Diary : Dosen vs Mahasiswi
.
.
.
.
.
.
.
Uchiha Sasuke, Haruno Sakura
.
.
.
.
.
©Aomine Sakura
.
.
.
Diadaptasi dari Webtoon : My Prewedding dan Pasutri Gaje (Juga garagara dosen ganteng jomblo :3)
.
.
.
DILARANG COPAS DALAM BENTUK APAPUN! JIKA TIDAK SUKA DENGAN CERITA YANG DIBUAT AUTHOR, SILAHKAN KLIK TOMBOL BACK! DLDR!
Selamat Membaca!
"Nii-chan? Apa maksud nii -chan?!"
Suasana yang tadinya bahagia menjadi sedikit mencekam dan menegangkan. Sasori yang mengenakan setelan jas tampak duduk santai dan memandang adiknya.
Sakura tidak bisa mengatakan apapun lagi. Bagaimana bisa kakaknya menolak lamaran calon suaminya. Padahal dia pikir semuanya akan berjalan lancar.
"Sasori, apa maksudmu?"
Suasana semakin mencekam saat Itachi buka suara. Sejenak Yugao maupun Temari merasa merinding. Pertarungan antar kakak akan segera dimulai.
"Bukannya aku bermaksud jelek, Itachi. Aku senang bisa menjadi iparmu, tetapi aku tidak suka dengan adikmu." Sasori memandang Sasuke dengan tajam. "Aku mengenalmu bertahun-tahun lamanya dan sudah barang tentu aku juga mengenal dan mengetahui siapa itu Uchiha Sasuke. Aku tidak ingin adikku menjadi pelampiasannya."
Itachi mengangkat satu alisnya.
"Apa maksudmu, Sasori? Aku pikir disini tidak ada yang main-main."
"Bagaimana dengan Miko Shion?"
Wajah Sasuke menjadi pucat. Tidak. Jangan nama mantan pacarnya. Sakura memandang kakaknya dengan pandangan tidak mengerti. Dia dan Sasuke memang baru saja mengenal, jadi belum terlalu tahu tentang masa lalu atau bahkan tentang mereka masing-masing.
Miko Shion? Sakura bahkan tidak tahu nama yang disebutkan oleh kakaknya itu.
"Nii-chan, siapa itu Miko Shion?" tanya Sakura.
"Bahkan kamu tidak mengatakannya pada Sakura?" Sasori memandang Sasuke dengan pandangan tidak suka. "Miko Shion adalah satu-satunya mantan yang dimiliki Sasuke. Dia adalah cinta pertamanya Sasuke dan bahkan Sasuke rela melakukan apapun untuk Shion. Katakan, berapa banyak wanita matre itu menghabiskan hartamu, Uchiha?"
Sasuke bungkam seribu bahasa. Itachi tidak memiliki celah untuk membalikan kata-kata Sasori. Apa yang dikatakan Sasori ada benarnya, jika dia menjadi Sasori, mungkin dia akan melakukan hal yang sama.
Sedangkan Sakura tidak bisa melakukan apapun. Perasaannya bercampur aduk menjadi satu, dia tidak bisa berfikir jernih lagi.
Sasori bangkit dari posisi duduknya dan memandang Sakura.
"Aku tidak peduli jika kamu akan menganggapku jahat atau bagaimana, Sakura. Aku menolak lamarannya bukan tanpa alasan. Enam bulan yang lalu kamu baru saja putus dengan Shion setelah berpacaran selama hampir tujuh tahun, kalian bahkan sudah merencanakan tentang pernikahan sebelum akhirnya kalian berpisah. Aku tidak akan membiarkan adikku sakit hati hanya karena menjadi pelampiasanmu."
"Sasori-kun-" Yugao mencoba mengejar suaminya, namun Sasori sudah terlebih dahulu masuk ke dalam kamar. "Aku permisi dulu."
Sasuke maupun Sakura tidak ada yang buka suara. Ini merupakan pukulan telak bagi Sasuke dan membuatnya tidak bisa melakukan apapun. Bagi Sakura, ini menjadi sebuah rintangan pada perasaannya.
Benarkah dia siap menerima Sasuke? Meski ada wanita lain yang dicintai Sasuke?
Bangkit dari duduknya, Sasuke memandang Sakura yang berdiri.
"Sakura-"
"Aku lelah, ingin beristirahat."
Suasana sangat menegangkan, Sasuke tidak tahu jika melamar anak gadis orang akan sebegini rumitnya. Mengusap wajahnya, dia ingin segera pulang dan mengistirahatkan tubuhnya. Kepalanya sakit sekali.
Sedangkan Itachi, dia benar-benar tidak bisa mengatakan apapun. Bagi orang yang menguasai pasar ekonomi Jepang, dia bahkan tidak bisa mencari celah untuk membantah perkataan Sasori. Itachi tidak menyalahkan Sasori, tetapi dia juga tidak menyalahkan Sasuke yang terburu-buru.
