Love Is Only A Feeling

A fanfic by Presiousca

.

TIGA

.

Besok adalah hari dimana ibunya akan dioperasi.

Sehun yang lebih mengerti tentang apa saja yang harus mereka persiapkan karena adiknya itu selalu setia menjaga ibu mereka. Bahkan, si bungsu Baekhee saja sudah tahu bahwa menjenguk ibunya sepulang sekolah merupakan rutinitas baru.

Berbeda dengan Baekhyun, yang mau tidak mau harus menghabiskan waktu seharian untuk 'bekerja' dengan Chanyeol. Cukup membuat Baekhyun merasa bahwa ia gagal menjadi kakak tertua.

Tapi bukankah memang sudah hukumnya, bahwa kau harus mengorbankan sesuatu demi mendapatkan yang lain?

"Namanya Koko. Lucu kan?"

Seperti ucapan Chanyeol kemarin, mereka benar-benar membelikan Baekhee hamster baru. Warnanya coklat pekat, dengan badan yang sangat gemuk, lengkap dengan tempat tinggal dan persediaan makanan.

Baekhee bukan main senang. Bocah itu sampai bertanya apakah boleh membawa hewan menggemaskan itu ke sekolahnya dan tentu saja, Baekhyun melarang.

"Tuan Putri Baekhee harus merawat Koko dengan baik, ya?"

"Eung!" Si bungsu mengangguk imut.

Gadis mungil itu sibuk mengelus bulu coklat Koko yang sudah berada di genggaman kedua tangannya. Baekhyun beralih melihat tubuh besar Sehun yang berbaring di sofa. Tertidur di sana dengan masih mengenakan seragam pengantar makanan restoran cepat saji.

Sehun, dengan keras kepala masih mengambil kerja paruh waktu demi membantu Baekhyun.

"Dasar bocah ini..." Baekhyun mendengus.

Seperti ingin memarahi, tapi apa yang dia lakukan hanya membantu sang adik melepas sepatunya. Juga membenahi tubuh meringkuk itu sampai posisinya senyaman mungkin. Dengan sangat hati-hati dan begitu pelan.

Adiknya yang malang...

Satu tetes hampir lolos dari kelopaknya. Baekhyun buru-buru menghapus genangan itu dan melirik ke arah ibunya yang masih tertidur. Masih belum bangun juga padahal rasanya ada banyak hal yang ingin Baekhyun ucapkan.

Permintaan maaf misalnya.

"Yang terpenting ibu sembuh dulu..." suaranya hampir mengalun seperti angin.

Melebur bersama udara sampai tidak ada orang lain yang bisa mendengar. Baik itu Sehun, Baekhee badan tentu saja ibunya sendiri.

"Kalau sudah sembuh, ibu baru boleh marah padaku..."

Baekhyun tidak menahannya lagi. Satu tetes lolos dari kelopak matanya yang lelah. Turun ke pipi tirusnya dan terus merambat sampai dagu. Jejaknya sangat terasa, menyentuh setiap inchi pori-pori di wajah seolah mengejek Baekhyun bahwa ini baru satu tetes saja.

Tunggu sampai satu tetes itu besok menjadi sungai di pipi. Maka Baekhyun tidak akan bisa merasakan jejaknya lagi. Hanya tinggal menunggu waktu saja.

Tiba-tiba ponselnya bergetar. Baekhyun yang lelah seperti ingin mematikan benda itu atau mengabaikannya, tapi ini Chanyeol. Pemiliknya-lah yang menelepon.

"Ya, halo?"

"..."

"Aku di rumah sakit Myungsei. Ada apa?"

"..."

"Berkemas? Sekarang juga?"

"..."

"Tapi untuk apa? Kenapa aku harus berkemas?"

"..."

"Chanyeol? Halo? Halo?! YAA!"

Sambungan diputus dengan lumayan kasar. Chanyeol, yang sudah beberapa hari Baekhyun kenal rasanya bukan tipikal seperti itu. Nada bicaranya yang tinggi juga sangat tumben karena pria itu lebih sering berucap dengan tenang.

Pasti ada sesuatu...

.

e)(o

.

BREAKING NEWS! PARK CHANYEOL GANDENG SIMPANAN BARUNYA KE PUBLIK!

