Previous on

Sejak keluar dari SMA, aku dan Naruto mengambil universitas dan jurusan yang sama. Alasanku sederhana ; agar bisa menjaga Naruto demi Sasuke walaupun aku sama sekali tak berminat masuk ke dalam bidang yang sama dengan Naruto. Sasuke sendiri berkuliah di New York. Menyerahkan Naruto padaku. Padahal mereka baru saja 9 bulan pacaran. Sungguh ironis bagi mereka dan bagi diriku sendiri.

Sekarang aku bekerja sebagai editor di sebuah penerbit komik bersama Naruto. Jujur saja, aku sangat tidak menikmati pekerjaanku. Sejak pertama kali membalut luka Sasuke, aku pikir aku akan menjadi dokter anak. Tetapi lagi-lagi tidak seperti yang dipikirkan. Semua jalan hidupku teralih karena seorang laki-laki yang dunianya tidak akan teralih padaku seberapapun aku mengabdi padanya, Uchiha Sasuke.

.

Selama Sasuke pergi, aku memiliki banyak perubahan. Lebih dari itu, aku senang sekarang aku bisa lebih mudah berteman ketimbang di masa-masa sekolah.

.

"hei, kau baik-baik saja 'kan?" tanyaku mulai khawatir. Ku acuhkan minuman-minuman kaleng di atas meja, beralih pada Naruto yang sejak tadi memunggungiku. Ku raih pundaknya dan ku rasakan getaran kecil. Aku mulai ragu dengan tindakanku selanjutnya. Ini pasti pertanda buruk. Atmosfer di sekitarku berubah.

"ya, aku baik-baik saja." Katanya sendu dengan suara kecil. Saat ku tarik pundaknya, dia memberiku wajah yang tak aku inginkan. Wajah yang beberapa menit yang lalu menyambut kedatanganku dengan sangat hangat meskipun dalam keadaan sakit.

.

.

"Aku akan mengerti seberapa berharganya seseorang ketika dia tak lagi ada di sisiku."

Aku tahu itu kalimat basi,

Tapi aku suka.

.

.

Menangislah Untuk Tersenyum

.

.

Chapter 3

I Hate Whenever I Get Tired

~Kohan44~

.

.

.

Naruto tetap tak bergeming. Tangisnya makin meledak dan aku nyaris tak berani melontarkan pertanyaan. "hei, katakan padaku…" kataku akhirnya sembari membingkai pipi Naruto dengan kedua telapak tangan. "bukankah kita teman?"

Beberapa saat kami saling bertukar pandang. Mata Naruto bengkak. Ku tebak, ini bukan pertama kalinya dia menangis. Jujur, aku tidak yakin dengan ketegasanku sendiri. Apakah aku benar-benar ingin mendengar keluhan/masalah Naruto lalu memberinya beberapa saran? Oh Tuhan… aku terlalu lelah.

"Sasuke…" katanya setengah berbisik.

"Ada apa dengan dia?" tanyaku sigap.

Aku selalu ingin mendengar cerita apapun tentang Sasuke, tetapi seiring berjalannya waktu, kini tak seperti itu lagi. Mungkin ini adalah puncak. Aku terlalu lelah menjadi orang bodoh. Ya, aku akan mematahkan janjiku sendiri. Janji yang ku kira akan menjadi janji seumur hidup. Aku tak akan lagi menjaga Naruto demi Sasuke. Sasuke tidak akan memberikan penghargaan sedikitpun padaku. Aku punya jalan hidupku sendiri.

Dua tahun belakangan ini, Naruto tidak pernah bercerita apa-apa tentang Sasuke. Pernah ku coba memancing Naruto untuk bercerita, tapi nampaknya dia memang tidak ingin. Sejauh yang ku lihat, tidak ada masalah serius diantara mereka. Hari ini menjelaskan bahwa ada masalah besar. Hanya cukup satu hari untuk dua tahun.

