurus.
"Iya. Maaf Fang, kami sudah curiga saat kamu pura-pura tidur padahal sebelumnya kami semua sudah bangun dan panik karena kalian berdua tidak ada."
"Tapi kalian tidur kan?"
"Kami pura-pura tidur."
Jantungku berderup keras. Pantas waktu itu percakapan mereka menjurus untuk menyinggungku walau sebelumnya lewat perantaraan Gopal. Apalagi saat Gopal nyeletuk aku berbohong.
"Yaya! Ying! Tahan Fang! Biar Adu Du dan aku menangani Boboiboy!" perintah Ochobot.
"Tidak! Jangan!" pekikku. Ying sudah mengunci kedua tanganku ke belakang dengan menggunakan kekuatannya sebelumnya.
"Fang!" teriak Boboiboy Api. Wajahnya begitu panik terlihat. Apalagi robot ungu besar di depan bocah bertopi itu segera melancarkan beberapa misil menuju rivalku itu. Tanpa terasa, satu teteran air mata kurasakan dari pelupuk mataku. Merasa bersalah karena dia dicap jahat sebab kelakuanku yang mencurigakan di depan kawan-kawannya.
Maaf Boboiboy! Ini semua salah aku!
"BOBOIBOYYYY!"
-Bersambung-
A/N: Ye apdetnya cepet dua hari dari hari seharusnya. Ceritanya saya lagi nangis karena ga bisa beli sesuatu. Jadinya lampiasin rasa kesel disini lewat ada nempil adegan FangBBB.
Saya sebenarnya greget mau apdet kilat, tapi saya punya banyak kerjaan. Di RL pas minggu ini tenaga saya diperluin banget untuk membantu. Pas di DuMay saya musti ngurus facebook karena saya ini admin grup RolePlay (buat bahannya itu sulit) sama buat FA mode mouse. Oke dan sebagai pelampiasan stress karena kerjaan ga kurang-kurang, saya pun nyaris membejad kedua bocah SD kembali. Heleeeppp...
Saya sangat berterimakasih untuk para reader(s) yang sempat membaca apalagi yang review. Saya sangat tersanjung walau review hanya singkat tapi setidaknya meninggalkan jejak ahaha. Ada satu reader yang saya perhatiin reviewnya selalu rame dari chap 1 - 2 ini sih, dan saya harap pas 3 dia review dan masih menetapkan posisinya.
Oh ya saya juga mau memberitahu walau ini sangat telat. Maaf yang kontak BBm-nya saya hapus tanpa konfirmasi, karena saya memang mau punya teman sesama penggemar tapi saya ga suka punya kontak orang yang ga mau kenalan sama saya (saya batasi sampai 3 hari). Ada sih yang kenalan tapi bentar doang, trus saya juga delcont. Juga ada yang ke-delcont padahal cukup akrab chat sama saya. Itu khilaf karena saya kalau gak kenal DN kalian saya mengira orang baru. Dan jadilah kena lampiasan bejad saya. Saya sangat minta maaf untuk reader(s) yang tersinggung sama tindakan saya terdahulu. Karena saya cukup aktif menulis status di Bbm dengan tema 'omelan' dan takut mengotori RU kalian itu juga termasuk alasan kuat saya memilih punya kontak Bbm yang authornya dekat sama saya.
