Sehun mengetuk pintu kayu dihadapannya dengan senyum cerah, terbayang akan hal yang telah ia rencanakan semenjak kemarin. Ya, Jongin sudah berjanji akan mengajaknya jalan-jalan. Bisa dikatakan kencan, sekaligus permohonan maaf karena belakangan ini cowok berkulit tan itu memang sibuk. Sangat sangat sibuk dengan tugas kuliahnya. Belum lagi kegiatan organisasinya yang terhitung sedang gencar-gencarnya mengadakan, mengikuti atau diundang pada event-event tertentu. Dan Sehun yang sedang dalam ujian kenaikan kelas tidak memperbaiki keadaan sehingga mereka hanya bisa berkomunikasi menggunakan ponsel pintar masing-masing.
"Sehun! Akhirnya lo dateng juga!" adalah kalimat yang menyapanya ketika pintu berpelitur itu terbuka menampilkan sosok Soojung dengan wajah cemasnya. Lalu tangan kurus Soojung (yang ternyata sangat kuat) menariknya masuk membuat Sehun hampir terjerembab. Ada apa lagi dengan cewek satu ini?
"Apaan sih? Nyantai kali!" seru Sehun yang diseret Soojung ke dalam rumah minimalis milik (kakak) cewek di hadapannya.
"Darurat!" seru Soojung setelah berhenti di depan sebuah pintu berwarna merah bata, "Lo jadi mau kencan sama Jongin?"
"Iyalah! Darurat kenapa sih?" tanya Sehun hendak membuka pintu di belakang Soojung. Itu pintu kamar Jongin, by the way.
"Mending lo tunda deh rencana lo besok besok atau kapan terserah lu," saran Soojung sambil menampik tangan Sehun yang hampir meraih gagang pintu.
"Lah, kenapa sih emang?" tanya Sehun heran sambil mengelus tangannya. Kelihatannya sih Soojung menampiknya pelan, tapi ternyata sakit juga.
"Jongin sakit," jawab Soojung lalu melipat tangannya di dada.
"Hah? Kok bisa?" tanya Sehun heran sambil melepas jaket musim dinginnya.
"Lu tau ga dia dua hari ini ga pulang?"
"Seriusan lu, Jung?"
"Serius gue! Dari dia pergi sama lu, baru balik tadi pagi! Itu pun dia udah kuyu gitu."
"Astaga! Ke mana aja dia?"
"Dari rumah Kak Naeun, ngerjain maket."
"Berdua doang? Trus pulangnya?"
"Engga, kelompokan. Untungnya sama Kak Yixing sama Kak Chanyeol juga, mereka nganterin Jongin. Untungnya kemaren Kak Yixing bawa mobil barengan sama Chanyeol. Jadi Jongin sama Kak Yixing naik mobil, motornya Jongin dibawa Chanyeol balik."
"Trus Jongin gimana?"
"Masih tidur kayaknya. Tadi pagi udah dibikinin bubur sama Kak Jess sebelum berangkat kantor, tapi siang ini belum. Hehe."
"Lu ga masak?"
"Menurut lo, orang sakit mana mau makan kue? Gue kan ga bisa masak!"
"Yaelah. Dadar telur kek, goreng sosis atau apa kan bisa."
"Males gue ngurusin Jongin sakit."
"Lah kok?"
"Ya lu coba aja urusin sendiri. Gue mau cabut,"
"Eh, eh! Cabut ke mana lu?"
"Warnet sebelah. Mumpung ada Tetem, mau minta bayarin yang kemaren kapan dia ngutang ke gua. Hahaha! Byee~"
"E anjir kok gitu sih!?"
Namun apalah daya Sehun karena Soojung sudah keluar rumah, terdengar dari suara pintu depan yang ditutup. Akhirnya ia hanya bisa menghela nafas sebelum membuka pintu kamar pacarnya dan masuk. Di atas kasur, Sehun dapat melihat gundukan besar yang bergerak naik turun teratur. Dengan perlahan cowok itu melangkah masuk dan menyampirkan jaketnya di kursi belajar Jongin lalu duduk di tepi kasur pacarnya.
