Happenstance
Cast
~ Byun Baekhyun
~ Park Chanyeol
~ Kwon Liu
~ Kwon Ailaa
~ and other
A/N : Cukup kaget karena view-nya banyak, walau menurun dari chapter 1 kemaren. Bayangan author, ini cerita mungkin nggak ada yang ngelirik.. :D
Author berterima kasih kepada chingudeul yang udah mampir karena mau menyempatkan diri untuk membaca karya author yang mungkin -sangat- jauh dari kata sempurna. Gomawo all.. #bow
Dan author juga lebih berterima kasih sama chingudeul yang udah review/follow/fav karena mau berbaik hati untuk mengapresiasi fanfict author yang biasa-biasa ini. #big hug
.
Previous Chapter
.
.
"Sadarlah Ailaa. Tidak selamanya mereka merawat kita. Toh kita juga tidak pernah hidup dengan orang tua kita. Jadi semuanya sama saja kan?" Ucap Liu dengan nada yang datar.
"Tapi Liu.."
"Sudahlah Ailaa. Ayo kita ke kamar. Aku lelah." Liu begegas meninggalkan ruang makan. Ailaa tampak mengekor dibelakangnya dengan sedikit linglung.
"Liu, Ailaa.."
Liu segera berbalik dan menggenggam tangan Ailaa, menuntun adiknya yang tampak masih shock.
"Lebih baik, kak Sungjong dan kak Sungyeol segera berkemas. Bukankah kalian berangkat lusa? Dan juga, sebaiknya kak Baekhyun segera memindahkan barang-barang kemari karena kak Baekhyun akan segera menempati rumah ini. Bukan begitu?" Tanya Liu dingin.
Kedua gadis itu segera menaiki tangga. Beberapa saat kemudia, terdengar suara pintu dibanting dengan keras.
'Sepertinya, selanjutnya aku akan kurang diterima dirumah ini. Apa aku bisa mengambil hati dua gadis itu? Padahal aku sudah terlanjur menyayangi mereka. Aku harus bagaimana?'
.
.Chapter 3.
.
Liu-Ailaa side
"Aku tidak percaya ini." Gumam Ailaa. Gadis itu terduduk di atas karpet dikamar mereka.
"Mereka berdua berkata seakan kita hanya benda yang dapat dititipkan?!" Nada bicara Ailaa berubah geram. Ia mencengkeram dress bagian bawahnya.
"Seharusnya mereka tidak meninggalkan kita semudah itu. Kita sudah sangat bergantung pada mereka, lalu tiba-tiba?! BANG! Mereka meninggalkan kita semudah itu." Ailaa mengacak rambutnya frustasi. Membuat rambut blonde yang awalnya dikepang itu berantakan.
"Kak Baekhyun juga bersalah dalam hal ini." Tegas Liu yang daritadi bungkam. Ia mencengkeram boneka beruang biru pemberian Sungyeol. Mungkin untuk melampiaskan kekecewaannya.
"Apa maksudmu? Bagaimana-"
"Ai, coba fikirkan!" Potong Liu. "Kalau seandainya kak Baekhyun tidak bersedia menggantikan mereka, pasti mereka sedikit menunda keberangkatan mereka. Atau mungkin membatalkan beasiswa yang mereka terima." Lanjut Liu.
"Tapi, Liu-"
"Aku tahu pendidikan mereka juga penting." Liu beranjak untuk duduk didepan Ailaa. "Tapi bukankah mereka bisa menggu sampai kita lebih dewasa? Maksudku, kita baru 12 tahun Ai.. Mereka mungkin bisa menunggu 2 atau 3 tahun lagi. Sampai kita diperbolehkan untuk pergi ke sekolah umum oleh mommy dan daddy." Terang Liu.
"Kau benar. Mereka semua salah. Mereka semua jahat. Aku benci mereka." Ailaa merebahkan tubuhnya. Meletakkan kepalanya dipangkuan Liu.
"Dan kau tahu? Sejak awal kedatangan kak Baekhyun, aku sudah merasa curiga. Dia tahu apa yang kita suka dan tidak suka. Selama ia menginap disini, diam-diam aku sudah menyelidikinya." Liu berkata dengan suara rendah. Kedua tangannya tergerak untuk melepaskan kepangan rambut Ailaa.
"Lalu? Apa yang kau dapat?" Tanya Ailaa.
"Byun Baekhyun. Lahir 6 Mei 1992. Anak tunggal dari pemilik Shine Corp. Sangat berprestasi. Tidak ada catatan buruk. Tidak ada gosip miring juga tentang dia." Liu tersenyum hambar.
"Anak dari pemilik Shine Corp? Shine Corp yang itu?" Tanya Ailaa kaget.
"Yepp. Yang bergerak di bidang properti dan otomotif." Sahut Liu.
