[Chaptered]
Title : The Person who Killed Me
Chapter : 3 / ?
By : Gatsuaki Yuuji
Main Cast : Uzumaki Naruto & Uchiha Sasuke
Disclaimer : All Chara punya Papi Kishi. FYI, Papi Kishi itu
Papiku.
Genre : Shonen Ai, Bacok-bacok
BGM : Nologo - The Person who Killed Me
Langsung aja deh, gak usah pake sekapur sirih lagi...eheheehe...
Suigetsu membawa Sasuke ke toilet, dihimpitnya tubuh Sasuke ke dinding.
"Kau terlihat dekat dengan sensei kuning itu", ucap Suigetsu menatap Sasuke dengan tatapan tidak suka, lebih tepatnya dia cemburu melihat Sasuke dirangkul orang lain.
"Dia bilang, dia tertarik padaku. Apa yang harus aku lakukan?",
Sasuke selalu terbuka pada Suigetsu, dia menganggap Suigetsu adalah sahabatnya dan dia percaya pada Suigetsu, meskipun ketika dia dibully, Suigetsu hanya diam dan tidak melihat, memilih untuk tidak menolongnya.
"Semua sensei sama saja. Jangan pedulikan dia! Jauhi dia!"
"Hn", Sasuke mengangguk ragu, dia tahu bahwa Naruto berbeda dengan sensei yang lain. Tapi, dia juga tidak bisa sepenuhnya percaya bahwa Naruto adalah sensei yang baik, yang tidak akan membullynya.
Suigetsu mengelus pipi mulus dan gempal Sasuke.
"Jangan terjatuh ke dalam lubang yang sama",
"Hn",
"Meskipun kau terjatuh ke dalam lubang yang sama, aku akan tetap menarikmu keluar dari lubang itu", Suigetsu mendekatkan bibirnya, lalu mengecup bibir Sasuke.
Mata Sasuke terpejam, tangannya terkepal erat saat Suigetsu menciumnya.
"Cih!", decak Suigetsu menjauhkan wajahnya dari Sasuke.
"Mengapa kau masih membatu seperti itu?", ketus Suigetsu beranjak meninggalkannya.
Sasuke menyeka mulutnya dengan punggung tangannya. Jantungnya masih berdetak kencang karena ciuman itu.
"Mengapa aku tidak bisa melawan?",
Sasuke meninju-ninju dadanya sendiri untuk melampiaskan kekesalannya. Seharusnya dia menghajar Suigetsu karena telah menciumnya. Ya, seharusnya...
Tapi, tidak bisa dilakukannya. Dia takut...
"Yo!", Kiba tiba-tiba merangkul leher Sasuke saat Sasuke memasuki kelasnya. Rangkulan Kiba membuat luka di leher Sasuke nyeri.
Kiba menanyakan padanya, bagaimana cara dia melepaskan diri kemarin? Dengan kebohongan, Sasuke menjawabnya.
"Saat aku terbangun, rantai itu sudah lepas",
"Oow", Kiba mengerutkan dahinya, merasa janggal dengan jawaban Sasuke.
"Siapa yang melepaskannya?", pikir Kiba.
Setahunya, tidak ada yang mau peduli pada si miskin ini.
"Apa Suigetsu?", tebaknya dalam hari.
Tak lama, Neji dan Hinata memasuki kelas.
"Ohayou, Hinata-hime!", sapa Kiba kegenitan.
"O..ohayou", sahut Hinata malu-malu.
Neji memberi lirikan pada Sasuke agar dia mengikutinya. Sasuke paham dengan lirikan itu, dia mengikuti Neji menuju bangkunya yang terletak di tengah-tengah. Membiarkan Kiba yang asyik berbicara dengan Hinata, perempuan yang ditaksirnya.
"Perlihatkan lehermu!", perintah Neji yang menyadari plester di leher Sasuke.
Sasuke membuka kancing seragam bagian lehernya, menunjukkan luka lecet yang dialaminya kemarin. Neji mengeluarkan selembar uang kertas untuk Sasuke. Neji selalu memberi selembar uang dengan nominal yang sama *anggap saja Rp 20.000* pada Sasuke, setelah dia membully Sasuke. Anggap saja itu uang pertanggung-jawaban darinya.
