Chapter 3
Draco menggeliat dikasurnya saat seseorang menarik selimutnya. Ia menggumam kesal dan menarik kembali selimutnya.
"Siapapun kau, jangan ganggu tidurku-"
"MALFOY!"
Draco mengedipkan mata dan membalik badannya malas. Ia terbelalak kaget melihat Harry Potter berdiri disamping kasurnya dengan wajah merah padam.
"Potter, mau apa kau disini?"
Harry memutar matanya dan mendengus, "Merlin, kau benar-benar susah bangun. Kau tahu sekarang hari apa, Malfoy?"
Draco membalas pelan sambil menguap, "Senin"
Lalu, Harry menarik selimutnya keras dan berteriak," Sekarang hari pertama training!. Bangun dan angkat pantatmu dari kasur, Malfoy!"
Draco memutar matanya dan balik menarik selimutnya, "Sekarang masih pukul 4, Potter. Malfoy tidak bangun pagi sekedar informasi. " Draco mengacuhkan Harry yang menggumam sebal, ia menarik selimutnya hingga menutup kepalanya.
"Malfoy!"
Draco mengerang pelan dan menutup telinganya.
"Pergi, Potter!. Aku butuh tidur manis!"
Draco mendengar Harry bergumam tentang sesuatu seperti 'menyebalkan', 'pemalas', 'sial' dan lain-lain.
"Aku takkan pergi sebelum kau mengangkat pantatmu!"
Draco mendengus dan dengan malas membuka selimutnya.
"Oke, Potter! Aku bangun! Puas?", Draco memajukan bibirnya dan turun dari kasur dengan kasar . Ia menoleh pada Harry yang sedang berdiri kaku disampingnya dengan ekspresi yang aneh.
"Potter?"
Harry mengedip cepat dan mencoba berbicara dengan nada suara yang biasa, meski sedikit bergetar, "Pakai sesuatu, bodoh."
Draco menaikkan alisnya tak mengerti, lalu ia tersenyum nyengir menyadari bahwa ia hampir telanjang dan hanya memakai boxer ketat super pendek berwarna hitam.
"Oh- ini. Aku memang selalu tidur hanya memakai boxer, Potter. Keberatan?", si pirang itu mendekat pada Harry dan tersenyum nyengir saat mendengar Harry menahan nafas.
"Malfoy, cepat pakai bajumu dan kita bicarakan tentang jadwal latihan.", Harry berpura-pura tenang saat Draco semakin mendekatinya.
"Hm, itu bisa dibicarakan nanti, Harry."
Super Auror itu merasakan kejutan listrik mengalir di tubuhnya saat mendengar Draco memanggil nama depannya, lagi. Ia menggenggam erat jari-jari tangannya saat merasakan nafas Draco berbisik ditelinganya.
"Apa maksud ciumanmu semalam, Harry?"
Potter menelan ludah pelan, ia bakal menyangka Draco akan menanyakannya, ia sudah memikirkannya semalaman hingga tak bisa tidur, apalagi saat mengingat lembut bibir Draco, seketika membuat ia menggeleng kepala malu.
"Malfoy, aku harap kau tidak salah paham dengan- ciuman semalam. Aku terbawa suasana."
Draco terdiam disamping wajah Harry, lalu ia tertawa pelan.
"Good boy, Harry", Draco menatap mata Harry dan tersenyum nyengir, "Super Auror Harry Potter mencium Draco Malfoy si mantan Pelahap Maut di Pulau Dewata karena suasana mendukung."
Harry menelan ludah nervous dan menatap pria dihadapannya yang sedang tersenyum nyengir.
"Tidak lucu, Malfoy. Aku benar-benar minta maaf. Aku janji kejadian bodoh seperti itu takkan terulang lagi", Draco hanya tertawa sambil menepuk pundak Harry berkali-kali.
"Oh, kau benar-benar lucu Potter!. Tak perlu meminta maaf padaku seperti itu, idiot!. Semalam hanya sebuah ciuman kan?. Aku saja sudah lupa rasanya dicium oleh Super Auror. Lupakan, Potter." Draco nyengir lalu mundur perlahan dan berbalik meninggalkan Harry yang berdiri kaku.