Keadaan Jongin yang menyapa indera pengelihatannya itu terlihat pucat. Kantung mata yang menghitam terlihat jelas di bawah kedua mata yang tertutup. Kerutan di keningnya tercetak jelas menambah kesan lelah yang tergurat di wajah tampan pacarnya. Hal ini membuat Sehun mengerutkan keningnya, khawatir akan keadaan pacarnya yang jauh dari kata baik. Ia menghela nafas lalu mengusap rambut coklat Jongin dan menunduk untuk mengecup kening cowoknya.
Rupanya, kegiatannya itu membangunkan Jongin dari tidurnya. Mata besar milik cowok tampan yang tadi tersembunyi dibalik kelopak matanya terlihat sedikit merah dan meneriakkan bahwa mereka kekurangan tidur. Namun teriakkan yang terpancar dari kedua bola mata itu melembut ketika mendapati Sehun yang sudah di depan Jongin lengkap dengan senyum manisnya. Jongin otomatis membalas senyum Sehun dengan tarikan kecil di bibirnya. Mungkin terlalu lelah untuk menggerakkan otot di wajahnya walau hanya sedikit.
"Hei," sapa Sehun sambil mengusak-usak rambut Jongin yang kembali menjatuhkan kepalanya ke bantal.
"Hmm," adalah jawaban Jongin dan terdengar sedikit serak.
"Capek ya?" pertanyaan Sehun yang kemudian hanya dijawab oleh anggukan kecil dari Jongin dengan mata terpejam.
"Makanya jangan ngelembur dong," ucap Sehun khawatir.
Terdengar kekehan kecil nan berat dari Jongin yang kemudian berbalik dan terlentang di kasurnya. Kedua mata masih terpejam tapi bibirnya bergerak menggumam, "Biar cepet selesai."
"Kan deadline-nya masih minggu depan, Jong. Liat deh kamu jadi kayak gini."
"Hmm."
"Emang ga bisa dikerjain besok-besok lagi?"
"Naeun padet sampe minggu depan. Yixing sama Chanyeol juga pengen buru-buru biar cepet kelar soalnya masih harus nyelesein agenda buat event bulan depan. Lagian kan kita mau kencan, Hun."
"Bikin maket apaan sih? Lagian kamu sakit gini gimana mau kencan, coba?"
"Maket gedung seni lengkap."
"Ya ampun. Pantes sama Kak Yixing sama Kak Chanyeol juga."
Jongin hanya mengangguk-angguk kecil kemudian mengulurkan tangannya untuk memeluk pinggang Sehun dan menenggelamkan wajahnya di perut pacarnya itu. Jongin adalah mahasiswa teknik jurusan arsitektur lanskap dan anggota aktif organisasi di kampusnya. Cowok ganteng ini terkenal dengan perhitungannya yang jeli, tak heran ia memegang peran ketua divisi fundraising. Ia berada di jurusan arsitektur lanskap dengan Son Naeun, sepupu kakak iparnya. Sedang Zhang Yixing dan Park Chanyeol, salah satu teman karib Jongin, berada di jurusan desain interior. Keduanya merupakan anggota organisasi yang super aktif dengan Yixing sebagai ketua organisasi dan Chanyeol kepala divisi bidang seni musik.
"Jong, geli," ucap Sehun ketika Jongin mengusak-usakkan wajahnya di perut Sehun.
"Mmmm," gumam Jongin menanggapi ucapan Sehun.
"Makan dulu yuk," ajak Sehun berusaha menjauhkan kepala Jongin dari perutnya.
"Ga mau," tolak Jongin lalu kembali membenamkan wajahnya di perut Sehun.
