Pada akhirnya anganmu seperti malam, dia pergi ketika sang fajar datang.

Hentikan! Bahkan rembulanpun tak ingin dirindukan..


Rumah itu cukup luas. Memiliki halaman belakang yang terbuat dari kayu-kayuan serta pekarangan sederhana yang cukup terbilang indah nan menawan. Disana Terdapat pula kolam air berisi ikan-ikan saling bersahutan tatkala pakan bertabur diatasnya. Keluarga itu percaya bahwa Ikan Koi yang dipelihara mereka akan memberi peruntungan baik, leluhur mereka yang berkata demikian mengingat koi yang dipelihara mereka bukanlah koi biasa, koi itu berumur sangat tua ukurannya pun begitu besar, mencapai hampir satu meter. Bukan ukuran seharusnya memang namun itulah adanya. Ada yang bilang roh Dewa berdiam disana.

"Aduh.. Aduduh Chiaki pelan-pelan," Yanase meringis nyeri kala handuk panas menyentuh luka lebam di sekitar bibirnya. itu adalah ciuman kasar penuh hina Ijuuin padanya.

"Yuu sih, kenapa bisa sampai begini?" Chiaki terlihat begitu khawatir. Matanya berkaca-kaca namun tangannya tetap cekatan menyeka luka Yanase dengan serius. "Tidak apa.", "Yuu pembohong! Yuu pembohong!"

Yanase tersenyum, ia tangkup kedua sisi pipi Chiaki, "aku betul-betul kena serang seekor beruang," Chiaki menjewer telinga milik Yanase. "Tadi Yuu bilang yang diburu itu Babi hutan. Kenapa sekarang jadi Beruang. Huh?"

"Dududuh Chiaki sakit. ampun." Yanase meringis, tunangannya itu betul-betul menarik kuping Yanase kuat-kuat, biasanya sampai Yanase mengaku. "Tidak akan!" Chiaki lalu memelintir jewerannya sampai teriakan lelaki tersayang itu semakin nyaring mengaduh kesakitan. "Baiklah-baiklah aku akan mengaku Chiaki, baiklah aaaah kumohon Chiaki!", "itu bagus Yuu, jadi katakanlah, kau tahu aku ini sangat mengkhawatirkanmu tahu." Chiaki menggelembungkan pipinya marah, sontak Yanase menjadi tersenyum geli. Ia acak surai Chiaki dengan penuh kasih sebelum kedua tangan ia gunakan untuk membelit pinggang ramping kekasih manisnya. "Chiakiku sangat manis, aku merasa sangat dicintai."

"Yuu, nanti Ayah dan Ibu lihat. Yuu!", "Kita kan sudah bertunangan, tidak apakan melakukan hal romantis?" senyum penuh kemenangan tersungging dibibir Yanase, senang rasanya melihat Chiaki gelagapan karena malu-malu. "Ta-tapi Yuu,"

"Katakan Chiaki cinta padaku, aku ingin dengar," Imbuh Yanase lagi. Peluk di pinggang ramping Chiaki semakin intens, namun Yanase tidak pernah melakukan hal tidak senonoh. Ia begitu menyayangi Chiaki, ia begitu menganggapnya berharga, ia ingin bersabar sampai Chiaki resmi menjadi istrinya. Meski mereka berdua adalah laki-laki. "Y-yuu he-hentikan."

"Tidak mau, akan kulepaskan kalau Chiaki mengatakannya,"

"Ka-katakan apa?", Yanase sedikit menunduk mendekati telinga Chiaki. "Katakan kalau Chiaki cinta padaku." Karena terlalu gugup, Chiaki menginjak kaki Yanase sampai peluk padanya melonggar, lalu dia berlari dari teras menuju dalam rumah. "Chiaki.. Lukaku belum selesai diobati. Chiaki.."

Chiaki melempari Yanase dengan lap basah yang sedari tadi digenggamnya. "Y-Yuu yang ha-harusnya mengatakan pa-padaku."

Yanase tersenyum, segera ia berdiri. Tangannya ia gunakan untuk menarik tangan milik Chiaki, "aku mencintaimu, Chiaki.", "Bukan itu! A-alasan Yuu terluka yang harus Yuu katakan padaku!"

Yanase kembali memeluknya, "apa hal itu lebih penting dari pernyataan cintaku?"

"Chiaki, katakan. Apa kamu semakin jatuh cinta padaku?" Chiaki menginjak kaki Yanase kembali, kali ini ia benar-benar berlari sampai siluet miliknya tak nampak lagi dipandangan Yanase.

"Kamu terus menggodanya sih, dia itu sangat pemalu tahu." Yanase segera melirik, itu adalah suara Ayahnya. "Ayah.." si Ayah tersenyum, "Selamat malam anak Ayah, bagaimana dengan Ijuuin-sensei? Sudah berbicara dengannya?"

