"Tidak mungkin! Dia harus segera diganti! Kagami!"

"Memangnya kenapa?"

"Cideranya karena melawan Midorima belum sembuh total! Jika dia memaksakan dirinya seperti ini, dia tidak akan bisa bermain lagi."

"Seirin, member change"

"Aomine! Dia datang!"

'Tetsuya, Kagami, kalian harus berjuang! Aku mohon kalahkan dia!'


Haruna Monogatari

Disclaimer :

Kuroko no Basuke (c) Fujimaki Tadatoshi

(And the Picture)

Warn. : OC, Alur mengikuti anime KnB, Typo(s), dll.

RnR?


Dua perempat pertama selesai. dan sekarang memasuki istirahat 10 menit. Tanpa pikir panjang, Haruna segera berlari menuju ruang locker Seirin.

"Harunacchi! Mau ke mana?" Tanya Kise.

"Tolong jaga Haruko!" Haruna terus berlari.

.

Haruna masuk ke ruang locker.

"Yorisato-chan!" Riko terkejut dengan kehadiran Haruna.

"Maaf, aku terlambat." Kata Haruna.

"Ke mana saja kau?! Kami kesulitan menghadapi para pemain Touou dan Momoi!" Riko memarahi Haruna.

"Maaf, tadi ada sedikit masalah dengan adikku, aku tadi melihat di bangku penonton." Jawab haruna.

"Eh? Adikmu? Haruko-chan ada di sini?" Tanya Kuroko.

"Ya."

"Apa tidak apa-apa dia keluar rumah dan menonton pertandingan ini? Lalu jika Haruna-chan di sini, berarti dia sendirian?" Tanya Kuroko.

"Dia keras kepala memaksa ingin ikut. Dia bersama Kise dan Midorima."

"Kenapa tidak di ajak ke sini saja?" Tanya Kuroko.

"Tidak ada waktu membicarakannya, Tetsuya! Sekarang pikirkan saja bagaimana kalian akan menghadapi Aomine." Haruna duduk di samping Kuroko.

"Baiklah, karena kalian sudah bekerja keras di babak pertama, aku membawakan kalian ini!" Riko membawa kotak makanan. "Ini akan memulihkan energy kalian!"

Riko menyerahkan kotaknya pda Hyuga, tapi Hyuga, Koga dan Kagami memasang wajah yang menyedihkan setelah melihat isi kotak itu.

"Iris mereka! Aku sudah memberitahumu untuk mengirisnya!" Kata Hyuga sambil menangis.

"Aku mencucinya jadi kalian bisa makan dengan kulitnya dan kalian bisa makan banyak." Jawab Riko

"Mitobe, kau membawanya?" Tanya Izuki pada Mitobe dan di jawab anggukan oleh Mitobe. Mitobe mengeluarkan kotak makanan dan membukanya. Isinya adalah madu lemon dengan lemon yang sudah diiris dan terlihat enak. Semua memakan madu lemon itu dengan gembira.

"Mitobe aku bersyukur kau ada di tim kami." Kata Hyuga dengan mata yang berkaca-kaca. Sedangkan Riko terlihat berjongkok di pojok ruangan.

"Kuroko, kau tidak mau?" Tanya Kagami pada Kuroko.

"Tidak, aku baik-baik saja." Jawab Kuroko.

"Kuroko-kun, kau bermain di seluruh dua perempat pertama. Aku akan menggantikanmu sebentar, kau perlu mengembalikan tenagamu." Kata Riko.

"Ano, tolong biarkan aku bermain di babak kedua."

"He?"

"Tidak, Tetsuya! Kau harus duduk di bench di awal babak kedua."

"Tapi melawan Aomine akan sangat sulit tanpa Kuroko. Apa kita bisa melakukannya?" Tanya Hyuga. "Misdirectionmu tidak akan bisa bekerja di seluruh pertandingan, kan?"

"Aku rasa kita tidak perlu melakukannya, aku mengawasi mereka dengan eagle eye milikku dan keefektifanmu sudah berkurang sedikit. Sebaiknya kau duduk beberapa saat." Kata Izuki.

"Aku bisa melakukannya, tidak! Aku akan melakukannya." Kuroko terdiam sesaat. "Aku akan melakukan apapun untuk mengalahkan Aomine-kun."

"Aku menghargai semangatmu, tapi….." Kata Hyuga.

