Warning ! Yaoi Area / Mpreg
ChanBaek
Chanyeol-Baekhyun
Condom : Final Chapter
By : pcy-bee
Sorry For Typo
.
.
Summary :
Jatuh kedalam pelukan siswa SMP harusnya membuat Byun Baekhyun bisa bernafas lega. Tapi harapannya kandas kala mengetahui hasil pemeriksaan dari dokter yang menyatakan bahwa dirinya...
Note :
Cerita ini hanya Ffn belaka! jika ada nama, usia, karakter dan kejadian yang tidak sesuai dengan harapan kalian mohon di makhlumi. Disini saya bertindak sebagai penentu jalan takdir si tokoh, maka dari itu jangan terlalu dibawa perasaan, oke !
SELAMAT MEMBACA !
.
.
.
.
"Selamat tuan Byun, anda di nyatakan positif hamil. Usianya masih dua minggu dan saya harap anda bisa menjaganya dengan baik. Jangan melakukan pekerjaan yang berat dan jangan sampai mengalami yang namanya stres."
Seorang dokter bername tag Kim Jongdae menjelaskan panjang lebar hasil pemeriksaan yang baru saja Baekhyun jalani. Tak tahu saja jika hal itu membuat si mungil mengepalkan kuat tangannya menahan emosi.
Dokter itu bilang apa? positif hamil? dua minggu? dan lagi, jangan sampai stres katanya? Woah...apa dia sedang mengajak Baekhyun bercanda?
YANG BENAR SAJA ! Mana ada laki-laki yang bisa hamil?! Sialnya yang menghamili adalah bocah yang bahkan masih duduk di bangku SMP. Orang waras mana yang tidak mengalami stres jika keadaannya seperti ini?!
Setelah semalam mengalami mual dan muntah yang bisa di katakan mengerikan. Pagi harinya Park Chanyeol berinisiatif membawa sang kekasih memeriksakan diri ke rumah sakit. Dokter pertama yang mereka datangi malah menyarankan untuk pergi ke spesialis kandungan saja. Maka di sinilah mereka sekarang.
"Anda sedang bercandakan, dok? pasti-...pasti hasil pemeriksaannya tertukar dengan pasien lain..." Baekhyun menatap penuh harap pada dokter di depannya lalu beralih mengulirkan mata pada sosok tinggi yang tengah duduk di sebelahnya. "...Benarkan, Chan? dokter itu pasti sedang bercanda, kan? PARK CHANYEOL ! KATAKAN SESUATU, BRENGSEK?!"
Alih-alih peduli dengan teriakan sang kekasih, Park Chanyeol malah menatap berbinar pada Baekhyun dan tentu saja dengan di sertai cengiran lebar andalannya. Sementara itu Baekhyun hanya mampu menautkan kedua alis ngeri, jangan katakan jika Chanyeol...
"YAAKK! KENAPA MALAH SESENANG ITU! IDIOT...!" suara Baekhyun mengema memenuhi ruang pemeriksaan dan tak pelak membuat sang dokter nyaris terkena serangan jantung.
Lihatlah wajah bahagia milik si marga Park! bukankah setidaknya bocah itu sedikit saja terserang rasa panik? "WAE?! sebentar lagi aku akan resmi menjadi seorang ayah, tentu saja aku senang."
*Pletak
Lagi-lagi Baekhyun mengayunkan jitakannya pada dahi lebar milik Park Chanyeol. Jika saja tak ingat ini masih di ruang pemeriksaan, Baekhyun tak akan segan-segan mengumpati Chanyeol dan mengebiri penis sialan milik kekasihnya itu.
"Kalau kau sesenang itu...harusnya kau saja yang hamil, Park!" protes si mungil.
"Itu salah hyung sendiri, jika saja malam itu hyung memberikan kondom padaku ini tidak akan terjadi. Memang apa salahnya hamil anakku, sih?" Chanyeol berucap dengan enteng namun terdengar sangat menyebalkan di telinga Baekhyun.
Si dua puluh tahun menghembuskan nafas kasar. Tangannya terulur untuk mengelus belakang kepalannya yang tiba-tiba terasa migran. Bocah itu bahkan masih bisa melemparkan kesalahan padanya! astaga, ini tidak bisa di percaya.
'Ya Tuhan! belum cukupkah engkau mengirimkanku bocah tengik macam Park Chanyeol dan sekarang dengan kejinya engkau malah menitipkan titisannya dalam perutku.' Byun Baekhyun menjerit dalam hati.
.
.
"Paman Jongin...Bibi Kyungsoo, saya Park Chanyeol limabelas tahun datang kemari meminta restu untuk menikahi putra kalian Byun Baekhyun." Chanyeol berucap dalam satu tarikan nafas dengan posisi berlutut dilantai, memohon pada dua orang lainnya.
"Me-menikah? anak kami?" si wanita adalah yang pertama kali menanggapi. *Kyungsoo GS
"Duduklah yang benar dulu, nak. setelah itu jelaskan baik-baik kenapa kau ingin menikahi putra kami." sang kepala keluarga Byun memerintah dengan nada lembut namun tegas.
Chanyeol menurut dan mendudukkan diri di sofa kosong berseberangan dengan dua orang yang lebih tua. Malam ini satu minggu berlalu setelah Baekhyun di nyatakan positif hamil, Chanyeol nekat mendatangi kediaman keluarga Byun dengan maksud melamar sang kekasih sekaligus sebagai bentuk rasa tanggung jawab atas anaknya yang masih ada dalam perut Baekhyun.
