.

.

Out of the Blue

===.===

DISCLAIMER chara NARUTO milik Masashi Kishimoto

DISCLAIMER STORY SATU - SATUNYA MILIK SAYA

Spica Zoe

Cover Art : CharaKauffmann

Warning : Affair, OOC, NTR, Sakura Centric,

.

.

.

.

.

.


"pulanglah, Sakura.."

Gadis itu menggigit bibirnya. Permohonan itu membuatnya bimbang dan tak berdaya.

"aku tidak akan menyakitimu lagi, pulanglah"

Sakura menggelengkan kepalanya. Digenggamnya gagang telepon yang menempel ditelinganya dengan keras, airmatanya jatuh terurai membasahi pipinya. Isakannya terdengar tak lagi tertahan, dan pria itu tahu seberapa lemah kekasihnya kini.

"pulanglah, aku membutuhkanmu"

Sakura masih menggeleng tidak peduli. Pria diseberang sana, pria yang sedang berbicara dengannya yang kini membuatnya selalu menangis tiap malam. Bisakah dia percaya jika pria itu tidak akan lagi menyakitinya?


Out of the Blue

.

.

Sakura tersenyum memandang Tenten yang tersenyum padanya. Siang tadi Neji datang mengunjungi sahabat baiknya itu, dan kini yang Sakura lihat Tenten sedang mempersiapkan dirinya untuk menemani Neji malam ini.

"kencan?" Sakura mengangkat kepalanya menatap Tenten yang berdiri dihadapannya. Tenten tersenyum gemas. Sudah lama Neji tak mengajaknya keluar, dan ini dianggapnya sebagai kesempatan emas.

"aku tak tahu aku harus sebut ini apa, Sakura," Tenten berbicara antusias. Ditariknya kursi tamu untuk duduk dan mendekatkan dirinya pada Sakura, di ruangan Sakura.

"dia bilang dia ingin mengenalkanku pada keluarganya"

Sakura bisa lihat pancaran asa yang terpampang jelas di kedua mata sahabatnya. Dia ikut senang. Tentu saja.

"baguslah. Setidaknya kalian bisa memikirkan untuk menikah dan memiliki anak lalu hidup bahagia" Sakura menepuk pundak Tenten dengan selipan sukacita. Dia senang melihat Tenten dengan ekspresi sebahagia ini. Sudah berapa lama Tenten dan Neji bersama. Didepan matanya, Neji merupakan pria mapan yang penuh tanggung jawab. Meskipun pria itu jarang menunjukkan ekspresi nyatanya. Tapi Sakura bisa lihat jika sekalipun Neji tidak serius menjalin hubungan dengan Tenten, tapi tetap saja Neji tidak ingin melepaskan sahabatnya itu. Mungkin hanya perlu waktu, dan Sakura rasa inilah waktu yang tepat, yang Neji hadiahkan.

"kau sendiri bagaimana Sakura?"

Sakura menatap wajah Tenten teduh. Senyumnya memudar, dia takut jika seseorang selalu bisa bertanya tentang apa yang paling ditakutinya. Dan selalu Tenten yang berhasil melakukannya. Benar saja, bukankah mereka sudah lama bersahabat.

"kau bahagia?" Tenten sudah tahu jawabannya. Tapi dia ingin Sakura yang mengatakannya.

"Itachi tampan, kaya raya, dan mapan. Lebih hebat dari Neji kupikir, apa menurutmu aku tak bahagia?" Sakura ingin menangis dalam hatinya. Tidak, dia tidak bahagia. Meskipun dia sudah mencobanya berkali – kali. Tetapi tetap saja Itachi tak pernah bisa menjadi bagian dari hidupnya.

"oke, kau yang bilang Sakura" bisakah Tenten bilang jika dia sudah muak dengan sikap Sakura yang seperti ini?

"jangan datang padaku dengan tangisan seperti yang kau lakukan tujuh tahun lalu, kelak" ancamnya sambil memandang Sakura. Membuat wanita bersurai senada sakura itu tersenyum miris padanya.

