Disclaimer :

Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*

.

TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.

.

Warning :

OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!

.

Catatan :

Fic ini terinspirasi dari berbagai komik yang author baca, dan masih berusaha mencoba membuat fic bergendre komedi lagi, sangat berharap bisa membuatnya.

.

Peringatan...!

Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung suku, ras, agama dan apapun, hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.

.

Enjoy for read

.

But

.

Don't like Don't Read

.

.

~ Change ~

[ Chapter 2 ]

.

.

.

Normal pov.

"Bagaimana?" Ucap seorang pria, dia sedang duduk di kursi dalam ruangan kerjanya dan menatap seorang pria lainnya yang tengah berdiri di depan mejanya, Uchiha Sasuke nama pria yang sedang duduk ini dengan tatapan serius itu, anak dari pasangan Uchiha Fugaku dan Uchiha Mikoto, tidak begitu banyak yang tahu jika pemuda tampan dan sangat jenius ini adalah anak dari Fugaku, pria yang memiliki banyak saham dan kekayaan tujuh-turunan, sejak dulu, anak-anak dari keluar Uchiha tak pernah di eskploitasikan, masa kecil mereka sangat aman dan tidak ada yang berani mengusik anak-anak dari keluarga Uchiha ini.

Beberapa hari yang lalu setelah malam tahun baru, Sasuke sedikit mendapat kesialan, dia tidak tahu jika ada seorang wanita yang tidur bersamanya di malam hari, dia bahkan tak ingat jika sudah melakukan sesuatu pada wanita itu hingga berakhir dengan harus bertanggung jawab padanya, hanya ada bekas noda darah di atas seprai putih itu dan mereka sama-sama tanpa busana, si wanita cukup kasar padanya, sekarang sebuah plester di jidatnya itu akan selalu menemaninya selama luka akibat pukulan sebuah tensi di jidatnya, Sakura, Haruno Sakura, nama wanita yang sangat-sangat berani melawannya, bahkan ibunya sendiri tidak pernah melukainya.

"Sangat sulit, sepertinya memang ada pihak yang sengaja melakukan ini." Ucap seorang pemuda dengan rambut ungu pudarnya.

"Aku memperkerjakanmu bukan untuk main-main."

"Siapa yang main-main! Aku sudah bertahun-tahun lamanya kerja padamu dan kau tidak percaya?" Ucap Suigetsu, pria yang merupakan sahabat kecil Sasuke dan menjadi kaki tangannya sekarang, dulunya Suigetsu adalah anak dari seorang pelayan setia keluarga Uchiha, saat tumbuh bersama, Sugietsu selalu menemani Sasuke kemana pun hingga Fugaku memberinya jabatan menjadi asisten pribadi hingga orang kepercayaan Sasuke, dia pun menjadi orang terpercaya Sasuke dan akan selalu di andalkannya.

"CCTV sudah aku cek, aku sudah mengintrogasi setiap pegawai hotel dan mungkin orang-orang yang melihat kalian berdua, semuanya tidak ada yang aneh dan normal saja, malahan yang terburuk adalah seakan kau yang dengan sengaja memasuki kamar wanita itu." Ucap Suigetsu.

"Istirahatlah di rumah atau bantu ibumu bersih-bersih." Ucap Sasuke.

"Apa! Hanya gara-gara itu kau memecatku?" Protes Suigetsu.

"Aku rasa kemampuanmu sudah sangat menurun."

"Jika tidak percaya, kau urus saja sendiri!" Kesal Suigetsu. "Aku menyesal bekerja denganmu." Ucapnya lagi.

"Bagaimana jika ada pihak yang memang ingin mencari masalah denganku?" Ucap Sasuke, dia masih penasaran akan kasus ini, dan apa untungnya jika dia terlibat dengan keluarga marga Haruno itu.

"Orang yang mencari masalah denganmu? Maksudnya disini membuat skandal untukmu? Jangan konyol Sasuke, kau tidak terkenal." Ucap Suigetsu dan segera menghindar, pria di hadapannya melempar map laporan ke arahnya. "I-itu data keuangan perusahaan! Jangan di lempar seenaknya saja!" Teriak Suigetsu, dia tidak habis pikir akan tindakan Sasuke.

