Hey There []


Cast: Park Chanyeol, Byun Baekhyun and other EXO member

Pairing: ChanBaek

Length: Chaptered

Genre: BL/yaoi/boyxboy, romance, fluff, drama

Warning: typo, bahasa non baku


BAGIAN 3

Hey There, I thought you were….

.

.

Baekhyun tidak menyukai hidupnya yang sekarang. Bukan, bukan karena wajahnya yang cacat penuh jahitan luka melainkan Chanyeol yang tiba-tiba saja menjauh darinya.

Sesaat setelah Baekhyun keluar dari rumah sakit, Chanyeol tak pernah berkunjung ke rumahnya ataupun sekedar menelepon untuk menanyakan keadaannya. Bukannya berharap lebih, tapi bukankah wajar jika Baekhyun berkeinginan sahabatnya itu mengkhawatirkan keadaannya? Baekhyun sempat uring-uringan beberapa hari, namun setelah itu kakak laki-lakinya bercerita bahwa dulu Chanyeol setiap hari berkunjung ke rumah sakit saat baekhyun masih tidak sadarkan diri. Baekhyun sedikit lega, tapi tetap saja dia ingin bertemu dengan Chanyeol sekarang.

Sore ini Baekhyun akhirnya mendapatkan izin dari ibunya untuk berkunjung ke rumah Chanyeol. Baekhyun ingin menunjukkan perban warna biru yang menempel di kepala dan wajahnya pada Chanyeol. Baekhyun merapikan sedikit bajunya sebelum akhirnya berangkat ke rumah Chanyeol dengan diantar oleh sang kakak.

Baekhyun menekan bel rumah Chanyeol berkali-kali dan meneriakkan nama anak itu keras-keras, namun yang ia dapat hanyalah wajah teduh dari ibu sang sahabat yang menghampirinya.

"Lihat, siapa yang berkunjung kemari." Ibu Chanyeol berkata sembari membukakan pintu untuk Baekhyun.

"Apa aku bisa bertemu dengan Chanyeol, Nyonya Park?"

"Tentu saja sayang, tapi tidak hari ini. Chanyeol sedang pergi bersama noonanya." Ada sedikit penyesalan yang ketara di wajah Nyonya Park.

Baekhyun melipat wajahnya dan meremas ujung bajunya kesal, namun ia berusaha untuk tetep tersenyum. "Baiklah kalau begitu. Tolong sampaikan pada Chanyeol bahwa besok aku sudah mulai masuk sekolah."

"Akan aku sampaikan." Nyonya Park sedikit membungkuk untuk memeluk tubuh Baekhyun. Baekhyun sedikit terkejut mendapat perlakuan seperti itu, ini adalah pertama kalinya ibu Chanyeol memeluknya, belum lagi setelah itu Baekhyun mendengar bisikan penyesalan dari Nyonya Park, "Maafkan aku, Baekhyun."

Baekhyun tersenyum sembari melepaskan pelukannya, "Tidak apa-apa."

.

.

Baekhyun tidak bisa lebih sedih saat Chanyeol tidak lagi mau duduk sebangku dengannya. Anak laki-laki itu lebih memilih untuk duduk bersama Jiyeon, perempuan super menyebalkan, dibandingkan dengannya. Baekhyun awalnya tidak terima, ia ingin memarahi Chanyeol tapi hal itu diurungkannya saat Chanyeol sendiri dengan tegas mengatakan bahwa ia sudah bosan duduk dengan Baekhyun. Baekhyun tidak menyalahkannya, wajar kalau Chanyeol bosan, pasalnya sudah lebih dari satu tahun mereka selalu duduk bersama.

Akhirnya Baekhyun kembali duduk bersama teman lamanya, Jongdae.

Seharian itu Baekhyun sama sekali tidak fokus mengikuti pelajaran di sekolah. Disamping lukanya yang masih terasa sakit, pandangannya juga selalu tertuju pada bangku Chanyeol. Dia senang akhirnya Chanyeol memiliki teman lain selain dirinya, tapi dia juga kesal karena mengetahui fakta bahwa nyatanya Chanyeol bisa nyaman dengan semua orang, bukan hanya dirinya.

Disana, Chanyeol terlihat asyik menjelaskan tentang materi matematika kepada Jiyeon. Baekhyun iri, ingin rasanya ia menghampiri tempat duduk Chanyeol dan mengatakan bahwa dia juga tidak bisa mengerjakan soal matematika, seperti biasanya.