"tidak akan" jawabnya tak yakin.


Out of the Blue


"satu... dua... tiga..."

Sarada duduk dengan tumpukan hadiah dalam jangkauannya. Berada di ruang tamu, ditemani seorang wanita tua yang terlihat begitu setia mengawasinya. Sambil menghitungi satu persatu benda – benda cantik dan berwarna dihadapannya. Wajahnya menyiratkan kebahagiaan yang teramat sangat. Senyumnya ceria, tawanya terdengar gembira. Hadiah – hadiah yang sedang dia miliki saat ini adalah hadiah pemberian Sakura untuknya.

"wah.. ini banyak sekali ya kan? Baa-san"

Serunya dengan cengiran bahagia, terlihat jelas gigi-giginya yang putih dan rapat menghiasi senyum indahnya. Wanita tua itu mengangguk setuju.

"ibu, membelikan semuanya untukku loh"

Sambil meraih hadiahnya satu persatu, dia bersenandung kecil dalam bahagianya. Wanita itu tersenyum.

"itu artinya, ibumu sangat menyayangimu"

"ya, baa-san benar! Ibu sangat sayang padaku"

Sebagai seorang tua, berbohong bukanlah lagi hal yang harus dia lakukan. Nyatanya dia memang tidak berniat untuk mendustai Sarada. Bukan dengan alasan jika Sarada masih kecil dan tak ingin menyakitinya. Tapi, meski dia tahu Sakura tak pernah memeluk gadis kecil ini, wanita itu tahu jika Sakura hanya tidak ingin menyakiti hatinya sendiri. Memeluk Sarada hanya akan menggores luka yang selalu sulit dia sembuhkan dalam hatinya. Juga, tak ingin menyakiti Sarada lebih banyak. Jika saja Sarada tumbuh dengan kebohongan, apa Sakura sanggup memaafkan dirinya sendiri?

Asyik bermain dengan mainan – mainan barunya, Sarada pun tak menyadari kehadiran seseorang yang sudah memperhatikan kegiatannya dari belakang tubuhnya. Hanya karena wanita tua itu berdiri dan ingin memberi hormat, saat itu lah Sarada sadar Itachi sudah berdiri di belakangnya. Sedang tersenyum. Bahagia.

"ah, paman! Selamat datang!"

Belum sempat Itachi melangkahkan kakinya meraih Sarada, gadis kecil itu malah lebih dulu bangkit dan berlari padanya. Itachi spontan melepaskan tas jinjingnya, direntangkannya tangannya dan duduk mengimbangi tinggi badan Sarada, dan memeluknya saat gadis kecil itu sudah mendarat dalam pelukannya.

"kau terlihat senang sekali cantik" Itachi mengusap puncak kepala Sarada penuh kasih sayang. Sarada tersenyum bahagia.

"paman tahu? Ibu membelikanku banyak hadiah kemarin, lihat ini!" ucapnya sambil mengarahkan tangannya kearah dimana hadiah-hadiah itu bertumpuk. Itachi terlihat takjub.

"untuk paman mana?" tanyanya, duduk membaur disekitar tumpukan mainan Sarada. Mengambil satu boneka cantik berambut pirang dan mengelusnya lembut. Ini cantik, dan terlihat mahal.

"paman suka boneka juga? Nanti Sarada akan minta ibu belikan jika paman mau" Sarada masih bersandar manja dipelukan Itachi. Selain Sasuke, Itachi adalah satu-satunya pria dewasa selain ayahnya yang begitu amat disayanginya. Sarada suka bermain dipelukan Itachi. Dan Itachi pun begitu amat menyayanginya.

