Holla... Apa masih ada yang menunggu fict ini... -_-"
Gomen, kali inipun Frau telat nge-update, gara-gara nyelesaikan BloodyHolic sekalian, jadi langsung double update anda gak bolak-balik nge-update. Lagian di kampus lagi musim ujian, rasanya baru aja masuk udah ujian lagi... Huweee... Apa ini yang namanya kehidupan mahasiswi? Nyebelin... T_T Selain musim ujian juga lagi musim mangga, enak banget... Surga mangga... 0v0 *Author stres jangan dihiraukan...*
Frau ingin berterimakasih untuk para Readers maupun para Reviewers yang sudah menyemangati Frau untuk ngelanjutin fict ini, terimakasih banyak... Juga untuk kalian yang udah nge-PM Frau, makasih... Tanpa kalian Frau nggak bisa nyelesaikan fict ini.
Tanpa banyak kata, inilah yang Readers tunggu, silahkan minna-san...
.
.
.
My Beloved Boy
Author : Frau – chan si pecinta kucing
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rating : M
Pairing : SasuNaru, ItaKyuu, dll.
Warning : Shonen Ai, Yaoi, Abal, AU, OOC, Typo, dll
.
.
.
Love 3 : The Big Storm.
Naruto dibawa Rikudo ke sebuah hotel bintang lima, Tokyo Hotel. Lalu, yang membuat Naruto kaget adalah, kakek tua itu memesan seluruh ruangan yang ada di lantai paling atas hotel, ternyata ada juga orang kaya lain yang hobi menghamburkan uang seperti neneknya dan kakaknya, Mito-san dan Kyuubi.
Rikudo muncul dengan membawa sebuah kotak obat, dia menghampiri Naruto yang duduk di ranjang kamar, mengoleskan obat ke kedua telapak kaki si blonde, "Sakit?" tanyanya perhatian, Naruto mengangguk dan beberapa kali memejamkan mata saat luka di telapak kakinya dilumuri obat, terasa sangat perih.
"Apa masih sakit?" Tanya Rikudo lagi, sambil melilitkan perban di kedua telapak kaki si blonde.
"Sudah tidak terlalu sakit. Terimakasih dan maaf sudah merepotkan," ucap si blonde.
Rikudo tersenyum melihat wajah cucu-nya itu, walau sang cucu sama sekali tidak tahu kalau dia adalah kakeknya, setidaknya dia bisa dekat dengan si blonde. "Biasa saja, aku tidak merasa direpotkan. Apa kau haus? Aku akan pesankan minum, kau suka apa?" Pertanyaan beruntun dari Rikudo membuat Naruto terdiam, ternyata kakek tua itu cerewet juga, pikirnya.
"Tidak usah repot, aku akan menelpon seseorang dan biar orang itu menjemputku," tolak Naruto halus.
Tiba-tiba saja wajah Rikudo jadi terlihat sedih, "Apa kau tidak mau menerima kebaikan kakek tua ini?"
"Ah... Baiklah, terserah anda." Si blonde sama sekali tidak bisa menolak, kakek tua itu seperti Hashirama-san, kakeknya dari pihak Uzumaki, suami dari Mito-san. Kakek-kakek yang hobinya ngambek dan selalu kena omel Mito maupun Kyuubi.
"Oke. Anko! Anko! Kau dimana!" Teriaknya, tak lama muncul seorang wanita muda yang cantik. Rikudo mengatakan sesuatu padanya dan segera pergi setelah mendengarkan permintaan sang tuan.
Walau sudah tua, Rikudo masih telihat segar dan tampan, di usianya yang sudah pantas di panggil kakek itu dia masih sangat tampan, Naruto membayangkan Rikudo muda seperti almarhum ayahnya, tampan dan baik hati.
"Ada apa Naru? Kenapa memandangi wajahku? Apa ada yang aneh?"
"Tidak kok, karena wajah anda seperti wajah ayah, jadi tanpa sadar..."
Wajah Rikudo berubah menjadi sedikit muram setelah Naruto mengungkit soal ayahnya, lagi-lagi perasaan sakit di hatinya datang, perasaan bersalah dan sebuah penyesalan.
"Tidak usah terlalu formal padaku, Naru. Hm, kalau boleh tahu, ayah Naru orangnnya seperti apa? Tanya Rikudo sambil duduk di sebelah si blonde.
Naruto mencoba berpikir, mengingat-ingat tentang ayahnya. "Hm? Yang aku ingat, ayah sangat tampan dan juga punya senyum yang sangat hangat. Lalu, kata kakak dan nenek, aku sangat mirip dengan ayah, ehehehehe..." jawab si blonde riang.
Rikudo tersenyum mendengarkannya, Naruto memang sangat mirip Minato, wajah dan senyum mereka sama. Garis darah memang tidak dapat dibohongi, melihat Naruto sekarang mengingatkannya pada sang anak tersayang, Minato.
"Kenapa yang kauingat? Memang ayah Naru sekarang ada di mana?" Rikudo bertanya, pura-pura tak tahu.
Naruto menunjuk ke atas, "Di langit, bersama ibu. Mereka meninggal karena kecelakaan saat umurku 5 tahun."
Ucapan Naruto seperti palu yang menghantam dada Rikudo, tapi wajah Naruto sama sekali tidak terlihat sedih, membuat Rikudo bingung. "Apa Naru tidak sedih?"
"Bukannya tidak sedih, aku hanya tidak tahu harus memasang wajah seperti apa, saat mereka pergi aku masih sangat kecil, yang kuingat hanya saat-saat indah bersama mereka berdua. Di usiaku yang sekarang, mungkin aku lebih bisa menerima kepergian mereka. Setidaknya banyak orang yang menjagaku menggantikan mereka berdua, ada Kyuu, Mito-san, Fugaku-san, Nagato, um... siapa lagi ya..." jelas Naruto.
"Apa kau tahu penyebab kecelakaan orang tuamu, Naru?"
"Penyebab? Mereka hanya korban kecelakaan biasa kok, lagi pula aku sudah merelakannya."
"Hm, kalau kedua orang tuamu meninggal karena perbuatan seseorang, apa yang akan kau lakukan?"
Naruto terdiam sebentar memikirkan pertannyaan dari kakek tua itu, "Kalau seperti itu, mungkin orang itu tidak sengaja,tapi mereka benar-benar meninggal karena kecelakaan biasa kok..." Naruto bingung dengan pertanyaan-pertanyaan dari Rikudo, seolah-olah lelaki tua itu tahu sesuatu yang tidak diketahui si blonde.
"Tapi, Rikudo-san sedikit mirip dengan ayah, wajah dan senyum kalian berdua mirip sekali."
Rikudo tersentak mendengarnya, "Benarkah?"
"Iya, mirip sekali."
Rikudo hanya dapat mengelus lembut rambut Naruto, membuat si blonde nyaman. 'Maafkan aku, Naru. Ini semua salah kakek,' ucapnya dalam hati.
Tak lama Anko datang bersama seorang pengawal membawa dua buah mangkuk yang berisi ramen yang masih panas dan dua buah jus jeruk yang terlihat segar, "Akhirnya datang..." ucap sang kakek tua.
"Bau ini. Ini pasti ramen Ichiraku!" Tebak Naruto.
Rikudo tersenyum pada si blonde hyper aktif itu, "Tepat. Aku datang ke Jepang karena mendengar gosip ada sebuah warung ramen yang lezat di Tokyo, aku kesini untuk wisata kuliner."
"Eh? Memang Rikudo-san bukan orang Jepang?"
"Begitulah, aku orang Canada tapi peranakan Jepang."
"Uwoo... Hebat! Ramen paman Teuchi terkenal sampai luar negeri!"