"Maafkan Sasori-kun, Uchiha-san." Mebuki memandang calon menantunya itu. "Kalian bisa datang kemari sesering yang kalian mau."
.
.
"Sasori-kun."
Yugao membuka pintu kamarnya dan menemukan suaminya sedang duduk di pinggir ranjang dengan posisi membelakanginya. Yugao tidak setahun dua tahun mengenal Sasori, dia yakin ini pasti keputusan yang berat juga bagi suaminya.
Sasori ingin merestui adiknya, tetapi disisi lain dia meragukan Sasuke. Sebagai seorang istri yang sudah menemani Sasori bertahun-tahun lamanya, dia sudah tidak terkejut melihat betapa sayangnya Sasori pada adiknya.
"Aku mengerti perasaanmu, Sasori-kun." Yugao memeluk suaminya dari belakang dan mencium dalam-dalam aroma tubuh Sasori.
"Apa Sakura akan membenciku?" tanya Sasori dengan suara parau. "Sakura masih terlalu muda untuk menikah, apalagi jika Sakura hanya dijadikan pelampiasan oleh Sasuke."
"Aku yakin Sakura akan mengerti, Sasori-kun. Kamu sudah melakukan apa yang menjadi kewajibanmu." Yugao mengecup leher suaminya. "Nanti aku yang akan bicara dengan Sakura."
.
.
Sakura benar-benar tidak paham dengan perasaannya saat ini. Dia ingin menikah dengan Sasuke, tetapi disisi lain dia mulai meragukan perasaan Sasuke saat mendengar kenyataan jika Sasuke belum bisa move on dari mantan kekasihnya.
Apa yang harus dia lakukan? Andaikan saja Sasuke tadi membantah semua argumen yang dilayangkan kakaknya, mungkin dia masih akan bertahan pada perasaannya. Tetapi, Sasuke tidak membantah dan hanya diam, itu membuat sesuatu dalam dadanya terasa sangat sesak.
Pikirannya berkecamuk.
Jika dosennya itu masih belum bisa move on, lalu kenapa mengajaknya menikah?
"Sakura, nee-san masuk, ya?"
Yugao membuka pintu kamar Sakura dan menemukan adik iparnya itu sedang tidur membelakanginya. Yugao benar-benar tidak meragukan ikatan darah antara Sakura dan Sasori. Mereka sama-sama membelakangi pintu saat ada masalah.
Senyum geli muncul di wajah cantiknya.
"Sakura-chan." Mendudukan dirinya di pinggir ranjang Sakura, dia mengusap rambut Sakura. "Kakakmu khawatir padamu. Apa kamu marah padanya?"
Wanita berambut ungu itu tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya ketika Sakura memeluknya. Gadis berambut pink itu menangis dalam pelukannya.
"Sudah Sakura, tenanglah. Bicaralah, nee-san akan mendengarkan."
.
.
"Sasuke-"
Itachi memanggil adiknya yang berjalan menaiki tangga untuk masuk ke dalam kamar.
"Aku lelah, aniki. Aku mau tidur."
Itachi tidak bisa mengatakan apapun lagi. Dia membiarkan Sasuke menenangkan pikirannya.
Membuka pintu kamarnya, Sasuke menghidupkan lampunya dan merebahkan dirinya di ranjangnya. Dia meletakan lengannya menutupi wajahnya.
Dia tidak memperkirakan jika lamarannya akan ditolak. Mungkin dia terlalu sombong dan percaya diri karena Sakura telah menerima lamarannya. Dia benar-benar tidak menyangka jika kakak Sakura mengetahui perihal hubungannya dengan Miko Shion dan menolaknya mentah-mentah.
Dia memang tidak membantah, jika dia masih mencintai Shion. Masih. Tetapi itu sudah tergantikan oleh Sakura. Terkadang rasa itu datang, tetapi dia hanya menginginkan Sakura. Sejak dia melihat Sakura untuk pertama kalinya, dia langsung jatuh cinta padanya.
Dia mengenal Shion semenjak sekolah menengah pertama. Mereka berpacaran hampir tujuh tahun dan kemudian dia mengetahui jika bagi Shion, dia hanyalah bank untuk wanita itu. Satu-satunya wanita yang menjadi cinta pertamanya adalah Shion.
Setelah putus, dia bertemu dengan Sakura dan entah mengapa, hati kecilnya berkata jika ia adalah jodohnya. Maka dari itu, dia selalu memperhatikan Sakura dan nekat untuk melamar Sakura. Dia benar-benar ingin menikah dengan Sakura dan mencintainya.