"Pungut dan rapikan." Perintah Sasuke.

Suigetsu benar-benar kesal, dia hanya bisa patuh pada tuannya yang sedikit menyebalkan itu, meskipun mereka adalah sahabat, data keuangan itu berserakan, untung saja ada nomer yang tertera di setiap halamannya, jika tidak, dia akan bingung menyusun kembali kertas-kertas penting itu.

"Hampir seluruh anak-anak dari keluarga Uchiha tidak begitu di ketahui publik, jadi mana mungkin seseorang membuat skandal untukmu, lagi pula jika itu adalah skandal untuk menjatuhkan perusahaan yang kau pegang, ayahmu pasti sudah mengirim orang untuk memotong tangan mereka yang melakukannya." Ucap Suigetsu, dia masih sibuk memungut kertas di lantai dan memperhatikan setiap nomer halamannya, pria ini sangat mengetahui bagaimana sisi lain keluarga Uchiha, mereka sangat tegas pada apapun.

Sasuke memikirkan ucapan Suigetsu, semuanya benar, tidak ada yang berani mencari masalah dengan keluarga Uchiha, lagi pula siapa lagi saingan keluarga Uchiha? Masih ada beberapa keluarga besar yang cukup terkenal, seperti keluarga Hyuuga, Keluarga Uzumaki, dan beberapa keluarga lagi yang tidak ingin di ketahui publik tapi cukup memiliki saham yang tinggi pula.

"Aku curiga orang dalam yang membuat hal ini." Ucap Suigetsu, seluruh kertas yang di pungutnya sudah selesai dan di tatanya rapi.

"Kau mau menuduh siapa?"

"Saat kau pergi ke kamar hotel sendirian, aku tidak di biarkan ikut oleh beberapa pengawal, mereka malah memintaku mengurus pesta dan terus mengawasi tuan besar. Bukannya ini aneh? Seharusnya Jugo bersama tuan besar, kenapa aku harus menggantikannya? Jugo jauh lebih tahu apapun tentang tuan besar." Ucap Suigetsu.

"Jadi kau ingin menyimpulkan jika orang tuaku sendiri yang membuat rencana ini?"

"Aku tidak bermaksud berkesimpulan seperti itu, lagi pula jika orang tuamu benar dalang dari kecelakaan ini, apa hebatnya keluarga Haruno itu, mereka hanya pasangan yang gila akan pekerjaan arkeolog mereka dan anaknya hanya seorang dokter."

Sasuke semakin pusing memikirkan titik terang dari masalahnya ini, dia tidak ingin menikahi wanita yang bahkan dengan mudah menghajarnya.

"Mau bagaimana lagi Sasuke, kau sudah harus menikah, di umurmu sekarang memang harus mencari pendamping, tuan Itachi saja sudah memiliki satu anak."

Kembali Sasuke melempar laporan yang sudah di tata rapi Suigetsu di atas meja.

"Sasuke! Kau keterlaluan!" Marah Suigetsu.

"Aku tidak suka jika kau membandingkanku dengannya."

"Iya-iya, tidak perlu di bongkar lagi!" Ucap Suigetsu, kembali memungut kertas itu satu persatu.

.

.

.

.

Rumah sakit Konoha.

Sakura sudah selesai dengan pekerjaannya, saat berjalan keluar bangunan rumah sakit menuju tempat parkir mobil, beberapa orang berpakaian setelan jas hitam memanggilnya dan memintanya mengikuti mereka.

"Apa kalian pengawal keluarga Uchiha?" Ucap Sakura, memastikan dia tidak sembarangan mengikuti seseorang.

Seorang pria lainnya datang dan bersikap sangat sopan pada Sakura. "Namaku Jugo, saya adalah asisten pribadi tuan besar Fugaku, nyonya besar memintaku untuk menemani anda memilih gaun pengantin." Ucap Jugo, pria berbadan tegap, besar, wajah yang terlihat ramah dan bersahabat.

"Se-secepat itu?" Ucap Sakura, orang tuanya baru pergi selama seminggu dan dia sudah harus memilih gaun.

"Ini hanya permintaan nyonya besar." Ucap Jugo.

