Wife in your life

By. Hikari Hyun Arisawa

Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto, but this fic is mine!

Rated : M

Pair : SasuSaku

Genre : Drama, Hurt/comfort

Summary : Bagaimana kehidupan Sakura yang kini berstatus sebagai istri kedua dari Uchiha Sasuke? Inilah kisah mereka yang bermula dari janji suci yang diikrarkan dalam suatu ritual yang disebut 'Pernikahan'.

AU. Normal POV. OOC. RnR please.

.

Not bashing chara! Just OOC! Maaf jika ada yang tersinggung dengan chapter 1 kemarin. Saya tidak pernah bermaksud membashing Hinata.

.

Tak terasa saya telah menelantarkan fic ini. *geplaked*

Okeh! Enjoy this one!

====000====

Chapter 2

Sudah satu jam yang lalu Sakura terbaring sendirian di salah satu kamar pasien yang berfasilitas lengkap. Ino sedang ada pasien lain. Ibunya pulang sebentar karena ada urusan di rumah. Dan Sasuke? Jangan berharap dia akan datang.

Sedari tadi Sakura sibuk membuka situs jejaring sosial dari handphone-nya untuk mengusir kebosanan.

Tiba-tiba dia merasa ada seseorang yang mengetuk pintu dan membukanya. Sakura menoleh untuk melihat siapa yang datang. Mata Sakura membulat melihat orang itu.

"Sasuke-kun…" gumam Sakura dengan wajah tak percaya.

Sasuke yang saat itu masih memakai jas dokternya yang berwarna putih mendekat ke arah tempat tidur Sakura. Perlahan Sasuke menggenggam pergelangan tangan Sakura. Diperiksanya denyut nadi istrinya itu. Kemudian Sasuke menstabilkan tetesan infuse Sakura pada bagian regulator selangnya.

"Bagaimana hasil pemeriksaannya?" tanya Sasuke sambil tetap memeriksa kestabilan tetesan infuse Sakura.

Sakura hanya diam sambil menunjuk amplop coklat di atas meja. Dia bingung ingin berkata apa. Dia masih takut Sasuke akan marah padanya seperti tadi pagi. Walaupun kenyataanya sekarang Sasuke memperlakukannya dengan wajar, tetapi tetap saja dia masih merasa takut jika suaminya itu akan marah lagi padanya.

"Lupakan kejadian tadi pagi," kata Sasuke yang seolah tahu apa yang kini dipikirkan Sakura.

"Eh?" Sakura agak terkejut dengan perkataan Sasuke barusan.

Sakura sedikit senang dengan hal itu. Dia sempat berpikir Sasuke akan membahas masalah tadi pagi lagi. Syukurlah jika akhirnya Sasuke tidak mempermaslahkan pertengkaran tadi pagi.

"Jangan diulangi," lanjut Sasuke dengan wajah datar seperti biasanya.

Mata Sakura kembali meredup. Kesedihan kembali terpancar dari wajah cantiknya. Lagi-lagi Sasuke bersikap tidak adil padanya. Padahal kejadian tadi pagi sama sekali bukan salah Sakura. Lalu, kenapa dia yang harus tidak mengulang perbuatannya?

Perlahan Sasuke meletakan tangannya di kening Sakura untuk mengecek suhu badannya. Sakura kembali terdiam. Perasaannya masih kesal dengan sikap Sasuke yang selalu tidak adil padanya. Dengan pelan dia menepis tangan Sasuke yang berada di keningnya.

"Aku bukan pasienmu," kata Sakura lirih.

Sasuke hanya diam dan menatap Sakura dengan wajah kesal karena sikap Sakura. Sejujurnya, Sakura sedikit menyesal pada dirinya sendiri yang menolak sikap baik Sasuke. Padahal, jarang sekali Sasuke memperlakukannya dengan baik. Tetapi dia juga tidak bisa menutupi rasa kesalnya karena sikap Sasuke yang selalu menyalahkannya.

"Aku tidak mau satu rumah dengan Hinata," kata Sakura.

"Itu tidak mungkin,"

"Kenapa tidak mungkin?"

"Tidak satu rumah dengan Hinata, berarti tidak satu rumah denganku. Orangtuamu bisa curiga," jawab Sasuke.

Sakura terdiam. Dia kembali mengingat pernikahannya dengan Sasuke yang terkesan sangat terburu-buru. Bahkan orang tua Sakura pun tidak tahu apa-apa. Haruskah dia memberitahukan hal yang sebenarnya pada orang tuanya? Sepertinya itu tidak mungkin. Karena jika Sakura melakukannya, maka dia akan kehilangan Sasuke untuk selamanya.