Awalnya, Baekhyun sempat bingung kenapa Chanyeol menghentikan mobilnya di pinggir sungai. Padahal sebelumnya, pria itu hanya berkata bahwa ini saatnya untuk Baekhyun agar segera berkemas. Tapi, Chanyeol justru berhenti secara mendadak dan memperlihatkan pada Baekhyun sebuah headline berita.

Berita tentang dirinya dan Chanyeol. Tentang mereka berdua.

"Apa yang terjadi? Kenapa kau mengubah jadwalnya tanpa memberitahuku?"

Pria di belakang kemudi itu masih diam dalam pemikirannya. Chanyeol, sedari tadi terus mengerutkan kedua alisnya tegang. Baekhyun tentu tidak bodoh untuk menyadari bahwa keadaan sedang tidak berjalan sesuai rencana.

Apalagi, artikel yang diperlihatkan Chanyeol lebih banyak mengandung kata-kata provokatif. Kalimat-kalimat yang cenderung menyudutkan mereka berdua dengan bumbu sarkasme.

'Park Chanyeol terlalu sibuk dengan dunia asmara yang gelap sampai melupakan apa statusnya.'

'Publik kembali dibuat bersimpati untuk istri pengusaha besar ini karena tindakan buruknya.'

'Park Chanyeol tidak bisa hidup tanpa 'orang cadangan''

Baekhyun membaca beberapa penggalan artikel itu dengan heran. Pasalnya, ini benar-benar bukan rencana mereka. Seharusnya media menulis artikel yang terkesan menyudutkan istri sah Chanyeol. Contohnya seperti; bagaimana Chanyeol sangat tidak bahagia dengan istrinya sampai harus memiliki simpanan baru.

Lumayan keren kan?

"Mereka mendahului kita." Suara berat Chanyeol akhirnya terdengar sudah.

Meskipun suasana di dalam mobil gelap, tapi Baekhyun jelas melihat cengkeraman tangan Chanyeol pada kemudi mengerat keras.

"Istriku mengirimkan foto-foto itu ke media sebelum kita melakukannya."

"Itu tidak masuk akal. Maksutku, bukankah-"

"Langkah awal adalah mengumumkan hubungan kita ke publik, Baekhyun. Ingat? Aku membayar seseorang yang akan mengambil foto dan menulis hal-hal baik tentang hubungan kita. Itu seharusnya menjadi awal yang bagus tapi istriku sudah merusaknya."

Sekarang semuanya jadi terdengar lebih masuk akal. Singkatnya, mereka telah diserang terlebih dahulu oleh istri sah Chanyeol. Berimbas pada rusaknya semua rencana yang sudah susah payah Chanyeol susun.

Tiba-tiba saja, Baekhyun tertular panik.

"Baekhyun-" Chanyeol menyambar kedua bahu simpanannya.

Menatap mata sabit itu dengan tajam, tanpa ampun meminta seluruh perhatian.

"-aku harus mengatakan ini. Kau mungkin akan sedikit merasa takut tapi itulah tugasmu yang sebenarnya."

Chanyeol sadar bahwa seharusnya mereka tetap mengambil foto saat berada di basement tempo hari. Tidak peduli setakut apa, serikuh apapun Baekhyun saat itu, seharusnya mereka tetap menghasilkan setidaknya satu atau dua gambar.

Tapi bodohnya, Chanyeol justru berbelas kasihan dan malah mengajak simpanannya itu makan siang. Itu tentu sebuah kesalahan. Seharusnya mereka tetap berada dalam aturan main.

Entah setan apa yang membuat Chanyeol keluar dari lingkarannya...

"Kita harus segera merilis foto kita sendiri, Baek."

.

e)(o

.

Tadi malam seperti perputaran balik kehidupan Baekhyun.

Chanyeol memutuskan untuk tidak lagi membuang-buang waktu dan itu berarti pekerjaan Baekhyun yang sebenarnya baru akan dimulai. Berkemas juga masih menjadi agenda utama, jadi semalam Chanyeol mengantarkannya pulang ke flat dan meninggalkannya di sana.

Baekhyun meminta pemiliknya itu untuk menjemputnya di pagi hari tepat pukul delapan.

Itu berarti seharusnya sepuluh menit lagi Chanyeol sampai. Tapi sayang, Sehun-lah ada di pintu depan. Berdiri dengan bahu yang terlihat lelah. Sorot matanya yang biasanya tajam juga hilang entah kemana.

