Balasan Review
No-VIZ HB: hehehe sabar ya Viz-san. Mungkin di chap ini sudah agak terjawab.; Sobekan Kertas: Ossh! Siaap!; Red Panda: makasih banyak Panda-san. Semoga chapter ini ga mengecewakan yaa. Hehe, Akashi Insya Allah disini ga ada penyakit kok. Insya Allah tapi ya/plakk.; : enggak kok. Akashi udah tobat mau ngelupain ukenya hehehe. Keep reading tapi yaa.; Love Akashi-kun: Setuju! Emang mereka nyebelin banget! Ayo kita rajam sama-sama para zalang ituh! *_* Keep reading yaah.; Adelia Santi: tidaak! Jangan benci mz midorin Adelia-san. Meganne semangka itu ga salah apa-apa :') ; Akari Kareina: Eh nyangkut? Tidak ada pair Aokuro atau Akaki disini Akari-san. Tapi Sei pasti jaga Cuya kok :*.; Shouraichi Rein: Tidaks Akashi gak akan pernah lupai ukenya Rein-san :')Midorin itu sepupunya Akashi yang syuperduper protektif disini. Tapi Resca jamin ga ada brother kompleks. Insha Allah hehehe; Ikizakura: Eh jangan dilempar ayangnya Cuya, Midorin juga. Tar Cuya nya sakit hati. Wkwk. Alasan kenapa mereka bertingkah sok amnesia adalah...adalah di chapter ini. ga semua sih. Tapi ini juga termasuk alasannya kok. Semoga Iki-san suka yaa.; Siucchi: iya nih, Resca emang suka baca komik Shoujou. Makanya ngemaso mulu :'). Tapi semoga Siucchi-san suka yaa. ; Kimhyera: Doumo Kim-san. Resca gabung ya balasan -san adalah orang pertama yang bisa nebak plot nya Resca. :') tapi semoga Kim-san tetep penasaraan. Amiiin. Keep reading ya Kim-san.; Guest1: Aaaa makasyiih. Keep reading ya guest-san.
So here we go...
.
.
.
Remaja berambut hitam perak tertawa keras diantara siswi siswi yang mengelilinginya. Kepercayaan diri yang kelewat tinggi berkilat dimata hitam abu miliknya. Berbadan kekar, berwajah garang. Imej preman sangat cocok untuk Haizaki Shougo. Murid tahun kedua SMA Teiko. Anak brandalan sekaligus anak basket.
"HAHAHA! Siapa tadi namanya? Kuroko Tetsuya? Kau ingin aku memberi pelajaran seperti apa kepada anak seperti itu?"
Salah satu dari empat perempuan disana dirangkul sepihak. Yang dirangkul meski berwajah agak jijik, tetap saja memohon dengan suara dibuat-dibuat.
"Dia anaknya pendiam, jadi Haizaki-kun bisa melakukan apa saja padanya. Asalkan dia tidak merebut Akashi-kun dari kami?"
Tawa keras kembali terdengar. Haizaki ingat nama Akashi Seijuurou. "Akashi yang sombong dan sok ganteng itu? Hahaha aku tak menyangka kalian juga terjerat dengan orang semacam dia. Yah tapi karena kalian sudah memohon, aku tida tega menolak." Tatapan lapar dan colekan genit di dagu perempuan lain disana. Tubuh perempuan itu yang paling sintal dari teman-temannya.
"Terimakasih Haizaki-kun. Kami mengandalkanmu."
"Yaya, setelah itu kalian harus mau kubawa ke love hotel. Sudah janji kan."
"I-iya"
Fandom : Kuroko No Basuke
Pairing : Akakuro
Genre : Drama, Family, Romance, Angst
Rating : T (semi M)
A.N : AU, BoyxBoy, little OOC(maybe)
.
Disclaimer
Kuroko No Basuke belongs to Tadatoshi Fujimaki, but the story is mine.
.
Natsu Ni Hanashi O Nisshoku
(Hajimete no Ai)
Segala rahasia dibalik sosok serupa cahaya matahari. Kuroko ingin menyibak bayangan bulan yang menutupinya.
A Tale of Eclipse In The Summer.
.
.
.
PART 3
ALTER EGO
Kolam persegi panjang sedalam dua meter, dikelilingi siswa kelas 1-1 dan 2-4 yang mengikuti pelajaran renang hari itu. Kuroko Tetsuya berdiri di dekat pintu masuk. Memerhatikan sensei menjelaskan peraturan gaya renang yang akan mereka lakukan. Pemuda baby blue mendengarkan dengan serius. Seperti siswa siswi lainnya. Karena memang kelas 1-1 adalah siswa siswi yang muridnya teladan.
"Ya. Kalian boleh menunggu sampai nama kalian dipanggil."
Murid-murid segera mendudukan diri di tepi kolam renang. Beberapa murid perempuan mendatangi sensei. Mendatakan nama mereka yang sedang 'tidak bisa' mengikuti sesi pembelajaran hari itu.
Kuroko menyipitkan matanya kepada murid-murid yang mendatangi sensei. Bukan apa-apa, hanya saja Midorima berada di antara mereka. Seperti sedang menjelaskan sesuatu kepada sensei. Tak cukup lama mereka berbicara sampai sensei menanggapi perkataannya dengan anggukan. Midorima menghela nafas, kemudian kembali ke tepi kolam renang. Duduk di kursi panjang yang masih kosong.
Kuroko segera menghampirinya, mengacuhkan tatapan kaget dan sinis khas Midorima yang kadang menusuk hati. Pemuda mungil itu menelengkan pandangan ke kanan dan ke kiri. Menurut pengamatannya, di mana ada Midorima Shintarou di situ ada Akashi Seijuurou. Tapi kali ini pemuda tampan berambut merah cerah itu tidak ada di dekat Midorima. Akashi Seijuurou bahkan tidak ada di kolam renang. Padahal seingatnya tadi Akashi masih bersama Midorima saat dikelas.
"Mencari Akashi?"
Midorima memang cepat tanggap, Kuroko mengangguk sumringah. Pemuda Hijau lumut itu menekuk bibir, menyesal menanggapi tingkah Kuroko yang kadang mudah ditebak.
"Dia di ruang kesehatan. Sedang tidak enak badan." Mata emerald mengalihkan pandangan ke sisi lain kolam renang. Malas terlibat kontak mata lama-lama dengan pemuda pendek di depannya. Tatapan Midorima berhenti di salah satu titik kolam renang, dimana seorang Haizaki Shougo tengah duduk sambil menyeringai aneh ke arahnya. Tidak. Bukan kearahnya. Tapi ke arah...
"Ma... Midorima-kun."
Colekan kasar di bahu. Midorima mendelik kepada si pelaku yang memasang wajah datar. Kuroko membalas tataannya dengan tampang tak bersalah.
"Jawab pertanyaanku."
"Pertanyaan yang mana?"
"Akashi-kun sakit apa?"
Giliran Midorima yang mengerjap bingung. "M-mana aku tau. Memangnya aku peduli."
Alis biru muda bertaut heran. Midorima kan memang kelewat peduli dengan Akashi. Tsunderenya sedang kumat ya. Pikir Kuroko.
