.

.

3. Sakit

.

.

Setelah membaca surat itu, Hinata sangat tertekan.

Berbagai pikiran buruk muncul dan menghinggapi benaknya.

Siapakah pria itu? Apa yang dia inginkan sebenarnya? Apakah dia tahu bahwa Hinata bukanlah Hinata Hyuuga asli? Apakah dia tahu bahwa Hinata memang sengaja mengubah kisah ini? Apakah pria itu berasal dari dunia yang sama dengannya? Apa yang direncanakan pria itu dengan memberikan surat ini pada Hinata? Apakah ini adalah sebuah ancaman? Apakah pria ini memperingatkannya untuk mundur? Apakah pria itu tahu jika Sasuke memilih Hinata dan bukannya Sakura? Apakah pria itu berencana menyatukan kembali Sasuke dengan Sakura? Apakah pria itu berniat mengembalikan kisah ini sesuai alur awalnya? Apakah pria itu berencana menghabisi Hinata? Apakah pria itu juga bagian dari kisah ini?

Ugh... kepala Hinata pusing.

Surat itu telah berhasil membuat Hinata stress berat. Selama berhari-hari ia tidak bisa tidur, nafsu makannya juga menghilang. Pada akhirnya ia justru jatuh sakit. Hinata terserang demam, suhu badannya tinggi sementara sekujur tubuhnya menggigil karena merasa dingin.

Surat itu membuat Hinata tersiksa lahir batin.

Ingin sekali Hinata bercerita pada seseorang agar bebannya sedikit berkurang. Tapi pada siapa? Hinata tidak mungkin mengatakan jika dia berasal dari dunia lain serta orang-orang yang tinggal di Konoha hanyalah para tokoh dari sebuah buku novel yang pernah ia baca. Bisa-bisa ia dimasukkan ke rumah sakit jiwa!

Oleh karena itu Hinata hanya bisa menangis dan menangis. Akan tetapi semakin ia menangis, semakin kacau pula perasaannya. Tubuhnya semakin lama semakin lemah karena ia menolak makan ataupun minum obat. Jika sudah begini, semua orang menjadi khawatir, terutama Sasuke. Pria malang itu telah kehabisan cara untuk menenangkan Hinata yang hanya menangis tanpa mau mengatakan apapun.

"Katakan apa yang salah, Hinata. Katakan sehingga aku bisa menolongmu." Bujuk Sasuke untuk yang kesekian kalinya.

Hinata hanya menggeleng sambil terisak. Tubuhnya yang terbaring di atas ranjang menggigil meski ia telah memakai pakaian dan selimut tebal. Kedua matanya merah dan bengkak akibat menangis terlalu lama.

"Melihatmu seperti ini hatiku turut sakit." Bisik Sasuke sambil meletakkan tangannya di pipi Hinata yang panas dan lengket oleh air mata.

Tangis Hinata justru berubah semakin kencang. Perasaan bersalah kini membanjiri hatinya. Ia tidak bermaksud menjadi beban untuk Sasuke.

"A-aku... a-a-aku..." Hinata berusaha berbicara di sela-sela isakannya.

Sasuke menanti dengan sabar.

"A-aku... aku takut."

Sasuke mengerutkan dahinya sebagai pertanda bahwa pria itu bingung. "Apa yang kau takutkan?"

Hinata kembali menangis. Ia takut dengan banyak hal. Salah satunya adalah Hinata takut jika ia harus pergi.

"A-aku... aku tidak ingin pe-pergi."

"Hey... kau tidak akan pergi kemanapun, kau tidak perlu takut akan hal itu."

Hinata menggelengkan kepalanya. Sasuke tidak akan bisa memahami ketakutan Hinata. Sasuke tidak tahu apa yang telah Hinata lalui selama ini.

"A-aku... t-tidak... ingin mati..." Kata Hinata sambil mencengkeram selimutnya.

Mendengar itu, Sasuke dilanda kepanikan. Konsep tentang 'kematian' telah menjadi hal yang sangat pria itu takuti. Tanpa banyak berpikir lagi, pria malang itu lalu membawa istrinya ke rumah sakit.