Entah mengapa, saat bersama Sakura. Dia bisa melupakan sosok Shion. Wanita itu lenyap begitu saja ketika memandang senyuman Sakura. Maka dari itu, dia ingin memiliki Sakura, dia mencintainya dan ingin menikahinya.
Drrtt.. ddrrtt..
Meraba sisi ranjangnya, Sasuke mengangkat telepon yang masuk.
"Ada apa, Do-"
"Apa benar lamaranmu ditolak Sasori-nii?"
"Hn."
"Huah, aku tidak menyangkanya," ucap Naruto. "Aku sedang dalam perjalanan menuju kesana, jangan menangis seperti orang patah hati, teme."
"Sialan!"
oOo
Sakura tidak tahu bagaimana rupanya pagi ini. Dia melewatkan sarapan dan berangkat ke kampusnya begitu saja. Tidak. Dia tidak bisa menahan kekecewaannya. Tetapi dia tidak bisa menyalahkan tindakan kakaknya karena apa yang dilakukan kakaknya tidak sepenuhnya salah.
Bagaimana jika dia hanyalah pelampiasannya? Tetapi, sebagian hati kecilnya berkata jika Sasuke tidak akan melakukan hal itu. Dia yakin dengan perasaan Sasuke.
Ino yang duduk di salah satu kursi terkejut ketika melihat Sakura datang. Wajahnya lesu dengan matanya yang bengkak, rambutnya acak-acakan dan Sakura memakai pakaian seadanya.
"Sakura, apa yang terjadi?" tanya Ino.
Ketika melihat sahabatnya, Sakura tidak bisa menahan dirinya untuk memeluk Ino. Dan kelas yang tadinya sepi mendadak heboh dengan tangisan Sakura.
.
.
.
"Selamat siang, kita akan mempraktikan tentang ALT atau Angka Lempeng Total, saya akan menjelaskannya."
Sakura duduk di kursinya dengan pikiran kacau. Dia tidak memperhatikan apa yang dijelaskan Sasuke bahkan dia tidak mau mendengarnya. Jika dia boleh memilih, sebenarnya dia ingin membolos dan tidak mau bertemu dengan Sasuke. Rasanya perasaannya masih bercampur aduk.
Sasuke juga tidak kalah kacaunya dengan Sakura. Rambutnya acak-acakan dengan kantung mata yang terlihat jelas. Sasuke menerangkan sembari sesekali memandang Sakura yang sedang memutar-mutar bolpointnya.
"Untuk bakteri yang sudah diisolasi dalam media SIM atau Sulfide Indol Moltility, silahkan ditetesi Fehling A dan Fehling B masing-masing tiga tetes." Sasuke menutup bukunya. "Ada yang ingin ditanyakan?"
"Tidak ada sensei!"
"Baiklah, silahkan ambil bakterinya."
Onyxnya memandang Sakura yang berjalan melewatinya. Sebenarnya dia ingin membicarakan hal yang serius pada Sakura, tetapi rasanya ini bukanlah saat yang tepat.
Mungkin, dia bisa bicara saat kelas selesai.
.
.
"Baiklah, waktu habis. Silahkan bersihkan meja lab kalian." Sasuke memandang Sakura yang sedang memasukan peralatan laboratoriumnya. "Sakura, ada yang ingin sensei bicarakan."
Seketika sorakan terdengar memenuhi Laboratorium. Sakura menganggukan kepalanya lesu dan memasukan beberapa peralatannya ke dalam tas. Saat beberapa temannya sudah keluar, dia menghampiri Sasuke.
"Ada apa, sensei?" tanya Sakura.
"Apakah kamu ada waktu? Bisa kita makan bersama?"
.
.
"Selamat datang!"
Sasuke duduk di salah satu kursi di restaurant Jepang dan Sakura duduk dihadapannya. Dia sengaja memilih tempat yang ada di pojok ruangan karena tidak mau ada orang yang mengganggu pembicaraan mereka.
Onyxnya memandang Sakura yang hanya diam dan menundukan kepalanya. Dia yakin jika Sakura terpukul dengan keputusan yang diberikan kakaknya, tetapi mau bagaimana lagi.
"Sakura-"
"Sensei, apa yang dikatakan kakakku benar?" tanya Sakura memotong pembicaraan Sasuke. "Jika sensei hanya menjadikanku sebagai pelampiasan saja?"
Menarik napas panjang, Sasuke membaca buku menu yang ada dihadapannya. Seorang pelayan datang untuk mencatat pesanan mereka.
"Sakura, kamu ingin memesan apa?" Sasuke membaca buku menu.
Sakura tidak bisa menahan kekecewaannya ketika Sasuke malah memilih mengabaikan pertanyaannya. Dia mengambil buku menu dan membaca menu yang ada.
"Aku ingin Green tea milk."