Sehun pasti sudah membaca artikelnya. Tidak mungkin belum karena bahkan semua media sosial menjadikannya topik panas sebagai bahan siaran.

Adiknya berjalan masuk lalu menutup pintu. Dahinya mengerut tajam saat melihat tas besar yang Baekhyun jinjing.

"Nanti malam ibu dioperasi, hyeong. Kau mau kemana?"

Mencoba bersikap masa bodoh, Baekhyun berusaha untuk tidak mengatakan apapun. Berlaku seolah Sehun tidak ada dan terus membatin bahwa ini juga demi keluarganya.

Tapi tau apa Sehun? Laki-laki yang lebih muda tiga tahun dari Baekhyun itu hanya bisa berdoa semoga artikel yang dia baca tidaklah benar. Tidak mungkin kalau kakaknya ini sampai rela menjadi simpanan demi mendapatkan uang.

"Aku sudah mendapatkan pekerjaan. Upahku memang tidak terlalu banyak tapi itu cukup untuk membantumu, hyeong. Aku, aku tidak apa-apa kalau harus menunda kuliahku satu atau dua tahun untuk bekerja..."

Sehun berjalan pelan mendekati kakaknya. Pelan-pelan meraih kedua bahu Baekhyun yang tidak pernah dia tahu seberapa lelahnya. Seberapa banyak beban yang Baekhyun pikul di sana, baru kali ini Sehun menggenggamnya.

Pemuda tinggi itu menarik tubuh sang kakak untuk dipeluk dengan erat. Sangat erat sampai akhirnya, dia sendiri yang menangis sebab enggan melepaskan.

"Kalau ibu sudah sembuh, biar aku saja yang menebus obatnya..."

Baekhyun masih diam. Memancing ketakutan Sehun yang tidak mau ditinggalkan menjadi semakin besar.

"Tidak apa-apa kalau harus menjual laptopku karena aku akan cuti dari kuliahku. Kita bisa menjualnya untuk membayar sekolah Baekhee..."

Kakaknya masih diam. Masih menjinjing kuat tas yang Sehun yakini berisi seluruh pakaiannya karena dia harus pergi. Rasa takutnya semakin besar...

"Hyeong, jangan tinggalkan kami..." Sehun memang tidak menangis sampai meraung-raung, tapi rasa takut di dalam dirinya terasa seperti ingin meledak.

Pakaian yang Baekhyun kenakan sampai ia genggam dan pasti tidak akan pernah dia lepaskan. Mau bagaimanapun susahnya, mereka harus jalani bersama. Harus ditanggung sama rata.

Kakaknya ini, tidak boleh mengorbakan dirinya sendiri.

"Kalau kau mau berhenti, aku akan membantumu. Aku akan mengatakan kepada pengusaha yang menyewa-mu itu untuk melepaskanmu, hyeong. Kau mau berhenti'kan?"

Kalimat pembujuknya sudah habis. Sehun semakin takut karena Baekhyun tak kunjung mengatakan apa-apa. Padahal kakaknya ini sangatlah cerewet. Tabiatnya yang kental adalah bagaimana mulutnya itu tidak bisa berhenti bicara.

Tapi kenapa sedari tadi Baekhyun diam saja?

"Kau mau berhenti'kan, hyeong? Kau akan berhenti demi kami kan?"

Baekhyun tiba-tiba menyentakkan tubuh adiknya. Dengan berani memamerkan raut wajahnya yang sama sekali tak memperlihatkan kesedihan sedikitpun. Sangat kontras dengan wajah Sehun yang sudah hancur oleh ketakutan. Ditambah linangan airmata.

"Biaya perawatan ibu setelah operasi tidak akan bisa kau penuhi sekalipun kau bekerja sampai sepuluh tahun! Obat yang kau bilang mampu kau tebus itu juga tidak akan bisa kau dapatkan sebelum kau mendapatkan pinjaman!"

Di dalam dirinya. Jauh di dalam diri Sehun, seperti ada yang perlahan retak.

"Hyeong..."

"Biaya kuliahmu juga sudah terlambat beberapa bulan dan aku tidak ingin kau putus kuliah!"

"Aku akan membayarnya sendiri kalau aku sudah mendapatkan pekerjaan yang layak. Aku-"

"MEMANGNYA PEKERJAAN LAYAK APA YANG BISA DIDAPATKAN OLEH PEMUDA LULUSAN SEKOLAH MENENGAH ATAS SEPERTIMU!" Bentak Baekhyun sampai bahunya naik turun.