"Teuchi?" Tanya Rikudo sambil menyodorkan sebuah mangkuk ramen ke Naruto.
"Iya, dia pemilik warung Ichiraku. Aku kenal baik dengannya dari aku masih kecil sekali, ehehehehe... Ramennya memang paling enak se-Jepang. Walau ada beberapa orang yang tidak suka dengan ramen, yang bilang baunya bikin eneg dan tidak sehatlah, dan bla...bla...bla... Sampai dia bilang tempat itu bobrok! Tidak bisa dimaafkan!" Jelas si blonde kesal.
"Benarkah? Siapa yang bilang begitu?" Tanya Rikudo maklum dengan sikap sang cucu yang gila ramen. Sudah lama sekali Rikudo tahu makanan maupun barang kesukaan si blonde, mudah saja mencari tahu hal seperti itu, demi cucunya tersayang.
"Artis idola menyebalkan yang menjadi tanggung jawabku, si Teme jelek—" Naruto terdiam.
"Ada apa Naru? Ada yang salah?"
"Teme!" Teriaknya membuat Rikudo kaget dan bingun mendapati si blonde histeris.
"Hah?"
"Aku lupa! Apa aku boleh pinjam telepon?" Tanyanya.
"Silahkan, pakai telepon hotel juga tidak apa kok, tagihannya biar aku yang bayar."
"Maaf merepotkan, terimakasih..." ucap si blonde sambil menggapai telepon yang ada di dekat ranjang, menekan beberapa angka yang akan menyambungkannya pada si Teme. Setidaknya dia akan minta dijemput, karena si blonde tidak mau lama-lama dan merepotkan kakek tua itu.
.
.
.
Di tempat lain, di kediaman Uzumaki semuanya heboh karena salah satu tuan mudanya menghilang. Shino duduk bersimpuh didepan Mito yang terlihat marah, sebenarnya bukan hanya Mito yag marah tapi seluruh Uzumaki dan uchiha yang ada disana. Keringat dingin dan wajahnya sangat pucat berhadapan dengan Mito yang memasang wajah garang.
"Ma...maafkan saya Mito-san, saya tidak becus... Saya rela mendapat hukuman dari anda..." Tunduk Shino menyesal dan merasa bersalah.
"Nasi sudah menjadi bubur! Setelah bocah nakal itu ditemukan, kau akan dapat hukuman Shino! Ck! Sudah dapat dipastikan bocah itu melarikan diri, apa sih yang dipikirkan bocah itu!" Kesal Mito melihat kelakuan anak buahnya yang tidak becus serta cucunya yang bodoh.
"Tenanglah Mito-san..." ucap Fugaku mencoba menenangkan sang kepala keluarga, walau percuma saja, hal itu tidak akan mendinginkan Mito.
"Mungkin ini juga gara-gara Mito-san," celetuk Nagato yang mendapat death glare dari sang nenek.
"Maksudmu apa, bocah!"
"Karena tidak mendapat penjelasan tentang masalah ini Naruto jadi punya pikiran buruk, dikurung di kamar tanpa ada alasan tentu saja membuatnya ketakutan. Belum lagi, akhir-akhir ini Mito-san sering memperlihatkan beberapa foto gadis, agar Naruto mau ikut acara perjodohan 'kan? Apa Mito-san tidak tahu dia benci hal itu? Mungkin saja dia berpikir akan dipertunangkan dengan seseorang secara paksa, makanya dia jadi melarikan diri." Penjelasan yang tepat sekali dari Nagato. Sangat tepat.
Semuanya terdiam dan memandang Mito, "Apa! Kalian mau menyalahkanku, hah!" Raung Mito kesal.
'Walau ingin menyalahkan, mana kami berani melawan singa betina macam kau...' pikir semua orang yang ada disana, sambil mengalihkan pandangan mereka, menakutkan melawan Uzumaki Mito.
"Nenek tua, kau mau menjodohkan si Dobe! Kau gila!" Ucap Sasuke kesal, mendapati fakta lelaki manis pujaannya dipaksa melakukan acara perjodohan.
"Nenek tua kau bilang! Dasar anak ayam, kau mau ku bunuh! Suka-suka aku, aku nenek dari bocah yang kau panggil Dobe itu. Kau sendiri siapanya, hah!"
"Aku...aku...aku... Hn, aku..." jawab Sasuke terbata, mereka memang tidak memiliki hubungan apapun selain manajer dan artis, mereka bukan kekasih jadi Sasuke tidak tahu harus menjawab apa pada nenek tua itu.
"Sudah...sudah... Sekarang kita harus mencari Naru-chan kan?" Lerai Itachi mengingatkan kedua orang itu.
"Huh! Cari bocah itu diseluruh kota dan tanyai orang-orang di jalan, Fugaku kerahkan orang-orangmu dibawah tanah, ada kemungkinan bocah itu tersesat disana," perintah Mito. "Kyuubi, cari lewat jalur internet, gunakan satelit pribadi Uzumaki kalau perlu! Nagato, cari ke seluruh kota dan kerahkan anak buahku!" Benar-benar pencarian besar-besaran demi seorang Uzumaki Naruto.
"Baik!" Jawab mereka bebarengan, lalu pergi menjalankan perintah masing-masing, yang tertinggal hanya duo Uchiha.
"Mito-san, kami berdua ngapain?" Tanya Itachi.
"Berjaga bersamaku disini, setelah Shino tak berguna ini melakukan kesalahan aku bergantung pada kalian!"
"Baik."
Setelahnya Mito kembali ke ruangannya sedangkan Shino mengikuti Mito, bersiap dihukum oleh nyonya besarnya itu.
"Kau tidak mengekor si rubah?" Tanya Sasuke yang melihat sang kakak duduk tenang di ruang tamu, bukankah dia selalu mengekor sulung Uzumaki itu.
"Tidak. Semua orang sedang serius, kalau aku mengganggunya, bisa-bisa aku ditendang sama Kyuu-chan."
Pemikiran yang simpel untuk seorang Uchiha, entah kenapa tetap saja terasa aneh, Uchiha sulung yang aneh.
'TRRTTT...'
Merasa handphone-nya bergetar langsung saja Sasuke mengambilnya dan melihat nomor yang tak dikenal di layar, awalnya dia enggan untuk mengangkatnya, takut kalau itu dari fans gila-nya macam Orochimaru atau Sakura, ketua kelompok Sasuke Fans Club. Karena takut itu telepon penting Sasuke mengangkatnya dan terdengar suara cempreng yang sangat dia kenal.
'Teme! Ini aku, Naruto,' ucap suara di seberang telepon.
Sasuke terdiam dan menajauhkan handphonenya, "Telpon dari si Dobe," bisiknya pelan ke Itachi, sang kakak menyuruhnya untuk me-loud speaker agar semua dapat mendengarkan sembari sulung Uchiha itu memanggil Nyonya besar, Mito.
'Teme! Kau ada di situ? Jangan diam saja!' Protes si blonde.
"Berisik Dobe! Apa kau tidak bisa bicara lebih lembut," kesal Sasuke, bisa-bisa telinganya tuli kalau harus seperti ini selama satu jam.
'Ehehehehe... Gomen. Apa kau di rumah?'
Sasuke mendapat instruksi dari Itachi untuk meng-iyakan pertanyaan dari Naruto, "Hn, kenapa?" Kata 'Hn' bukan berarti 'iya' 'kan? Semua yang mendengar disana menepuk jidat mereka, Uchiha bungsu ini aneh dan membuat Mito mengeluarkan urat kekesalan.
'Bisa jemput aku sekarang?'
"Memang sekarang kau ada dimana?"
'Di Tokyo Hotel.'
"Hn, kenapa kau bisa ada di sana?"
