"Permisi ... Ada apa? Kenapa ramai sekali?" tanya Kyuhyun pada orang-orang yang berada di sisi jalan. Sedangkan Jongwoon hanya memutar kedua bola matanya, 'Paling hanya pertunjukan topeng monyet.'
Belum sempat pertanyaan Kyuhyun terjawab, sebuah isakan terdengar dari kerumunan itu, "Aku mohon ... Siapapun tolong aku." terdengar teriakan dari tengah kerumunan orang tersebut disertai dengan isakan.
Deg
'Suara itu ...'
.
.
.
.
.
Title: My Admirer and His brother
Rated: K
Cast: Kim JongWoon,
Kim RyeoWook,
Other Cast
Disclaimer : YeWook saling memiliki ~('-'~) (~'-')~ gak terima? Silahkan klik tanda silang di pojok kiri atas^^
Warning : Boys Love, OOC, typo.
Halooo reader *tebar bias* ff ini saya dedikasikan untuk seluruh YWS (YeWook Shipper) semoga bisa ff ini bisa diterima oleh kalian semua^^
NO BASHING or FLAME
DON'T LIKE, DON'T READ!
Lah ngeyel?
Bruagh ... Tuiiiinggggg *tendang bareng ddangko brothers*
Masih gak ngerti?
*ambil wand* Avada Kedavra~ *ketawa puas bareng aunty Bellatrix*
#shyshycat Happy reading ~^^ *bow
.
.
.
.
'Suara itu'
"Aku mohon ... Siapapun tolong bantu hyung-ku" kembali terdengar teriakan dari namja tenor tersebut. Tetap terisak. Memeluk erat tubuh yang berlumuran darah yang ada dalam dekapannya. Tangannya menyusup ke setiap surai hitam milik hyungnya.
'Tak salah lagi'
Jongwoon segera berlari menuju ke kerumunan tersebut, kakinya berjinjit dan kepalanya menelusup kesana kemari berusaha mencari celah agar melihat orang yang menjerit meminta bantuan. Berharap agar inner-nya salah.
Deg
Untuk yang kesekian kalinya jantung Jongwoon berdetak lebih cepat. Mulutnya menganga lebar, rahangnya seakan mau patah saat melihat sosok yang dirindukannya terduduk di tengah kerumunan. Dan ...
Ia menerobos ke dalam kerumunan, terdengar beberapa teriakan protes dari beberapa orang yang menganggapnya tak sopan. Dia lebih memilih untuk mengabaikannya. Biarlah tak peduli apapun pendapat orang padanya asal ia bisa melihat namja yang selama beberapa hari ini mengisi hatinya. Berhasil membuat dirinya hilang kendali.
Kyuhyun yang mendapati hyungnya sudah tak ada disampingnya seketika menoleh kearah kerumunan, ia mengikuti jejak hyungnya. Menerobos masuk ke dalam.
Oh ayolah ... Saat ini ada orang yang memerlukan bantuan sedangkan mereka memilih 'menonton' bukan membantu. Ini bukan drama, ini juga bukan syuting film. Dimana sisi kemanusiaan mereka? Kenapa mereka memilih menonton sosok mungil yang kini tengah menangis sambil mendekap seseorang yang sedang meregang nyawa?
Airmata lolos dengan perlahan dari manik indah milik namja mungil itu. Ia semakin mendekap erat tubuh hyungnya. Tubuhnya benar-benar bergetar, ia ketakutan. Takut kehilangan Sungmin. Orang yang selama ini selalu bersama dirinya, dan selalu menghabiskan waktu mereka berdua.
"Kyu ... Ambil mobil." perintah Jongwoon yang kemudian disertai anggukan oleh Kyuhyun saat berhasil menerobos dan melihat keadaan Sungmin juga Ryeowook.
Bergegas Kyuhyun masuk ke lingkungan apartement mereka mencari kendaraan yang bisa digunakan untuk membawa sosok yang sedang meregang nyawa itu.
Jongwoon terpaku melihat keadaan mereka berdua seperti sekarang ini, "Gwaenchana? Apa kau terluka?" tanyanya panik sambil memeriksa setiap inchi tubuh Ryeowook.