Dokter mengatakan jika Hinata hanya demam biasa dan akan sembuh setelah beberapa hari. Sayangnya itu tidak cukup membuat Sasuke tenang. Jika hanya demam biasa lalu mengapa istrinya terlihat sangat menderita?! Pasti ada sesuatu yang salah! Dokter berusia paruh baya itu sukses mendapatkan amukan dari suami yang paranoid. Pada akhirnya Sasuke bisa ditenangkan setelah petugas keamanan datang dan menyuruhnya segera meninggalkan rumah sakit ini jika pria itu masih belum bisa menenangkan diri. Mau tidak mau Sasuke harus kembali tenang. Ia tidak ingin ditendang dari rumah sakit sementara Hinata masih berada disini.

Sebuah perasaan tidak berdaya kembali hinggap dalam diri Sasuke ketika melihat Hinata yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit.

.

.

"Kau hidup sangat nyaman disini." Kata Hanabi sambil mengamati Hinata yang sedang mengupas jeruk. Setelah tiga hari menginap di rumah sakit, bisa dibilang Hinata hampir pulih. Sebenarnya Hinata ingin pulang, sayangnya dokter menyuruhnya tinggal disini selama dua hari lagi.

"Tidak juga." Hinata lalu melirik infus yang menancap di tangannya.

Terkadang Hanabi merasa iri dengan kehidupan Hinata yang sempurna. Kakaknya memiliki suami tampan dan kaya raya yang memperlakukannya bak seorang ratu dan memberikan uang bulanan yang gendut. Itu adalah mimpi setiap perempuan!

"Apa kau mau?" Kata Hinata sambil menyodorkan jeruk yang telah dikupas pada Hanabi.

"Tidak. Kau makan saja agar cepat sembuh." Hanabi lalu mengeluarkan ponselnya yang sejak tadi terus-menerus bergetar. Hanabi ditugaskan oleh ayahnya untuk menemani Hinata karena Sasuke harus kembali bekerja hari ini. Ayahnya selalu membangga-banggakan menantunya itu setiap kali ada kesempatan. Sebelum Hanabi pergi mengunjungi Hinata, ia mendengar ayahnya sedang mengoceh tentang Sasuke yang setia mendampingi Hinata selama dua hari di rumah sakit. Ayahnya memuji-muji menantunya yang dianggap memiliki hati bak malaikat.

"Hanabi, bisakah kau ambilkan tempat sampah?"

Hanabi lalu melirik setumpuk kulit jeruk yang berhasil dikupas Hinata. "Astaga, kau sudah menghabiskan sekeranjang buah jeruk?!"

Hinata tersenyum riang. "Jeruknya manis, aku tidak bisa berhenti memakannya. Sasuke sangat pintar memilih mana buah jeruk yang manis."

Hanabi lalu mengambil tempat sampah dan memunguti kulit jeruk yang menggunung. Dalam hatinya, Hanabi bertanya-tanya sebenarnya apa yang telah dilakukan Hinata pada Sasuke hingga berhasil membuat pria Uchiha itu menjadi seorang budak cinta.

Hanabi sangat menyayangi Hinata, itu adalah fakta. Namun Hanabi juga tahu kakaknya ini bukanlah wanita yang sempurna. Hinata memiliki banyak kekurangan yang bahkan membuat ayahnya geleng-geleng kepala setiap kali mengenang sosok Hinata. Bagaimana bisa kakaknya yang pemalu, aneh, kikuk, lamban, dan berpenampilan culun ini menarik perhatian pria sekelas Sasuke Uchiha?! Apakah kakaknya memakai jimat, menjalankan ritual, atau membaca mantera guna-guna? Jika iya, Hanabi ingin sekali mempelajarinya agar bisa menggaet pria tampan dan kaya untuk ia jadikan pacar.

"Nee-chan?" Panggil Hanabi sambil meletakkan tempat sampah ke ujung ruangan.

"Ya?"

"Ah... um... mau kuambilkan minum?"