"kalau punya masalah, jangan dipendam. Sekarang jadi menumpuk dan meledak, kan?"

"tidak.." jawabnya bersikukuh, masih terisak-isak. "aku baik-baik saja. Hiks… aku hanya tak habis pikir hiks, kau bisa lebih baik dariku hiks.. hiks… aku terlihat seperti perempuan dibanding kau! Hiks.. hiks.. haa.. haa… ahaahaa…"

Naruto tertawa hampa. Tawa yang benci ku dengar. "berhenti tertawa." Perintahku dingin. "jika kau ingin menangis, menangislah… kau perlu membebaskan yang ada di hatimu…"

Kalimat ini… jika aku sedang sendiri sekarang, maka aku ingin menangis juga. Mengingat masa lalu, betapa menyedihkannya aku. Betapa Sai satu-satunya yang mengerti dan aku sia-siakan. Aku tetap menjadi orang bodoh gara-gara Uchiha Sasuke. Aku baru menyadari seberapa berharganya Sai setelah dia tak lagi ada di sisiku.

"Kau tidak ingin mendengar keluhanku tentang Sasuke? Iya kan?"

Aku menghela nafas berat. Hatiku cukup bergetar mendengarnya. Bagaimanapun juga, aku tak pernah mencoba menjadi teman yang buruk. Selelah apapun aku, aku tetap ingin menjadi seseorang yang berguna untuk teman.

"aku hanya… aku.. tidak ingin membuatmu terlarut-larut dalam tangis."

"begitu kah?"

"hn,"

Hening. Naruto tak terdengar lagi menangis. Aku kembali ke posisi awal, menghadap meja dan sejumlah minuman kaleng. Ku lepas kacamata lalu ku tekan-tekan bekas pijakan kacamata diantara dua mata. Kapan aku bisa tidur?

"kenapa kau tidak membenciku, Karin?"

Ku buka salah satu minuman lalu ku teguk tanpa bisa ku nikmati. Semuanya ku telan dalam satu waktu.

"ahh…" aku bernafas lega seiring karbon yang keluar dari kaleng dan mulutku. Mesin fax berbunyi. Mesin cetaknya berkerja cepat. Lembar demi lembar kertas terdengar bergesekan satu sama lain. Dengan enggan aku berdiri menghampiri. Melewati Naruto seolah Naruto tak mengatakan apapun.

"membenci? Untuk alasan apa?"

"aku membuatmu repot. Seharusnya aku lah yang menjagamu sebagai laki-laki."

Beberapa saat aku diam, membuka-buka lembaran storyboard yang baru saja ku dapatkan. Mataku tertuju pada kertas-kertas ini sementara pikiranku kosong. Jari-jari lemah membuka lembar demi lembar. Lima.. delapan.. sepuluh.. dua belas.. kertas belum berhenti keluar dan mesin fax terus mencetak. Kapan aku bisa tidur? Kapan? Kapan? Kapan ketenangan datang? Kapan-kapan?

"atau…" lanjut Naruto. "dengan alasan aku pacar Uchiha Sasuke."

Jari-jari putihku berhenti bergerak. Percakapan ini mengarah kepada hal yang saat ini tak ingin aku bahas. "kenapa kau tidak pergi ke dapur lalu siapkan makanan untukku, huh?" kataku mengalihkan.

"kau menyukai Sasuke juga kan?"

Srakk.. kertas-kertas di tanganku terbang bebas. Berjatuhan dengan lemah gemulai. Menimbulkan nada tenang yang sempat membuatku iri karena ketenangannya. Tetapi suara gaduh mesin fax menyadarkanku pada kenyataan hidup.

"sejak kapan kau mengetahuinya?"

"che! Ku pikir kau akan menyangkal."

"sejak kapan?" tanyaku mengulangi.

"sejak pertama kita berdua bertemu dengan Sasuke bebarengan, sejak surat pertamaku."

