"Hei, Konoha, kauyakin kau tidak mengingat apapun? Apapun?"
Untuk ke-78 kalinya, Konoha menggeleng pelan.
Nou menjambak rambut pirangnya dengan frustasi. Untuk pertama kalinya, ia dihadapkan dengan seseorang yang super pendiam dan pengidap amnesia, sehingga semua percakapan dan lelucon yang ia lontarkan menjadi segaring keripik kentang. Meskipun ia adalah partner kerja yang baik karena cepat tanggap dalam berbagai situasi, tapi hubungan mereka hanya sampai disitu saja. Tidak ada pembicaraan pribadi, dan Nou juga paling malas untuk memulai. Jadilah mereka berdua hanya menghabiskan malam dengan tidur bergantian, sisanya patroli. Tanpa protes, Konoha mendapat jatah tidur empat jam sampai dini hari, padahal Nou tahu kalau pemuda berambut putih itu doyan berlayar ke alam mimpi.
"Memang kenapa kalau aku tak bisa mengingat apapun?" tanya Konoha santai sambil mengunyah jatah makan malamnya, yang didapat setelah pertarungan tadi. Level mereka yang kini meningkat menjadi 28 membuat Konoha dan Nou lebih mudah mendapat Perfect Combo –Combo yang didapat mulai awal pertarungan sampai akhir tanpa putus sekalipun –sehingga Treasure Box yang didapat juga menumpuk. Tak perlu takut kekurangan konsumsi, bahkan jumlah Memory Nou juga semakin banyak –meskipun Konoha tak perlu menungguinya karena pemuda berambut pirang itu tidak pingsan seperti Mogi dulu.
"Memory itu penting sekali, Konoha~"
Ralat, mereka berdua tetap memiliki kesamaan. Menomorsatukan Memory.
"Tapi Memory tidak berguna dalam pertarungan –"
"Siapa bilang?" Senyum Nou melebar, lalu wajahnya berubah menjadi sosok gadis berjepit rambut merah. Tidak ada reaksi yang diharapkan.
"...Siapa?"
Nou menghela napas, lalu kembali ke wujud serupa. "Haah, ternyata memang benar kau tidak ingat apa-apa. Padahal gadis itu sangat... penting. Ya, sangat penting."
"Penting bagaimana?"
"Ceritanya panjang, dan aku tidak yakin kalau Memory yang kukumpulkan ini sudah lengkap, tapi... akan kuberitahu sebisaku. Mau dengar?"
"Boleh."
.
.
.
E;SCAPE
Kagerou Project © Jin (Shizen no Teki-P)
(various pair, adventure/scifi/fantasy/angst/friendship/romance, T, AU)
(Warning: alias name used, but I make it pretty clear so you should be able to guess the characters)
-This fanfic is for nothing but fun. I do not gain any profit for making it. Read it, or just leave it-
.
.
.
Memory yang ia miliki dimulai dari saat ia diadopsi bersama dua anak lain.
Ia tak tahu bagaimana masa kecilnya, bagaiman keluarga aslinya, dimana tempat tinggal sebelumnya... yang jelas, ingatan itu hadir dengan sosoknya yang berdiri di depan rumah merah bata.
Ayano tersenyum, didampingi kedua orangtua di sampingnya.
"Ayano, mulai sekarang kau akan memiliki tiga adik baru. Jaga mereka baik-baik, ya."
Nou menoleh ke kanan dan ke kiri. Seorang anak laki-laki menunduk sedih, warna matanya merah. Sama dengan anak perempuan yang ada di sebelahnya, meskipun raut wajahnya berusaha menampakkan ekspresi secuek mungkin.
Detik itu pula, ia sadar dengan arti kata 'keluarga'.
-E;SCAPE-
Nou sangat mengidolakan kakak barunya.
Ia cantik, baik hati, semangat, ceria, suka menolong, penyayang, masakannya enak, baunya wangi... dan beruntungnya, ialah satu-satunya yang paling dekat dengan Ayano. Jarak umur yang tidak terlampau jauh membuat Nou bebas menceritakan apa saja, berdiskusi apa saja, bahkan sesekali bermain konyol padahal usia mereka tak lagi muda. Bahkan Kido saja yang jenis kelaminnya sama tidak begitu suka bergabung, dan hanya menenggelamkan diri dengan gaya hidup remaja normal meski sebenarnya tak bisa. Ayano yang, meski nilai sekolahnya parah dan berkali-kali diceramahi ayahnya yang notabene guru, tetap bisa tersenyum bahkan menghibur Nou yang baru saja diganggu oleh teman sekolahnya.
"Neechan pasti bahagia tidak punya kekuatan sepertiku..." keluh Nou suatu hari. Ayano tertawa dan mengacak-acak rambut pirangnya.
"Jangan bercanda, Nou. Justru aku iri denganmu, dengan adik-adikku yang cantik-cantik dan tampan-tampan ini. Bukankah sudah kubilang kalau kekuatanmu bisa lebih berguna kalau digunakan untuk menolong orang-orang yang membutuhkan?"
