.
HORE AUTHOR TELAT BANGET UPDATE-NYA MUAHAHAHAHAHAAA~! *dibacok pisang* Ehm, tapi sesuai janji, author tetap berusaha kejar setoran di MikoRei Week 2015 kali ini *lirik kerjaan lain yang menumpuk*. Prompt hari ketiga ini adalah Promise dan Treasure. Bagian mana janji dan harta karunnya... silakan pembaca tebak-tebak buah manggis soalnya author beneran hilang arah selama nulis chapter kali ini *sesengukan di pojokan*. A little fluff in the beginning, maybe, (or so I hope) dan semoga yang kali ini engga terlalu menyayat hati xp.
Well then, please enjoy and happy reading~!
...
.
Project K (c) GoRa & GoHands
RED ICEBERG ~Prompt 3: Pieces of Iceberg~
Dedicated for MikoRei Week 2015, Day 3: Promise and Treasure
Disertai penggalan terjemahan ke dalam bahasa Inggris dari lirik lagu yang berjudul Pierce, oleh One OK Rock
.
'Sementara janjinya pada sunyi, adalah nyanyian kesepiannya yang tidak akan terdengar. Tidak akan terucap. Tidak akan pernah ditemukan.'
.
.
.
.
.
Here with you now I'm good, still miss you
I don't know what I can do, we can't be true
.
Malam itu tak seperti biasanya. Tak ada pertempuran Tak ada aura berwarna kontras yang diadu. Tak ada kata lemparan kata pedas yang ditukar. Seolah sempurna. Seolah segalanya melebur dalam damai dan tenteram yang nyaris tak mungkin tercipta. Namun malam itu, segalanya nyata. Meski bukan seperti malam-malam di antara lilin cantik, bunga mawar, aroma terapi mengundang gairah, alunan musik lembut penuh romansa, serta dua porsi jamuan lengkap dari hidangan pembuka sampai manisan penutup. Bukan pula seperti malam penuh cumbu dan gerak tubuh naik-turun seirama yang ingin saling mendominasi di antara peluh dan tarikan napas menderu.
Sederhana yang membuat segalanya terasa sempurna.
Malam itu, Suoh Mikoto bergelung dalam tidurnya. Kepala terbaring nyaman di pangkuan Munakata Reishi. Tanpa mengacuhkan apa yang tengah dilakukan pria itu di atas kepalanya; mungkin menerawang berlembar-lembar kertas seperti biasa atau menekan layar PDA untuk menuliskan instruksi pada para bawahannya. Mikoto tidak peduli. Yang ingin ia rasakan hanyalah momen itu. Saat di mana wangi sabun segar mampir hingga pangkal hidungnya. Saat di mana suhu tubuh Munakata Reishi yang menguar dari balik yukata biru muda itu terasa selaras menyejukkan kulitnya yang membara. Menenangkan kobar di setiap sendinya yang tak mengenal kata lelah. Menahan percik dalam nadi yang tak bisa ia kendalikan, yang kerap berakhir membuatnya membakar benda-benda di sekeliling dalam tidurnya.
Bersama Munakata Reishi saat itu, Mikoto mengecap rasa surga. Tenteram yang menjaganya. Aman yang tidak perlu binasa di tangannya. Damai yang tidak berniat mengkhianatinya.
Kemudian satu telapak tangan bergerak turun. Menyentuh kepalanya. Jemari yang menyisir surai-surai merahnya yang tak lagi tertarik ke belakang, yang kini mencuat berantakan melupakan gravitasi. Seolah membagi gelisahnya yang tetap tidak segan meninggalkan benaknya. Seolah menjawab setiap kata yang bernaung dalam otaknya meski tanpa suara. Seolah tengah berkompromi dengan detak jantungnya yang semakin melupakan hentak beraturannya.
Seolah meyakinkannya bahwa semua itu bukanlah mimpi. Bahwa malam itu nyata adanya. Hadir di antara keduanya. Tercipta untuk mereka bedua.
Mikoto bergerak. Menghembus napas. Menyesap leganya yang menyapa. Menarik dirinya lebih dekat. Berusaha semakin menihilkan jarak. Sementara dengus tertahan yang menyambutnya, melayangkan imajinya pada lengkung senyum di wajah Reishi yang sontak tertarik saat itu. Serta tangan yang sama yang tetap menjaganya. Sejuk yang tidak menahan jaraknya, meski tidak pula memintanya meniadakan jarak tersebut.
.
The distance between us won't ever be fulfilled
It tears my heart every time it shrinks
.