Lagi-lagi aku diam, dan mesin fax berhenti bergerak. Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus ku lakukan. Selain lelah oleh pekerjaan, aku juga lelah membenahi hatiku. Membereskannya dari gejolak-gejolak perasaan macam ini. Semua ini gara-gara Uchiha Sasuke…

Ku ambil lembar per lembar kertas yang berserakan di lantai. Tak habis pikir, author tersebut mematuhi perintah setelah ku caci. Ada baiknya juga kata-kata kasar itu. Aku harus melaporkan ini pada Shikamaru.

"jadi, apa jawabanmu, Karin? Jangan pura-pura tidak mendengar."

"aku ingin kau menjawab pertanyaanku lebih dulu, apa inti permasalahan dari semua ini? …Bukankah cukup bagimu mendapatkan hati Sasuke?"

"bukan itu.."

Ini perdebatan kecil yang sangat tenang. Dimana tak ada nada tinggi dan bentakan. Namun, luka yang ditimbulkannya jauh lebih menyakitkan dari perdebatan dengan nada tinggi. Kelembutan suara ini… yang tenang itu yang berbahaya.

"bukan itu masalahnya. Mungkin kau tidak menyadari bahwa selama ini aku berusaha tidak melukaimu. Meskipun aku tahu, yang ku lakukan adalah sia-sia."

"Naruto… jangan kau ungkit-ungkit masa lalu. Aku ingin bebas… aku ingin hidup tanpa ingatan tentang Uchiha Sasuke."

"kau berkata begitu, tetapi kau masih merawatku seolah-olah Sasuke akan memberikanmu perhatian. Aku tahu… aku tahu jauh di dalam hatimu, kau masih mengharapkan Sasuke, iya kan?"

"Ku mohon… Naruto.."

"Karin," panggilnya lembut. Tanpa disangka-sangka, dia berada dekat di belakangku. Sangat dekat sampai aku bisa merasakan suhu tubuhnya. "meskipun ini permintaan yang egois, aku mohon… berjanjilah padaku, Jika Sasuke pulang nanti, tunjukan padanya betapa kau mencintainya dan jangan pernah kau hiraukan aku. Jangan pernah kau fikirkan tentang aku. Paham?"

"apakah itu kalimat perpisahan?"

Naruto tak menjawab. Tangannya yang melingkar di sekitar perutku mengendur. Tangan yang entah sejak kapan berada di situ. Dengan gerakan lembutnya, dia memberiku sebuah kegundahan. Ini kegalauan yang jelas sekali aku benci.

"makanannya di meja dapur. Sudah siap. Oyasumi, Karin.." katanya sambil berlalu pergi, menyimpan celemek di sofa dan seolah tanpa beban pergi meninggalkan apartementku. Apa maksud dari semua ini? Ahh…aku terlalu lelah untuk memikirkannya.

.

.

It's gonna make me crazy…

.

.

Jam alarm berdering nyaring. Seperti biasa aku menghentikan kebisingannya dengan cara yang tak terduga, antara dibanting, ditenggelamkan ke dalam bantal, membuangnya ke tong sampah, atau melemparnya keluar jendela. Setelah suara alarm lenyap, kebisingan tak berhenti sampai di situ saja. Ciakan anak-anak burung di pinggir jendela membuatku berfikir untuk mengambil senapan, lalu memasak sarapan pagi dengan daging anak burung.

Sadar kebisingan ini tidak akan berhenti sebelum aku bertindak, akhirnya ku ambil jam alarm yang berdering (untuk yang kedua kalinya) di atas meja. Membuka jendela apartemen yang langsung menghubungkan ke dunia luar. Tanpa basa-basi, ku lempar jam tersebut tepat ke sarang burung. Nyaris saja sarang tersebut jatuh.

"BAJINGAN!" gerutuku tanpa peduli tatapan horror dari dua anak pelajar di bawah sana.