"Aku... juga istrimu 'kan, Sasuke-kun?" tanya Sakura dengan pandangan redup.

"Pertanyaan bodoh,"

"Jawab saja. Aku hanya ingin mendengar jawabanmu," suara Sakura lebih pelan dari yang tadi.

"Hn," jawab Sasuke singkat.

Sakura hanya tersenyum miris mendengarnya. Semua orang juga tahu kalau dia adalah istri sah dari seorang Uchiha Sasuke. Namun hampir semua orang tidak tahu kebenaran yang terjadi di dalam rumah tangga mereka.

"Aku ada oprasi lagi," kata Sasuke sambil melihat hasil tes pemeriksaan milik Sakura.

Lagi-lagi Sakura terdiam menatap suaminya. Dia sudah menduga kalau Sasuke hanya sekedar mampir kemari. Dia tahu akan sia-sia jika mengharapkan sesuatu yang lebih dari suaminya.

"Pergilah," jawab Sakura sambil memiringkan tidurnya membelakangi Sasuke.

Sejujurnya dia sangat tidak rela jika sekarang Sasuke harus pergi lagi. Setidaknya untuk sekarang, dia benar-benar membutuhkan suaminya itu untuk terus berada di dekatnya. Namun dia juga tahu kalau itu tidak mungkin. Berharap sesuatu pada suaminya sama saja dengan mengharapkan sesuatu yang percuma. Tidak ada hal yang pasti dalam hubungan mereka.

"Hn. Istirahatlah," Sasuke pun meninggalkan tempat itu.

===000===

Keheningan masih menyelimuti kamar tempat Sakura dirawat. Semenjak tadi hanya bunyi jam dinding yang terus bergerak tiap detiknya. Sementara itu Sakura kembali terbangun dari tidurnya. Entah sudah berapa kali dia tertidur walaupun intensitas tidurnya sangat sebentar. Pasti pengaruh obat yang membuatnya terus mengantuk.

Perlahan ada seseorang yang membuka pintu kamar itu. Sakura menoleh untuk melihat siapa yang datang. Terlihat dua orang pria yang merupakan teman kecil Sakura. Mereka berjalan mendekat ke arah ranjang pasien yang sedang ditempati Sakura.

"Hey, Naruto," sapa Sakura lemah.

"Bagaimana keadaanmu? Sudah lebih baik eh?" tanya pria yang dipanggil Naruto oleh Sakura itu.

Sakura hanya mengangguk. Sesaat dia melirik pria yang berdiri di samping Naruto. Pria berambut merah yang sangat dia kenal.

"Lama tak bertemu, Sakura," sapa Pria berambut merah itu.

Sakura hanya tersenyum kecil menatap pria itu.

"Kau tidak berubah ya. Masih sebodoh dulu," lanjut pria berambut merah itu sambil membelai lembut rambut Sakura.

"Kau juga masih sebaik dulu, Gaara," kata Sakura sambil tersenyum lembut pada pria itu.

"Ehem!" Pria bernama Naruto itu nampak tidak menyukai pemandangan di depannya.

"Apa ini reuni dari mantan sepasang kekasih yang baru saja bertemu setelah sekian lama? Hooo~ indah sekali," kata Naruto dengan nada yang dibuat-buat.

"Apa-apaan kau Naruto! Aku kan hanya-"

"Ya ya ya, Gaara. Terserah kau sajalah. Hahaha.." lanjut Naruto yang memotong perkataan pria bernama Gaara itu.

"Haha.. Kau memang tidak pernah berubah ya, Naruto," kata Sakura sambil tertawa menatap sahabatnya itu.

"Eh, mana Teme?" tanya Naruto.

Sakura terdiam sesaat. Wajahnya kembali terlihat murung.

"Dia sedang ada oprasi," jawab Sakura lirih.

"Apa kalian sedang ada masalah?" tanya Naruto dengan penasaran.

Lagi-lagi Sakura terdiam. Sementara Naruto dan Gaara juga ikut terdiam menunggu kata-kata dari Sakura. Namun Sakura tidak mengatakan apapun. Dia terus terdiam dan kemudian menatap Gaara dengan pandangan sayu. Sementara itu Gaara balas menatapnya dengan tatapan lembut. Hal itu membuat Naruto merasa menjadi pengganggu di antara mereka dan Naruto sangat mengerti bahwa kedua sahabatnya itu perlu bicara berdua.

"Ah, kau kan sedang sakit. Tidak baik kalau terlalu keras berpikir. Aku masih ada urusan. Aku pergi dulu. Kalian berdua baik-baik yaaa~" tanpa menunggu persetujuan dari Sakura dan Gaara, Naruto pun langsung meninggalkan tempat itu.