"Dia sama kayanya dengan daddy dan mommy. Bahkan aku berani bertaruh, ia lebih kaya daripada daddy dan mommy. Tapi bagaimana kau bisa tahu hal itu?" Tanya Ailaa heran.
"Dari internet." Jawab Liu malas.
"Jangan bercanda. Aku tahu, kau pasti paham apa maksud dari pertanyaanku." Ailaa berucap datar.
"Baiklah.. Kau ini, tidak bisa diajak bercanda sama sekali." Liu menjulurkan lidahnya.
"Salah sendiri mengajakku bercanda disaat seperti ini." Ailaa mendorong kening Liu menggunakan telunjuknya. Dan tentu saja dibalas hal yang sama oleh Liu.
"Kau ingat saat daddy mengadakan pesta ulang tahun kita 8 bulan yang lalu?" Tanya Liu.
"Yang diadakan di rumah musim panas kita di Vatican, benar?" Ailaa bertanya, memastikan.
"Yepp. Saat itu daddy mengundang semua kolega bisnisnya kan? Saat itulah aku melihat keluarga Byun. Dulu warna rambut kak Baekhyun masih kecoklatan, bukan magenta. Aku ingat hal itu saat hari kedua ia menginap disini. Itulah sebabnya aku merasa tidak asing dengan kak Baekhyun." Jelas Liu.
"Ingatan Liu kuat sekali. Aku beruntung punya kakak seperti Liu." Puji Ailaa sambil bertepuk tangan kecil.
"Terima kasih. Aku juga beruntung punya adik seimut Ailaa." Balas Liu sambil tersenyum manis.
"Ah, tapi Liu, untuk apa kak Baekhyun bekerja menjadi pengasuh kita, kalau ia punya banyak uang yang bahkan tidak bisa habis kalaupun dibakar?" Tanya Ailaa heran.
"Itulah yang aku tidak tahu." Liu meniup poninya frustasi. Tiba-tiba ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat, hingga membuat rambut almondnya sedikit berantakan. "Jangan-jangan, dia ingin menculik kita?" Liu berucap histeris.
Ailaa hanya memandang datar kakanya. "Kau terlalu parno. Aku yakin kalau kak Baekhyun bahkan tidak berani membunuh tikus." Ujar Ailaa malas.
"Tapi, coba fikirkan! Apa yang membuat anak konglomerat sekaya itu, mau menjadi pengasuh dua gadis berusia 12 tahun seperti kita? Jangan-jangan dia pedofil.." Liu kembali panik.
"Liu... Liu terlalu berlebihan.. Jangan terlalu paranoid, please.." Timpal Ailaa dengan nada yang benar-benar datar.
.
Hari keberangkatan Sungyeol dan Sungjong
.
"Girls.. Kalian masih tidak mau keluar dari kamar?" Bujuk Sungjong.
Sejak peristiwa di dapur, dua gadis itu memang tidak keluar kamar sama sekali. Mereka sepakat untuk menunjukkan kekecewaan mereka dengan cara ini. Mereka berdua tidak terlalu khawatir, toh di kamar mereka ada dua kulkas mini untuk menyimpan makanan dan minuman. Tapi tetap saja 3 pemuda dirumah itu merasa sedikit khawatir.
"Ayolah girls.. Kak Yeollie, kak Jongie, dan kak Hyunnie sudah membuatkan kalian sweet pumpkin pudding dan strawberry cheese cake." Kali ini Sungyeol mencoba untuk merayu mereka.
Tapi kamar itu tetap hening.
"Come on girls.. Kami minta maaf.." Baekhyun ikut membujuk mereka.
"Apakah jika kami keluar, kak Yeollie dan kak Jongie akan membatalkan kepergian kalian ke Jepang?"
Itu suara Ailaa. Sepertinya usaha mereka sedikit membuahkan hasil.
Tapi pertanyaan Ailaa malah membuat mereka bungkam. Tidak tahu harus menjawab apa.
Tiba-tiba pintu kamar dibuka. Menampakkan Liu yang masih mengenakan piama berupa atasan lengan panjang dan celana panjang berwarna biru dengan motif kucing-kucing kecil.
"Tentu tidak kan?" Liu membuka pintu kamarnya lebih lebar. "Kalian boleh masuk." Lanjutnya.
.
.
.
Baekhyun POV
Kami bertiga saling berpandangan bingung. Tidak percaya Liu akan membiarkan kami masuk kekamar mereka. Apakah mereka sudah tidak marah?
"Kalian mau berdiri disana sampai kapan?"
Liu menatap kami malas. Sangat berbeda dengan Liu yang biasa kulihat.
Kami bertiga segera masuk.
