Disclaimer : Masashi Kishimoto-sama

Main Cast : SasuSaku

BALASAN REVIEW KEMARIN

Wah maaf ya San baru bisa bales riview readers semua *PLAK! Langsung saja!*

Buat yang minta update kilat : Siap! San akan berusaha!

To Guest : Kalo San pake karakter Karin bisa beda cerita, karena Karin juga mencintai Sasuke. Maaf ya tidak bisa membuat yang Guest inginkan.

To Mako-chan : Baiklah Mako-chan! San akan buat Sasu menderita! *Ikut berapi-api!*, *Ngikut aja lo, nggk kreativ San!*

To Miss Devil A : Benarkah? *Tengok kanan kiri*
Padahal adegan terakhir itu San terinspirasi dari film 'High School Of The Death'-_-, apa benar ada yang sama? Kalau begitu San minta maaf deh karena kesamaan ini, San jarang baca ffn orang, jadi sekali lagi maaf ya jika ada kesamaan. Tapi San tidak sedikitpun tau.

To Rise Star : Kalau menurut San itu yang namanya pembalasan, tapi terimakasih atas riviewnya

To Koibito cherry : Apakah crita ini sesedih itu?*Kegeeran*. Pasti ada karena ada 4 chapter Tapi main castnya SasuSaku. Tapi San memang akan membuat Sasu menderita, agar dia merasakan betapa sakitnya hati Sakura. Dan terimakasih atas riviewnya :D

To Ichiharuno : YOSH!

To kotomi kotobuki : Silahkan . Memang alurnya terkesan kecepetan, dan pendepkipsian juga memang sedikit San paksakan karena bagi-bagi waktu untuk belajar*Alasan!*. Padahal San sudah baca ulang, yah kalau begitu gomen. Dan terimakasih atas riviewnya.

To sasusaku kira :Kalau tentang apakah Sakura masih mencintai Sasuske San tidak bisa beri tahu, nanti ketauan dong *gomen*. Sebenarnya San juga tidak tega, tapi dengan keadaan Sakura yang seperti ini, Sasuke semakin merasa bersalah. Terimakasih riviewnya.

Baiklah, kita lanjutkan chapter berikutnya! Ini dia!

::::DONT LIKE DONT RIDE::::


Chapter 3

Bulan punama dimalam hari ini terlihat bersinar redup, persis seperti hati seorang gadis yang tengah tertunduk lesu diatas ranjangnya. Mata gadis bersurai pink itu terlihat bengkak, dan ada bekas jejak air mata disana, bisa kalian tebak seberapa banyak air mata yang Sakura keluarkan malam ini.

"Masuk," Ucap Sakura ketika mendengar ketukan di pintu kamarnya.

Dan tak lama kemudian muncul seorang pria dari balik pintu berwarna putih itu, lalu pria itu berjalan mendekali Sakura dan duduk di sebelahnya.

"Maafkan aku Sakura, aku tidak bermaksud membuatmu kembali bertemu dengan Sasuke.." Kata pria itu dengan penuh penyesalan.

"Tidak Sai," Sakura meraih tangan pucat itu, menggenggamnya dan meletakannya dipangkuannya. "Lagi pula kau juga tidak mengetahui kalau Sasuke yang telah membeli laguku. Yang kau tau tuan Uzumaki lah yang membeli laguku, jadi ini bukan kesalahanmu" Lanjutnya, sambil mencoba mengukir senyum manisnya.

Tapi senyuman Sakura tak semudah itu membuat Sai lega, Sai tau Sakura sangat memaksakan senyumannya itu. "Tidak. Aku tau yang membeli lagumu adalah Sasuke, orang yang telah menyakitimu. Kukira itu Sasuke yang berbeda, bukan Sasuke yang kau kenal. Seharusnya aku memberitahumu tentang hal ini, seharusnya aku tidak gegabah dan terburu-buru membawamu kembali ke Jepang Sakura."

Sakura sedikit menghena nafas, memang sulit membuat Sai percaya jika dia sudah merasa bersalah seperti ini. "Tetap saja kau tidak mengetahuinya, karena aku tidak pernah menunjukan foto Sasuke padamu kan?" Ucap Sakura mengusap wajah Sai, terlihat ada beberapa luka lebam di wajahnya, lalu Sakura mengecup pipinya lembut, "Aku tidak akan menyalahkanmu, percayalah."

"Hhhhhh, baiklah. Bagaimana kalau kita pergi makan ice cream? Ada toko ice cream yang baru saja buka di depan mension kita. Pasti akan membuatmu sedikit membaik" Tawar Sai yang akhirnya menyerah untuk meminta maaf kepada Sakura.

"Hihihi, tapi wajahmu sedang hancur seperti itu Sai, apakah pantas musisi mendunia depertimu tampil di depan publik dengan kondisi seperti itu?" Tanya Sakura yang telah kembali ceria.