Keduanya terdiam dalam ruang kosong. Seperti baru saja ditampar, tapi Sehun tidak tahu harus menunjuk bagian tubuhnya yang mana yang terasa sakit. Lukanya terasa merata, mendera dari pangkal rambut sampai ke ujung kaki. Baekhyun memang tidak memukulnya, menendang atau benar-benar menampar.

Yang Hyeong nya itu lakukan hanyalah mengatakan realita.

"Tidak apa-apa kalau kau tidak mengerti, Sehun ie. Kau hanya belum cukup dewasa untuk mengetahui betapa beratnya-"

"Sejak aku meninggalkan ibu kandungku untuk hidup bersama kalian, tidakkah aku sudah cukup dewasa?"

Baekhyun seperti menelan lidahnya sendiri. Tidak tahu harus berkata apa karena sudah membuat Sehun membahas masalah sensitif itu.

Beruntung saja, ponselnya berbunyi. Layarnya menyala dengan menampilkan pesan singkat Chanyeol di tab pemberitahuan.

'Aku sudah di depan.'

Inilah waktunya. Baekhyun berjalan cepat melewati Sehun tanpa peduli seruntuh apa adiknya itu. Meninggalkan Sehun yang masih mencoba memahami kejadian buruk macam apa lagi yang akan melanda keluarga kecilnya ini.

"Hyeong..."

Suaranya serak. Tidak terlalu keras, tapi mampu membuat langkah Baekhyun berhenti di ambang pintu.

Keduanya sama-sama berbalik, demi saling menatap. Sehun berucap,

"Kami tidak akan mencarimu kalau kau pergi."

Sehun terus mengulangi kalimat 'jangan pergi'di dalam hatinya. Terus menerus. Berharap Tuhan mau mendengarkan lalu mengubah isi kepala Baekhyun agar kakaknya tinggal. Tapi Baekhyun tetap pergi...

.

e)(o

.

Chanyeol terpaksa meninggalkan Baekhyun di apartmentnya sendirian.

Setelah memberitahu bahwa unit itu adalah tempat tinggal Baekhyun yang baru, Chanyeol langsung pergi tanpa basa-basi. Pria itu terus disibukan oleh rasa benci semenjak semalam. Mungkin sesekali dia harus 'pulang' ke rumah agar bisa bertemu dengan istrinya.

Mengobrol sebentar dengan Irene juga tidak akan membuatnya masuk penjara. Setidaknya, pantang bagi laki-laki sejati untuk menyakiti perempuan secara fisik.

"Aku senang kau pulang." Irene menyambutnya dengan hangat, berjalan pelan menuruni tangga.

Istrinya memang begitu. Terkenal sangat cantik, baik luar maupun dalamnya. Pembawaan Irene dalam bersikap juga selalu tenang dan hati-hati. Sangat tenang sampai Chanyeol dibuat menelan kekalahan hingga dua kali.

Setidaknya, seperti itulah bagaimana dunia mengenal Irene.

"Sudah sarapan?" Tangan itu dengan lembut merapikan kemeja Chanyeol yang terlihat kusut.

Menepuk-nepuk permukannya pelan hendak merapikan, tapi itu tidak berlangsung lama. Hanya sampai saat Irene melihat bagaimana mata suaminya itu bersinar kemerahan.

"Singkirkan tanganmu..." Raut wajah dingin Chanyeol yang lebih sering Irene dapatkan.

Tapi Irene masih tetap tenang. Justru memberikan senyuman terbaiknya sambil mencoba memijat lengan tegang Chanyeol yang ternyata agak gemetaran.

"Aku menunggumu sampai malam tapi kau tidak mengangkat teleponku."

"Hentikan..."

"Lain kali kabari aku kalau kau akan pulang terlambat, Chanyeol. Jadi aku tidak perlu-"

"Berhenti bersikap seperti pengemis!"

Kedua tangan Irene jatuh ke samping tubuhnya sendiri. Baru saja, dia mendapatkan bentakan Chanyeol yang sudah lama tidak dia dengar. Wanita itu sampai meringis pelan karena faktanya, dia merindukan suara Chanyeol meskipun itu terdengar kasar.

