Chapter 3

Chapter 3

"Simply Brother and Sister"

"Huuu… Hiks.. Hiks…"

Aku menunduk, melihat ke arah sepatuku yang kecil. Air mata yang hangat mengalir dan jatuh melalui kedua pipiku. Beberapa anak berdiri agak jauh diriku, dan jumlah mereka cukup banyak. Semuanya lebih besar dariku maupun kakakku.

"Weee!! Hantu, hantu!!" kata salah seorang anak lelaki yang paling besar, dengan nada mengejek. "Kalian lihat tidak barusan? Dia tiba-tiba saja berubah menjadi hantu dan menakut-nakuti adikku!"

Seorang anak perempuan seusiaku, berdiri di belakang anak lelaki barisan, sambil menangis kecil. Sekilas aku bisa melihat dia menjulurkan lidahnya padaku.

"Kakak!" kata anak perempuan itu, dengan nada memelas yang sengaja dibuat-buat. "Cepat usir dia, aku takut…"

"Tenang saja, Tennyaku-sama ini akan segera membereskan makhluk halus ini!" katanya keras. Dia menoleh pada anak-anak perempuan dan laki-laki yang berdiri di belakangnya. "Bener, nggak, teman-teman?"

"Yaaa!!" Mereka semua berseru kegirangan. Aku bisa merasakan badanku menggigil ketakutan. Air mataku semakin deras, dan suara isakanku makin keras.

"Eh, dia nangis…" kata salah seorang anak perempuan.

"Biarin aja! Hantu memang pantas dibuat nangis!!" kata si anak Tennyaku itu. Lalu dia mengambil batu di sampingnya, dan mengangkatnya. Beberapa anak mengikutinya, dan mengangkat beberapa batu lain.

"Tembaak…!!"

Batu-batu serta kerikil itu melayang jauh ke arahku. Beberapa dari antaranya mengenai kepala dan tanganku, yang berusaha melindungi wajahku. Aku bisa merasakan tajam dan kerasnya benda-benda padat itu di kulitku. Aku berusaha menahan sakit sambil terus terisak.

"Berhenti!!"

Sebuah suara menghentikan serbuan batu itu. Seorang anak lelaki yang berusia lebih tua berdiri di depanku. Rambutnya berwarna ungu tua, dan sekarang dia sedang menggenggam salah satu batu yang tadinya akan mengenaiku.

"Kak Ichigo…" kataku di tengah isakku.

"A-ada kakaknya…!" pekik seorang anak lelaki yang paling depan. Dia mundur beberapa langkah, tapi kemudian didorong ke depan lagi oleh si Tennyaku.

"Jangan jadi pengecut! Ada kakaknya atau tidak, tidak akan berpengaruh apa-apa, kan? Lihat!"

Tennyaku melempar sebuah batu ke arah kakakku, dan itu mengenai bahu kanannya dengan telak. Kakakku masih diam tak bergeming.

"Be-benar juga! Ayo, semua!" seru anak tadi. Mereka lalu mengambil batu-batuan lagi dan mulai melemparkannya ke arah kakakku. Seruan anak-anak yang sekian banyaknya, serta hujan batu yang terus-menerus berlangsung, membuat bulu kudukku berdiri. Tapi aku baru menyadari satu hal. Kakakku… sama sekali tidak bergerak dari tempatnya. Tidak sesenti pun. Dia hanya berdiri dengan tegap, menerima semua hujaman batu di atas semua bagian tubuhnya.

"Kakak…!" Aku hendak berdiri, tapi dia mendorongku lagi hingga aku jatuh terduduk lagi, di belakangnya. Dan serbuan itu masih berlangsung.

"Hentikan… Hentikan, kalian semua…!!" Jeritku mengiba. Tapi mereka tidak peduli. Beberapa batu mengenai dahi kakakku dan membuatnya sobek dan mengeluarkan darah.

"Dasar monster!!" seru si Tennyaku sambil terus melempari. "Pergi saja dari sini!!"

"Iya, pergi sana! Jangan-jangan kamu mau mencelakai kami, ya?"

"Monster seperti keluarga kalian hanya membawa malapetaka saja!!" seru anak-anak itu bersahut-sahutan.