"Suoh."
Jenggutan halus namun jenaka di antara surainya. Mikoto mendengung rendah. Memberi tanda pada pria itu bahwa ia mendengarkan dan memperhatikan meski tanpa membuka matanya dan tak perlu tubuhnya bergelung, balik menghadap menatap Reishi di atasnya. Dan Mikoto tahu, Reishi mengerti.
Ia tahu ada senyum manis bermain di wajah itu.
"Pernahkah kau mendengar kisah tentang nyanyian lima puluh dua hertz seekor ikan paus?"
Mikoto mendengus geli. Ah, satu lagi topik obrolan acak yang lain. Tema pembicaraan yang juga menjadi salah satu kegemaran Reishi untuk mengisi kekosongan kata di antara keduanya. Informasi yang tanpa aba-aba Reishi tumpahkan padanya. Tentang dunia. Tentang alam. Tentang perang. Filosofi. Atau hanya sekedar lelucon yang berakhir sinis dan sarkas. Seakan Reishi tidak pernah membiarkan Mikoto larut dalam senyap yang memanjakannya. Reishi akan selalu berbicara. Reishi akan selalu mengajaknya berpikir atau sekedar menanggapi tanpa makna. Pria itu baru akan berhenti apabila dirinya benar-benar telah terbuai di alam mimpi. Dan selalu, Mikoto akan mengikuti arus itu. Membiarkan dirinya terhibur oleh segala permainan yang diberikan Reishi.
Dan kali ini, temanya adalah mengenai seekor ikan paus? Mikoto lantas menarik sudut bibirnya. Setipis mungkin untuk Reishi temukan.
"Aku tidak tahu. Beritahu aku."
"Otakmu yang kosong tanpa pengetahuan umum itu tidak pernah berhenti membuatku kagum, Suoh." Suara di atas kepalanya itu menjawab. Terdengar pedas, namun Mikoto tetap membayangkan senyum yang sama lembutnya belum kandas dari bibir Reishi. Pria itu lantas melanjutkan ceritanya.
"Kau tahu bahwa ikan paus berkomunikasi dalam dengung suara yang menyerupai nyanyian, bukan? Dalam nyanyian itu mereka memanggil kawanannya. Dalam satu gelombang frekuensi tertentu, seekor paus yang terpisah dari kawanannya dapat melacak keberadaan mereka dan kembali ke tempat kawanannya. Nyanyian ini pun biasa digunakan paus dalam musim kopulasi untuk mencari dan menentukan pasangan mereka. Paus jantan akan bernyanyi, dan paus betina yang mendengarnya akan menanggapi panggilan itu, paus betina akan datang pada sang jantan untuk membangun koloni baru bersama-sama."
Jeda sejenak. Ada aura yang berubah. Atmosfer di sekitarnya yang perlahan berganti. Tetap aman, meski tidak setenteram sebelumnya. Meski sapuan dan belaian di kepalanya tidak berhenti.
"Sementara nyanyian lima puluh dua hertz ini adalah nyanyian seekor paus dalam frekuensi tersebut. Seperti paus-paus spesies yang lain, sang paus jantan bernyanyi. Ia mencari betinanya, mencari pasangan hidupnya. Namun ia tidak kunjung menemukannya. Ia tidak bisa menemukan pasangannya."
Lengkung di bibir Mikoto semakin melebar. Ia semakin penasaran dengan alur kisah yang dituturkan Reishi.
"Kenapa tidak bisa? Karena betinanya telah bersama pejantan lain?"
"Karena sang betina hanya bisa mendengar suara dengan frekuensi panjang gelombang sepuluh hingga lima belas hertz."
Mikoto membuka matanya. Degup di jantungnya yang menguat. Ada resah yang seketika mengetuk. Ada apa? Padahal Reishi hanya berbicara topik acak seperti biasanya. Namun, mengapa?
"Nyanyian lima puluh dua hertz sang paus jantan itu sampai pada betinanya, namun betina itu tidak bisa menangkap getar suaranya. Bukan berarti betina itu tuli, hanya saja nyanyian itu tidak pernah terdengar artinya. Sang betina mendengar suara lain, tapi tidak pernah ia bisa mendengar panggilan sang jantan yang mencarinya dalam keabadian. Paus jantan yang akan terus mencari tanpa bisa menemukan, dan ia akan terus bernyanyi dalam kesendiriannya. Karena itulah, nyanyian lima puluh dua hertz paus jantan itu seringkali disebut pula sebagai nyanyian jiwa hidup yang kesepian."
