tadinya mau 3 chapter aja nih...
eh kebabalasan hahahah XDD
maap ya jadi kali ini bersambung lagi~ /
buat :
viezukha potter : haha maaf ya naru-channya kesiksa gitu.. tapi ntr udah gak lagi kok. ga tega juga TT_TT.. maksih udh mau baca ^^
ichiko yuuki : nah disini terjawab hubungan mereka bertiga ^^... semoga memuaskan ya ceritannya
Lione-rai death angle : makasih buat sarannya. kanon berusaha akan lebih teliti disini... ini idenya krena lagi kesambet aja. hahaah XDD
semoga masih ada yang mau membaca dan me-review
heheh …dozooo~
disclaimer : masashi kishimoto sensei
rate : T
genre : romance
pairing : sasuke X femnaru.
Warning : AU, all cast (agak) OOC, gender bender karena Naruto wanita.
PART 3
My Musiv in Your Mind
.
Normal pov
Sudah 3 hari Sasuke tak bertemu Naruto, hpnya pun tidak aktif. Ia sudah bertanya dengan Ino dan Sakura mengenai keberadaan Naruto. Tapi tak seorang pun mengetahuinya. Maka sekarang ia berada di depan rumah Naruto, Memberanikan diri datang ke rumah cewe itu.
Ting tong..ting tong…
Tak lama kemudian keluarlah seorang wanita paruh baya yang kutaksirkan dia adalah salah satu pelayan di rumah Naruto.
"Anda mencari siapa?" Tanya si wanita itu.
"Saya Uchiha teman dari Naruto, apakah Naruto ada?" balas ku dengan sopan.
"Maaf tuan Uchiha, nona Naruto sedang tidak ada dirumah."
"Kalau boleh tau kemana ya dia?"
"Umm.. maaf saya sudah di pesankan oleh tuan muda Gaara agar merahasiakan keberadaan nona."
"Oh begitu, terima kasih, bisa minta tolong sesuatu?" tanyaku lagi sebelum pergi.
"Ya? Ada apa tuan?"
"Tolong katakan ke Naruto, Sasuke mencari dan tolong segera menghubungi."
"Baiklah tuan, Permisi." si pelayan itu membungkuk dan kembali masuk ke dalam rumah.
Akupun, tak hilang akal untuk mencari tau keberadaannya Naruto. Apa Gaara itu membawanya pergi? Semakin penasaran siapanya Naruto Gaara itu, dan siapa Naruto itu? Jangan remehkan jaringan Uchiha dalam mencari tau keberadaan seseorang. Terutama seorang Sabaku Gaara.
.
-at night-
"Jadi gimana aniki? Apa kau kenal dia?" tanyaku ke Itachi, kakakku.
"Tentu saja aku kenal, dia salah satu relasi di perusahaan kita. Sebagai salah seorang investor yang memeberikan sumbangan ke berbagai program acara yang bertemakan edukasi. ia seorang eksekutif muda yang diakui berpengaruh besar terhadap bidang perbisnisan. Dan ia pun dipercaya oleh direktur utama Namikaze corp, Jiraya-san." jelas Itachi panjang lebar.
"Namikaze? Memangnya apa hubungannya dia dan keluarga Namikaze?" tanyaku masih penasaran
"Masih ada hubungan keluarga, tapi sangat jauh. Ada apa ototo kau bertanya mengenainya?" Itachi bertanya sambil tersenyum lembut.
"Hn, hanya mau tau." Tetap stoic face kutampilkan jangan sampai ia tau mengenai aku dekat dengan Naruto.
"Yasudah. Eh, satu lagi ku dengar kau lagi dekat dengan putri Namikaze itu ya?"
"Tidak."
"Benarkah? Ku kira kalian dekat, Karena aku punya kabar bahwa Gaara dan putri Namikaze itu bertunangan."
"…."
Aku tak tau mau membalas kata-kata Itachi apa dan langsung pergi meninggalkan Itachi yang masih terbengong melihat tingkahku. aku kaget mendengar bahwa ternyata Naruto dan Gaara bertunangan. Pantas saja mereka sangat dekat dan mesra. Ah.. kenapa aku sebodoh ini sudah patah hati sebelum menyatakan suka… benarkah aku suka dia?
End sasuke pov
.
.
Normal pov
Hanya terdengar suara mesin-mesin yang meyambung ke tubuh gadis itu. Sepi, sunyi, itu lah suasana yang tercipta disana dan di sofa kamar VVIP di rumah sakit itu tidurlah seorang pemuda dengan rambut merah. ia kelelahan dua hari tak tidur menemani si gadis, gadis itu adalah Namikaze Naruto. Sudah 3 hari dia terbaring di ranjang itu sejak insiden yang menimpannya. Dan pemuda yang tidur itu tidak lain adalah Gaara sodara jauh Naruto, teman masa kecil, sekaligus tunangannya setia menemani Naruto. belum ada perkembangan dari Naruto, ia masih tertidur dengan lelapnya. Gaara disampingnya memeggang tangan Naruto takut kalo ia takkan membuka matanya lagi. Tsunade yang tak tega melihat Gaara yang selalu terjaga akhirnya memberi obat tidur di minumannya agar ia tidur dan bisa beristirahat.