"Empat belas. Kuroko Tetsuya"
Kuroko spontan berbalik. Mendatangi sensei yang berada di sisi terdekat kolam renang. Gilirannya untuk melakukan sesi pemanasan. Dalam hati Kuroko berniat akan mencari Akashi setelah ia selesai mengikuti pelajaran renang.
Sementara itu Midorima yang perhatiannya teralihkan kembali dengan sikap Haizaki segera beranjak mendekati salah satu pemuda brandalan di sekolah itu. Tentu saja Haizaki sadar ia tengah di datangi Midorima. Seringaian lebih lebar disunggingkan saat Midorima sudah berada di depannya.
"Oh, Shintarou ya."
"Haizaki Shougo, kulihat barusan kau memandangi Kuroko. Ada apa?"
Tawa pecah dari pemuda berwajah garang, Midorima menyipitkan mata tak suka. Ia sudah mendengar dari Akashi kalau Kuroko sedang jadi objek pembullyan para gadis yang cemburu berlebihan –entah karena apa- kepada Kuroko. Kuroko sampai dikunci di gudang yang pengap dengan kondisi tiada penerangan kemarin sore. Akashi mengatakan ia menyerah untuk berpura-pura tidak mengenal Kuroko. Ia menganggap dirinya sebagai penyebab semua ini –meskipun Akashi tidak salah mengatakannya-.
Masalahnya adalah, jika perempuan saja sampai menganggunya seperti itu. Bagaimana dengan laki-laki pembawa masalah yang hobinya berkelahi dan merusuh seperti Haizaki Shougo. Midorima bertaruh kalau tatapannya tadi bukan sesuatu yang bisa diabaikan.
"Memangnya itu urusanmu? Kau jangan sok berkuasa hanya karena kau murid dilindungi disekolah ini."
Tatapan luar biasa menyebalkan. Kalau yang diperlakukan begini Akashi, pastilah anak itu tidak tinggal diam. Midorima sedikit bersyukur yang menyadari keanehan Haizaki terlebih dahulu adalah dirinya. Bukan Akashi. Bagaimanapun Akashi tidak bisa dianggap remeh karena sudah tinggal sendiri tanpa pengawasan di Kyoto –meskipun Midorima selalu datang rutin untuk mengecek keadaannya-. Akashi tidak pernah terlihat diganggu ataupun terganggu. Dan sampai masa SMA sekarangpun, di klub tidak ada yang benar-benar berani membantah perintahnya sebagai wakil Kapten tim Basket. Semua anggota tim inti patuh kepada anak itu. Dengan kata lain, Akashi memiliki aura intimidasi yang ia pergunakan untuk memaksa orang-orang patuh padanya. Setidaknya ia bisa melakukannya kepada semua orang sampai saat ini. Kecuali satu orang.
"Aku hanya memperingatkanmu. Jika kau berniat melakukan sesuatu yang buruk pada anak itu, kau akan kerepotan sendiri."
Midorima berbalik meninggalkan Haizaki sebelum pemuda itu dapat merespon perkataanya. Mengacuhkan tatapan kesal yang ditujukan Haizaki padanya, Midorima berjalan menyusuri kolam menuju sensei yang telah memanggil namanya dua kali. Sikap pemuda tinggi itu kalem seperti biasa. Membuat siswi di sekitar kolam berdecak kagum. Sambil melakukan pemanasan yang diperintahkan sensei, Midorima mencari keberadaan si pemuda biru yang dari tadi tak kelihatan.
"Kemana Kuroko?" Bisiknya pada diri sendiri.
.
.
.
Ruang UKS, letaknya di lantai dasar. Kuroko langsung mengenakan seragam dan menuju ruangan kesehatan seperti niatnya sehabis mengikuti pelajaran renang tadi. Sebenarnya ia mau mengajak Midorima. Tapi tadi pemuda berkacamata itu kelihatannya tengah sibuk mengobrol dengan seorang senior dari kelas 2-4. Kuroko juga tidak terlalu yakin Midorima akan mau mengantarnya menemui Akashi. Karena selama ini Midorima lah yang secara terang-terangan meminta ia menjauhi Akashi. Meski ia tau Midorima pasti memiliki alasan tersendiri. Sama seperti tingkah 'pura-pura lupa' yang Akashi lakukan kemarin.
Bayangan kejadian kemarin sore setelah ia diselamatkan Akashi dari insiden gudang tiba-tiba berputar dikepala Kuroko. Dimana ia digandeng Akashi keluar dari gudang, diantar pemuda itu sampai ke stasiun. Diperjalanan mereka tak berbicara sepatah katapun. Bahkan saat di stasiun. Kuroko tidak berani mengucapkan salam perpisahan. Entah apa alasan Akashi, tapi ia juga tak mengatakan apa-apa. Pemuda pemilik orbs delima itu hanya menyunggingkan senyum seperti biasa. Kemudian kereta membawanya pergi hingga Kuroko tak melihat Akashi lagi.
"Bagaimana? Akashi-kun suka?"
Tersentak, Kuroko berhenti di pintu UKS. Pemuda kecil itu memilih mengintip dari kaca transparan yang terdapat di pintu UKS. Di dalam sana Akashi bukannya sedang berbaring dengan wajah pucat. Tapi ia tengah berdiri di dekat jendela. Menghadapi perempuan berambut panjang yang berdiri membelakangi pintu. Kuroko tidak kenal. Tapi sepertinya perempuan itu anak kelas satu sama sepertinya.
"Iya. Aku suka sekali."
Senyuman yang diberi Akashi memang tak pernah tak menawan. Kuroko mengakui karena ia selalu terpana tiap melihat lengkungan naik pada bibir pemuda merah itu. Akashi memandangi lembaran tiket theater klasik di tangannya dengan wajah takjub.
"Syukurlah kalau begitu. Sangat sulit mendapatkan tiket ini karena yang menonton rata-rata orang tua."
"Aya-san anak theater?"
"Iya. Aku ingin mencoba mencari pengalaman akting dari theater terkenal ini."
"Ah begitu. Aku tau pengarang aslinya. William Shakespeare."
"Iya benar. Wah Akashi-kun tau banyak ya!"
"Tidak kok. Aku kebetulan tau saja."
"Kalau begitu kutunggu di stasiun pukul 7 malam ya. Aku pergi. Sampai bertemu nanti malam, Akashi-kun."
"Sampai nanti."
Lambaian singkat, Gadis berambut panjang itu melanjutkan langkahnya sambil bersenandung dan tersenyum lebar. Kuroko tidak perlu bersembunyi untuk menyembunyikan keberadaannya saat itu. Ia hanya memandangi kepergian gadis itu dalam diam.
Mereka mau kencan ya?
Menghela nafas, Kuroko memang sadar itu bukan urusannya. Ia kesini hanya untuk memastikan keadaan Akashi baik-baik saja. Kemudian mengucapkan terimakasih atas pertolongan Akashi kemarin sore. Itu saja. mendorong pintu pelan, Kuroko bersiap masuk kedalam ruangan serba putih beraroma obat-obatan...
"Akashi-kun!"
Tiket theater ditangan diremas sampai rusak, kemudian dilempar keluar jendela. Akashi menoleh kaget saat Kuroko melihat ia melakukannya.