Bagi Sasuke, meskipun uang itu bernilai kecil, tetap tidak boleh disia-siakan, harus ditabung untuk kebutuhan hidupnya. Ingat, sedikit demi sedikit, lama-lama akan menjadi bukit, bukan?
"Terima kasih", ucap Sasuke setelah memungut uang yang dijatuhkan Neji ke lantai.
Neji tersenyum puas pada dirinya, hari ini dia telah berbuat baik dengan bersedekah kepada pengemis.
Sepulang sekolah.
"Berhenti mengikutiku, sensei!", Sasuke mulai risih melihat Naruto yang diam-diam mengikutinya dari belakang. Gaya konyol Naruto yang mengendap-ngendap seperti di film komedi, membuat Sasuke seperti penjahat saja.
"Ehehehe...", cengir Naruto keluar dari balik tong sampah.
"Mengapa kau mengikutiku?",
"Karena aku tidak ada kerjaan",
"Huf", Sasuke memutar bola matanya, kembali melanjutkan perjalanan.
Naruto juga melanjutkan perjalanannya mengikuti Sasuke.
"Apa maumu, sensei?",
"Menarik perhatianmu, karena kau telah berhasil menarik perhatianku",
"Kau sudah menarik perhatianku dan juga...semua orang di sekitar", Sasuke melirik orang-orang yang melihatnya sambil berbisik-bisik dan tertawa kecil.
"Ehehehe...", lagi, Naruto hanya bisa tercengir bodoh.
"Pulanglah, sensei... Kau membuatku takut...", lirih Sasuke dengan tatapan sendu dan minta dikasihani.
Naruto harus mengalah, mungkin bukan ini cara yang tepat untuk menarik perhatian sekaligus kepercayaan Sasuke.
"Jya! Hati-hati, Suke~", pamit Naruto langsung berbalik meninggalkan Sasuke.
Tepat di balik mesin minuman, Naruto melihat Shino sedang melambai padanya.
"Sensei, aku mendengar dan melihatnya", ucap Shino yang sedari tadi mengikuti Naruto.
"Ehehehe...", Naruto hanya bisa menyengir.
"Kau gay, sensei?",
"Mmmm~Ya...ehehehe...",
"Berita bagus!",
"A, ano...Aburame-san", panggil Naruto ketika Shino hendak pergi meninggalkannya.
"Ya?",
"Apa kau sendirian?",
"Maksud, sensei?",
"Aku butuh bantuanmu, untuk...membullynya", Naruto tiba-tiba mengubah ekspresinya dari bodoh menjadi serius.
Shino tidak menyangka bahwa sensei yang konyol ini bisa berseringai licik. Shino ikut berseringai, sepertinya dia tertarik dengan ide Naruto. Selama ini, dia hanya melihat Sasuke dibully, dia tidak ambil bagian dalam pembullyan, walaupun dia ingin. Sekarang, mungkin inilah kesempatannya.
"Kau tidak bersama temanmu?", tanya Naruto lagi.
"Tidak. Aku meninggalkan Chouji dan mengikutimu karena melihat gerak-gerikmu yang mencurigakan",
"O, begitu. Baguslah!",
"Apa yang bisa kubantu, sensei?", Shino mulai tidak sabaran untuk membully Sasuke.
"Ikutlah denganku. Akan kujelaskan di rumahku",
"Hn!", angguk Shino.
Di sebuah ruangan yang gelap dan kotor, ada sesosok yang tengah duduk terikat di bangku khusus. Sosok yang terbius itu, mulai tersadar, dia menggerak-gerakkan tubuhnya, tapi tidak bisa, semua gerakannya mati terkunci oleh rantai yang mengikatnya. Berteriakpun tidak bisa karena mulutnya tertutup perekat hitam.
CLiiiiK
Tiba-tiba ruang yang gelap itu berubah menjadi terang, walau hanya diterangi 1 lampu saja.
"Lama sekali aku menunggumu terbangun, Aburame-san",
Sosok terikat yang bernama Aburame Shino itu terkejut melihat Naruto, sang sensei yang berseringai padanya.
"Apa yang kau lakukan, sensei!", teriak Shino, tapi yang terdengar hanya gumanan tidak jelas.
Naruto menarik bangku, dan duduk berhadapan dengan Shino.