'Uh... Ceritanya panjang Teme... Cepat jemput aku sekarang, katakan diresepsionis kalau kau Tn. Uchiha, mereka akan mengantarkanmu.'
"Baiklah, aku akan menjemputmu, jangan kemana-mana."
'Oke. Bye Teme...'
"Hn." Sasuke menutup sambugan telepon itu dan mendapati semua memandangnya dengan tatapan tajam, "Seperti yang kalian dengar, sepertinya dia baik-baik saja dan sekarang biarkan aku yang menjemputnya, lalu aku akan membawanya ke mari," jelas si raven.
"Aku akan ikut denganmu Sasuke, untuk berjaga-jaga," ucap sulung Uchiha.
Tanpa menunggu lama, duo Uchiha itu pergi menjemput Naruto setelah mendapat izin dari Nyonya besar. Perjalanan dari Uzumaki's mansion ke Tokyo Hotel paling cepat dapat ditempuh selama ½ jam. Dalam perjalanan, banyak hal yang masih tak dimengerti oleh bungsu Uchiha itu, mungkin bertanya pada baka aniki akan mendapat suatu info.
"Itachi, kenapa orangtua Dobe meninggal?"
"Hn. Karena kecelakaan..." jawab Itachi.
"Apa benar? Lalu, apa hubungannya dengan orang yang mau mengambil Naru?"
Adiknya memang tajam, walau bukan dia yang pantas untuk membicarakan hal ini, sebaiknya dia menceritakan kebenaran pada adiknya, setidaknya hubungan adiknya dan Naru-chan sepertinya akan berjalan baik, dia perlu tahu kebenarannya dan melindungi Naruto.
"Hanya kecelakaan, tapi lebih tepatnya mereka kecelakaan karena menghindari bertemu dengan seseorang."
"Siapa?" Tanya Sasuke.
"Rikudo, lebih tepatnya Namikaze Rikudo. Ayah dari Minato dan kakek dari pihak ayah Naru-chan dan Kyuu-chan. Tentu saja Naru-chan tidak tahu kalau punya kakek dari pihak ayahnya," jelas Itachi.
"Kenapa bisa seperti itu?"
"Singkatnya ini cerita Romeo dan Juliet. Anak tunggal Namikaze jatuh cinta dengan seorang wanita Jepang berambut merah yang cantik dan kuat dari klan Uzumaki. Kedua keluarga bukan hanya sebuah keluarga pengusaha kaya biasa, baik Namikaze maupun Uzumaki, mereka juga pengusaha di dunia bawah atau oarang-orang menyebutnya pengusaha dunia belakang, kau tahu maksudku?" Jelas Itachi, intinya kedua keluarga itu adalah salah keluarga mafia.
Sasuke sedikit kaget mendengar kenyataan itu, tak disangka si blonde tumbuh besar dengan baik di keluarga seperti itu, bukannya dia meremehkan, Sasuke sendiri juga dibesarkan di lingkungan seperti itu, hanya saja Naruto terlalu naif. "Hn, karena ayah juga salah satunya juga, aku tahu istilah itu. Hanya saja aku tidak menyangka."
"Begitulah, saat kedua keturunan itu bertemu mereka tidak tahu tentang latar belakang mereka satu sama lain, tapi cinta terlanjur mekar diantara mereka berdua. Hal ini tidak menjadi masalah dikeluarga Uzumaki yang menjunjung demokrasi tapi masalah timbul di keluarga Namikaze."
Sasuke mengernyitkan kedua alisnya mendengar hal itu. "Kenapa?"
"Alasannya karena Rikudo sudah memilih wanita yang pantas untuk anak semata wayangnya itu, melihat Kushina-san yang berambut merah, Rikudo sadar kalau wanita yang dicintai anaknya itu adalah anak dari Mito-san, saingannya. Walau mereka berbeda negara, tapi cakupan bisnis keduanya sangat lebar dan menjadikan mereka rival. Karena hal itu Rikudo menentang hubungan keduanya." Hal seperti ini biasa terjadi dikeluarga kalangan atas, perjodohan dan pernikahan untuk keuntungan pribadi serta motif tersembunyi lainnya. Memuakkan.
"Lalu." Sasuke semakin tertarik untuk tahu lebih jauh kisah itu, beberapa kali dia mengalihkan pandangan dari setir mobil ke arah Itachi.
"Karena tidak direstui, Minato-san pergi dari ruamah dan nekat menikahi Kushina-san di Jepang. Keluarga Uzumaki menyambut hangat Minato, ayah Naruto sendiri bersedia mengganti marga miliknya mengikuti milik sang istri. Mereka tidak pernah saling mengontak, tapi saat Kyuubi lahir Minato mengirimkan foto cucu pertamanya itu ke ayahnya, setidaknya ayahnya harus tahu kalau dia sudah mempunyai seorang cucu, tapi," jelas Itachi panjang lebar.
"Tapi apa? Jangan membuat penasaran baka aniki!" Bentak Sasuke kesal, Itachi sudah seperti narator cerita misteri.
"Rikudo tidak berminat atau lebih tepatnya tak peduli, wajah Kyuu-chan sangat mirip Kushina-san, warna rambut orange milik Kyuu-chan hanya akan membuat Rikudo mengingat wanita yang dibencinya, wanita yang telah merebut putera tunggal kesayangannya. Tapi, setelah Naruto lahir, semua jadi berbeda, awal dari bencana."
Itachi menghirup napas dalam, menceritakan kisah Uzumaki ini akan sangat lama dan panjang, "Rikudo menginginkan Naruto sebagai pewaris Namikaze selanjutnya, kopian asli dari Minato yang tidak ada miripnya dengan Kushina-san. Keluarga Uzumaki dan Kushina-san sendiri menolak memberikan Naruto pada Rikudo. Lalu, disuatu malam berbadai, saat Naruto sekeluarga pulang berlibur di Kyoto, mereka diikuti dua buah mobil berkaca gelap."
"Apa itu suruhan dari Rikudo?"
Itachi menganggukkan kepalanya. "Benar. Saat menyadari ada yang megikuti mereka, tiba-tiba Rikudo menelpon mereka dan mengancam untuk memberikan Naruto padanya. Karena khawatir, Minato melaju dihari berbadai itu, menghindari mobil-mobil yang berisi anak buah Rikudo. Tapi malang, saat di tikungan ban mobil Minato yang licin membuat mobil tergelincir lalu berguling 3 kali sebelum menabrak pembatas jalan. Keduanya tewas di tempat, Naruto mendapat luka yang cukup parah dan koma selama1 bulan. Kyuubi yang ada di dalam mobil beruntung hanya luka ringan dan patah kaki kiri lalu tangan kanannya juga sedikit terkilir," jelas Itachi mengakhiri cerita panjang itu.
"Makanya nenek tua itu bilang Rikudo adalah pembunuh dan mati-matian melindungi si Dobe sebagai ganti kedua orang tua Dobe yang tidak bisa dia selamatkan."
"Benar sekali. Sampai sekarang pun, Rikudo masih mengincar Naruto dan Naruto sendiri tidak tahu kalau dia punya kakek dari pihak ayahnya, yang dia tahu ayahnya adalah seorang yatim piatu yang diangkat menjadi menantu keluarga Uzumaki. Kyuu-chan cerdas dan masih mengingat kejadian kelam waktu itu, jadi dia juga mati-matian menjaga adiknya, bukankah dia manis~"
"Persetan, yang pasti jika kakek tua itu melukai Naruto sedikit saja, maka aku tak segan membunuhnya!" Kesal Sasuke.
"Hn, kau memang kejam adikku. Nah kita sudah sampai~" Bukannya khawatir, tapi Itachi senang mendapati sisi kejam dari adiknya, setidaknya harus begitu sebagai salah satu keluarga mafia.