Setelah ku tutup tirai rapat-rapat, aku kembali berbaring di atas kasur. Aku baru tidur selama 15 menit. Semalaman aku mengedit dua storyboard. Itu bukan pekerjaan yang enteng yang bisa dilakukan dalam hitungan menit saja. Aku harus memposisikan gambar, balon dialog, dan alur cerita agar pembaca dapat mengerti dengan mudah. Selain itu, aku juga harus memiliki persetujuan dari author. Jika author tidak mau menerima perubahan yang ku buat, maka aku harus merubah dengan cara lain. Mempertimbangkan dua sisi; keinginan author dan agar pembaca dapat mengerti maksud cerita yang disampaikan author. Siapa bilang menjadi editor itu mudah?

Sepertinya hari ini aku tidak akan masuk kerja. Tumben-tumbenan juga Naruto tidak mengetuk pintuku. Biasanya dia sudah panik jika aku terlambat 3 menit dari biasanya. Ah! Aku baru ingat, mungkin masih bermasalah dengan yang semalam. Soal itu… aku belum memikirkannya lebih jauh. Siapa peduli! Aku belum istirahat dari kemarin. Setidaknya tugas kantorku telah selesai. Aku ingin tidur.

Namun demi setan yang hinggap di kedua pundakku, Tuhan sama sekali tak mengizinkanku istirahat. Ponsel yang ku kira telah ku non aktifkan, berdering nyaring. Aku tahu persis nada dering ini, sebuah dering panggilan. Shit! Siapa pula yang menelepon sepagi ini? (Di jepang, jam berangkat kerja itu sekitar jam 7 dan itu termasuk pagi bagi mereka.)

Sempat ku acuhkan, namun aku tak bisa pura-pura tak mendengar. Tanpa melihat layar ponsel, aku menolak panggilan. Menyelipkan ponsel di balik kasur dan lalu merebahkan diri senyaman mungkin. Ini yang ku inginkan sejak dari 3 hari yang lalu. Ahh… lega.

.

DUAGG! DUAGKK! DUAGK!

Aku terperanjat bangun dengan rasa kaget yang luar biasa gara-gara suara gaduh yang lebih gaduh dari alarm jam. Itu suara benturan. Apakah ada bahaya? Apakah ada kebakaran sampai seseorang mengetuk pintu sekasar itu? Tanpa berpikir panjang, aku melompat dari kasur. Berlari menuju pintu lalu… BRUKK! Aku menabrak.

"err, apa yang kau lakukan?" katanya dengan nada kesal ditahan.

"KEBAKARAN! KEBAKARAN!" Teriakku panik sembari menarik kerah baju orang yang ku tabrak. Aku berlari antara ke kiri dan ke kanan, tak tahu pastinya kemana aku harus berlari.

"Kebakaran! Kebakaran!"

"Lepaskan! Kebakaran dimana maksudmu?"

"Kebakaran! Kebakaran! Kebakaran!" aku masih berteriak panik setelah cengkramanku terhadap kerah baju lepas.

"hei,"

"kebakaran!"

"HEI!" Kali ini dia membentak dengan menahan kedua pundakku. "dimana kebakarannya?" kata-katanya penuh penekanan.

"Ke-kebak…kebakarrr…ran? Bukankah kau pemadam kebakarannya? Aku pikir kau tahu dimana kebakarannya." Jawabku polos.

"oh, damn…kenapa aku harus bertemu dengan orang bodoh." Gumamnya kurang jelas. "jangan beri tahu aku jika kau baru bangun pada jam segini."

"ee?" aku mengerut, menatap lurus-lurus kedua mata onyx dihadapanku meski sejujurnya penglihatanku tidak begitu bagus tanpa kacamata. Sepertinya mataku merah sampai dia bisa menebak begitu. "maksudmu jam segini?"

"aku berdiri di sini menunggumu dari satu jam 30 menit yang lalu!"