"T-Tetsuya."
Pemuda biru langit berjalan mendekat. Matanya berkilat kesal meski wajahnya tetap datar.
"Barusan, kenapa kau membuang tiketnya? Anak perempuan itu susah payah mendapatkannya kan!"
Wajah Akashi terlihat tidak nyaman, canggung. "Apa kukembalikan saja? Tapi sudah lecek begitu." Katanya sambil menoleh keluar jendela.
Orbs biru langit mengerjap tak percaya. Ia shock melihat sikap Akashi, seperti tak merasa bersalah sama sekali. Pemuda merah itu seperti hanya merasa kaget karena sudah tertangkap basah membuang tiket yang ia dapatkan dari perempuan tadi.
Dengan kata lain, rasanya Akashi seperti... orang jahat yang bermuka dua.
"Kalau memang tidak ingin pergi harusnya kau tolak saja. Bersikap seperti itu, tidak terlihat seperti dirimu yang kukenal, Akashi-kun."
Hening. Sesaat Kuroko merasa tidak ada yang salah dengan kata-katanya. Tapi kemudian Akashi langsung menghujaminya dengan tatapan merendahkan.
"... yang kau kenal?" seringaian yang dipamerkan kali ini terlihat kejam. Kedua tangan Akashi melipat di depan dada. Kuroko menelan ludah tanpa sadar. "Kau bertingkah seolah kita sudah kenal lama sekali ya, Tetsuya. Sadarlah. Kita hanya bersama selama kurang dari 48 jam. Memangnya dengan waktu sesingkat itu kau sudah kenal aku sampai mana?"
Kuroko membeku seketika. Ini adalah kalimat terpanjang yang pernah diucapkan Akashi. Dan sikap dingin yang ia tunjukan sekarang... Kuroko tau ini semua salahnya.
"memangnya yang 'seperti aku' menurut Tetsuya itu bagaimana?"
Lidah yang tadi berucap dengan mudahnya terasa lumpuh tanpa sebab. Kuroko tidak bisa menjawab pertanyaan Akashi.
.
.
.
Kesalahan yang ia buat hari ini, sudah melangkah jauh dari batas yang ditentukan. Kuroko memang kadang menyadarinya. Tapi ia sudah terlanjur menganggap enteng segala sesuatunya. Mengira kalau Akashi tidak akan pernah mencoba menghalanginya lagi. Ia mengira Akashi sudah bersedia membuka semua pintu yang tertutup selama ini, dan menunggu Kuroko untuk menemukan setiap pintu dengan usaha sendiri.
Lalu hari ini Kuroko seperti disadarkan kembali. Kata-kata 'jauhi Akashi' yang midorima ucapkan tempo hari bukan main-main. Harusnya mungkin Kuroko berhenti saja. Tapi ia tidak bisa. Kuroko sendiri tidak mengerti dengan perasaannya.
"Kuroko-cchi? Ini." Es loli berwarna biru muda. Rasa vanila. Kuroko menerimanya dari Kise. Sementara pemuda pirang sibuk mengemut es loli lain berwarna kuning cerah. rasa lemon? Atau jeruk? Kuroko menebak dalam hati.
"Kise-kun, kenapa tidak pulang dengan Aomine-kun? Tumben."
Wajah si pirang spontan memerah. Kegiatan mengemut es loli dihentikan. "Kenapa sepertinya diriku selalu dikait-kaitkan dengan Aomine-cchi. Kami pulang bareng karena kegiatan klub saja kok-ssu. Hari ini kan kegiatan klub kosong. Nijimura-senpai dan Akashi-cchi sibuk rapat pembentukan anggota OSIS lagi."
Menggigit esnya sekali, Kuroko sebenarnya hanya memancing basa-basi agar ia lebih mudah mengorek informasi.
"... Kise-kun"
"Hm?"
"Akashi-kun itu di klub bagaimana?"
"Eh?" Kise kaget, kemudian mengedarkan pandangannya ke sekeliling dengan wajah horror. Kuroko mengerjap bingung.
"Ada apa Kise-kun?"
"Aku hanya memastikan Akashi-cchi sedang tidak berada disekitar kita-ssu."
Dibalas helaan nafas. Dikira apa. "Ini sudah diluar lingkungan sekolah. Dan kau bilang tadi dia sedang rapat OSIS kan? Jadi tidak mungkin Akashi-kun berada di sini."
"Tapi tetap saja-ssu, aku harus pastikan lagi. Kalau tidak bisa gawat."
Alis pirang pemuda cantik mengerut tidak setuju. Kise teringat kejadian saat Aomine membicarakan Akashi di dalam gym. Padahal waktu itu mereka yakin Akashi sedang tidak berada di gym. Tapi tiba-tiba pemuda merah itu muncul di belakang dengan Aomine dengan tampang mengerikan. Dan setelah itu porsi latihan mereka langsung digandakan 4 kali lipat oleh Akashi. Yah, bukan salahnya kalau Kise jadi trauma.
Tapi tetap saja Kuroko tidak paham. Gawat apanya?
"Kuroko-cchi kan teman sekelasnya-ssu. Masa tidak tau dia bagaimana?"
Kuroko mendengus. "Bagaimana bisa aku tau. Orang setiap hari dia dikelilingi perempuan."
"Hah.. begitu ya. Ya wajar sih-ssu, Akashi-cchi kan populer."
Dibalas anggukan, Kuroko menggigit esnya lagi. "Jadi Akashi-kun itu orangnya bagaimana?"
"Dia sadis, suka mengintimidasi, horror, main gunting kalau dibantah, Haizaki Shougo si brandalan saja sampai takut dengannya. Hmm.. apa lagi ya." Telunjuk diletakkan di bibir, Kise mengingat-ingat. "Oh iya, biasanya kalau Akashi-cchi menyusun jadwal latihan semuanya pasti akan sekarat-ssu. Karena jadwal yang disusun Akashi-cchi itu kerasnya luar biasa. Aomine-cchi saja biasanya hampir pingsan."
Aomine-kun? Aomine-kun yang itu?
Kuroko tersenyum getir. Ternyata ia memang tidak tau banyak tentang Akashi. Yang ia tau hanya sikap baik Akashi saat ia menginap dirumahnya, itu juga sudah 2 tahun yang lalu.
"Tapi... sebagai wakil kapten, Akashi-cchi memang tegas dan dapat diandalkan. Tiap dia menyusun strategi, kami selalu menang. Akashi-cchi juga memiliki operan yang pas di tangan. Aku paling suka menerima operannya. Tidak cuma itu. Akashi-cchi juga sangat memerhatikan pola makan kami. Kami dilarang memakan makanan tertentu saat menjelang latihan. Murasakibara-cchi yang bongsor itu juga biasanya disusunkan menu oleh Akashi-cchi supaya ia tidak cepat lapar saat pertandingan."
Setidaknya, sisi yang inilah yang ditunjukkan Akashi kepadanya selama ini.
"Nah, Kuroko-cchi. Gantian aku yang tanya."
Mata berbinar-binar khas Kise sekali. Kuroko membalasnya dengan pandangan datar. "Tidak mau."