Ryeowook hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban dan tetap mendekap hyungnya.
Dengan susah payah Jongwoon melepaskan pelukan Ryeowook pada tubuh Sungmin, "Siapapun tolong bantu aku mengangkatnya ke mobil." teriak namja bersuara baritone tersebut saat melihat mobil van yang ia kenali berhenti di dekat mereka.
Mendengar hal tersebut seketika orang-orang yang tadi berkerumun membantu Jongwoon untuk membawa Sungmin ke dalam mobil. Ryeowook menoleh sambil tetap terisak. Ia hanya diam saat melihat tubuh hyungnya tersebut dibawa ke sebuah van yang tidak diketahui siapa pemiliknya.
Otaknya benar-benar lelah untuk berpikir, pikirannya berkecamuk. Yang ada dipikirannya hanya satu, semoga Sungmin baik-baik saja.
Jongwoon yang melihat namja mungil tersebut hanya terduduk diam dengan segera menarik lengan Ryeowook untuk ikut masuk ke dalam mobil tersebut, "Kajja."
.
.
.
"Uljimma ..." namja bersuara baritone tersebut terdengar lembut, "Dia akan baik-baik saja." tangannya kini beralih untuk mengelus punggung Ryeowook, berusaha menenangkannya.
Kyuhyun sendiri memilih untuk menutup kedua matanya. Tangannya terkepal, sedetik kemudian ia berjalan mondar-mandir di depan ruang pemeriksaan.
"Aku takut ..." isak Ryeowook dalam pelukan Jongwoon. Namja bersurai hitam tersebut meraih wajah Ryeowook yang sedari tadi menunduk dalam, diraihnya wajah manis dengan satu tangannya yang bebas.
'Mianhae hyung' batinnya sambil terisak.
Kini terlihat dua orang namja yang mengenakan seragam berwarna biru lengkap dengan atributnya mendekati mereka. Dari kejauhan pun sudah bisa ditebak bahwa keduanya adalah seorang polisi, "Bisakah kau menceritakan detail kecelakaan tersebut, Ryeowook-ssi?"
"Hnn ... Awalnya kami ingin menyebrang bersama-sama."
Ryeowook mengambil nafas panjang, "Tapi karena dompet Sungmin hyung yang tertinggal saat membeli sesuatu tadi, akhirnya aku memutuskan untuk kembali dan mengambilnya."
"Mengetahui bahwa Sungmin hyung sudah berada di seberang, aku menyusulnya. Saat akan menyebrang tiba-tiba sebuah mobil berkecepatan tinggi datang, mataku refleks terpejam saat merasakan ada seseorang yang mendorong tubuhku."
Ryeowook diam sejenak, sambil menghapus airmata yang mengalir di pipinya.
"Mendengar orang-orang berteriak kecelakaan, membuatku berani untuk membuka mata dan ..."
Kedua namja tersebut mencatat setiap detailnya, kemudian menganggukkan kepala, "Hmm lalu apakah anda merasakan hal yang tidak masuk akal?"
"Entah ini hanya perasaanku atau tidak hanya saja awalnya mobil itu berjalan pelan tapi saat melihatku akan menyebrang pengendara mobil itu menambah kecepatan."
Jongwoon, Kyuhyun dan kedua polisi yang sedari tadi mendengar pernyataan tersebut mengerutkan alisnya, 'Menambah kecepatan?'
Airmata yang sedari tadi berusaha dibemdung akhirnya lolos begitu saja.
"Apa Sungmin dan anda memiliki masalah sehingga ada orang yang membenci anda berdua?" pertanyaan tersebut dijawab gelengan kepala dari Ryeowook, "Kami hidup secara sederhana, tidak ada alasan jika ada orang yang membenci kami."
"Baiklah Ryeowook-ssi terima kasih atas bantuannya, jika kami sudah menemukan titik terang, kami akan menghubungi anda." ucap salah seorang dari polisi tersebut kemudian menjabat erat tangan Jongwoon juga Ryeowook. Lalu berlalu meninggalkan mereka berdua.