"Un!" Respon Sai langsung memegangi wajahnya, lalu tersenyum. "Tapi aku masih tetap tampankan? Lagipula dengan wajahku yang sedang seperti ini mereka tak akan mengenaliku, dan mana ada musisi dunia yang ingin pergi ke toko ice cream jalanan? Mereka tak akan curiga" Jawab Sai sambil menarik kursi roda kearah Sakura.

"Hahaha, dasar Sai! Baiklah, baik, kau memang tampan Sai-kun. Takku sangka kau begitu memperhatikan ketampananmu, apa masih banyak gadis-gadis yang melirikmu ya jika wajahmu seperti ini?" Goda Sakura, menatap Sai yang kini tengah menggendongnnya.

Perlahan Sai mendudukan tubuh Sakura di atas kursi roda, kemudian menyahuti godaan gadis itu. "Hey, penampilan itu penting bukan? Apalagi di hadapan gadisku ini, aku harus selalu terlihat tampan. Dan soal gadis-gadis yang meliriku walaupun kondisiku seperti ini, aku tidak perduli, karena hanya kau yang aku suka"

Sakura hanya tersenyum mendengar jawaban dari Sai. Padahal beberapa jam lalu hatinya masih dirundung dengan kesedihan, tapi kehadiran Sai membuatnya kembali bahagia, dan sejenak melupakan apa yang telah terjadi padanya tadi, Sai sangat tau apa yang membuat Sakura kembali bahagia.

'Terimakasih, Sai.'

.

.

.

.

.

.

"Aarrgghh!" Geram Sasuke menjambak rambutnya frustasi, sambil terus merasakan tubuhnya yang basah karena guyura air dari atas shower.

Saat ini Sasuke belum juga bisa menetralkan pikirannya yang kacau. Sudah setengah jam Sasuke berada di dalam kamar mandi, terus membiarkan showernya menyala sehingga membasahi tubuhnya. Sasuke berbalik dan menatap kaca yang ada di hadapannya. Ia menatap banyangannya sendiri, lalu menyentuhnya perlahan.

"Ini sebuah hukuman untukmu Sasuke, karena kau telah menyakitinya dulu. Dan sekarang kami-sama telah membalasnya, dengan menjauhkan Sakura darimu, membuatnya membencimu.." Gumamnya pelan. Sorot mata Sasuke yang biasanya terlihat sangat tajam entah kenapa menjadi lemah seperti ini, Sasuke yang biasanya kuat kenapa bisa menjadi serapuh ini, hanya cinta yang dapat membuat Sasuke menjadi terpuruk dan takberdaya.

"Sasuke-sama ada panggilan dari produser menunggu anda, produser menunggu anda di ruang tamu" Ujar seorang pelayan dari kotak suara Sasuke yang terletak di kanan atas kamar mandinya. Bukan hal awam lagi bukan kalau seorang aktris menaruh kotak suaranya di segala tempat.

Sasukesegera melepas baju basah yang sedari tadi ia kenakan,mengenakan jubah mandinya , lalu keluar dari kamar mandinya dan langsung menemui Naruto yang ada di lantai bawah.

"Ada apa?" Tanya Sasuke datar, padahal dia masih menuruni tangga.

Naruto berdiri dari duduknya, lalu melemparkan sebuah tabloid ke arah Sasuke, "Kau memang sudah keterlaluan Sasuke" Jawabnya sambil memijit pelan keningnya.

'Penganiayaan Uchiha Sasuke terhadap Sai, seorang musisi terkenal asal USA'

Bagai mana kejadian beberapa jam lalu bisa langsung menjadi hot line di media? Padahal Sasuke tidak melihat satupun awak media di gedung itu.

"Ini merupakan skandal besar dari sekian banyak pemberitaan burukmu Sasuke, pamormu akan rusak dimata masyarakat" Ucap Naruto menatap wajah Sasuke yang kelihatannya biasa saja.

"Lalu apa peduliku?"

"Apa pedulimu!?" Seru Naruto menggebrak meja dengan sangat keras sehingga memunculkan retakan pada meja kaca itu. "Aku lelah terus menghadapi masalahmu! Semuanya! Perkelahian di klub malam, pencemaran nama baik, tabrak lari, menyetir dalam keadaan mabuk, penyetopan kontrak kerja secara paksa, dan sekarang penganiayaan! Aku lelah berurusan dengan para polisi itu Sasuke! Dan sekarang kau masih bertanya apa pedulimu? Ini sudah kelewat batas!" Tukas Naruto dengan segala emosi yang membuncah di dalam dirinya. Sikap Sasuke yang egois, seenaknya, tidak ingin tau apa yang terjadi, dan dingin membuat Naruto sangat muak, sangat muak untuk menangani masalah aktrisnya ini. Dan disinilah kesabaran Naruto sudah ada pada puncak tertinggi, ia tak bisa menangani Sasuke lebih lama lagi.