Gerak tangan mengelus surai-surai merah di kepalanya terhenti, meski tangan yang sama tetap bertengger. Memaksa Mikoto itu beralih, berguling hingga matanya menatap ke dalam ungu berkilau itu. Ada raut yang tidak bisa diartikan di sana. Ada senyum dan kehangatan yang ganjil di benak Mikoto. Lantas Mikoto mencari. Di antara kilat bening ungu yang menawan raganya, yang kini seolah tengah tertawan awan mendung berusaha mengaburkan segala kilau di sana. Mendesak perih menggelayut dalam dadanya.
.
The overflowing emotions just grow stronger
Oh, it's hard for me to say
.
Refleks, Mikoto mengangkat sebelah tangannya. Punggung tangannya bertemu dengan sisi wajah berkulit putih itu. Menyibak helai-helai biru tua yang menghalangi.
"Jadi, aku adalah paus jantan dan kau adalah paus betina yang tidak pernah mendengar panggilanku?"
Pria itu tertawa kecil, menyambut tangannya di pipi itu. Menautkan jemari dingin itu dengan jemarinya.
"Apakah kau memiliki nyanyian kesepian yang gagal kudengar dan kuartikan?"
"Mungkin saja. Karena dalam hal ini, frekuensi kepintaran otakku tidak selaras denganmu. Bukan begitu, Munakata?"
"Hmm. Argumen itu bisa kuterima. Mungkin kau hanya perlu berusaha mengurangi frekuensi nyanyian dari otak bebalmu itu, sebagaimana aku pun mungkin perlu untuk menurunkan frekuensi pendengaranku agar kau bisa mengejar tingkat kepintaranku."
Mikoto tidak lagi menjawab. Lengkung di bibirnya yang berubah menjadi seringai. Tangannya yang kembali bergerak. Menyelusup menangkap tengkuk mulus pria itu. Membenamkan jarinya di antara surai-surai itu. Menarik Reishi mendekat. Jarak yang tidak sabar untuk diraupnya dalam satu cumbuan. Melekat dan meminta. Memohon untuk tidak pergi. Mengharap agar waktu berhenti.
.
'Cause we, we can see how it's going to end
But I got my love for you
.
Malam itu, Mikoto mengerti rasa cinta. Manis seperti bibir yang dicumbunya. Namun juga pahit… seperti getir dalam dadanya.
.
If I could only just forget you….
.
...
Bagai nyanyian seekor paus jantan yang tidak pernah terdengar, Mikoto menyimpan rasanya dalam bungkam. Dalam seringai dan tatap tajam. Dalam perangai liar dan erang mimpi buruk. Dalam onar yang disengaja hanya untuk menyita perhatian Reishi padanya, seutuhnya. Dalam rangkaian otaknya yang seringkali mengalami korsleting akut ketika beradu argumen dengan sang pemilik Damocles Biru. Dalam gestur tubuh, tepuk pundak, maupun tonjokan di wajah. Hingga dalam kedua lengan yang berusaha merengkuh sejuk yang sama.
Mikoto menyimpannya. Seorang diri. Nyanyiannya yang tidak pernah terdengar. Kotak harta karunnya yang tidak ia biarkan dunia untuk menemukannya.
.
The more I think something like that
I know that it's not possible for me to forget you
We always wish tonight could last forever
I can be your side
.
Walau Mikoto sadar sepenuhnya. Kesempatan untuk bersama selamanya itu tidak akan pernah datang untuknya. Akhir bahagia seperti cerita-cerita dongeng di buku penuh putri, pangeran, dan peri itu tidak akan pernah tertulis untuk menutup kisah hidupnya. Cepat atau lambat, merahnya akan mengaburkan dan menghancurkan segalanya. Sementara Reishi akan ada di sana, entah untuk menghentikannya, atau ikut lebur bersamanya.
Tangan takdir yang kejam tengah mengikatnya. Membelenggu tangan dan kakinya. Dan bukan hanya dirinya, karena tali takdir yang sama pun merantai pria itu. Menyekap Reishi dalam tanggung jawab. Dalam kebenaran yang pria itu junjung tinggi melebihi segalanya. Melebihi dirinya. Suatu saat, cepat atau lambat, Mikoto akan memaksa kedua tangan itu untuk mengakhiri nyawanya. Atas kebajikan yang dipijak. Mikoto tahu, Reishi tidak akan segan untuk menghunuskan pedang ke arahnya.
.