"Ih, harus makan biar cepet sembuh!" seru Sehun sambil menyisir rambut Jongin dengan jari-jari kurusnya.
"Gaaaaa~" ucap Jongin sambil menggelengkan kepalanya di perut Sehun membuat pacarnya terkikik kegelian.
"Jangan gini, sih," erang Sehun berusaha menjauhakan kepala Jongin dari perutnya (lagi), "Kalo ga makan gimana mau minum obat?"
"Kan obatnya kamu," jawab Jongin enteng sambil merebahkan kepalanya di paha Sehun.
"Dih gombal lagi," kesal Sehun, "Serius nih. Kalo kamu ga sembuh-sembuh gimana mau kencan coba?"
"Kencan di rumah aja," jawab Jongin dengan mata terpejam.
"Ck! Iya, iya," gerutu Sehun merasa kalah, "Tapi makan dulu ya?"
"Makan apa?" tanya Jongin yang membuat Sehun bersorak dalam hati. Akhirnyaaaa!
"Kamu mau makan apa?" tanya Sehun balik sambil mengelus-elus kepala Jongin dan memperhatikan wajah tampan pacarnya dengan lekat.
"Makan kamu," jawab Jongin pendek kemudian membuka kelopak matanya membuat jantung Sehun berdebar kencang.
Kemudian tangan Jongin terulur ke belakang leher Sehun untuk menarik pacarnya agar menunduk. Hal itu dilakukannya agar ia bisa dengan leluasa mencium bibir tipis Sehun yang ia rindukan. Yah, walaupun Jongin tidak bisa menciumnya dengan sesuka hati seperti biasa karena tidak mau menulari bakteri yang bersarang di tenggorokannya, maka Jongin hanya mengecup bibir tipis itu.
"Ish! Lagi sakit maunya aneh-aneh aja!" seru Sehun kesal setelah Jongin melepaskan lehernya dan kembali menutup kedua matanya. Sebuah pukulan kecil pun ia daratkan di bahu Jongin.
"Ah!" seru Jongin mengusap bahunya yang menjadi korban pukulan Sehun, "Sakiiiiittttt~!"
"Biarin!" cuek Sehun menanggapi rengekan Jongin.
"Pacarnya lagi kok sakit malah dipukul, sih? Nanti tambah sakit," rengek Jongin sambil mengelus pinggang Sehun dan menengadahkan kepalanya pada Sehun yang justru memalingkan wajahnya.
"Salah sendiri disuruh makan ga mau."
"Iya deh mau."
Mendengar ucapan Jongin barusan, Sehun menoleh dan menunduk menatap pacarnya dengan senyum lebar. Kedua matanya membentuk bulan sabit sambil sedikit mengangguk lalu mengusak-usak rambut Jongin dan menggumam, "Anak pintar!" membuat Jongin memutar kedua matanya.
"Jonginnie mau makan apa?" tanya Sehun masih mengelus-elus rambut Jongin.
"Mmm, KFC?"
"Bangke! Lagi sakit minta KFC! Sekalian aja minta vodka!" kesal Sehun lalu menjambak rambut Jongin di tangannya diikuti erangan Jongin yang kesakitan.
"Maunya KFC kok!" seru Jongin memajukan bibir bawahnya.
"Ya ga KFC juga! Lagi sakit ini. Besok aja kalo udah sembuh!" seru Sehun final membuat Jongin mendengus.
"Ya udah pasta deh," ucap Jongin akhirnya.
"Heh? Pasta?" ulang Sehun.
"Iya, pasta. Tapi pasta bikinan kamu." jawab Jongin.
Dan akhirnya setelah melewati berbagai hal seperti rengekan Jongin yang—demi Tuhan, Sehun berani bersumpah bahkan anak kecil yang paling rewel pun tidak semenyebalkan Kim Jongin kalau sedang sakit! Sehun bahkan harus berusah payah memasak pasta dengan jelmaan koala besar yang bergelantung di punggungnya—a.k.a Kim Jongin yang menolak melepas pelukannya pada Sehun.