"Eeh? Kenapa? Aku kan sudah menjawab pertanyaan Kuroko-cchi dan meneraktirmu es loli."
"Aku tidak minta ditraktir."
"Tapi aku kan menjawab pertanyaanmu-ssu."
Si pemuda biru menghela nafas. "Baiklah. Kau mau tanya apa, Kise-kun?"
"Anu... Hubungan Kuroko-cchi dengan Akashi-cchi apa?"
Inilah alasan Kuroko tidak mau ditanyai oleh Kise. Sejak SMP Kise memang rajanya kepo. Ia memburu penjelasan apa saja yang rasional untuk peristiwa 'janggal' yang dilihatnya.
"Tidak ada apa-apa kok. Memangnya kenapa?"
"Hmm... Akashi-cchi memang baik dengan semua orang. Tapi sepertinya ia tidak pernah memperlihatkan sisi sadisnya kepada Kuroko-cchi."
"..." dia baru saja memperlihatkan sisi itu padaku tadi siang, Kise-kun. Meski sikap itu tak diperuntukkan untukku.
"Lalu tempo hari Akashi-cchi menyusul Kuroko-cchi kesekolah. Kesannya Kuroko-cchi itu spesial di mata Akashi-cchi."
Kuroko mengerjap bingung. Pipinya tiba-tiba terasa hangat. "Ti-tidak mungkin."
"Uwah! Kuroko-cchi wajahmu memerah!"
"Diamlah, Kise-kun."
Langkah dipercepat, Kuroko ingin segera sampai di stasiun, meninggalkan pemuda pirang yang mulai mengoceh heboh dibelakangnya. Tapi Kise malah membuntuti dirinya sambil menahan tawa.
"Kuroko-cchi suka dengan Akashi-cchi kan?"
"Jangan konyol. Gender kami sama, Kise-kun."
"Selama ada cinta itu bukan masalah. Kalau ingin menikah tinggal pindah keluar negeri saja. Akashi-cchi kan orang kaya."
"Ngawur! Aku duluan!"
"T-tunggu aku!"
"Ogah!"
.
.
.
"Latihan malam dimulai hari ini?"
Akashi mengangguk menjawab pertanyaan sepupunya. Kemudian matanya tertuju kepada bocah biru langit yang sibuk membaca light novel di tempat duduk.
"Kau dengan dia kenapa? Sejak pagi tidak bertegur sapa."
Tentu saja Midorima juga memerhatikan gelagat sepupunya satu ini. Pemuda hijau itu sadar kalau sejak pagi dua remaja ini saling menghindar. Kuroko yang biasa cerewet menanyakan Akashi hari ini tumben diam-diam saja. Akashi yang biasa kalem tiba-tiba sering curi pandang ekpada pemuda biru itu.
"Bukan apa-apa." dan tentu saja Midorima hafal sekali tentang sikap Akashi yang agak tsundere –meski tak se'tsundere' dirinya-. Akashi mengalihkan pandangan kepada Midorima. Menyeringai aneh. "Bukannya kau suka kalau kami tidak saling bicara?"
"..." Bukan pertanyaan. Buktinya Akashi langsung pergi tanpa menunggu jawaban Midorima. Remaja hijau hanya bisa menghela nafas dan membenarkan letak kacamatanya. "Kau benar. Akan lebih baik kalau keadaan seperti ini. Tapi..."
Entah kenapa pembicaraannya dengan Haizaki kemarin mengganggu ketenangan Midorima.
Kuroko sepertinya sedang diincar, lagi. Apa tidak apa-apa kalau kau tidak mengetahuinya, Akashi?
"Midochin, apa benar latihan malam dimulai hari ini?"
Midorima menoleh, mendapati pemuda tinggi besar tengah berdiri didekatnya sambil menenteng kantong plastik besar berisi snack. Murasakibara Atasushi. Center tim yang paling diperhatikan Akashi pola makannya.
"Ya benar. Apa yang kau lakukan disini?"
Murasakibara menguap sebelum menjawab. "Aku hanya ingin menanyakan itu kepada Midochin. Selebihnya aku ada keperluan dengan Kurochin."
"Kuroko?"
"Oi.. Kurochiin."
Panggilan dengan nada malas membuat Kuroko mendongakkan kepalanya dari lembaran novel yang ia baca. Pemuda biru itu menggumamkan nama Murasakibara sebagai sapaan. Murasakibara segera mendatangi Kuroko. dan selanjutnya mereka terlihat mendiskusikan sesuatu.
Seandainya saja Midorima tidak punya sifat tsundere dan malah memiliki sifat sekepo Kise, pastilah ia sudah mengikuti Murasakibara dan mendengarkan percakapan mereka sekarang. Tapi sayang ia memilih gengsinya dan memilih pergi dari dalam kelas menuju perpustakaan.
"Kurochin, kau dapat pesan dari Zakichin."
"Zaki-chin?"
Dibalas anggukan. Murasakibara membuka bungkus snack kentang yang ia keluarkan dari pelastik. "Haizaki Shougo, kelas 2-4."
Kuroko terlihat berfikir sebelum menanggapi. Rasanya Kise pernah membahas nama ini diperjalanan pulang kemarin. Haizaki.. "-Haizaki Shougo si brandalan saja sampai takut dengannya.-"
Haizaki brandalan.
"Ah Haizaki anak klub basket ya."
Murasakibara mengangguk lagi.
"Kalau dia anak kelas 2-4 harusnya dia ada di pelajaran renang kemarin." Kuroko bergumam pelan.
"Kurochin?"
Murasakibara menyerahkan bungkusan snack kentang, bermaksud menawarkan kepada Kuroko. Tapi Kuroko menolaknya dengan sopan. Murasakibara menarik bungkusan snacknya lagi.
"Jadi pesannya apa Murasakibara-kun?"
"Katanya Kurochin harus datang ke gym setelah kegiatan klub malam nanti selesai."
"Untuk apa?"
"Katanya dia mau bicara."
Kuroko menautkan alis heran. Ia tidak merasa kenal dengan Haizaki Shougo. Ia bahkan tak mengenal satupun senior selain yang berada di klub lukis. Jadi ada urusan apa Haizaki dengannya? Sedikit banyak Kuroko menjadi was-was sendiri. Remaja biru itu masih trauma dengan kejadian di gudang. Tapi kali ini ia mendapatkan pesan dari Haizaki yang notabene seorang laki-laki, bawahan Akashi di klub. Jika perkiraan benar mengenai alasan ia dikerjai kemarin karena kepopuleran Akashi, maka harusnya ia tidak perlu khawatir dengan Haizaki.
"Kapan kegiatan klub kalian selesai?"
"Jam setengah 9 malam."
Malam sekali, aku harus mencari alasan untuk keluar jam segitu.
"Kalau begitu, aku kembali dulu ya Kurochin. Aku harus menambah persediaan camilan dan menyembunyikannya. Kalau Akachin sampai tau, camilanku bisa dibasmi semua."
"Oke. Sampai nanti Murasakibara-kun"
.
.
.