"Cih, selalu saja," desis Gaara.

"Naruto memang selalu seperti itu 'kan," kata Sakura.

"Ya. Kau benar," kata Gaara sambil duduk di bangku sebelah kanan ranjang Sakura.

Untuk beberapa saat mereka berdua terdiam. Terlalu bingung untuk memulai suatu pembicaraan. Tidak tahu harus mulai dari mana. Sejak awal mereka berdua sudah sama-sama tahu kalau semuanya akan menjadi seperti ini.

"Ino sudah memberitahuku semuanya," Gaara memecah keheningan mereka.

"Aku tahu Ino pasti memberitahumu," kata Sakura lirih.

"Sakura-"

"Aku tidak apa-apa, Gaara. Kau lihat sekarang aku masih hidup 'kan?"

"Apa kau pikir aku tahan melihatmu terus seperti ini?" nada bicara Gaara sedikit meninggi.

Sakura terdiam dan memejamkan matanya sesaat.

"Semua ini konsekuensi dari pilihanku sendiri," desis Sakura.

Gaara mengalihkan pandangnnya ke arah pintu. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan keputusan Sakura yang masih tetap bertahan dengan pria seperti Sasuke.

"Aku tahu itu keputusanmu sendiri," ucap Gaara dengan suara lemah tanpa menatap Sakura sama sekali.

Sakura hanya tersenyum miris. Digenggamnya erat tangan kanan Gaara yang berada disebelahnya. Hal itu membuat Gaara kembali menatap wanita itu.

"Jangan terlalu khawatir padaku. Aku baik-baik saja," Sakura tersenyum lembut padanya.

"Hm, baiklah. Tapi kalau ada apa-apa kau bisa mengandalkanku,"

Sakura kembali tersenyum mendengarnya.

Sesaat Gaara sempat melihat makanan yang masih utuh di meja dekat ranjang.

"Kau belum makan ya?" tanya Gaara.

Sakura hanya menggeleng pelan.

"Bangunlah, makan dulu. Kau harus sehat demi bayimu,"

Perlahan Sakura duduk dan bersandar pada tumpukan bantal di belakangnya.

"Aku tidak lapar," kata Sakura dengan malas.

"Kau harus makan. Setidaknya untuk saat ini, kau harus menurutiku!"

Sakura hanya menatap Gaara dengan pandangan sebal yang dibuat-buat.

"Hey, ayolah Gaara. Aku bukan pasienmu," kata Sakura sambil menggembungkan pipinya.

"Kau tahu? Hanya pasien khusus yang ku perlakukan seperti ini,"

"Hahaha…" Sakura tertawa mendengarnya.

"Hhh, ayo cepat makan," Gaara mengambil mangkuk bubur di meja dan mengaduknya.

"Ya, ya, Pak Dokter," kata Sakura sambil tersenyum menatap Gaara yang akan menyuapinya.

===000===

"Aku belum bilang ya kalau aku dipindahkan di rumah sakit itu,"

"Benarkah? Syukurlah.. kau tidak harus ke luar kota lagi," Sakura menatap senang pada Gaara yang semenjak tadi masih di sampingnya.

"Aku akan lebih sering menemuimu," kata pria itu.

Sakura menjadi terdiam untuk beberapa saat. Dia masih duduk di ranjangnya. Menatap nanar pada sosok pria di sampingnya. Pria yang pernah menjadi kekasihnya.

"Apa kau tidak suka jika aku terus menemuimu?" tanya Gaara.

"Bukan begitu. Tapi.."

"Tapi apa?" tanya Gaara lagi.

Sakura kembali terdiam. Dia mengalihkan pandangannya ke arah lain.

"Kau terlalu baik padaku, Gaara," desis Sakura.

Perlahan Gaara beranjak dari kursinya. Dipeluknya dari samping tubuh wanita berambut pink yang sedang duduk di ranjang itu. Mata Sakura terbelalak. Tak menyangka Gaara akan memeluknya lagi setelah sekian lama.

"Aku tidak bisa mencegah keputusanmu untuk terus bersama Sasuke. Begitupun kau. Kau tidak bisa mencegah keputusanku untuk terus mengharapkanmu," ucap Gaara sambil terus memeluk tubuh ringkih Sakura dengan erat.

Tanpa mereka berdua sadari, beberapa saat tadi ada seseorang yang masuk ke dalam kamar pasien ini. Dia berdiri di dekat pintu masuk sambil menatap pemandangan di depannya dengan wajah datar.