"Ini rencanaku, kau harus mendengarkannya dan jangan bersuara",
Shino mengangguk kuat. Dia tidak tahu, mengapa Naruto membawanya dan mengikatnya di sini? Dia takut, Naruto akan menyiksanya, jika dia tidak menurut.
"Good!", Naruto menarik paksa perekat dari mulut Shino.
"Sensei, apa yang kau lakukan?", tanya Shino pelan, tidak menguntungkan baginya jika dia bersikap ketus.
"Shzzzz", Naruto menyuruh Shino untuk diam.
Shino menelan ludah, ketika melihat Naruto mengeluarkan gunting dari saku celananya.
"Apa ini?", tanya Naruto.
"Gun...",
Belum sempat Shino menjawab selesai, Naruto tiba-tiba menggunting jari telunjuk kiri Shino dengan gunting yang dipegangnya. Sontak membuat Shino menjerit kesakitan.
"Shzzzz... Aku tidak menyuruhmu menjawab", lagi, Naruto menyuruh Shino untuk diam.
Shino menggigit bibirnya untuk menahan rasa sakit dari jarinya yang putus.
"Dengar dan jangan bersuara",
Naruto melihat setetes air mata turun membasahi pipi Shino.
"Aku penasaran dengan warna bola matamu",
Sebelum menarik kaca mata yang dikenakan Shino, Naruto membuat sebuah taruhan.
"Jika warna bola matamu tidak hitam, maka aku akan mencongkel bola matamu itu",
Tubuh Shino menengang, keringat dingin beserta air mata membasahi wajahnya. Dia tahu, dia tidak akan selamat, karena warna bola matanya adalah...
"Coklat? Huh!", cibir Naruto setelah menyingkirkan kacamata Shino.
"Tapi itu coklat kehitam-hitaman. Jadi aku tidak akan mencongkelnya...ehehehe...", tiba-tiba Naruto tercengir bodoh. Shino bisa bernafas lega sejenak, karena Naruto tidak jadi mencongkel matanya.
Meskipun ekspresi Naruto tampak seperti biasa, dalam artian bodoh, itu tetap saja membuat Shino semakin takut. Apa yang diinginkan sensei gila itu?
Naruto tiba-tiba mengubah ekspresinya lagi, dia kembali dengan wajah serius. Shino tahu bahwa sensei itu akan menyakitinya lagi.
"Agak sakit, tapi kau harus menahannya. Ingat, jangan bersuara, dengarkan saja gerakan gunting ini",
Shino memejamkan matanya saat Naruto mengarahkan gunting itu ke wajahnya. Naruto pasti akan melukai wajahnya dengan gunting.
Terasa cubitan dari kelopak mata sebelah kiri Shino.
Belum sempat melihat jelas, Shino merasakan kelopak matanya sakit dan berdarah. Naruto baru saja menggunting kelopak matanya.
"AKH! Sakit, sensei! Sakit! Kumohon, lepaskan aku! Ini sakit!", teriak Shino menangis darah, tubuhnya bergerak tidak karuan untuk melepaskan rantai yang mengingatnya.
"Shzzzz!", Naruto menutup mulut Shino dengan telunjuknya, tapi Shino terus berteriak memohon. Akhirnya Naruto kembali menggunting jari telunjuk Shino yang satu lagi.
"Ampun sensei! Apa salahku?",
"Salahmu? Mmm~ akan kuingatkan kembali",
Naruto kembali duduk di bangkunya.
"Kau tidak mengindahkan perintahku saat aku memintamu untuk melepas kaca mata hitammu di dalam kelas",
"Maaf, sensei. Aku berjanji tidak akan memakai kaca mata lagi di dalam kelas",
"Sensei tidak menerima permintaan maaf saat sensei sedang memberi 'pelajaran'",
"Kumohon, maafkan aku~",
"Sekarang diamlah. Jika kau terus berisik, kau tidak bisa mendengar bunyi indah yang dihasilkan guntingku ini",
"Jangan sensei, kumohon...",
"Shzzzz...",
Naruto menulikan pendengarannya dari jeritan Shino, dia fokus pada kegiatannya, menggunting kelopak mata Shino yang satunya lagi.