"ee? Eh? He? HA? HAH? AKU KESIANGAAAN!" Jeritku lebih panik dari sebelumnya. Aku berlari ke dalam apartemen. Memasukkan roti ke dalam pemanggangan. Mengambil mantel dan jas. Memakai keduanya tanpa melepas piama. Detik selanjutnya, aku panik mencari kacamata. Setelah hampir 5 menit dan pemanggang roti berdenting, akhirnya aku menemukan kacamata di atas mesin cuci. Ku ambil tas tangan dan wadah map plastik berwarna putih di atas rak sepatu. Aku memilih memakai sepatu boots agar celana piamaku tidak kelihatan. Setelah sekiranya siap, aku keluar dan lalu mengunci pintu.

"bukankah kau memanggang roti? Kenapa tidak dimakan?"

"O iya, aku lupa…" kembali aku masuk ke dalam apartemen. Menyimpan tas tangan dan wadah map di dekat rak sepatu. Tanpa membuka sepatu, aku mengambil dua buah roti yang menyembul dari pemanggangan. Ku telan bulat-bulat roti tanpa telur dan susu. Oh, sarapan yang tidak sehat. Tapi bagaimana lagi? Aku sudah benar-benar kesiangan.

Buru-buru aku berlari ke pintu keluar. Mengunci lalu berjalan tergesa-gesa menuju lift.

"bukannya tadi kau membawa tas jinjing?"

"O iya, kau benar!" aku berbalik lagi, masuk ke dalam apartemen lagi. Melewati rak sepatu lalu mengambil syal di atas kursi makan. Berjalan kebingungan mengitari ruang tv. Setelah beberapa kelliling, aku berpindah ruangan.

"hei, kau ini pura-pura bodoh atau memang bodoh?"

"Tasku! Tasku! Itu isinya proposal author pendatang baru! Itu penting! Penting!" jawabku tanpa berhenti mencari.

"seandainya saja aku bisa membantu… sayangnya aku tidak bisa membantu."

"masuklah dan bantu aku mencari!"

Beberapa langkah setelah tamu memasuki apartemen, dia berteriak nyaring "aku menemukannya!"

"apa? Benarkah? Cepat sekali!" aku berlari menuju pintu. "dimana itu?"

"di sini," tunjuknya ke rak sepatu. Namun mataku tak mengarah ke rak sepatu. Mataku tepat mengarah ke sosok yang menunjuk. Sosok yang ku rindukan. Aku pun sadar seberapa bodohnya aku gara-gara kelelahan.

"apa?" tanyanya kalem. "apa kau ingat letak kebakarannya dimana?"

"ha?"

"kau sudah sadar? Che! ohisashiburi…" ada senyuman melecehkan diantara kedua sudut bibirnya. Senyum yang dulu membuatku terluka. Kini dengan senyuman setipe, aku merasa rindu oleh masa lalu. Ada yang berbeda dengan senyuman yang sekarang.

"Sa… Sasuke?"

.

~I Hate Whenever I Get Tired~

.

"apa yang terjadi selama 6 tahun aku tidak ada di Jepang? Apakah otakmu hilang, huh?"

Aku terdiam. Ku biarkan diriku sendiri dengan tanpa sopan santun memperhatikan setiap inci yang ada di sosok di hadapanku ini. Agar aku benar-benar yakin bahwa orang ini memang Uchiha Sasuke. Jika mataku tidak salah, Sasuke sangat berbeda dari sebelumnya. Sampai-sampai aku hampir tidak mengenalinya walau pun aku sudah memakai kacamata.

"kau sendiri? Ada apa dengan jas dan dasi ini, hah? Kau sedang melucu? Haha!" ujarku setengah mengejek, setengah bercanda. Mencubit dan menarik pelan jas dan dasi Sasuke.