"Nghh…kaa-san." lirih Naruto. "Kaa-sann, sakiitt.. Hiks hiks. Naru mau ikut kaa-sannn, ajak Naru kaa-san onegaaiii,.. hiks hiks" suara Naruto yang cukup terdengar di ruang sepi itu bis membangunkan gaara.
"Naru?" Gaara mengucek-ngucek matanya. Saat ia telah sadar betul ia melihat Naruto yang berteriak lirih sambil menangis.
"Na-Naru ini aku Gaara." terlihat wajah khawatir Gaara melihat Naruto yang begitu rapuh.
"Na-Naru gak kuat, Naru mau nyusul kaa-saaan.." Naruto berbicara tanpa mendengarkan ada siapa disana.
"Ngomong apa kamu, Naru tunggu sebentar ya" Gaara meninggalkan Naru dan memanggil Tsunade ke kamar Naruto. Tsunade yang mendengar mengenai kesadaran Naruto lansung lari menuju kamarnya diikuti Shizune asistennya.
"Hiks hiks.. tuhannn! Cabutlah nyawa Naruuu! Naru sayang otousan, dia mau Naru gak ada ambil tuhaaannn! Arrggghhhhhhh~" Naruto menahan sakit dan berbicara diluar kesadaran dalam dirinya.
"Naru-Naru.. ni baachan, Naru kamu harus berjuang! Tolong obat bius Shizune!" perintah Tsunade
"Arrgghh~ biarkan Naru dijemput kaa-san! Naru sakiittt Naru gak kuat hiks. Kaa-san segera lah jemput Naruuu arggghhhhhhahhh…" Naruto meringis kesakitan saat jarum suntik menembus kulit tubuhnya dan sekarang dia sudah terlelap lagi dengan tenang. Tsunade langsung terduduk lemas.
"Tsunade-sensei.. an-anda tidak apa-apa?" Shizune terlihat khawatir.
"Tidak, hanya kakiku lemas." lalu dibantu berdiri oleh Shizune.
"Kenapa dia Tsunade sama? Tau-tau berteriak seperti itu?" Gaara bertanya dengan raut wajah yang benar-benar khawatir dan tangannya tak lepas menggengam jari jemari Naruto.
"Huumm.. seperti yang kukatakan di ruang ICU, Psycis dia sakit Begitu banyak yang dipendamnya selama ini. Jadi begitu sadar alam sadar yang sudah lama menahan perasaan itu keluar dan ia tadi tak sadar." Jelas Tsunade
"Naaaruu…kenapa kau tak mau mendengarku selama ini?" ujar Gaara lirih sambil mengelus wajah Naruto yang amat sangat pucat.
"Gaara, aku permisi dulu ya. Aku harus melaporkan ini ke Iruka dan suamiku"
"Hum"
.
.
Kringg….kringgg….
"Halo dengan kediaman Namikaze disini, Dengan siapa?" jawab seorang wanita di ujung sebrang telepon disana.
"Ini aku bi, Gaara" jawab Gaara.
"Ah tuan muda, Ada apa tuan?"
"Apakah Minato-sama sudah pulang?"
"Belum tuan dan tak ada kabar juga dari tuan besar."
"Hmm begitu ya, Ada kabar apa dirumah?"
"Tadi ada teman nona Naruto datang, namanya Uchiha Sasuke. Ia menanyai keberadaan nona dan berpesan agar nona segera menghubunginya."
"Baiklah bi terima kasih, Naruto sudah tidak apa-apa ia sekarang sedang tidur."
"Syukurlah.. sama-sama tuan muda."
Klik.. telpon ditutup oleh gaara. 'Uchiha….ya? mungkin dia bisa membantuku menjaga Naruto' segera Gaara mencari nomer telpon sasuke di hp Naruto. dan mengirimkan pesan ke sasuke melalui hp Naruto.
.
.
-di lain tempat-
Treeett…treeeet…..
Seorang pemuda berambut raven mengangkat hpnya dengan malas-malasan. Begitu melihat penname di layar hp nya dia langsung semangat.
From : Dobe kawaii
To : Sasuke
Maaf mengganggu, saya Gaara memakai hp Naruto untuk menghubungimu. Saya mau mengabarkan bahwa Naruto masuk rumah sakit. Saya mau meminta sesuatu hal padamu, kalau bisa kamu datang ke rumah sakit konoha ia di rawat di kamar 1010. Ku tunggu sekarang. Terima kasih…..
Sasuke yang kaget membaca pesan singkat itu, langsung memakai jaket biru dongkernya dan mengambil kunci mobil sport biru kesayangnnya. Menuju ke Rumah Sakit Konoha. Sesampainya disana Sasuke mengetuk pintu kamar Naruto, setelah mendengar suara seseorang yang menyuruhnya masuk. Ia melihat sosok Naruto yang terbaring lemah dengan bermacam-macam alat di badannya dan di samping Naruto duduk seorang cowo berambut merah yang tidak lain adalah Gaara.