"Tapi... kenyataannya aku lebih sering diejek karena aku 'berbeda' dengan yang lain..."
"Menjadi berbeda itu bagus. Apa yang salah dengan berbeda? Coba kaubayangkan kalau pelangi di atas sana hanya berwarna merah atau hijau saja, apa menariknya? Pelangi terlihat indah karena perbedaan warna..." terang Ayano lembut. Nou terdiam.
"Masalahnya, Neechan, aku tidak bisa menerima kekuatan ini kalau aku saja tidak tahu siapa [aku] sebenarnya..."
Hening.
Nou, umur dua belas tahun, pemilik 'Deceiving Eyes', sedang terombang-ambing dalam masa pencarian jati diri yang parah. Tidak hanya secara makna, namun juga harfiah. Sosoknya yang mampu berubah menjadi siapa saja –mulai dari keluarga dan teman terdekat hingga pegawai kantor yang duduk di sebelahnya saat naik kereta tadi pagi –membuat Nou seringkali lupa kembali ke wujud aslinya, dan seringkali menimbulkan salah paham bagi orang-orang yang baru kenal. Ayano sudah biasa menyambut Nou dalam wujud nenek bertongkat, om-om gendut, tante-tante kelebihan make-up... dan tugasnyalah yang mengembalikan adik kesayangannya itu ke bentuk semula. Lelaki itu bahkan semakin takut bercermin, takut melihat sosok yang ia jiplak saat ini mengorupsi imajinya tentang tubuh asli, takut kalau ia tak bisa kembali lagi.
Ia tak punya ciri khas lagi.
"Nou..."
Air mata itu mengalir dalam diam.
Nou jarang menangis, dan ia hanya mau menampakkan kelemahannya di depan orang yang disuka. Ayano memeluk tubuh ringkih itu erat.
"Aku akan terus memelukmu seperti ini, meskipun wujudmu bukan Nou yang asli... meskipun kau berubah menjadi bapak-bapak, anak kecil, manula... di mataku, kau tetap Nou... kau tetap adikku yang suka menjahili Seto dan Kido... kau tetap adikku yang paling kusayangi..."
Detik itu pula, Nou yakin, kalau ia memiliki seseorang yang memahami dan menerima seluruh kelemahannya.
-E;SCAPE-
Pelan, tapi pasti, hubungan diantara keempat bersaudara Tateyama mulai berubah. Ayano tetap menjadi pendiri Mekakushi Dan, tapi mereka takkan bermain 'pahlawan versus penjahat' sambil berlarian mengelilingi rumah. Gadis bersyal merah itu lebih sering berkumpul dengan teman sebayanya, dan memang sewajarnya demikian. Nou bersekolah di tempat yang sama dengan Kido dan Seto, hanya beda kelas. Melihat Kido yang kelihatannya tidak peduli namun diam-diam sering menangis karena tidak diperhatikan, Nou berusaha menghiburnya, melakukan apa yang Ayano lakukan padanya meskipun tak persis sama.
"Nou... bagaimana jika suatu hari aku benar-benar menghilang dan kau tidak bisa melihatku lagi?" tanya Kido suatu hari.
"Omong kosong. Meskipun kau menghilang dan bersembunyi di dalam gudang sekalipun, wangimu masih bisa tercium, tahu."
Tangisan itu batal berkelanjutan karena sebuah pukulan mendarat di kepala Nou. Lelaki pirang itu meringis, yang penting misinya berhasil. Sayang, ia tidak bisa menghibur Seto dengan cara yang sama, bahkan sebaliknya, lelaki itu justru di-bully seperti yang dilakukan teman-teman sekolahnya. Tentu saja, Nou tidak serius, dan justru ingin mengajarkan Seto agar ia menjadi lelaki yang kuat dan tahan ejekan. Hasilnya, Seto kini menjadi lebih mandiri daripada dirinya, bahkan ia mulai bekerja paruh waktu meski kondisi ekonomi mereka tak kekurangan. Kesamaan sikap pemimpin itulah yang, mungkin, membuat Ayano percaya sepenuhnya pada Nou dan membeberkan semua rahasia dan akitivitasnya belakangan ini.
"Nou, aku butuh bantuanmu."
Entah ia harus senang karena diminta tolong secara pribadi oleh idolanya sendiri atau mengeluh karena resikonya tinggi dan beban tanggung jawabnya besar, pada akhirnya Nou tetap melakukan apa yang Ayano minta. Meskipun ia jago berganti rupa, namun berganti personaliti adalah hal yang sama sekali berbeda. Sudah lima tahun ia tinggal seatap dengan kakaknya, namun rupanya ia masih belum mengenal banyak tentang Ayano, bagaimana kehidupannya di sekolah, siapa teman-temannya, dan lain sebagainya. Haruka masih bisa ia tangani, Takane... meskipun sedikit merepotkan tapi bisa menjadi sumber informasi yang baik. Hanya satu yang menjadi penghalangnya selama ia menjalani hari di sekolah menengah, sementara Ayano yang asli berkutat dengan kunci deposit pemimpin keluarga Tateyama.