.

8 Desember 2003

"Chanyeol, berhenti!" Baekhyun berlari menyusuri koridor sekolahnya yang mulai dipenuhi anak-anak yang ingin pulang ke rumah.

Semua orang memperhatikannya, tapi tidak dengan Chanyeol. Orang lain menatap Baekhyun penuh ketertarikan, mungkin karena anak itu berteriak keras sambil berlari atau mungkin karena luka di wajahnya yang begitu mencolok. Semalam Baekhyun melepas perban yang menutupi wajahnya, anak itu menangis lama sekali karena dokter bilang membutuhkan waktu lama untuk mengembalikan wajahnya seperti semula.

"Chanyeollie!" Dia berteriak lagi, tapi seseorang yang dipanggil makin mempercepat langkahnya.

Baekhyun mempercepat larinya dan dengan sigap segera meraih pergelangan tangan Chanyeol, "Yeollie, berhenti." Ia berkata hampir terisak.

"Ada apa?" Chanyeol menghempaskan tangannya, memandangnya dengan tatapan datar sama seperti yang dulu pernah ia lakukan saat mereka pertama kali bertemu, yang kini kembali ia lakukan selama lima hari terakhir.

"Kenapa kau menghindar dariku?"

Chanyeol diam, matanya menatap tajam manik Baekhyun dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Apa ada sesuatu yang salah yang telah kuperbuat?" Baekhyun kembali bertanya saat Chanyeol tak juga memberi penjelasan.

Chanyeol memandang Baekhyun untuk terakhir kalinya hari itu sebelum benar-benar pergi. Anak laki-laki yang lebih besar tidak menjawap pertanyaan temannya dengan sepatah katapun. Hal itu cukup untuk membuat Baekhyun merasakan sesak luar biasa di bagian dadanya.

"Chanyeol, berhenti!" Baekhyun kembali berteriak dan mengejar Chanyeol. Baekhyun baru tahu bahwa begitu sulit menyamai langkah kaki sahabat besarnya.

Baekhyun berhenti tepat selangkah di belakang Chanyeol, dia lelah. Ia memajukan bibirnya sebal dan berusaha menahan tangis yang bisa keluar kapan saja. "Sahabat tidak melakukan hal seperti ini, Yeolli."

Baekhyun berkata hampir menyerupai sebuah bisikan, namun hal itu masih bisa tertangkap oleh Chanyeol si telinga besar. Tapi anak itu sama sekali tidak menghentikan langkah kakiknya dan tetap meninggalkan Baekhyun sendirian.

.

24 Desember 2003

"Ibumu mengizinkanku untuk menginap hari ini." Baekhyun menyandarkan punggungnya di tembok putih tepat di sebuah pintu kayu yang juga dicat putih.

"Sekarang malam natal Chanyeol, seharusnya kita ke gereja sama-sama." Baekhyun mengeluarkan crayon dan kertas gambarnya. "Apa kau ingin kita bermain salju di luar saja?"

Anak laki-laki dengan sweeter merah hati itu mulai menggoreskan crayonnya di atas kertas gambar miliknya. Ia menggambar sesuatu yang begitu familiar di benaknya dan saat ini benar-benar ingin dia lakukan.

"Apa yang kau inginkan sebagai hadiah natal, Chanyeol?"

Baekhyun bertanya tapi pandangan matanya sama sekali tidak lepas dari buku gambar miliknya.

"Kau tahu, anak kelas sebelah yang bernama Minho itu benar-benar menyebalkan. Dia membicarakan tentang dirimu di belakang, Chanyeol. Dia bilang kau gemuk dan menggelikan." Baekhyun meremas ujung kertas gambarnya tidak suka, dan kembali merapikannya di detik selanjutnya.

"Tentu saja aku tidak terima. Kau kan sahabatku. Jadi tadi aku menendang bokongnya hingga jatuh." Baekhyun sedikit terkekeh mengingat betapa bodoh wajah Minho tadi siang.

"Kau tidak ingin tahu apa yang aku inginkan sebagai kado natal? Jahat sekali. Padahal kan aku tadi sudah bertanya dan seharusnya kau balik bertanya, Chanyeol."

Baekhyun memasukkan crayonnya dan sekali lagi merapikan kertas gambar yang kini telah rampung digarapnya.

"Aku ingin ini, Chanyeol." Baekhyun menggigit bibir bawahnya kemudian menyelipkan kertas gambarnya di bawah pintu kamar Chanyeol.