"Harusnya Sungmin hyung tidak menyelamatkanku, harusnya aku yang ditabrak olehnya ... Bukan Sungmin hyung." racaunya sambil tetap terisak. Tanpa sadar ia merapatkan tubuhnya pada Jongwoon. Mencari kenyamanan pada pelukan yang diberikan oleh namja ini. Mendapat kehangatan yang ia perlukan.
'Jangan bodoh, jika kau yang berada disana, mungkin aku tidak akan mampu bernafas saat ini.'
"Uljimma ne ... Kau kelihatan jelek jika menangis seperti ini." ucap Jongwoon sambil perlahan menghapus airmata yang lolos dari mata indah milik Ryeowook.
'Huh saat seperti ini bisa-bisanya merayu' batin Kyuhyun kemudian melanjutkan aktifitasnya yang sedari tadi mondar-mandir di lorong rumah sakit.
Kaki panjangnya melangkah kesana-kemari, dengan tangan di dagu dan tangan yang lain menopang tangan yang satunya. Seperti melihat drama dimana seorang laki-laki yang menunggu istrinya sedang melahirkan. Tiba-tiba namja bersurai ikal kecoklatan tersebut menghentikan langkahnya saat melihat seorang dokter keluar dari ruangan tempat Sungmin di rawat.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Kyuhyun cepat. Wajahnya pucat, entah kenapa ia merasa khawatir dengan namja cantik itu.
"Dia sudah dalam keadaan normal tapi masih belum sadar ... Hanya saja rumah sakit saat ini kekurangan stock golongan darah A. Walaupun keadaannya baik-baik saja tapi kami masih perlu beberapa kantong darah untuknya."
Ryeowook yang mendengar hal tersebut segera bangkit kemudian mendekat pada Kyuhyun juga dokter yang merawat Sungmin. "Golongan darahku A, aku mohon ambil darahku sebanyak yang kalian bisa. Asalkan hyungku bisa selamat." ujar Ryeowook lirih.
"Aku juga bergolongan darah A, kau juga bisa mengambil darahku." usul Kyuhyun, berusaha untuk ikut menyelamatkan orang yang perlahan merebut hatinya. Mendengar usul Kyuhyun, dokter tersebut menggeleng pelan, "Jebal" lirih Kyuhyun sangat pelan, sampai tak terdengar sambil memegang lengan dokter tersebut.
"Hmm baiklah tapi sebelumnya kita akan melakukan pemeriksaan terlebih dahulu untuk menentukan darah yang lebih cocok untuk pasien."
.
.
.
Ryeowook keluar dari ruang pemeriksaan dengan wajah yang ditekuk, bibirnya mengerucut imut dan pipinya menggembung lucu. Ia memang sedang kesal tapi dengan cara seperti itu malah membuatnya semakin lucu.
"Mianhae Ryeowook-ssi, darah anda kurang cocok untuk pasien karena kesehatan anda. Anda saat ini sedang tertekan."
"Gwaenchana Ryeowook-ssi, untuk kekurangannya, kami usahakan ada pendonor secepatnya."
Seperti kaset rusak, kata-kata itu terus terulang di benak Ryeowook. Kurang masuk akal jika darahnya tidak diterima karena kesehatannya. Dokter itu pasti berbohong~ itu yang ada di benak Ryeowook saat ini, tapi apa gunanya dokter itu berbohong?
Huh~ 'Mungkin benar apa yang ia katakan' tanpa menoleh ke kanan ataupun ke kiri namja mungil itu menghempaskan dirinya disebuah kursi di depan ruang rawat Sungmin. Kepalanya uring-uringan.
Bahkan sampai saat ini, Sungmin belum juga siuman. Ingin rasanya Ryeowook bergegas menjaga Sungmin namun saat ini ia masih diperiksa oleh dokter yang merawatnya.
Iris caramel Ryeowook memerah, pipinya panas, dadanya kembali sesak, dia mengerjap-ngerjapkan matanya lalu menengadahkan wajahnya ke langit-langit rumah sakit sambil menutup mulut, menahan isakannya lalu menghapus airmata yang menggenang di sudut matanya.