"Kantoku, boleh aku ambil itu?" Tanya Kagami pada Riko.

"Eh?"

"Kuroko." Kagami memanggil Kuroko lalu memasukkan lemon ke dalam mulut Kuroko. "Duduk saja di bangku dan makan itu, baka! Yang mengatakan kau tidak bisa bermain basket sendirian adalah kau sendiri, kan? Serahkan pada kami!"

"Itu benar, Tetsuya. Jika kau tidak bisa menurut, aku akan memasukkanmu ke dalam sumur." Kata ancaman dari Haruna membuat Kuroko sempat sweatdrop sesaat.

"Yosh! Kita akan menyimpan Kuroko-kun untuk sementara di babak kedua. Pertempuran kita akan dimulai di quarter keempat. Tapi tidak ada gunanya jika kita tidak bisa kembali lagi. Bersiaplah untuk bermain setiap saat untuk berjaga-jaga jika kita kalah." Kata Riko yang dijawab anggukan oleh Kuroko. "Makan lemon saja!"

"Eh?" Kuroko pun memandang lemon yang dia bawa dengan tatapan yang seperti 'Aku-harus-memakan-ini?'

"Bagian dalam mereka sangat kuat. Kita akan memasukkan Tsuchida-kun di quarter ketiga. Kau dan Mitobe-kun akan menjaga ringnya." Perintah Riko yang dijawab anggukan oleh keduanya. "Hyuga-kun dan Izuki-kun lakukan seperti apa yang kalian lakukan di babak pertama. Jaga si jamur nomor 9 dan si megane nomor 4. Masalah terbesar adalah Aomine-kun, tapi hanya ada satu orang yang bisa menghadapinya. Kagami-kun, kami bergantung padamu!"

"Osu!" Jawab Kagami.

"Ayo Seirin, Fight!"

"YAH!"

Seirin berjalan menuju lapangan kali ini bersama Haruna.

"Kagami-kun." Kuroko berjalan di sebelah Kagami.

"Apa? Kau sudah lebih tenang?"

"Hai. Yang lebih penting, aku belum melihat batas Aomine-kun saat dia berkembang. Tidak hanya itu, seperti Kise-kun dan Midorima-kun, dia mungkin telah tumbuh. Karena itu, dia masih belun jelas. Berhati-hatilah." Jelas Kuroko panjang lebar.

"Aku tidak bisa meminta lebih!" Jawab Kagami sambil tersenyum.

"Tidak hanya itu, Kagami…" Haruna yang berjalan di belakang mereka mulai berbicara. Kagami hanya menoleh ke arah Haruna. "Permainan Aomine benar-benar berbeda dari pemain basket pada umunya. Dia tidak hanya cepat, dia bahkan lebih dari monster. Aku bertaruh, kau pasti belum pernah bertemu pemain seperti dia di Amerika. Karena itu, berhati-hati saja tidak cukup."

"Serahkan saja padaku!" Jawab Kagami.

"Berjuanglah, Kagami." Haruna menatap Kagami. Meski wajahnya datar, dapat dilihat dari matanya harapan yang sangat besar. Wajah Kagami bersemu merah seketika.

'Gadis ini, dia benar-benar berharap aku bisa mengalahkan Aomine dan dia percaya padaku.'

"Tentu saja, Yorisato!"

"Panggil saja aku Haruna."

"Eh? Uh, ya Haruna."

Para pemain Seirin pun sudah berkumpul di bench lapangan. Dan semua perhatian tertuju pada Aomine yang berjalan menuju bench lapangan.

"Dia datang."

Aomine menyingkirkan handuk yang ada di kepalanya dan seringai muncul di wajahnya.

"Ayo segera kita lakukan." Katanya.

'Dia benar-benar berbeda dengan Aomine yang aku kenal saat di Teiko.'

Batin Haruna yang menatap Aomine dengan tatapan yang cukup tajam.

"Yo. Kau sudah selesai pemanasan?" Tanya Kagami yang berdiri berhadapan dengan Aomine.

"Teruslah berjuang hingga akhir, jika kau bisa melakukannya." Balas Aomine masih dengan seringainya.

Quarter ketiga pun dimulai. Haruna berdiri di samping bench pemain Seirin dan fokus pada pertandingan. Wajahnya memang masih datar, tapi dia benar-benar memikirkan apa yang harus dilakukan jika Seirin benar-benar terpojok.