"Baiklah, bawakan sushinya satu, ocha hangat dan Green tea milk." Sasuke membiarkan pelayan mencatat pesanan mereka dan berlalu. "Aku kemari untuk mengajakmu kawin lari."
"Hah?" Sakura mengangkat kepalanya dan memandang Sasuke dengan pandangan tidak percaya. "Sensei bilang apa?"
"Yah, sebenarnya aku sudah mendiskusikannya dengan Naruto." Sasuke sedikit mengalihkan wajahnya. "Aku akan berjuang untuk mendapatkan hati kakakmu, Naruto bilang jika kakakmu sedikit keras kepala. Jadi, dia memberi usul untuk kawin lari dan akan membantu kita."
Sakura tidak bisa menahan tawanya hingga membuat beberapa pasang mata memandang kearah mereka. Sasuke merasa bingung, memangnya ajakannya untuk menikah adalah lelucon? Mungkinkah Sakura merasa jika dia hanya pelampiasannya saja.
"Kenapa tertawa, Sakura? Jika kamu mengganggapku hanya menjadikanmu pelampiasanku, maka kamu salah. Aku-"
"Tidak, Sasuke sensei, tidak." Sakura menyeka sudut matanya.
Sebelum hari lamarannya tiba, Sakura sudah mendengar dari kakak sepupunya tentang segala sesuatu tentang Sasuke-minus Shion- dan jika dosennya itu sudah bicara panjang lebar, itu artinya dia sedang serius. Karena menurut Naruto, calon suaminya bukan orang yang banyak bicara.
"Aku akan pikirkan tawaran sensei untuk kawin lari." Sakura tersenyum dan menggenggam tangan Sasuke dengan erat. "Aku yakin jika kakakku akan merestuiku jika sensei lebih serius lagi. Dia hanya ingin melihat perjuanganmu saja."
Ada sesuatu yang menghangat dalam hatinya. Dia balas menggenggam tangan Sakura semakin erat dan tersenyum tipis.
"Percayalah, sensei. Aku ada dipihakmu dan akan selalu menunggumu."
Dia benar-benar mencintai gadis dihadapannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sasori memandang adiknya yang tersenyum ceria dan membaca novel di ruang tengah dengan pandangan bingung. Dia pikir adiknya akan marah atau sedih pasca penolakan kemarin, sepertinya adiknya baik-baik saja dan dia tidak perlu khawatir.
Mendudukan dirinya di samping Sakura, Sasori mengambil remote tv dan mengganti channelnya.
"Sakura, apa kamu baik-baik saja?"
Mengangkat kepalanya dari novel yang sedang di bacanya. Sakura memandang Sasori dengan pandangan tidak mengerti.
"Apa maksud nii-chan?" tanya Sakura bingung.
"Karena aku menolak lamaran Sasuke."
Sakura menutup novelnya sebelum tersenyum. Dia menyandarkan kepalanya di bahu kakaknya, mencoba menahan rasa haru yang membuncah di dalam hatinya.
Dia masih ingat, bagaimana saat kecil mereka sering bertengkar karena masalah sepele. Berebut makanan, berebut sepeda dan masih banyak lagi. Tetapi, Sakura tahu. Jauh di dalam lubuk hati kakaknya yang terdalam, kakaknya menyayanginya.
Kakaknya pernah hampir menghajar pria yang mendekatinya hanya karena parasnya. Kakaknya selalu melindunginya dari serangga yang menyebalkan dan begitulah kakaknya menunjukan kasih sayangnya. Dia bukannya tidak paham, jika kakaknya memiliki tanggung jawab untuk menjaganya sebagai pengganti ayahnya kelak.
Dia yakin, jika menolak lamaran Sasuke adalah pilihan yang berat. Kakaknya tidak ingin dirinya sakit hati, namun dia juga ingin melihatnya bahagia. Kakaknya adalah pria terbaik yang dia kenal setelah ayahnya.
Saat kakaknya akan menikah, semalam suntuk dia menangis dan bahkan tidur bersama kakaknya. Saat itu, dia pikir dia akan kehilangan segalanya saat kakaknya menikah nanti. Tetapi, sepertinya semua itu salah. Dia menyukai saat memiliki kakak perempuan di rumahnya.
Dia pula yang meminta kakaknya untuk tetap tinggal bersamanya dan membuka kedai di rumahnya. Dia menyukai saat-saat bersama keluarganya dan tidak mau kehilangan setiap moment yang ada.
"Nii-chan, aku tahu jika nii-chan hanya ingin melihat kesungguhan Sasuke-kun, kan?" tanya Sakura. "Aku juga ingin melihatnya. Terima kasih karena nii-chan sudah melakukan yang terbaik untukku."
Yugao tidak bisa menahan air matanya ketika melihat interaksi kakak beradik itu. Betapa dia mencintai Sasori.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Sakura?"