Hanabi membatalkan niatnya untuk bertanya ketika ia melihat sepasang mata jernih Hinata yang terlihat lugu dan manis. Hinata tidak mungkin mempelajari ilmu magis... kan? Mungkin keajaiban bukanlah sesuatu yang mustahil.

"Boleh." Hinata lalu menerima sebotol air mineral yang disodorkan Hanabi. "Terima kasih."

Setelah minum beberapa teguk, Hinata lalu meletakkan botol minumnya ke atas meja yang sengaja diletakkan di samping ranjang. Kini ia menyambar buku novel yang dibawakan Sasuke agar Hinata tidak merasa bosan ketika berada di kamar rumah sakit. Sasuke benar-benar pengertian.

Baru tiga lembar membaca, ia dikejutkan oleh suara pekikan Hanabi.

"Oh astaga! Ada diskon besar-besaran hari ini di butik favoritku!" Gadis berambut cokelat itu lalu menghampiri Hinata. "Nee-chan, kumohon ijinkan aku pergi. Ini adalah situasi yang genting. Aku tidak akan lama kok, mungkin hanya 30 menit saja. Kumohon~"

Hinata mengerjapkan matanya. "Oke."

"Terima kasih!" Setelah mengatakan itu, Hanabi menyambar tasnya dan langsung pergi meninggalkan Hinata.

Dan kini Hinata sendirian.

Hinata menggaruk-garuk pipinya. Selama dua hari ini ia tidak pernah sendirian, Sasuke selalu ada untuk menemaninya. Sayang sekali suaminya itu harus kembali bekerja hari ini dan tidak bisa melanjutkan menemani Hinata.

Ah, berada di kamar rumah sakit sendirian membuat Hinata bosan. Ia lalu memutuskan pergi berjalan-jalan sebentar. Sebenarnya tubuhnya sudah sehat, hanya saja masih sedikit lemas. Hinata berjalan perlahan menyusuri lorong rumah sakit sambil membawa tiang infus.

Di sepanjang perjalanannya Hinata berpapasan dengan para dokter dan perawat yang mondar-mandir. Ia juga berjumpa dengan para pasien dan orang-orang yang datang menjenguk. Sejujurnya Hinata dulu sangat benci dengan yang namanya rumah sakit. Bukannya ia merasa trauma atau apapun itu, Hinata hanya tidak ingin membayangkan berbaring sendirian di kamar rumah sakit tanpa ada keluarga yang menemani atau mengkhawatirkan keadaannya. Setiap kali ia berada di rumah sakit, ia selalu dilanda iri dan cemburu ketika melihat cinta dan perhatian yang dilimpahkan kepada si pasien dari keluarganya. Ia juga menginginkan itu.

Hinata lalu menggelengkan kepalanya perlahan untuk mengusir memori lamanya. Kini ia bukanlah seorang gadis kecil miskin yang tidak memiliki keluarga. Kini ia adalah Hinata Hyuuga, ah bukan, kini ia adalah Hinata Uchiha yang memiliki hal yang selalu ia idam-idamkan dulu.

Hinata lalu melirik cincin yang ia kenakan. Setiap kali terbangun di pagi hari, hal pertama yang ia lakukan adalah mengucapkan syukur karena telah diberikan kesempatan menjalani kehidupan di dunia ini. Ia memiliki ayah, kakak, adik, keluarga besar, kerabat, teman-teman, suami...

Hinata lalu tersenyum. Tidak masalah jika Sasuke tidak pernah mengatakan perasaannya pada Hinata. Semua yang ia miliki saat ini sudah cukup. Hinata merasa bahagia dengan keadaan ini. Toh, apa gunanya sebuah kalimat cinta, bukankah yang terpenting adalah sikap dan tindakan yang ditunjukkan? Mungkin Sasuke bukanlah pria yang ahli mengumbar rayuan, akan tetapi Hinata tahu Sasuke sangat tulus dalam memberikan perhatiannya pada Hinata.

Langkahnya terhenti ketika ia melihat sosok pasien yang sedang berjalan-jalan seperti yang Hinata lakukan.

"Naruto." Panggil Hinata dengan setengah tidak percaya. Naruto sakit dan dirawat di rumah sakit ini? Mengapa Sasuke tidak mengatakan apapun?