"Kau tidak mengetahui apa-apa tentang hal ini Naruto" Kata Sasuke ringan, menuju tempat sampah yang ada dibawah tangga, kemudian membuang tabloid yang di berikan Naruto tadi.

"Apalagi yang belum aku ketahui? Ini sudah jelas, kau menganiaya klien kita sendiri. Apa yang perlu aku ketahui lagi!?"

Sebuah seringaian halus tengah tersungging di bibir tipis Sasuke, seraya ia mendekati Naruto yang tengah menatapnya kesal. "Pria bernama Sai itu yang telah membuat Sakura cacat,"

"Tunggu dulu!" Seru Naruto memotong kalimat Sasuke. "Apa yang kau bicarakan ini Sasuke? Sakura cacat, apa maksudmu?" Tanya Naruto dengan ekspresi wajah yang berubah menjadi khawatir.

"Aku bertemu Sakura saat aku berlatih tadi. Dia tidak berbeda, dia masih Sakura yang aku kenal, namun kondisinyalah yang membuatku sangat merasa bersalah. Sakura cacat, dia tidak bisa menggerakan tangan dan kaki kirinya, dan yang melakukan itu, adalah Sai. Maka dari itu aku menghajarnya" Jawab Sasuke santai.

Naruto sedikit tercengang, apa benar Sasuke telah menemukan Sakura?

"Sakura terlihat sangat membenciku, tatapan matanya sangat berbeda, tak seperti dulu. Dan sekarang dia sudah memiliki seorang kekasih, yaitu Sai, mungkin memang sudah seharusnya dia melakukan itu" Jelas Sasuke lagi. Kini Sasuke tengah merebahkan tubuhnya di atas sofa merahnya, melepaskan penat di hatinya.

"Ja-jadi, Sai itu ke-kekasih Sakura?" Tanya Naruto yang masih tergagap kaget.

"Hn" Jawab Sasuke seperti biasa.

"Berarti, lagu itu buatan Sakura. Karena Sai-san bilang gadisnyalah yang membuat lagu itu, sungguh sangat ajaib sekali" Ujar Naruto tersenyum lebar.

'Lagu itu buatan Sakura, ternyata aku benar.'

Naruto sedikit mengeryitkan dahinya, bukankah dia kesini untuk marah-marah? Tapi kenapa mengobrol dengan Sasuke?

"Sudahlah teme, pokoknya aku tidak mau tau. Skandal ini harus kau selesaikan sendiri, aku sudah tidak mau berurusan dengan polisi, awak media, atau siapapun. Sebagai aktris kau harus profesional, tidak boleh terpengaruh masalah pribadi saat bekerja. Mengerti!" Seru Naruto yang berusaha tegas, walaupu Sasuke sahabatnya sejak kecil ia tidak mungkin membelanya terus, apalagi Sasuke selalu membangkang padanya.

"Terserah" Sahut Sasuke datar.

Naruto hanya merengut kesal kemudian pergi meninggalkan Sasuke dengan langkah jengkel. Sedangkan Sasuke, masih duduk di sofanya dan memasang wajah datar.

Tak berapa lama kemudian ponsel Sasuke terdengar berdering, siapa yang menelfonnya malam-malam begini?

"Hn?" Sasuke mengangkat telfonnya dengan sedikit jengkel.

"Ini aku, Karin. Naruto-sama bilang Sasuke-sama harus segera menuju kantor redaksi. Penyebaran kabar itu sudah meluas dan menjadi hot news di beberapa media masa, para wartawan menuntut Sasuke-sama mengadakan konfersi pers sekarang juga untuk menjelaskan skandal dengan Sai-sama, jadi dimohon cepat " Jelas Karin yang tak lain adalah asistan Sasuke.

'Plip', Sasuke langsung menutup ponsel flipnya. Apakah kabar ini sudah meluas secepat itu? Sampai-sampai para pers menuntutnya mengadakan konfersi pers begini, sungguh sangat menyusahkan. Ini lebih cepat 24 jam dari skandal Sasuke yang lain, biasanya para pers akan memintanya melakukan konfersi pers seperti ini satu atau dua hari kemudian, ini begitu menyusahkan.

Cahaya jepretan kamera segera berebut ketika Sasuke baru saja menuruni mobilnya. Beberapa bodyguardpun terlihat berjaga di sekitar Sasuke, melindungi artisnya agar tidak terluka.

"Minggir-minggilr, biarkan Sasuke lewat!" Teriak para bodyguard itu, menerobos lautan manusia di sekitarnya. Bukan saja pers yang ada disini, tapi ada juga orang awam karena ini konfersi pers terbuka. Setelah sampai pada meja sidang, barulah pada bodyguard itu pergi.

"Apa anda mempunyai masalah dengan Sai?!"

"Apakah anda mengenal Sai?"

"Ada hubungan apa anda dengan kekasih Sai?!"

"Kenapa anda terlihat begitu emosi?!"

"Benarkah isu bahwa anda merebut kekasih Sai?!"