Akhirnya keduanya sampai di depan Tokyo Hotel, hotel megah berbintang lima, "Aku akan menunggu di parkiran, kau masuklah dan bawa ini," Itachi menyerahkan sebuah handgun. "Glock 17C dengan trigger system , untuk berjaga-jaga bawa saja."
Sasuke segera memasukkan handgun pinjaman dari Itachi ke dalam blazer biru yang dipakainya dan menatap Itachi tajam, "Apa kau membelinya?"
"Hadiah dari ayah saat ulang tahunku yang ke-17. Sangat praktis untuk berjaga-jaga. Ingat, jangan memakainya jika tidak terdesak, kau belum punya pengalaman dengan senjata api," peringat sulung Uchiha pada sang bungsu.
"Hn," Sasuke lalu pergi untuk menjemput si blonde, menuju resepsionis hotel.
.
.
.
Sebenarnya Sasuke enggan menghampiri resepsionis, bagimana tidak. Ternyata Sakura ketua dari SFC alias Sasuke Fans Club, berkerja di hotel itu sebagi resepsionis, bersama seorang wanita berambut panjang berwarna pirang yang dikuncir kuda, dengan wajah kecut mau-tak mau dia menghampiri mereka berdua.
"Kyaaa... Sasuke-kun~ Apa kau mau menginap disini?" Girang si rambut pink.
"Bukan urusanmu, aku Tn. Uchiha mau menjemput seseorang di hotel ini."
"Wah, siapa? Apa pacar Sasuke-kun~ Tidak~" Sakura heboh dan berlebay sendiri, kalau bukan karena si rambut pink itu perempuan sudah dia hajar (Gomen untuk Sakura FC).
"Ehm! Maafkan dia, anda sudah di tunggu di lobi, silahkan ikuti saya," ucap wanita yang seorang lagi, Yamanaka, begitulah nama yang tertera di seragamnya. Setidaknya wanita itu sudah menyelamatkannya dari salah seorang fans gilanya.
Sasuke mengikutinya, sampai di lobi ada seorang wanita berpakaian formal yang menunggunya, Yamanaka itu meninggalkan Sasuke dengan wanita yang 'katanya' sudah menunggu Sasuke dan mempersilahkan bintang idola itu duduk disalah satu sofa yang ada disana.
"Apa anda Tn. Uchiha Sasuke? Teman Naruto-sama?" Tanyanya menyelidik.
"Hn, apa aku bisa bertemu Naruto sekarang?"
"Bisa saya lihat KTP anda?" WTH! Untuk bertemu si blonde saja harus menunjukkan KTP. Aneh.
Dengan sedikit enggan, Sasuke memperlihatkan KTP miliknya, setelah memastikan dia orang yang tepat wanita itu meminta Sasuke mengikutinya masuk kedalam lift.
"Maaf, anda siapanya Naruto? Apa anda manajer hotel ini?" Tanya Sasuke, sepertinya Naruto memilih hotel yang terlalu hebat untuk melarikana diri.
"Bukan, saya hanya tangan kanan seseorang. Saya diminta untuk menjemput anda di lobi, nama saya Anko," ucap wanita itu memperkenalkan diri tapi ditanggapi dengan cuek oleh si raven, karena bagianya hal itu sama sekali tidak penting.
Setelahnya mereka hanya diam didalam lift, tidak berniat untuk bicara lebih banyak lagi, akhirnya mereka sampai dilantai teratas, betapa kagetnya bungsu Uchiha itu. Seluruh lantai paling atas dijaga banyak lelaki bertubuh kekar dengan pakaian serba hitam dan juga kacamata hitam, setelahnya Anko mempersilahkannya ke sebuah ruangan yang paling besar di sana, sebuah kamar mewah.
"Naruto-sama, teman anda, Tn. Uchiha sudah menjemput anda," ucap Anko sopan.
Sasuke melihat si blonde asik bermain kartu dengan seorang kakek tua di ranjang hotel dan dia juga melihat kedua kaki si blonde dibebat, hal ini membuat pikiran-pikiran buruk menghinggapi kepalanya.
"Ah, Teme. Kau lama, aku bosan menunggumu!" Protes si blonde.
Lelaki tua itu memandang Sasuke dari ujung rambut hingga ujung kakinya, "Dia artis idola itu 'kan, Naru? Kau jadi manajernya? Hebat..." Pujinya, bersemangat melihat si raven.
"Tidak hebat, menjadi manajer itu tidak lebih seperti pembantu, Rikudo-san..."
'Rikudo!'
Dengan gerakan cepat Sasuke mengarahkan senjata apinya itu tepat ke kepala Rikudo, Anko sang tangan kanan tak menyadarinya, harusnya sejak awal dia menggeledah Uchiha itu. Sehingga hal seperti ini tidak terjadi. Kepala keluarga Namikaze sedang dalam bahaya.
"Sa...Sasuke! Apa yang kau lakukan! Turunkan senjatamu!" Perintah Naruto, kaget dengan sikap bungsu Uchiha itu.
"Rikudo-sama!" Teriak Anko khawatir.
Rikudo sendiri hanya tenang dan tersenyum pada Uchiha yang berani mengacungkan atau lebih tepatnya mengarahkan senjata padanya, "Tenanglah, tidak apa kok, Anko. Naruto juga tenanglah..."
"Apa yang kau lakukan pada Naruto! Jawab! Kenapa dia bisa terluka, hah!" Teriaknya kesal.
"Itu—"
"Luka ini karena kesalahanku, Teme. Tolong turunkan senjatamu, Rikudo-san orang baik, dia menolongku," potong Naruto menjelaskan.
Sasuke tetap saja tidak menuruti si blonde dan tetap menatap bengis pada kepala keluarga Namikaze itu, "Sasuke, percayalah padaku..." mohon si blonde memelas. Melihat tatapan seperti itu, nurani Sasuke melemah dan menuruti permintaan si blonde.
"Ck!" Decaknya kesal, lalu menurunkan senjatanya dan menghampiri Naruto. "Jelaskan! Sebenarnya apa yang terjadi, Dobe?"
"Itu..." Naruto akhirnya menjelaskan segalanya, kenapa dia melarikan diri, kemana awal tujuannya pergi dan bagaimana dia bisa mendapatkan luka di telapak kakinya dan bertemu dengan Rikudo. "Sebenarnya itulah yang terjadi, jadi jangan mengarahkan senjata lagi pada Rikudo-san ya? Sasuke."
Entah Sasuke harus berkomentar apa setelah mendengar penjelasan si blonde, sepertinya takdirlah yang mempertemukan kakek dan cucunya ini, takdir yang tidak bisa dibantah. "Hn, sekarang ayo pulang," ajak si raven, tapi Naruto menggelengkan kepala.
"Aku sedang menghindari Mito-san, Teme. Aku tidak mau pulang. Nanti aku bisa dijodohkan dengan gadis yang tak kukenal lalu dipaksa menikah, aku tidak mau!" Dan kesalah pahaman masih berlanjut.
"Eh, apa kau akan dipaksa melakukan perjodohan, Naru?" Tanya Rikudo.
"Benar. Aku tidak akan melakukan hal yang seperti itu, perasaan cinta tidak bisa dipaksakan kan?"
"Benar...benar..."
Sasuke lagi-lagi dicuekin, si blonde malah asik menceritakan pemikiran bodohnya yang terbesar, tetap saja dia salahsangka, padahal sang nenek tidak berniat menjodohkannya, hanya menyembunyikan sang cucu dari orang yang memiliki nama Rikudo itu. Tapi, takdir malah membawanya bertemu dengan orang yang paling dihindari oleh seluruh keluarga Uzumaki.
"Cukup ngobrolnya. Kau akan tinggal di apartemenku untuk sementara," bohong bungsu Uchiha.