Akashi Seijuurou menyipit heran dari bench, mengawasi pergerakan tim yang menurutnya kurang sepadan hari itu. Keselarasan gerakan Kise dan Aomine masih sepadu biasanya. Tapi Midorima terlihat sangat terobsesi dengan Murasakibara. Meski terkena blok berkali-kali, shooter nomor satu di timnya itu masih saja nekat berlari membawa bola mendatangi Murasakibara.
Yang Akashi amati selama ini, Midorima bukan tipe yang mengatakan isi hatinya lewat kata-kata. Ia lebih suka memberi sinyal kepada lawan bicara dan talk to the point bila memang diperlukan. Tapi sayang lawannya sekarang adalah Murasakibara. Center tim paling tinggi sekaligus paling tidak peka di antara pemain yang lain. Murasakibara terlihat santai saja dan terus memblok pergerakan Midorima dengan mudahnya.
"Oi Akashi, ada apa dengan sepupumu itu? Dia kelihatan sedikit ngotot."
Senggolan Nijimura dibahu diacuhkan. Akashi merasa keanehan Midorima memang sudah sangat mencolok. Karenanya ia segera turun tangan-Akashi diberi kewenangan mengatur tim selama ia yang membuat porsi latihan- menghentikan latih tanding mereka.
"Sudah cukup. Midorima, ini bukan one-on-one kau harusnya mengoper bola kepada Kise atau yang lain. Jangan malah memaksa menerobos pertahanan yang jelas-jelas tak bisa kau lewati."
Midorima mengatur nafas dari tengah lapangan. Ia tetap menatap Murasakibara, menuntut cowok itu mengalihkan perhatian padanya.
"Istirahat lima menit."
"Akachin, boleh aku makan snack?"
Sayang sekali Murasakibara tetap hanya seorang pemuda bongsor yang tidak peka sama sekali. Ia malah ngeluyur mendatangi Akashi di bench. Midorima mendengus merasa gagal.
"Boleh. Tapi sebelum itu kau harus bicara dengan Midorima."
Kaget namanya disebut, Midorima menoleh.
"Midochin? Bicara apa?"
"Entah. Dia seperti ingin bertanya sesuatu padamu. Datangi saja dia dulu."
Final. Akashi kembali menyibukkan diri dengan pendataannya. Sementara Murasakibara berbalik mendatangi Midorima yang masih mematung di tengah lapangan.
"Midochin, aku disuruh Akachin mendatangimu. Katanya kita harus bicara. Tapi kita bicara apa?"
Akashi terlihat mendengus geli dari bench. Jelas ia memerhatikan tingkah Murasakibara yang polos dan hanya memikirkan makanan. Sedangkan Midorima hanya kembali mendengus.
"Ikut aku."
Si rambut ungu hanya mengangguk menuruti, Midorima membawanya keluar gym. Dan saat itu ia tidak melihat kalau Haizaki sedang mendekati Nijimura Shuuzo yang sudah berada didekat Akashi.
"Oi, Shuuzou. Aku mau pulang duluan. Ada seseorang yang harus kutemui."
Akashi menaikkan alis. Seringaian menyebalkan yang dipamerkan Haizaki saat itu entah kenapa serasa ditunjukkan padanya. Ia spontan mengerutkan alis waspada. Sementara Nijimura menatap Haizaki dengan tampang menyeramkan.
"Kau mau apa tadi?"
"Pulang, ada 'hal penting' yang harus kuselesaikan dengan seseorang."
"Siapa?" Kali ini yang bertanya Akashi. Haizaki dan Nijimura mengalihkan pandangan padanya.
"Itu urusanku, bocah kelas satu. Dan aku tidak meminta izinmu. Aku hanya mengatakan kepada Nijimura supaya dia tidak mengadu aneh-aneh kepada pelatih nanti."
"Kubilang siapa?"
Nada bicara rendah, aura intimidasi yang kuat. Haizaki merasa bulu tengkuknya merinding seketika. Nijimura yang paham situasi segera bertindak. Ia berdiri di antara Akashi dan Haizaki. Melerai sebelum terjadi keributan.
"Baiklah kuizinkan pergi. Tapi kau tidak diizinkan pulang duluan dihari berikutnya, Haizaki. Dan kau Akashi, kita harus menyelesaikan seleksi pemain inti pada pertandingan Inter High nanti. Kita tidak boleh lengah."
"Kita tidak akan pernah kalah."
Meskipun jawaban Akashi ditunjukkan kepada Nijimura, tapi matanya masih tertuju kepada Haizaki yang sudah berbalik meninggalkan gym dengan seringaian menyebalkannya.
"Haizaki ingin menemui Kuroko?!"
"Iya, Midochin."
Emerald milik Midorima membulat mendengar penuturan Murasakibara. Firasatnya selama ini terbukti benar. Kuroko sedang diincar oleh brandalan merepotkan bernama Haizaki Shougo. Dari di kolam renang kemarin Haizaki memang memandangi Kuroko dengan tampang aneh.
Apa yang diinginkan si bodoh itu dari Kuroko.
Midorima bingung sekali. Kalau ia beritahu Akashi, ia dapat menjamin sepupu sekaligus kaptennya itu bisa mengatasi masalah ini dengan tuntas dan diakhiri kemenangan atas dirinya. Tapi masalahnya adalah cara penyelesaian yang dipilih Akashi. Remaja merah itu punya sisi frontal yang kadang sangat sulit untuk dikendalikan. Dan jika dugaannya salah, jika Haizaki benar-benar tidak berniat jahat kepada Kuroko, ia yakin Akashi tidak akan langsung percaya dengan Haizaki. Lalu semuanya akan berantakan.
Tapi bagaimana kalau Haizaki memang berniat buruk? Terlambat sedikit saja, Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan Haizaki pada Kuroko. Lalu apa yang akan dilakukan Akashi pada Haizaki. Lalu Midorima sendiri akan merasa bersalah karena lebih memilih tutup mulut.
"Dengar Murasakibara, Ini mungkin hanya perkiraan nodayo. Tapi aku berasumsi kalau Haizaki sedang merencanakan sesuatu yang buruk terhadap Kuroko."
"Sesuatu yang buruk?" Maiubo berhenti dikunyah. Murasakibara juga tidak bodoh untuk mengetahui sebrandalan apa sifat Haizaki dan seringkih apa tubuh Kuroko Tetsuya untuk melawan.
Midorima mengangguk. "Jadi aku ingin kau melakukan sesuatu untuk kebaikan Kuroko. Bukannya aku peduli nodayo." Letak kacamata dikoreksi. "Kau harus..."
.
.
.
Lagi-lagi gerimis.
Jaket hoody yang membalut kaos putih polos ditubuh dijadikan satu-satunya penangkal suhu rendah. Kuroko menyandarkan bahu di depan loker, tempat ia menunggu hujan sewaktu pulang sekolah kemarin. Ia dapat melihat lantai dasar sekolah terang benderang. Gudang yang berada di bawah tangga bahkan terang karena nyala lampu. Remaja baby blue menghela nafas. Alasan yang ia pergunakan untuk keluar malam ini adalah menginap dirumah teman. Dan Kuroko sudah menghubungi Ogiwara kalau ia akan menginap dirumahnya kalau-kalau urusan ini akan memakan waktu. Kuroko berencana tetap tidur dirumah. Tapi jika rumah sudah keburu dikunci, ia tinggal ke rumah Ogiwara saja.