Tentu saja tanpa sepengetahuan si mungil mengingat Chanyeol memang sengaja datang saat Baekhyunnya tengah bekerja di mini market tempat biasa.
"Jadi apa yang membuat seorang anak laki-laki limabelas tahun sepertimu nekat meminta restu untuk menikahi putra kami?" Tuan Byun Jongin kembali membuka suara kala yang paling mudah sudah terlihat duduk nyaman di tempatnya.
"Karena saya mencintai Baekhyun hyung, paman." Jawab Chanyeol dengan penuh keyakinan.
Sementara dua orang lainnya mengerutkan alis bingung. Entah kenapa perasaan mereka mengatakan bahwa bukan hanya karena alasan itu saja si limabelas tahun datang meminta restu.
"Hanya karena itu?" tuan Byun bertanya lagi, merasa kurang puas dengan jawaban sebelumnya.
Chanyeol menegakkan kepalanya yang sedari tadi tertunduk gugup. "Tentu saja tidak. Saya memiliki alasan kuat dan saya jamin paman dan bibi Byun tidak akan bisa menolak lamaran saya."
"Apa itu?" nyonya Byun Kyungsoo secepat kilat menyahut. Amat sangat penasaran alasan macam apa yang membuat mereka tak bisa menolak lamaran si limabelas tahun.
"Saya telah membuat Baekhyun hyung hamil." Chanyeol membusungkan dada dengan rasa bangga yang kentara seolah dia baru saja memenangkan kompetisi adu panco .
"APPPAAAAA?!" kedua orang tua itu berteriak histeris. Tentu saja! mana ada orang tua yang tidak terkejut mendengar anaknya hamil di luar nikah, dengan bocah limabelas tahun pula. Haruskah mereka memuja kerang ajaib?!
"PARK CHANYEOL! KAU MAU MATI!" tiba-tiba saja acara lamar melamar terhenti kala suara orang lainnya menginterupsi.
Tiga orang lain yang ada di ruang tamu menolehkan kepala mereka pada sumber suara. Di sana, di depan pintu masuk seorang Byun Baekhyun berdiri berkacak pinggang dengan tatapan membunuh yang terarah pada remaja Park.
'Tamat sudah kau Park!' batin Chanyeol dalam hati.
Baekhyun berjalan mendekat pada tiga orang lainnya. Matanya masih menghunus marah pada remaja Park. "Apa yang kau lakukan dirumahku, huh?!"
"A-aku hanya ing-"
"Baekhyun!..." tuan Byun menyela, matanya menatap menelisik pada sang putra."...jawab Appa dengan jujur! Apakah yang dikatakan Chanyeol benar adanya? Apa kau benar-benar hamil?"
"A-appa..." Sang putra hanya bisa tertunduk lesu tak mampu menatap mata sang ayah. Sepertinya dia akan segera di eksekusi mati malam ini.
.
.
Byun Baekhyun di usir dari rumah! dengan pelaku pengusiran tak lain dan tak bukan adalah orang tuanya sendiri. Jika seperti itu, siapakah yang seharusnya pantas menyandang gelar 'Durhaka'?
Haruskah itu menjadi judul artikel surat kabar esok hari atau menjadi topik perdebatan di kalangan netizen?
"Eomma...ku mohon jangan mengusirku dari rumah, hm!" Pemuda Byun berlutut memohon dan menangkup kaki ibunya, berharap sang ibu berhenti mengemasi barang-barangnya guna di masukkan kedalam koper.
Sekarang ibu dan anak itu tengah berada di kamar bernuansa strawberry milik Baekhyun. Sementara sang Appa menemani Chanyeol berbincang di ruang tamu.
Bukannya peduli dengan rengekan putranya, si ibu malah semakin sibuk dengan dunianya sendiri. Setelah dirasa cukup mengemasi pakaian dan barang yang berasal dari lemari sang putra, ibu satu anak itu lalu menutup koper rapat-rapat.
Yang lebih tua berjongkok dan melepaskan belitan tangan sang anak dari kakinya. Tangannya terulur untuk menangkup wajah cantik si buah hati. "Baekhyun-ah, kau harus tinggal bersama Chanyeol. Hormon seks ibu hamil itu mengerikan dan kau harus selalu dekat dengan calon suamimu jika sewaktu-waktu menginginkan itu. Percayalah, Eomma pernah mengalaminya sendiri sewaktu mengandung dirimu, hm."
Blush~
Wajah Baekhyun mau tak mau memerah dari pipi hingga ke telinga. Astaga! kenapa ibunya bicara sefrontal itu? Haruskan Baekhyun mengumpati ibunya sendiri?
"Tapi omong-omong, Eomma penasaran...sebesar apa penis Chanyeol hingga mampu membuatmu hamil?"
"EOMMMAAA...!" Baekhyun menyalak antara malu dan marah, apakah mulut ibunya ini tidak memiliki saringan atau filter? sementara itu sang ibu malah terbahak kala mendapati ekspresi konyol putra cantiknya.
'Oh Tuhan! apa didunia ini orang waras yang tersisa hanya dirinya saja.' batin Baekhyun meratapi nasib.
.
Condom : Final Chapter
.
"Chanyeol-ah, tak bisakah aku mendapatkan kamar sendiri?" Baekhyun menatap memohon pada si tuan rumah.