Sudah berapa lama suaminya itu tidak pulang ke rumah mereka? Sudah berapa lama Chanyeol dan dirinya tidak saling berbicara meskipun itu adalah pertengkaran?

Rasanya sudah lama sekali...

"Jika kau berharap aku akan bersikap seperti seorang suami, maka berhentilah."

"Jika kau berharap aku akan menceraikanmu, maka berhentilah."

Chanyeol pikir akan sangat mudah baginya untuk membuat Irene menyerah. Pasalnya, Chanyeol tahu bahwa wanita ini menyukainya. Irene bahkan mencintainya sejak pandangan pertama dan rasa itu begitu kuat.

Rencananya, Chanyeol hanya tinggal membuat wanita itu sekarat oleh rasa cemburu. Pria itu berpikir bahwa berselingkuh secara terang-terangan adalah cara yang tepat. Tidak masalah karena yang merasa sakit di sini hanyalah Irene saja.

Biarkan yang mencintai menjadi pihak yang kalah.

"Kau pikir siapa yang meminta ayahku untuk membantu perusahaanmu yang hampir bangkrut itu? Kau pikir akulah yang mengemis agar ayahku menyelamatkan kalian?"

Tapi maaf, nyatanya wanita itu tidaklah selemah seperti apa yang Chanyeol kira.

"Jika kau lupa, aku akan mengingatkannya untukmu."

Irene maju selangkah. Terpaksa mendongak karena Chanyeol menjulang begitu tinggi.

"Ayahmu sendiri yang memintanya..."

Meskipun pahit, tapi Chanyeol akui Irene memang benar. Dia tahu bahwa ayahnya sendiri yang meminta keluarga Bae untuk membantu mereka. Chanyeol mengakui kebenaran itu, jadilah dia hanya bisa terdiam.

Kepalannya tangannya mengerat. Mata kelinci Chanyeol yang biasanya terlihat tajam itu dengan memalukan sudah digenangi air mata.

Irene melihatnya. Dan dengan penuh kesadaran lebih memilih untuk meninggalkan suaminya untuk kembali ke lantai atas. Menaiki satu persatu anak tangga dengan tenang sampai tiba-tiba, Irene teringat sesuatu.

"Dan tentang artikel skandalmu itu-"

Mereka memang bertatapan dalam jarak yang jauh, namun keduanya jelas bisa melihat wajah tersakiti satu sama lain.

"-bukan aku yang melakukannya."

.

e)(o

.

Hari sudah menjelang sore, tapi Chanyeol tidak kunjung kembali.

Baekhyun juga sudah membereskan apartment dan merapikan bajunya di lemari. Chanyeol bilang dia tidak akan lama jadi dia meminta Baekhyun untuk memasak makan siang. Tapi, ini sudah jam enam sore dan dia belum kembali.

Tiba-tiba, Baekhyun ingat bahwa malam ini ibunya akan dioperasi...

Pintu depan terdengar seperti terbuka. Saat Baekhyun berjalan kesana, dia mendapati seorang laki-laki sedang membopong tubuh besar Chanyeol.

"Astaga, apa yang terjadi?"

Laki-laki itu menjatuhkan tubuh Chanyeol ke atas sofa. Sedikit memberi umpatan sebal karena betapa menyusahkannya Chanyeol saat ini.

"Dia mabuk berat. Tolong urus si bodoh ini, ya? Dan jangan biarkan dia memegang ponselnya."

Setelah memberikan ponsel milik Chanyeol, lelaki itu segera pergi dan tak lupa, membungkuk sekali kepada Baekhyun. Mungkin dia teman Chanyeol. Siapa yang tahu? Yang penting sekarang adalah, mengurus bayi besar yang masih setengah sadar ini.

"Apa-apaan ini..." Baekhyun merutuk.

Pelan-pelan ia melepaskan jaket kekecilan yang Chanyeol pakai. Yang entah milik siapa. Juga membantu pemiliknya melepas sepatu dan jam tangan agar Chanyeol bisa tidur lebih nyenyak. Tapi tiba-tiba mata kelinci itu terbuka dengan lebar.

Chanyeol langsung bangkit sampai mendapat serangan pusing di kepala. Baekhyun hendak membantu pria mabuk itu agar tidak jatuh tapi Chanyeol malah menarik pergelangan tangannya.