Shintaro Kisaragi.
Demi rok berenda Kido yang ia temukan di bagian dasar lemari, ia sangat benci dengan pemuda sombong dan sok pintar itu. Berkali-kali Ayano yang asli berbaik hati padanya, menaruh perhatian lebih, mengajak kesana kemari dan bersosialisasi dengan orang lain, namun hasilnya nihil. Shintaro tetap tak peduli dengan gadis bersyal merah itu dan semua kegiatannya dengan Takane dan Haruka hanya karena terpaksa. Kalau saja Nou sedang berada dalam wujud asli, mungkin ia akan menonjok wajah sombong itu berkali-kali agar matanya terbuka. Sayangnya ia masih harus memainkan peran sebagai Ayano Tateyama yang ceria, bodoh, namun memendam rasa terhadap Shintaro. Untungnya semua kerja keras itu terbayar ketika Nou dan Ayano berhasil membongkar rencana jahat ayahnya dan menemukan tubuh Takane dan Haruka di basement sekolah. Gadis bersyal merah itu akhirnya bunuh diri, Shintaro frustasi (dan Nou harus tertawa keras-keras pada adegan ini), kelanjutan nasib Takane dan Haruka juga masih belum diketahui.
Memory-nya selesai sampai disitu.
"Lalu... apa hubungannya dengan pertarungan? Maksudku... Memory-mu," ralat Konoha sambil mencar-cari sesuatu yang penting. Nou meringis.
"Kau masih ingat saat aku berubah jadi lelaki berambut hitam di depan Mogi saat pertama kali kita bertemu?"
"Ya?"
"Itu yang namanya Shintaro. Kakaknya Mogi," terang Nou sambil membusungkan dada. "Shintaro dulu pernah cerita kalau ia punya adik yang berprofesi sebagai idol, namanya Mogi. Meskipun aku belum pernah bertemu dengannya di luar game ini, tapi begitu aku lihat ciri-cirinya dan mencoba berubah wujud di depannya, ternyata perkiraanku benar. Terbukti, kan, kalau pertahannya mengendur?"
"Ooh... jadi Deceiving Eyes yang kaupunya itu..." Konoha mengecek sekali lagi profil Nou melalui layar virtualnya. "Bisa mengubah penampilanmu menjadi siapa saja?"
"Yup. Asal aku bisa mengingat dengan jelas ciri-ciri fisik orang yang akan kujiplak. Awalnya kekuatan mataku nyaris tak berguna saat aku tersadar di dalam game sialan ini, karena aku belum bertemu siapa-siapa dan tidak ada Memory yang bisa kuandalkan... tapi berkat pertarungan-pertarungan yang kualami, aku bisa mengumpulkan Memory-ku sedikit demi sedikit, dan aku bahkan bisa langsung mempraktekannya di depan Mogi waktu itu. Hehehe~"
"Tapi... bagaimana bisa kau memperoleh poin sebanyak itu jika Deceiving Eyes yang kaupunya baru digunakan pertama kali di depan Mogi?"
"Ehm... sebenarnya tidak pertama kali juga... maksudku... aku melihat di spion mobil dan melihat wajahku berubah menjadi orang lain," ujar Kano sambil nyengir meskipun keringat menyusuri pelipis. Konoha masih menyimak. "Dulu... aku diajari Takane bermain shooting game, dia juara dua nasional soalnya. Ahahaha."
"Takane?"
"Iya, Takane, temannya Ayano-neechan. Ia sekelas dengan Haruka, dan mereka berdua setahun lebih tua dari Neechan. Murid kelas kebutuhan khusus... tunggu." Nou kini memperhatikan Konoha dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Aku sudah curiga sejak awal kalau kau mirip dengan Haruka, apalagi nama dan penampilanmu persis sekali dengan avatar game yang dibuatnya. Karena itu aku mencoba berubah jadi Ayano-neechan lagi untuk memastikan. Kau yakin tidak ingat Haruka, Takane, atau kehidupanmu sebelumnya?"
Konoha menggeleng.
"Aku hanya merasa familiar dengan game ini... itu saja."
"Tuh, kan, sudah kuduga kalau kau itu Haruka!" seru Nou sambil bertepuk tangan. "Tenang saja, Haruka, kau pasti akan mengingat semuanya, pelan-pelan saja, yang penting –"
DHUAAAARRRRRRRR!
"Hm? Serangan lagi?" gumam Nou santai sambil menghitung ulang jumlah amunisinya. "Ayo, Konoha, eh, maksudku, Haruka, kita sambut siapa tamu kali ini~"
"Uhm... sebenarnya aku lebih suka dipanggil Konoha, dan... apa kau pernah bertemu pemain selain aku dan Mogi?" tanya Konoha, memastikan pisau kesayangannya sudah berada di saku setelah mengikuti Nou ke atap gedung.