.

.

"Aku tidak tahu jika kau juga dirawat disini. Kau sakit apa?" Tanya Hinata sambil mengamati Naruto yang duduk di sampingnya. Tubuh Naruto terlihat lemas dan raut wajahnya sedikit pucat.

"Demam."

Huh? Mengapa bisa sama seperti Hinata?

"A-apakah k-kau sakit karena mengalami stress akibat memikirkan tentang perjodohanmu?" Apakah Naruto jatuh sakit karena mengalami tekanan akibat terlalu banyak berpikir, sama seperti yang menimpa Hinata?

"Bisakah kau menjaga rahasia yang akan kukatakan ini?" Tanya Naruto sambil memasang ekspresi wajah serius.

"Ra-rahasia apa?"

"Aku sengaja membuat diriku jatuh sakit agar Kaa-san membatalkan perjodohanku." Naruto lalu memicingkan matanya. "Awas jika kau mengadu."

"A-aku tidak akan mengadu. Um... bi-bisakah kau ceritakan dengan detail mengenai apa yang sedang terjadi padamu?"

Naruto kemudian bercerita panjang lebar. Pemuda berambut kuning itu mengatakan ia sengaja membuat dirinya sakit agar Kushina mau membatalkan perjodohan yang sedang berlangsung. Naruto ingin menciptakan kesan jika seolah-olah ia jatuh sakit karena merasa tertekan dengan perjodohan ini. Naruto berharap agar Minato mau membujuk Kushina untuk membatalkan perjodohan setelah melihat penderitaan yang dialami Naruto. Bagaimanapun juga Naruto adalah putera satu-satunya Minato, jika sampai hal buruk menimpa Naruto, maka Minato pasti tidak akan diam saja.

"Kau pikir rencanamu ini akan berhasil?" Tanya Hinata.

"Tentu saja."

"Aku penasaran, cara apa yang kau lakukan untuk membuat dirimu jatuh sakit?"

"Berendam dengan perut lapar di bathtub yang berisi air es selama sepuluh kali sehari."

"...serius?"

"Yep."

"Mengapa kau begitu menentang perjodohan ini?" Sebenarnya seburuk apa wanita yang disodorkan Kushina pada Naruto? Bahkan Naruto rela jatuh sakit hanya demi menghindarinya.

"Karena aku masih belum menyerah untuk mendapatkan Sakura."

Hinata mengigit bibirnya. Entah mengapa muncul setitik rasa iba di hati Hinata untuk si kuning ini. "Sampai kapan kau akan berlari mengejarnya?" Tidak mungkin Naruto akan berlari mengejar Sakura selamanya... kan?

"Tiga bulan."

"Huh?"

"Aku memutuskan untuk membuat Sakura jatuh cinta padaku dalam jangka waktu tiga bulan, jika aku gagal... maka aku akan mengakhiri pengejaranku ini dan mulai mencari wanita lain untuk kunikahi. Aku bukan anak remaja lagi, sudah saatnya aku memikirkan mengenai rumah tangga."

Bola mata Hinata membulat. Naruto telah mengambil sebuah ketegasan!

Naruto menghela nafas berat. "Asal kau tahu, misi ini sangat sulit. Sakura masih mencintai Sasuke..."

"Eh? Ta-tapi Sakura mengatakan jika ia telah mundur."

"Menyerah bukan berarti bisa berhenti mencintai..."

Sakura masih mencintai Sasuke...

Apakah ini berarti Sakura bisa kembali menjadi orang ketiga antara Sasuke dan Hinata?! Tidak! Itu tidak boleh terjadi! Sakura harus bersama Naruto!

"Aku akan membantumu mendapatkan Sakura!" Kata Hinata dengan penuh semangat.

"Aku tidak mau dibantu olehmu."

Hinata mengerutkan dahinya. "Mengapa? Dulu kau pernah memohon padaku untuk membantumu membatalkan perjodohan yang diatur Kushina-san." Yah... meski akhirnya Hinata menolak.

"Aku tahu kau pasti memiliki niat tersembunyi. Seseorang sepertimu tidak mungkin membantu orang lain dengan cuma-cuma."