Namja beriris sipit yang baru datang dari bagian rumah sakit yang lain mengerutkan keningnya, melihat Ryeowook terduduk lemas seperti dihadapannya saat ini, "Ini ... Makanlah" Disodorkannya sebuah makanan yang sengaja dibeli di kantin rumah sakit.
"Ani" balas Ryeowook singkat sambil menggelengkan kepalanya. Saat ini yang ia butuhkan adalah Sungmin. Di saat seperti ini hanya Sungmin yang mampu membuat dirinya tenang tapi hatinya semakin mencelos mendapati orang yang selalu membuat dirinya tenang terbaring di rumah sakit.
Jongwoon mendengus kesal, "Kalau kau mengkhawatirkan hyungmu, kau harus makan. Jika ia tahu dongsaengnya menolak untuk makan karena dirinya, dia pasti merasa bersalah." namja bermarga Kim itu kini mendudukan dirinya di samping Ryeowook.
"..." Tak ada jawaban, iris caramelnya pun terpejam saat mendengar ucapan Jongwoon.
"Apa kau mau saat hyungmu siuman kau malah terbaring sakit sehingga tak bisa menjenguknya?" tambah namja bersurai hitam tersebut dan sukses membuat Ryeowook membuka matanya.
Jongwoon tersenyum puas, "Makanlah"
Tanpa suara, perlahan Ryeowook mengambil makanan yang sedari tadi disodorkan padanya.
"Gomawo" lirihnya pelan kemudian tersenyum tipis.
Jongwoon yang sedari tadi sibuk menatap malaikat di sampingnya terkejut saat Ryeowook berbalik dan mengucapkan terima kasih padanya sambil tersenyum, 'Indah.'
"Cheonma"
.
.
.
.
"Aku dan Jongwoon hyung sedang ada keperluan, hyung."
"..."
"Ya ya aku tahu, nanti kami akan pulang."
"..."
"Ya hyung! Kau tak perlu mengingatkanku lagi, aku tahu jadwalku sendiri." ucap namja tampan tersebut dengan sedikit berteriak.
"..."
"Ne ... Annyeong"
Hhh~ Kyuhyun menggeleng-gelengkan kepalanya, entah kenapa Leeteuk hyung harus cerewet seperti itu. Benar-benar seperti sang umma, cerewet dan err galak. Walaupun Leeteuk bukan umma-nya tapi Kyuhyun sangat menyayanginya begitu juga sebaliknya.
Kyuhyun menghempaskan dirinya duduk di depan meja dokter ahli tersebut.
"Jadi?" tanya seorang namja berjas putih sambil menatap seorang namja tajam. Sedangkan tangannya sibuk mengetuk-ngetukan ponsel pada meja yang ada dihadapannya. Irisnya menatap dengan pandangan yang sangat menusuk, membuat orang yang ditatap meringkuk.
"A ... Apa?" tanya namja yang sedari tadi ditatap tergugup.
"Namja itu?" tanyanya dengan tatapan penuh menyelidik.
Namja bersuara bass tersebut merenggut kesal, "Appa ..."
"Ah ne ne ... Appa mengerti. Appa juga sudah menghubungi umma-mu, dia akan mendonorkan darahnya." namja tampan itu kini meletakkan ponsel ke tempat seharusnya berada setelah beberapa saat sebelumnya berbicara dengan seseorang.
"Umma? Umma juga bergolongan darah A?" tanyanya dengan ekspresi yang sangat lucu.
"Appa ... Kau memang bisa diandalkan" Kyuhyun kemudian memeluk appa sekaligus dokter yang merawat Sungmin sekarang ini.
Walaupun Kyuhyun sudah mendonorkan darahnya tapi itu belum cukup, masih ada beberapa kantong lagi agar jumlah darah yang ada di tubuh Sungmin kembali normal.
Merupakan suatu kebetulan, ayah dan umma-nya juga memiliki golongan darah yang sama dengan Sungmin. Walaupun umma yang saat ini menyandang sebagai 'istri' dari appa-nya bukanlah umma kandungnya tapi Kyuhyun sangat menyayanginya. Tak pernah ia merasakan kebencian akan kehadiran sosok pengganti umma kandungnya. Karena perlakuannya yang sangat lembut dan juga cantik. Jangan salah walaupun seorang namja, umma Kyuhyun adalah umma tercantik yang pernah ia kenal, tentunya sebelum Sungmin.
