Untuk reviewer anon di chap 2, terima kasih yang sebesar-besarnya untuk anda sekalian.
Disclaimer : KHR! milik Akira Amano-sensei, dan yang nyempil-nyempil disini milik pemiliknya masing-masing, apalagi iklan.
Warning : OOC super, chibi bertebaran, PWP lagi, AAAAAUUUUUUU!
Kalau kemarin satu desa Cosa Nostra ricuh menonton pertengkaran suami-istri keluarga buah-buahan bahagia (yang ujung-ujungnya berakhir dengan orang sekampung ngomong 'Elena, maafin Daemon yaaaa' lalu lampu-lampu di lapangan pada nyala padahal lagi budaya pemadaman bergilir dan entah darimana ada speaker dan terdengar 'Bungaaaaa Terakhir', padahal nggak ada LISTRIK!), hari ini dimulai dengan kisah lain lagi.
Hari ini dimulai dengan pagi yang normal. Ayam jantan berkokok, matahari masih terbit dari timur, udara di desa masih nggak kena polusi, koperasi desa masih dikelola Mammon, pemadaman bergilir sudah berlalu, Squalo masih teriak pake toa di atas tiang listrik saingan sama ayam jantan berkokok.
Ke'normal'an yang tenang pada hari ini tampaknya tak berlaku bagi sekelompok orang di dalam rumah yang paling mewah –mepet sawah maksudnya— di desa ini. Rumah yang dimaksudkan itu adalah milik Primo Cavallone si juragan kuda yang gantengnya saingan sama Giotto yang pernah di mention di chapter 2-1+3-4+1.
Tidak normal sama dengan adanya suatu masalah yang terjadi. Setidaknya disini.
Jangan kaget, orang ganteng itu juga punya masalah lho. Bukan cuma masalah dikejar sama satu battalion perempuan muda dan ibu-ibu arisan di siang bolong, disinisin sama mas-mas sekampung, apalagi dimintain kontrak main sinetron. Itu mah masalah kecil, bro! Apalagi pasangan sehidup-sematinya mantan polisi pangkat tinggi yang berhenti dengan alasan tidak jelas.
Tapi (kayaknya) yang kali ini gawat.
Yang pertama kali menyadari ke-anomali-an (?) dari satu keluarga yang terdiri dari 3 orang dewasa, 2 anak kecil, berbagai macam kuda, landak, kura-kura, burung kecil yang lebih menjurus ke anak ayam dan monyet ini adalah tetangga sebelah mereka yang baik hati dan tidak sombong –secara literal-, Luce.
(FYI, rumah asri dan mengeluarkan aura hangat –bukan terang, kalau terang pasti rumahnya Knuckle— yang berada disebelah rumah Cavallone ini didiami oleh satu generasi, dan sampai sekarang belum ada yang berani menanyakan rahasia awet muda Sepira dan Luce, bahkan Aria pun tak tahu. Sampai saat ini hal itu masih merupakan sebuah misteri ilahi.)
Hal yang membuat Luce menoleh keluar dari jendela dan memelototi rumah tetangganya adalah kesunyian.
KESUNYIAN. Kata itu terngiang di kepalanya selama beberapa saat dalam huruf kapital yang dicetak tebal.
Seperti Colonnello dan Lal yang kesehariannya selalu dipenuhi teriakan, bantingan, rayuan, pintu terbanting, permintaan maaf, pintu terbanting lagi, rayuan gombal lagi, permintaan maaf yang diterima, atap runtuh, dan pukulan, keadaan di rumah Cavallone pun hampir mirip nyaris seperti itu.
Kenapa paragraf di atas mengatakan 'hampir nyaris mirip' dengan penekanan italic yang maksa banget?
Faktor pertama; sebenarnya Primo Cavallone bukan bertengkar dengan Alaude, tetapi Signora—Signore Alaude yang uring-uringan tersebut selalu memulai sebuah persoalan dan Signore Primo Cavallone selalu meladeni.
Contohnya; latihan melempar borgol yang sasarannya kebanyakan kuda-kuda di padang dengan berbagai kata-kata keluar dari mulutnya yang berakhir dengan Primo Cavallone menepis semuanya biar nggak kena kuda-kuda tercinta. Entah apa visi dan misi dari latihan tersebut.
Contoh di atas sekilas seperti KDRT, tapi itu bukan KDRT karena Primo Cavallone masih punya akal sehat dan daripada menggunakan kata-kata rayuan lebih sering pakai anggota tubuh –ifyouknowhatimean- untuk menenangkan pasangan (tsundere) tercinta.
Nggak kayak Colonnello, haha.
Dan juga ada faktor dalam lain, yaitu Fong, sebagai orang ketiga netral di dalam rumah, selalu siap sebagai penengah dan melerai kedua orang yang sering berbeda pendapat itu, sekaligus mengamankan Dino dan Kyouya kecil dari pemandangan sesudah dan sebelum KDRT.