"Aku akan tidur di kamar tamu. Selamat malam, selamat natal."

.

2 Januari 2004

Hari ini Baekhyun mendapat pelajaran tentang cara bagaimana menulis surat yang baik dan bagaimana mengirimkannya lewat pos. Nyonya Jung, guru bahasa, menganjurkan murid-muridnya untuk mengirimkan surat tersebut kepada kolega mereka yang berada jauh di luar kota. Setelah menulis surat, para siswa akan berbondong-bondong memasukkannya ke kotak pos yang berada di depan sekolah mereka. Siswa yang mendapat surat balasan, akan mendapatkan nilai A.

Baekhyun tersenyum. Tiba-tiba dia tahu kemana surat itu akan berlabuh.

…..

Seoul, 2 Januari 2004

Untuk sahabatku,

Hai Chanyeol. Selamat tahun baru.

Sebenarnya aku ingin mengucapkannya lebih awal, tapi seperti biasa, kau selalu menghindar.

Kemarin aku dan Jongdae berkunjung ke rumahmu, tapi ibumu bilang kau sedang ikut perkemahan di daerah Gwangju.

Kenapa kau tidak mengajakku?

Oya, apa kau sudah memakan coklat yang berada di kolong mejamu?

Itu dariku, Chanyeol. Habiskan ya!

Semoga di tahun baru ini kau diberi kesehatan dan keburuntungan.

Dan semoga, kau mau bicara lagi denganku.

Dari –yang semoga saja masih kau anggap-sahabatmu,

Baekhyun.

Di minggu berikutnya, Baekhyun mendapat nilai C di pelajaran bahasa karena Chanyeol tidak membalas suratnya.

.

03 Februari 2004

Baekhyun menangis di sepanjang perjalanannya pulang dari sekolah. Tadi, Minho dengan sengaja mengangkat tubuh kecilnya memasuki bak sampah. Dan sekarang, seluruh tubuhnya bau.

.

04 Februari 2004

Chanyeol di hukum karena ketahuan memukul Minho dan Taemin hingga mimisan.

.

11 April 2004

"Chanyeol.." Baekhyun terisak di depan pintu kamar Chanyeol seperti yang selalu ia lakukan beberapa bulan terakhir.

Anak laki-laki itu dengan kasar mencoret-coret gambar wajah yang tergambar di kertas gambarnya.

"Apa aku begitu mengerikan?" dan kini, ia mulai menangis.

"Tadi Daesung bilang aku seperti beast. Kau tau kan, tokoh buruk rupa yang berada di cerita princess Disney?" Baekhyun mengusap air matanya kasar, bahkan ia hampir mencakar wajahnya, atau lebih tepatnya bekas luka yang ada di wajahnya.

"Daesung juga bilang kalau aku cacat. Apa seseorang yang punya bekas luka juga dikatakan cacat?"

Baekhyun makin mencorat-coret kertas gambarnya dengan crayon warna hitam hingga tidak berbentuk.

"Apa… Atau jangan-jangan kerana itu juga kau sekarang menghindariku, Chanyeol? Karena aku cacat dan jelek?"

Baekhyun melemparkan kertas gambar dan kotak crayonnya. Ia menyambar tas dan segera menuruni tangga rumah Chanyeol untuk pulang. Dia menangis keras hari itu.

Chanyeol membuka pintu kamarnya, pintu kamar yang kini hampir menyerupai pintu kamar milik Baekhyun. Disana tertempel puluhan gambar Baekhyun. Gambar pertama yang tertempel disana adalah gambar dirinya dengan Baekhyun yang sedang bermain salju di taman, gambar itu di gambar saat malam natal.

Dan kini sudah menjadi kebiasaan Chanyeol untuk menempel setiap gambar yang Baekhyun tinggalkan setelah berkunjung ke rumahnya. Tapi kali ini berbeda, Chanyeol memungut gambar terakhir Baekhyun dari lantai dan membereskan kotak crayon anak itu. Ia tidak menempelkannya di pintu seperti yang biasa ia lakukan, ia malah menaruhnya di laci meja belajarnya.

Itu adalah gambar wajah Baekhyun yang sengaja dicorat-coret oleh pemiliknya.

.

22 April 2004

"Chanyeol!" Baekhyun menggedor pintu kayu putih di hadapannya.

"Apa yang terjadi padamu? Kemana Chanyeol yang baik, yang pintar, yang tidak pernah berkelahi seperti dulu?" Baekhyun berteriak walaupun sebenarnya ia tahu percuma saja karena Chanyeol pasti tidak akan menanggapinya.