"Ho, kau Kuroko Tetsuya?"
Suara dari arah lorong sebelah kanan. Kuroko menolehkan kepala spontan.
"Kau Haizaki Shougo-kun?"
"Yaya kau benar, cantik."
Seringaian menyebalkan. Akashi tidak pernah memamerkan seringaian jelek seperti ini padanya. Dan tebakan Kuroko tidak salah. Haizaki ternyata memang anak basket. Dia yang berbicara kepada Midorima kemarin.
Tapi pernyataan Haizaki barusan berhasil membuat persimpangan urat muncul di dahi Kuroko. "Aku laki-laki. Tidak cantik."
"Hahahaha! Aku tidak masalah kau laki-laki atau perempuan. Kalau wajahmu cantik dan tubuhmu kecil begini itu sudah cukup."
Orbs biru cerah menyipit waspada. "Apa maksudmu?"
"Dengar, Tetsuya. Perempuan-perempuan jalang itu menyuruhku untuk menyiksamu dan memukulimu karena kau telah menarik perhatian Akashi mereka. Awalnya aku kaget Akashi ternyata seorang bisex yang menyukai sesama jenis. Aku sempat jijik padanya, Tapi melihat tampangmu itu kufikir aku bersedia jadi bisex seperti Akashi."
Haizaki tertawa-tawa, kemudian menjilat jempolnya dengan seduktif. Kuroko jijik sekaligus ketakutan. Tapi ia masih seorang laki-laki. Laki-laki harus bisa melindungi diri. Meski Kuroko yakin betul di dalam gym ada Akashi, ia merasa tidak berhak memanggilnya.
Ia sudah terlalu banyak merepotkan Akashi. Kuroko hanya tidak ingin Akashi lebih marah lagi padanya.
"Lihat wajahku, Tetsuya." Nada bicara Haizaki sangat dibuat-buat. Kuroko meringis saat pipinya diraih sepihak. Dipaksa menatap wajah Haizaki yang melihatnya dengan tatapan mesum.
"Apa yang mau kau lakukan?"
"Memakanmu tentu saja." Tawa keras kembali terdengar, Kuroko merasa lututnya melemas. "Tapi tidak disini. Kau punya pengalaman sex dengan Akashi? kalau sudah coba tunjukan padaku, kalau belum biar aku yang tunjukkan padamu aturan mainnya."
Mata biru melebar mendengar kata sex yang diucapkan Haizaki.
"LEPASKAN AK-!"
BUAGH!
Tinju keras dilayangkan. Kuroko terperanjat menahan nyeri luar biasa di bagian perutnya.
"Kau berisik, tidur sebentar mau kan?"
Cengkraman di pipi dilepaskan, Kuroko langsung terduduk lemas memeluk perutnya. Tidak melihat kaki Haizaki yang melayang siap menendang wajahnya.
DUAK! DUAK!
Dua tendangan beruntun di wajah dan perut, beberapa titik cairan merah lolos dari mulut Kuroko.
Kuroko kehilangan kesadarannya.
.
.
.
"Akachin... Akachin..."
"Apa Murasakibara?"
Selain Kuroko, Murasakibara Atsushi adalah orang kedua yang diperlakukan lembut oleh Akashi. Alasannya tentu saja karena Murasakibara adalah yang paling penurut di antara anggota tim yang lain. Tapi yang aneh, kali ini Murasakibara tengah menatapnya takut-takut. Seperti sedang melakukan pengakuan dosa saja.
"Akachin. Kalau aku mengatakannya Akachin jangan marah ya. Jangan menyita camilanku juga."
Hanya dua macam hal yang ditakutkan Murasakibara si bongsor di dunia ini. Satu, Akashi Seijuurou yang katanya semerepotkan ibunya kalau sedang marah. Kedua, krisis makanan. Titik.
"Memangnya kau mau bilang apa?"
Murasakibara menoleh kepintu, memastikan sesuatu sebelum melanjutkan pengakuan dosanya.
"Tunggu, dimana Zakichin?"
"Dia pulang duluan."
"Ini sudah jam berapa?"
Jam tangan dipergelangan di angkat. "Jam sembilan kurang sepuluh menit." Akashi menurunkan arlojinya. "Kenapa kau pucat begitu, Murasakibara?"
"Akachin, Kurochin sedang dalam bahaya."
Mata delima menyipit tak mengerti. "Coba jelaskan."
"Tadi siang Zakichin memintaku untuk menyampaikan pesan pada Kurochin. Katanya temui Zakichin di gedung sekolah seusai latihan. Tapi ia menyuruhku mengatakan pada Kurochin kalau usai latihan kita jam setengah sembilan malam."
"Itu sama dengan waktunya keluar tadi. Hampir setengah jam yang lalu. Kita selesai jam 9 tepat."
Tapi untuk apa dia menemui Tetsuya.
Murasakibara mengangguk. "Lalu tadi Midochin bilang padaku untuk menyampaikan masalah ini pada Akachin. Midochin punya firasat buruk. Katanya bisa saja Kurochin dikerjai lagi. Memangnya Kurochin salah apa sih?"
"Lanjutkan Murasakibara."
"Eng... Yah begitu pokoknya Akachin hanya boleh menyusul kalau Akachin janji tidak merusuh."
Alis merah naik satu. "Merusuh?"
"Itu yang dikatakan Midochin."
"Midorima dimana sekarang?"
"Dia sedang mencari Kurochin."
"Sialan!"
Papan datar dan data tim diserahkan kepada Murasakibara. "Nijimura-san. Aku harus pergi sebentar." Kemudian Akashi berlari keluar gym. Meninggalkan klub yang masih berlangsung. Kise dan Aomine berpandangan. Kemudian mereka mendekati Murasakibara.
"Akashi kenapa?"
"Kata Midochin aku tidak boleh memberitahu yang lain selain Akachin."
Dan mereka tau merengek untuk mendapat informasi itu percuma karena Murasakibara luar biasa patuh pada dua saudara sepupu Midorima Shintarou dan Akashi Seijuurou.
"Tidak ada cara lain. Kise, ambil 'itu' di dalam tasku"
"Heh? Semuanya?"
"Iya semuanya."
.
.
.
Sakit kepala, nyeri, tubuh tak bisa digerakkan.
Kuroko mengerang sebelum membuka mata. Merasa seluruh pergerakannya terkunci oleh gembok raksasa. Kakinya kaku, tangan serasa menempel dikulit punggung. Udara dingin rasanya menggelitik dada dan perut. Kuroko terkesiap. Sadar kalau tubuh atasnya tidak sedang memakai apapun.
Ia mencoba mengangkat kelopak mata yang sejak tadi terasa berat untuk dibuka, Kuroko lagi-lagi terkesiap. Karena yang menghampiri penglihatannya hanya kegelapan.
"Ho, kau sudah bangun?"
Haizaki!
Kuroko menoleh kekiri, karena suara Haizaki berasal dari sana. Meski ia tak bisa melihat apapun, Kuroko dapat mendengar langkah kaki pemuda itu mendekatinya.