"Kenapa akhir-akhir ini anda sering membuat skandal?!"

"Ini merupakan skandal besar, bagaimana pendapat produser Uzumaki?!"

Serang para wartawan itu saat Sasuke baru menempati kursinya, lalu kemudian Naruto melerai agar para wartawan itu tidak berderet dengan pertanyaannya yang dapat memojokan Sasuke.

"Pertanyaan dimulai dari wartawan XX, kemudian berderet pada barisan pertama, di ulang dari barisan kiri dan seterusnya. Silahkan!" Ujar Naruto mempersilahkan.

Wartawan yang pertamapun berdiri, siap untuk mengajukan pertanyaannya. "Apa anda memunyai masalah dengan Sai, musisi asal Los Angeles itu?" Tanyanya.

"Hn" Jawab Sasuke seperti biasa karena pertanyaan itu tidak terlalu penting untuk di jawab dengan jawaban panjang lebar.

"Apakah anda mengenal Sai?"

"Hn"

"Ada hubungan apa anda dengan kekasih Sai?"

"Sakura, mantan kekasihku"

"Kenapa anda terlihat begitu emosi? Padahal gadis yang bernama Sakura itu hanyalah mantan kekasih anda. Apa terjadi sebuah masalah?"

Sasuke menghela nafas berat, pertanyaan kali ini harus ia jawab dengan kenyataan yang terjadi. "Aku begitu emosi karena Sai yang membuat Sakura menjadi cacat. Dia memang mantan kekasihku, bahkan aku sering menyakitinya saat kami masih bersama, lalu dia pergi meninggalkanku karena dia sudah tidak tahan menghadapiku yang tak pernah mencintainya. Setelah kepergiannya, aku baru menyadari seberapa berartinya Sakura bagi hidupku. Sakura menghilang entah kemana, aku terus mencarinya. Dan sekarang, aku dapat bertemu lagi dengannya setelah dua tahun berpisah, bahkan lagu baruku Sakuralah yang membuatnya. Tapi kondisinya tak sesempurna dulu, Sakura tak bisa mengerakan tangan dan kaki kanannya, dan kalian ingin tau siapa yang melakukan itu?" Sasuke sengaja menjeda kalimatnya, para wartawan terlihat begitu antusias dan penasaran mendengar penuturan Sasuke, "Yang melakukan itu adalah Sai, Sai yang membuat Sakura kehilangan kaki dan tangan kirinya!" Lanjut Sasuke dengan sedikit emosi.

Suasana seketika menjadi sedikit ricuh dengan obrolan para wartawan tentang ucapan Sasuke tadi, tentang Sai yang membuat mantan kekasih Sasuke cacat.

"Tahukah anda apa penyebabnya?"

"Jika ingin jawaban yang sebenarnya, para wartawan sekalian bisa mengadakan konfersi selanjutnya dengan Sai. Aku tidak ingin dianggap pembohong dan mengada-ngada jika aku yang menjelaskannya." Jawab Sasuke datar.

Tiba-tiba Karin menghampiri Sasuke untuk membisikan sesuatu.

"Pihak Sai-sama mendengar ini semua, dan mereka bilang Sai-sama akan segera datang kemari" Bisiknya yang menghasilkan seringaian diwajah sempurna Sasuke.

"Dengar!" Teriak Sasuke berdiri dari duduknya, "Ada berita bagus saat ini, kalian tidak perlu repot-repot bertemu dengan Sai karena sebentar lagi ia akan datang kesini, datang untuk menjelaskan apa yang terjadi!" Timpalnya cepat.

Beberapa menit kemudian, munculah sebuah limosin hintam. Kalian tahu bukan siapa yang datang? Sai, Sai keluar dari mobil itu dengan dengan wajah lebam dan seorang gadis yang terduduk diatas kursi roda. Ia mendekati meja sidang dengan penjagaan yang ketat dari para bodyguard pihak Sasuke dan pihaknya sendiri.

"Permisi, permisi," Seru Sai ramah sambil terus mendorong kursi roda Sakura menuju meja sidang. Kemudian duduk di samping kursi Sasuke.

"Sakura?" Tegur Sasuke pada Sakura yang tertunduk lesu. Tak dapat Sasuke pungkiri, dirinya sangat senang bisa berada sedekat ini lagi dengan Sakura.

"Diam! Kau hanya bisa membuat masalah" Jawab Sakura sedikit ketus.

"Disini saya akan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Jadi saya akan mulai dari mana ya?" Ujar Sai membuka pembicaraan sambil menunjukan senyum ramahnya.

"Jadi apakah ucapan Sasuke itu benar bahwa anda yang menyebabkan Sakura cacat seperti ini?"

Dua mata Sakura seketika itu membulat, Sai hanya mengatakan bahwa ia harus menemui Sasuke untuk membicarakan ini baik-baik, tidak membicarakan konfersi pers yang sebegini panasnya.