"Benarkah?" Tanya si blonde dengan mata berbinar-binar. "Uh...tapi aku tidak mau bersih-bersih dan memasak."
"Hn, itu bisa diatur. Sekarang ayo pulang." Ajak Sasuke sambil berjongkok membelakangi Naruto, membuat si blonde bingung. "Kakimu sakit kan? Ayo aku gendong di punggung, atau kau lebih memilih untuk digendong ala brydal style?" Goda Sasuke yang mendapat wajah cemberut dari si blonde.
"Ah, Rikudo-san terimakasih, aku sudah merepotkan. Sasuke juga tidak sopan pada anda," ucap si blonde meminta maaf, Sasuke sendiri hanya cuek bebek.
"Tidak kok, aku tidak merasa direpotkan. Anak muda memang harus gesit seperti itu, iya kan Sasuke-kun?" jawab Rikudo sambil tersenyum pada Sasuke, "ah, apa aku boleh minta alamat e-mail mu, Naru? Besok aku sudah harus kembali ke Canada, apa kau mau jadi sahabat berkirim e-mail denganku? Walau aku cuma kakek tua..."
"Lagi-lagi anda bilang seperti itu." Naruto segera mengambil kertas dan pulpen yang disediakan didekat ranjang hotel, menuliskan alamat e-mailnya dan memberikannya pada Rikudo. "Ini alamat e-mail ku, anda bisa mengirimkan e-mail kapan saja. Aku tidak keberatan punya teman e-mail seorang kakek tua kok, ehehehehe..."
"Terimakasih. Aku akan mengantar kalian sampai di bawah."
"Tidak usah," jawab Sasuke singkat, sambil menggendong si blonde dipunggungnya dan mendapat sebuah jitakan manis di kepalanya.
"Maaf dia tidak sopan, tidak perlu Rikudo-san. Anda tidak perlu repot-repot," tolak si blonde sopan.
"Kalau begitu akau akan mengantar kalian sampai di lift, bagaimana?"
Keduanya benar-benar tidak bisa menolak kali ini, kakek tua ini lebih keras kepala dari Mito-san. Jadi dengan berat hati Sasuke mengizinkan kakek tua itu mengantar mereka sampai lift. Sebelum pintu lift terbuka, Rikudo memasukkan sesuatu dalam kantong blazer Sasuke, hal itu tentu saja disadari bungsu Uchiha, Naruto yang digendong dibelakang sama sekali tidak menyadarinya, karena gerakan tangan kepala keluarga Namikaze itu lumayan cepat.
"Terimakasih atas bantuannya, Rikudo-san. Bye..." ucap Naruto sambil melambaikan tangannya dan dibalas juga oleh sebuah lambaian dan senyuman hangat dari Rikudo, setidaknya sampai pintu lift itu tertutup dia ingin memberikan kesan baik untuk cucunya itu. Sedangkan Sasuke hanya menatapnya sengit, setelahnya mereka menghilang dalam lift, Rikudo kembali muram.
"Anko, siapkan pakaian resmi terbaik milikku, nanti malam aku akan makan malam dengan seseorang yang sudah lama tidak kutemui," perintahnya.
"Baik, Rikudo-san." Anko menjawab patuh dan segera melaksanakan perintah sang tuan.
"Setelah sekian lama, kuharap dia akan menerima ajakan makan malam dariku. Kau pasti akan menerima undangan dariku, Mito..." gumamnya sambil menatap pemandangan kota dari jendela tempatnya berada, senyum licik terpantul di kaca, membuat sosok Rikudo berbeda 180 derajat saat masih ada Naruto disana.
.
.
.
"Itachi-nii!" Teriak Naruto kaget saat melihat sulung Uchiha itu menunggu keduanya didalam mobil milik Sasuke.
"Yo! Naru-chan, lama tak bertemu," balasnya ramah dan membukakan pintu belakang mobil untuk keduanya. "Kakimu kenapa?" Tanyanya perhatian saat melihat kedua kaki si blonde dibebat.
"Itu karena kebodohannya sendiri," sinis Sasuke yang mendapat wajah cemberut lagi oleh si blonde. "Aku akan duduk dibelakang bersama Dobe, tolong gantikan menyetir."
"Oke! Serahkan saja pada Aniki mu ini, aku akan membawa kalian berdua ke Uzumaki's mansion secepat kilat!" ucap Itachi bersemangat sambil menginjak gas dengan kuat membuat kedua penumpang yang ada dibelakang memucat. Sepertinya Itachi akan menyetir gila-gilaan.
"Teme, bukankah kita mau ke apartemen mu? Kenapa ke rumah Mito-san? Aku tidak mau!" Jeritnya histeris.
Sasuke menutup kedua telinganya sebelum pecah karena mendengar jeritan indah dari si blonde. "Berisik Dobe. Ini karena salahmu sendiri, melarikan diri dari rumah dan membuat semua orang kebingungan mencarimu."
"Tapi, aku tidak mau pulang. Nanti aku akan dijodohkan!"
"Tidak akan! Kalau hal itu sampai terjadi, aku akan..."
"Akan?" Tanya Naruto sambil memiringkan kepalanya, membuatnya terlihat imut.
"Aku akan menentangnya dan membawamu lari," ucap Sasuke yakin, membuat Naruto tersipu mendengarnya.
"Teme, apa kau melamarku?" Celetuk Naruto, membuat Sasuke salah tingkah.
"Buahahahaha..." Tawa Itachi tak terbendung, baru kali ini dia melihat adiknya bersikap kaku dan salah tingkah didepan seorang lelaki, yap! Lelaki dan bukannya wanita. Sepertinya sang adik akan mengambil jalan yang sama seperti sang kakak. Gay.
"Diam kau, Baka Itachi!" Teriaknya Kesal sekaligus malu, sepertinya ucapannya benar-benar seperti sedang melamar, memalukan.
"Teme, kenapa kau selalu saja kasar sih, setidaknya kau harus sedikit ramah dengan kakak mu."
"Bukan urusanmu!"
"Ne, Teme. Aku senang, kau mengataan hal itu, ehehehe..." ucap Naruto senang sambil bergelayut di tangan kanan Sasuke, membuat si raven itu tambah salah tingkah. "Janji ya, kalau hal itu terjadi kau bawa aku lari, Teme?" Si blonde mengatakan hal itu dengan wajah yang super imut, membuat Sasuke memalingkan wajahnya dan mengangkat kepalanya keatas. Mencegah mimisan keluar dari hidungnya yang mancung. Harusnya ada batasnya juga seorang lelaki berumur 20-an masih terlihat manis seperti ini, sebenarnya ini salah Tuhan atau salah Author? Siapa yang peduli, kenyataannya Naruto memang manis.
"Pftt... Ternyata adikku cuma manusia biasa, memalukan. Hanya dengan level seperti itu sudah mau mimisan, payah..." gumam Itachi pelan sambil melihat tingkah keduanya melalui kaca sepion. "Hm, bagaimana kalau mereka berdua aku ajak ke kolam renang, fufufufu... pasti akan ada kejadian menarik..." Sepertinya bungsu Uchiha dalam bahaya, aura-aura aneh yang keluar dari kakaknya membuat Sasuke merinding tidak jelas. Aura mesum.
.
.
.
Dan disinilah ketiganya, Naruto duduk bersimpuh didepan Mito, dengan kaki yang sakit dia bertahan untuk tidak mengatakan apapun, neneknya sangat benci kalau ada orang yang membantah. Belum lagi Kyuubi dibelakang sang nenek yang mengeluarkan aura-aura gelap dan mengintimidasi, saat ini yang Naruto pikirkan hanya satu. Matilah aku!