Tadi pagi Jongdae memberi tahunya bahwa Chanyeol mendapatkan hukuman skors selama satu minggu karena berkelahi dengan Daesung hingga menyebabkan anak bermata sipit itu dilarikan ke rumah sakit. Baekhyun tidak tahu sejak kapan Chanyeol berubah seperti ini. Dia juga tidak pernah tahu jika sahabatnya itu memiliki masalah dengan Daesang, yang ia tahu Chanyeol hanya pernah sekali bertegur sapa dengan siswa yang menempati ruang di sebelah kelasnya.

Baekhyun menjatuhkan dirinya dilantai. Tangan kanannnya masih setia mengetuk pintu kamar Chanyeol walaupun tak sekeras sebelumnya. Ia menangis, anak laki-laki itu benar-benar merasa kehilangan Chanyeol-sahabatnya, sahabat yang sebelumnya selalu bersikap lebih dewasa darinya.

Perlahan Baekhyun merasa ada yang aneh, tangan kanannya tak lagi mengetuk pada daun pintu. Dia mengangkat wajahnya dan mendapati Chanyeol berdiri dihadapannya. Untuk pertama kalinya selama beberapa bulan terakhir, Chanyeol membukakan pintu untuknya.

"Jangan menangis." Baekhyun bisa merasakan sepasang lengan merengkuh tubuhnya. Sepasang lengan yang beberapa hari ini terlihat semakin kurus. "Maafkan aku."

Baekhyun tidak pernah lupa bagaimana perasaan nyaman yang selalu ia dapat setiap kali berada di dekat Chanyeol, hal itulah yang membuatnya selalu berusaha mempertahankan persahabatan yang mulai terlihat aneh ini.

Baekhyun mendongak, mendapati Chanyeol yang masih merengkuhnya. "Jangan mengacuhkan aku lagi, Yeolli."

Chanyeol hanya diam, dia tidak pernah mengiyakan permintaan Baekhyun barusan.

.

.

.

Bukan mau Chanyeol untuk menjauhi Baekhyn, bukan keinginannya untuk selalu menjaga jarak dengan Baekhyun. Hal itu ia lakukan semata-mata demi kebaikan Baekhyun. Dia beranggapan satu-satunya orang yang berpotensi membawa Baekhyun dalam bencana adalah dirinya. Dia yang membuat Baekhyun jatuh dan terluka, dia pula yang membuat hidup Baekhyun kacau seperti sekarang. Chanyeol memang berjanji kepada orang tua Baekhyun untuk selalu menjaga anak itu seumur hidupnya, tapi Chanyeol memiliki definisi lain dari 'menjaga'. Menjaga yang dimaksud Chanyeol disini bukanlah selalu berada di dekat Baekhyun, menjadi tameng Baekhyun dari segala mara bahaya dan selalu msenempel pada anak itu layaknya prangko. Chanyeol lebih memilih menjaga Baekhyun dari jauh. Memastikan anak itu baik-baik saja, memastikan anak itu tidak pernah terluka, memastikan semua anak yang menggangu Baekhyun mendapatkan balasan yang setimpal.

Tapi Chanyeol tidak pernah tahu sampai kapan dia mampu bertahan seperti ini. Sampai kapan tembok pertahanan yang ia bangun mampu bertahan. Karena setiap hari, Baekhyun mampu meruntuhkannya dengan segala pesona yang dimilikinya.

.

08 Juli 2005

Baekhyun dan Chanyeol sedang menikmati angin sore hari untuk terakhir kalinya di sekolah dasar mereka. Kedua anak laki-laki itu sedang bersantai di atas atap sambil memandangi kerumunan siswa seangkatan mereka yang berada di bawah.

"Kemana kau akan melanjutkan sekolahmu, Chanyeol." Baekhyun bertanya, setahun terakhir begitu sulit untuk mendapatkan waktu berbicara dengan Chanyeol karena mereka berada di kelas yang berbeda.

"Mungkin aku akan masuk sekolah seni." Chanyeol menjawab dengan mata yang menerawang langit di atasnya.

Baekhyun sempat merinding mendengar suara Chanyeol yang semakin berat. Dia berpikir bahwa setahun adalah waktu yang cukup lama sampai bisa merubah bentuk suara seseorang.

"Bagaimana denganmu?" Chanyeol balik bertanya.

"Aku akan mengikutimu."