Ichigo menggeram. "Kalian…!!" dia menaikkan tangannya yang memegang batu. "Aku sudah bosan dengan ini!!"

Lalu dia melemparkannya ke perut si Tennyaku, membuat anak gendut dan besar itu terpental jatuh. Mereka semua berhenti, menetap Tennyaku dan kakakku secara bergantian. Si gendut Tennyaku bangun, lalu lari sambil menangis. Kepergiannya diikuti dengan kaburnya anak-anak yang lain. Mereka lari terbirit-birit sambil mengucapkan kalimat-kalimat ancaman.

"Pulang sana!! Pikirkan dengan otak kecil kalian yang mengkerut itu tentang kejadian hari ini!!" Kakakku berteriak marah, agak terengah-engah. Aku bisa merasakan nada suaranya yang bergetar karena emosi.

"Dan jangan kembali lagi!!"

Aku memandangi punggungnya. Lalu kakakku membalikkan badannya, dan menatapku tajam.

"Dan kau! Kenapa kamu masih saja datang ke daerah sini? Kamu kan sudah tahu bagaimana sikap anak-anak itu!!" serunya berang.

Aku menunduk. "Ha…Habisnya… kata mereka, mereka mau baikan dan bermain sama-sama…"

"Dan kamu percaya begitu saja? Lihat apa perbuatan mereka padamu! Ini tidak bisa disebut 'baikan', kan?!" Darah di dahinya menetes melalui dagunya. Aku gemetar lagi, dan mulai terisak. Aku berusaha menghapus air mataku, tapi mereka seakan tidak mau berhenti. Aku menangis karena merasa telah membuat kakakku kecewa. Hal itu bahkan lebih buruk daripada serbuan batu tadi.

Kakakku memang sudah melarangku berkali-kali agar tidak bermain dengan anak-anak yang salah. Dan tempat ini memang cukup jauh dari rumahku, maupun dari perumahan lainnya, sehingga tidak akan ada yang tahu tentang hal ini.

Badanku mulai menghilang. Seluruh tubuhku hampir transparan sehingga orang lain dapat melihat menembus tubuhku. Inilah aku. Mungkin memang benar apa kata mereka. Aku memang bukan hantu, tapi aku dapat membuat tubuhku transparan. Kekuatan ini memang belum bisa kukendalikan dengan baik, sehingga aku seringkali menghilang tanpa sebab.

"Ayo naik," kata kakakku dari atas sepeda warna silver miliknya. Aku naik ke atas tempat duduk belakang dengan perlahan. Dan sepeda itu melaju. Kami berdua pulang, tanpa ada percakapan yang terjadi. Tidak ada seorangpun dari kami yang mengucapkan sesuatu, sepatah kata pun tidak.

"Kami pulang," kata kakakku ketika kami melepas sepatu kami dan masuk rumah.

Ibuku menengok dari dapur. "Selamat da…" Ia terlihat terkejut dan langsung berlari gedubrakan ke arah kami. Ayah kami yang sedang menonton TV, menoleh dengan terkejut ke arah kami dan langsung berdiri, membuat kursinya tergeret mundur dengan sendirinya.

"Ada apa dengan wajahmu, Ichigo?" Mikan Hyuuga, wanita berambut coklat muda pendek alias ibuku itu berlutut dan mengamati kakakku dengan khawatir. Dia memegang dahi kakakku yang berdarah, membuatnya menyipitkan matanya karena sakit.

"Aah… Kenapa kamu bisa sampai berdarah seperti ini…?" katanya lagi, matanya sedikit berkaca-kaca.

"Aku jatuh dari sepeda," kata kakakku singkat.

Ayahku menaikkan salah satu alisnya. "Sepeda?"

Kakakku, Ichigo, mengangguk. "Aku tadi nggak lihat kalau ada batu di depanku. Tenang aja, aku nggak berantem, kok."

Ayahku, Natsume Hyuuga, diam sejenak, menatap kakakku. Lalu dia berganti melihatku.

Aku gugup. "Um… I-iya, benar… Kakak jatuh dalam perjalanan ketika menjemputku tadi…" dustaku. Aku menatap ke arah lantai.