Sakura yang sedang mengerjakan tugasnya melepas headsetnya. Ino tidak masuk karena ada urusan keluarga dan dia sendirian ketika menunggu jam selanjutnya tiba. Jadi, dia pergi ke perpustakaan untuk menyelesaikan beberapa tugas yang diberikan dosen.
"Gaara-kun, ada apa?" Sakura tersenyum. "Duduklah."
Duduk di samping Sakura, Gaara tersenyum tipis.
"Sepertinya kamu sudah baik-baik saja."
Mengangkat satu alisnya, Sakura tidak paham dengan maksud perkataan Gaara.
"Apa maksudmu, Gaara-kun?"
"Aku tidak tahu apa yang membuatmu menjadi murung beberapa hari ini. Apa itu karena Sasuke sensei?"
Sakura tertawa dan menutup bukunya. Dia sebenarnya tidak suka ketika ada orang lain yang mencampuri urusannya, tetapi dia akan menjawab seadanya mengingat Gaara adalah temannya.
"Tidak. Tidak apa-apa. Itu juga bukan karena Sasuke sensei. Aku sedikit bertengkar dengan kakakku."
Gaara tidak mempermasalahkan kebenaran atas cerita Sakura. Dia hanya suka berbincang dengan gadis berambut merah muda itu.
"Sakura, mau makan siang bersamaku?" Gaara memandang jam di tangannya. "Satu jam lagi kelas kita akan dimulai."
"Oh, boleh."
.
.
.
Sasuke merasakan darahnya mendidih ketika sampai di kantin. Naruto menarik napas panjang ketika melihat perubahan pada raut wajah Sasuke. Sepertinya dia paham mengapa ekspresi Sasuke yang biasanya dingin menjadi merah padam.
"Oi, Teme. Mau makan siang di tempat lain?"
Pria berambut biru donker itu tidak menjawab. Matanya mema ndang kepala dengan beda warna yang sedang makan bersama itu. Darahnya benar-benar mendidih ketika memandang bagaimana calon istrinya itu bercengkrama dengan pria lain, apalagi hingga tertawa. Itu benar-benar berlebihan.
Dia ingin menghampiri keduanya dan duduk di samping Sakura serta merangkul gadisnya itu. Mencoba menunjukan pada mata panda itu jika Sakura adalah miliknya. Benar-benar menyebalkan sekali.
Tetapi otaknya masih berfikir jernih. Jika dia menghampiri Sakura, dia hanya akan membuat keributan dan bisa-bisa Sakura menjauhinya. Dia hanya akan memberikan kesempatan semakin besar pada panda merah sialan itu.
"Oi, Teme!" Naruto mengguncang bahu Sasuke. "Dari pada hanya diam disini dan memandang Sakura, lebih baik kita makan siang di tempat lain saja."
Sasuke tidak bergeming.
"Ayo pantat ayam! Jangan memandangi mereka seperti itu!" Naruto menarik rambut Sasuke saking gemasnya.
.
.
Baru kali ini Sasuke merasa segelisah ini. Dalam hidupnya, dia belum pernah gelisah seperti ini. Bayangan bagaimana Sakura dan Gaara yang sedang bercengkrama membayang di dalam ingatannya. Menyebalkan sekali harus melihat pemandangan semacam itu.
Tidak. Dia harus melakukan sesuatu.
.
.
.
"Terima Kasih, Gaara-kun. Aku senang sekali."
Gaara mengantarkannya dengan motor merah milik pemuda itu setelah seharian ini mereka jalan-jalan. Entah makan, ke toko buku dan masih banyak tempat yang mereka kunjungi tadi. Gaara sangat suka ketika melihat senyuman Sakura.
"Sakura, apa kamu benar-benar akan menikah dengan Sasuke sensei?"
"Eh?" Sakura memandang Gaara dengan pandangan tidak mengerti. "Apa maksudmu?"
"Karena aku menyukaimu, Sakura."
.
.
Ting tong..
"Sasuke-kun, bisa tolong bukakan pintunya?" tanya Temari.
Sasuke yang sedang menonton televisi segera bangkit menuju pintu ruang tamu rumahnya. Kakaknya sedang mandi dan kakak iparnya juga ibunya sedang menyiapkan makan malam. Sedangkan ayahnya sedang bermain dengan Keyko.
Bahunya terasa sangat pegal dan kepalanya migrain. Dia sebenarnya ingin tidur, tetapi ibunya memaksa untuk makan malam bersama sebelum akhirnya dia diperbolehkan tidur.
Membuka pintu rumahnya, dia terkejut memandang siapa yang bertamu.
"Oh, Sasuke-nii." Gaara mencoba tersenyum. "Apa nee-san ada? Aku kemari untuk mengantarkan kiriman kaa-san untuknya."