Hadiah? Berbicara tentang hadiah, apa Itachi bisa berharap hadiah lain yang tak akan mungkin dia dapatkan untuk sepanjang hidupnya yang sudah berlalu dibelakang waktu? Itachi menimbang-nimbang sesuatu dalam pikirannya. Ditinggalkannya Sarada dengan wanita tua itu masih diruang tamu, melangkah pelan menelusuri setiap lantai yang menjadi tempat pijakannya. Menuju kamar, kamar dimana dia dan sang istri harusnya bersama. Tapi Itachi sadar beberapa waktu terakhir ini, kamar itu bukan lagi tempat yang dia inginkan. Sakura terlalu jarang dia temukan disana. Terkadang dia harus menerima kesakitan saat bangun pagi namun sang istri tak pernah ada disisinya, atau mungkin tak lagi pernah tidur dengannya setiap malam. Tapi, bukannya berbicara pada Sakura dan bertanya kenapa?. Itachi malah diam seribu bahasa.

Itachi mendorong pintu kamarnya pelan sesaat setelah membukanya. Takut menemui kenyataan bahwa sang istri tak ada disana membuatnya begitu menderita. Apa Sakura lupa tentangnya? Bahkan dihari ulangtahun suaminya sendiri.

"kau sudah pulang, Itachi"

Itu adalah kalimat pertama yang membuat Itachi terdiam sejenak dalam langkahnya. Jarang sekali menemukan bayangan Sakura di kamar ini. Tapi saat ini kenyataannya terlihat berbeda. Itachi tak merespon ucapan Sakura, dilangkahkannya kakinya menyusuri setiap inchi kamarnya, menuju sofa dan meletakkan tasnya disana lalu duduk. Sakura hanya mengikuti langkah kaki suaminya dengan pandangannya.

"kau tidak ada jadwal jaga malam ini?"

Itachi menarik ikatan dasi yang melilit lehernya, tak menatap lawan bicaranya yang masih berdiri dibelakangnya. Sekilas tadi, Itachi sempat melihat pakaian tipis yang dikenakan Sakura, tak cukup sulit untuk mengingat bahwa gaun tidur itu adalah pemberiannya pada Sakura tahun lalu. Cantik, itu yang memenuhi benak Itachi saat ini. tapi ditahannya pujiannya hanya untuk dirinya sendiri, tak ingin Sakura tahu.

"tidak, aku ingat ulang tahunmu" Sakura tersenyum kecut. Melihat sikap Itachi yang tak terlalu peduli dengan penampilannya, membuat mentalnya menurun. Sengaja dia berpakaian seperti itu untuk merebut perhatian Itachi, tapi rasanya sangat sulit.

"aku mau mandi"

Itachi bangkit dari tempat duduknya, kemejanya sudah tanggal, hanya celana panjang hitam yang masih menutupi tubuhnya. Terang lampu masih mampu membantu Sakura menikmati betapa indahnya pemandangan didepannya kini. Tubuh Itachi terbilang bagus, setiap wanita mungkin akan rela tersenyum saat digauli pria seperti Itachi. Sakura cukup beruntung menjadi satu-satunya wanita yang ditakdirkan menjadi satu-satunya milik Itachi. Sangat beruntung. Sejak dulu, jika menelisik ke masalalu, Itachi selalu menjadi incaran gadis-gadis dimanapun dia melangkah.

"biar kusiapkan air panas untukmu-"

"tidak usah. Tidurlah, kau butuh istirahat"

Pedih. Bahkan saat mengatakan itu pun Itachi tak ingin melihat kearahnya. Apa dia harus telanjang didepan Itachi agar suaminya itu mau mengakui keberadaannya?

"Itachi.."

Itachi menghentikan langkahnya saat dia mendengar Sakura menyerukan namanya. Basah, suara itu terdengar basah. Ada tekanan dalam desahannya. Dan Itachi masih tak berniat menolehkan wajahnya memandang Sakura. Langkahnya masih terhenti diambang pintu kamar mandi diruang kamarnya. Menunggu Sakura melanjutkan kata yang dia rasa masih akan berlanjut setelah dia mendengar namanya.