"Baiklah," Wajah Sai berubah serius, tak menampakan senyuman ramahnya yang tadi merekah indah di wajahnya yang tak kalah pucat dari Sasuke, kemudian mulai bercerita.

FLASH BACK ON

Hujan dimalam hari yang dingin ini tak membuat Sakura menghentikan langkahnya, walaupun tubuhnya basah dan kedinginan ia tetap menembus derasnya hujan dengan hawa dingin yang menusuk sampai ke tulang.

Masih terngiang dalam otaknya kejadian yang telah meremas hatinya beberapa hari lalu. Ketika Sakura melihat dengan mata kepalanya sendiri saat Sasuke memeluk Hinata sambil menyatakan perasaannya bahwa Sasuke mencintai Hinata, dan tidak sedikitpun mencintai Sakura. Hati Sakura sudah benar-benar hancur saat ini, yang dapat ia pikirkan saat ini adalah pergi jauh dari kehidupan Sasuke dan berusaha melupakannya, karena ia sudah yakin bahwa Sasuke tak akan pernah mencintainya, tak akan pernah menganggapnya benar-benar ada, bahkan mungkin tak akan pernah mengingat bahwa Sasuke pernah mengenal Sakura.

Ingin sekali Sakura buang jauh-jauh perasaan cintanya yang teramat dalam untuk Sasuke, cintanya yang selama ini tak pernah terbalas dan hanya menjadi pelampiasan nafsu Sasuke, cintanya yang hanya ia mengerti sendiri, dan cintanya yang harus hancur ketika melihat kejadian itu. Ini memang terasa sangat berat untuk Sakura, apalagi untuk melupakan sosok Sasuke yang sangat dicintainya, walaupun pria itu telah menyakitinya berulang kali.

"Hinks..hinks..Kenapa ini terlalu menyakitkan, kenapa Sasuke..." Isak Sakura, mengusap air mata yang tak bisa berhenti, sama dengan derasnya luka yang tengah mengguyuri hatinya.

Sakura tak memperhatikan ada sebuah mobil yang menuju kearahnya. Sekejap saja tubuh mungil Sakura terhempas ke badan jalan dengan simbahan darah yang mengalir bersama air hujan. Dengan sedikit kesadaran yang tersisa, Sakura melihat sosok samar yang menggendongnya, pria itu sangat mirip, sangat merip dengan,

"Sasuke..."

(^-^)(^-^)

Perlahan Sakura membuka matanya yang terasa sangat berat. Ada setitik cahaya dihadapannya, cahaya yang sangat terang..

"Dimana aku?" Tanya Sakura dengan nada yang masih sangat lemah.

"Kau sudah sadar syukurlah!" Seru seorang pria yang tiba-tiba menghampiri Sakura dengan wajah yang terlihat sedikit lega.

Sakura menatap pria yang tengah menggenggam tangannya saat ini, walaupun pandangan Sakura masih berkunang, ia bisa sedikit melihat sosok pria jangkung itu. Mata onyx dan kulit pucat, namun dengan bentuk rambut yang berbeda. Mungkinkah ini Sasuke, mungkinkah Sasuke yang ada dihadapannya ini?

"Sasu!" Dengan cepat Sakura menarik pria itu dalam dekapannya, merasakan hangat tubuh dari pria itu dengan lembut.

"Maaf nona, aku bukan Sasuke." Ujar pria itu melepas pelukan Sakura dengan lembut, lalu tersenyum kearahnya.

Sakura mengusap matanya dengan tangan kanannya agar ia dapat melihat jelas. Lagi-lagi Sakura harus menelan hal pahit, pria itu bukan Sasuke, dia hanyalah pria asing dengan wajah yang sangat mirip dengan Sasuke. Bagaimana mungkin Sakura bisa berfikir bahwa pria baik itu adalah Sasuke, dia sekarang merasa sangat bodoh karena sempat berfikir seperti itu.

"Nona?" Pria itu menyentuh bahu Sakura perlahan, "Kenapa wajahmu murung?" Tanyanya pelan.

"Ah tidak, aku tidak apa-apa!" Kilah Sakura yang segera memasang senyum riang di wajahnya.

"Ohya, aku lupa. Aku Sai" Ucap pria itu membungkukan badannya.

"Haruno Sakura" Balas Sakura lembut, mencoba bangun dari posisinya.

Tunggu! Ada yang aneh dengan tubuh Sakura. Kenapa ini, kenapa ia tak bisa menggerakan tangan dan kaki kirinya? Apa yang sebenarnya terjadi?

"Apa yang terjadi padaku?" Tanya Sakura cepat, sambil terus mencoba menggerakan tubuhnya.