"Tidak juga, hanya aku sering mendengar suara ledakan dan tembakan dari kejauhan saat aku sedang patroli keliling wilayah kekuasaanku, dan karena senjatamu bukan pistol atau semacamnya, jadi aku menduga pemain lain yang menggunakannya," terang Nou, telunjuknya mengarah ke atas langit yang terlihat seperti kembang api dengan latar belakang merah. "Di sini, kita bisa lihat siapa melawan siapa, tanpa perlu mendatangi mereka –ups."
Seekor monster berwujud capung melintas tepat di atas kepala mereka. Baru saja Konoha memasang kuda-kuda dan bersiap menyerang, sebuah ledakan membuat monster itu jatuh perlahan dan menimbulkan bunyi berdebam setelah bersentuhan dengan tanah.
"Tenang dulu, Konoha. Pemain ini menggunakan senjata jarak jauh, bahaya kalau kita langsung mendatanginya sekarang. Biasanya mereka tak pernah mengincar musuh di areaku, tapi... ah, sudahlah. Ayo, Konoha, saatnya keluar dari zona aman." Nou kembali turun dari gudang persembunyiannya sambil bersenandung kecil, diikuti oleh Konoha yang masih bingung.
"Kau... bukankah tadi kaubilang tak pernah bertemu pemain lain sebelumnya?"
"Memang. Aku hanya tahu mereka sedang bersenang-senang di pertempuran mereka sendiri –dan aku tidak peduli, selama mereka tidak melakukannya di daerah kekuasaanku. Dan ngomong-ngomong, aku sudah menyiapkan kejutan untuk mereka~"
"Hah?"
Mereka berdua kini telah berada di atap gedung yang lain setelah melangkahi rongsokan tak penting dan menaiki tangga dengan susah payah. Berbeda dengan gedung pertama yang atapnya kosong dan hanya dibatasi oleh pagar kawat, atap gedung kedua lebih luas tanpa ada penghalang dan dilengkapi dengan berbagai senjata. Nou berjalan ke arah teropong yang berdiri di bibir atap, lalu menoleh ke arah Konoha.
"Oh, maaf aku lupa memberitahumu. Gedung bekas apartemen ini juga termasuk daerah kekuasaanku, termasuk gedung bekas pabrik gula dan gereja di sebelah sana –" Nou menunjuk atap dengan lambang salib di puncak. "Dan satu rumah sipil di sebelah situ. Gedung bekas perkantoran tempat kita menginap semalam itu paling strategis karena berada di pusat, jadi aku bisa memantau pergerakan para monster. Gedung ini, selain karena paling tinggi, juga merupakan tempat dimana aku bisa menyimpan semua kebutuhan yang bisa kuambil sendiri, bukan hasil dari Treasure Box seperti teropong, benda tajam, sedikit bahan kimia untuk peledak kecil-kecilan. Sayang aku tidak bisa menemukan makanan yang layak –"
"T-tunggu!" sela Konoha. "Semua benda ini bisa digunakan?"
"Tentu saja, Bodoh. Aku tidak mungkin hanya bergantung pada Treasure Box saja, harus ada cadangan jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan," sahut Nou tanpa mengalihkan perhatiannya pada teropong.
"Kukira hanya untuk hiasan saja..." gumam Konoha sambil diam-diam mengagumi kemampuan bertahan hidup Nou yang jauh lebih baik dari dirinya. Ia tak pernah berpikir untuk mengaduk-aduk rumah sipil hanya untuk mencari rongsokan, toh Konoha juga masih bisa mendapat Treasure Box kalau ia mengalahkan musuh secara konsisten. Dipandangnya salah satu sisi atap yang lebih terlihat seperti gunung sampah daripada gedung penyimpanan, dengan sofa yang pegasnya sudah mencuat sebagai singgasana. Pemuda serbaputih itu bisa membayangkan Nou duduk di atas sana, bersilang kaki sambil menyantap jatah makan siangnya, teropong dan senjata peledak kesayangannya selalu berada dalam jangkauan.
"Aku melihat seseorang... ralat, dua." Suara Nou yang baru saja melaporkan situasi membuat Konoha kembali memfokuskan perhatiannya. "Laki-laki dan perempuan... datang dari arah jam sebelas. Watch and learn, Konoha~"
Belum sempat Konoha bertanya apa maksudnya, pemuda bermata kucing itu mengeluarkan benda semacam remote TV dari saku celana, lalu menekan beberapa tombol dengan seringai puas. Suara ledakan dan jeritan khas wanita terdengar dari arah yang sama, membuat Konoha menarik kesimpulan kalau remote tadi adalah sejenis detonator yang bisa mengontrol waktu peledakan bom dari kejauhan.
"Bagaimana? Bagus, kan? Itu juga yang kulakukan pada kalian waktu itu, anggap saja sebagai sapaan selamat datang~" ujar Nou bangga, seakan-akan apa yang diperbuatnya tidak salah. "Ayo, Konoha, sekarang waktunya memperkenalkan diri pada tamu kita."