"selamat ulang tahun"

Seperti pukulan menyakitkan yang baru saja menghantam jantungnya. Itachi menggigit bibir bawanya pilu. Ucapan yang dia rasa begitu tulus itu ingin membuatnya menangis. Mengabaikan Sakura, bukanlah kemauannya. Tapi mungkin dia harus mengorbankan semuanya untuk bisa melakukannya.

Sakura duduk ditepi ranjang, sejenak dia ingat apa yang siang tadi sempat dia perbincangkan dengan Tenten. Berjanji untuk tidak menangis dan mengadu pada sahabatnya itu. Udah bertahun-tahun dilakukannya. Tapi untuk kali ini, dia merasa sudah tak mampu lagi menampung semua bebannya. Sakura mengarahkan pandangannya kearah nakas disamping tempat tidur disisi miliknya. Disana sudah dia siapkan sebuah hadiah untuk Itachi. Sebuah jam tangan yang begitu indah yang dia temukan kemarin saat membelikan Sarada mainan. Mungkin sekarang hadiah itupun tak lagi berharga bagi Itachi, sama seperti dirinya.

Sakura memilih untuk tetap duduk disana sampai Itachi keluar dan selesai mandi. Diangkatnya kepalanya memandang suaminya yang baru saja menunjukkan dirinya. Sakura mencoba untuk tersenyum, meski sudah terlalu sering dia merasa sia-sia.

"terimakasih untuk hadiahmu pada Sarada, dia terlihat sangat bahagia" Itachi akhirnya menatap mata Sakura. Duduk disamping sang istri sambil tangannya masih terus bergerak dengan handuk di kepalanya.

"hanya itu yang bisa kulakukan untuknya" Sakura menunduk. Dia tahu, jika Itachi memang terlalu sangat menyayangi Sarada. Tapi, untuk saat ini dia tidak ingin ada nama lain yang mengusik kenyamanannya dengan suaminya kini.

"dia sangat menyayangimu"

Itachi bangkit dari tempat duduknya. Diletakkannya handuk basah itu menggantung ditempatnya. Lalu langkah kakinya membawanya ke depan lemari besar diruangan itu. Sakura tidak bangkit meski dia tahu dia harus membantu Itachi membenahi penampilannya. Karena Sakura lebih paham bagaimana watak Itachi saat nanti dia ingin membantunya. Pria itu akan menolak, dan yang akan Sakura dapat nanti pasti kepedihan lagi dan lagi.

"aku tahu"

"aku juga"

Mendengar ucapan itu, Sakura mengangkat kepalanya tiba-tiba dan memandang Itachi yang sudah mengenakan kaos tipis untuk menutupi tubuh indahnya. Pandangan mereka saling mengikat. Dan Sakura mulai resah dengan setitik perasaan yang sudah mengusik batinnya. Dia menginginkan Itachi malam ini. Tapi, apa Itachi pun memikirkan hal yang sama? Tidak mungkin.

"maksudku, aku juga menyayanginya"

Sakura membuang nafas kesal. Harusnya dia tak berharap Itachi mengakuinya sejak tadi. Itachi kembali melangkah kearah dimana Sakura duduk. Ikut duduk ditepi ranjang dan diam sejenak membiarkan waktu diantara mereka berjalan pelan. Sudah lama mereka tak sedekat ini. Itachi berubah menjadi terlalu dingin, dan Sakura suka tak pulang.

"kenapa kau begitu menyayanginya?" Sakura membuka suaranya. Ditatapnya Itachi lekat, dan pria itu hanya memandang kosong didepannya.

"dia generasi Uchiha satu-satunya untuk sekarang ini, Sakura. Dan juga putri dari adik kesayanganku satu-satunya, ada alasan lain bagiku untuk tidak menyayanginya?"

Sakura diam sejenak. ditariknya pandangannya kearah lain, menunduk pun menjadi pilihannya. Generasi Uchiha satu-satunya. Mendengar itu, ada satu kepahitan yang muncul dibenak Sakura.