"Bisa kita bicara diluar sebentar Sasuke?" Gaara beranjak dari tempat tidurnya dan menghampiri Sasuke
"Hn"
.
Di luar ruangan terlihat Gaara sedang membicarakan sesuatu dengan Sasuke. Keberadaan mereka berdua di luar menarik perhatian para suster yang sengaja mondar mandir untuk melihat dua orang pemuda tampan yang tampil mencolok itu.
"Jadi gimana? Apa kau setuju Uchiha-san?" Tanya Gaara
"Hn"
"Baiklah, aku mentipkannya mulai besok. Karena selain aku ada pekerjaan aku harus mengejar orang yang telah membuat Naruto seperti ini. Aku mohon kau tak memberitahukan mengenai ayah Naruto kepadanya. Dan kau pura-pura tak mengetahui yang sebenarnya" jelas Gaara
"Hn"
Mereka kembali masuk kedalam kamar. Saat mereka masuk, terlihat sosok Naruto sudah terduduk di ranjangnya. Dan menatap Gaara dengan tatapan datar, tak pernah aku melihat ekspresinya seperti itu dan pancaran matanya sendu banget tak bercahaya seperti biasa.
"Gaara…." Lirihnya memanggil Gaara.
"Naru? Kau sudah sadar? Ada yang sakit? Apa perlu ku panggil Tsunade sama?" Tanya Gaara bertubi-tubi. Yang ditanya hanya menggeleng lemah dan memeluk Gaara. Gaara merasakan bajunya sedikit basah dan ia tau Naruto sedang menangis ia pun membalas memeluk Naruto sambil mengelus-ngelus rambut Naruto yang sedikit kasar akibat masih ada bekas darah. Sasuke yang melihat hal itu segera keluar kamar dengan diam-diam tak ingin menggangu kedua orang itu. Ada sedikit rasa sakit menjalar di dada Sasuke entah itu karena melihat Naruto dan Gaara atau mengetahui kejadian sebenarnya yang terjadi dengan Naruto. senyumnya yang Sasuke anggap bisa menghangatkan jiwa ternyata senyum palsu untuk menutupi rasa kesakitan Naruto. ia ingin sekali menjaga gadis itu tapi apa mngkin ia bisa menggantikan posisi Gaara yang telah lama bersama Naruto? berbagai hal berkecamuk di kepala Sasuke.
.
.
"Sasuke? Sedang apa kau?" seorang wanita bertanya kepadanya. Sasuke pun mengangkat wajahnya yang tadi ditutupi oleh kedua tangannya.
"Sakura, kau sedang apa?"
"Ah, kau malah berbaik bertanya kan aku duluan bertanya kepadamu. Apa kau berobat atau menjenguk seseorang?" Sakura melihat nomer di depan pintu.
"1010? Bukannya ini kamar rawat pribadi Naruto? apa dia ada di dalam?" Sakura segera panik dan berharap bukan Naruto yang berada diruangan itu.
"Hn."
"A-apa orang itu melakukan hal buruk lagi?" Sakura berkata kecil sambil memegang buku laporannya erat.
"Kau tau tentang itu Sakura?" sasuke melirik ke arah Sakura
"Tentu saja, dia temanku sejak kecil. walupun sekarang jalan kita terpisah ia tetap sahabatku. Aku tau apa yang terjadi dengannya semenjak kepergian ibunya. Ia selalu menahan rasa sakit akibat perbuatan ayahnya. Ia selalu meminta obat penahan sakit yang tentu saja tanpa sepengetahuan Tsunde-sensei dan Gaara" Sakura menceritakan semuannya ke Sasuke.
"Gaara? Dia siapanya naruto sebenarnya?" Tanya Sasuke untuk lebih memastikan.
"Dia, saudara jauh hampir bisa di bilang jauh dari hubungan sodara dekat tapi masih satu keluarga juga sahabat Naruto sejak kecil sama sepertiku dan dia Tunangan Naruto. Jiraya sama dan Chiyo sama telah menjodohkan mereka semenjak kecil."
"…."
"Sasuke?"
"…"
"Sasuke kau kenapa?" Sakura mengguncangkan tubuh Sasuke
"Tak apa, aku pergi sebentar kalau kau mau menjenguk ia sudah sadar dan sekarang bersama Gaara."
"Baiklah." Sasuke berjalan menjauhi sakura dan kamar naruto. ia mencoba menenangkan pikirannya yang kacau. Walupun hal itu tak Nampak di wajah stoicnya.
