Jimin bergelung manja dalam selimutnya. Namun acaranya terganggu begitu ia merasakan seseorang menggelitiki pinggangnya.

"Mmh, yak, aku masih ngantuk." Jimin melibas punggung tangan Yoongi dan semakin mempererat genggaman pada selimut miliknya.

"Morning, sweetie." Sapa Yoongi yang sudah bangun sedari tadi. "Nyenyak?"

"Menurutmu? Memangnya aku akan tidur nyenyak saat kau menggenjotku sampai subuh?" Omel Jimin dengan mata masih terpejam. "Dan kau masih bertanya, Tuan Min mesum?"

Yoongi menoel dagu Jimin, "Yak, bangun, pemalas."

Jimin siap melempar selimutnya kalau saja tak ingat bahwa tubuhnya masih polos.

"Aku membencimu Yoon−yak! Yakhh!"


Happy reading and sorry for typos!

.

.

.

"Good morning Seokjin-nim~"

Begitu selesai mandi, Jimin sedikit berbedak dan langsung keluar dari kamar. Ia menuruni tangga secepat kilat untuk menemui Seokjin yang telah menjabat sebagai hyung kesayangannya.

"Yes, good morning my little prince." Seokjin mencubit pipi Jimin gemas, "Fettuccine? Or cream soup?" Tanyanya lembut.

"Cream soup!" Seru Jimin antusias. "And I beg hyungie to feed your lil sweet kitten, please?"

Seokjin memekik gemas. Siapa yang akan menolak jika Jimin yang meminta bantuan?

"After all prepared, hm?"

"Ayey, captain!"

.

.

.

Setelah menyantap sarapannya, Jimin berjalan dengan langkah riang menuju ruang kerja Yoongi.

Jimin menyentuh gagang pintu, namun mengurungkan niat untuk mendorongnya.

Hampir seminggu lamanya Jimin tinggal di apartemen Yoongi yang katanya milik mereka bersama, namun Jimin masih merasa segan untuk mengusik Yoongi yang sedang berkutat dengan lembarannya.

Hampir tak tersentuh. Pernah sekali Jimin mengajak Yoongi untuk makan malam, dan berakhir Yoongi membentak Jimin karena terganggu.

Sebenarnya Yoongi tak bisa marah berlama-lama dengan Jimin. Buktinya hingga detik ini, mereka selalu terbangun di pagi hari dalam keadaan telanjang.

Klik

Jimin mengintip Yoongi yang masih saja berkutat dengan lembarannya.

"Sweetie, masuklah. Aku tak akan marah." Ucap Yoongi tanpa melepas pandangannya dari kertas-kertas itu.

"Kalau Yoongie marah lagi, aku akan kabur." Canda Jimin.

Yoongi menghempaskan lembarannya dan menatap sinis Jimin. "Apa?"

Jimin salah tingkah. "Yoongie, aku hanya−"

"Kemari, Jimin."

"Dengar−"

Yoongi menumbuk mejanya sekali. "Aku bilang kemari, Park Jimin."

Jimin menatap Yoongi takut-takut. Apalagi? Si kulkas ini memang tak bisa diajak bercanda.

Yoongi menarik Jimin untuk duduk di atas meja kerjanya, kemudian menatap Jimin garang.

"Aku sudah membayarmu dengan tiga villa, kau kira itu setara dengan berapa won?"

Jimin tertegun dan menundukkan pandangannya.

"Jangan mencoba-coba untuk kabur."

Yoongi beranjak dari kursi kerja dan membawa Jimin dalam ciumannya yang lembut. Jimin menangis, tak ada kehangatan seperti yang kemarin ia rasakan. Merasa begitu hina.

Jimin sedikit memundurkan posisinya begitu Yoongi memperdalam ciumannya.

Mata Yoongi mengarah kebelakang Jimin dan berkilat marah begitu melihat kertasnya sudah kusut karena rematan tangan Jimin.