Setelah acara pengusiran yang Baekhyun alami, Park Chanyeol dengan senang hati dan berlapang dada memungut kekasihnya itu untuk dibawa ke apartemen guna tinggal bersama. Sebenarnya bukan pengusiran, itu lebih seperti orang tua Baekhyun yang menitipkan anaknya pada Tuan muda Park.
Oh, aku lupa bilang kalau orang tua Chanyeol itu konglomerat terkaya seantero Korea. Kalian pasti mengenal Park Junmyeon kan? meski tidak kenal secara langsung pasti setidaknya pernah mendengar nama itu. Ibu Chanyeol juga tak kalah dashyat! Bae Irene , Aktris paling populer abad ini adalah seorang wanita yang telah melahirkan kekasih dari Byun Baekhyun itu.
"Tidak hyung! kau satu kamar denganku, oke!"
"Tidak! berikan aku satu kamar atau aku akan minum racun tikus dan mati bersama anakmu!?" yang lebih tua mengancam, satu kamar dengan Chanyeol? yang ada bukannya tidur tapi malah berakhir ditiduri.
"Astaga! kenapa kejam sekali ! memang apa salahnya tidur denganku, sih?" yang lebih muda berusaha memenangkan argumen.
"Terserah jika kau ingin melihatku mati dengan mulut berbusa dan jangan harap kau bisa melihat anakmu lahir ke dunia!?"
Chanyeol menghela nafas kasar, mau tak mau dia harus menuruti keinginan Baekhyun. Tak ingin saja melihat dua kesayangannya berakhir tragis. "Ya ya...aku akan menyiapkan kamar untukmu. Kau puas!?"
Mendengar kepasrahan kekasihnya, membuat Baekhyun tersenyum menang dan mengangguk-angguk lucu.
"Tapi ada syaratnya!?" otak licik Chanyeol memang selalu bisa di andalkan, tentu saja Chanyeol tak mau rugi. Terlahir dari sperma seorang pebisnis tersukses mau tak mau membuatnya menuruni otak jenius sang ayah.
"Apa?" tanya pemuda Byun, kenapa tiba-tiba perasaannya jadi tidak enak.
Chanyeol tersenyum setan. "Hyung harus mau melakukan itu denganku sebelum tidur."
"YAAKKK! DASAR OTAK SELANGKANGAN !" si Byun menyalak heboh, apa gunanya dia merengek jika berakhir dengan bercinta dengan Chanyeol juga.
.
.
"Eung~, Chanhh...ahhh!"
Kalian tidak salah dengar, itu adalah suara desahan merdu milik Byun Baekhyun. Awalnya memang berteriak protes tapi ujung-ujungnya berakhir pasrah juga di bawah kungkungan Park Chanyeol.
Jemari lentiknya meremat rambut Chanyeol menyalurkan rasa nikmat kala Chanyeol mencumbui leher dan nipplenya. Desahan Baekhyun semakin mengalun keras seiring hisapan-hisapan kecil yang Chanyeol ukir di setiap inci tubuhnya.
"Chanhh...tu-tunggu sebentar!" Baekhyun menahan dada sang kekasih agar menghentikan kegiatan mencumbu.
Chanyeol seketika menghentikan cumbuannya dan menatap cemas pada Baekhyun. "Kenapa? hyung merasakan mual lagi? perut hyung sakit? katakan, katakan padaku apa yang salah?"
"Itu...itu..." Baekhyun berkata ragu-ragu. "...itu maksudku, tidak bisakah kita melakukan itu dengan kondom? aku tiba-tiba ingin mencobanya."
Mendengar pernyataan si mungil membuat Chanyeol bernafas lega, lega ternyata ia tak menyakiti kesayangannya. "Hyung ngidam, ya?"
"Ehh...?" Baekhyun cengo, apa ini bisa dikatakan mengidam? mungkinkah begitu? tapi usia kandungannya kan belum genap satu bulan.
"Tapi aku tidak memiliki kondom, hyung sendiri yang bilang usiaku masih di bawah umur untuk bisa memilik benda semacam itu."
Benar juga yang dikatakan Chanyeol, tapi kan Baekhyun benar-benar menginginkan itu saat ini juga. Entahlah, pikiran bercinta menggunakan kondom tiba-tiba saja bergelayut di otaknya...dan hasrat itu harus dipenuhi malam ini juga.
"Aku tak mau tahu! pergi beli kondom atau tidak ada bercinta sama sekali!" Baekhyun mengancam. Jika ini memang mengidam dan Chanyeol tak mau menurutinya, bukankan anaknya nanti akan ileran jika permintaan si calon buah hati tak terpenuhi? Baekhyun tentu saja tak mau itu terjadi.
"Baiklah, aku pergi membelinya dulu! Hyung tunggu sebentar, oke!" Chanyeol mengalah dan memutuskan kembali memakai pakaian setelah melihat sang kekasih mengangguk. Mengambil mantel dan keluar kamar meninggalkan Baekhyun yang telah terbungkus selimut sendirian didalam kamar mereka. Senyuman menang kembali terulas di wajah cantik si Byun.
.
.
Satu jam menunggu dengan ditemani kejenuhan, akhirnya Baekhyun mendengar suara kamar yang dibuka dari luar. Tubuhnya yang tadi berbaring kini dia bawa setengah duduk dengan bersender nyaman pada kepala ranjang.