"maafkan aku Itachi" ucapnya pelan, terkesan tak ingin didengarkan. Tapi Itachi mendengarnya dengan jelas.

"aku tidak bisa memberikanmu-"

"jangan bicara Sakura, ini bukan kesalahanmu"

Itachi menarik tangan Sakura lembut. Hangat, satu kata yang dirasa Sakura karena sentuhan Itachi padanya. Tangan besar itu sudah begitu lama dirindukannya.

"Sarada saja sudah begitu cukup didalam hidupku" kini Itachi menolehkan wajahnya kearah Sakura dan sepersekian detik saja, mereka sudah mengikat pandang mereka satu sama lain. Sakura merasa bersalah. Sudah lama dia menikah dengan Itachi, tapi kenapa sampai saat ini tak ada yang hadir dari mereka berdua.

"tapi tetap saja, aku merasa bersalah karena aku-"

Ucapan Sakura terhenti saat dia merasa bahwa ada pelukan yang begitu hangat menutupi tubuhnya. Itachi memeluknya. Begitu erat, penuh dengan kehangatan yang sangat dia rindukan.

"sudah kubilang, jangan bicara" Itachi mengangkat tangannya mengusap punggung Sakura lembut, namun begitu terasa asing bagi Sakura. Ada getaran yang Sakura rasakan dari sentuhan kulit suaminya pada kulitnya. Getar ketakutan.

"aku mencintaimu, Itachi" Sakura menarik tubuh Itachi lebih menempel padanya.

Bohong, jangan berdusta hanya karena kau tidak ingin menyakiti hatiku, Sakura.

"aku mencintaimu"

Itachi melepas pelukannya. Wajahnya masih tetap tak berperasaan, namun dikecupnya bibir Sakura saat wanita itu tak bisa menebak apa yang akan dilakukannya.

"aku juga mencintaimu" bisiknya sesaat setelah ciuman mereka berakhir. Itachi merebahkan tubuh Sakura diatas ranjang, dipandangnya keseluruhan tubuh istrinya, gaun tipis merah tua yang dipakai Sakura membuat tubuh wanita itu terlihat jauh lebih menakjubkan dari pada pakaian lain yang dia punya. Sakura bisa merasa bangga jika akhirnya inilah kesempatan yang bisa dia lihat dari wajah suaminya, wajah sang suami yang memperhatikannya.

"aku akan selalu mencoba membahagiakanmu Sakura"

Setelah mengucapkan kalimatnya. Itachi membuka kaos putih yang tadi baru saja dikenakannya. Dibuangnya sembarang kesegala arah, lalu ditatapnya Sakura dengan tatapan yang sulit Sakura artikan. Itachi kembali mengecup bibir Sakura, mencumbu lehernya dan setiap inchi kulit-kulit yang terlihat disana. Sakura mendesah kecil saat dia rasa tangan Itachi sudah mulai meraba-raba semua permukaan kulitnya. Menuntun gaun tipis itu tertanggal dari tubuhnya. Sakura terengah. Itachi melepas gigitannya pada bibir Sakura, ditatapnya wajah Sakura yang memerah karena nafsunya. Itachi sangat mencintai wanita ini, sangat. Sakura masih terpejam saat Itachi sudah melepaskan celananya, membuat tubuhnya menjadi polos seperti seorang bayi yang baru lahir. Ditariknya Sakura mendekat padanya. Lalu memeluknya lembut, sangat lembut dengan penuh perlindungan, Sakura merasa menjadi sangat bersalah.

Itachi masih tak ingin bergerak sama sekali. Masih memeluk Sakura, dia bisa merasakan betapa hangatnya kulit Sakura yang menempel pada kulitnya. Mereka hanya hening untuk beberapa saat sebelum Sakura memutar tubuhnya dan beralih memandang Itachi tanpa harus melepaskan dekapan sang suami dari tubuhnya. Itachi sangat tampan, Sakura tak mungkin berbohong.