Saat ini bola dipegang oleh Aomine dan dihadang dengan cepat oleh Kagami.

'Kagami tidak akan bisa mengambil ini. Dia tidak memiliki kecepatan untuk menandingi Aomine. Jika kita memasukkan Tetsuya sekarang, dia tidak akan berdaya hingga pertandingan berakhir. Ditambah lagi, kaki Kagami yang sedang cedera. Bagaimana ini? Berpikir Haruna, pikirkan sesuatu!'

Haruna mulai merasa gelisah. Firasat buruk masih menghantuinya dan memecah konsentrasinya.

Saat ini, Aomine sudah bersiap. Dia mendrible bola, lalu dengan kecepatan yang tidak biasa, dia melewati Kagami dengan mudahnya dan bahkan Kagami tidak berkutik.

"Aomine tidak melakukan fake dan Kagami tidak bisa mengejarnya!" Gumam Haruna.

Aomine mendrible bola menuju ring tapi langsung dihadang oleh Tsuchida dan Mitobe.

"Bantuannya cepat!"

"Dan ada dua orang!"

Pemain yang ada di bench terlihat sedikit lega saat ada dua orang yang menghadang Aomine. Tapi, Aomine dengan cepat melakukan fadeaway. Kagami pun langsung melompat di belakang Aomine dan hendak menepis bola dari tangan Aomine tapi sayang, Aomine sudah melemparkan bola itu menuju ring dan masuk.

Hyuga pun menangkap bolanya dan memberikan umpan cepat pada Kagami yang sedang berlari menuju ring Touou.

"Umpan cepat!" Kata Momoi.

Kagami mendrible dengan cepat dan melompat hendak melakukan dunk. Tapi Aomine dengan cepat menepis serangan Kagami.

"Waah hampir saja!" Kata Fukuda.

"Tadi itu…" Haruna sedikit tercengang dan menatap ke arah Kagami. Semua yang ada di bench langsung memperhatikan Haruna. "Kagami melompat dari garis free throw dan akan melakukan dunk?" Semua yang di bench langsung menatap Kagami.

'Lompatan Kagami… benar-benar luar biasa! Kemampuan lompatannya masih bisa berkembang lebih hebat lagi!'

Kembali Aomine berhadapan dengan Kagami. Kecepatan Aomine luar biasa bahkan Kagami tidak bisa melawannya. Setelah pertarungan Aomine dengan Kagami yang berakhir membuat Kagami terjatuh, Aomine kembali menuju ring Seirin. Di hadang oleh 3 orang, Tsuchida, Mitobe dan Hyuga.

"Tidak akan kubiarkan!" Teriak Hyuga sambil melompat.

Tapi Aomine memang tidak terhentikan. Dia bergerak menuju belakang ring dan melemparkan bola dari belakang ring tanpa membalikkan badannya. Masuk! Bola yang dilempar Aomine masuk ke ring dengan mulus.

"Aomine… seperti biasa, kau memang gila." Gumam Haruna yang menyaksikan sendiri bagaimana bola itu masuk.

Kembali one-on-one antara Aomine dan Kagami. Bola ada di tangan Aomine saat ini. Pergerakan cepat Aomine mulai bisa terkejar oleh Kagami tapi tetap saja, Aomine bisa mencetak poin dengan mudah.

"Tidak ada bentuk untuk cara Aomine mendrible dan menembak. Dia tidak memiliki batas, tidak mungkin dihentikan. Unstoppable scorer, Ace Kiseki no Sedai, Aomine Daiki." Kata Haruna yang membuat semua pemain di bench tercengang.

'Aku bahkan tidak bisa memikirkan cara yang tepat untuk menghadapi Aomine. Bukannya aku tidak percaya pada kemampuan mereka, tapi mereka yang sekarang sepertinya tidak akan bisa menghadapinya. Terlalu cepat bagi mereka untuk menantang Kiseki no Sedai meski mereka mengalahkan Kise dan Midorima. Bagaimana ini? Apa aku harus menyerah?'

Haruna sudah tidak bisa berpikir jernih. Aomine menguasai pertandingan ini. Tapi saat Kagami berusaha menghentikan Aomine, Kagami malah melakukan foul.

'Tidak bisa. Ini sudah mencapai batasnya! Sudah tidak bisa!'