"Kemana saja hingga baru kembali? kau membeli kondom di antartika?" Baekhyun menatap kesal pada Chanyeol yang tengah melepaskan mantel. Tentu saja kesal, menunggu itu kan hal paling menyebalkan di dunia.
Chanyeol berjalan mendekati si mungil, lalu mendudukkan diri disisi ranjang. "Penjaga mini market tak memberikan kondom jika aku tak bisa menunjukkan KTP sebagai bukti bahwa aku sudah cukup umur."
Tangan Chanyeol terulur guna meletakan satu kotak kecil bungkusan di atas nakas samping ranjang. Si mungil melirik sekilas, Baekhyun yakin bungkusan itu berisi kondom dilihat dari merk yang tertera di sana. "Lalu darimana kau mendaptkannya?"
"Dari Appa." Jawab Chanyeol singkat. Bandan bongsornya ia condongkan mencari posisi nyaman untuk mencumbui leher sang kekasih.
"Appa?" Baekhyun mengerutkan dahi bingung, bagaimana bisa masalah kondom bisa sampai menyerempet jauh pada calon mertuanya?
"Hm, aku mengatakan pada Appa jika aku tidak bisa mendapatkan kondom, jadi Appa membantuku." Si limabelas tahun menjawab disela bibirnya yang mengulum lembut telinga Baekhyun.
"Membantu? Eung~" tanya Baekhyun lagi. Susah payah menggigit bibir bawah agar desahan tak mengalun.
"Iya membantu, Appa bilang tak perlu mengemis pada penjaga minimarket demi sebuah kondom. Jadi Appa membelikan pabrik kondom sebagai gantinya." Tangan Chanyeol terulur untuk mengelitik puting merah muda Baekhyun.
"WHAAAAAAT THE FU*K?" Baekhyun berteriak heboh, membuat Chanyeol lagi-lagi menghentikan cumbuannya yang bahkan belum setengah jalan dimulai.
"Aish, kenapa berteriak !" yang muda menjauhkan wajahnya.
"Tentu saja! Itu terlalu berlebihan! hanya demi sebuah kondom, kalian rela mengelontorkan banyak uang demi membeli pabriknya. Benar-benar tak bisa di percaya."
Baekhyun tahu jika keluarga Park itu kaya raya. Bahkan ia sempat minder saat pertama kali Chanyeol membawanya ke mansion utama untuk dikenalkan pada orang tua Chanyeol beberapa hari lalu. Pikirnya dia akan diusir dari sana mengingat dia yang hanya berasal dari keluarga biasa-biasa saja. Tapi perkiraan itu meleset kala dirinya malah disambut dengan hangat oleh kedua orangtua Chanyeol.
Ayah Chanyeol bahkan sangat bangga mendengar kabar putra limabelas tahunnya yang menghamili anak orang di luar nikah. Sementara Ibu Chanyeol tak kalah gila, ternyata selama ini otak di balik kegilaan Chanyeol yang nekat menghamilinya adalah sang ibu itu sendiri. Obat perangsang dan obat herbal kesuburan adalah salah dua dari trik sang ibu yang di ajarkan pada sang anak.
Baekhyun benar jika berpendapat bahwa orang waras yang tersisa di bumi ini hanya tinggal dirinya saja. Orang tuanya sendiri saja sudah membuat pusing dan sekarang ditambah orang tua Chanyeol. Astaga! apa Baekhyun di masa lalu adalah seorang penghianat negara? kenapa takdirnya semengerikan ini? Mau jadi apa keluarganya nanti jika isinya spesies gila semua?!
"Lupakan soal itu! jadi apa aku sudah bisa memulainya?" Chanyeol menatap mesum pada Baekhyun.
"Aku sudah tidak berhasrat, Park! bercinta saja dengan tembok !" tak peduli dengan tatapan cengo sang kekasih, Baekhyun malah berbaring nyaman di ranjang dan membungkus tubuhnya rapat dengan selimut tebal.
'Lalu untuk apa aku membeli pabrik kondom jika begini akhirnya?'
.
.
Byun Baekhyun sudah tidak bekerja lagi di minimarket setelah usia kandungannya memasuki empat bulan. Mahasiswa jurusan seni itu juga mengambil cuti kuliah demi fokus menjaga calon bayi yang masih ada di dalam perut. Lagipula Chanyeol juga tak mengizinkan dia melakukan ini itu, remaja yang lebih muda lima tahun itu sangat amat protektif seiring perutnya yang semakin membesar.
"Park Chanyeol! dimana kau letakkan celana dalamku yang bergambar strawbbery?!" Suara teriakan Baekhyun mengema dalam kamar membuat Chanyeol yang masih terlelap di ranjang terbangun dari tidur tampannya.
Hal pertama yang dilihat saat berhasil membuka mata adalah tubuh telanjang sang kekasih yang berdiri di depan lemari. Dan jangan lupakan perut buncit berisikan janin empat bulan itu membuat Chanyeol susah payah menelan liur sendiri. Sepertinya Baekhyun baru selesai mandi pagi.
Melihat tatapan mesum dari Chanyeol membuat Baekhyun menutupi selangkangannya dengan tangan. "Hei! bocah mesum! aku bertanya dimana kau meletakan celana dalam straw_"
"Aku membuangnya!" sela Chanyeol.