"hah! Aku memang sedang bercanda." Jawabnya santai dengan seringai mencandai. Dengan tenang tangan-tangannya membetulkan dasi yang ku kacaukan. Tangan-tangan itu nampak terbiasa dengan ikatan dasi yang rumit. "sebenarnya aku hanya pengamen jalanan, lalu seorang pengusaha besar memberiku jas dan dasi karena aku terlalu tampan… hahaha"

"HAHHAHA! Kau pintar bercanda ya?" seruku tanpa menahan tawa. Aku tertawa bukan karena lawakan Sasuke. Aku bisa melawak jauh lebih baik darinya. Aku tertawa karena aku merasa senang. Senang bisa melihat Sasuke lagi, dan senang Sasuke jauh lebih ramah dari sebelumnya.

"jadi, kau bekerja di depan computer seharian, huh?" tanyaku masih berkonteks bercanda setengah serius.

"tidak juga… hanya berdiam diri dengan stelan seperti ini di depan wanita-wanita kesepian.."

"aahahhaa lagi-lagi kau bercanda… hmm, aku tahu kenapa kau memilih pekerjaan seperti itu."

"kenapa?"

"karena kau bukan penyuka wanita kan?"

"hahahha ya! Ya! Karena aku penyuka perempuan…"

"penyuka laki-laki maksudku!"

"ehm," Sasuke tiba-tiba saja berdehem. Menetralkan suara dan segeralah atmosfer di sekitarku berubah. Memasuki arena serius. Benar-benar serius. "jadi, kau tinggal sendiri?"

"maksudmu tinggal di dalam apartemen atau tinggal di kota ini?"

"emm…yang mana saja yang menurutmu aku tanyakan."

"jika maksudmu tinggal di dalam apartemen, aku tinggal sendirian. Tapi aku punya tetangga yang sejak SMA menjadi temanku, dan sejak 7 tahun yang lalu menjadi… emm… itu… ehm!"

"kau tinggal bersebelahan dengan Naruto?" tanyanya tanpa basa-basi lagi.

"yaa begitulah. Aku juga satu kantor dengannya."

"kalian bekerja bersama?"

"i-iya, dan..wah!" aku berseru kaget saat melihat pergelangan tanganku, dimana sebuah arloji berwarna ungu semi merah muda bertengger manis. "aku terlambat! Terlambat! Terlambat! Oke, sampai nanti Sasuke!" Aku pun bergegas pergi menuju lift tanpa menghiraukan apapun.

"hei, Karin! Kau lupa mengunci apartemenmu!"

Demi sekantung emas, shit! Bagaimana bisa aku melupakan hal yang paling penting?

"kenapa kau tidak bolos bekerja saja untuk sehari? Kau kelihatan lelah… selain itu, memangnya ada jadwal kereta jam segini?"

Aku tertegun saat hendak melepaskan kunci dari lubang kunci. Bahkan aku lupa dengan tekad awalku untuk bolos dan tidur seharian. Erght… rasa lelah ini benar-benar membuatku hampir seperti orang gila.

"ya..ya..idemu bagus juga. Jadi sepertinya lebih baik aku tinggal di apartemen, lalu kau sendiri mau kemana? Kau tidak datang jauh-juah dari New York ke Jepang dengan tanpa tujuan 'kan?"

"sebenarnya aku ingin mengunjungi apartemen di sebelahmu, tapi…"

"kau pasti datang terlambat! Naruto sudah berangkat bekerja dari jam 7."

"tidak! Aku menunggu di sini dua jam. Dari jam 6 pagi aku berdiri!" jawabnya dengan penegasan di setiap kalimat.

"sou ka?" aku mengangguk-angguk kecil dengan mimik seolah-olah berfikir. "mungkin kau hanya kurang beruntung saja."

"kau mau masuk ke dalam?" kataku mempersilahkan. Tetapi Sasuke malah diam di ambang pintu. Maka ku ambil keputusan. "oke, terserah padamu. Aku butuh istirahat sekarang. Sampai nanti!" ku tutup pintu dan Sasuke buru-buru menahannya.