"Haizaki-kun, apa-apaan ini?!"
Pertanyaan panik Kuroko tentu saja mengundang kesenangan tersendiri bagi Haizaki. Bagaimana bocah pemilik wajah datar itu bisa lebih ekspresif daripada yang biasa ia lihat. Bagaimana Kuroko menggerak-gerakkan kepalanya gelisah sampai leher putihnya terekspos menantang. Belum lagi usaha Kuroko untuk menggerakan kaki agar menekuk menutup bagian depan tubuhnya yang telanjang. Haizaki menyisakan celana boxer hitam yang Kuroko kenakan dibalik celana panjangnya.
Mata Haizaki sudah sangat lapar. Lapar sekaligus tidak sabar. Suara rendah Kuroko tidak cukup mengubah mengubah kenyataan bahwa bocah biru itu mengundang untuk dicicipi. Mata hitam keabuan melirik sesuatu yang menyesakkan dibalik celananya. Kemudian tawa keras diperdengarkan oleh mulutnya.
"Tetsuya, aku sudah mengerti sekarang. Mengerti kenapa Akashi bisa sampai tergiur olehmu. Lihat saja tubuhmu di depan cermin. Lihat perut datarmu yang kembang kempis, dua niple merah muda yang kau milikki, lehermu, shit! Kau bisa saja membuat sekumpulan pria straight berbelok menjadi bisex seperti Akashi. Aku bisa dijadikan contoh!"
Mendengar kata-kata Haizaki membuat bulu tengkuk Kuroko merinding. Instingnya berkata kalau ia sedang terancam diperkosa.
"Akashi-kun bukan gay! Kami cuma teman! Jangan membicarakan dia seperti itu!"
"Hahaha! Lucu sekali! Bahkan dalam keadaan seperti sekarang kau masih bisa membelanya. Tetsuya, kau benar-benar sexy."
"Jangan mengatakan hal-hal menjijikan Haizaki-kun! Tidak! Jangan sentuh aku!"
Kuroko spontan terperanjat saat tangan Haizaki menarik lurus kakinya. Tubuh kecilnya jatuh tertelentang dari posisi duduk awal, kemudian ia merasa lututnya melemas, gemetaran.
"Kumohon, lepaskan aku." Kuroko tidak pernah mengira ia akan terjebak dalam situasi seperti ini. Jika saja ia lebih berhati-hati dan mencari tau siapa itu Haizaki. Berbagai penyesalan mulai bermunculan dikepala. mengapa ia harus mendapatkan semua penindasan ini? Penindasan yang lebih parah daripada sebelumnya. Apa sebegitu salahnya jika ia bersikeras ingin berteman dengan Akashi? Tunggu? Apa memang ia hanya ingin berteman? Apa ini karma? Teguran dari tuhan?
Apa mungkin ia sedang diperingati keras agar tidak mendekati Akashi? Lagipula semua pelecehan yang ia dapat beralaskan nama Akashi. Apa waktu itu harusnya ia mendengarkan Midorima saja?
'Jauhi Akashi'
'Kau.. siapa ya?'
Kata-kata mereka waktu itu...
'Awalnya aku benar-benar mau melupakan Tetsuya loh. Maaf ya.'
'Memang yang seperti aku menurut Tetsuya itu bagaimana?'
Tes... Tes...
Dua titik air mata jatuh melewati kain hitam penutup yang menghalangi penglihatan. Isakan samar terdengar sementara Kuroko menahan sensasi aneh saat Haizaki mulai merabai tubuhnya.
"Kau menangis? Manisnya."
Tubuh lebih besar darinya merangkak hendak menjilat cairan benih di pipi. Kuroko meringis lemah.
Kalau sudah begini, yang ada aku hanya makin dibenci Akashi-kun
KRAK! BLAM!
"TETSUYA!"
Suara debam pintu didobrak, disusul suara teriakan nyaring dari arah pintu tadi. Kuroko mendongak spontan. Begitu pula Haizaki.
"Oh Akashi rupanya."
Akashi-kun?
Secercah perasaan lega menggelitik hati Kuroko. Air matanya kembali turun, terharu? Entah. Kuroko hanya tak menyangka yang menyelamatkannya Akashi. Lagi.
Sementara Kuroko tak dapat melihat siapa saja yang datang bersama Akashi, Midorima di samping Akashi langsung menampilkan wajah shock saat melihat kondisi Kuroko.
Setengah telanjang, tubuh diikat sana sini, vibrator berserakan di sekeliling tubuhnya. Lalu sebuah kamera DXSLR.
"Demi Tuhan Haizaki! Apa yang sudah kau lakukan padanya?!"
Kuroko kembali terlihat terkesiap, kaget suara Midorima begitu emosional kali ini.
"Bangsat kau!"
"Kuroko-cchi! Astaga!"
"Apa yang sudah kau lakukan dengan Kurochin?!"
Kise tanpa berfikir langsung masuk ke ruangan yang ternyata adalah ruang ganti klub Volly diikuti Aomine. Klub itu biasanya memang tidak melakukan latihan malam dan tidak pernah dikunci. Jadi cukup mudah menebak dimana Haizaki bisa melakukan tindak kekerasan di dalam area sekolah. Kalau tidak di gudang, ya di ruang klub volly.
Haizaki berdecak sebal, kemudian dengan angkuh menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Menatap sok garang kepada tiga pemuda yang masih berdiri di depannya.
"Aku belum melakukan apa-apa padanya selain mengisap niplenya. Kalau tau kalian datang sangat awal begini, tadi harusnya kucoba cock ring itu pada pe-"
BRUAK!
"AKASHI!"
Orang-orang disana, termasuk Kuroko yang sudah dilepaskan oleh Kise dan Aomine terperanjat kaget melihat bagaimana Haizaki yang bertubuh besar terpental menabrak keranjang berisi tumpukan bola volly.
Pasak berbahan kayu yang besarnya sepanjang tangan Kuroko, barusan menghantam wajah Haizaki dengan keras. Pelakunya tak lain tak bukan adalah Akashi. Midorima berdecih, menyesali kelalaian nya tidak menjauhkan barang-barang peralatan yang berada di dekat mereka sebelum membiarkan Haizaki berbicara.
Terbatuk-batuk, Haizaki memegangi pipinya yang berlumuran darah. Giginya serasa copot semua. Sebelah wajahnya mati rasa. Satu matanya tertutup saat nyeri tiba-tiba berganti mengambil alih indera perasa.
Orbs hitam keabuan membulat tak percaya. Menatap pasak yang dipegang Akashi dengan satu tangan, barusan Akashi memukulnya pakai itu?
"OI! KAU BISA MENGHANCURKAN WAJAHKU, BOCAH!"
Seringaian terpampang di wajah Akashi. "Memang itu rencanaku, keparat!" desisnya sembari mendekati Haizaki.
Midorima spontan meraih tangan Akashi, begitupun Murasakibara.
Kise, Aomine, dan Kuroko membeku ditempat mereka. Haizaki bergidik, spontan melangkah mundur.
Merasa pergerakannya terhambat, remaja dengan helaian merah darah menoleh kebelakang. Menatap wajah Midorima dengan tatapan dingin.