Hari demi hari sudah kurang lebih satu minggu Sasuke menjaga Naruto bergantian dengan Gaara. Sasuke mengatakan bahawa Naruto lolos dalam audisi tersebut. Tanpa sadar lagi Naruto langsung joget-joget dan tak sengaja mencium pipi Sasuke. Hal itu membuat wajah keduanya memerah. Kedekatan mereka semakin hari semakin dekat sekali. Naruto merasakan bahwa ia menyukai Sasuke, semenjak awal bertemu di bis. Pemuda yang melihatnya aneh gara-gara menggetok kepalanya dengan i-pod. Sasuke pun juga merasakan hal yang sama. Perasaannya sudah tak dapat di bendung lagi. Hanya keduannya tak berani mengatakan secara langsung
.
2 minggu berlalu Naruto sudah bisa pulang ke rumah. Tapi kenyatannya ia harus ikut gaara ke Sungakure. Barang-barangnya telah Gaara siapkan. Sesuai perjanjian awal mereka kalau sampai Minato membuat Naruto cidera ia akan segera membawa Naruto ke Sunagakure.
"Hwaaa Naruu chaannn masa kita berpisahh sihh hiks hiks." Ino menangis dalam pelukan Naruto
"Iya maafkan aku ya Ino, kau tau sendiri gimana kalau Gaara sudah mengambil keputusan."
"Iya huhu hiks hiks ..setidaknya aku merasa tenang kalau kau bersama Gaara."
"Tapi kan kita akan bersama di Orchestra itu kau lolos juga kan Ino?"
"Hihi iya hati-hati Naru-chan."
"Un." Naruto memeberikan cengiran khasnya. Lalu menuju Sakura dan baacahannya Tsunade.
"Naruto, kau jangan terlalu capek dulu dan nurut apa kata Gaara disana, Jangan merepotkan Chiyo baachan ya!" nasehat Tsunade.
"Naruto, kalo ada apa-apa langsung telpon aku ya… 24 jam hp ku terbuka untukmu" Sakura tersenyum
"Iya Baaachan iya Sakuraaa." dan Naruto memeluk mereka berdua erat.
"Naru, ayo cepat." Teriak Gaara di depan pintu masuk airport, Tapi mata Naruto masih mencari seseorang yang belum ditemunya. Saat sudah pasrah bahwa ia tak datang Naruto menagkap sosok pemuda tinggi berambut raven memakai kaos biru kesukannya berdiri agak jauh.
"Sebentar ya Gaara."
"Hm,"
.
Naruto langsung berlari menghampiri sosok itu, ya sosok Uchiha Sasuke. "Ku kira kau tak datang" cengir Naruto
"Macet dobe."
"Huhh aku bukan dobe, teme!" Naruto memajukan bibirnya. Membuat Sasuke gemas melihatnya dan menepuk jidat Naruto yang masih tertutup perban.
"Iitaaii~ sakit tem-" Naruto kaget mendapat pelukan tiba-tiba dari Sasuke.
"Biarkan sebentar seperti ini Naru." Sasuke semakin mempererat pelukannya seakan-akan jika ia lepaskan maka gadis itu akan hilang selamanya.
"Sa-sasuke…."
"Dobe, dengarlah baik-baik aku takkan mengulanginya dan aku tak perduli apa jawabnmu aku hanya ingin kau tau, daisuki Naruto zutto zutto daisuki deshita dan aku akan terus menunggumu." Sasuke menenggelamkan kepalnya di pundak Naruto.
"Ma-makasih Sasuke, aku harus pergi sekarang." Naruto melepaskan pelukan Sasuke dan menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah lalu berjalan menuju Gaara. Ia takut Gaara meihat apa yang Sasuke lakukan padanya walupun jauh tapi masih bisa terlihat.
"Kau tak apa Gaara?" Tsunade bertanya karena Gaara melihat aksi tersebut.
"Tak apa Tsunade-sama, dari awal aku sudah tau Naruto hanya menganggapku kakak. Dan caranya menatap Sasuke berbeda dengan menatapku. Tapi aku akan tetap menjaganya dari orang itu" Gaara tidak menatap Tsunade. Ia tau akan hal itu ia sudah menguatkan hatinya jika suatu saat hal ini terjadi. Baginya walupun ia tak jadi bersama Naruto, ia akan tetap menjaganya seumur hidup agar Naruto bahagia dan senyum mataharinya tetap bersinar.
"Ayo Gaara, bye minna! I miss yuu all." Naruto melambaikan tangannya sambil menggengam tangan Gaara dan mereka berdua masuk ke dalam ruangan dan menghilang. Naruto telah meniggalkan Konoha, ayahnya, baachan, teman-temannya dan Sasuke.. tapi ia percaya bahwa suatu saat nanti ia akan kembali ke kota ini untuk bertemu dengan semuanya dan memberikan jawaban untuk Sasuke.
.
.
.
-3 tahun kemudian-…..
"Pak tolong terima program acara ini! Saya jamin pasti semangat anak muda akan membara jika melihat program acara seperti ini!" ujar seorang cowo beralis tebal penuh semangat menjelaskan program acara yang ingin di buatnya di hadapan pemimpinnya
"Hn, akan kupikirkan taruh saja proposalmu di meja" ujar si pemimpin.