Suara Shino telah habis karena berteriak, dia memilih untuk diam menahan sakit daripada memaksakan diri untuk berteriak dan mengakibatkan kehilangan jarinya yang lain.
Naruto tesenyum melihat bola mata coklat itu tanpa kelopak dibanjiri dengan darah.
"Ah! Ketinggalan", Naruto hampir melupakan kaca mata hitam milik Shino.
Naruto mengeluarkan lensa hitam dari bingkainya, kemudian sepasang lensa hitam itu ditanamnya paksa ke dalam mata Shino. Itu membuat Shino menjerit hingga jatuh pingsan.
"Nah! Jika seperti ini, aku tidak akan melarangmu untuk memakai kaca mata hitam di dalam kelas",
Dua hari berikutnya, terdengar berita heboh tentang menghilangnya Shino. Sebagai anak tunggal di keluarga Aburame, orang tuanya pasti cemas jika tidak melihat kepulangan sang anak di rumah. Mereka langsung menghubungi polisi dan meminta polisi untuk mencarikan anak mereka yang hilang itu. Mereka juga menghubungi semua teman-teman Shino. Bahkan mereka memberi imbalan jika ada yang berhasil menemukan Shino dan membawanya pulang dengan selamat. Tapi nihil, tidak ada yang tahu keberadaan Shino.
"Kuharap Shino baik-baik saja", ucap Shikamaru, sang ketua kelas yang hobby tidur ini.
"Apa ada kemungkinan dia diculik?", tanya Kiba merinding, dia mulai membayangkan adegan penculikan di film-film.
"Jika itu penculikan, seharusnya si penculik meminta uang tebusan kepada keluarga Shino. Tapi sampai sekarang, tidak ada kabar yang jelas, ini penculikan atau...", jelas Shikamaru sengaja menggantung kalimatnya.
"Berhenti, membuat yang lain takut, ketua!", tegas Neji yang tidak suka melihat teman-temannya ini takut seperti anak perempuan.
Shikamaru menguap lebar, dia meninggalkan perkumpulan dan kembali ke mejanya untuk tidur.
Pandangan Neji tertuju pada Sasuke yang sedang membersihkan meja dan bangkunya yang kotor terkena tepung, saos dan kecap. Suara berisik dari gesekan meja, membuat pendengaran Neji risih.
"Kau tidak mencurigainya kan?", tanya Kiba yang ikut memperhatikan Sasuke.
"Tidak. Aku hanya heran, mengapa dia masih bisa bertahan?",
"Karena masih ada yang peduli padanya", Kiba memajukan bibirnya menunjuk punggung Suigetsu yang sedang duduk bersilang kaki memperhatikan Sasuke. Meskipun Suigetsu tampak mengejek sesekali menggoda Sasuke, hanya dia yang mau membuang-buang suara untuk berbicara banyak pada Sasuke.
"Jika maho itu tidak ada, mungkin dia juga tidak ada", pikir Neji.
Di ruang bawah tanah.
"Waktunya makan, Shino-chan", Naruto memasukkan segenggam nasi putih ke mulut Shino. Posisi Shino masih seperti awal, terikat di bangku khusus, duduk manis, tidak berontak dan diam.
Menyadari tidak ada reaksi atau pergerakan dari Shino, Naruto menyentuh leher belakang Shino yang dingin dan tidak berdenyut.
"R.I.P",
Seperti Kidomaru, Naruto juga membakar jasad Shino ke dalam tungku untuk dijadikan adonan tanah liat.
Rumadoki yang telah diperbaikinya berhasil diberikan kembali pada Sasuke. Sasuke terpaksa menerimanya. Karena benda itu tidak berguna dan terlalu aneh untuk dipajang, Sasuke menyimpannya di kolong dapur, berdekatan dengan tong sampah. Naruto tahu itu, karena dia pernah ke rumah Sasuke diam-diam.
Mengenai Kidomaru, sampai saat ini belum terdengar kabar heboh tentangnya. Mengirim pesan singkat dari ponsel Kidomaru kepada ibunya, adalah cara yang tepat. Apa lagi isinya yang menuliskan bahwa Kidomaru sedang liburan ke pulau bersama teman-temannya.