"WAE ?!" Baekhyun menghentak-hentakkan kaki dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Bagaimana bisa Chanyeol dengan begitu tega membuang celana dalam kesayangannya.
"Wae?! Wae katamu? tentu saja karena celana itu sudah terlalu sempit untukmu. Hyung mau anak kita sesak nafas di dalam sana?" yang lebih muda berucap sambil menunjuk pada perut buncit Baekhyun.
"HUWWEE...! EOOMMAAAA ! CHANYEOL JAHAT.. hiks!..hiks! CHANYEOL MEMBUANG KOLOR STROWBERRYKU...HUWEEE...hiks...hiks"
Chanyeol hanya menatap jengah pada Baekhyun, sudah terlalu kebal melihat rengekan atau tangisan manja si mungil, hal seperti ini sering terjadi apalagi sejak baby mereka sudah mulai bisa menendang di dalam perut ibunya.
Chanyeol sama sekali tak merasa keberatan, dia memahami jika hormon kehamilan membuat calon ibu dari anaknya itu menjadi moody-an. Meski begitu Chanyeol bersyukur baby mereka tidak rewel, Baekhyun hanya sesekali mengalami morning sickness di awal-awal kehamilan dan selebihnya baik-baik saja hingga saat ini.
Yang lebih muda bangun dari ranjang untuk menghampiri kekasihnya yang masih terisak ditempat. Membuka lemari lebar-lebar lalu mengambil celana dalam bergambar pisang yang berukuran sedikit lebih besar dari celana dalam Baekhyun pada umumnya.
"Aku sudah membelikanmu banyak celana dalam yang lebih longgar, hyung. Kasihan Baby jika kau nekat memakai yang sempit-sempit." Chanyeol berucap dengan posisi berjongkok, memakaikan celana dalam yang ada di tangannya pada Baekhyun.
"Ta-tapi itu celana dalam kesayanganku...hiks..." Baekhyun merengek lagi. Kini penis kecilnya sudah tertutupi dengan celana dalam bergambar pisang.
"Aku tahu, aku akan membelikan yang sama lagi nanti. Kalau perlu aku belikan mall-nya sekalian, hm." Kini Chanyeol beralih mengambil kaos besar miliknya lalu di kenakan pada tubuh mungil sang kekasih. Semenjak usia kandungan dua bulan, Baekhyun hanya mau memakai kaos atau kemeja milik Chanyeol saja, lebih nyaman katanya.
"Tapi aku tidak mau yang lain." isakan Baekhyun sudah mereda namun air matanya masih mengalir membasahi pipi.
Kini tubuh mungil itu sudah terbalut kaos kebesaran milik Chanyeol yang mampu menutupi tubuhnya sampai sebatas paha. Begitulah penampilan Baekhyun setiap hari jika berada di rumah, tak mau repot-repot memakai celana lain karena nyatanya kaos atau kemeja Chanyeol saja sudah bisa membalut sebagian banyak tubuhnya.
Jemari Chanyeol terulur untuk menghapus jejak airmata si mungil. "Berhenti kekanak-kanakan! Sebentar lagi hyung akan menjadi ibu, apa hyung tidak malu dengan Baby kita?"
Chanyeol membawa tubuh kesayangannya untuk di peluk, sedikit menjaga jarak karena tak ingin menyakiti buah hatinya yang masih ada di dalam perut Baekhyun.
"Tunggu aku hingga pulang sekolah nanti, siang ini aku akan mengajakmu ke KUA untuk mengurus surat izin menikah, oke." Chanyeol merasakan Baekhyun mengangguk dalam pelukannya. Di ciuminya puncuk kepala sang kekasih dengan penuh sayang.
.
- Condom : Final Chapter -
.
"Hyung, berhentilah menangis, hm!" Chanyeol mengusap punggung si perut buncit lembut. Saat ini mereka tengah berada di dalam kamar dengan duduk saling berpelukan di tepi ranjang.
Siang tadi Chanyeol menepati janjinya untuk membawa sang kekasih mengunjungi KUA guna mengurus surat Izin menikah. Tapi sialnya, berkas-berkas mereka di tolak oleh pengurus KUA. Sebenarnya alasan mereka di tolak bisa di katakan sangat masuk akal, masalahnya bukan pada Baekhyun tapi pada Chanyeol.
Usia masih di bawah umur katanya. Jelaslah jika usia Chanyeol bahkan baru limabelas tahun, ibaratnya 'kencing saja belum lurus'. Sebenarnya Chanyeol sudah bisa menebak, tapi tetap saja Baekhyun tidak terima dan langsung menangis di dalam kamar sesampainya mereka di apartemen.
"Hiks...bagaimana ini? hiks...Baby tak akan memiliki ayah saat dia lahir nanti." Baekhyun semakin terisak dalam pelukan Chanyeol.
Chanyeol membawa tangannya untuk mengusap lembut perut si kesayangan, menyapa sang buah hati yang tertidur nyaman di dalam sana. "Kenapa bilang begitu? aku kan masih hidup, hyung!"
"Tapi- tapi kita tidak bisa menikah...hiks!"
Sroott~
Baekhyun menyedot ingusnya sendiri yang hampir terjatuh seolah itu adalah harta berharga yang tak boleh terbuang sia-sia.
"Belum bisa, hyung~! bukannya tidak bisa. Itu berbeda, oke~ !" yang lebih muda membawa tangannya dari perut buncit Baekhyun kini beralih pada hidung si mungil.