"Hey! Perkataanmu jahat sekali!" Teriak Hinata dengan tersinggung. Hinata lalu menuding bola matanya sendiri. "Tatap mataku! Lihatlah ketulusan yang terpancar disana. Aku benar-benar tulus ingin membantumu."

Naruto hanya mendengus sambil memalingkan wajahnya.

Tunggu dulu, perkataan Naruto ada benarnya. Hinata rela membantu Naruto karena ingin menjauhkan Sakura dari Sasuke. Apakah ini artinya Hinata tidak tulus? Hinata lalu menggaruk-garuk tengkuknya dengan perasaan canggung.

"Jika boleh aku tahu, apa yang akan kau lakukan untuk mendapatkan hati Sakura?" Tanya Hinata perlahan.

"Entahlah, aku juga masih bingung. Aku telah menyatakan perasaanku, tapi ternyata tidak ada hasilnya."

"Eh? Kapan kau menyatakan perasaanmu?"

"Sejak berbulan-bulan lalu. Aku memberinya surat cinta yang berisi curahan perasaanku yang terdalam, sayang sekali itu masih belum cukup.."

Sungguh malang nasib Naruto...

Naruto lalu tertawa kecil. "Aku tidak ahli dalam urusan asmara. Aku pernah beberapa kali berpacaran-"

"Kau pernah berpacaran?!" Potong Hinata dengan tidak percaya. Ia menyangka Naruto tidak pernah berpacaran sekalipun.

"Tentu saja aku pernah! Aku adalah pria normal yang tampan dan kaya raya, dikelilingi wanita cantik dan seksi bisa membuatku tergoda."

"K-kau ju-juga pernah ti-ti-ti-tidur de-dengan wa-wanita?"

"Sudah kubilang aku ini masih normal! Apa salahnya jika aku melakukan itu hah?!"

"Ta-tapi k-kau selalu mencintai Sakura!"

"Lalu kenapa?! Seks bisa dilakukan meski tanpa cinta."

"Aku tahu!" Teriak Hinata dengan pipi memerah. "A-aku hanya ti-tidak bisa membayangkan kau bersama wanita lain selain Sakura!"

"Aku bukan budak cinta!" Teriak Naruto dengan kesal.

"Aku tidak mengatakan itu!" Balas Hinata.

Keduanya kini membuang muka.

"U-um... bi-bisakah kau me-melanjutkan ceritamu?" Tanya Hinata dengan malu-malu.

Naruto menghela nafas berat. "Seperti yang telah kukatakan tadi, aku tidak ahli dalam urusan asmara. Aku memang pernah beberapa kali berpacaran namun aku tidak tahu hal-hal yang harus dilakukan oleh seorang pria untuk mengambil hati pasangannya."

"A-apakah itu yang membuatmu selalu putus dari pacar-pacarmu?"

Naruto tertawa. "Bukan. Singkatnya adalah semua wanita yang kupacari itu adalah wanita matre. Selama aku memberikan apa yang mereka mau maka kami akan terus 'berpacaran'."

"Kau benar-benar malang..." kata Hinata dengan iba. Ternyata Naruto sangat menyedihkan, dia hanya dimanfaatkan oleh para wanita matre.

"Jangan mengasihaniku! Justru aku yang mencampakkan mereka!"

"Oke, oke, terserah apa katamu."

Naruto mengusap-usap wajahnya dengan gusar. "Kembali ke cerita, bisa dibilang aku tidak tahu mengenai hal-hal yang berbau romantis." Kini Naruto melirik Hinata. "Aku mengikuti saranmu dan menyaksikan film dan drama romantis, namun itu justru membuatku semakin bingung."

"Sudah kubilang kau membutuhkan bantuanku." Kata Hinata dengan bersungguh-sungguh.

"Memangnya kau memiliki ide?"

Hinata berpikir sebentar. "Kurasa ada... apa kau mau mendengarnya?"

.

.

Hinata tidak tahu sudah berapa lama waktu yang ia habiskan bersama Naruto. Yang jelas, ketika ia kembali lagi ke kamarnya, nampak sosok Sasuke yang berwajah masam dan Hanabi yang terlihat bersalah.