"Jangan berbuat seenaknya lagi, bocah! Apa kau tahu apa kami sangat khawatir, hah! Jawab!" Raung Mito, wanita yang cukup enerjik mengingat dia sudah berumur, benar-benar singa betina.
"Ma...maaf..."
"Kau pikir minta maaf dapat menyelesaikan segalanya! Kenapa kau bisa berpikir akan dijodohkan, bocah bodoh!"
"Habis...Mito-san akhir-akhir ini memperlihatkan foto-foto dari gadis kalangan atas kenalan kita, aku jadi berpikir, kalau Mito-san mengurungku gara-gara hal itu..." jawab si blonde takut-takut.
Semua mata tertuju pada sang kepala keluarga Uzumaki itu, karena merasa ditatap oleh berpasang-pasang mata yang mencoba menyalahkannya, Mito balik menatap mereka dengan bengis, membuat semuanya ketakutan.
"Kh... Bocah bodoh! Nagato! Bawa bocah ini kekamarnya dan cepat ganti perbannya!" Perintah Mito.
Setelahnya Nagato datang dan segera menggendong saudara sepupunya itu, tapi si blonde meronta dan menatap Sasuke, "Aku mau digendong Teme saja, aku tidak mau Nagato-nii menggendongku!" Protesnya manja.
Kali ini semua mata tertuju pada bungsu Uchiha itu, curiga dengannya. Membuat Sasuke tak nyaman dipandangi, "Hn, nanti aku akan ke kamarmu, untuk sementara aku punya urusan dengan nenek tua ini, jadi jangan rewel dan patuhi si rambut merah itu."
"Aku bukan nenek tua! Panggil aku Mito-sama, anak ayam brengsek!"
"Namaku bukan si rambut merah, tapi Nagato. Setidaknya ingat namaku dong... Semua Uzumaki berambut merah, kecuali Kyuu dan Naru sih..."
"Berisik! Cepat bawa dan rawat dia!" Kesal Mito dan Sasuke kompak, membuat Nagato kesal selalu menjadi pesuruh, padahal dia bukan pembantu.
Setelah Naruto tak ada, yang tinggal dalam ruang bertatami itu adalah bungsu Uchiha, Kyuubi, Fugaku dan Mito saja. Sasuke menjelaskan semua kejadian yang terjadi dan mereka terbelalak saat si raven menceritakan tentang Rikudo, Mito terlihat kesal dan sangat marah.
"Brengsek! Kali ini aku kecolongan! Kakek tua itu!"
"Sebelum kami pergi, dia menyelipkan kertas ini ke kantong blezer-ku," serah Sasuke, si raven menaruh kertas itu ditengah agar semuanya dapat melihat isinya.
"Jam 8 malam, makan malam di Tokyo Hotel. Ini seperti sebuah jebakan, apa kau berniat datang, Mito?" Tanya Kyuubi sambil meremas kertas itu lalu merobeknya kecil-kecil.
"Heh, tentu saja. Kalau tidak, dia pasti akan bilang kalau kelurga kita adalah pengecut! Tidak akan ku biarkan! Kyuu, kau akan ikut denganku. Fugaku, kau jadi supirku, jangan bergerak gegabah dan tunggu saja di mobil, sampai aku memberikan perintah."
"Baik," ucap Fugaku menurut.
"Aku boleh membawa salah satu 'mainan' milikmu, Mito?" Tanya Kyuubi senang, Mito yang menyadari maksud dari kata 'minan' itu hanya menghela napas, cucunya pasti akan bersemangat sekali, sudah lama dia menunggu hari seperti ini.
"Bawa saja, pilih sesukamu." Jawaban dari Mito membuat Kyuubi menyeringai senang.
"Ehm! Lalu, kami berdua bagaimana?" Tanya Itchi.
"Penjagaan disini aku serahkan padamu, Itachi. Anak ayam, kau jaga baik-baik bocah bodoh itu."
"Baiklah, saya mengerti," jawab Itachi, lalu sulung Uchiha itu memandang Kyuubi, sulung Uzumaki yang merasa dirinya dipandangi akhirnya menoleh dan mendapati Itachi menatapnya mesum.
"Lihat apa kau! Keriput mesum!" Ucapnya galak.
"Aku sangat khawatir membiarkanmu bertemu orang itu, Kyuu-chan~" Terjang Itachi ke Kyuubi, seperti biasa sulung Uzumaki itu berhasil menghindar dan membuat Itachi mencium tembok entah untuk yang keberapa kalinya dalam hari ini.
"Mati kau, keriput mesum!" Ucapnya sadis lalu pergi begitu saja mempersiapkan keberangkatannya untuk bertemu orang itu.
Semua yang ada di sana menatap Itachi dengan pandangan mata mengasihani, termasuk ayahnya dan Mito sendiri. Pemandangan yang sangat wajar terjadi saat keduanya bertemu. Dasar pasangan bodoh, sepertinya Itachi termasuk masochist. Uchiha payah.
.
.
.
Beberapa menit yang lalu, Mito, Kyuubi, dan Fugaku sudah meninggalkan kediaman Uzumaki dan menuju Tokyo Hotel, tempat mereka janjian bertemu dengan Rikudo. Uzumaki's mansion jadi sangat sepi dan lenggang. Sasuke sendiri pergi ke kamar Naruto untuk membebat perban baru ke kedua kaki si blonde, dia tidak ingin kaki Naruto disentuh oleh lelaki lain, walau itu Nagato saudara sepupu si blonde sendiri.
"Hn, lukanya sampai seperti ini. Jangan lagi melakukan hal bodoh, Dobe," ucap Sasuke. Saat ini mereka hanya berdua di kamar milik Naruto yang berwarna jeruk itu, Naruto duduk dipinggir ranjang sedangkan Sasuke duduk di lantai, tepat di bawah Naruto, posisi itu memudahkannya untuk mengobati si blonde, lagi pula posisi itu menguntungkan Sasuke, dalam banyak arti sih...
"Iya-iya... Teme cerewet," jawabnya kesal. Sudah cukup hari ini dia dimarahi oleh sang nenek dan Sasuke. Belum lagi omelan sang kakak masih menunggu, melihat sikap Kyuubi yang ingin menelannya hidup-hidup rasanya dia tidak akan berakhir hanya dengan sebuah omelan dari sang kakak. Penyiksaan menanti.
"Dengan luka ini untuk sementara kau tidak bisa mendampingiku sebagai manajer."
Ucapan dari si raven membuat si blonde terdiam, "Eh? Benar! Bgaimana ini Teme..." ucapnya panik.
"Tenanglah, mungkin siluman rubah itu akan mempekerjakan seorang manajer pengganti."
"Teme, kamu senang ada manajer pengganti lain selain aku?"
"Hn, bukan begitu, karena kondisimu tidak memungkinkan makanya akan ada manajer pengganti lain, bukannya aku senang, ini merepotkan."
"He? Kenapa?"
"Karena harus menyesuaikan diri lagi dengan manajer pengganti yang tidak ku kenal. Walau kau cerewet, ceroboh, cengeng, bodoh, dan naif. Tapi, aku lebih suka kau yang jadi manajer pengganti untukku," ucapnya penuh kegombalan.
"Benarkah Teme? Um, tapi apa-apaan kau, mengatai ku segela, Teme jelek!"
"Jangan marah, aku bercanda Dobe. Kau manis kok." Ucapannya memang manis, tapi Uchiha bungsu itu menyentuh Naruto secara berlebihan, lihat saja sekarang tangan kanannya sudah membelai pipi chubi si blonde sedang tangan kirinya memegang pinggang ramping Naruto. Ini namanya kesempatan. Mesum.