Tidak mungkin Kyuhyun mendonorkan semua darah yang ia miliki untuk Sungmin. Walaupun dia ingin tapi tetap saja, apalagi Kyuhyun orang yang mudah lelah. Pantas saja saat ingin mendonorkan darahnya, sang dokter alias appa-nya melarang. Ia tidak ingin namja bersurai ikal kecoklatan ini ambruk seusai mendonorkan darahnya.
Namja berpostur tinggi tersebut tersenyum mengejek melihat tingkah laku putra semata wayangnya tersebut, "Lebih baik kau pulang dan beristirahat. Sebelum kau ambruk setelah menjadi pahlawan kesiangan."
Kyuhyun melepaskan pelukannya pada sang umma, "Ya! Appa ... Aku kan ingin menjaganya." Hankyung terkekeh geli.
"Kau sudah mendonorkan darahmu, harusnya kau beristirahat. Kau mudah lelah Kyunnie, kau bisa kemari besok dan menjenguknya. Bukankah kau besok juga ada jadwal untuk mengisi sebuah acara?" tanyanya dengan tatapan sedikit menyelidik.
"Appa ... Aku bisa merawat diriku sendiri. Jebal ... Aku ingin menjaganya." rengek Kyuhyun. Anak yang sangat manja, ck.
Hah~ Hankyung hanya bisa menghela nafas jika Kyuhyun sudah seperti ini. Benar-benar anak yang keras kepala, "Baiklah" ucapnya kemudian berdiri dari kursi kebesarannya sebagai dokter.
"Appa ... Gomawo" ucapnya kembali memeluk sang appa kemudian berjalan keluar sesaat setelah membungkukkan badan 90derajat.
.
.
.
Terlihat seorang namja manis menatap nanar ke ranjang. Tangan mungilnya sibuk menelusuri setiap inchi wajah milik hyungnya yang sedang terbaring lemah disana.
Dia memandang keluar jendela, langit pun mulai gelap, dinginnya udara menelusup hingga ke jantungnya. Menambah rasa sesak yang dirasakannya.
"Keadaannya sudah baik-baik saja, kau tidak perlu khawatir." ucap Jongwoon membeo perkataan dokter seusai mengecek keadaan Sungmin pada mereka. Tangan mungilnya mengelus pelan punggung Ryeowook.
Sejenak namja mungil itu menarik nafas panjang, "Ne ... Jongwoon-ssi" jawab Ryeowook singkat tanpa mengalihkan perhatiannya pada Sungmin.
Jongwoon menurunkan tangannya dan kini menggenggam tangan Ryeowook. "Panggil aku hyung, Jongwoon hyung." ujarnya dengan sedikit penekanan dan terkesan agak sedikit memaksa.
"Ah ne Jongwoon hyung" Ryeowook hanya mampu menuruti permintaan namja yang lebih tua beberapa tahun darinya itu, "Kau bisa memanggilku Wookie." tambahnya sambil merapikan selimut Sungmin yang sempat terbuka.
Hhh~ Baru kemarin mereka bertengkar, saling melempar tatapan sinis juga hujatan-hujatan tajam tapi sekarang? Mereka sudah akrab atau lebih tepatnya Jongwoon yang mengakrabkan dirinya pada Ryeowook.
Namja beriris sipit tersebut tentu saja tidak mau mengulangi kebodohannya. Tiga kali bertemu dengan Ryeowook, tiga kali dia bertemu dengan situasi yang tidak mengenakan.
Pertama, saat ia mengisi sebuah acara di salah satu mall. Entah karena salah makan atau memang perutnya yang sedari tadi memang tidak bisa diajak berkompromi, ia menerobos masuk ke salah satu kamar mandi yang ternyata dinaungi oleh Ryeowook.
Kedua, saat ingin bertemu dengan penggemarnya, Kim Sungmin, ternyata malah bertemu lagi dengan Ryeowook. Alhasil mereka berdebat, karena hal yang sangat tidak elit itu.