"Malfoy, aku akan menunggumu diluar."
Draco menoleh pada Harry dan mengangguk malas lalu melenggang ke kamar mandi, meninggalkan Harry dengan rasa bersalah.
…
Harry tidak bisa konsentrasi penuh di training awal mereka. Ia benar-benar terganggu dengan sikap Malfoy yang benar-benar mengacuhkannya. Segala yang dikatakan Harry padanya hanya ditanggapi dengan alis terangkat dan kata-kata 'terserah kau'. Harry mengerang frustasi dan mengacak-acak rambutnya.
"Oh-bagus. Malfoy jelas masih marah padaku."
Harry mengernyitkan dahi tak mengerti.
Bukankah ia bilang kalau tak merasa terganggu dengan ciuman semalam?, kenapa ia harus mengacuhkanku?
"Ada yang perlu dibantu, Auror Potter?"
Harry menoleh kaget dan menghela nafas lega saat melihat Surya berdiri dibelakangnya. Ia menggeleng pelan dan tersenyum.
"Tidak ada, hanya sedang berpikir."
"Tentang cewek?", Surya mengangkat alisnya dan tersenyum penuh makna, membuat Harry hampir tersedak.
"Tidak, tentu saja tidak." Harry mencoba mengalihkan ingatannya tentang Cedric saat menatap Surya, ia tak mau mengingat kembali saat kelam di Turnamen Triwizard.
"Auror Potter?, kau tidak apa-apa? Wajahmu pucat-"
Harry tersenyum palsu dan menggeleng.
"Tidak, panas matahari membuatku sedikit pusing, tapi bukan masalah", Lalu, Harry menoleh pada Draco sebentar, "Umh, kurasa sekarang waktunya istirahat." Surya mengangguk lalu berteriak pada teman-temannya untuk istirahat.
Harry menghela nafas pelan, lalu berjalan mendatangi Draco yang sedang berlatih mantera.
"Malfoy-"
Draco menoleh pelan, lalu kembali berkonsentrasi pada manteranya.
"Apa, Potter?"
"Umh, mau makan siang bareng?"
Malfoy menoleh dan menatap Harry dalam diam.
"Apa?"
Harry menelan ludah, "Makan siang, Malfoy. Kuharap kau sekarang kelaparan."
Draco kembali diam, ia hanya berdiri dan menatap Harry penuh tanya, kemudian ia mengangkat bahu malas.
"Why not?"
Harry menghembuskan nafas lega saat mendengar jawaban Draco. Ia tersenyum puas dan merangkul pundak Draco seketika membuat si pirang itu tersentak kaget.
"Potter!"
"Huh?, ada apa Malfoy?"
"Lepaskan tanganmu dari pundakku," Draco mendesih dan melotot pada Harry.
"Kenapa?, tak ada yang salah merangkulmu." Harry bersiul dan merapatkan tangannya.
"Potter, ada apa dengan sikap ceriamu hari ini?". Draco membuat suara jijik dan menyikut pinggang Harry keras.
"Aw!. Tidak ada yang salah denganku!", Potter balik merangkul Draco erat hingga ia tak bisa bergerak, "jangan coba-coba kabur, Malfoy."
Draco mengangkat alisnya, dan membentuk garis lurus di bibirnya.
"Kau mencurigakan, Potter."
Harry mengangkat bahunya cuek dan menarik Draco pergi dari pantai.
"Yeah, terserah kau bilang apa yang penting sekarang aku kelaparan."
Senyum tipis yang menghiasi bibir Harry membuat Draco benar-benar penasaran, apalagi rangkulan posesif dari Super Auror itu membuat jantungnya berdebar tak karuan. Ia kemudian ikut tersenyum menyadari arti sikap Harry.
Well, ternyata Potter tak bisa berlama-lama jauh dariku.