I shouldn't be in your heart
Either the time we have spent
And I want you to know what the truth is
But sometimes it makes me feel so sick, oh no
I just can't say to you, no I won't
.
Mikoto ingin tertawa. Tidak adakah takdir lain yang lebih ironis dari ini? Tidak adakah alur kisah yang lebih dicemooh oleh nasib melebihi apa yang dibebankan pada kedua pundaknya ini?
Mikoto tahu akhir ceritanya. Tidak. Ia sendiri yang memutuskan. Dirinya sendiri yang menuliskan.
.
'Cause we, we can see how it's going to end
But I got my love for you
If I could only just forget you….
.
Sementara janjinya pada sunyi, adalah nyanyian kesepiannya yang tidak akan terdengar. Tidak akan terucap. Tidak akan pernah ditemukan. Bahkan oleh seorang Munakata Reishi sekalipun.
...
"Sebagai teman, aku hanya ingin menolongmu, Suoh."
"Heh. Aku tidak pernah tahu kalau kau memperhitungkanku sebagai temanmu."
.
Karena kau adalah setengah diriku. Bagian hidup yang melengkapiku.
.
"… tidak, Suoh. Kau tidak pernah tahu. Kau tidak pernah tahu sebagai apa aku menganggapmu."
.
Karena aku adalah paus jantan yang sendiri. Yang tidak pernah terdengar olehmu.
.
"Karena kau pun tidak pernah tahu nyanyian sepi yang sama-sama kunyanyikan dan tidak pernah terdengar olehmu, Suoh…."
...
.
Can I ever love again?
Would I be able to call that happiness from the bottom of my heart?
Yes, we always wish tonight could last forever
I can be your side
.
...
Menaiki anak-anak tangga berpelitur kayu, Mikoto menemukan Totsuka di dalam ruangan serupa kamar tidur tersebut. Pemuda itu terduduk di lantai tepat di sudut ujung ranjang, kaki terlipat dan tubuh melengkung membungkuk. Tatapan serius pada sebongkah kayu dan alat ukir di tangan. Meski ketika pemuda itu menyadari kehadirannya, Totsuka mendongak dan memanggilnya dengan wajah ceria yang seperti biasa.
"King, ayo sini! Temani aku membuat ini untuk Anna, Yata, dan Kusanagi-san!"
"Memangnya kau sedang membuat apa?"
Totsuka tersenyum lebar, memamerkan deretan gigi yang rapi. Lalu Mikoto menemukan pahatan kayu berbentuk binatang, tergeletak di samping pemuda itu. Yang satu berbentuk monster berkaki empat mungil dengan pita merah di leher—mungkin anjing, pikir Mikoto. Satunya lagi memiliki kaki dan tangan sama panjang yang berdiri dengan dua kaki… oh, Mikoto menangkap kesan bentuk monyet yang lugas dari ukiran tersebut. Sementara yang terakhir yang tengah digenggam Totsuka hanya membuat Mikoto mengangkat sebelah alis.
"Ini burung kakak tua untuk Kusanagi-san," ujar Totsuka tiba-tiba, menjawab raut wajah kebingungan yang mungkin kentara tergambar di wajah Mikoto.
"Dari mana kau mendapat barang-barang ini?"
"Ahahahaa. Kau bisa memunculkannya bahkan di telapak tanganmu selama kau menginginkannya, King! Kau tidak lupa bahwa tempat ini adalah tempat ajaib yang bisa memfasilitasi imajinasi kita menjadi segala macam benda nyata, bukan?"
Mikoto mendengus, mengulum senyum di bibirnya. Ia lalu duduk di samping Totsuka, meraih sebongkah kayu dan alat ukir lainnya yang entah bagaimana telah tersedia di dekat kakinya. "Ajari aku caranya, Totsuka."
"Boleh. King mau membuat bentuk apa?"
Terdiam sejenak memikirkan jawabannya. Hingga senyum di bibirnya yang berubah makna.
"Sepasang paus. Jantan dan betina."
.
Agar sang jantan tidak lagi kesepian.
...
.
.
.
a.n. Yap, sekian dari author hari ini. Terima kasih untuk para pembaca setia dan reviewer setia Meongaum-chan (Reishi engga mau mimpi buruk sendirian, makanya narik-narik Mikoto buat mimpi buruk yang sama kayak dia... padahal Abang Megane lupa kalau Abang Preman udah menderita mimpi buruk dari jaman kapan :') *pukpuk Abang Preman*). Sampai jumpa di chapter berikutnya~!