Jika saja cara ini bisa digunakan untuk keluarga Shino, mungkin mereka tidak perlu secemas ini terhadap anaknya. Tapi mau bagaimana lagi, Shino adalah anak emas dari keluarga Aburame. Tidak melihat Shino sehari saja, mereka sudah seperti kebakaran jenggot.
Dari kejauhan, Naruto memandangi Sasuke yang sedang memungut robekan buku-buku di tanah. Meskipun robekan kertas itu telah hancur terkena air hujan, dia tetap memungutnya, tidak peduli pada air hujan yang membasahi tubuhnya.
Naruto menatap diam kegiatan Sasuke, tidak terpikir bahwa dia akan mengejar Neji -sang pelaku pengrobekan- lalu menghajar ataupun memutilasinya. Belum saatnya dia bertindak, dia ingin Sasuke menunjukkan kekuatannya. Dia ingin Sasuke menghajar mereka semua. Tapi ternyata, sejauh yang dia pantau, Sasuke hanya diam dan menerima perlakuan mereka.
"Cih!", decaknya merasa bosan melihat pemandangan di depannya itu.
Naruto memutuskan untuk menghampiri Sasuke.
"Sampai kapan kau akan seperti ini terus?", tanya Naruto sambil memayungkan Sasuke agar tidak terkena hujan, walaupun tubuh dan seragam Sasuke telah basah kuyup.
"Mengapa aku masih bisa bertahan?", pertanyaan Sasuke sedikit ambigu bagi Naruto.
"Ya. Mengapa kau masih bisa bertahan?", Naruto kembali melemparkan pertanyaan Sasuke tadi.
Sasuke tidak menjawab, dia menatap lurus pada robekan kertas yang hancur di tangannya.
"Sensei... Apa yang membuatmu bisa bertahan di tengah kerasnya hidup?",
Naruto terjongkok, menyetarakan tingginya dengan Sasuke.
"Karena aku punya impian",
"Apa impianmu saat itu?",
"Menjadi guru, agar aku bisa mendidik anak-anak dengan benar",
Sasuke tersenyum tipis, membuatnya tampak manis di mata Naruto.
"Kau berhasil mewujudkannya, sensei",
"Hn! Seperti yang kau lihat",
Sasuke memasukkan semua robekan kertas ke dalam tas barunya yang tak luput dari pengrusakan Neji.
"Sensei...",
"Ya?",
"Aku bisa bertahan karena aku juga punya impian",
"Apa impianmu?",
"Menjadi dokter",
"Impian sangat tinggi dan...mahal...",
Sasuke merasa kecewa dengan ucapan Naruto, seolah-olah meremekan dirinya yang miskin ini.
"Tapi, aku yakin kau bisa menjadi dokter!", Naruto mengacak-ngacak rambut Sasuke yang basah.
Sebelum pergi, Naruto mengeluarkan sesuatu dari saku blazernya.
"Hadiah untukmu", sebuah replika cermin tanpa kaca, bulat dan bergagang, berukuran sebesar telapak tangan orang dewasa. Cermin itu terbuat dari tanah liat dan abu Shino.
Naruto juga meminjamkan payung untuk Sasuke.
"Tolong jaga Oshin ya", ucapnya, lalu berlari menerjang hujan.
Sasuke memiringkan kepalanya menatap replika cermin di tangannya.
"Oshin?",
Saat membalikkan cermin itu, Sasuke baru menyadari bahwa cermin ini bernama Oshin.
Sasuke tersenyum geli melihat benda dan nama aneh yang diberikan sang guru aneh itu.
Keesokan pagi harinya.
"Sasuke! Nii-san pergi dulu, ya! Jangan lupa bawa bento! Lekas mandi, jangan sampai terlambat! Jya!", pamit Itachi terburu-buru tanpa mengetahui keadaan Sasuke.
Itachi bekerja sebagai buruh pabrik, meskipun gajinya kecil, setidaknya masih bisa mencukupi kebutuhan hidup mereka yang sederhana ini.
"Hati-hati, nii-san...", ucap Sasuke pelan.
Sasuke merasakan kepalanya sangat pusing, tubuhnya panas sekaligus kedinginan. Dia membaluti tubuhnya di dalam selimut, tapi selimut itu tidak cukup membuatnya hangat.