Sasuke tidak tahu harus merespon bagaimana. Tiba-tiba rasa sesak datang ke dalam dadanya. Dia ingin menghajar Gaara ketika mengingat bagaimana kejadian di kantin siang tadi. Namun, dia mencoba menahan amarahnya.
"Masuklah, Temari-nee ada di dalam."
Melepas sepatunya, Gaara masuk ke dalam kediaman Uchiha. Menarik napas panjang, Sasuke memejamkan matanya. Dia harus melakukan sesuatu.
oOo
"Silahkan dinikmati."
Sasori mengusap peluh di dahinya. Yugao sedang melayani beberapa pelanggan dan ayahnya yang sedang sibuk memasak oden. Saat jam makan siang begini, kedainya memang sangat ramai.
Membuka kedai di rumah bukanlah idenya. Awalnya, dia ingin bekerja di sebuah perusahaan yang ada di Korea setelah menikah. Namun, atas permintaan istrinya dan juga rengekan manja adiknya. Dia akhirnya memutuskan untuk tetap berada di Jepang dan membuka kedai.
Berkat bantuan istrinya dan juga keluarganya, akhirnya kedainya menjadi sukses.
"Sasori-san."
Sasori terkejut ketika namanya disebut. Dia lebih terkejut lagi melihat siapa yang datang mengunjungi kedainya.
"Sasuke?"
Sasuke muncul dengan setelan jas yang dikenakannya. Sepertinya setelah mengajar, pria itu langsung menuju kedainya.
"Apa yang kamu lakukan disini?"
"Kumohon, apa yang harus aku lakukan?"
Membulatkan matanya, Sasori tidak bisa menahan keterkejutannya ketika Sasuke membungkukan badannya tepat dihadapannya. Seingatnya, harga diri Sasuke setinggi langit, persis seperti ayahnya. Dia benar-benar tidak menyangka jika Sasuke akan datang kemari bahkan hingga membungkukan badannya.
Jadi, Uchiha Sasuke benar-benar ingin menikah dengan adiknya? Hingga rela membungkukan badannya dan menjadi pusat perhatian orang-orang yang makan di kedainya.
"Kamu serius ingin menikah dengan Sakura?" tanya Sasori. Dia menarik napas panjang sejenak. "Baiklah, kamu datang kemari besok. Aku ingin kamu membantuku di kedai."
Mengangkat tubuhnya, Sasuke bernapas lega. Dia akan melakukan yang terbaik.
.
.
.
Sakura memutar-mutar bolpointnya diatas bukunya. Ino yang sedang belajar di sampingnya tampak tidak terganggu dengan sekitarnya. Padahal mereka satu jam lagi ada ujian dan dia tidak bisa berkonsentrasi untuk belajar.
Dia memikirkan perkataan Gaara kemarin. Apakah benar pria itu menyukainya? Kenapa disaat dia melabuhkan hatinya pada Sasuke ada saja yang membuatnya goyah.
Siapa yang tidak suka pada Sabaku no Gaara? Putra bungsu keluarga Sabaku yang terkenal dengan segudang prestasi yang ditorehkan pemuda itu.
Di kampus, Gaara menjabat sebagai ketua tim basket yang selalu memenangkan pertandingan setiap kali berlaga. Siapa yang tidak akan menjerit-jerit ketika melihat Gaara dengan seragam basketnya dan berkeringat. Terlihat makin seksi dimata para wanita.
Gaara juga adalah murid terpintar di kampusnya. Jika dibandinkan dengan dirinya yang mendapatkan nilai B saja sudah syukur bukan main, dia tidak ada apa-apanya. Nilai milik Gaara nyaris sempurna dan beberapa tawaran beasiswa di dapatkannya.
Jadi, ketika Gaara mengatakan jika pria berambut merah itu menyukainya, dia hampir tidak mempercayainya. Mimpi apa dia, bisa dilamar oleh dosen tampan di kampus dan sekarang ditaksir oleh bintangnya kampus. Rasanya dia semakin minder saja.
"Memikirkan Gaara?"
Menolehkan kepalanya, Sakura memandang Ino yang sedang membaca bukunya.
"Sudah aku katakan, Sakura. Ini mungkin cobaan untukmu. Jika kamu masih ragu-ragu dengan perasaanmu, kamu bisa memutuskan hubunganmu dengan Sasuke sensei sebelum terlambat. Tetapi, jika kamu memang memilih Sasuke sensei, maka kamu harus mengatakan pada Gaara. Itu terserah padamu, semua pilihan ada di tanganmu."
Menarik napas panjang, dia memikirkan perkataan Ino. Apa yang dikatakan sahabatnya ada benarnya. Jika semua pilihan ada di tangannya, karen ini menyangkut masa depannya.
"Oh, Sakura. Kamu ada disini."