Aomine lalu menghampiri Kuroko yang sedang duduk di bench.

"Masuklah, Tetsu. Ayo selesaikan ini. Dan Haruna, apakah kau ini bodoh?!" Kata Aomine yang sekarang menatap Haruna.

"Apa katamu?!" Haruna menatap tajam Aomine.

"Apakah yang dikatakan Akashi waktu itu tidak cukup? Kau tidak berguna! Bahkan jika kau membantu Tetsu dan timnya, kau tidak akan bisa menang!"

"Tutup mulutmu, Aomine! Kau tidak berhak berkata seperti itu padaku!"

"Kau sudah hancur! Tidak ada lagi harapan, Haruna! Pertandingan ini sudah jelas."

Haruna melangkahkan kakinya menuju Aomine dan hendak menampar Aomine tapi tangannya ditahan oleh Kuroko.

"Cukup Haruna-chan. Tahan emosimu." Kata Kuroko.

Haruna hanya membuang mukanya.

"Kuroko-kun." Panggil Riko.

"Aku baik-baik saja, aku sudah cukup beristirahat. Ittekimasu." Kuroko berdiri dan melepas kaos putihnya.

"Tunjukkan padaku kekuatan cahaya dan bayangan yang baru." Kata Aomine.

Kuroko pun masuk menggantikan Tsuchida. Permainan dimulai dan permainan Seirin mulai menunjukkan kemajuan. Hyuga mencetak poin pertama Seirin di babak kedua dan permainan mereka sudah lebih teratur dengan kehadiran Kuroko di lapangan. Izuki mencetak poin setelah menerima pass Kuroko.

.

Pertandingan masih terus berlanjut. Bola dipegang oleh Izuki dan mengopernya pada Kuroko, sedangkan Kagami sudah bersiap menuju ring Touou. Kuroko langsung melakukan ignite pass tapi, Aomine yang berhasil memotongnya.

"Kau pikir siapa yang telah menangkap kebanyakan passmu?" Kata Aomine lalu mendrible bola melewati tiga pemain Seirin. Kagami dan Kuroko pun segera mengejar tapi sayang, mereka gagal menghalau serangan Aomine dan berakhir dengan terjatuhnya cahaya dan bayangan itu.

'Sudah cukup! Aku tidak ingin melihat kita hancur lebih dari ini! Mungkin yang dikatakan Aomine benar. Aku memang tidak berguna. Aku bahkan tidak bisa memikirkan satu strategi pun! Sudah cukup! Hentikan!'

Haruna menunduk dan mengepalkan tangannya.

"Yo-Yorisato?" Kawahara yang melihat Haruna sedang mengepalkan tangannya pun memanggilnya.

"Aku baik-baik saja."

"Duduklah, tenangkan dirimu." Perintah Riko.

"Maafkan aku, aku tidak bisa melakukan apapun." Kata Haruna lirih setelah dia duduk.

"Tidak, Yorisato-chan. Aku tahu kau masih belum terbiasa dengan kami. Ini juga pertama kalinya kau ikut dalam pertandingan. Jangan salahkan dirimu sendiri."

Haruna terdiam. Dia sebenarnya tidak ingin melihat ke lapangan tapi dia tetap harus fokus pada pertandingan meski dia tidak ingin.

"Kagami?!" Haruna melihat Kagami yang sepertinya terlihat aneh dengan kakinya.

Riko langsung melihat keadaan Kagami. Tanpa pikir panjang, Riko langsung menggantikan Kagami dengan Tsuchida.

"Kagami-kun." Riko memanggil Kagami.

"Hah? Kenapa lagi? Tidak ada masalah dengan perbannya!" Kata Kagami.

"Sudah duduk saja." Jawab Tsuchida.

"Aku baik-baik saja! Lagipula pertandingan masih berlangsung. Aku tidak bisa pergi sekarang."

"Sudah cepat duduk!" Bentak Riko yang membuat Kagami terkejut.

'Kagami, dia menghindari pemakaian kakinya yang sedang cidera dan memindahkan beban pada kaki yang lain. Dia tidak bisa bermain lagi di sisa pertandingan ini.'

Itulah yang Haruna pikirkan saat dia melihat kaki Kagami. Kagami duduk di sebelah Haruna. Dia memasang handuk di kepalanya.