Draco terbatuk ketika menyadari pikirannya barusan. Ia menggeleng dan menyikut Harry keras lalu kabur.
"Malfoy!, beraninya kau menyikutku!"
"Kejar aku kalau kau bisa , Potter!"
Draco dan Harry menghabiskan istirahat siang dengan makan di pasar tradisional Bali. Mereka juga berjalan-jalan melihat kios-kios disana yang menjajakan berbagai barang tradisional dan khas Bali. Draco kaget saat melihat Harry memakai kain yang mengikat kepalanya yang kata penjualnya dinamakan udeng Bali, apalagi saat Harry mengedipkan matanya pada Draco dengan gerakan penari bali membuatnya tertawa geli. Tawanya semakin keras saat Harry tak sengaja menyenggol seorang anak disampingnya hingga hampir jatuh.
"Please, Potter. Kau benar-benar memalukan." Draco tetap tertawa saat Harry menangkap lengan anak kecil itu reflek.
"Diam kau, Malfoy. Maaf ya, adik kecil." Harry tersenyum malu pada bocah itu dan mengelus rambutnya.
Bocah itu tersenyum nyengir, mengangguk dan berlari lagi bersama teman-temannya. Draco tetap tak berhenti tertawa karena adegan kebodohan Harry barusan dan tariannya yang jauh dari indah, tetapi tawanya mereda saat melihat Super Auror itu sedang menatapnya lembut.
"A-apa, Potter?", detak jantungnya semakin cepat saat Harry mendatanginya.
"Tak ada," Harry mengangkat tangannya dan memasangkan udeng Bali di kepala Draco, "Syukurlah kau menikmati training pertama kita, kukira kau masih marah denganku."
Draco membelalakkan matanya saat menyadari bahwa Harry sedang mencoba meminta maaf dengan caranya yang bodoh. Ia menyembunyikan senyum senangnya.
"Diam, kau Potter."
"Umh,oke", Harry kehilangan kata-kata saat melihat pipi Draco merona, ia mengepas udeng dikepala si pirang itu dengan gugup dan tak sengaja menyentuh rambut sutra Draco.
Ia menahan nafas merasakan lembut rambut Draco, "God, Draco. Rambutmu-"
Auror Pirang itu tersentak kaget saat mendengar desahan dan jari-jari Harry yang menyentuh rambutnya. Sentuhan kecil itu mengirim sinyal listrik yang cukup membuat Draco gemetar. Ia mundur dengan pelan dan berbalik membelakangi Potter.
"Istirahat sudah habis, Potter. Kita harus kembali ke pantai."
Harry mengangguk pelan, ia tetap menatap tangannya yang telah menyentuh rambut halus Draco. Harry menelan ludah pelan saat menyadari bahwa tubuhnya lagi-lagi bereaksi atas sentuhan itu, otaknya yang telah menjelajah kemana-kemana kembali lagi saat Draco memanggil namanya.
"Potter-"
Harry menatap Draco gugup, ia memaksakan diri tersenyum dan merangkul pundak Draco dengan kasual.
"Ayo, kembali."
…
Sunset terlihat indah dari beranda kamar. Langit yang berwarna orange kemerahan membuat suasana semakin lembut. Harry merebahkan diri dilantai beranda, menyangga kepalanya dengan lengan dan menatap pemandangan indah dihadapannya. Pikiran Harry kembali pada kejadian di pasar tadi. Ia menatap tangan kanannya dan merasakan pipinya menghangat.
Aku masih tak percaya rambut Malfoy selembut itu, dan mata abu-abunya yang indah…
Harry mengedip kaget, ia lalu menutup wajahnya sambil mengerang frustasi.
"Urgh, ada apa dengan otakku?", Harry mencoba menghilangkan pikirannya tentang rambut Malfoy dengan kembali mengingat saat-saat bersama dengan Ginny, cewek yang pernah jadi pacarnya, tetapi Harry mengernyitkan dahi saat mengingatnya,
Well, rambut Ginny beda dengan Malfoy, lebih lembut, halus… dan pirang…
Harry membuka matanya kaget, lalu ia berteriak frustasi sambil menggelengkan kepalanya.