"Aku sayang Teme!" Mendengar dirinya disebut manis oleh Sasuke, Naruto jadi gemas dan memeluk Sasuke, si raven sih senang-senang saja apalagi posisi mereka sangat 'meyakinkan', dalam banyak arti ini sangat menguntungkan salah satu pihak, yaitu Sasuke. Naruto juga tidak terganggu dengan sentuhan berlebihan dari si raven.
"Ehm! Ini sudah malam, sebaiknya Naru-chan tidur, hari ini kamu sudah mengalami hari yang panjang kan?" Tiba-tiba saja mereka diganggu Itachi yang melongok dari pintu kamar si blonde. "Sasuke, malam ini kamu menginap di sini saja, ayo aku antarkan ke kamar tamu."
"Hn."
Saat si raven akan beranjak pergi tiba-tiba Naruto menarik T-shirt si raven, otomatis hal itu membuat Sasuke menoleh pada si blonde yang berwajah cemberut. Sasuke mengusap pipi chubi Naruto dengan lembut membuat nyaman si blonde.
"Kenapa?" Tannya Sasuke.
"Itu..." ucap Naruto lalu beralih memandang Itachi, "Itachi-nii, malam ini izinkan Teme tidur dikamarku ya?" ucapnya memohon dengan tampang imut.
Permintaan Naruto seperti busur, menancap tepat di jantung duo Uchiha. Sasuke tentu saja senang, jarang-jarang si blonde manja padanya seperti ini, sedangkan Itachi shock. Kalau sampai ketahuan Naru-chan tidur sekamar dengan adiknya, sudah dipastikan Itachi akan di bunuh Kyuubi.
"Um... Begini Naru-chan, aku bisa dimarahi Kyuu-chan. Kau tahu dia—"
"Jadi, Itachi-nii nggak mau mengizinkan? Itachi-nii..." rengek si blonde dengan mata berkaca-kaca.
Lemah. Inilah kelemahan Itachi, airmata dan tampang yang begitu imut, dia tidak akan bisa mengalahkan klan Uzumaki ini, dia ingin mengizinkan tapi takut nantinya dia akan dibunuh Kyuu-channya tersayang.
"Itachi-nii..."
"Uh...
"Itachi-nii..."
"Hm..."
"Aniki, malam ini izinkan ya?"
Itachi membelalakkan matanya, tak percaya dengan apa yang dia dengar. Adiknya memanggilnya dengan 'Aniki'. Ini sebuah kajaiban, bagi Itachi. "Heh! A...Aniki? Sasuke...coba katakan sekali lagi..."
"Aniki." Panggilan dari Sasuke bagai suara surga untuk Itachi.
"Setelah sekian lama, akhirnya kau memanggilku dengan Aniki. Aniki jadi terharu, terserah Naru-chan dan Sasu-chan saja, malam ini anggap saja aku tidak melihat apa-apa."
Setelahnya Itachi pergi dengan berurai airmata bahagia, sejak Sasuke lahir baru kali ini adiknya itu memanggilnya dengan 'Aniki'. Menyedihkan.
"Bwe... Menjijikkan sekali memanggil si bodoh itu dengan sebutan Aniki, kali ini saja aku akan memanggilnya seperti itu..." ucap si bungsu Uchiha dengan tampang jijik.
"Sasuke, kau tida boleh seperti itu. Bagaimanapun dia kakak mu kan?"
"Tidak usah dipikirkan, sebaiknya kau tidur."
"Kau sendiri mau tidur dimana?" Tanya si blonde melihat Sasuke mengambil bantal lalu menuju ke sofa di kamar si blonde.
"Hn? Tentu saja mau tidur."
"Tidur diranjang bersamaku saja, lagi pula kalau kita tidur berdua disini ranjangnnya cukup besar kok, muat untuk kita berdua," ucap Naruto sambil menepuk-nepuk sebelah tempatnya tidurnya.
Ucapan si blonde seperti sebuah 'ajakan', berdua saja dikamar, apalagi orang yang kau suka sengaja meminta tidur seranjang dengannya, hal ini membuat Sasuke memikirkan yang tidak-tidak. Apalagi sekarang Naruto terlihat sangat imut dan manis, lelaki mana yang tahan berduaan saja dengan makhluk sepertinya. Tapi, mau bagaimanapun dia harus menahannya, kalau tidak Naruto bisa takut kalau tiba-tiba si raven menyerangnya, belum lagi kakaknya dan seluruh Uzumaki akan menghukumnya. Masih bagus kalau menghukum kalau di bunuh bagaimana?
"Kamu serius, Dobe?"
"Ha? Tentu saja." Jawabnya dengan pasti, tidak mengerti sekarang keadaannya sangat genting. "Waktu melarikan diri dari rumah, yang terpikir saat itu aku hanya ingin menemuimu, Teme. Entah kenapa aku ingin sekali menemui mu." Naruto mengucapkannya dengan kepala tertunduk dan wajah yang memerah karena malu, tak berani menatap langsung mata si raven.
Mendengar hal itu membuat hati Sasuke menghangat, entah disadari atau tidak, sepertinya mereka saling menyukai, tapi untuk ukuran Naruto, rasanya bocah yang sudah tidak bsa dikatakan bocah karena umurnya yang sudah 20-an itu tetap tidak akan mengerti. Jadi, Sasuke memutuskan untuk menuruti keinginan si blonde dan tidur disampinggnya.
Naruto sangat senang dan tidur dengan memeluk tubuh si raven, terasa hangat dan nyaman, membuatnya tenang dan aman, tak lama kedua matanya yang sebiru langit itu tertutup dan terdengar sebuah dengkuran halus, sepertinya si blonde sudah tertidur lelap. Si blonde sudah megalami kejadian yang panjang dan melelahkan jadi tidak aneh kalau dia langsung terlelap setelah menghempaskan tubuhnya di ranjang yang empuk.
Sasuke memandang wajah Naruto yang tertidur dan menyingkirkan poni rambutnya yang membuat si blonde sedikit tak nyaman, "Selamat malam, Dobe." Setelah itu sebuah ciuman manis mendarat di dahi si blonde mengantarkan keduanya kealam mimpi.
.
.
.
Di tempat lain, sebuah mobil Bugatti Veyron berwarna merah terang memasuki tempat parkir Tokyo Hotel. Dari dalam mucul dua orang yang berpakaian rapi, yang seorang sudah sedikit berumur namun tetap cantik dengan kimono sutera berwarna merah dengan motif kupu-kupu dan yang satu lagi seorang pemuda tampang berambut orange yang sangat cocok memakai pakaian formal berwarna hitam seluruhnya, kecuali dasi yang berwarna merah melilit indah di lehernya.
"Fugaku, kau tunggu disini, aku dan Kyuubi akan masuk. Kalau ada sesuatu yang buruk aku akan segera memberikan tanda," ucap Mito, Fugaku hanya mengangguk.
Setelahnya kedua orang itu menuju lobi hotel disana mereka sudah di tunggu oleh Anko, tangan kanan Rikudo yang menunduk hormat pada keduanya.
"Selamat malam, mari ikut saya. Rikudo-sama sudah menunggu anda berdua di restoran," ucap Anko.
Setelah itu keduanya mengikuti wanita itu, Tokyo Hotel sangat sepi atau malah bisa dikatakan tidak ada orang disana kecuali para Uzumaki dan Namikaze, serta para pengawal dan pelayan hotel saja, tak lama mereka memasuki restoran Tokyo Hotel. Di tempat itu hanya ada sebuah meja di tengah yang berisi seorang lelaki tua yang sedang asik menikmati sebuah wine berkualitas tinggi, melihat kedua orang tamunya sudah datang orang itu berdiri dan tersenyum pada keduanya.
"Selamat malam, sudah lama sekali kita tidak bertemu, Mito dan Kyuubi, cucuku."