-E;SCAPE-
"Kau tidak apa-apa, Kokuri?" tanya Tosuke sambil berusaha berdiri. Ledakan yang entah berasal darimana membuat mereka terpental, dan gadis berkuncir satu itu kini meringis karena luka-luka kecil di sekujur tubuh. Tosuke langsung menggendong Kokuri setelah memastikan gadis itu membawa senjatanya, lalu melanjutkan perjalanan.
"Maaf telah merepotkanmu, Tosuke..." gumam Kokuri lirih, dipandangnya luka bakar yang tak hanya membuatnya perih, namun juga membuat seragamnya compang-camping. Pemuda berambut hitam itu tersenyum lembut.
"Tidak apa-apa, Kokuri, kau sudah melakukan hal yang benar. Mungkin ada pemain di luar sana yang tidak senang dengan kedatangan kita, itu saja. Sekarang waktunya mendatangi monster yang baru saja kautembak dan mengambil Treasure Box-nya –"
BLAAAAAARRRRRR!
"Hai hai, selamat datang di area kekuasaan Nou dan Konoha~"
Seorang pemuda bermata kucing melambai-lambai dari atas atap rumah dengan wajah ceria, berkebalikan dengan pemuda satunya yang memandang mereka berdua tanpa ekspresi. Entah sejak kapan ia dianggap sebagai pemilik daerah kekuasaan oleh Nou, padahal jelas-jelas pemuda berambut pirang itu bukan tipe yang senang berbagi. Konoha hanya bisa diam dan mengikuti Nou loncat ke bawah, menemui dua pemain baru yang memandang dirinya dengan ketakutan.
"S-siapa kalian? Mengapa kalian menyerang kami?" tanya Tosuke berusaha menguatkan diri, sementara Kokuri yang ada di gendongan semakin menciut. Dipeluknya senjata itu seolah-olah benda tersebut adalah boneka beruang kesayangan. Tawa Nou semakin keras.
"Ah~ sayang sekali sapaan hangatku tidak dibalas." Mengabaikan pertanyaan Tosuke sama sekali, pemuda berambut pirang itu justru mengerucutkan bibir. "Baiklah, langsung kusampaikan saja. Peraturan pertama dalam area ini; tidak ada yang boleh menginjak dan berburu monster jenis apapun kecuali aku dan Konoha. Kedua, peraturan ini berlaku untuk seluruh pemain E;SCAPE. Ketiga, pemilik area selalu benar. Keempat, jika pemilik area melakukan kesalahan, maka kembali ke peraturan nomor tiga –"
"Hoi, hoi, kau baru saja membuatnya, kan? Iya, kan? Tidak ada peraturan semacam itu di game ini!" seru Tosuke emosi, disambung dengan anggukan Kokuri dan Konoha yang otomatis.
"E-eh? Padahal kukira kau mendukungku, Konoha... setelah malam-malam yang kita lalui bersama..."
"Jangan membuat mereka berpikiran yang tidak-tidak, Nou," sahut Konoha datar sambil menendang pemuda bermaya kucing yang kini pura-pura merayu dirinya. "Maafkan temanku yang bodoh ini, dia tidak tahu cara berkenalan yang baik. Ngomong-ngomong, namaku Konoha –"
"Hei, aku pemimpinnya disini!" seru Nou yang akhirnya kembali serius. "Dengar, kalian berdua, aku tidak akan membaca ulang peraturan konyol itu tetapi siapapun yang berani menginjak wilayah kekuasaanku tanpa ijin akan merasakan hal yang sama seperti 'sambutan selamat datang'ku tadi!"
"Siapa kau hingga berani mengaku-aku suatu wilayah menjadi kekuasaanmu, Pendek?" balas Tosuke tak kalah keras. "Aku –maksudku Kokuri yang menembak monster capung di sebelah sana, dan sudah tugasku untuk mengambil Treasure Box-nya!"
"Oh, jadi bola bulu yang ada di gendonganmu itu namanya Kokuri?" ejek Nou sambil terkikik, yang belakangan disesali karena gadis itu kini menodongkan senjatanya dengan serius dan warna matanya berubah menjadi merah gelap –
"Jangan. Panggil. Aku. Bola bulu."
Cengiran itu membeku tepat di depan moncong missile Kokuri yang siap diluncurkan kapan saja. Tosuke berusaha menenangkan gadis itu sementara Konoha hanya melihat mereka berdua dalam diam. Meskipun ia dan Nou tidak begitu cocok sebagai teman dekat, namun skill mereka berdua yang diatas jam terbang sudah cukup untuk bekerjasama dengan baik dan saling menutupi kekurangan masing-masing, sehingga level tinggi dapat diperoleh dalam waktu singkat. Tapi Tosuke dan Kokuri...
TOSUKE
Player No. 2
Race: Human
Eye Ability: Stealing Eyes
Weapon: Chainsaw
Level: 18
HP: 414/414
MP: 292/292
E: 18720/19000
.