Ibuku menarik napas panjang, berusaha menenangkan dirinya. "Mmm… Tapi mama senang kalau Ichigo tidak apa-apa. Ayo, kita obati dulu lukamu."

Mereka berdua berjalan masuk ke ruang belakang, diikuti olehku dan ayahku di belakang. Aku duduk saja di sofa dengan ayahku yang (dengan serius) menonton serial komedi di TV.

Malam hari, aku merambat naik ke kasur di sebelah kasur kakakku. Kamar kami memang dijadikan satu oleh orangtua kami, karena aku masih takut tidur sendiri. Aku menoleh. Kakakku berbaring memunggungiku, berselimut. Sepertinya dia memang sedang tidak enak badan hari ini. Lagi-lagi salahku…

Aku menutup wajahku dengan selimut dan memejamkan mata.

"Oi, Melona," kata kakakku akhirnya, dengan serak. Aku menoleh.

"Kakak belum tidur?"

"…Belum."

Kami terdiam sejenak. "Lain kali," dia membalikkan badannya dan menatapku. "Kamu harus hati-hati. Kamu boleh menolak, itu hakmu. Mengerti?"

Aku tercengang. Kakakku memejamkan matanya, dan berbalik lagi. "Ayo tidur! Anak kecil nggak boleh bergadang, tidur sana."

Aku diam. Dia tidak pernah memintaku untuk minta maaf, ataupun mengungkit-ungkit kesalahan orang yang sudah lalu. Mungkin baginya, hanya ada 'sekarang', dan 'besok'. Aku menatap punggungnya lagi.

"Makasih, kak…"

"… Hmm," Jawabnya pendek. Lalu aku menutup mata, menyadari mimpi indah yang sudah kualami tanpa perlu pergi ke pulau kapuk… ('pulau kapuk'?? Kak Ichigo yang mengajari istilah itu…)

Aku bergerak meronta, berusaha melepaskan tanganku yang diikat dengan tali di pipa yang terletak di belakangku. Mulutku dibekap dengan kain, dan kakiku juga diikat dengan tali. Aku menahan rasa sakit ketika kurasakan kulitku sedikit sobek karena kuatnya ikatan tali itu. Aku berhenti untuk beristirahat. Aku tidak ingat kejadian setelah aku dan Mizuki dihadang oleh orang-orang asing ini. Ketika sadar, aku sedang dibawa oleh beberapa orang pria misterius, ke dalam ruangan aneh ini. Waktu itu, aku terus berpura-pura seolah aku masih terpengaruh obat bius. Sayangnya… ketika dibawa itu, dan juga karena jalannya panjang, aku ketiduran lagi… (payah, ya…)

'Di saat seperti ini, pikirkan teknik-teknik yang sudah diajarkan mama…!' Aku berkonsentrasi dan mencoba mengulang kembali semua yang diajarkan oleh orang tuaku. Dan ingatan itu muncul. Sayup-sayup aku bisa mendengar suara ibuku. '… Mecchan… Mecchan…'

'Nah, kalau dirasa airnya sudah mendidih, baru masukkan udonnya. Ingat, memasukkan udon harus langsung semua, jangan 1 batang secara bergantian, ya! Dicelupkan ujung-ujungnya saja juga tidak boleh! Kalau cuma kamu celupkan, nanti tidak enak waktu dimakan. Tapi, jangan hanya karena ukurannya panjang, lalu kamu boleh mengguntingnya, lho, ya! Ingat, gunting itu kotor. Kalau kuman di gunting itu masuk ke dalam perutmu, mama tidak bisa tanggung akibatnya. Lalu, kamu bisa tutup pancinya. Lalu siapkan piring dan mangkuk…'

Aku menggelengkan kepalaku dengan keras, agak putus asa. Uuh… Gimana sih!! Itu kan pelajaran memasak udon ala mama…!

"Aduuh…!! Pak supir gimana, sih? Sebenarnya tahu tempatnya tidak? Bangunan besar, mirip seperti penjara… Tapi jauh lebih bagus dari penjara, sih… memang bukan penjara kok…" Mikan Hyuuga protes sambil melongokkan kepalanya ke arah supir taksi.