Hal pertama yang kulihat saat memasuki kamar kedua gadis ini adalah, modern dan minimalis. Kamar mereka didominasi warna hijau-biru. Membuat ruangan ini terlihat terang, ditambah lagi dengan adanya balkon yang hanya dibatasi oleh pintu kaca yang bisa digeser, membuat angin segar dan cahaya matahari leluasa masuk kemari.
Ailaa sedikit mendongak saat kami masuk, namun ia segera kembali membaca komik miliknya sambil berbaring tengkurap diranjang.
"Letakkan saja makanan-makanan itu dimeja dekat TV. Atau kalian mau terus membawa nampan itu? Well.. Tidak masalah, sih." Ailaa berguman dingin. Sedangkan Liu lebih memilih untuk berada di balkon. Menikmati sejuknya angin pagi itu. Menutup kedua telinganya menggunakan headset yang tersambung pada ponselnya.
Malihat sikap mereka, sepertinya mereka masih marah.
Kami bertiga segera menaruh nampan yang kami bawa di meja. Kami bertiga berpandangan.
"Sepertinya mereka masih marah." Bisikku.
"Kau benar. Lalu apa rencana kita selanjutnya?" Bisik Sungyeol.
"Kita coba untuk merayu Ailaa dulu. Dia termasuk gadis yang gampang luluh." Usul Sungjong.
"Tidak efektif.." Keluh Sungyeol. "Kita bagi tugas saja." Putusnya.
Aku dan Sungjong hanya berpandangan bingung. Hingga akhirnya kami berdua mengangguk ragu.
"Jadi apa rencanamu?"
Sial. Seharusnya aku tidak menyetujui saran gila dari tiang listrik berjalan itu!
TUHAN.. KENAPA HARUS AKU YANG MEMBUJUK LIU?! Melihat sikapnya tadi saja, aku sudah mengira bahwa diantara mereka berdua, Liu adalah yang paling mengharapkan kepergianku. (Poor Baekkie.. :( #Hikkseu)
Sialan kau, Lee Sungyeol.
Selama beberapa detik, aku masih berdiri dibelakang gadis mungil yang sedang menyenandungkan sebuah lagu yang tidak kukenal itu. Surai almond miliknya dibiarkan tergerai, membuat angin leluasa memainkannya.
Aku sedikit melirik ke arah Sungyeol dan Sungjong yang tampaknya sudah mulai meluluhkan Ailaa.
Apa yang jarus kulakukan..
Eomma.. Tolonglah anakmu ini.. :'(
Ayolah Baek! Bagaimana bisa kau setakut ini pada anak yang usianya separuh dari usiamu? Dia bahkan sangat imut. Kenapa kau harus takut?
Dia memang imut, tapi aura dinginnya sangat menakutkan.
Kenapa fikiran dan otakku malah asyik bertengkar. Seharusnya aku membujuk Liu, dasar bodoh..
"Kalau kak Baekhyun tidak butuh kepala, seharusnya tidak usah dipukuli begitu."
"Eh?"
Aku tidak sadar bahwa dari tadi tanganku sudah asyik memukuli kepalaku. Aku tersenyum paksa ke arah Liu.
"S-sebenarnya tadi kak Baekhyun ingin bicara-"
"Aku sudah tahu kalau kak Baekhyun sudah berdiri dibelakangku sejak tadi." Liu tersenyum tipis, lalu bergerak untuk menduduki ayunan yang berada disebelah kiriku. Ia menepuk ruang kosong disampingnya. Mengundangku untuk ikut duduk disana.
"Pasti kak Baekhyun ingin membujukku agar tidak marah lagi. Bukan begitu?" Liu berujar tanpa memandangku.
"Bagaimana kau tahu?" Tanyaku heran.
"Tentu saja aku tahu. Karena kak Sungyeol tahu kelemahanku." Liu meremas ujung piamanya.
"Kelemahan...mu?"
"Hn. Aku pasti akan luluh kalau kau yang memohon kepadaku secara langsung." Gumamnya.
"B-bagaimana bisa? Kita bahkan tidak terlalu dekat." Aku tidak bisa menyembunyikan nada terkejut dalam suaraku.
"Justru itu poin pentingnya." Liu bersandar pada ayunan yang kami duduki. Membuat ayunannya sedikit bergoyang.
"Maksudmu?"
"Aku tidak bisa menolak keinginan dari orang yang belum dekat denganku." Liu menatap langsung ke arah mataku.
Aku sedikit membeku saat melihat ada sinar keputus-asaan dimatanya. Aku tersenyum sedih.
"Walau aku memaafkan kalian. Aku masih tidak bisa menjanjikan beberapa hal pada kak Baekhyun." Liu tersenyum hambar.
"Apa itu?" Tanyaku penasaran.
"Aku mungkin masih tidak bisa menghilangkan rasa tidak sukaku pada kak Baekhyun. Karena menurutku kehadiran kak Baekhyunlah yang membuat kak Sungyeol dan kak Sungjong pergi." Liu mengalihkan tatapannya dariku.