"Ayo makan," suruh Sehun mendorong piring berisi pasta ke hadapan Jongin yang duduk di sampingnya.
Bukannya segera mengambilnya dan memakan pasta yang sengaja Sehun buat khusus untuknya, Jongin justru menjatuhkan kepalanya di bahu lebar Sehun lalu mengusak-usakkan wajahnya pada perpotongan leher pacarnya. Hal ini tentu saja membuat Sehun kegelian dan berusaha menjauhkan Jongin dari lehernya.
"Jongiiiin~"
"Hmmh."
"Makan dong~ tadi katanya minta pasta. Itu udah aku bikinin."
"Suapin."
Satu gumaman kata manja namun terdengar seperti perintah yang jelas tidak bisa ditolak meluncur dari bibir tebal Jongin membuat Sehun menganga. Ya Tuhan, sungguh Sehun tidak menyangka ia akan berhadapan dengan Jongin yang seperti ini ketika sedang sakit! Dear God, I didn't remember signing for this! Keluh Sehun dalam hati tapi toh mengambil piring berisi pasta milik Jongin dan menyuapkannya ke mulut Jongin.
"Bilang Aaa~"
"Amm."
Begitu seterusnya hingga pasta yang berada di piring ludes, berpindah ke perut Jongin.
"Waktunya minum obaaaat~" senandung Sehun sambil beranjak dengan piring kotor di tangannya, menaruhnya di tempat cuci piring lalu pergi untuk mengambil obat Jongin di kamarnya.
Sementara itu, Jongin berdiri dengan malas untuk mengambil minum lalu berjalan menuju ruang keluarga dan merebahkan dirinya di sofa setelah meletakkan gelasnya di meja kaca. Kedua matanya yang terasa panas ia pejamkan sambil menunggu Sehun yang mengambil obatnya di kamar. Jongin menguap merasakan kantuk yang masih mendera ditambah pusing yang tak kunjung reda.
"Nih minum obatnya," ucap Sehun menyodorkan sekotak obat batuk sirup dan satu strip obat pusing pada Jongin lalu menyelimuti pacarnya yang duduk di sofa.
Jongin membenarkan posisi duduknya menjadi tegap dan mengambil obat ditangan Sehun. Ia menaruh obat pusing di lidahnya lalu menelannya bersama dengan obat batuk sirupnya membuat Sehun yang baru saja mengambil gelasnya melotot menyaksikan aksi ekstrim pacarnya meminum obat. I—itu tadi minum obat? Kenapa bisa semudah itu menelan obat tablet dan sirup secara bersamaan? Tanpa air putih? Atau roti? Atau nasi?
"Jong.. Kok minumnya gitu sih?" tanya Sehun heran.
"Biarin. Biar cepet sembuh," jawab Jongin setelah menegak air mineralnya dan memberikannya pada Sehun.
"Sini duduk," titah Jongin sambil menepuk-nepuk tempat kosong di sampingnya.
Sesaat setelah Sehun mendudukkan dirinya di samping Jongin, dirinya dibalut dalam selimut diikuti oleh pacarnya yang menyandarkan kepalanya di bahunya dan memeluknya layaknya ia adalah guling. Sehun hanya bisa mengerjap bingung dan kaget karena pacarnya yang super ganteng itu kembali menyamankan dirinya untuk tidur. Yep, tidur dengan nyamannya. Di sofa. Dengan menjadikan Sehun sebagai bantal dan guling hidupnya. Ingatkan Sehun lagi kenapa ia bisa menyukai cowok ini?