Sroooott~
Berbeda dengan sebelumnya, kali ini Baekhyun merelakan sang ingus untuk di bersihkan Chanyeol. "Tapi tetap saja kau bukan suamiku ! itu berarti kau juga bukan ayah baby."
"Hei ! aku memang belum bisa menjadi suamimu ! Tapi aku sepenuhnya milikmu, milik hyung, milik baby, aku adalah milik kalian. Lagi pula baby ada karena spermaku yang berkembang di rahimmu, jadi mau tak mau aku tetaplah ayahnya. Aku Daddynya dan hyung Papanya." Yang lebih muda mengeratkan pelukannya pada si mungil, menepuk-nepuk kecil punggung sang kekasih yang akhirnya berhenti terisak.
"Kau tak akan meninggalkanku kan? tak akan meninggalkan baby kan? tidak akan meninggalkan kami, kan?."
"Tentu saja tidak! sampai matipun aku tak akan meninggalkan kalian. Tunggu sebentar..."
Chanyeol melepaskan pelukan mereka dengan lembut, tak mau saja menyayangi dua kesayangannya. Melangkah menuju lemari lalu membukannya pelan, tangan besar itu terulur untuk mengambil sesuatu dari dalam lemari. Setelah mendapatkan yang ia cari, Chanyeol menutup lemari lalu berjalan kembali mendekat pada sang kekasih.
Berlutut di hadapan Baekhyun adalah yang remaja limabelas tahun itu lakukan saat ini. Membuka kotak kecil dalam genggamannya lalu di arahkan pada Baekhyun.
Itu dua buah cincin yang terlihat sederhana namun indah secara bersamaan. Chanyeol menghirup nafas lalu menghembuskannya sebentar, bersiap-siap untuk mengeluarkan suara. Remaja tampan itu lalu membawa matanya untuk menatap tulus pada manik bening milik sang kekasih.
"Byun Baekhyun...mungkin saat ini Park Chanyeol belum bisa menjadi suami yang sah untukmu. Tapi mari hidup bersama, menjaga dan merawat anak-anak kita hingga tumbuh dewasa. Izinkan aku menitipkan hati dan jiwaku padamu! mengabdikan seluruh sisa umurku untuk berada di sisimu selamanya. Jadi Byun Baekhyun, maukah kau menerima dan menjadi milik Park Chanyeol hingga maut memisahkan?"
Mata Baekhyun kembali berkaca-kaca "A-apa kau sedang melamarku?"
Chanyeol tersenyum manis. "Ya dan Park Chanyeol tidak menerima penolakan."
Baekhyun menganggukkan kepala berkali-kali tanda dia menerima lamaran sang kekasih. Bibirnya mengerucut lucu dengan mata berlinang air mata, menangis haru karena terlalu bahagia adalah hal yang calon ibu itu lakukan saat ini.
"HUWEEE... EOMMMAA! KENAPA CHANYEOL SELALU BERHASIL MEMBUATKU JATUH CINTA...Hiks...hiks."
.
.
Hari berlalu dengan cepat, bulan berganti tanpa terasa. Begitupun dengan usia kehamilan Byun Baekhyun yang telah memasuki bulan kedelapan hampir menginjak sembilan. Tak butuh waktu lama lagi untuk Byun Baekhyun dan Park Chanyeol untuk menyandang gelar baru sebagai orang tua.
Segala kebutuhan calon baby mereka sudah tak perlu di khawatirkan lagi. Kamar, pakaian, perlengkapan bayi semua sudah tersedia dan siap pakai jika sewaktu-waktu anggota keluarga baru mereka terlahir. Orang tua Chanyeol dan Baekhyun adalah yang mempersiapkannya, sesekali datang berkunjung ke apartemen pasangan muda itu dengan membawa macam-macam benda untuk cucu mereka nanti.
Baekhyun tak pernah berpikir akan seperti ini jalan cerita hidupnya. Ini seperti mimpi, bertemu dengan Chanyeol, menjadi kekasihnya lalu mengandung anak bocah SMP itu dan sekarang dia akan menjadi seorang ibu. Semua tidak akan terjadi jika saja malam itu Chanyeol tidak mendatanginya untuk pura-pura membeli kondom. Jadi secara tidak langsung ini semua gara-gara kondom, hingga membuat hidup Baekhyun bagaikan di alam mimpi.
"Erghhh~ " suara erangan mengalun memenuhi kamar besar itu.
Park Chanyeol adalah pelakunya, secara tidak sadar remaja limabelas tahun itu mengeram nikmat dalam tidur.
"Erghhh~" Sekali lagi erangan nikmat itu terdengar kembali. Tapi kali ini Chanyeol berusaha susah payah membuka mata mengantuknya pelan-pelan.
Matanya ia bawa untuk melirik ke bawah, ketempat dimana ia merasakan nikmat disela-sela tidur tadi. Hal pertama yang dia dapati di bawah sana adalah sang kekasih yang tengah mengulum penis besar miliknya. Kepala Baekhyun terlihat naik turun berusaha memberikan servis terbaik untuk penis besar yang memenuhi rongga mulutnya.
Pantas saja Chanyeol merasakan nikmat dan mengeram dalam tidur tadi. Tentu saja, jika saat ini penis besarnya tengah dimanjakan oleh sang kekasih.