Chanyeol berdiri dari tempat duduknya, merapikan sedikit celananya yang kotor terkena debu. "Ayo kita pulang."

Selalu seperti ini. Dia dan Chanyeol tidak pernah terlibat percakapan lebih dari lima belas menit. Chanyeol akan mencari segala macam cara dan alasan agar mereka berpisah. Baekhyun sadar mungkin hubungannya sekarang lebih baik dari pada saat dimana Chanyeol sama sekali tidak mau berbicara dengannya, tapi dia juga tahu bahwa mungkin sampai seterusnya, hubungannya dengan Chanyeol tidak akan pernah benar-benar membaik.

"Terima kasih, Yeolli."

Chanyeol sedikit menoleh ke arah Baekhyun saat mereka mulai menuruni anak tangga yang membawa mereka turun ke lantai satu.

"Terima kasih telah menjadi sahabatku."

Chanyeol baru saja akan membalas perkataan Baekhyun, namun anak laki-laki yang lebih kecil melanjutkan kalimatnya dengan deretan kata-kata yang mampu membuat lambung Chanyeol seperti di aduk dari dalam.

"Sepertinya aku menyukaimu."

Entah niatan dari mana sehingga Chanyeol langsung berlari sekitar lima detik setelah berpandangan dalam diam dengan Baekhyun. Anak itu terus berlari mengabaikan sahabatnya yang memanggil namanya dan menyuruhnya untuk berhenti.

"Chanyeol, kenapa kau lari lagi?" Baekhyun berteriak hingga kerongkongannya sakit. "Apa aku mengatakan sesutu yang salah lagi?"

Chanyeol masih tetap berlari.

"Apa kau tidak suka jika aku menyukai mu?" Baekhyun mulai kesusahan bernafas, entah sejak kapan hobinya berlari mulai menjadi kelemahannya. "Sepertinya kau salah paham Chanyeol!"

"Aku.." Baekhyun menggigit bibir bawahnya berusaha mencari kata-kata yang pas. "Aku menyukaimu seperti aku menyukai Jongdae! Karena kau sahabatku!"

Baekhyun sadar bahwa ia sekali lagi salah bicara karena Chanyeol makin menambah kecepatan larinya setelah ia menyelasaikan kalimat terakhirnya.

.

06 September 2005

Chanyeol pikir bahwa hanya dirinya stau-satunya yang akan peduli kepada Baekhyun. Chanyeol kira Baekhyun hanya membutuhkan dirinya sebagai pelindung. Chanyeol kira Baekhyun tidak akan tertarik dengan anak lain selain dirinya. Ya, selama ini Chanyeol terlalu banyak mengira-ngira sampai akhirnya datang seseorang yang lebih baik darinya, seseorang yang mampu membuat Baekhyun lupa mengunjungi rumahnya setiap akhir pekan, seseorang yang mampu menggantikan posisinya, seseorang yang membuat seorang Byun Baekhyun bertekuk lutut melebihi dirinya.

Wu Yifan..

.

.

.

TBC


a/n:

wohoo saya udah usaha buat update cepet tapi hasilnya malah nggak sampe 3k words -_- maaf..

I know, this chapter was a mess.. mungkin beberapa readerdeul ada yang bingung sama alurnya atu kenpa saya make tanggal-tanggal gak jelas gitu haha -_- ya semata-mata biar mereka cepet gede dan Kris bisa cepet keluar *prok prok*

Seperti biasa, saya akan memperbaiki kekurangan di chapter ini di chapter selanjutnya..

Dan maaf yang berharap Baekhyun buat di oprasi plastik, hehe mungkin nggak sekarang.. dan Jiyeon di chapter kemaren keliatan alay bgt soalnya anak SD udah kenal yg namanya 'gay', tapi emang bener saya SD kelas 5 juga udah kenal yang namanya 'gay' (?)

Segitu dulu cuap cuapnya..

Thanks yg udah support ff ini lewat fav, follow, dan review..

Saya selalu menghargai sekecil apapun bentuk apresiasi kalian

Dan tolong jgn berhenti sampai disini ya…


Thanks to:

neli amelia, exindira, devrina, NaYool, Yuki Edogawa, rillakuchan, kris's ace, , , CussonsBaekBy, CB11270506, Beechanbaek, aquariusbaby06, BangMinKi, Fangirl-nim, sunsehunee, YOONA, azizozo

Thnaks a lot T^T tanpa kalian ff ini gak akan berlanjut :'))