"Ha'i! terima kasih pa, semoga harimu menyenangkan!"
"Hn."
si pemimpin itu tidak lain adalah Uchiha Sasuke. Sekarang ia menjabat sebagai pemimpin di salah satu tv swasta no 1 di Negeri HI, melanjutkan jabatan ayahnya. Sambil memandangi langit biru yang kurang bersahabat mengingatkannya akan sosok Naruto. ia sering berbincang dengan Naruto lewat chat di YM ataupun skype. Walupun begitu rasa rindu ingin bersamanya harus bisa di tahan walupun Naruto belum membalas perasaannya tapi ia tau kalau naruto merasakan hal yang sama. Sekarang Naruto sedang sibuk tour keliling eropa karena ia menjadi bagian dari orchestara Philharmonic dan ayahnya Namikze Minato, sekarang berada bersama seorang psikiater untuk menjalani penyembuhan kejiwaan hanya kurang dari sebulan dengan mudah anak buah Gaara menemukannya. Hanya kabar itu yang dia ketahui, Saat masih melamunkan apa yang terjadi 3 tahun ini pintu kerjanya diketuk dan masuklah salah seorang program director andalan Konoha channel.
"Maaf pak, bila saya menganggu" kata si pria bertato segitiga di kedua pipinya.
"Ada apa Kiba?"
"Ah.. aku malas bergaya formal di depanmu. Langsung saja ya, nih kau lihat" Kiba menyerahkan selembar pampflet ke Sasuke.
"Apa ini?"
"Ini penyelenggaraan konser tunggal seorang cellist, ia datang dari luar negri namanya Kanon. Di luar negri namanya sudah sangat tersohor, aku punya saran bagaimana kalau kita menyiarkan konser ini di Konoha channel? Setidaknya ada sebuah wajah baru di antara program-program acara kita yang lain Ok!" Kiba menjelaskan
'hum Kanon ya? Seperti nama cellonya Naruto dan di pamphlet ini tak ada wajah si cellist mungkin tak salah juga jika ku siarkan. Lagipula cello kan kesukaan dia' Sasuke berbicara dalam hati
"Baiklah ku setujui. Kau urus semuanya. Ajak para crew yang professional. Karena untuk menyirkan sebuah acara seperti ini tak bisa dengan tenaga ahli yang asal-asalan."
"Yup! Sip Sasuke.. thanks yaa." Kiba berlari keluar ruangan sasuke dan segera terlihat ia sibuk menjumpai beberapa crew yang akan diajaknya bergabung. Sasuke kembali menerawang meliat langit yang tadi sempat mendung sekarang menjadi cerah.
.
.
.
-di lain tempat, jauh dari Konoha-.
Seorang gadis manis sedang berlarian di lorong sebuah bangunan berasiktetur Victorian. Ia terlihat sedikit kesulian berlari karena memakai gaun yang lumayan panjang. Karena terburu buru ia menabrak-nabrak orang yang lewat. Si gadis hanya menunduk meminta maaf pada siapa pun yang ditabraknya. Sampai lah ia di sebuah ruangan besar di mana sudah berkumpul para pemain music yang lainnya. Ia menarik nafas untuk menenangkannya.
"Miss Kanon, gott sei dank sie auf zeit. Minute auffuruhrugen…..(nona Kanon, syukurah anda tiba tepat waktu. pertunjukan sebentar lagi dimulai) " seorang paruh baya menghapiri gadis itu dengan wajah khawatir
"Sorry, mein herr Callosum verloren….. heheh (maaf tuan Callosum, saya tersesat)" jawab si gadis itu sambil merapikan penampilannya serta memegang cello.
"Geschweigen den sie warden nach diesem erscheinen…. (sudahlah, kau akan tampil setelah ini)" ujar pria bernama Callosum itu. Dia adalah penanggung jawab dari konser yang diadain di jerman kali ini. Sedari tadi ia sibuk mondar mandir mencari salah seorang tamunya karena tamunya itu akan bermain secara solo.
"Ja (ya)"
gadis itu mengambil nafas dan keluar dari back stage menuju stagenya. Diatas panggung sudah ada kurang lebih 100 orang pemain music dan di depannya berdiri seorang konduktor bernama Vierra. Menyambutnya dengan tepuk tangan dan diikuti oleh para penonton. Si gadis bernama Kanon itu berjalan dengan anggun, rambutnya tergulung dibelakang dengan rapi, bajunya yang berwarna kuning keemasan makin mempercantik dirinya. Setelah mengambil posisi di di depan dekat concert master ia memainkan lantunan musiknya. Sepersekian detik semua terdiam saat ia mulai, Semua orang terpana melihat alunan musik dari cello itu dengan suara bas nya yang khas dan didukung oleh tempatnya yang membuat surannya mengema indah. Para pemain music lain pun berdecak kagum dalam hati mengiringi permainannya. Tak mengira bahwa cellist pendatang baru ini yang baru 2 tahun terakhir terkenal akan keunikannya dalam bermain membuktikan bahwa ia layak dikatakan sebagai cellist yang sejajar dengan senior-senoirnya. Bahkan Vierra sebagai konduktor melihatnya bagaikan Jaqueline Pre si cellist legendaris.