"Sakura.."

Sakura selalu tersanjung saat namanya keluar dari bibir suaminya. Diangkatnya tangannya menyentuhkan jari jemarinya pada bibir Itachi, sangat intens dan intim. Itachi masih terasa begitu teduh memandangi wajah Sakura.

"maafkan aku," bisik suaminya pelan.

"Itachi-"

Kalimat Sakura terdiam saat Itachi mengunci bibirnya dengan bibir miliknya. Sakura membalasnya, dibukanya mulutnya untuk memberikan akses bagi Itachi memainkan lidahnya didalam mulutnya. Sakura terengah, dieratkannya pelukan Itachi padanya, kulit mereka semakin panas akibat gesekan satu sama lain. Sakura bangkit menggerakkan tubuhnya berusaha menindih tubuh Itachi tanpa berniat melepaskan kaitan lidah mereka. Sudah berapa lama mereka tidak bercinta seperti ini, Sakura lupa. Tapi saat Sakura mulai menikmati permainan panas Itachi dalam dirinya. Itachi langsung melepaskan kecupan Sakura dan menolehkan wajah tak ingin menatap istrinya.

"maafkan aku Sakura," Sakura masih tak mampu mencerna permintaan maaf Itachi untuknya. Ditatapnya wajah Itachi ingin penjelasan yang lebih. Sedangkan Itachi berusaha bangkit dengan membiarkan tubuh Sakura turun dari tubuhnya.

"aku lelah, besok ada rapat penting"

Sakura merasa ada petir yang tiba-tiba menghantam dan membakarnya saat itu juga. Itachi bangkit dari ranjang dan mengambil kembali pakaian yang tadi berhasil ditanggalkannya. Sakura hanya menatapnya kecewa.

"ada apa denganmu, Itachi?" Sakura mulai kesal. Dia tidak suka diabaikan seperti ini. sangat tidak suka.

"tidurlah, ini sudah larut-"

"aku tidak peduli! Jawab aku, apa yang sedang kau pikirkan saat ini?!" Sakura bangkit, ditariknya tangan Itachi dan menatapnya lekat. Dan suaminya tak ingin menatap wajahnya.

"apa aku terlalu busuk untuk kau tiduri?!" Sakura menggenggam pergelangan tangan Itachi erat. Dia benci jika harus memaki Itachi, dia benci jika harus menjalani kejadian seperti ini dengan suaminya. Tapi batas kesabarannya telah habis. Itachi begitu sering melakukan ini padanya. sangat sering dan itu membuatnya muak. Jika memang Itachi tak berniat menyentuhnya, kenapa pria itu memancing gairah keluar lebih dulu tanpa ingin mengakhirinya?

"apa yang kau ucapkan Sakura? Aku hanya lelah"

Itachi menepis tangan Sakura yang mengunci gerakannya. Masih tak ingin menatap istrinya.

"kau berbohong!"

"jangan membuatku marah Sakura, aku lelah!" Itachi melangkah menjauh Sakura. Sumpah demi apapun, dia tak sanggup melihat Sakura dengan ekspresi wajah seperti itu. Dia merasa sangat bersalah. Namun sebelum Itachi melangkah lebih jauh, lagi-lagi Sakura menahan gerakannya.

"kau memuakkan Itachi" ucapnya menahan nada suara basahnya. Sakura ingin menangis, dan Itachi bisa dengar itu dari nada suaranya, dan kemudian isakan yang akhirnya terdengar cukup memiluhkan.

"kau bukan laki-laki jika kau tak bisa menghamiliku, brengsek!" teriaknya, mendorong dada Itachi hingga pria itu mundur beberapa langkah dari posisinya, Itachi hanya bergeming.

"sudah tujuh tahun kita menikah. Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?" tubuh Sakura merosot jatuh diatas lantai, dan Itachi masih diam tak bernyali. Isakan Sakura membuat badannya gemetar. Ingin rasanya memeluk Sakura, namun ditahannya niatnya. Hanya isakan Sakura yang terdengar dalam keheningan mereka.