Dan yang terakhir, saat menunggu kedatangan Ryeowook ia malah mendapati sang namja manis terisak dengan hyung-nya yang berlumuran darah di dekapannya.
Kali ini biarlah seperti ini, ia ingin agar Ryeowook berhenti menganggap dirinya sebagai namja mesum. Ia ingin Ryeowook berhenti memikirkan hal buruk tentang sirinya. Dan ia ingin agar Ryeowook menganggap dirinya seorang namja yang bertanggung jawab.
Sungguh ia akan berusaha menjaga image-nya dihadapan sang pujaan hati, Kim Ryeowook.
"Hyung ..." panggil Kyuhyun yang entah sejak kapan berdiri di dekat pintu. Namja penggila game itu berjalan mendekat lalu membisikkan sesuatu pada Jongwoon.
"Wookie-ah ..."
"hnn" jawabnya singkat tanpa menatap Jongwoon, pandangannya tetap pada sosok Sungmin yang sedang tertidur pulas.
"Hyung pulang dulu ne? Besok pagi hyung akan mengisi acara, jadi besok sore hyung akan kemari. Kalau ada apa-apa kau bisa menghubungi hyung, kau sudah menyimpan nomor hyung kan?" tanyanya secara beruntun, tanpa jeda.
Ryeowook hanya mengangguk menanggapi pernyataan sekaligus pertanyaan Jongwoon pada dirinya.
.
.
.
Kyuhyun mengikuti jejak hyungnya, segera masuk ke dalam mobil sport berwarna hitam kelam milik Jongwoon. Ia mendengus sebal saat Jongwoon sibuk dengan ponselnya, "Cepatlah hyung."
"Tunggu sebentar Kyu, aku ingin mengingatkan Wookie agar jangan lupa makan."
Kyuhyun memutar kedua bola matanya bosan, "Ya sudah biar aku yang menyetir." usulnya sambil memegang safety belt. Berusaha menggertak hyung-nya yang babo itu.
Jongwoon yang mendengar ancaman Kyuhyun tersebut segera meletakkan kembali ponselnya, "Aish ... Ne! Kita pulang." ucapnya dengan nada kesal sambil mengacak rambutnya.
Ya namja bersurai hitam berantakan tersebut tidak akan pernah membiarkan seorang Cho Kyuhyun menggunakan mobilnya. Bukan takut terhadap gertakan maupun ancaman darinya tapi dia masih cukup waras jika membiarkan Kyuhyun menyetir. Jika membiarkan Kyuhyun menyetir sama saja artinya dengan meminta untuk mempercepat kematiannya.
Kyuhyun terkikik geli saat melihat ekspresi hyung-nya yang berubah menjadi sangat masam. Jongwoon yang mendengar kikikan kecil dari Kyuhyun pun memberikan tatapan membunuh andalannya.
"Awas hyung !" teriak Kyuhyun saat melihat ada seorang yeoja yang hendak menyebrang tanpa menoleh ke kanan maupun ke kiri.
Jongwoon yang sedari tadi sibuk memberikan tatapan membunuh segera mengalihkan pandangan ke jalan. Ia berusaha memperlambat kecepatan mobilnya, membanting stir ke kiri memilih menabrak trotoar, "Gwaenchana Kyu?" tanyanya sesaat setelah mobilnya menabrak trotoar.
Hening. Tak ada jawaban dari Kyuhyun.
Merasa ada hal yang tak beres, Jongwoon menoleh kearah Kyuhyun. Matanya membulat seketika, "Kyu ... Kau ..."
.
.
.
~TBC~
sebelumnya saya minta maaf krn ketidaknyamanan atas terhapusnya ff My Admirer and His Brother dan menyebabkan saya harus post ulang.
Gomawo sudah meninggalkan review dan mianhae saya gak bisa balas satu persatu karena ff ini saya buat dan pos lewat hp^^
Dan jeongmal gomawo karena masih ada yang menunggu kelanjutan ff ini^^
Saya minta maaf atas ketidaknyamanan ini:)
At least adakah yang bersedia meninggalkan review?
*nyodorin kotak review*
Gomawo *bow bareng Ryeowook*