Si gadis dengan nama Kanon itu terus memainkan alat musiknya. Dengan mata tepejam dan tenang ia telah membuat seluruh orang dalam concert hall itu terpesona termasuk salah satu penonton yang duduk di kursi VIP. Tak terasa 5 menit tak terasa berlalu. Begitu ia selesai bermain standing applause langsung dia dapatkan. Penonton dan para pemain music bertepuk tangan untuknya. Sayup-sayup terdengan teriakan orang mengatakan bravo. Tuan vierra menghampirinya memberikan salam dan mengatakan"Gratulation frau Kanon". Kanon hanya bisa membalas jabatan tangan itu sambil tersenyum. Dan menunduk memberikan penghormatan kepada para penonton, penonton malah semakin riuh bertepuk tangan dan melemparinya dengan bunga-bunga. Ia pun kembali ke backstage. Di dalam backstage pun tak kalah riuh memberinya selamat terutama tuan Callosum sampai menangis terharu. Kanon hanya memberinya pelukan ia tau penyelenggara acaranya ini sangat perduli dengannya. Selama satu bulan menemaninya selama di German.
"Aufhoren zu weinen herr Collosum. sie warden alt aussehn hat, wenn weinte wie die. Hahahahah (berhentilah menangis tuan Collosum, kau akan terlihat makin tua jka menangis seperti itu)" ujar Kanon diiringi ketawa lebarnya
"Sie sind sher French frau Kanon. Aber ich bin stoiz auf dich (kau ini sangat nakal sekali nona Kanon, tapi aku bangga denganmu)" tuan Collosum mengusap airmatanya dan menjitak kepala kanon
"Ouch, hufhhh… vielen dank (terima kasih) " senyum manis kembali menghiasi wajah gadis itu..
Setelah perbincangan singkat dengan tuan Collusum, ia kembali ke ruangan acara untuk makan malam dan melayani para tamu undangan yang memberikannya selamat. Walau capek harus berjabat tangan dan mengikuti pembicaraan orang-orang tua disana tetapi, ia ikhlas melakukannya karena berkat mereka ia bisa tampil di acara sebesar ini.
"Excuse me miss Kanon, someone want to meet you at garden." seorang wanita berambut hitam panjang berumur sekitar 25 tahun memakai kacamata menghampirinya.
"Who is that?"
"I don't know. He just say, he's a special guest." terangnya
"Oh ok… thanks Hinata. I will come to meet him. Just say wait a minute."
"yes miss" Hinata pergi meninggalkan kanon, lalu kanon berpamitan kepada para orang tua itu dan menuju ke taman yang dimaksudkan hinata tadi. Saat di taman dia melihat kesekeliling. Hanya ada beberapa orang dan itu ia mengenalinya semua ada Suigetsu si pemain clarinet, Ino pemain flute, Mr. Anderson pemain double bass. Tapi ada salah seseorang yang menarik perhatiannya. Seorang cowo tinggi memakai setelan baju putih sangat familiar menurut Kanon.
"Excuse me sir, you want to meet me?" Kanon berkata perlahan. Saat berbalik badan cowo itu tersenyum dan membawa bunga matahari kesukaan kanon
"Omedeto Kanon-chan, apa memakai nama aslimu saja ya Naruto."pemuda itu tersenyum lembut. Si gadis hanya menutup mulutnya yang kaget tak percaya melihat kedatangan pemuda itu.
"Gaara, Kamu datang?" wajah surprisenya tak bisa di sembunyikan lagi dan langsung memeluk Gaara
"Lamu hebat sekarang Naruto, aku amat sangat bangga melihat pertunjukan kamu tadi." Gaara membalas pelukan Naruto dan merasakan bahwa ada cairan yang membasahi kemejanya. Pasti naruto menangis tapi ia biarkan saja
"Hiks.. hiks… Naru kangen Gaara..Gaara kenapa sih selalu kasih kejutan?" masih terisak di dalam pelukan Gaara
"Kan' sudah kebiasaanku, kamu tak suka?" yang ditanya hanya menggelengkan kepalanya dan makin memepererat pelukannya. Setelah puas memeluk Gaara Naruto menghapus airmatanya.
"Gomen nee Gaara bajumu jadi begini." Naruto berusaha membersihkan baju Gaara yang basah akibat airmatanya.
"Sudah, tidak apa-apa ini bisa di laundry, Kapan kamu pulang?" Gaara mengajak Naruto duduk di salah satu kursi di taman itu.
"Lusa, hari ini terakhir dan ini pertunjukan utamanya. Dan apa kau tau Gaara. Seorang promoter di Konoha memintaku konser disana. Dan aku menyetujuinya. Apa Gaara mau pulang bersamaku?" Tanya Naruto hati-hati
"Kenapa kau menyetujuinya? Kenapa kau mau kembali ke kota itu?" Tanya Gaara tanpa menatap wajah Naruto.