"Saya, sih, belum pernah tahu ada bangunan seperti itu di sekitar sini…" Jawab si supir tak bernama dengan kebingungan. "Apakah Anda yakin benar di sini alamatnya?"

"Justru karena itu…!" Mikan menundukkan kepalanya. "Aku tidak ingat jelas alamatnya… Tapi..! Aku yakin kalau letaknya di sekitar sini!"

Natsume Hyuuga mendesah jengkel. "Huh, pertengkaran yang hanya membuat ribut dan tidak ada gunanya… Cepatlah sedikit!"

"Apa, Natsume?!" Mikan memutar badannya cepat. "Padahal kamu sendiri tidak ingat, jangan sombong, ah!"

"Umh!" Natsume sedikit tersentak. Pipinya sedikit merona. "Be, berisik ah…" Dia menolehkan kepalanya ke jendela, sementara Mikan menjulurkan lidahnya dengan iseng ke arah Natsume, yang duduk diam di kursi kiri belakang. Natsume melihat beberapa orang yang berlari-lari melewati taksi itu, dan dia mengenali wajah-wajah itu.

"Ruka…" katanya terkejut dengan pelan dan tenang (kok bisa, ya).

"Hoh?" Mikan menoleh, dan melihat hal yang sama. "Waah! Hotaru, Ruka-pyon, dan Narumi-sensei!"

Dan, memang benar, ketiga orang itu berlari-lari ke arah yang berlawanan dengan taksi itu.

"Kebetulan! Aku bisa menanyakan letak akademi pada mereka!" Batin Mikan dengan riang.

"Apa yang membuat mereka begitu panik? Apakah terjadi sesuatu…?" pikir Natsume dengan serius. Dia menoleh pada supir taksi dan menatapnya lewat spion dengan tatapannya yang tajam. "Berhenti."

Sementara itu, di kelas Tobita Mizuki, suasana gaduh tidak karuan. Para murid lelaki sibuk bermain dan berlari-lari di kelas, sementara para perempuan sibuk bergosip. Mizuki duduk dengan khawatir, memikirkan (siapa lagi) kakaknya, dan Ichigo yang memang selalu nempel dengan kakaknya. Sebetulnya, kakaknyalah yang selalu menempel pada Ichigo, tapi… dibolak-balik sama saja, kan! (maksa, ya…)

Bukan hanya itu, salah satu temannya, Hyuuga Melona, baru saja diculik orang tidak dikenal beberapa waktu yang lalu. Belum lewat satu jam, batinnya. Apakah mereka baik-baik saja, yaa?

"Eh, nanti malam Renji akan tampil ya?" tanya seorang anak perempuan pada yang lain.

Anak perempuan di sebelahnya mengangguk. "Mm-hmm. Katanya ayahnya juga akan datang, lho. Kyaa! Mereka berdua keren sekali…!"

"Aah, benar juga ya!" Anak perempuan berambut ikal yang duduk di depan mereka menepuk tangannya ceria. "Ayahnya Renji kan terkenal ya! 'Reo', kan, namanya? Kalau tidak salah sih…"

"Hal itu tidak akan terjadi!" anak perempuan lain yang (tiba-tiba saja ada di situ) berdiri di belakang mereka menyilangkan tangannya di depan dada dengan angkuh. "Aku melihat mobil 'Reo-sama' kalian itu pergi keluar dari akademi. Tentu saja, 'Renji-sama'-mu itu juga ikut di dalamnya."

"Sudahlah, kalau memang nggak suka sama 'Reo-sama' dan 'Renji-sama' kami, paling nggak jangan bikin gossip yang tidak benar!" Si rambut ikal mencibir.

"Eh?!" Anak tadi terkejut. "Benar kok! Nggak percaya, ya sudah! Kalian membosankan!"

Dia berbalik jengkel dan melangkah pergi. Mizuki yang melihatnya mendesah saja. Daripada mendengar gosip tidak jelas seperti itu… Akan jauh lebih baik kalau ada seseorang yang bisa memberitahuku keadaan kakak dan lainnya…

To be Continued