"Baiklah." Ucap Sakura, sedikit pasrah, dia akan merasa tidak enak jika apapun atas keinginan nyonya Mikoto.

"Silahkan ikut saya."

"Bagaimana dengan mobilku?"

"Kami akan mengantar anda kembali ke rumah sakit atau seseorang akan membawa pulang mobil anda dan kami akan mengantar anda pulang." Ucap Jugo.

"Tidak perlu, kalian cukup mengantarku kembali ke rumah sakit." Ucap Sakura, terlalu repot jika harus menyuruh mereka melakukan banyak hal, Sakura hanya tidak terbiasa memerintah seseorang.

Mengikuti pria bernama Jugo itu, naik sebuah mobil sedan mewah dan ada sebuah mobil lainnya mengikuti mobil ini, Jugo akan bersama Sakura di dalam satu mobil.

Perjalanan mereka terhenti di sebuah butik terkenal di dunia, Sakura cukup takjub akan salah satu butik nomer pertama yang terkenal ini.

"Hanya untuk membeli sebuah gaun yang harganya selangit dan di gunakan hanya sehari, ini terlalu berlebihan." Pikir Sakura.

"Apa sebaiknya di butik biasa saja yang menyediakan gaun pengantin? Lagi pula desainnya itu-itu saja." Ucap Sakura

"Maaf, nona, nyonya besar ingin anda mengenakan gaun terbaik selama acara di langsungkan." Ucap Jugo.

"Buang-buang uang hanya untuk sebuah gaun." Pikir Sakura, lagi.

Berjalan masuk dan Sakura di anggap tamu spesial di sana, bahkan manajer butiknya sendiri yang mendampingi Sakura.

"Ini keluar terbaru tahun ini nona, bahannya cukup ringan dan nyaman di kenakan, tapi tak menurunkan kesan elegan dan mewah dari gaun ini." Jelas manajer butik ini.

Sakura menatap baik-baik gaun itu, terlalu terbuka pada bagian punggungnya, bahkan kain pada punggungnya sangat tipis dan transparan, dia menolak gaun itu, beberapa gaun yang sudah di pilihkan manager itu semua terlihat seksi, jika pada bagian punggung terbuka, bagian dada yang terlalu turun atau bagian belahan pada kaki yang terlalu tinggi.

"Kau memberikan gaun pengantin atau pakaian seksi untuk wanita nakal? Dasar manager aneh, biar aku saja yang memilihnya!" Batin Sakura.

"Bagaimana nona, apa kau sudah memutuskannya?" Ucap manajer itu dan berharap calon menantu dari keluarga Uchiha ini puas, dia mengenal nyonya Mikoto cukup baik dan tahu pengaruh akan wanita itu.

"A-apa ada model lain? Aku ingin melihatnya dulu." Ucap Sakura, semua gaun yang di pilih tadi tidak membuatnya senang, dia ingin melihat gaun yang meskipun bukan keluaran terbaru.

"Mungkin anda bisa jelas gaun yang anda ingin, akan saya ambilkan apapun yang sesuai keinginan anda." Ucap manajer itu.

"Aku hanya ingin gaun sederhana, tak perlu terlihat seksi atau apapun dan aku ingin sebuah hiasan kepala yang menutupi wajah." Jelas Sakura.

"Baiklah, nona, aku punya gaun yang seperti anda inginkan."

Pada akhirnya sebuah gaun benar-benar sesuai selera Sakura, dia suka akan desain yang tidak terlalu seksi dan tetap terlihat anggun.

"Mau mencobanya?"

Sebuah anggukan dan Sakura mulai memasuki kamar ganti, seorang wanita, pegawai butik ini akan membantunya, gaun yang putih dengan desain rok payung yang sangat mengembang, jika di perhatian ada beberapa hiasan kristal pada bagian roknya dan membuatnya terlihat mengkilap, kain renda dengan beberapa payet berbentuk kristal lagi dan dijahit dengan sangat detail menghiasi kaki rok yang mengembang ini, pada bagian lengan menggunakan kain renda yang lagi-lagi di hiasi payet, panjangnya hanya sebatas siku dan diatasnya sedikit terbuka tapi tak terlalu seksi, hanya memperlihatkan bahu atas, punggung atas dan bagian depan yang tidak terlalu seksi. Gaun ini sederhana tapi cukup indah saat Sakura mengenakannya, dia sendiri sampai menatap takjub akan bayangan dirinya di cermin, pada pinggang membuatnya terbentuk sempurna, Sakura puas akan pilihannya sendiri dari pada gaun-gaun yang di sarankan manajer toko ini.