"Hei, dia gila." Kata Wakamatsu yang memperhatikan Kagami.

"Eh?" Sakurai yang ada di sebelahnya pun bingung.

"Apa dia akan membunuh seseorang?"

"Heeh?"

"Sejauh ini, semua yang melawan Aomine menyerah dan terpaku di tempat begitu melihat kehebatannya. Dengan kata lain mereka kehilangan kemauan mereka. Tapi dia, setelah kalah begitu parah dan lebih dari sebelumnya, dia memancarkan kemarahan. Aku belum pernah melihat orang seperti dia." Kalimat Wakamatsu sampai di telinga Haruna.

'Ya, itu benar. Tapi meski begitu, Kagami tetap tidak bisa melanjutkan pertandingan ini.'

Batin Haruna yang menatap Kagami. Pertandingan pun kembali di lanjutkan.

"Maaf, Haruna." Kata Kagami lirih.

"Untuk apa?"

"Kau memintaku berjuang dan mengalahkan Aomine, tapi aku malah berakir seperti ini."

"Aku yang harus meminta maaf, Kagami. Seharusnya, aku tidak membebanimu dengan memintamu mengalahkan dia. Tetsuya pasti juga merasakan hal yang sama denganmu. Ini semua salahku." Suara Haruna terdengar sedikit bergetar.

Pertandingan dihadapan mereka benar-benar terlihat menyedihkan. Tertinggal 40 poin dan mereka sudah tidak bisa melakukan apapun.

"Sudah cukup!" Haruna membanting papan jalan yang dia bawa ke bench dan berlari dari bench.

"Oi Haruna! Kau mau kemana?" Kagami terkejut dan langsung melayangkan pertanyaan itu.

Haruna berlari. Dan hendak menghampiri Haruko. Dia berencana ingin pulang.

'Aku tidak bisa melihat pertandingan itu lagi! Aku ingin pulang!'

Dan sampailah Haruna pada Haruko yang masih bersama Kise dan Midorima. Dengan nafas yang tersengal-sengal, Haruna menghampiri Haruko.

"Haruna? Ada apa?" Tanya Haruko.

"Kita pulang sekarang, Haruko!"

"Kenapa? Pertandingannya belum bera-"

"Sudah berakhir! Semuanya sudah berakhir! Ternyata mereka memang tidak bisa mengalahkan Aomine."

"Haruna, tapi aku tidak ingin pulang. Aku akan bertemu dengan Tetsuya-kun."

"Terserah kau saja!" Kali ini air mata Haruna sudah menggenagi matanya. Dia membalikkan tubuhnya, dia tidak ingin Kise dan Midorima melihat air matanya mengalir lalu dia berlari menuju ruang locker Seirin.

Haruna duduk di bench ruang locker. Dia menangis. Tidak ada seorang pun yang melihat tangisannya.

'Maafkan aku, Tetsuya, Kagami. Aku hanya membebani kalian. Aku tidak bisa melakukan apapun. Kita sudah kalah dan aku tidak bisa melakukan apapun.'

Haruna tetap di dalam ruang locker hingga pertandingan usai. 112-55 untuk Touou.

.

"Ne, Kise-kun, Midorima-kun, aku pergi dulu." Haruko berjalan dengan wajah sedih.

"Ha-Harukocchi mau kemana –ssu?"

"Menemui Haruna dan Tetsuya-kun. Aku akan menenangkan mereka." Lalu Haruko berjalan menuju ruang locker Seirin.

Semua pemain pun memasuki ruang locker. Haruna segera menghapus air matanya. Dia menunduk dan menyembunyikan wajahnya.

"Yorisato-chan. Jadi kau kesini ya." Tanya Riko.

Tidak ada jawaban dari Haruna.

"Sial!" Kagami meninju locker dengan wajah kesal.

"Minna! Kita masih ada dua pertandingan melawan Meisei dan Senshinkan! Kita tidak punya waktu untuk bersedih."

Lalu, tiba-tiba ada suara dari balik pintu.

"Ano, sumimasen. Bolehkah aku masuk?" Suara lembut dan indah itu sudah tidak asing lagi di telinga Kuroko dan Haruna.

"Eh? Siapa itu?" Tanya Hyuga,

Lalu pintu terbuka, menampilak sesosok gadis berambut pirang sepunggung, bermata biru keabu-abuan, memakai kaos berwarna putih dan celana jeans panjang, dengan jacket tipis berwarna biru muda.