KOKURI
Player No. 4
Race: Human
Eye Ability: Paralyzing Eyes
Weapon: FIM-92 Stinger
Level: 31
HP: 95/95
MP: 480/480
E: 31390/32000
.
Ada sesuatu yang ganjil pada data mereka, dan Konoha harus mencari tahu penyebabnya.
-E;SCAPE-
"Jadi... pada akhirnya kita tetap berdua saja, ya... hmm..." gumam Nou santai setelah Tosuke dan Kokuri pergi. Pemuda berambut pirang itu baru saja sadar setelah Konoha menggotongnya ke bekas rumah sipil yang pernah ditunjuk Nou, karena gedung apartemen yang mereka inapi sebelumnya terlalu tinggi dan terlalu jauh apabila ditempuh sambil membawa beban berat. Konoha bersyukur efek Paralyzing Eyes milik Kokuri hanya bertahan beberapa jam saja, karena sejujurnya ia tak tahan untuk melihat senyum konyol itu membeku di tempatnya lebih lama lagi.
"Kaukira siapa yang menyebabkan semua ini..." sahut Konoha pendek.
"Ja-jangan marah, dong! Maksudku kan cuma bercanda –"
"Candaan yang bagus, Nou," potong pemuda serbaputih itu pelan. "Padahal empat lebih baik daripada dua... lagipula ada sesuatu yang aneh dari mereka."
Cengiran Nou memudar, sepertinya ia mengerti maksud Konoha. "Masalah Status Bar? Begini, Konoha, tidak semua pemain mendapat jumlah awal HP dan MP yang nyaris seimbang seperti kita. Aku justru kasihan dengan Kokuri yang Health Point-nya rendah sehingga rentan dieliminasi... tapi setidaknya jumlah MP dan jenis senjatanya lumayan membantu. Sama kasusnya dengan Mogi. Cih, kenapa para gadis selalu mendapat senjata yang keren-keren..." gumam Nou keluar dari topik. Konoha tidak mengindahkan sama sekali.
"Maksudku Tosuke... aku tidak pernah melihatnya menggunakan senjata..."
"Tentu saja, Konoha, senjatanya kan tipe close combat sepertimu, pasti dia hanya mengeluarkannya di saat-saat darurat... tunggu. Sekarang aku benar-benar mengerti maksudmu." Bohlam berpijar terang di atas kepala Nou, bersamaan dengan rasa panik yang melanda tubuhnya. "Jadi itukah yang membuatmu ingin bergabung dengan mereka? Untuk memastikan tidak ada sesuatu yang buruk terjadi dengan mereka –ugh, sial, kita harus mengejarnya sebelum terlambat! Eliminasi otomatis kurang beberapa jam lagi!"
Konoha mengangguk, dan membawa semua peralatannya sambil mengikuti Nou berlari keluar.
"Ngomong-ngomong, aku juga belum pernah melihat Tosuke menggunakan Eye Ability-nya... kira-kira apa, ya, Stealing Eyes itu?" tanya Nou yang masih memimpin jalan. Rentang tiga jam sepertinya masih cukup bagi mereka untuk mengejar pasangan pemain itu, apalagi Nou hapal jalan-jalan tikus di wilayahnya sendiri sehingga mencari mereka berdua takkan membutuhkan waktu lama.
"Entah. Semoga saja tidak berbahaya."
-E;SCAPE-
Mood gadis berambut pirang pucat itu masih belum membaik, bahkan setelah mereka mengambil Treasure Box dan beristirahat sejenak.
"Aku tidak suka Nou," gerutu Kokuri sambil menggembungkan pipi sementara Tosuke hanya bisa pasrah.
"Mungkin dia hanya bercanda, Kokuri, kaudengar sendiri, kan? Tidak perlu sampai membekukannya seperti itu. Lagipula temannya yang berambut putih juga kelihatan tidak berbahaya, bahkan membiarkan kita lolos begitu saja..."
"Kalau dia baik, seharusnya dia mengajak kita untuk jadi temannya!" protes Kokuri, tak habis pikir dengan kedua pemain baru yang baru saja ditemuinya. "Apalagi mereka juga sudah melukaiku! Bagian darimananya yang kaubilang 'hanya bercanda'?"
"Tapi sekarang lukamu sudah tidak sakit lagi, kan? Untung saja Treasure Box yang kita temukan tadi isinya peralatan P3K lengkap, jadi semua bisa ditangani lebih cepat," ujar Tosuke lembut. Meskipun mereka baru saja bertemu tiga hari yang lalu, namun entah mengapa ia merasa kalau mereka berdua langsung cepat akrab tanpa hambatan apapun. Memang Kokuri agak sulit bersosialisasi dengan orang asing, namun sekalinya kenal, ia bisa bermanja-manja sepuasnya seperti sekarang. Ingatannya yang buram tentang masa lalu sebelum mereka terjebak di game ini sedikit teralihkan berkat tingkah Kokuri yang lucu dan membuat semua orang gemas, namun juga hasrat ingin melindungi disaat yang bersamaan.