"Tapi, itu kan bu-"
"Itu memang bukan salah kak Baekhyun." Liu memotong ucapanku. "Tapi seandainya kak Baekhyun menolak permintaan kak Sungyeol dan kak Sungjong untuk menggantikan mereka, pasti mereka menunda keberangkatan mereka." Lanjutnya.
Dan -sialnya- menurutku itu benar.
"Ada satu hal lagi." Liu tiba-tiba menyeringai kecil.
Sial! Apa lagi kali ini?!
"Katakan saja.." Sahutku pasrah.
"Aku tidak bisa berjanji untuk berperilaku baik padamu. Nikmati saja waktumu disini, aku yakin tidak akan lama. Kami berdua akan bersaha sekuat kami untuk membuat kak Sungyeol dan kak Sungjong kembali kemari. Walaupun dengan cara menyingkirkanmu. Jadi, maaf ya.." Liu tersenyum manis. Manis memuakkan!
Sebenarnya aku ingin sekali meneriakinya. Minimal mungkin memakinya. Tapi melihat mata hijaunya yang bersinar itu, membuat emosiku yang awalnya berada diubun-ubun, langsung hilang tak berbekas.
Gadis ini benar-benar! Sihir apa yang dia buat, sampai aku bahkan tidak bisa marah padanya?
Dasar bocah! Mari kita lihat. Siapa yang akan bertahan lebih lama. Akan aku membuat kalian luluh dan tidak akan bisa lepas dariku!
"Maaf saja ya, Liu.. Aku juga tidak akan menyerah semudah itu." Aku balas tersenyum manis.
"Oke! Mari kita sama-sama berjuang!" Liu berujar riang. Ia mengulurkan tangan kanannya.
Pertama aku bingung apa maksudnya. Hingga akhirnya ia menarik tangan kananku, mengajakku berjabat tangan.
Aku terkekeh geli. Bagaimana bisa gadis mungil ini bersikap seperti itu? Setelah menyatakan bahwa ia akan menyingkirkanku, ia malah menyemangatiku untuk berjuang dan menjabat tanganku. Lucu sekali.
Liu ikut tertawa dan dengan tiba-tiba ia mengecup pipiku.
Astaga.. Gadis ini..
"Daahhh kak Baekhyun.. Berjuanglah.." Liu tertawa riang sambil berlari masuk ke dalam kamar.
Dasar gadis nakal. Kalau dia se-imut itu, bagaimana bisa aku tidak menyayanginya?
Sial! Padahal harusnya aku yang membuat mereka berdua tidak bisa lepas dariku, tapi kenapa justru aku yang tidak bisa lepas dari mereka?!
Aigoo.. Belum apa-apa, aku sudah 'kalah' dari mereka.
Sepertinya ini akan sedikit menyulitkanku.
.
To Be Continue
.
Pengennya buat Liu/Ailaa bener-bener benci sama Baek, tapi kelihatannya nanti malah aneh kalau Baek-nya masih sayang sama mereka padahal mereka benci sama Baek.
Mungkin ceritanya agak aneh.. Tapi ini murni karena author lagi pusing mikirin tugas sekolah ditambah lagi author lagi sakit. Jadi author minta maaf kalau ada yang nggak puas sama Chap ini. #bow
^Balasan Review^
~ Neli Amelia : Tenang.. Mungkin nggak butuh waktu lama buat mereka nerima Baekkie. Lagian, author juga nggak tega.. :D Thanks for review.. ^^V
~ Shin il kwang : Makasih udah bilang fanfictku bagus.. Jadi terharu.. Emang mirip hallo baby ya? Padahal author nggak pernah lihat acara itu, cuman ngintip2 aja.. #nah lho? Btw, Thanks for review, ne.. ^^V
~ ByunViBaek : Author suka lihat orang yang matanya hijau. Lucu aja gitu. Makanya dijadiin chara.. :D Baekkie nggak sedih kok.. Lagian, author yakin kalo' Baek bisa kok ambil hatinya Liu-Ailaa. :D Thanks for review.. ^^V
~ meliarisky7 : Udah dilanjut, chingu.. Tenang aja.. Chanyeol tetep pacarnya Baekhyun kok. Kan Chanyeol menantu idaman keluarga Byun.. #Jiahaha.. :D Thanks for review.. ^^V
~ Little iLaa : Nggak usah ngomong apa-apa. Eomma cuman minta dibeliin ice cream di Indomaret sebelah pom bensin deket sekolah. Ini wajib! Jangan kapok2 buat review, aegya.. :* ^^V
And also, thanks for all viewers. Baik yang udah baca maupun yang numpang lewat. :D
Sincerely
Joanna Liu