"aku membencimu Itachi, aku membencimu" betapa sakit hati Itachi mendengarnya, dimundurkannya langkahnya dan memilih duduk ditepi ranjang. Ucapan yang paling dia takutkan dari bibir Sakura akhirnya terdengar juga.

"Sakura, mau kah kau menikah denganku?"

Bibir Sakura tertutup rapat, ditatapnya wajah Itachi yang kini duduk didepannya. Ada perasaan yang mengganjal didalam benaknya. Sebenarnya dia datang bukan untuk ini. Bukan untuk kejutan yang tidak dia inginkan seperti ini.

"a-aku.." Sakura bingung mau berucap apa. dia tidak ingin menyakiti perasaan Itachi yang sudah begitu baik padanya. Itachi adalah pria idaman, Sakura tahu itu, dia juga dewasa dan penuh pengertian. Sangat beruntung dicintai seorang seperti Itachi, sangat. Tapi kepulangan Sakura ke Konoha sebenarnya bukan untuk ini.

"apa kau sedang mencintai seseorang?" tanya Itachi sambil memandang Sakura intens, dan gadis itu menundukkan wajahnya tak berdaya. Ketampanan Itachi bisa membuatnya jatuh cinta. Tapi rasanya tak apa bukan?

"maafkan aku, Itachi-san. Tapi ada sesuatu yang harus kuselesaikan sebelum aku memberimu jawaban"

"aku pastikan, kau akan menikah denganku Sakura, aku akan menunggumu"

Kenangan beberapa tahun yang membuat Sakura menarik nafas kecewa. Seharusnya dia memang tidak perlu pulang ke Konoha saat itu. Jika begitu mungkin saat ini dia tidak akan menangisi penyesalannya bersama Itachi. Menyesal? Sakura ingin menjerit mengungkapkan kekesalannya.


.

.

.

Sasuke keluar dari kamarnya, melangkah ke meja makan, dia hanya mendapati Itachi duduk disana dengan rutinitas koran paginya.

"pagi sekali, nii-san?" ditariknya kursinya sebelum diduduki. Itachi tak menjawab, diturunkannya surat kabar dan melipatnya rapi.

"ada rapat pagi ini?" tanya Sasuke sambil mengesap segelas susu yang sudah tersedia diatas meja makan.

"sebelum rapat, ada sesuatu yang harus kupersiapkan" Itachi meraih tumpukan roti yang siap santap diatas piring dimeja makannya.

"kapan kau akan mengambil ahli perusahaan, Sasuke"

Sasuke memandang Itachi datar. Sejak dulu dia tidak tertarik dengan perusahaan keluarga. Dulu dia hanya fokus pada cita-citanya sebagai pengacara, namun sekarang selain alasan cita-cita, ada alasan lain yang membebaninya. Dia pernah membuat kesalahan pada keluarga Uchiha. Jika bukan karena Itachi, mungkin Sasuke tak lagi dianggap sebagai keturunan Uchiha.

"aku tidak tertarik dengan semua hal yang berurusan dengan perusahaan-"

"ayah... selamat pagi!"

Belum lagi Sasuke menyelesaikan ucapannya. Sarada sudah hadir menemuinya di meja makan. Dengan pakaian sekolah yang lengkap. Gadis kecil itu masih saja terlihat begitu menggemaskan.

"selamat pagi, Sarada"

Sarada menoleh langsung kearah Itachi yang lebih dulu menyambut ucapan paginya. Ditariknya kursi Itachi untuk mundur, meskipun usahanya tampak sia-sia karena Itachi sendirilah yang akhirnya menggeser tempat duduknya. Lalu, tanpa rasa bersalah, Sarada naik kepangkuan Itachi dan mengecup pipi kiri pamannya. Itachi tersenyum melihat tingkah polosnya.

"selamat pagi, Paman!" ucapnya tanpa ingin beranjak dari pangkuan sang paman.