Makanya kali ini Luce bingung. Seingatnya Fong tidak pergi keluar kota dan seluruh anggota keluarga itu masih ada di dalam rumah.
"Mencurigakan."
Aria dan Sepira yang sedang sibuk di dapur menoleh kearah Luce. Uni kecil yang sedang bermain boneka pun juga menoleh.
"Apa yang mencurigakan, baa-chan?"
Sesuatu seperti plasma ungu berkoar-koar di belakang Luce. "Uni sayang~ Jangan panggil aku 'baa-chan' dong~"
"Ru…Rumah sebelah sepi apanya yang mencurigakan?" Setengah terbatuk, Aria dengan cepat mengalihkan perhatian ibunya. Sebenarnya yang mencurigakan itu kenapa rumah sebelah sepi atau bagaimana Aria tahu kalau yang dimaksud adalah kesunyian mengerikan dari rumah sebelah sih?
"Mencurigakan dong~" Luce menatap anaknya dengan pandangan penuh arti. "Bisa jadi ini artinya mereka cerai—"
"Sebentar, biar nggak terjadi hal yang sama seperti kemarin, kita harus pergi ke Knuckle untuk memeriksa apa mereka memang menikah…"
"Sepira-san, bukan itu masalahnya…" Aria memanggil neneknya dengan panggilan sopan karena sama seperti Luce, tidak ingin dibilang 'tua'.
Luce tersenyum menahan tawa. "Kalau bukan cerai, berarti mereka lagi bertengkar atau ada suatu masalah?"
"Tapi 'kan ada Fon." Ujar Sepira.
"Kalau ada Fon bukannya mereka malah bertengkar baru dilerai?"
Uni mendekati jendela dan melongok. "Tirainya ditutup!"
"Oho, semakin mencurigakan."
"Kaa-san…" Aria sweatdrop.
~Beberapa menit kemudian~
"Kamu yakin, Uni-chan?"
Uni mengangguk yakin. Ia bersama Tsuna dan Gokudera beserta Yamamoto berdiri di luar pagar rumah Cavallone, hendak memastikan apa yang diperbincangkan oleh orang-orang di rumahnya.
"Musibah…" Gumam Gokudera dengan horor. Anak berambut gurita satu ini telah mencapai kesimpulan 'rumah-ini-ada-hantu-nya' gara-gara kebanyakan nonton film seram yang diputar tiap Jumat malam.
"Kalau begitu, ayo masuk!" Satu-satunya yang masih optimis dengan spekulasi 'pasti-mereka-masih-tidur-gara-gara-nonton-bola' adalah Yamamoto, yang dengan santainya membuka pagar dan berlari ke arah pintu depan dan langsung mengetuknya. Kemudian ia disusul oleh ketiga temannya (Gokudera misuh-misuh tidak jelas dibelakangnya).
Pintu dibuka oleh Dino.
"Halo, Dino-san!" Sapa Tsuna ceria.
"Hei, ada apa?" Cengiran secerah Terang Bulan (?) milik Dino sepertinya ditiru juga oleh Enzo yang bertengger di kepalanya. "Kalian mencari Kyouya?"
"Bukan, Dino-san." Kata Uni. "Kami cuma ingin tahu kenapa rumah Dino-san sepi."
"Hah?" Dino cengo. Enzo juga cengo. "Biasanya ramai ya?"
"Kamu ngelawak ya!" Sembur Gokudera dengan kesal.
"Kan biasanya Alaude-san sama…" Tsuna berhenti sebentar dengan tangan mengelus dagu, berpikir. Tujuan utamanya mau menanyakan situasi rumah malah berubah karena dia tak mengetahui kata ganti orang ketiga yang harus ia sebutkan. "Namanya Primo Cavallone-san siapa sih?"
Dino menjawab cepat."Eh! Itu kan rahasia!"
"Tapi kalau nyebut 'Primo Cavallone' kepanjangan!" Yamamoto ikut protes.
Dino tetap teguh pada pendiriannya yang lebih keras daripada cangkang Enzo. "Sudahlah, kan nggak ada hubungannya!" Segera anak itu mengembalikan topik pembicaraan ke awal. "Alaude dan fratello kenapa…?"
"Yah, mereka..Um…tidak berantem kayak biasanya." Ucap Uni ragu-ragu.
Gerigi roda di dalam otak Dino sepertinya kurang minyak karena ia perlu dua menit untuk membalas pertanyaan Uni. "...Dari tadi pagi mereka nggak keluar dari kamar sih… Fong juga…" Nada suara Dino semakin mengecil karena bingung.
"Kita harus melakukan Exorcism! SEKARANG!"
"Gokudera-kun! Tenanglah!"
"Lho?" Yamamoto cengo. "Kalau Fong diem-diem aja, bukannya harusnya mereka bertengkar?"
"Aku juga nggak ngerti dan nggak tahu…" Dino ikutan penasaran, padahal selama ini di rumahnya belum pernah ada kejadian seperti ini.