"Sumimasen…" Gadis itu terlihat sungkan.

"Ka-kau? Yorisato?" Tanya Hyuga.

"Yorisato Haruna? Eh? Bukan!" Kata izuki.

"Ha-Haruko-chan?" Kuroko berdiri dan menghampiri Haruko.

"Ha-Haruko? Haruna? Eh?" Koganei melihat Haruko lalu melihat Haruna secara bergantian.

Haruna berdiri dari duduknya dan menghampiri Haruko.

"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Haruna pada Haruko.

"Etoo, aku ingin bertemu Tetsuya-kun."

"Kau siapa?" Tanya Riko pada Haruko.

"Eh? Uh, eto, namaku Yorisato Haruko. Aku adik kembar Haruna. Yoroshiku, Minna-san."

"KE-KEMBAAARRRRR?!" Beberapa pemain Seirin terkejut.

"Y-Yah, lalu ada tujuan apa kau datang kemari?" Tanya Hyuga.

"Aku ingin bertemu Tetsuya-kun."

"Eh? Ada hubungan apa kau dengan Kuroko?" Tanya Koganei.

"Haruko-chan itu pacarku." Jawab Kuroko.

"Haah?!"

Loading.

10%

20%

40%

60%

80%

100%

"HEEEHHHH?!" Semua terkejut termasuk Kagami.

"Kau benar punya pacar?" Tanya Furihata.

"Hai." Jawab Kuroko.

"Bu-bukannya pacarmu itu Momoi?" Tanya Izuki.

"Aku kan sudah bilang dia manajer timku saat SMP." Jawab Kuroko.

"Kau benar-benar beruntung Kuroko!"

"Kau gila Kuroko!"

"Dia bahkan lebih cantik dari Momoi!"

"Sihir apa yang kau pakai Kuroko?!"

Haruna kembali duduk di bench.

"Heh? Haruna kau baik-baik saja? Jangan menangis lagi, Haruna." Haruko mendekati Haruna dan memeluknya.

"Aku baik-baik saja, Haruko. Lebih baik kau mengkhawatirkan Tetsuya."

Haruko menatap Kuroko yang tertunduk.

"Tetsuya-kun…."

"Ka-kalau begitu, kami duluan." Dan para pemain Seirin keluar dari ruang locker. Kagami, Kuroko, Haruna, Haruko. Itulah yang masih tersisa. Tidak ada yang bersuara. Kuroko mendudukkan diri di bench dan tertunduk.

"Nee." Kagami memecah keheningan dan menghadap ke Kuroko. "Mungkin ini batas kita." Tidak ada jawaban dari Kuroko. "Aku kira kita bisa lebih jauh lagi. Tapi hanya sampai di sini." Kuroko tidak juga menjawab. "Menghadapi kekuatan yang luar biasa, aku kira kita tidak bisa menang hanya dengan kerja sama." Kagami berjalan menuju pintu dan keluar dari ruang locker. Kuroko pun terkejut.

"Tetsuya-kun." Haruko duduk di sebelah Kuroko.

"Haruko-chan."

Haruko menangis dan memeluk Kuroko. "Tetsuya-kun, aku merindukanmu." Kuroko membalas pelukan Haruko dan mengusap pelan punggung gadis itu. Haruna memperhatikan mereka. Tidak terasa, cairan bening sudah mengalir deras di pipinya.

'Okaa-san, kenapa begitu perih? Apakah aku jahat? Aku sedih melihat saudara yang aku sayangi bahagia bersama orang yang dia cintai. Aku sangat ingin merasakannya, aku ingin merasakan pelukan hangat 'orang itu', aku ingin merasakan kasih sayang 'orang itu' seperti dulu. Tapi sekarang, aku sudah tidak bisa. Sekarang dia begitu jauh, dan dia sudah tidak memiliki perasaan yang sama seperti dulu. Kami-sama, apakah aku tidak diizinkan bahagia?'


Yosh! Chapter 3 updated!

Semoga anda sekalian menimatinya, meski OCnya agak sedikit aneh. Terima kasih sudah membaca atau hanya numpang lewat. Hana sangat menghargai. Hana juga minta kritik, saran atau pendapat dong, bisa lewat review atau PM.

Sampai jumpa chapter depan.

Hanariko Catarina.