Sai terlihat menunduk dengan deru nafas yang terdengar sangat berat. "Sebelumnya aku ingin mengucapkan maaf yang sebesar-besarnya padamu karena telah menabrakmu malam itu. Saat itu hujan begitu deras dan aku tidak dapat melihat dengan jelas dan tak sengaja menabrakmu. Kondisimu sangat parah dengan banyak darah yang mengalir, aku membawamu kerumah sakit, kondisimu sangat keritis. Dokter bilang, kau lumpuh, entah untuk berapa lama karena ada beberapa jaringan yang rusak dan menyebabkan sambungan sel otot dengan sel motorik otak tidak berfungsi. Sungguh, aku sangat menyesali tindakanku, dan bila kau ingin menuntutku, tuntut saja aku" Jelas Sai, terlihat jelas cairan bening jatuh menuruni pipinya, ia menangis.

"Sudahlah!" Sakura mengusap lengan Sai perlahan. "Aku tidak bisa sepenuhnya menyalahkanmu bukan? Karena saat itu aku juga melamun, tak tidak memperhatikan kalau mobilmu tengah mengarah kearahku" Lanjutnya sambil tersenyum manis.

"Kau tidak marah? Kau tidak marah dengan apa yang telah aku lakukan padamu?" Tanya Sai meyakinkan bahwa gadis ini benar-benar sadar mengatakan itu semua.

Sakura mengangguk pelan, dan membuat Sai tersenyum. Terbersit di pikirannya bahwa yang tengah tersenyum itu adalah Sasuke, bahkan dengan wajah yang semirip ini Sakura semakin percaya bahwa ini Sasuke, Sasuke dengan sifat yang berbeda.

"Jadi dimana rumahmu?" Tanya Sai dengan senyumannya yang telah kembali.

"Aku, aku sudah tak memiliki siapapun disini. Kaa-chan dan tou-san ku sudah lama meninggal, dan aku hidup sendiri di rumah peninggalam orang tuaku" Jawab Sakura pelan.

"Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu bersedih" Ujar Sai mengusap pundak Sakura dengan lembut, menatap wajah Sakura yang dipenuhi banyak luka.

"Kumohon bawa aku bersamamu!" Seru Sakura meremas jas hitam yang Sai kenakan.

"Tapi-"

"Aku mohon! Aku tak mempunyai siapapun disini, aku yakin kau orang yang sangat baik Sai-sama. Aku mohon, izinkan aku ikut bersamamu! Bawa aku jauh-jauh dari sini!" Pinta Sakura lagi.

Bisa Sai lihat sorotan mata Sakura yang sangat memohon, memohon agar Sai membawanya pergi, dan sorot mata itu membuat Sai tidak dapat menolaknya, terlebih mengingat apa yang telah ia lakukan pada gadis ini, dan kenyataan yang tak dapat Sai pungkiri bahwa ia jatuh cinta pada Sakura disaat ia menatapnya pertama kali.

Akhirnya Sai menyutujui membawa Sakura bersamanya, pergi ke Los Angeles dimana dia tinggal saat ini. Setelah beberapa bulan tinggal bersama Sai, Sakura menceritakan apa yang sebenarnya terjadi padanya sehingga meminta Sai untuk membawanya pergi, dan Sai mengerti itu, walaupun Sakura mengatakan bahwa pria itu sangat mirip dengannya. Sai rela Sakura menganggapnya sebagai orang lain asalkan ia bisa bersamanya. Karena Sai sangat mencintai Sakura. Dan Sakurapun sama, sedikit demi sedikit bisa menerima Sai, bisa menumbuhkan sedikit rasa cinta di hatinya pada Sai, walaupun ia tidak bisa melupakan sosok Sasuke, tapi setidaknya mencintai Sai akan lebih membuatnya bahagia.

FLASH BACK OFF

"Kurang lebih seperti itu, hihihi, maaf jika terlalu panjang" Ucap Sai menutup ceritanya dengan tawa kecil dan senyum ramah.

Sasuke terlihat sangat kesal mendengar itu semua, terlebih melihat Sakura yang menatap penuh arti kearah Sai. Itu tatapan yang dulu pernah Sakura berikan padanya, tatapan yang penuh cinta, kini tengah tertuju untuk pria lain.

"Kalau begitu anda hanya menjadi pelarian bagi Sakura?"

"Sakura, apakah anda menerima Sai karenakan wajah yang mirip dengan Sasuke, mantan pacarmu?"

"Jelaskan kenapa kau meninggalkan Sasuke?"

"Apa tidak terlalu murahankah tindakan seperti itu?"

"Apa ada latar belakang harta dalam hal ini?"

"Bagaimana anda bisa semudah itu memaafkan, menurut saya itu terlalu rendahan?"

Oceh para wartawan dengan pertanyaan-pertanyaan yang memojokan Sakura dan membuat telinga Sasuke memanas mendengarnya.

"KONFERSI INI DITUTUP! Tak ada pertanyaan!" Teriak Sasuke yang langsung pergi meninggalkan acara itu. "Bawa ia pergi dari sini sebelum ini benjadi bertambah ricuh" Bisik Sasuke pada Sai saat ia melewatinya.