Uh-oh... sepertinya Sasuke sedang memarahi Hanabi...

Melihat kedatangan Hinata, dua orang itu lalu menoleh ke arahnya.

"Nee-chan!" Teriak Hanabi sambil menghampiri Hinata. "Kau darimana saja?!" Kini Hanabi berbisik. "Aku sudah mencari nee-chan kemana-mana tapi tidak ketemu, dan sekarang suamimu mengamuk padaku karena membiarkanmu berkeliaran saat sedang sakit."

Hinata mengatupkan bibirnya. Berkeliaran? Tidak bisakah Hanabi memakai kata-kata yang jauh lebih enak didengar? Misalnya jalan-jalan, mencari udara segar, atau mencari hiburan.

"Nee-chan harus kembali berbaring." Hanabi lalu menyeret Hinata ke ranjang.

"Um... maaf telah membuat kalian khawatir." Kata Hinata sambil mendudukkan dirinya di ranjang.

Sasuke masih berwajah masam. "Dokter menyuruhmu untuk banyak beristirahat agar kau cepat sembuh."

"A-aku su-sudah sembuh."

"Nee-chan sudah sehat kok." Imbuh Hanabi.

Sasuke lalu mengeluarkan ponselnya dan mulai mengetik sesuatu. "Sepertinya aku akan memberitahu ayah mengenai tindakanmu hari ini, Hanabi. Ucapkan selamat tinggal pada kartu kreditmu."

Hanabi terkesiap. "Jangan memberitahu Otou-san! Kumohon! Aku sudah menyesali perbuatanku. Kumohon jangan mengadukanku pada Otou-san." Kata Hanabi sambil memasang wajah memelas.

"Ups, aku sudah mengiriminya pesan. Maaf." Ujar Sasuke sambil menyeringai jahat.

"Kau! Aargh!" Hanabi lalu menyambar tasnya dan berlari pergi meninggalkan kamar.

"Um... hati-hati di jalan." Gumam Hinata sambil memandangi pintu yang kini tertutup. Hanabi pergi begitu saja tanpa berpamitan dengannya?!

Dan sekarang...

"Ehehehe... maaf." Kata Hinata sambil memandangi raut wajah Sasuke yang terlihat garang.

"Kau membuatku panik saat melihat kamar ini kosong."

Hinata menundukkan wajahnya. "A-aku minta maaf." Ujarnya dengan penuh penyesalan. Hinata hanya berniat untuk jalan-jalan sebentar, ia tidak bermaksud membuat Sasuke panik atau khawatir. "Ku-kupikir k-kau baru pulang bekerja saat malam."

Sasuke menghela nafas. "Bagaimana bisa aku pulang malam? Seharian ini aku tidak fokus bekerja karena memikirkanmu yang tengah berada di rumah sakit."

"Maaf..."

"Sudahlah, lupakan saja." Sasuke lalu menyerahkan bungkusan yang ia bawa pada Hinata. "Cinnamon rolls kesukaanmu."

"Te-terima kasih." Ujar Hinata dengan wajah berseri-seri. "Jeruk yang kau belikan kemarin sudah habis."

"...kau benar-benar rakus."

"A-aku tidak rakus!"

"Hinata, kau menghabiskan sekeranjang jeruk. Itu namanya rakus."

"Terserah." Kata Hinata sambil memakan cinnamon rolls. Mmm... enak. Ia berhenti mengunyah ketika Sasuke mencium pucuk kepalanya dengan perlahan.

"Jangan sakit lagi." Ujar pria itu perlahan sambil menyatukan kedua dahi mereka. "Aku benci melihatmu sakit."

Dengan susah payah Hinata akhirnya bisa menelan cinnamon rolls di mulutnya. Tenggorokannya tercekat sedangkan matanya memerah. Sasuke terdengar... rapuh.

"O-oke..." Bisik Hinata.

Dan ketika bibir mereka menyatu, Hinata merasa jiwanya telah sempurna.

.

.

Jangan lupa tinggalkan review^^