"ee, tunggu!"

"apa lagi?"

"kau tidak merindukanku setelah enam tahun berpisah, huh? Dulu kita dekat sekali sewaktu SMA."

Tanpa berfikir panjang dan waktu lama, aku segera menjawab. "ya, tentu saja aku rindu. Tapi aku ragu kau ini Sasuke asli atau bukan. Oke, sampai nanti!"

"t-tunggu! Tunggu! Tunggu!" serunya saat ku coba menutup pintu lagi. "aku benar-benar Uchiha Sasuke, ketua geng terkenal yang membubarkan gengnya demi laki-laki yang aku cintai, Namikaze Naruto. Kau percaya?"

Beberapa saat aku menatapnya tanpa arti lewat cela pintu yang hanya terbuka sedikit. "aku ingin percaya. Tapi bukan hal itu yang ku tanyakan. Bukankah dulu kita punya hubungan sangat dekat? seharusnya kau ingat hal yang lebih detail dari pada itu. Permisi, waktu tidurku tersita."

"e eh! Sebentar! Ku mohon…" kami saling berebut pintu, aku menutup dan Sasuke membuka.

"maaf, tapi aku benar-benar lelah sampai mengira kau adalah pemadam kebakaran. Lalu—"

"sebentar! Sebentar! Ku mohon, aku menunggu hari ini tiba sejak 3 tahun yang lalu. Ku mohon Karin…"

"aku takut kau hanya teroris yang pintar membuat topeng…"

"maaf. MAAF!" Katanya tegas. Sukses menghentikan pergerakanku. "aku tahu, selama ini aku jahat padamu.. aku sadar, maaf…"

Ku hela nafas panjang dan kini aku benar-benar ragu apakah yang di hadapanku ini Uchiha Sasuke asli atau bukan. Pasti otaknya terjatuh saat di bandara. Secara penampilan, Sasuke memang berubah total, bukan lagi anak geng dengan rambut di cat. Tak ku sangka kepribadiannya pun ikut berubah. Bahkan dia meminta maaf padaku!

"ada banyak hal yang terjadi selama enam tahun di New York" jelas Sasuke. "kau sendiri… sedikit berubah juga."

"tapi aku lebih suka kau yang langsung." Jawabku sembari membuka pintu lebar-lebar. "akan ku beri alamat kantor Naruto. Jadi kau bisa menemui Naruto."

"tidak usah! Tidak perlu… aku sudah menelepon ke sana. Katanya Naruto tidak ada. Malah mereka pikir dia sedang bersamamu."

"ha? Dari awal aku memang sudah curiga. Bagaimana kau bisa tahu letak apartemenku? Dan sejak kapan kau mengetahui nomor telepon kantor?"

"aku bisa membayar seribu penguntit untuk mengetahui keberadaan Naruto dan apa yang sedang dilakukannya." Sasuke sedikit menyeringai. Kedua tangannya dimasukkan ke saku celana.

"hahaha" aku tertawa lepas. "seharusnya kau cukup menyewa detektif saja. Penguntit tidak cukup pintar. Sekarang kau kehilangan dia 'kan?"

Aku ingat betul ketika pertama kali menghajar salah satu penguntit bayaran Sasuke di hadapan Naruto. Yaa…dia bukan penguntit kelas ikan teri. Dia itu 'penguntit', salah satu anggota FBI. Karena keberadaannya membuatku resah dan waktu itu aku belum tahu siapa dia, akhirnya aku menghajarnya. Sehari setelah itu, ada penguntit baru lagi. Beberapa hari kemudian, Naruto mengabariku jika mereka adalah suruhan Sasuke. Lalu aku disuruh tutup mulut oleh Naruto. Sungguh, terkadang cinta Sasuke itu mengerikan.