"Aku pulang~"
Adalah sebuah suara yang membuat Sehun mendesah lega sepuluh menit kemudian karena akhirnya Soojung pulang juga dan pastinya bisa membantunya mengurus si bayi besar Kim Jongin. Ia melongok ke arah ruang tamu yang terdengar langkah mendekat dan terkejut karena bukan Soojung yang pulang, melainkan Jessica. Ya Tuhan, seolah penderitaan Sehun tidak cukup dengan mengurus Jongin yang sakit sendirian saja! Mau ditaruh mana mukanya sekarang?
"Loh, Sehun?" kaget Jessica yang membawa sebuah kantong plastik besar.
"Engg, hai mbak." sapa Sehun kikuk.
Jessica melirik ke arah Sehun dengan Jongin yang tidur memeluknya di sofa dan tersenyum kecil sebelum berjalan ke arah dapur untuk menaruh kantong plastik besar di tangannya. Kemudian wanita seperempat abad itu mengeluarkan barang yang berada di dalam kantong belanjaannya tadi. Niatnya sih tadi mau memasakkan untuk Jongin, tapi kemudian mengurungkan niatnya tersebut melihat tempat cuci piring yang penuh dengan piring, panci, wajan dan spatula kotor.
"Kamu habis masak apa, Hun?" tanya Jessica yang kini menyalakan keran untuk mencuci perkakas kotor bekas Sehun masak.
"Pasta, mbak, buat Jongin makan tadi," jawab Sehun dan menoleh ke arah dapur demi melihat Jessica mencuci perkakas kotornya tadi, "E, mbak. Taruh aja, nanti biar aku yang nyuci."
Ia jadi tidak enak karena sudah mengotori dapur dan malah membiarkan pemilik rumah yang baru pulang dari kantor membereskan kekacauan yang ia buat. Kalau Jongin tidak membuatnya kaku tak bisa bergerak, mungkin ia sudah berlari dan menahan kakak sepupu pacarnya ini untuk mencuci perkakas kotornya.
"Gapapa, Hun. Lagian kamu pasti capek kan ngurus Jongin yang lagi rewel?" ucap Jessica sambil tersenyum simpul. Masih sibuk dengan cuciannya. Di ruangan seberang, Sehun hanya bisa menggigit bibir bawahnya.
"Soojung ke mana, Hun? Kok jadi kamu yang ngurus Jongin?" tanya Jessica lima menit kemudian yang kini telah selesai mencuci perkakas dan berdiri di dekat pantry. Dibukanya sebuah botol berisi minuman jus dari dalam kulkas.
"Ke warnet sebelah, mbak," jawab Sehun seadanya, "Gapapa mbak. Tadinya kan mau pergi sama Jongin, tapi dia malah sakit ini."
"Ya ampun anak itu. Ogah banget disuruh ngurus sodaranya sakit," gerutu Jessica kemudian melihat Sehun yang dipeluk Jongin dan terkekeh, "Lucu deh kalo liat kalian berdua. Soojung sering cerita lho soal kalian. Dengernya bikin gemes, liat langsung ternyata emang iya."
"Ah, mbak bisa aja," ucap Sehun tersipu malu.
"Tapi emang iya kok!" ulang Jessica meyakinkan lalu melanjutkan, "Gara-gara pacaran sama kamu, Jongin jadi rajin pulang lho Hun. Seneng aja liatnya, dia jadi agak ngurangin kegiatan di kampusnya. Mbak kadang suka ga enak sama Bibi Kim kalo nelpon nanyain Jongin gimana kabarnya di rumah, padahal anaknya jarang di rumah."
"Ya syukur deh mbak kalo gitu. Soalnya kadang dia suka nongkrong aja di kampus walau ngga ada kegiatan." gumam Sehun melirik Jongin yang tertidur lelap.
"Kamu aja tau dia ngapain di kampus, Hun padahal baru bulan kemarin pacaran. Mbak aja belum tentu tau. Hahaha," ucap Jessica yang kini mengembalikan botol jusnya ke dalam kulkas.