Yanase terlihat begitu merah, amarah kembali membuat darah terasa mendidih. Haruskah ia beritahu Ayahnya tentang perlakuan kurang ajar Kyou? Tetapi Ayah dan keluarganya begitu menghormati keluarga Kyou. Bisakah mereka mempercayai Yanase? "Dia..", "Sensei, kamu tidak boleh memanggilnya begitu."

"Maksudku Ijuuin-sensei. Eh Ayah kurasa mungkin kita bisa ke Desa lain meminta bantuan. Kudengar ada yang seperti Ijuuin-sensei di desa lain." seru Yanase, si Ayah terlihat mengerutkan alisnya. "Tapi tidak ada yang semurah hati keluarga Ijuuin-sensei. Kau tahu Yuu, Ijuuin Juan-sensei juga sering sekali membantu para desa tetangga. Mereka betul-betul pemurah."

"Tapi penerusnya bajingan," sungut Yanase tak tahan, tentu saja jika Ayah dari si sensei mesum itu sampai begitu di agungkan rasanya memang pantas. Tapi jika anaknya? Mendengar namanya saja Yanase merasa jijik. "Yuu, jaga bicaramu!" Sungut si Ayah marah.

Yanase terdiam, dia bukan pemuda pembangkang. Meski dilahirkan di keluarga sederhana tetapi orangtuanya selalu menerapkan santun yang tinggi. Mana bisa Yanase melanggar norma-norma yang selama ini dipegangnya teguh hanya karena bajingan itu. "Astaga, apa luka ini adalah hasil pertikaianmu dengan Sensei?" Yanase membisu, "Yuu apa kau tahu apa yang sudah kamu lakukan?"

Pamannya Yanase yang ikut mencuri dengar segera mendekati Yanase. "Kurasa besok pagi-pagi sekali kita harus segera meminta maaf." Ujar si Paman, pendapatnya langsung disahuti anggukan oleh Ayah Yanase. "Aku lebih baik mati daripada melakukannya!"

"Ya, kau akan mati jika tidak melakukannya! Kau ini, astaga Yuu! Ayah tidak sedang bercanda. Kita tidak boleh menuai masalah dengan keluarga sensei. Sangat tidak boleh!" Yanase menatap Ayahnya dengan tatap tak kalah serius, "aku berjanji akan ke Kota untuk mencari pekerjaan. Keluarga kita tidak perlu bergantung pada belas kasih mereka lagi."

"Yuu!", Ibu Yanase segera meraih Yanase. Membawanya untuk menunduk pada Ayah mereka. "Yuu minta maaflah, ikuti kata Ayahmu. Ini semua demi kebaikanmu, demi kebaikan kita semua. Kita akan sangat menderita jika sampai keluarga Ijuuin-sensei murka pada kita. Jadi bersumpahlah Yuu. Demi Ibu besok kamu harus ikut dengan Ayah dan Paman untuk meminta maaf." Yanase masih terdiam, sampai ketika Ibunya mengguncang bahu seraya menganggukan kepala meminta Yanase mengikutinya. "Baiklah." Persetan dengan bajingan itu, rutuk Yanase dalam hatinya.


"Jadi begitu sensei, kumohon maaf kelancangan Yuu kemarin. Saya akan memastikan bahwa hal kemarin tidak akan terulang." Ayah Yanase yang sedang berbicara, Disana Juan, juga Kyou mendengarkan.

Ayahnya Kyou melirik meminta penjelasan, "tidak ada hal serius Ayah. Aku dan Yanase-kun hanya sedikit beradu selisih. Bukankah begitu Yanase-kun?"

Yanase mendelik mendengar penuturan santai Kyou, dia berbicara selayak Dewa tetapi hatinya sebusuk Iblis. "Be-benar. Saya menyesal atas kejadian kemarin. Saya minta maaf." Kali ini Yanase sendiri yang melafal, Kyou mengacak surai lembut itu dengan berani. "Jangan terlalu formal begitu Yanase-kun. Bukankah kita ini teman?", Yanase bungkam tidak menjawab. Muak rasanya melihat topeng busuk Kyou.

"Jika memang tidak ada hal serius Ayah akan kembali bekerja. Kyou temanilah Yanase-san dan putranya.", "Dengan senang hati."

Setelah Ayah Kyou pergi, ruang kerja itu begitu terasa sepi. Sampai akhirnya Ayah Yanase berpamitan lebih dulu karena ada beberapa hal yang harus diurus sedangkan Yanase sendiri wajib tinggal untuk membahas permasalahan yang menjadi tujuan kemarin Yanase singgah.

"Aku akan memberikan pasokan kembali. Kau tidak perlu khawatir Yanase-kun." Seru Kyou. "Saya tidak menyetujui kesepakatan apapun. Asal anda tahu, sensei."

Kyou mengangguk, "aku tahu. Lagipula aku sudah tidak tertarik denganmu. Pulanglah." Bohong memang, tapi Kyou tidak akan mengemis. Bukan Ijuuin Kyou sekali jika sampai memohon. "Kuharap kau tidak menyesal Yanase-kun."