"Tunggu! Anda harus menjelaskan ini semua?!"

"Anda tidak bisa menghentikan ini secara tiba-tiba?"

"Hey! Sasuke, Sai, anda harus menjelaskannya? Tunggu!" Teriak para wartawan itu mengejar Sasuke dan Sai yang bersamaan membawa Sakura pergi dari tempat itu.

"Masuk kedalam hotel itu!" Perinta mengambil alih Sakura dari tangan Sai kemudian berlari cepat.

Mereka berdua berlari, menuju hotel terdekat yang ada di lokasi itu, dimana Sasuke telah menyewa tempat sebelum ini. Setelah sampai Sasuke segera berlari menuju lift, dengan nafas yang terdengar memburu.

"Cepat! Kau terlalu lamban!" Seru Sasuke pada Sai yang masih berlari kearahnya.

Sakura mendongakan kepalanya ke atas, ia melihat Sasuke yang begitu khawatir, dan ini pertama kalinya Sakura melihat ekspresi Sasuke yang seperti itu. Ketika pintu lift terbuka, Sasuke segera membawa Sakura keluar, sedangkan Sai hanya bisa melihatnya dengan kecemburuan dalam hatinya. Tapi dia harus bisa menahannya, walaupun sangat menyebalkan memang.

"Kita aman!" Ujar Sasuke yang langsung memerosotkan tubuhnya setelah berhasil menutup pintu kamar hotelnya.

"Kau tak apa Sakura?" Tanya Sai yang berjongkok di hadapan Sakura, lalu mengecup punggung tangannya.

"Aku tak apa. Terimakasih" Jawab Sakura membelai wajah Sai dengan lembut.

"Cih!" Sasuke membuang mukanya menyaksikan semua ini. Hatinya terasa sangat panas, sangat amat panas.

"Sasuke-san, terimakasih!" Ucap Sai pada Sasuke yang terlihat tidak begitu meladeninya, yang sekarang tengah menuju kamar mandi.

"Sakura, aku minta maaf atas kejadian ini"

"Kapan kau berhenti meminta maaf seperti ini Sai? Kau taukan aku tak akan pernah bisa marah padamu?" Ujar Sakura menyibakan rambut Sai kebelakang.

"Sampai aku merasa tak pernah melakukan kesalahan padamu Cherry" Balas Sai yang kembali mengecup punggung tangan Sakura.

"Biar aku perjelas," Sakura mendekatkan wajah Sai ke wajahnya, hingga hidung mereka saling bersentuhan. "Semua manusia itu pasti pernah berbuat salah bukan? Tapi, apapun kesalahanmu aku pasti akan selalu memaafkannya. Mengerti?" Ucap Sakura dan mendapat anggukan pelan dari Sai. Dan setelah itu, Sai mengecup bibir Sakura lembut, dengan segala rasa cintanya pada Sakura.

Di sela itu, Sasuke yang melihat itu semua merasa sangat terbakar, terbakar cemburu melihat Sakura bahagia dengan orang lain. Bagaimana bisa Sai menyentuh gadisnya? Ini membuat Sasuke terbakar dengan emosi. Sasuke melihat Sai keluar dari kamarnya untuk menjawab telfonnya yang berdering. Entah setan apa yang telah merasuki Sasuke sehingga dirinya memiliki untuk kembali memiliki gadis itu, walau dengan sedikit paksaan.

Dengan segala kecemburuan dalam hatinya Sasuke mengangkat Sakura dari kursi rodanya kemudian menjatuhkan tubuh Sakura dengan kasar diatas ranjang dan menindih gadis itu.

"Apa yang kau lakukan Sasuke!" Pekik Sakura yang berusaha menjauhkan tubuh Sasuke dari tubuhnya, namun Sasuke terlalu kuat, Sasuke malah terus merekatkan diri mereka.

"Sudah cukup kau membuatku sangat cemburu! Jika Sai bisa menyentuhmu kenapa aku tidak?! Aklau Sai bisa memilikimu kenapa aku juga tidak?! Cukup dengan kehilanganmu selama dua tahun Sakura, cukup aku menderita karena kehilanganmu. Kau tau seberapa menderitakah aku tanpa kehadiranmu? Sekarang disaat aku sangat dekat denganmu, akutak ingin menyia-nyiakannya Sakura, aku ingin memilikimu, memilikimu seutuhnya!"

"Jangan Sasuke, jangan!"

Tanpa basa basi lagi Sakura segera melumat bibir Sakura dengan penuh nafsu, menumpahkan perasaannya selama ini, walaupun Sakura terus memberontak untuk dilepaskan. Keadaannya yang cacat memudahkan Sasuke untuk bertinda lebih, setelah puas dengan bibir Sakura, ciumannya turun keleher jenjang Sakura, menghisap lehernya hingga menyisakan bekas merah disana.