"Semakin gawat, bahkan adiknya sendiri tak tahu." Gokudera masih memasang wajah horor.
"Kenapa kau tak tanya pamanmu." Tiba-tiba kepala Kyouya menyembul dari belakang Dino, dan berkata pada Tsuna.
"Benar juga kata Kyouya. Mungkin Giotto-san tahu sesuatu." Dino mengangguk menyetujui.
"Oh…Baiklah.."
Byakuran mulai mempertanyakan kesehatan mentalnya setelah menjadi kepala desa Cosa Nostra.
Hari ini ia terpaksa tak menyentuh marshmallow-nya yang ke 20 karena digiring oleh Genkishi ke balai desa untuk rapat dadakan yang dibuat warga sekampung dengan inti pembicaraan yang benar-benar tidak penting.
Nggak anak-anak, nggak orang dewasa, sama aja lebay-nya, pikir Byakuran.
"Saudara-saudara!" Colonnello entah mengapa memegang palu kayu dan bangkit dari tempat duduknya di meja persegi panjang itu. "Ada yang baru, kora!"
"Marshmallow rasa jeruk?" Sahut Byakuran setengah sakau setengah bosan.
Lal merebut palu yang dipegang Colonnello dan menjitaknya dengan, apa yang dikatakan Knuckle dan Ryouhei sebagai, extreme.
"Bukan itu, idiot!" Sembur Lal. "Tentang Primo Cavallone!"
"Sepertinya sebagian dari kita sudah mendengar tentang hal ini." Giotto mengambil alih sebelum kerusakan material mulai terjadi dan karena Byakuran sepertinya tak ada niat membicarakan hal ini. "Tentang…Eeh… Keadaan aneh di rumah Cavallone yang dilaporkan oleh Luce."
Semua mata memandang Luce yang duduk diapit oleh Sepira dan Aria.
"Memangnya sepi itu aneh ya?" Ujar Skull meremehkan.
Longchamp, si bujang playboy tukang onar, melompat ke atas meja, menuding Skull dengan telunjuknya. "Tentu saja! Kau yang selalu pakai helm saja aneh! Wahahaha!"
Wakil kepala desa Reborn mengangkat pistolnya –yang entah ia dapat dari mana—dan mereka berdua pun diam.
"Itu gawat!" Cozart yang dari tadi diam-diam saja mengembalikan pembicaraan ke awal dengan sukarela. "Bagaimana kalau ternyata mereka bertengkar hebat sampai jadinya abnormal -HENING! Nanti mereka nggak bisa fokus sama pekerjaan mereka! Nanti yang jadi kepala hansip ronda siapa? Yang jual kuda siapa? Trus, anak-anaknya gimana!"
"Cozart, jangan lebay."
"Aku setuju bagian hansip ronda." Ujar G.
"Intinya masalah ini antara penting dan tidak penting sama sekali." Verde berkata dengan nada yang menunjukkan ke-bete-an yang tampak jelas. "Omong-omong, kan ada Fong disana, jadi nggak apa-apa kan?"
"Itu dia masalahnya, Verde-kun~" Luce tersenyum ke Verde yang menyebabkan yang disebut terakhir bergidik. "Fong tidak melakukan apa-apa."
"AH RIBET! Mendingan kita langsung ke sana aja!" Lagi-lagi Longchamp loncat ke atas meja.
"Terus apa guna-nya kita rapat kayak gini?"
"Memang nggak ada gunanya kok!"
"WOI!"
"Marshmallow…"
"Benar! Kita harus segera ke sana, sebelum segalanya hancur!"
"Cozart…"
"KORAAAA! Ampun Lal!"
DOR!
Semua yang ribut tadi langsung menghentikan gerakan otot mulut dan gerakan lainnya ketika mendengar suara ledakan yang tanpa menoleh pun semua sudah tahu itu berasal dari Reborn.
"Mau ke sana sekarang atau nggak?" Tanya Reborn dengan nada kalem.
Sebagai jawaban, semua orang di ruangan itu buru-buru keluar dalam diam, kecuali Colonnello yang masih meneriakkan 'kora'.
Yang tersisa di ruangan hanya Reborn, Knuckle, dan Sepira.
"Omong-omong." Sepira menoleh berbicara pada Knuckle. "Mereka udah nikah belum sih?"
Bersambung… Tapi nggak tahu kapan.
A/N:
Asdfghjkasdfghjkqyuiop SAYA NGGAK SANGGUP LANJUT BACA PANDORA asdffferliwhuafbd. MY EMOTIONS. MY FEELING. MY HEAAAART. #lempargelas#lemparpalu#gigitpoptarts#gigitjari#gulinguling
Ohokohkohk, ehm… Maaf.
Ngomong-ngomong, fic ini saya tinggal bentar ya.
Aku hanya pergi 'tuk sementaraaa, bukan 'tuk hiatuskan fic iniii~
~Duarius, Tamat sementara~