"Ngomong-ngomong, kamu ga pegel apa Hun dipeluk gitu sama Jongin? Aku liatnya aja sakit lho," tanya Jessica menaikkan sebelah alisnya, kasian melihat Sehun yang hanya bisa duduk diam karena pergerakannya dikunci oleh pelukan Jongin.
"Ya mau gimana, mbak. Lagi sakit jadi manja banget gini," jawab Sehun pasrah membuat Jessica terkekeh.
"Bangunin gih, suruh pindah. Kan mending kalau di kasur, Hun. Ga pegel," saran Jessica sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Jangan ah mbak, ga enak." sanggah Sehun yang bersemu.
"Ya ampun. Gapapa, kali! Emang kalian mau ngapain coba? Udah gede ini, ya urusan kalian mau ngapain juga," kekeh Jessica, "Tapi cowok itu emang paling manja kalo lagi sakit. Tadi pagi aja Jongin juga nduselin Soojung terus pas duduk, bilangnya mau tidur di sofa. Ending endingnya si Soojung ditendang dari sofa. Hahaha!"
Sehun ikut tertawa juga mendengar cerita Jessica walau dalam hati agak kasihan pada Soojung tapi hilang dalam sekejap melihat tawa Jessica yang meledak-ledak. Pasti posisi jatuh Soojung sangat tidak elit sampai membuat kakaknya sendiri tertawa tidak terkontrol dan memukul-mukul meja pantry. Sama persis seperti Soojung dan Jongin kalau tertawa. Mungkin bedanya, kalau Jessica terlihat lebih anggun sedang tawa Jongin dan Soojung terlihat seperti orang bar-bar -_-
"Udah gih pindah sana. Kasian juga si Jongin kalo tidurnya kayak gitu. Malah tambah pusing nanti dia." suruh Jessica.
"Iya, mbak," ucap Sehun, "Mbak mau ke mana?"
"Mau balik kantor, Hun. Cuma istirahat makan siang ini," jawab Jessica yang mengambil tasnya.
"Ya ampun mbak, tau gitu tadi aku nyuruh Soojung ngasih tau mbak biar ga usah balik. Kasian mbak harus bolak-balik gini," ucap Sehun, berusaha melepaskan Jongin namun gagal. Hal itu membuat senyum Jessica mengembang.
"Gapapa. Namanya juga dititipin anak orang lagi sakit, Hun," kata Jessica, "Lagian mau ngarepin Soojung juga percuma, malah bikin tambah khawatir soalnya mereka kan kayak Tom sama Jerry yang ga ada akurnya."
"Berangkat dulu ya, Hun. Mbak titip Jongin. Makasih ya, maaf jadi ngerepotin." pamit Jessica.
"Iya mbak gapapa kok. Kan emang harus," ucap Sehun.
"Belajar jadi pasangan yang baik ya? Ciye udah pada serius nih," goda Jessica.
"Apa sih, mbak," sanggah Sehun membuat tawa Jessica kembali terdengar.
"Hati-hati di jalan, mbak!"
"Iya, Hun."
Dan dengan itu, Sehun kembali sendiri di rumah minimalis yang sepi itu. Ia menghela nafas sebelum menggoyangkan tubuh Jongin, berharap pacarnya bangun sebentar dan mau pindah ke kamar. Untuk sesaat, Jongin menggeliat dalam tidurnya namun kembali menyamankan posisinya dan memeluk Sehun semakin erat. Baiklah, Sehun menyerah! Kencan apanya? Ini sih, jadi bantal dan guling, bukan kencan! Dumal Sehun dalam hati sambil mencubit Jongin di manapun tangannya sanggup menggapai. Dan Jongin hanya menggeliat lagi tapi tidak bangun sama sekali.
.
.
F I N
.
.
Karena cowok kalo lagi sakit itu manja. Pake banget. Matur nuwun en gud bye~ /lambai2 sapu tangan XD