"Argh, tidak!. Tidak, tidak, tidak , tidak!"
Aku normal!
Teriakan Harry berhenti saat ia merasakan tangan yang lembut menyentuh lengannya.
"Potter!. Bangun!"
Harry merasakan jantungnya hampir copot mendengar suara yang paling tak ingin ia dengar, ia membuka tangan yang menutup wajahnya pelan dan menatap mata abu-abu khawatir dihadapannya.
"Ma-Malfoy-"
"Kau mimpi buruk?"
"Huh?", Harry mengedip berpikir, saat sadar bahwa teriakannya barusan membuat Draco mendatanginya.
"Ti,tidak. Bukan apa-apa. Aku hanya-", Harry berhenti berkata ketika Draco menghela nafas lega, "Kau, khawatir padaku?", secuil senyum terhibur muncul di wajah Harry.
"A-apa?"
"Kau khawatir padaku, Malfoy?"
Draco memutar matanya, "Teriakanmu menggangguku, bodoh. Suaramu seperti orang sedang dilecehkan ."
Harry tersenyum nyengir, ia kemudian duduk disamping Draco.
"Yeah, kau benar." Harry terkikik saat membayangkan ekspresi Draco mendengar suaranya yang mencurigakan dan bersyukur ia tak meneriakkan nama si pirang itu juga.
"Benar?, Siapa yang melecehkanmu, Potter?"
Super Auror itu menoleh pada Draco kaget, "Apa maksudmu?"
"Dalam mimpimu, bodoh"
"Umh, tidak ada."
"Oh, ya? Jadi kau bersenang-senang sendiri dalam mimpimu?, uh…kasihan sekali."
Harry memutar matanya, "Urus masalahmu sendiri, Malfoy."
"Hei! Aku kan hanya membuat topik!"
Harry manyun dan mengangkat alisnya, lalu ia berpikir untuk menggoda Draco sedikit.
"Kalau kubilang," Harry berhenti sebentar untuk melihat Draco sedang memperhatikannya, "kau yang ada dalam mimpiku, bagaimana Malfoy?".
Ekspresi wajah Draco yang tak berubah membuat Harry tertegun, ia lalu mengacak-acak rambutnya nervous.
"Lupakan omonganku barusan,"
"Jadi, kau bottom?"
Harry menghentikan kegiatan mengacak rambut spontan dan menoleh pada Draco.
"Bottom?"
Si pirang itu tersenyum nyengir, "Jangan pura-pura bodoh, Potter. Kau tahu maksudku dengan jelas, kau bottom berarti aku yang diatas."
The Boy Who Lived itu hanya bisa mengedip mendengar reaksi Draco, pikirannya melantur pada khayalan sepihak itu. Harry menggertakkan gigi saat merasakan tubuhnya bereaksi lagi atas kata-kata Draco, ia memukul pundak Draco berharap si pirang itu segera pergi.
"Aw!, apa-apaan kau ini, Potter!"
Harry mendengus dan memalingkan muka, mencoba menyembunyikan rona merah dipipinya yang terasa panas, "Jangan bermimpi, Malfoy. Aku tak pernah bottom. Jadi, berhenti berkhayal dan kembali kekamarmu." Harry berdiri dengan sigap dan menuju kamarnya tanpa menoleh pada Malfoy.
"Huh?, kenapa aku- Hey! Bukankah kau yang bermimpi!"
Auror berambut hitam itu mendengus dan menutup jendelanya keras tanpa terpikir dengan reaksi Draco atas sikap dinginnya. Ia melempar badan ke atas kasur dan menenggelamkan wajahnya pada bantal. Harry mengerang pelan saat mengingat apa yang baru mereka bicarakan. Ia mencoba mengalihkan pikirannya dari Malfoy dengan menghapal kembali undang-undang Auror, segala macam mantera hingga jatuh tertidur.
…
*Cough*
"Umh, a little bit hint between them, right?"
Enjoy it!
Love u all,
TBC