Yoongi menghentikan pagutan dan menarik paksa tangan Jimin, kemudian mendorongnya hingga bersimpuh di depan kakinya.

"Keluar, Park Jimin!" Teriak Yoongi dengan murka, "Aku tak segan-segan membunuhmu dengan tanganku kalau kau berani menggangguku lagi."

Jimin menyeka air matanya, "Bisa dimengerti, Tuan Min Yoongi yang terhormat."

Dan Jimin keluar dari ruang kerja Yoongi dengan pandangan terluka.

.

.

.

"What the freak!" Seokjin berlari gesit menuju Jimin begitu melihat anak kucingnya meringkuk seperti bola, dan menangis begitu pilu.

"Seokjin-nim," Wajah Jimin keluar dari persembunyiannya, "Sakit sekali, Seokjin-nim. Aku.. Aku.." Jimin menangis lagi begitu Seokjin memeluknya erat.

Seokjin menyeka air matanya lembut, "So tell me, what've just happened?"

"Seokjin-nim.. Dia marah padaku. Dia menghinaku. Dia bilang aku bukan manusia yang setara dengan tiga villanya. Dia juga mendorongku.."

Rahang Seokjin mengeras, "Dia melakukan itu padamu, prince?"

Jimin mengangguk takut.

"Balik ke kamar, prince." Perintah Seokjin dengan tegas. "Kau tak akan membantah hyungmu, kan? Balik ke kamarmu." Perintah Seokjin sekali lagi tanpa bisa Jimin lawan.

Jimin menaiki tangga menuju kamarnya, sekali-kali menoleh ke Seokjin yang masih meliriknya untuk memastikan ia kembali ke kamar.

.

.

.

Seokjin membuka dan membanting kasar pintu ruangan kerja Yoongi.

"Aku tak bisa sopan begitu kau menyakiti pangeranku, Min Yoongi!" Jerit Seokjin.

Seokjin semakin panas, "Aku sedang berbicara padamu, Min Yoongi!" Jerit Seokjin lagi begitu Yoongi masih bergeming, menatap kosong ke kertasnya.

Seokjin terkejut dengan apa yang dilihatnya.

"Yoongi? Kau menangis?"

"Seokjin-ah.." Yoongi mendesah kasar dan mengusap kasar air matanya. "Apa aku tak berhak bahagia?"

Seokjin bingung dan menggeleng, "Orang paling brengsek sekalipun berhak untuk bahagia." Jawabnya berusaha untuk cuek. "Contohnya saja, kau."

Yoongi menatap Seokjin dengan sorot yang berubah menyedihkan. "Aku ingin melamar Jimin, Seokjin-ah. Menikah dengannya dan memiliki anak walaupun adopsi. Mengurus anak dan menua bersama, kemudian menutup kisahku dengan akhir yang bahagia. Apa aku tak bisa?"

"Perjodohan lagi?" Seokjin mengorek kuping dengan kelingkingnya, "Kalau kau gentle, tunjukkan pada dunia bahwa kau sudah memiliki Jimin. Genggam Jimin tanpa bisa ia lepas, dan katakan dengan lantang 'dia yang akan menjadi orang tua dari anakku kelak'. Bukan menangis disini seperti pengecut."

"Kalau orangtuaku menolak?"

"Persetan dengan mereka, bodoh! Kau sudah menuruti kemauan mereka sejak kecil. Katakan saja lebih baik kau menyendiri seumur hidup daripada menghabiskan hidupmu dengan orang yang tak kau cintai."

Yoongi larut dalam angan-angannya. Bisakah aku melakukannya?

"Aku sudah menyakitinya, Seokjin-ah. Aku bahkan ikut menangis begitu dia menangis."

Seokjin gemas dan menghentakkan kakinya tak sabaran, "Tinggalkan pekerjaan bodohmu dan temui dia, Min Cengeng Yoongi."

.

.

.

Yoongi melangkah pelan menuju kamar Jimin begitu ia selesai menyantap makan malam, dan gelap menyapa saat ia masuk.