"Anda sangat cocok dengan gaun ini nona." Puji pegawai itu, dia kembali membantu Sakura memasang hiasan pada kepalanya dan rambut panjang sepinggangnya di biarkan tergerai.

"Terima kasih." Ucap Sakura.

Gadis ini akan keluar dan memperlihatkan pada manajer itu jika gaunnya tak perlu seksi, cukup indah dan elegan saja.

"Aku suka gaun ini, yang ini saja." Ucap Sakura, senang, wajah senangnya seketika memudar.

"Wah-wah, anda benar-benar cantik nona, gaun ini dulunya gaun yang sangat ramai diinginkan para gadis, aku tak menyangka gaun ini akan naik pamor lagi." Ucap senang manajer itu, tapi suasana bahagia sedang tidak menyelimuti area ini, yang ada adalah suasana perang yang akan sebentar lagi dimulai.

"Kau, apa yang kau lakukan disini?" Ucap Sakura, mengabaikan ucapan manajer itu dan menatap tidak senang pada Sasuke, calon suaminya sedang berada di butik ini tanpa sepengetahuannya.

"Aku sedang menemani calon istriku, ada apa? Mau protes? Ibuku yang menyuruhku." Ucap Sasuke, sejujurnya dia sangat malas untuk melakukan hal ini, ibunya menghubunginya hanya untuk menemani wanita menyebalkan itu memilih gaun.

"Tolak saja, dasar bodoh." Ucap Sakura.

"Dengar ya wanita aneh, aku bukan orang yang suka membangkang pada orang tuaku."

"Oh, benarkah? Padahal beberapa hari yang lalu mengamuk tidak mau bertanggung jawab, dasar tidak konsisten." Sindir Sakura.

"Kau-" Jika meladeni wanita ini, kesabaran Sasuke benar-benar akan habis. "-Gaunnya jelek, jangan pakai yang itu." Ucap Sasuke.

"Apa maksudmu? Gaun ini indah dan aku akan memakai yang ini!" Tegas Sakura.

"Aku tidak suka, ganti! Mana gaun terbaikmu!" Ucap Sasuke dan menatap manajer itu.

"Ba-baik tuan." Ucap manager itu, takut, baru kali ini ada pasangan yang berkelahi hanya untuk mencari gaun pengantin.

Manajer itu mulai memperlihatkan gaun yang sudah di tolak Sakura, Sasuke memilih satu dengan asal dan menyuruh Sakura memakainya.

"Kenapa kau harus repot memilih? Aku yang memakai gaun ini dan bukan kau." Protes Sakura.

"Aku tidak mau di dampingi wanita yang menggunakan gaun murahan." Ucap Sasuke.

Perasaan manajernya sedikit hancur, seluruh gaun yang ada di butik ini memakai brand terkenal pertama di dunia dan hanya di katakan murahan oleh seorang tuan muda.

"Asalkan nyonya Mikoto senang dan sekali lagi butikku akan terkenal." Pikir manajer itu, menahan semua ucapan dari tuan muda ini.

Sasuke sampai memaksa Sakura untuk mengganti gaun yang paling di sukainya, setelah memakainya.

"Gaun macam apa ini!" Kesal Sakura, masih berada di dalam kamar ganti, dia bahkan tidak berani keluar dan hanya mengeluarkan kepalanya tanpa membuka kain penutup seluruh kamar ganti itu.

"Keluar, aku harus melihatnya." Perintah Sasuke.

"Kau saja yang pakai!" Kesal Sakura.

"Keluar atau aku akan memaksamu." Ucap Sasuke dan meminta para pengawalnya untuk menarik paksa Sakura.

"Mereka benar-benar pasangan unik." Batin sang manajer.