"Hum Aku kangen Otousan, aku kangen baachan, dan semua orang yang ada disana." Naruto berkata sambil menatp langit malam yang ramai dengan bintang-bintang
"Terutama dengan dia?" pertanyaan dari Gaara sontak membuat Naruto kaget. Apa mungkin Gaara mengetahui tentang perasaannya terhadap Sasuke. Ia tak berani menatap wajah Gaara ataupun menjawab pertanyaan Gaara. Tapi saat ia ingin bertanya Gaara apa maksud pertanyaannya Gaara langsung memotong.
"Aku tau Naru, sudah lama. Sejak di rumah sakit dan di bandara. Cara kau memandangnya, berbicara dengannya, dan juga si Uchiha itu memandangmu dam menjagamu di rumah sakit sudah terbaca semua. Kau menyukainya kan?"
"Engg..Gaara gom-"
"Tak usah minta maaf .. lagipula kau dan aku kan di tunangkan belum secara resmi. Aku akan terus menjagamu, kau kan bisa menganggapku sebagai kakak. Dan aku akan menemanimu kembali ke Konoha" Gaara menatap Naruto dengan lembut.
"Arigatou Gaara, kau memang selalu mengetahui diriku. Dan kau orang paling berharga yang kumiliki." Naruto memeluk Gaara lagi dan menyamankan posisinya dalam pelukan Gaara. Ia memang sejak awal menganggap Gaara sebagai kakak dan tak ada perasaan yang lebih.
.
.
,
"ayo ayo cepetan! Lightingman mana? Itu lighting no 2 belum berfungsi backlightnya jangan lupa di pasang. Aduhhhh soundman audio di bagian kiri belum syncron sama yang kanan. Kamera 1 2 3 sudah fix? jipcam nya dari arah kanan belakang ya.." terdengar teriakan dari Kiba yang member instruksi ke anak buahnya. Ia sangat sibuk karena sebentar lagi konser Kanon itu akan mulai. Sedangkan Sasuke menatap para pekerjannya dari atas podium. Ia sudah memakai setelan jas berwarna biru tua senada dengan rambutnya ia sudah bericara dengan manajer bintang tamunya Hinata. Ia mau bertemu dengan sang bintang tapi dilarang karena permintaan si bintang tamu seperti itu.
Para penonton telah datang memasuki konoha central concert hall internasional. Sebuah concert hall yang cukup besar menampung sekitar 1000 orang. Dengan bagian luar berbentuk seperti bola setengah bagian yang ditutupi oleh kaca. Dan di dalamnya didesain sedemikian rupa agar bisa tercipta harmonisasi untuk acara pagelaran seperti ini. Terlihat di bangku penonton sudah ada Tsunade, Sakura, Neji, Sai, Iruka, dan Shizune. Sasuke sendiri duduk di atas pondium kaca yang mengarah langdung ke bagian depan panggung a mengontrol anak buahnya dari atas sana.
"Oke standbye.. five, four , three, two, one camera on!" aba-aba Shikamaru yang menjadi produser.
Terlihat pembawa acara memasuki ruangan. Dua artis terkenal Tenten dan Chouji membuka acara. Acara dimulai dengan beberapa penampilan dari pemain musik kenamaan di Konoha. Setelah para musisi itu selesai bermain. Tibalah waktunya orang yang ditunggu-tunggu tampil, Tenten memanggil nama Kanon dan tepuk tangan mengiringi kedatangannya. Alangkah kagetnya saat beberapa penonton mengenali sosok Kanon dengan balutan baju ala Lolita berwarna merah, berambut pirang yang dibiarkan terurai, kontras dengan baju yang dia kenakan. Ya Kanon nama panggungnya sekarang, nama aslinya Namikaze Naruto.
Tak hanya teman-teman dan kerabat Naruto yang kaget melihatnya, Sasuke pun langsung turun dari podiumnya dan menuju ke kursi penonton untuk memastikan apa yang dilihatnya bukan ilusi. Ia menatap tak percaya, tiga tahun berlalu, satu tahun wanita itu tak memberinya kabar dan tau-tau kembali dengan sosok bernama Kanon. Walaupun begitu ia tak berubah tatap Naruto seperti tiga tahun lalu. Hanya ia terlihat lebh makin cantik.
Sebelum bermain, Naruto mengucapkan sepatah dua patah kepada penonton. Setelah berbicara sedikit panjang x lebar (lho?) ia mulai permainannya.