Hari itu berjalan dengan tidak terduga. Kyou yang arogan menyerah begitu saja, tetapi Yanase akui bahwa lelaki itu memang begitu tampan. Siapapun selain dirinya pasti akan sangat mudah jatuh pada pesona Kyou. Mengingat reputasinya yang begitu di puja dikalangan masyarakat setempat karena kebaikan hatinya. Jadi bukan kemustahilan jika Kyou sudah menemukan yang lain dan semudah itu melepas Yanase. Pun jika Kyou berkata Yanase menyesal, itu tidak akan pernah terjadi. Memiliki tunangan seperti Chiaki sudah lebih dari cukup. Yanase juga tidak bisa di dominasi, dia bukan seperti yang Kyou pikir. Meski lelaki itu tidaklah sepenuhnya salah.

Esoknya Yanase memeriksa pekerjaan sebagaimana harusnya. Kyou tidak mengingkari janji. Semua berjalan seperti ucapnya. Tetapi hal tersebut tidak mempengaruhi Yanase sama sekali, Kyou hanya menjadi sambil lalu yang tidak penting baginya. Jadi biarlah, hidupnya adalah Chiaki kenapa harus repot ia memikirkan Kyou? meski terus terang Yanase tidak menduga hal ini sebelumnya.

"Yuu, ayo." Chiaki tiba-tiba saja sudah berada dibelakang tubuh Yanase. "Kamu mengagetkanku." Ujar Yanase penuh sayang, "ba-bagaimana penampilanku?"

Yanase meraih tangan Chiaki, mengecupnya. "Terbaik. Kau seperti bidadari.", "Yuu, aku ini laki-laki." Chiaki menggelembungkan pipinya. Marah rasanya diperlakukan begitu oleh Yanase. Namun tak bisa dipungkiri dia merasa senang. Amat senang. "Yuu," Yanase mengecup Chiaki dibibir dengan lembut. "Kamu memang sangat manis Chiaki, aku jadi tidak sabar ingin segera menikahimu."

Mendengarnya membuat Chiaki menangis, segera ia sambar Yanase dengan pelukan. "Aku sangat beruntung jika bisa menjadi istrinya Yuu. Aku sangat se-senang." ujar Chiaki penuh ketulusan, "dan aku seribu kali lebih beruntung darimu. Aku mencintaimu Chiaki."

Siang ini terasa begitu indah. Yanase, Chiaki dan orang tua Yanase akan pergi ke Kota. Membeli sebuah cincin untuk pernikahan yang akan diselenggarakan dua bulan lagi, Yanase adalah anak mereka satu-satunya dan Chiaki akan menjadi menantu mereka yang juga satu-satunya. Karena itu kedua orang tua Yanase bersikukuh ikut serta mengantar moment menggembirakan ini.

"Aku mau yang itu Yuu, imut sekali." Seru Chiaki gembira, Yanase menanggapi tunangannya itu dengan penuh pengertian. "Kita akan membeli cincin pernikahan. Kita akan terus memakainya. Apa kamu yakin membeli cincin dengan motif kekanakan itu?" Chiaki cemberut, ia pukul lengan Yanase dengan kesal."Yuu aku tidak kekanakan tahu."

Yuu menggoda "benarkah?"

"Yuu!"

Mereka memilih cincin sederhana. Pernikahan untuk dua orang lelaki rasanya cukup dengan cincin yang tidak begitu mewah, bagaimanapun itu terkesan menggelikan dimata sebagian orang. Lagipula bagi Yanase cincin itu hanya syarat, yang terpenting maknanya bukan?

"Yuu, aku lapar." Pernyataan itu langsung mengundang gelak tawa Ayah dan Ibu Yanase, sehingga sebelum pulang mereka sengaja mampir di sebuah kedai untuk memenuhi asupan pakan yang terasa sudah begitu kosong.

Duduk saling berhadap-hadapan, bersenda gurau menikmati hari bahagia. Seandainya mereka tahu hari itu adalah hari terakhirnya. Karena selang menit berlalu sebuah gempa dengan skala tinggi datang. Bangunan dikedai tersebut tidak cukup kuat untuk menahan. Hingga robohlah dinding besar tersebut menimpa seluruh pengunjung didalamnya.


Dua bulan kemudian.

Yanase tersadar setelah dua bulan mengalami cedera, sepertinya ia koma selama dua bulan ini. Segera setelah Dokter memeriksa keadaan Yanase, ia bertanya mengenai Ayah, Ibu dan juga Chiaki. Mereka harus segera tahu kalau Yanase sudah sadar agar berhenti mengkhawatirkannya. Namun semua ternyata tidak seperti yang dibayangkannya.

"Nyonya Yanase dan Tuan Yanase meninggal dunia. Seseorang dari Shira telah menjemputnya tepat setelah mereka menghembus nafas terakhirnya." Begitu tutur perawat disana, membuat Yanase terperangah tidak percaya. "Chiaki? Bagaimana dengan Chiaki?" Tanya Yanase parau. Namun perawat tersebut kembali menggelengkan kepalanya penuh sesal.