Sakura akhirnya keluar dan sangat tak nyaman, terlalu terbuka, terlalu seksi, bukan gaun dengan kain berwarna putih, tapi berwarna kulit yang seakan Sakura tak mengenakan apapun di tubuhnya, gaun itu terlalu banyak menggunakan kain transparan dan tidak ada rok mengambang di sana, terusan lurus yang transparan, hanya tertutup hingga paha dan cukup pendek, bagian punggung tak ada yang menutupinya dan bagian atas terlalu rendah, Sakura sampai harus menutup bagian dadanya yang seakan ingin di pamer.

"Kau pikir aku wanita nakal?" Ucap Sakura, menatap marah pada Sasuke.

"Yak, benar, kau wanita nakal. Manajer aku mau yang itu." Ucap Sasuke.

"Aku tidak mau!" Tegas Sakura, bergegas kembali ke kamar ganti, membuka gaun itu dan segera memakai pakaiannya kembali.

Jugo yang sejak tadi hanya berdiri dan menatap keduanya, mereka bertengkar, Jugo tidak tahu jika hubungan tuan muda dan calonnya sangat buruk, mereka terus melemparkan kata-kata ejekan dan marah, apalagi Sakura yang terlihat benar-benar kesal.

"Tidak perlu mengantarku kembali ke rumah sakit, aku akan pulang sendiri dan tidak ada bantahan." Ucap tegas Sakura pada Jugo, berjalan secepat mungkin, dia tidak ingin melihat wajah pria yang sudah mempermalukannya hari ini, merasa sangat malu dengan gaun yang tidak senonoh itu.

Suasananya jadi sunyi setelah wanita itu pergi, manajer dan pegawainya yang mematung, bingung. Sasuke terlihat menghela napas, rasanya dia ingin menghancurkan toko ini dan membakar seluruh gaun yang ada, wanita itu, Haruno Sakura, selalu saja membuatnya amat sangat kesal.

"Tuan apa sudah sepakat dengan gaun yang terakhir nona Sakura kenakan?" Tanya Jugo pada Sasuke.

"Beli gaun yang di sukainya." Ucap Sasuke dan beranjak pergi.

"Baik, tuan." Ucap Jugo, menatap tuannya yang berjalan keluar, dipikirannya Sasuke akan tetap dengan pilihannya, sejak dulu, Jugo tahu jika Sasuke adalah tipe keras kepala yang tidak bisa di bantah, jika dia mengatakan A harus A dan tidak boleh berubah.

"Ba-bagaimana tuan?" Kini manajer itu ingin memastikan gaun yang akan mereka beli.

"Tolong gaun pertama yang nona Sakura kenakan." Ucap Jugo.

"Baiklah, tuan." Ucap manajer itu, pada akhirnya gaun yang wanita itu sukai akan di beli oleh mereka.

.

.

Sakura belum kembali ke rumah sakit dan mendatangi sebuah kedai, dia benar-benar kesal akan sikap pria itu, sejak awal mereka tidak akan bisa bersatu bahkan jika pernikahan sekalipun yang mengikat mereka, hanya karena sebuah kecelakaan, Sakura harus menanggung masalah yang lebih rumit yaitu menghadapi pria arogan itu.

Hanya meminum teh ocah dan memakan kue dangonya, kedai disini menyajikan kue yang cukup enak, meskipun sedang dalam keadaan terpuruk, sebisa mungkin dia akan tetap sadar dan tidak minum sake.

"Aku benar-benar sial." Gumam Sakura.

"Apa kabar dokter Sakura?" Sapa seseorang.

Wanita ini menatap ke depan dan wajah seseorang yang sangat di kenalinya. "Bagaimana kau bisa ada disini?" Ucap Sakura, cukup terkejut.

"Seharusnya kau menjawab pertanyaanku dulu." Ucap seorang pria dengan senyum manisnya.

"Aku baik-baik saja."

"Baguslah, aku baru di pindah tugaskan dari pusat, aku pikir akan bertemu denganmu nanti di rumah sakit, tapi malah bertemu secepat ini, apa ini jodoh?" Ucapnya, senyum manis itu senantiasa menghiasi wajah putihnya.

"Omong kosong, dasar dokter playboy." Sindir Sakura.

.

.

TBC

.

.


update..~

masih berharap tetap lucu, *hiks* bikin humor itu susah yaaa,

.

.

See you next chapter..~