"che! Itu karena permintaan Naruto untuk memberi mereka waktu istirahat." Keluhnya.

Tentu saja. Setiap seminggu orang yang menguntit berganti. Tiap harinya, mereka mengawasi Naruto 24 jam penuh. Aku bahkan sampai bisa berteman dengan salah satu di antara mereka. Shino, itu nama yang dia kenalkan padaku. Entahlah apakah itu nama asli atau hanya nama samaran.

"jadi, kau tahu kemana Naruto pergi?"

Beberapa saat aku diam. Menolak kontak mata dengan Sasuke. Dari awal, aku tak berniat membantu Sasuke. Meskipun hilangnya Naruto mungkin karena kesalahanku juga. Tapi aku pikir Naruto tidak akan marah hanya karena hal kecil tadi malam. Maksudku, dia sudah dewasa. Seharusnya bisa berfikir lebih jauh lagi.

"sayangnya aku tidak tahu. Maaf, tapi aku tidak bisa membantumu." Aku kembali menutup pintu. Kali ini Sasuke tidak mencoba menahannya. Membuatku sedikit ragu untuk menutup pintu rapat-rapat. Namun, perlahan ku tutup juga.

"kau menyembunyikan Naruto dariku, hah?" katanya kencang-kencang.

Memangnya terkesan begitu ya? Argghhht… ini kan masalah mereka berdua, kenapa aku jadi ikut-ikutan terlibat? *sigh* dari awal aku yang melibatkan diri sendiri. Bodohnya lagi, aku sadar bahwa aku tak lagi mencintai Sasuke. Hanya sugesti lingkungan yang membuatku yakin bahwa aku masih mencintainya selama enam tahun ini. Kenapa aku sadar di akhir?

"dengar Sasuke, jika kau pikir ini adalah ulahku dengan motif yang pasti kau ketahui, seharusnya aku melakukan ini enam tahun yang lalu."

"kau tahu kenapa aku menyewa agen FBI?"

Aku diam.

"Itu karena Naruto berada di sisimu. Aku tidak pernah merasa Naruto dalam keadaan aman selama kau ada di sisinya."

BRUAKK! PLAKK!

Dalam satu gerakan cepat aku membuka pintu, dan sebelum aku sadar syal di leherku terjun bebas. Seolah air yang mengalir lembut dari leher merambat ke dada lalu jatuh di lantai. Telapak tanganku terasa panas dan nafasku tercekat. Tetangga sebelah yang hendak melintas di depan kami buru-buru menarik tali kekang pada anjingnya, berjalan buru-buru dengan wajah tidak enak. Mengacuhkan hewan peliharaannya yang tersiksa akibat tercekik.

"cih! Seberapa lama kau menunggu kesempatan ini tiba? Kesempatan menampar wajahku."

"lebih dari tujuh tahun yang lalu…"

"lebih dari tuj—"

"asal kau tahu saja, selama kau tidak ada, aku lah yang merawat Naruto. Kau pikir agen FBI bisa menjadi sosok ibu untuk Naruto, hah?"

"lebih dari tujuh tahun kau bilang?" katanya mengacuhkan pernyataanku. "apa-apaan maksudmu?"

"AKU MENGENALMU SEBELUM KAU MENGENALKU!"

BRUAK! Aku kembali masuk ke dalam apartemen. Tanpa berkata apa-apa lagi, ku kunci pintu dan berlari ke ranjang. Menenggelamkan wajah dalam bantal. Menutup rapat-rapat kedua telinga. Seharusnya tadi malam aku minum obat tidur, jadi di pagi hari aku tidak akan terbangun dengan mudah. Pertemuan ini pun tidak akan pernah terjadi.

.

.

To Be Continued…

.

.

LEXICON

Ohisashiburi : Long time no see

Sou ka? : oh, begitu ya?

.

Thx for reading. Hope you like my fict, and don't forget to leave some review..