"Lepaskan aku."
Dua bola mata itu bukan lagi berwarna delima.
Bola mata kiri warnanya memudar menjadi merah kecoklatan, hazel. Midorima meneguk liur.
Alter Egonya muncul. Sialan.
"Tenangkan dirimu Akashi. Jangan sampai melakukan hal yang diluar nalar."
"Melakukan hal diluar nalar? Aku sudah pernah melakukannya, kau tau."
Seringaian ini bukannya seringaian biasa. Midorima sampai tak bisa menjawab perkataannya. Murasakibara perlahan mengendorkan pegangan ditangan. Aura intimidasi yang dikeluarkan Akashi sangat menekan. Terasa sampai kebalik daging. Rasanya bisa saja mati kalau berlama-lama disana. Tapi tak satupun dari mereka yang berani melarikan diri.
"Akashi-kun."
Satu tangan yang dilepaskan murasakibara kembali digenggam. Akashi menoleh, mendapati Kuroko berdiri menatapnya.
Matanya tidak sembab, tapi masih berkaca-kaca. Pipinya lebam sebelah. Entah apa yang dillakukan Haizaki pada bocah ini sebelumnya. Tapi tubuh Kuroko sudah kembali dibalut pakaian seragam. Agak kumal disana sini dan sedikit kotor.
"Maafkan aku." Bagaimanapun Akashi tau diri. Penyebab semua ini adalah dirinya. Tubuh Kuroko gemetaran. Bisa terlihat jelas meski remaja musim panas itu mencoba menutupi kondisinya. "Tetsuya, maafkan aku. Ini salahku."
Tidak dijawab. Lebih tepatnya Kuroko tidak tau harus menjawab apa. Tangannya hanya digerakkan mengusap pipi Akashi. "Aku baik-baik saja, Akashi-kun."
Midorima menghela nafas. Aura mencekam yang disebabkan alter ego Akashi sedikit mereda. Meski ia tidak tau apakah warna mata Akashi yang menjadi symbol perubahan kepribadian sudah berubah kembali atau belum, Tapi Kuroko terlihat sudah bisa menenangkan Akashi.
"Midochin, bolehkah aku yang menghancurkan kepala Zakichin?"
"Eh? Tapi aku juga ingin mematahkan hidungnya, Midorima-cchi."
"Kenapa tidak kalian bunuh saja sekalian."
"Jangan bicara yang aneh-aneh, kalian bertiga. Murasakibara, tolong bawah Haizaki ke UKS. Letakkan saja plester dan alkohol serta air bersih didekatnya. Biar dia mengobati luka sendiri. Setelah ini kita antar Kuroko pulang."
Pemilik manik madu dan sapphire saling berpandangan. Kemudian beralih menatap Midorima dengan pandangan protes. Tapi Murasakibara memilih menurut dan berjalan kearah Haizaki.
"Zakichin, ayo ke UKS."
"Tidak usah! Aku bisa melakukannya sendiri! Sudah! Aku mau pulang!"
"Baguslah, aku juga tidak mau repot-repot menyediakanmu plester." Jawab Murasakibara sembari menguap. Haizaki mendengus kesal. Kemudian berjalan terseok menuju pintu.
"Shougo."
Panggilan yang tak mungkin diabaikan. Haizaki menoleh malas. Akashi tengah menatapnya tajam, masih dengan dua bola mata hetero miliknya.
"Kau kusarankan untuk pindah sekolah."
Sejujurnya itu bukan saran. Tapi perintah.
"Siapa kau berhak memerintahku?"
Dibalas seringaian."Aku ini mutlak. Kupastikan kau tidak betah berada disini. Ah ya. Jangan lupa menyerahkan surat pengunduran diri dari klub besok. Kau tidak diterima lagi di klub basket."
"Nijimu-"
"Kau itu hanya penghalang. Aib sekolah. Tidak pantas menyandang nama pemain inti klub basket Teiko. Tidak peduli sebagus apa skill yang kau miliki. Aku sudah memiliki seseorang yang akan mengganti posisimu." Akashi melirik Kise. "Kise, kuharap kau bersedia menjadi pemain intin kami."
"E-eh? Tentu saja aku mau Akashi-cchi!"
"Wah kau hebat Kise aho."
"Selamat Kisechin."
"Kau pantas mendapatkannya Kise."
"Apa-apaan ini! Kau cuma pemain kelas satu yang belum jadi Ketua Tim. Jangan bela-"
Kata-kata tercekat di tenggorokan. Tatapan dingin yang diperlihatkan Akashi memang tidak pernah tidak mengerikan. Tapi ada empat mata pelangi lain yang menatapnya seolah mengatakan 'kau tidak dibutuhkan, pergi sana!'
"Ck! Terserah! Aku juga muak dengan klub bodoh itu!"
Haizaki menyerah, ia berbalik meninggalkan lima remaja kelas satu dibelakangnya dengan perasaan kesal luar biasa.
Semua orang disana menghela nafas. Kise mengoceh protes kepada Midorima karena tidak memberitahukan masalah ini pada ia dan Aomine dan berakhir dengan mereka yang menyongok Murasakibara dengan dua pack snack Maiubo rasa kari. Aomine hanya berdalih ia mengikuti Kise karena dipaksa. Sedangkan Murasakibara cuek saja memakan snacknya.
"Akashi-kun."
Sejak tadi orbs azure terpaku menatap dua bola mata berbeda warna didepannya. Kini warnanya sudah kembali memerah. Entah bagaimana, rasanya Kuroko tidak menyukai sisi lain Akashi yang barusan. Tapi secara bersamaan ia juga tidak ingin mengabaikan sisi itu dan mengacuhkannya. Apa ini yang membuat Akashi ingin menjauhinya?
"Ayo kita pulang, Tetsuya."
Akashi tau ia sedang di amati. Kuroko berusaha menyingkap sesuatu dari kejadian barusan. Tapi Akashi berusaha mengabaikan.
Salah satu rahasia yang ingin kusembunyikan memang sudah dapat kau ketahui.
Tapi bukan ini yang berusaha kututupi selama ini, Tetsuya.
To be Continued
Finally, satu rahasia Akashi akhirnya terungkap disini.
Jadi guys, Akashinya ini punya dua kepribadian (Alter Ego). Resca agak kaget pas baca review kemaren. Ada yang bisa nebak. Hiks.
Nah jadi guys, disini yang Resca pakai dalam keseharian adalah Oreshi-nya Akashi. Tapi Resca lebih suka Akashi manggil Kuroko pakai nama 'Tetsuya' meski dia lagi dalam mode Oreshi. Kalau mode Bokushi disini, Akashi tetap sehawt biasanya kok. Tapi dia jadi lebih sadis aja. Kayak adegan dia mukul Haizaki pakai pasak net volly tadi. Gak kebayang sakitnya muka Haizaki deh. Maafin Resca ya, Haizaki-kun.
Btw ini Resca rombak sedikit chapternya. Resca ngakak sendiri pas ngeliat typonya :').
Maafkan atas kecerobohan Resca ya minna.
Reviewnya ditunggu! Saran dan Kritik kalian Resca perhatiin banget guys.
Sampai ketemu di next Chapter yak.