"Aku tidak sudi kau memanggilku cucumu, aku tidak merasa punya kakek seperti mu,"balas Kyuubi dengan wajah penuh benci dan murka.
"Begitu? Naru-chan lebih manis dari kau," ucap Rikudo tersenyum meremehkan.
"Kau—" Kyuubi hampir saja menerjang kakeknya itu, tapi Mito menghalanginya membuat si rambut orange menggeram kesal.
"Jangan buang tenagamu untuk kakek tua menyedihkan itu. Hanya untuk bertemu kami berdua kau sampai menyewa seluruh Tokyo Hotel, pemboros," sindir Mito dan duduk di kursi yang berhadapan dengan Rikudo.
"Padahal aku baru ingin mempersilahkan kalian duduk. Yah, sudahlah..." ucapnya seraya duduk kembali di tempatnya. "Ada yang ingin kalian pesan?"
"Jangan banyak basa-basi. Apa yang kau ingingkan," ketus Mito.
"Seperti biasa, keluarga Uzumaki itu semuanya adalah orang yang membosankan dan tidak tahu tata krama."
"Aku ke sini bukannya ingin mendengar kau menggerutu."
Rikudo menghela napas, semua wanita dari klan Uzumaki memang memiliki perangai yang kuat atau yang Rikudo bisa katakan adalah buruk. Akhirnya tiba juga, hari dimana dia memantapkan hatinya setelah sekian lama. Keputusannya sudah bulat untuk menyampaikan hal ini, dia sudah lelah dan terlalu tua untuk bersikap egois, sebelum kematian datang hanya satu yang dia inginkan.
"Apa yang harus ku lakukan agar kalian mau memaafkan ku?"
Pertanyaan Rikudo membuat kedua Uzumaki itu terbelalak, ini seperti ilusi dalam kegelapan, kata-kata yang diucapkan Rikudo seperti mimpi. Kata-kata yang membuat kedua Uzumaki terdiam tak percaya. Ketiganya saling berpandangan dalam diam, ada sebuah ketulusan, penyesalan dan kemarahan yang berkobar. Pada akhirnya hanya satu yang diinginkan Rikudo, sebuah kata maaf.
.
.
.
TBC
.
.
.
Akhirnya chepi ini selesai juga, penuh dengan perjuangan dan air mata darah...*Author lebay...*
Kali ini karena ide di kepala Frau banyak, akhirnya Frau mengabulkan keinginan para Readers untuk memperpanjang fict ini. Apa ini sudah cukup panjang?
Kali ini tidak ada adegan yang terlalu mesum, karena inti ceritanya serius, aneh kan kalau tiba-tiba ada adegan mesumnya, ehehehehe... Tapi, ditunggu aja chepi 4, Frau mau buat kejutan deh yang melibatkan ItaKyuu, Ufufufufufufu...
Sekali lagi makasih sudah baca fict ini, untuk para Readers, Reviewers and Silent Rider *kalo ada sih...*
.
.
.
Waktunya balas review...
nanao yumi :
Benarkah suka fict ini? Makasih...
Gomen update-nya lama.
Makasih udah review, yumi...
Rose :
Bukan Naru namanya kalo nggak polos, hehehehehe...
Sasu itu mesum karena udah keturunannya Uchiha itu mesum, nyehehehehe...
Dichepi ini udah dijelasin nih kenapa Rikudo disebut pembunuh.
Gimana adegan romantis SasuNaru-nya? Apa masih kurang?
Makasih udah review, Rose...
Haru-QiRin :
Udah update nih...
Apa chepi ini udah jelas, alasan Rikudo mau ngebawa si blonde?
Makasih udah review, Haru...
Ryu :
Benarkah seru? Makasih...
Frau nggak tau ini akan jadi berapa chepi soalnya banyak ide yang mau Frau keluarin...
Oke, akan Frau usahakan ini akan jadi happy ending.
Makasih udah review (sampai dua kali), Ryu...
ryu fs :
Makasih...
Gomen update-nya lama...
Makasih udah review, ryu fs...
Vii no Kitsune males login :
Vii males login nih... Ayo login...
Gimana kali ini? Lumayan panjang?
Wah, pertanyaan dari Vii panjang and banyak Frau nggak tahu harus ngomong apa, tapi di chepi ini udah tahukan konflik antara Uzumaki and Namikaze? Kalau masalah Uchiha ntar di chepi lain baru di jelaskan, ehehehehehe...
Makasih udah review, Vii...
Namikaze Trisha :
Salam kenal juga, Trisha...
Naruto sama sekali ngggak tahu Rikudo tuh kakeknya, keluarga Uzumaki pada ngehalangi sih...
Gimana perjuangan si Sasu di chepi ini?
Gomen gak bisa update kilat.
Makasih udah review, Trisha...
monkey D eimi :
Wah ingat-ingat... Itu adegan yang udah lama banget, waktu itu mereka masih diTim 7 and masih imut-imut, Sasu juga masih ada waktu itu... Ah...masa-masa indah yang bikin kangen...
Makasih udah sempat review, Eimi...
nami asuma :
Salam kenal juga, nami...
Keren? Makasih...
Maunya sih SasuNaru cepat bersatu, tapi harus ada rintangan untuk mereka berdua dulu dong. ItaKyuu-nya Frau usahakan, soal lemon kita lihat chepi depan aja oke... nyehehehehehe...
Lagi-lagi Frau nggak bisa cepat update, gomen...
Makasih udah review, Nami...
sasunaru4ever :
Gimana? Apa chepi ini udah cukup jelas, alasan Rikudo dan hubungan Namikaze-Uzumaki?
Makasih udah review, Sasunaru4ever...
Nyanmaru :
Somoga chepi kali ini puas dan bisa menjelaskan segala yang dibingungkan... ehehehehe...
Makasih udah review, Nyanmaru...
ttixz lone cone bebe :
Udah update nih... Walau lagi-lagi lama...
Makasih udah review, bebe...
Aigaara :
Bener kok... Analisa Aigaara bener...
Chepi kali ini SasuNaru udah dipertemukan kok, nyehehehehe... Gimana?
Makasih udah review, Aigaara...
hatakehanahungry :
Eh? Jadi penggemar? Frau jadi malu... Tapi, terserah Hana aja, ehehehehe...
Apa chepi kali ini terasa SasuNaru-nya?
ItaKyuu di chepi ini nggak ada mesumnya, karena serius semua. Chepi depan sih entah lah, nyehehehehe... Akan terjadi sesuatu...
Mungkin setelah Rikudo pergi KakaIru baru muncul, maklum lagi bulan madu...
Gimana chepi kali ini?
Makasih udah review, Hana...
Maurineko Aiko :
Yah tentu aja di putus dibagian itu biar seru and buat penasaran para Readers, nyehehehehe...
Makasih udah review, Aiko...
Maykyuminnie :
Benarkah? Suka? Makasih...
Huweee...Gomen, tetap aja lama update...
Makasih udah review, Maykyu...
SkyKin9 :
Frau juga bingun mau bales apa... ehehehehe...
Makasih udah review, Sky...
Hikaru :
Huweee... Gomen, Frau tetap aja lama update...
Kalo Kyuubi, walau dia keren Frau sih nggak mau dikasih dia, serem ih... Apalagi Rikudo, bisa-bisa dia ngehancurin keluarga Namikaze, cuma klan Uzumaki aja yang bisa ngehadepin kelakuan si Kyuu.
MinaKushi udah almarhum, sori bagi MinaKushi FC...
Makasih udah review, Hikaru...
Vipris :
Apa chepi kali ini udah jelas tentang hubungan Uzumaki-Namikaze?
Makasih udah review, Vipris...
.
.
.
~ So, mind to review, minna-san… \(-_-)/
Frau juga memperkenankan para Reviewers untuk Request~