Diletakkan kedua tangannya yang dingin ke lehernya yang hangat. Kehangatan di lehernya tidak bisa membantu. Dengan memaksakan diri dia berjalan ke dapur yang jaraknya hanya 5 langkah dari kamarnya.
Dia butuh air hangat dan obat penurun panas.
BRuuuuK
Tubuh itu ambruk seketika tanpa pegangan.
Saat Sasuke membuka mata, samar-samar dia melihat sepasang bola mata secerah langit biru. Dia ingat, siapa pemilik bola mata itu.
"Sen...sei?",
"Ya. Bagaimana keadaanmu, Suke?",
Sasuke tidak mampu menjawab, dia menjulurkan jempol kanannya memberi isyarat bahwa dia baik-baik saja. Naruto tahu bahwa Sasuke berbohong.
"Istirahatlah, aku akan menjagamu", Naruto mengganti handuk kompresan di kening Sasuke. Tangan dingin Naruto menyentuh leher Sasuke yang hangat.
Sasuke menepis pelan tangan Naruto, menyeret tubuhnya ke samping menjauhi Naruto. Sasuke teringat, kondisi yang sama persis, saat dia lemah dan tidak bisa bergerak, lalu Orochimaru mulai melecehkannya.
"Jangan mendekat! Uhuk uhuk...", Sasuke terbatuk-batuk, tenggorokannya tiba-tiba sakit saat berteriak.
"It's OK, Suke! It's OK! Aku hanya ingin membantumu, kau sakit", bujuk Naruto.
"Keluar!", teriak Sasuke lagi, tidak peduli akan membuat tenggorokannya bertambah sakit.
Dia tidak boleh terlihat lemah di hadapan senseinya ini, jika dia lemah, sensei ini pasti akan melecehkannya.
Naruto terpaksa menyingkir, sebelum Sasuke mengunci pintu rumah, Naruto berpesan padanya.
"Jika kau butuh bantuan, tiup peluit itu",
BLaaaaM
Sasuke menutup kasar, lalu mengunci pintu rumahnya. Kemudian Sasuke kembali berbaring di futon.
Pandangannya tertuju pada peluit merah di sampingnya.
"Dia pikir aku ini Jerry!", cibir Sasuke sambil menggenggam peluit merah itu, kemudian dia kembali tertidur.
Tidak terasa hari telah sore. Sasuke terbangun ketika merasakan perutnya keroncongan. Dari tadi pagi, dia belum makan sama sekali.
Dia berdiri dari futonnya untuk mencari makanan. Saat mulai melangkah, kakinya menginjak peluit merah.
Dipungutnya peluit merah itu. Entah apa yang mendatangkan rasa penasarannya untuk meniup peluit merah itu?
PRiiiiT!
"Dia tidak akan datang", gumannya sambil melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 4 lewat.
DaaaaK DaaaaK
"Sasuke? Kau perlu bantuanku? Kau baik-baik saja? Buka pintunya, Sasuke!", teriak suara cempreng dari depan pintu rumahnya.
Sasuke memijit dahinya, sakit kepalanya mendadak kambuh setelah menyadari Naruto belum pergi.
"Apa maumu, sensei?", lirihnya bosan.
DaaaaK DaaaaK
"Sasuke?",
Sasuke berjalan cepat untuk membuka pintu, dia tidak ingin Naruto menghancurkan pintunya. Dia juga tidak ingin tetangga terganggu dengan suara cempreng itu.
Sasuke menjulurkan kepalanya, tubuhnya menahan pintu, dia tidak ingin Naruto masuk.
"Sasuke?", wajah Naruto tampak cemas.
"Mengapa kau masih di sini?",
"Kau sakit. Aku mencemaskanmu",
"Pulanglah, sensei!",
"Kau meniup peluitnya. Kau pasti perlu bantuanku",
Sasuke membenturkan pelan dahinya ke pintu. Seharusnya dia tidak perlu meniup peluit itu. Salahkan rasa ingin tahunya untuk mengetes keampuhan peluit itu.
"Kau butuh sesuatu, Suke?", tanya Naruto.
"Ya...", dengan terpaksa Sasuke menjawabnya, "Aku lapar...",
Naruto tersenyum lebar menyanggupi permintaan Sasuke.
Terputus
Next, siapa korban berikutnya?