Mengangkat kepalanya, dia memandang Gaara yang sekarang berdiri dihadapannya.
"Mau makan siang bersama?"
"Maafkan aku, Gaara-kun." Sakura tersenyum manis. "Aku tidak bisa menerima perasaanmu."
oOo
"Oh, kau sudah datang."
Sasuke datang dengan kemeja yang dipadukan dengan celana jeans miliknya. Bahkan sebelum kedai dibuka, dia sudah datang. Sasori tidak tahu harus terkejut atau kagum melihat betapa seriusnya Sasuke.
Semalam dia tidak bisa tidur. Memikirkan apa yang akan dilakukannya nantinya. Dia sampai curhat kepada kakaknya yang ditanggapi oleh tawa, dia juga sudah meminta Naruto untuk mengizinkannya tidak masuk ke kampus hari ini.
Jadi, karena tidak bisa tidur. Pagi-pagi buta dia sudah datang ke kediaman Haruno. Rasa gugupnya membuatnya tidak bisa berfikir apalagi memejamkan matanya.
"Sasuke sensei?" Sakura muncul dengan pakaian rumahannya dan terkejut. "Apa yang sensei lakukan disini?"
"Dia akan membantu kita disini, Sakura." Sasori tersenyum. "Nah, bagaimana jika kita sarapan sebelum memulai aktivitas?"
.
.
Sakura memperhatikan bagaimana dosennya itu bekerja dengan giat melayani pelanggan yang datang. Kedai keluarganya memang sudah cukup terkenal dengan masakannya yang lezat dan juga karena kakaknya yang tampan. Tetapi, kali ini pelanggan yang datang dua kali lebih banyak.
Entah bagaimana ceritanya, gosip tentang Sasuke yang bekerja disini membawa banyak pelanggan wanita datang. Sasuke sedikit kewalahan melayani pelanggan yang datang. Kakaknya juga sibuk dengan beberapa pelanggan mereka.
Kedai mereka sangat sibuk.
Untung saja dia sudah meminta Ino untuk mengizinkannya hari ini. Untungnya hari ini dia tidak ada praktikum, jadi dia bisa meminta Ino untuk mengizinkannya. Karena dia tidak mungkin bisa meninggalkan calon suaminya sendirian disini.
Emeraldnya memandang Sasuke yang berjalan sedikit sempoyongan. Sepertinya kondisi kesehatan Sasuke sedikit kurang baik dan dosennya itu memaksakan tubuhnya.
"Sasuke sensei," panggil Sakura. "Sensei baik-baik saja?"
Menolehkan kepalanya, Sasuke menganggukan kepalanya.
"Hn."
"Tapi, wajah sensei memerah."
"Aku baik-baik saja." Sasuke membalikan tubuhnya untuk melayani beberapa pelanggan yang datang.
Suara piring yang pecah membuat mereka terkejut. Sasuke pingsan saat membawa pesanan untuk pelanggan.
.
.
"Ugh.."
Membuka matanya, Sasuke memandang sekelilingnya. Dia berada di kamar yang tidak dia kenali dan kepalanya terasa sangat berat. Dia merasakan sesuatu yang hangat ada di dahinya, satu tangannya meraba dahinya dan mengambil sebuah kain yang ditempelkan di dahinya.
Kompres.
Apa yang terjadi? Dia mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi. Seingatnya, dia sedang membantu calon kakak iparnya sebelum semuanya menjadi gelap. Saat dia membuka matanya, dia sudah berada disini.
"Um.."
Menolehkan kepalanya, Sasuke baru menyadari jika ada orang lain disini. Onyxnya menatap Sakura yang tidur di sampingnya dan meringkuk seperti anak kucing yang lucu. Satu senyumnya terulas ketika melihat Sakura.
Tangannya terulur untuk membelai rambut Sakura dengan lembut.
"Umh.. Sasuke sensei?"
Membuka matanya, Sakura memandang calon suaminya itu.
"Sensei masih demam." Sakura menyentuh dahi Sasuke dan mengambil kompresnya. "Seharusnya jika kamu sakit, tidak perlu memaksakan diri seperti ini."
Sasuke membiarkan Sakura mengganti kompresnya. Ada perasaan aneh saat melihat Sakura yang telaten mengganti kompresnya dan mengurusinya saat sakit seperti ini. Meski usianya masih muda, tetapi entah mengapa Sakura sangat menakjubkan di matanya.
"Sakura. Aku mencintaimu."
Sakura tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat Sasuke menggenggam tangannya dan menciumnya. Apakah mungkin dosennya ini, otaknya jadi miring setelah demam? Dia tidak terbiasa diperlakukan seperti ini dan rasanya aneh.
Tetapi, ada perasaan berdebar dalam hatinya. Dia membiarkan tangannya digenggam oleh Sasuke karena dia sangat menyukainya. Ugh.. Dia jadi tidak sabar untuk segera menikah.