"Sasuke..! Jangan, aku mohon hentikan ini..." Pinta Sakura disela isakan tangisnya. Ya, yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah menangis saat ini untuk menahan Sasuke yang semakin beringas.

Ciuman Sasuke semakin liar, ia terus melumat bibir Sakura agar tidak menimbulkan suara yang berisik. Lidahnya masuk menyusuri rongga mulut Sakura, melumatnya habis-habisan tanpa ampun, membiarkan Sakura yang meronta-ronta tak berdaya.

"Kau tau betapa hancurnya aku tanpamu, dan sekarang kau tambah dengan memperlihatkan kemesraanmu bersama pria itu." Seru Sasuke di sela ciuman ganasnya pasa leher Sakura.

"Sasu...ennnhhhh~~~, hentikannnhhhh~~~"

"Cih! Jangan bercanda, aku mecintaimu Sakura!" Balas Sasuke mendekap Sakura erat dan tangannya mulai menjalar untuk membuka rok yang Sakura kenakan. "Aku sudah tidak bisa menahan ini semua, akan aku akhiri hari ini juga" Bisiknya pelan, kemudian menjilat cuping Sakura.

"Sasukehh~~~ Hentikan!"

BUAKH!

Sakura menendang tubuh Sasuke hingga tersungkur kebawah, menyingkirkan tubuh pria itu dari tubuhnya.

"Apakah kau tau rasa sakitku selama ini?! Rasa sakitmu itu tidak sebanding dengan apa yang aku rasakan dulu! Hinks... Kau tau betapa sakitnya di acuhkan? Betapa sakitnya aku ketika kau campakan? Aku hanya meminta sedikit cintamu, aku rela menunggu lama untuk mendapatkan itu dan pempertahankan hubungan kita sekian lama. Tapi apa yang aku dapat? Yang ku dapat hanyalah kenyataan bahwa kau tak pernah membalas cintaku! Kau tak pernah menganggap aku ada!" Tukas Sakura sekuat tenaga, menatap penuh benci kearah Sasuke yang sedang mematung di bawah sana.

"Aku memang tidak tau rasa sakitmu Sakura, pasti lebih sakit dari yang aku rasakan sekarang. Tapi kini aku sudah sadar, sadar bahwa aku ini mencintaimu.." Sahut Sasuke yang tak dapat berkata-kata lebih jauh lagi.

"Mencintaiku katamu? Jika kau mencintaiku, tak mungkin kau menyerangku secara paksa seperti ini! Yang ada didalam dirimu hanyalah nafsu Sasuke! Kau berbeda dengan Sai, Sai lebih bisa menghargaiku dibandingkan dirimu. Dan kini aku sangat mencintai Sai!" Seru Sakura dengan air mata yang tak henti-hentinya keluar dari matanya, menyiratkan kepedihan yang sedang ia rasakan.

Bagai di hantam palu raksaksa, hati Sasuke terasa sangat sakit sehingga menyesakan dadanya. Pernyataan Sakura telah membuatnya semakin sadar akan rasa sakitnya tak dianggap. Mungkin ini yang Sakura rasakan ketika ia menyatakan cintanya pada Hinata, apa mungkin lebih sakit dari pada ini?

"Tidak mudah mengisi air sungai yang mengering Sasuke, ini kenyataan bahwa aku sudah tak memiliki perasaan apapun terhadapmu!" Tukas Sakura, menyeret tubuhnya turun dari ranjang Sasuke kemudian menaiki kursi rodanya, "Mungkin kau akan menemukan yang lebih baik.." Ucap nya lalu pergi, dengan uraian air mata yang terus menyeruak keluar.

Sakura harus membohongi hatinya sendiri bahwa ia masih sangat mencintai Sasuke. Tapi ia harus tetap yakin untuk bisa melupakan Sasuke walau butuh waktu yang sangat panjang, namun bisakah ia melakukan itu? Disisi lain ia sangat ingin kembali pada Sasuke, apalagi setelah mengetahui Sasuke mencintainya dan sangat menyesali perbuatannya di masa lalu, tapi sangat berat rasanya untuk memaafkan Sasuke begitu saja setelah rasa sakit yang Sasuke berikan dulu, mana mungkin Sakura dapat memaafkannya begitu saja? Disisi lain juga ada Sai yang sangat mencintainya, menyayanginya dan memberi kebahagaiaan untuknya, memberikan semua yang tak pernah Sasuke berikan, ia tak mungkin menyakiti Sai, orang yang begitu baik selama ini padanya, orang yang selalu menemaninya, selalu membuat senyum riang dia wajahnya. Sekarang Sakura malah terjebak di dalam cinta dua pria itu, mana yang harus dia pilih? Memilih Sasuke yang dulu pernah menyakitinya, ataukah memilih Sai dengan cinta manisnya? Hanya waktu mungkin yang akan menunjukan, pria mana yang pantas untuk Sakura.


Gomen! Chap 3 nya ngaret! Semoga senang dengan yang ini