"Engh~ Baek!" Chanyeol mencengkeram halus rambut Baekhyun yang masih sibuk mengoral kejantanannya.
Baekhyun mendongak tanpa melepaskan kulumannya, menikmati ekspresi keenakan Chanyeol yang malah membuat ia semakin ingin melakukan lebih.
Plop~
Penis besar milik Chanyeol telah terlepas dari mulut mungil Baekhyun. "Chan, aku ingin menunganggimu~!"
Chanyeol tahu apa yang Baekhyun maksud, dan detik kemudian ia mengangguk tanda tak keberatan. "Hati-hati dan jangan terlalu memaksakan diri untuk bergerak. Aku tak mau terjadi hal buruk pada kalian, oke!"
Baekhyun mengangguk, lalu pemuda hamil itu melepaskan seluruh pakaian yang ia kenakan. Detik berikutnya si mungil merentangkan kedua kakinya diantara tubuh Chanyeol tepat di bagian selangkangan sang kekasih. Turun secara perlahan dan memposisikan lubangnya tepat pada penis besar nan tegang milik yang lebih muda.
Tangan mungil itu mengenggam kejantanan Chanyeol untuk mempermudah penetrasi mereka. Menekan sedikit demi sedikit hingga...
BLESS
...masuk seluruhya. Baekhyun mendesah nikmat karena dalam satu dorongan saja penis besar itu bisa langsung mengenai prostatnya. Sementara Chanyeol sudah berada di atas awan kala penisnya di pijat dan di remas tanpa ampun oleh lubang ketat si mungil.
Tubuh Baekhyun terlonjak naik turun dengan cepat namun juga hati-hati. Jepitan lubang itu semakin mengetat memberi kenikmatan untuk pemuda yang tengah menautkan tangan mereka, memegangi Baekhyun agar lebih mudah bergerak di atasnya. Chanyeol tak tinggal diam, remaja limabelas tahun itu mengerakkan pinggul berlawanan arah dengan Baekhyun, membantu supaya Baekhyun tak terlalu banyak mengeluarkan tenaga mengingat dia sedang hamil tua.
Gerakan mereka semakin menggila dan Baekhyun adalah orang pertama yang mencapai orgasme, beberapa menit kemudian Chanyeol menyusul dan menumpahkan spermanya ke dalam lubang milik sang kekasih.
Nafas mereka saling beradu bersahut-sahutan. Yang di bawah membantu yang di atas untuk membaringkan diri di sisinya lalu mengecupi dahi itu penuh rasa sayang.
"Kenapa tiba-tiba mengajak bercinta?" tanya Chanyeol, setelah sempat menutupi tubuh mereka dengan selimut.
Yang lebih tua menggeleng. "Entahlah, mungkin baby sedang ingin dikunjungi dadynya."
Mendengar jawaban si mungil sontak membuat Chanyeol terkekeh, tubuhnya ia bawa semakin merapat pada tubuh telanjang sang kekasih. "Tidurlah, hyung pasti lelah."
"Hm."
Gumaman Baekhyun tentu saja membuat Chanyeol mulai menutup mata untuk kembali mengarungi alam mimpi. Sudah akan jatuh terlelap jika saja tak mendengar rintihan yang berasal dari sosok dalam pelukannya.
"~ Ugh ! Chan !" Baekhyun merintih dengan memegangi perut besarnya, membuat Chanyeol panik seketika.
"Wae? wae? apa hyung akan melahirkan?"
Dan anggukan Baekhyun semakin membuat Chanyeol di serang panik.
.
Condom : Final Chapter
.
Suasana rumah sakit tak jauh berbeda dengan umumnya, selalu ramai dengan beberapa dokter, perawat, pasien serta keluarga pasien yang nampak berlalu lalang.
Begitu pula dengan salah satu ruang operasi di mana Baekhyun tengah berbaring di dalam sana, siap berjuang untuk melahirkan malaikat kecil yang sudah beberapa bulan terakhir ini menjadi bagian dalam tubuhnya.
Beberapa saat setelah Baekhyun mengatakan ingin melahirkan, Chanyeol segera melarikan sang kekasih menuju rumah sakit setelah menyempatkan diri memberi kabar pada orang tuanya dan orang tua Baekhyun.
Maka disinilah Chanyeol dan keluarga saat ini, menunggui Baekhyun yang tengah mempertaruhkan nyawa untuk melahirkan di dalam sana. Chanyeol duduk bergetar cemas sekaligus khawatir di dalam pelukan sang ibu. Tak jauh berbeda dengan semua orang yang ada di sana.
Semua momen indah bersama Baekhyun tiba-tiba berputar dalam otaknya. Dari awal melihat Baekhyun di pesta ulang tahun sepupunya dan berakhir menjadi penguntit selama satu tahun hingga memberanikan diri muncul di depan minimarket tempat sang kekasih bekerja kala itu.
Menjadikan kondom sebagai alasan konyol dan berakhir dengan malam panas keduanya di apertemen Chanyeol, dengan pengaruh obat perangsang tentu saja. Kabar kehamilan Baekhyun adalah hal yang paling membahagiakan selama lima belas tahun hidupnya. Tak sanggup di gambarkan oleh apapun betapa lengkap hidup seorang Park Chanyeol saat ini.
"Tuan Park Chanyeol?"
Seseorang perawat bicara sedikit berteriak menyerukan sebuah nama.
Chanyeol yang merasa dipanggil sontak berdiri dari duduk. "Ya, saya Park Chanyeol."