Mereka bertatapan dalam. Begitu dekat sampai bisa Baekhyun mencium bau alcohol yang kuat dari nafas Chanyeol. Cukup untuk membuatnya sedikit pusing.

"Apa aku sudah pernah mengatakannya?" Baekhyun tahu bahwa Chanyeol mabuk, jadi dia bisa meracau tentang segala hal.

Bahkan hal yang mungkin tidak masuk akal dan aneh.

"A-Apa? Mengatakan apa maksutmu?"

Bukannya menjawab, Chanyeol justru tersenyum miring. Yang dengan anehnya bisa menambah kadar ketampanan lelaki itu secara instan. Baekhyun bahkan sempat dibuat membeku oleh lekukan indah pada mata Chanyeol yang dihiasi bulu mata tebal.

"Kau-itu-sangat-seksi."

Chanyeol menyambar bibir tipis itu tanpa minta ijin. Memberi sedikit kecupan dan gigitan pada permukaan itu dengan cara yang lembut. Rasanya manis sekali. Seperti menyesap lelehan karamel yang hanya bisa di dapatkan di bibir tipis Baekhyun.

Jadi, seperti inilah rasanya mencium Baekhyun. Chanyeol pikir dia tidak akan bisa berhenti. Tidak akan ada habisnya.

"Baekhyun ah..."

Baekhyun dibuat terpejam hanya dengan mendengar desisan Chanyeol di depan bibirnya. Apa yang baru saja terjadi sangatlah menakjubkan. Pantas kalau banyak orang bilang bercumbu itu sangat menyenangkan.

Tubuh Baekhyun seperti tertarik, ingin merasakan apa pun itu asal Chanyeol yang melakukannya. Dia menginginkannya lagi. Bahkan menginginkan yang lebih...

"Yang ini juga seksi..." untuk satu detik pertama, rasanya lumayan perih saat Chanyeol menggigit kulit di lehernya.

Tapi pandai sekali Chanyeol menggantikannya dengan usapan dan kecupan ringan. Baekhyun sampai dibuat mendongak karena sensasinya berganti dengan cepat. Chanyeol terlalu hebat dalam hal ini.

Dalam hal bercumbu.

"Yang ini juga..." sensasi itu kembali lagi. Menyengat daun telinga Baekhyun yang sedang dhujani ribuan ciuman.

Chanyeol bahkan melakukannya lagi di belakang telinga. Menggigit, menjilat lalu menciumnya dan berakhir dengan ruam kemerahan.

Baekhyun merasakan setiap detilnya. Bagaimana kedua tangan Chanyeol mulai merambati perut dibalik kaos. Bergerak naik dengan telapak tangannya yang terus membelai kulit dada Baekhyun. Rasanya luar biasa menyengat. Memancing hasrat Baekhyun yang belum pernah bisa orang lain lakukan.

"Semuanya seksi. Kau itu seksi, Baekhyun ah..."

Suara Chanyeol hanya menambah panas suasana. Tubuh Baekhyun entah bagaimana sudah membentur meja pantry. Tiba-tiba, Chanyeol melepaskan kaos yang melekat di tubuh Baekhyun.

Membuangnya ke sembarang tempat karena pakaian bukanlah properti yang tepat untuk saat ini.

"Kenapa aku baru melihatnya sekarang?"

Baekhyun tidak sempat untuk menyembunyikan rasa malunya karena Chanyeol sudah kembali menjatuhi dada dan lehernya dengan ciuman. Kedua lutut pria mungil itu juga terasa lemas karena cumbuan Chanyeol luar biasa nikmat.

Kecupan-kecupannya turun ke bawah rusuk. Menyapu permukaan itu sampai membuat otot diseluruh perutnya menegang.

Tapi yang lebih mengejutkan adalah, Chanyeol menggigit kerutan pada celananya. Menarik kain itu turun dan dengan sengaja, menggesekkan hidung mancungnya ke setiap inchi kulit Baekhyun. Menghirup aroma sensual yang menguar dari paha dalam simpanannya sambil tersenyum nakal.

"Tapi yang ini lah yang paling seksi..."

.

.

To be continued


Bacod's:

Anuannya lanjut chapter depan yaa~ udah kepanjangan ini. Ntar kalian mabok ama tulisan saya jadi gumoh.

See you soon! Makasih ya untuk semua supportnya :)

Salam Despacito~