"Jiminie.. Kau sudah tidur?"

Yoongi membuka saklar lampu dan jantungnya hampir copot karena melihat Jimin berdiri begitu dekat dengannya.

Tambahannya, Jimin telanjang.

"Jiminie?" Bisik Yoongi berusaha menekan rasa kagetnya.

"Yoongie.. Mau bercinta dengan Jiminie?" Bisik Jimin sembari mengalungkan tangannya pada leher Yoongi.

"Jim−"

Jimin melumat sekilas bibir Yoongi untuk membungkamnya. "Yoongie bawel sekali." Rajuknya.

Jimin membalikkan posisi dan mendorong perlahan dada Yoongi sampai mereka saling bertindihan di atas tempat tidur.

"Yoongie suka?" Bisik Jiminie dengan suara mendayu. "Jiminie will do his best." Bisiknya lagi kemudian mendudukkan dirinya.

"Jiminie, maafkan aku.." Yoongi menahan tangan Jimin yang akan melucuti pakaiannya. "Kau tak perlu melakukan ini."

Seolah menulikan pendengarannya, Jimin melepas kasar kemeja Yoongi dan melemparnya asal.

"Jiminie.." Yoongi menahannya lagi begitu Jimin merosot ke lantai dan melucuti celananya. Namun tangannya kembali ditepis Jimin.

Jimin menatap takjub kejantanan Yoongi. Putih polos, panjang, dan diameternya begitu pas menurut Jimin. Padahal sudah memasuki lubangnya berkali-kali.

"Punya Yoongie, Jiminie suka." Jimin mendudukkan bokongnya diatas paha Yoongi, "Keras sekali, Yoongie." Ujar Jimin dengan senyumnya yang lebar.

"Jiminie, ini salah.." Ujar Yoongi lembut begitu Jimin mencoba memasukkan penis Yoongi kedalam lubangnya.

"Ini benar, dan sudah jelas, Yoongie." Jawab Jimin. "I'm your three villas' bitch. You should treat a bitch just like a bitch, right?" Tekan Jimin menahan amarahnya yang bersarang di ubun-ubun. "I'll just act as what I should've done."

Yoongi menggeleng.

"Your bitch." Bisik Jimin, yang diliputi amarah dan gairahnya.

.

.

.

"Mmmh−"

Kini Yoongi memegang kuasa atas permainan mereka.

Seks yang liar, namun masing-masing dari mereka tak benar-benar menikmatinya.

Yoongi yang mendominasi, sedangkan Jimin mengimbangi, tapi tidak seperti kemarin-kemarin.

Jika kemarin mereka melakukannya dengan saling bertatapan dengan rasa kagum, maka sekarang mereka berusaha untuk menolak memandang lawan main.

Masing-masing dari mereka tahu, bahwa sepanjang permainan mereka sama-sama tersiksa.

Jimin menangis di dada Yoongi, dan Yoongi menahan isakannya di ceruk leher Jimin.

Ketika Jimin sudah tiba di puncak, Yoongi memagut bibirnya dan kembali menghujam lubang Jimin dengan tempo yang tak main-main, mengejar puncaknya sendiri.

Jimin sudah lemas dan menerima afeksi menyakitkan dari Yoongi dengan menyuarakan rintihan pelan.

.

.

.

Jantung Jimin berdebar keras ketika merasakan Yoongi memandangnya intens.

"Jiminie," Ujar Yoongi pelan, "Tatap aku. Jangan melirik kemana-mana."

Jimin menatapnya nanar, "Apa, huh? Apalagi?"

Yoongi membawanya kedalam pelukan, seerat mungkin. Yoongi tak peduli Jimin yang tak membalasnya.

"Maafkan aku, Jiminie.." Bisik Yoongi kemudian mengecup helaian rambut Jimin yang berantakan, "Aku benar-benar meminta maaf."