"Tuan Baekhyun meminta anda untuk masuk ke dalam." kata sang perawat lagi.
Mendengar pernyataan dari sang perawat membuat Chanyeol menengok pada orang tuanya juga orang tua Baekhyun. Semua orang tersenyum kearah Chanyeol dan serempak mengangguk, memberi semangat pada remaja limabelas tahun itu.
Para orangtua tahu, jika ini tidaklah mudah untuk Chanyeol. Biar bagaimana pun Chanyeol itu tetaplah bocah limabelas tahun terlepas bagaimana statusnya yang akan menyandang gelar ayah muda.
Chanyeol mengerti dan detik kemudian melangkah ke dalam ruang operasi mengikuti sang perawat yang berjalan terlebih dulu. Kakinya bergetar, jantungnya berdebar dan perasaannya campur aduk antara cemas dan gugup.
"Chan~!"
Baekhyun memanggil, tangannya terulur untuk minta di sambut dan di genggam. Chanyeol mendekati cintanya setelah tadi sempat mengenakan baju hijau yang di berikan oleh perawat.
Mata Chanyeol berkaca-kaca melihat bagaimana sosok kesayangannya terlihat pucat dan berbaring di atas meja operasi. Chanyeol rindu, rindu pada Baekhyunnya yang bahkan belum sampai satu jam mereka terpisah. Tangan besar pemuda Park ikut terulur mengenggam tangan mungil yang rasanya begitu pas dalam penyatuan mereka.
"Hei, sayang~...jangan takut, aku disini bersamamu, hm." Si Park mencoba memberi semangat padahal dia sendiri tengah ketakutan.
"Ani~ aku tidak takut. Aku hanya ingin melihat wajahmu dan aku ingin kau melihat proses aku melahirkan baby kita. Biar kau menyaksikan dengan mata kepalamu sendiri bagaimana akhirnya penis tak berkondommu itu berhasil membuahkan seorang malaikat kecil."
Chanyeol terkekeh pelan, ternyata Baekhyun juga masih ingat bagaimana sang buah hati bisa hadir di tengah-tengah mereka tak lama lagi. "Hm, maafkan aku untuk malam itu."
Chanyeol mengecupi tangan mungil dalam genggamannya, berusaha menyalurkan kekuatan yang ia punya pada ibu dari calon buah hati mereka.
Baekhyun tersenyum manis. "Tak perlu minta maaf, aku bahagia bisa bertemu dan mengandung anakmu. Terima kasih telah menjadikanku sempurna Park Chanyeol."
Chanyeol mengangguk berkali-kali, air matanya tak bisa ia bendung lagi untuk tidak menetes. "Aku yang harusnya berterima kasih padamu. Terima kasih untuk telah menerima bocah sepertiku dan mengandung anak kita. Aku mencintaimu sayang~, Park Chanyeol mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu, Chan~. Sangat sangat mencintaimu." balas Baekhyun dan mendapatkan hadiah kecupan di sekujur wajahnya dari Park Chanyeol.
"Kami akan mulai membius anda, tuan Baekhyun. Harap bersiap-siap dan jangan terlalu tegang, oke." Tiba-tiba saja sang dokter kandungan menyela.
"Hyung, semua akan baik-baik saja dan saat kau membuka mata nanti aku janji hal pertama yang akan kau lihat adalah aku dan anak kita, hm." kata Chanyeol memberi semangat.
Baekhyun mengangguk, tangannya semakin mengerat dalam gengaman Chanyeol. Namun tak lama setelahnya, sedikit demi sedikit genggaman itu melemah dan detik kemudian Baekhyun jatuh tertidur.
Dalam hati Chanyeol berdoa untuk keselamatan dua orang kesayangannya. Tangan yang tidak mengenggam tangan lemah Baekhyun ia bawa untuk mengelus dahi sang kekasih. Menyingkirkan anak rambut dan juga keringat yang ada di sana.
Jantung Chanyeol tak berhenti berdebar kala matanya menyaksikan bagaimana sang dokter mulai membelah perut putih sang kekasih berupaya mengeluarkan malaikat kecilnya agar segera melihat dunia.
Senyum si limabelas tahun berkembang seiring tangisan yang mulai mengema memenuhi ruang operasi. Air mata haru juga tak dapat lagi ia bendung kala sosok bayi lucu itu tertangkap oleh matanya.
"Owek...oweekkk...oweekkk...!"
Malaikat kecil mereka telah terlahir. Buah hati Park Chanyeol dan Byun Baekhyun telah hadir ke dunia dengan selamat tak kurang satu apapun.
"Selamat datang, nak~"
.
.
.
.
END
Ini beneran udah END ya! KELAR and FINISH
Terima kasih banyak sebanyak-banyaknya buat kalian yang telah mendukung Condom : Final Chapter bisa mengudara. Jika masih kurang puas, silahkan beli kondom sendiri *Ehh
Buat yang minta Condom di jadiin berchapter, mohon maaf aku gak bisa mewujudkannya.
Seneng sih pada minta di buatin chapter, berarti banyak yang suka dengan cerita ini. Tapi aku gak ada inspirasi lagi, gimana donk?*soale otak kondomku udah berkarat :(
Dah gitu aja...jan lupa review .fav n follow :)
Mampir juga ke Wattpad aku : pcy-bee
LOVE U ALL
Bye,
