=Ghost Eyes=
Author : Ami Zhang
Cast : Lay
Genre : Thriller, Horror, Mystery
Warning! : OOC! Typo (s) Genderswicth
Note : Sebelumnya, Cerita ini adalah remake dari Novel 'Omen', kisahnya menurut saya sangat menarik. Karakter-karakter yang ada di cerita ini saya ambil dari karakter-karakter dari novel 'Omen'. Jika ada kesalahan kata atau kesalahan lainnya, mohon dimaafkan dan mohon saya ditegur... Based on OMEN series.
.
Enjoy!
And
Happy Reading!
..
.
.
Prolog #2
?
Aku melangkah kakiku memasuki kawasan sekolah. Sekolah tampak menyeramkan malam-malam begini.
Aku terpaksa datang ke sekolah, supaya masalah itu tidak tersebar. Tidak, aku tidak ingin masalah itu sampai tersebar dan jangan sampai terdengar semua orang—terutama orang tuaku. Mereka sudah menaruh harapan begitu besar padaku. Dan aku pun tak ingin mengecewakan mereka.
Aku tahu, tak ada satu pun di antara kami yang berani menceritakannya pada orang lain karena kami takut masalah ini tersebar, dan jadi tak ada satu pun yang akan sudi membocorkannya.
Kecuali cewek itu. Cewek sok pemberani dengan senyum lebar nyaris robek itu dan juga suara datar nan cempreng yang mengerikan.
Tapi masa dia…?
Tidak. Pasti dia sudah takut dengan ancaman kami. Sehingga dia tak mungkin membocorkannya pada orang berbahaya. Tapi disini justru dia yang bersalah karena ia mengetahui rahasia yang kami tutup rapat dengan susah payah.
Lalu, kenapa 'dia' bisa tahu tentang perbuatan kami?
Koridor sekolah terlihat mengerikan pada malam hari. Tanpa semua murid-murid bergerombolan dan berisik itu seperti di siang hari, koridor ini terlihat panjang, mengerikan, dan tak berujung. Setiap melangkah, aku bisa mendengar suara langkah kakiku di lanta yang terdengar menderit antara gesekan sol sepatu dan lantai kayu tua. Membuat bulu kudukku meremang.
Dengan pencahayaan yang kurang, Koridor terlihat seperti koridor berhantu membuatku berhenti sejenak dan menelan ludah dengan susah payah. Lalu aku berjalan menyusuri koridor. Menuju Ruang Kesenian.
Ruangan yang remang-remang tampak tak menyenangkan mendukungku niatku ingin ngacir dari suasana menyeramkan ini. Patung-patung manusia yang baru dibuat anak XI-Sastra 3 itu ditutupi seprai putih yang membuat patung-patung itu tampak seperti sosok-sosok hantu menjulang yang tengah bersembunyi di tengah ruangan.
"Halo?" tanyaku
"Ada orang disini?"
Pertanyaanku tidak mendapatkan jawaban sama sekali, dan aku mulai takut. Bukan karena suasananya yang mengerikan saja tapi juga kebohongan dan juga kesalahan yang terjadi.
"Halo?" Panggilku sekali lagi dengan suara bergetar.
Sial, aku ini kan cowok. Masa suaraku seperti pengecut begini?
Leher belakangku menjadi dingin. Aku mengusapnya pelan.
"Jika ada orang tolong jawab aku!"
Tetap saja tak ada jawaban.
Percuma aku datang malam-malam begini jika hanya mendapatkan hal yan tak penting.
Aku sudah berjalan ke pintu saat lukisan itu menarik perhatianku. Lukisan yang dibuat dalam rangka pameran lukisan yang diadakan sekolah kami. Aku tahu, lukisan itu milik Lay. Lay si anak kelas X-2 yang kurus dan jelek dengan rambut panjang mengerikan, cewek lemah yang biasanya jadi bahan tertawaan kami.
Di lukisan itu, Ada sosok yang mirip manusia, mungkin laki-laki dengan wajah ketakutan tengah menyeret dirinya keluar dari sebuah pintu, sementara sosok lain yang mirip monster sedang mengayunkan parang besar dari belakangnya. Darah berceceran di lantai. Lukisan itu dibuat dengan sapuan cat minyak kurang lebih mirip corat-coret orang sinting ketimbang lukisan orang berbakat.
Tunggu dulu. Kenapa sosok laki-laki ini merah?
Kuangkat tanganku untuk menyisir rambutku yang dicat warna merah. Jantungku berdegup keras. Seingatku, Tadi pagi belum ada detail-detail kecil ini.
Tidak mungkin!
Aku mendengar bunyi dibelakangku dan aku pun langsung berbalik. Napasku tercekat melihat salah satu patung selimut seprai itu berputar menghadapkan badannya padaku. Lalu bagaikan robot, patung itu mendekatiku.
Dari balik seprai, menyembul sesuatu yang kukenali sebagai parang besar.
Oh, Tuhan!
Tanpa berpikir panjang, aku membuka pintu ruang kesenian dan mulai berlari. Sementara itu, pikiranku dihantui gambar dalam lukisan itu.
Lelaki itu berkaki buntung. Darahnya berceceran dimana-mana. Monster bersenjata parang.
Mendadak terlintas di kepalaku kata-kata teman-temanku saat melihat lukisan itu. Kata-kata yang tadinya kukira hanya gossip belaka.
"Terkadang Lay bisa menggambar sesuatu yanga akan terjadi, lho.."
"Jangan meragukan lukisan corat-coret Lay, kalau kau tak ingin menjadi korbannya."
Tidaaaak! Aku tak mau mati.
Tolong!
Tolong aku!
Aku tersandung dan terjatuh. Celaka. Lantai koridor ini terbuat dari sederetan papan, dan papan tersebut agak menyembul keluar dari posisi sebelumnya. Aku berusaha bangkit, tapi sesuatu menghujam kakiku dengan kuat.
Aku menjerit sekeras-kerasnya. Air mata menggenang di pelupuk mataku. Sakit, rasanya sakit sekali.
Terdengan suara wanita yang tertawa dengan nyarin yang cukup aku kenali.
Aku berbalik saat mendapat monster dan wanita tadi tengah mengacungkan parang yang siap mencabik habis badan dan kepalaku.
Ibu, tolong aku! Ibuuu…!
"TIDAAAAAK!"
JLEB
.
.
.
End/TBC?