"Untuk apa, Yoongi?" Gumam Jimin dengan cuek, "Karena sudah menginjak harga diriku? Atau karena aku menangis? Ah, atau aku cepat menyadari posisiku sebagai jalangmu?" Lanjutnya dengan nada meninggi di akhir.

"Untuk semuanya, tapi kau bukan jalangku, Jimin." Tegas Yoongi.

"Jadi aku siapamu? Kau membuatku merasa dicintai kemudian kau campakkan."

Jimin memukul-mukul putus asa dada Yoongi, "Kau jahat, Yoongi. Kau mempermainkanku, padahal aku sudah menyerahkan hatiku padamu." Lirih Jimin.

"Aku hanya sebatas peliharaan yang bisa kau beli dan buang sesuka hatimu."

"Tidak, Jimin." Yoongi bersuara begitu Jimin menyebut peliharaan.

Jimin menatap Yoongi dengan maksud jelaskan semuanya Yoongi, jangan membuatku bingung!

"Hhah.." Desah Yoongi. "Dengarkan aku, Jimin. Aku juga sudah menetapkan hatiku untukmu, dan aku menginginkan anakku darimu." Jelas Yoongi dan mengecup pelipis Jimin. "Seandainya mustahil, aku ingin kita mengadopsinya setelah kita menikah. Aku akan segera membawamu ke rumah orangtuaku. Aku−aku tak bisa hidup dengan yang lain."

"Aku tak bisa menghabiskan masa tuaku jika bukan denganmu, Jiminie.." Yoongi mengecup kening Jimin lamat-lamat, menumpahkan rasa sakit dan cintanya disana. "Aku sungguh menyesal karena telah memperlakukanmu seperti itu, Jiminie. Aku mohon. Tadi aku terlalu putus asa."

"I love you. I do, Jiminie.." Lirih Yoongi karena tak mendapat jawaban apapun.

Jimin tersentak, Yoongi mencintainya?

"Eung, I do too." Tangis Jimin pecah pada akhirnya.

.

.

.

Yoongi dan Jimin memang tak bisa berlama-lama bertahan dalam pertengkaran. Hal itu tampak jelas pada mereka yang kini sedang saling menatap dengan penuh cinta.

"Yoongie, aku malu." Rengek Jimin saat Yoongi begitu bersemangat untuk menandai tubuhnya.

Saat Yoongi kembali mensejajarkan wajah mereka, ia mencium keseluruhan wajah Jimin, wajah tembam dan minta digigit, menurutnya.

Jimin menjerit tertahan ketika Yoongi tiba-tiba menyelipkan jari tengah ke belahan bokongnya.

"Aku ingin kita bercinta lagi, Jiminie. Aku merindukan setiap inchi tubuhmu, kau yang mendesah setiap akan menyebut namaku, kau yang malu-malu padahal mengintipku saat menandaimu, dan orgasme karena sentuhanku." Bisik Yoongi jujur.

Jimin merona hebat. Namun merasakan kejantanan Yoongi yang mengeras di pahanya, secara perlahan membangunkan jiwa yang ingin dipuaskan dalam dirinya.

"Buat aku merasakanmu dalam diriku lagi, Yoongie.."

.

.

.


TBC

Duh aduh, nchu tiap ngetik ff ini bawaannya panas dingin melulu :")

Apa alurnya kecepatan? Atau bagaimana? Mohon kritik dan sarannya, biar nchu tau gitu. Yang pastinya ingin karya nchu semakin hari semakin mengalami peningkatan.

Kalau acak-acakan kek, gajelas kek, atau gimana kek, kritik aja sini. Nchu strong, malah senang kalau ada yg revisi buat nchu. Ehey!

Oiya nchu butuh saran juseyo, MPREG OR NOT? Hal simple ini sangat berpengaruh pada chapter selanjutnya. Jd bs research tentang mpreg sebelum mengetik chapter selanjutnya ehe. Kalau ga ada balesan ya dianggap oke-oke aja ya kalo genre mpreg hwhw.

Seeya all!

Regards, nchu