"Baiklah... aku akan minta maaf pada mereka kalau kita masih bisa bertemu..."
Senyum Tosuke semakin lebar. Ia kembali menggendong Kokuri ala bridal style, sementara gadis berambut pirang pucat itu sudah siap membawa missile-nya. Jika dilihat sekilas, mereka seperti pengantin muda yang serasi, minus senjata tentu saja. Bukannya apa-apa, Tosuke sudah sering mengajari Kokuri cara membidik monster dengan missile-nya, namun hingga sekarang gadis itu masih belum mampu membawanya sendirian, sehingga ia dan senjatanya harus digendong. Untung saja Kokuri bukan tipe gadis yang seenaknya sendiri setelah diperlakukan seperti putri, lagipula ia juga tidak seberat yang Tosuke bayangkan sebelumnya. Jadilah mereka berdua partner yang tak kalah efektif –Tosuke menjadi mata dan kaki, dan Kokuri yang menembak para monster itu dengan bantuan Eye Ability-nya.
"Ada segerombolan monster di ujung jalan, Tosuke, bisakah kita kesana?" Suara Kokuri membuat Tosuke kembali sadar dan memfokuskan perhatiannya pada monster yang dimaksud.
"Jangan, Kokuri, lebih baik kau menembaknya dari sini saja. Tunggu aba-aba dariku, dan begitu aku bilang tembak... langsung bekukan mereka dan tembak semuanya. Sekarang, siapkan missile-mu," perintah Tosuke sambil terus melihat situasi. Kokuri mengangguk sigap, lalu mengarahkan moncong missile-nya tepat di gerombolan monster itu. Hanya tinggal masalah waktu bagi gadis berambut pirang pucat itu untuk menarik pelatuk dan –
"Tembak!"
DHUAAAAAAARRRRRRR!
Hanya dalam waktu sepersekian detik, Kokuri mampu membekukan mereka semua sementara rudal itu meluncur dan meledak dari kejauhan. Ya, Eye Ability gadis itu hanya bisa diaplikasikan jika lawan menatap mata Kokuri secara langsung, sehingga ia harus melontarkan rudalnya terlebih dahulu menarik perhatian, lalu membekukan mereka semua agar tidak kabur. Setelah memastikan semuanya mati, mereka berdua mendekat ke area yang mereka tembak. Kokuri memandang mayat-mayat yang terlontar ke segala arah itu melalui layar virtualnya, poinnya kini meroket dengan cepat bersamaan dengan notifikasi Perfect Combo yang memudar.
Gadis berambut ikal sepaha itu tersenyum puas.
"Lihat, Tosuke, aku semakin pintar memakai missile ini!" seru Kokuri girang, tak lupa memeluk Tosuke yang masih menggendong tubuhnya. "Terima kasih telah mengajari dan mendampingiku selama ini, ya! Aku berhutang banyak padamu!"
"Ahaha, tidak perlu, Kokuri. Melihatmu bahagia seperti ini adalah kebahagiaan terbesar bagiku... nah, sekarang waktunya kita ke tempat lain. Kudengar monster-monster terbang sedang berkumpul di langit barat... kita cari tempat yang strategis untuk menembak mereka, lalu istirahat. Bagaimana?"
"Baiklah~!"
-E;SCAPE-
"Kaubilang kita bisa menemukan mereka dalam waktu singkat?" ulang Konoha setengah menuntut meski ekspresinya tak menunjukkan demikian. Sudah tiga kali mereka berdua berputar-putar di tempat yang sama, wajar saja kalau kekecewaan pemuda itu tumpah. Nou yang memasang wajah lelah dan berkeringat sebenarnya juga tak habis pikir, bagaimana bisa Tosuke dan Kokuri keluar dari area kekuasaan pemuda pirang itu hanya dalam beberapa jam saja?
"Mungkin kita memang harus keluar dari kota ini... kuharap mereka tak pergi ke wilayah lain, atau yang lebih buruk, Venom Edge," gumam Nou pelan, kini tujuannya berbelok dari arah yang biasanya mereka lewati. Konoha termenung.
"Venom Edge? Apa itu?"
"Jurang. Sebelum aku sampai di kota ini dan mengakui wilayah pusatnya sebagai milikku, aku sudah mengelilingi seluruh area E;SCAPE dan memetakan daerah-daerah yang kuketahui berdasarkan tingkat keamanannya. Wilayahku termasuk strategis karena selain banyak monster yang bisa diburu, juga aman untuk ditinggali karena banyak bangunan-bangunan tinggi untuk bersembunyi dan bergerliya. Banyak juga peralatan domestik yang bisa digunakan jika kau rajin mengaduk-aduk isi rumah sipil, bahkan kasur empuk atau satu set home theater. Beberapa wilayah di luar kota hanya lahan kosong bekas perkebunan, kadang area konstruksi yang sedikit berbahaya karena kita tidak tahu kapan tiang-tiang karatan itu akan menghantam kepala... dan terakhir, hutan. Memang tidak ada binatang liar disana, tapi kudengar monster beruang dan serangga-serangga disana lebih mematikan dan poinnya lebih tinggi daripada di sini... pemburu sejatipun pasti lebih memilih daerah yang lebih aman," jelas Nou.