Ia memainkan sebuah karya dari Claude Debussy sonata for cello and piano. seperti biasa permainan Naruto memukau penonton, walaupun disayangkan tak memakai pengiring. Saat di pertengahan lagu terdengar dentingan piano mengiring permainannya. Naruto yang menyadari hal itu langsung menengok ke sumber suara. Terlihatlah seorang pria memakai setelan serba putih dengan rambut pirangnya yang disisir rapih kebelakang menatap Naruto dengan lembut dan dan memberikan seyum terbaiknya, berbeda dengan dirinya yang selama ini dikenal Naruto. ia kembali menjadi sosok yang begitu Naruto rindukan. Ia meneruskan mengiringi Naruto, hingga lagu tersebut berakhir.
"Otousan…!" Naruto langsung berlari memeluk ayahnya.
"Maafkan otousan Naru, kematian Kushina membuat otousan gelap mata. Otousan tak sadar bahwa kau tak salah apa-apa. Maukah kau memaafkan otousanmu yang hina ini?" Minato berbicara sambil terus memeluk putri semata wayangnya.
"Naru udah maafin otuosan sejak lama, Naru gak pernah dendam sama otousan. Na-naru senang otousan bisa kembali seperti dulu hiks hiks."
"Makasih anakku, ada hal yang ingin ku katakan padamu. Bahwa aku Namikaze Minato sangat bangga memiliki seorang anak perempuan yang manis, cantik, dan berbakat yaitu Namikaze Naruto, semoga kushina kaasan mu ikut berbahagia." Minato mengusap air mata di wajah Naruto. semua penonton berdiri memberikan tepuk tangan terharu melihat pertunjukan yang menguras perasaan.
.
Dua jam pertunjukan itu berlangsung. Sasuke walaupun ingin sekali langsung lari kepanggung dan memeluk makhluk mungil itu karena rindunya yang teramat sangat, tetapi masih ia tahan ia masih memakai akal sehatnya untuk tak melakukan hal gila itu. Ia kembali kepekerjaannya memonitoring di ruangan VCR yang ada di podium atas. Setelah konser selesai dan sukses besar serta rating tinggi di dapatkan Konoha channel, sekarang mereka berkumpul di rumah Naruto yang besar itu untuk merayakan kembalinya naruto dan ayahnya.
Semua orang berebut mau berbicara dengan Naruto. yang paling lama memeluk Naruto adalah Sakura, sedangkan Ino mereka sering bertemu bahkan saat konser di German mereka satu panggung bersama. Sedangkan Tsunade mengacak-ngacak rambut Naruto karena ia berbeda sekarang. Dan Sasuke berada di teras depan menikmati minuman di kesendiriannya. Naruto yang melihat Sasuke sendirian mencoba menghampirinya, ia sangat rindu pada stoic face yang dimiliki si pemuda raven itu.
"Jadi hubunganmu dan Naruto bagaimana, Gaara?" Tanya Sakura to the point ke Gaara
"Begitulah, sejak awal aku menganggapnya saudara begitupula dia, walupun aku mulai menggangapnya lebih dari adik. Tapi ia telah menemukan pasangannya. Lagipula pertunangan kami belum resmi."
"Umm kau besar hati sekal Gaara heheh."
"Biasa saja, setidaknya melihat Minato sudah kembali seperti dulu sudah membuatku tenang melepaskannya dan ada seseorang yang bisa menjaganya melebihiku." Gaara meneguk minumannya.
"So sweetnya Gaara ini, kalau kau kesepian aku masih mau kok menerimamu heheh" Sakura mencubit pipi gaara.
"Sakit Sakura!" benatak Gaara karena tak suka pipinya dicubitin orang lain kecuali keluarganya dan Naruto.
"Kau kemankan pacarmu si perut rata?"
"Perut rata? Sai maksudmu? Hahah dia sudah bersama yang lain .. me and him it's over now"
"Owh…"
.
Naruto perlahan mendekati Sasuke, dan duduk di sampingnya. Keheningan tercipta di keduannya. Biasanya Naruto yang tak pernah kehabisan kata-kata sekarang justru bingung mau mengatakan apa. Akhirnya pertahanan Naruto luluh.
"Nee Sasuke, apa kau tak ingin mengatakan apa-apa padaku selamat gitu." cengir Naruto.
"Hn." yg ditanya hanya membalas seprti itu.
"Heh teme hentikan dua huruf kebangganmu itu. 3 tahun masih setia aja memakai si –hn-"
"Okaeri dobe". Sasuke menyela pembicaraan Naruto.
"Tadaima teme. Ano.. Sasuke, apakah janjimu 3 tahun masih kau lakukan?"
"Hn."
"Kalo gitu apa boleh aku menjawabnya sekarang?" Naruto bertanya sambil menundukan kepalanya. Yang diajak bicara terlihat kaget terlihat dibalik ekspresinya yang datar
"A-aku mencintaimu Sasuke." terlihat gugup di wajahnya dan matanya tetap melihat ke bawah tak berani menatap si pemuda berkulit pucat itu.
"Naruto… maaf aku tak bisa….."
.
.
.
.
TBC
hwaa gomen kalo makin gaje buangedddd
tetep comment ya! heheheh xp
diusahakan chap 4 itu terakhir!
hehehhehe
masih kan mau berkenan me review?
terima kasih ^_^