"Sarada, jangan ganggu paman Itachi, begitu" Sasuke memandang putrinya lembut berpura-pura tegas. Meski Itachi pun tak pernah marah dengan tingkah keponakannya.

"tidak apa, Sarada kan kesayangan paman, iyakan paman?" Sarada mengangkat kepalanya memandang wajah Itachi diatasnya. Itachi tersenyum.

"ya, kau kesayangan paman"

Sakura turun dari kamarnya. Dia ingat ada beberapa hal yang harus dia lakukan dirumah sakit pagi ini. Dengan kemeja biru dan bawahan rok pendek ketat berwarna hitam yang membuatnya tampak jauh lebih cantik, Sakura turun sambil membawa tas berisi berkasnya.

"ah, ibu sudah turun" Sarada langsung turun cepat dari pangkuan Itachi, melangkah kearah Sakura yang tanpa sengaja beradu tatap dengan Itachi. Ada yang berbeda dari tatapan mereka, Sasuke bisa merasakan itu. Sakura tak menghiraukan langkah Sarada, diarahkannya langkah kakinya menuju ruang tamu. Duduk diatas sofa dan menyelaraskan beberapa dokumen yang akan dibutuhkannya sebelum dia berangkat bekerja.

"selamat pagi ibu, ibu mau berangkat?" Sarada duduk disamping Sakura dan menatapnya penuh minat, tapi Sakura mengabaikannya.

"kita berangkat bersama ya bu?" tanyanya lagi. Pertanyaan yang lebih mirip dengan pernyataan yang megharuskan Sakura menyanggupinya. Dan Sakura masih tetap diam.

Sasuke sendiri diam-diam menatap Itachi yang kini terlihat jauh lebih diam dari awal pagi yang dia temukan tadi. Tidak susah menebak apa yang sedang terjadi pada kehidupan rumah tangga kakaknya itu. Sasuke, hampir tiap malam melihat Itachi diam seorang diri diruang tamu saat Sakura belum pulang. Sasuke tahu jika ada kerinduan yang sebenarnya Itachi simpan dalam hatinya. Tapi, sebagai orang ketiga dalam kehidupan mereka, Sasuke tak mau ikut campur terlalu jauh.

Itachi bangkit dari tempat duduknya. Rotinya masih belum habis, namun dia sudah memutuskan untuk berangkat bekerja. Dihampirinya Sarada yang masih bersama Sakura diruang tamu yang tidak terlalu jauh dari ruang makan. Semua yang terjadi disana, mereka bisa melihatnya.

"Sarada, biar paman yang antar, ayok" ucap Itachi menawarkan. Bukannya bahagia, Sarada malah mendekatkan dirinya pada Sakura, memandangnya penuh permintaan saat Sakura masih sibuk menatapi berkas-berkasnya.

"Sarada perginya sama ibu saja, paman" ucapnya menolak tak enak.

"ibu mu tidak sempat mengantarmu, dengan paman saja"

"tapi.."

"biar aku yang mengantarnya"

Mendengar ucapan Sakura, raut wajah Sarada berubah menjadi cerah. Sedangkan Sakura hanya menatap Itachi dengan tatapan dalam menyakitkannya.

"dia putriku, bukankah begitu? Uchiha Itachi-sama."

Dan satu kalimat yang baru saja didengar Itachi dari bibir Sakura membuat Itachi menatap istrinya tak berdaya.

Sedangkan Sasuke meneguk habis segelas susu yang terhidang di meja makan.

tbc


an/ : maaf. saya gak bisa berlama-lama. Karena ini tinggal copy paste tanpa mengoreksi kesalahan lagi. jadi maaf kalau typo adalah hal yang paling sering kalian temukan.

untuk yang review, MAKASIH BANYAK.

Chapter depan saya harap kalian gak nyalahin saya karena plotnya akan ketahuan di chapter selanjutnya. Sarada akan membuktikannya di chapter selanjutnya.