"Lalu... Venom Edge?"
"Nah, Venom Edge adalah lokasi paling berbahaya dari seluruh game E;SCAPE ini. Letaknya di area perbatasan sebelah barat, tepatnya di ujung jalan tol yang sudah tak berfungsi dengan padang rumput di kedua sisi... kau akan tahu begitu melihatnya. Singkatnya, Venom Edge adalah jurang dengan racun dan radioaktif berbahaya di dasarnya, yang bisa membunuh orang bahkan sebelum mendekati bibirnya. Tidak ada kehidupan di sana, bahkan padang rumput liar yang ada di daerah itu menjadi gersang dan mati. Burung gagak dan pemakan bangkai juga enggan mendekat, dan hanya menunggu di area perbatasan. Kebetulan kota ini punya jalan tol yang menghubungkan langsung ke sana... aku takut kalau mereka berdua berjalan melaluinya, mereka takkan bisa kembali hidup-hidup..."
"Lalu apa yang membuatmu berpikir kalau mereka mungkin kesana?"
"Tidak ada jejak mereka di sepanjang jalan yang kita lalui," ujar Nou pelan. "Kau juga sadar, kan, kalau kita hanya berjalan mengelilingi kota dan melewati gerbang setiap tol-nya? Kota ini punya enam jalan tol, lima diantaranya mengarah ke wilayah-wilayah yang kusebut tadi, dan yang terakhir menuju Venom Edge. Kita sudah melewati kelima gerbang jalan tol itu tiga kali, tapi tidak ada satupun yang menunjukkan jejak mereka. Jadi wajar kalau pikiranku mengarah ke hal yang tidak diinginkan..."
"Mungkin mereka berdua masih berada di dalam kota," sahut Konoha berusaha optimis, meski ketakutan kini menjalari dada. "Bukankah sedari tadi kita hanya mengelilinginya, bukan masuk ke dalamnya? Lagipula... kota ini juga cukup besar untuk dijelajahi, dan sejak awal kita hanya mendiami bagian pusatnya saja."
"Benar juga, tapi... perasaanku tidak enak. Aku ingin memastikan mereka tidak ada disana sebelum kita kembali ke kota," putus Nou pada akhirnya. Konoha terdiam, pemuda bermata kucing yang ada di hadapannya itu bukan tipe yang mudah bersimpati pada keadaan orang lain, tapi mengapa –
"Ayo, Konoha, kita selamatkan Tosuke."
Tak ada yang bisa Konoha lakukan kecuali mengangguk dan melanjutkan perjalanan ke wilayah berhawa kematian itu.
.
.
.
TO BE CONTINUE
[bersambung]
.
.
.
-Behind the Scene-
[for those who have much free time and/or just curious about everything that happened when I wrote this fanfic]
Padahal rencananya di chap ini ada salah satu karakter yang mati, tapi karena kepanjangan saya taro di chap berikutnya aja :")) udah tau kan siapa Tosuke dan Kokuri? Saya sebenernya pengen ndesain mereka pake dress dan suit yang unyu, kan kontrasnya keren banget tuh kalo mbawa senjata, tapi saya jadi mikir gimana keseluruhan desain kostum karakter lain x_x akhirnya saya putuskan ga ada dress. Ga usah bikin desain kostum ala headphone actor. I heart school uniform! xD refrensi gambarnya bisa liat di headcover PASH! edisi spesial Mekakucity Actor. Shidu sendiri yang nggambar btw, dan keliatannya keren juga kalo mereka pake seragam sekolah trus robek-robek gitu, kayak kancolle atau battle royale. Sayang signature style-nya Mary yang digendong kemana-mana itu jadi hilang kalo dia pake seifuku T_T padahal sejak dulu saya membayangkan Mary dengan rok dressnya yang fuwa-fuwa itu sambil bawa missile orz. Yasudahlah, lain kesempatan aja.
Chapter ini sebenernya lebih santai dan (pengennya) lebih ngedalamin masa lalunya Kano, capek baku hantam terus ehe tapi karena sejak awal past-paced jadi mohon maaf kalo santainya ngga dapet ;;;;;;; yang ada malah kemunculan SetoMary padahal rencananya mereka bakal muncul chapter depan. Gapapa, besok bakal tetep ada masa lalunya Nou bonus Seto, dan saya juga rencananya juga bikin spin-off Yuukei Quartet kalo udah mendekati chap akhir xD/ abis saya keracunan KanoAya & ShinTaka pas ngetik bagian pertama chap ini ehe. Btw makasih banyak buat winter lodge yang udah bikinin drabble KanoAya-nya :"D
Last, review?