"Sakura, bangunkan Sasuke! Ini sudah saatnya untuk makan malam!"
Sakura buru-buru menarik tanganya dan menjauh ketika kakaknya membuka pintu kamarnya. Sasori memandang mereka dan Sakura yakin, jika wajahnya pasti memerah sekarang.
"Oh, kamu sudah bangun." Sasori. "Ayo segera keluar, makan malam sudah siap."
Rasanya canggung. Sasuke tidak bisa mendiskripsikan bagaimana canggungnya dia saat ini. Belum di meja makan saja sudah canggung seperti ini rasanya.
Dia yakin jika kakak dari Sakura akan menganggapnya lemah sekarang. Bagaimana tidak? Bisa-bisanya dia pingsan, dia tidak yakin akan direstui. Baru seperti itu saja sudah pingsan, apalagi jika mengurus rumah tangganya nanti?
"Oh ya, Sasuke."
Mengangkat kepalanya, Sasuke memandang Sasori.
"Kamu menginap saja disini. Kami ingin mengenal lebih dekat dengan calon keluarga baru ini."
Rasanya, seperti ada yang ingin meledak di dalam dadanya.
.
.
.
Suasana makan malam di meja keluarga Haruno tampak meriah dan mewah. Berbagai masakan ada disana dan suara canda tawa terdengar. Sesekali suara Natsuki dan Natsumi yang ribut terdengar memenuhi meja makan.
Sasori tidak bisa menahan senyumnya ketika melihat betapa bahagianya adiknya saat ini. Sedari awal, dia memang tidak berniat untuk menolak lamaran Sasuke. Dia juga tidak berniat memperkerjakan Sasuke, dia hanya ingin melihat kesungguhan Sasuke.
Dia menyesal telah meragukan kesungguhan calon adik iparnya itu. Melihat senyuman bahagia adiknya dan Sasuke, mungkin ini adalah yang terbaik bagi keduanya.
.
.
.
"Sasuke-kun, apa ini tidak apa-apa?"
Setelah Sasuke menginap di rumahnya, kemudian calon mertuanya menelpon dan memintanya untuk sarapan di kediaman Uchiha. Tentu saja, ini adalah berita yang membahagiakan bagi semua orang.
Saat calon suaminya itu mengatakan jika dia sudah mendapatkan restu, kehebohan terjadi di seberang telepon. Sepertinya keluarga sangat bahagia akhirnya dirinya mendapatkan restu.
Ibunya kemudian mengundang Sakura untuk menghabiskan waktu di kediaman Uchiha sebagai perkenalan. Dia yakin ibunya akan memasakan banyak makanan untuk Sakura. Ibunya sangat suka memasak dan jika ada acara apapun, lebih suka memasak daripada pesan catering.
Sakura tampak manis dengan sebuah gaun selutut berwarna pink. Rambutnya yang panjang dicepol keatas dan dengan make up natural membuatnya tampak semakin cantik. Sasuke tidak menyesal memilih Sakura sebagai calon istrinya.
"Tidak apa-apa." Sasuke menggandeng tangan Sakura dengan lembut. "Ayo masuk."
Meneguk ludahnya, Sakura mengikuti Sasuke masuk ke kediaman Uchiha. Ini pertama kalinya dia datang ke rumah seorang pria yang notabene akan menjadi suaminya. Dia belum pernah sebelumnya seperti ini.
"Tadaima."
"Okaeri, Sasu-chan." Mikoto keluar dengan senyumannya. "Oh, lihatlah ini calon menantu kaa-san."
Sakura hanya bisa tersenyum canggung ketika Mikoto memeluknya. Dia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.
"Ay masuk, Sakura-chan. Kami sudah menunggumu."
Mengikuti langkah calon mertuanya, Sakura bisa memandang ruang makan yang ramai dengan beberapa orang yang berkumpul.
"Nah, Sakura-chan. Kamu pasti sudah kenal dengan kakak dari Sasuke-kun, namanya uchiha Itachi dan itu istrinya Temari." Mikoto tersenyum lebar. "Dan disana ada adik dari Temari. Namanya Sabaku no Kankuro dan Sabaku no Gaara."
Sasuke menolehkan kepalanya dan menatap Sakura dengan pandangan bingung. Sakura hanya diam mematung dengan mata yang memandang Gaara dengan tidak berkedip.
"Gaara.. kun?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tbc
Huaaa.. Maafkan Saku atas keterlambatannya :( gommen gommen :( dan terima Kasih bagi yang sudah mendukung fict ini dan selalu menunggunya. Berhubung Saku ngetik pakai hp, jadi gak bisa disebutin satu persatu yang sudah review :'
Sampai ketemu di chap depan!
-Aomine Sakura-