"Sepertinya aku mengganggu acara nostalgia kalian," kata seseorang itu.

Hal itu membuat Gaara melepaskan pelukannya pada Sakura dan menatap orang yang baru saja bicara.

"Lama tak bertemu, Sasuke," sapa Gaara pada pria itu.

Sementara Sasuke hanya menatap Gaara dengan pandangan tidak suka.

"Sakura, nanti ku hubungi lagi," kata Gaara sambil bersiap meninggalkan tempat itu.

Saat berjalan melewati Sasuke, Gaara sengaja menabrakkan bahunya ke bahu Sasuke. Keduanya saling menatap dengan pandangan tidak suka. Setelah itu, Gaara benar-benar meninggalkan kamar ini.

Perlahan Sasuke bejalan mendekat ke arah ranjang Sakura. Dia menatap istrinya itu dengan wajah yang lain dari biasanya. Sorot mata Sasuke terlihat berbeda. Sorot mata yang penuh dengan amarah yang membuncah.

"Untuk apa dia kemari?" tanya Sasuke dengan nada dingin.

"Menjengukku," jawab Sakura sambil tetap duduk di ranjang dan membenahi selimut yang menutupi kaki sampai perutnya.

"Cih! Apa setiap pria yang menjengukmu akan bersikap semesra itu?"

"Apa maksudmu?" kini Sakura berani menatap suaminya.

"Pulang! Aku mau kau pulang sekarang juga!" nada bicara Sasuke mulai meninggi.

"Apa kau lupa kalau aku sakit?" tanya Sakura dengan wajah tak percaya.

"Aku tidak peduli! Aku tidak mau kau tetap disini!"

Sakura kembali terdiam dan mengalihkan pandangannya menuju jendela di samping ranjangnya. Dia menatap anak-anak kecil yang sedang bermain dengan riang di taman dari balik jendela.

"Apa kau bersikap seperti ini hanya karena Gaara memelukku?" tanya Sakura tanpa mengalihkan pandangnnya dari jendela di sampingnya.

Sasuke hanya terdiam.

"Kau bisa marah saat orang lain menyentuhku. Sementara aku.. apa kau tahu sakitnya perasaanku setiap kali kau bercinta dengan Hinata?"

Sakura berbalik menatap wajah suaminya lagi.

"Hinata adalah istriku," kata Sasuke sambil menatap Sakura dengan tatapan tajam.

"Ya! Hinata adalah istrimu! Wajar kalau kau bercinta dengannya! Sementara Gaara bukan suamiku jadi kau selalu berhak memarahiku," Sakura menatap tajam wajah suaminya sebelum melanjutkan kata-katanya.

"Kau bebas bercinta dengan Hinata karna dia istrimu! Lalu, seandainya jika Gaara juga suamiku, maka aku juga bebas bercinta dengannya? Apa begitu maksudmu SASUKE UCHIHA?"

Plakk!

Sebuah tamparan keras di pipi kiri wanita pink itu membuat keduanya terdiam. Ya! Sasuke baru saja menampar istrinya.

Sakura menyembunyikan wajahnya di antara kedua lututnya yang ditekuk. Sesaat terdengar isak tangis darinya. Entah ini tamparan keberapa yang diterimanya dari Sasuke.

Sementara Sasuke berbalik membelakangi istrinya. Dia tetap terdiam. Mungkin sedikit menyesal karena lagi-lagi dia tidak bisa mengendalikan emosinya dan bersikap kasar pada Sakura.

"Aku tidak mau pulang," kata Sakura lirih.

"Terserah!" Sasuke hanya melirik Sakura sesaat dan berjalan menuju pintu keluar.

Blam!

Suara pintu yang baru saja dibanting oleh Sasuke membuat isak tangis Sakura menjadi lebih jelas. Dia kembali sendirian di ruangan ini dan kembali menjadi orang yang paling menyedihkan.

===000===

Seharusnya Sakura tahu itu. Seharusnya dia tahu keputusannya untuk menikah dengannya adalah suatu kesalahan. Lalu, jika keadaannya sudah seperti ini, sedikit pun dia tidak bisa berbuat apa-apa. Seperti terjebak dalam kerumunan orang. Tidak bisa terbebas jika kau tidak mengikuti alurnya. Sedikit saja mengerti bagaimana harus menyikapi komitmen hidupnya. Tidak ada yang harus disesali. Keputusannya waktu itu adalah sebagian dari takdirnya. Takdir yang mengharuskannya menjadi pihak yang tersakiti. Siapa yang harus disalahkan disini? Dia yang salah mengambil keputusan? Atau Sasuke yang selalu tidak adil? Atau menyalahkan Tuhan atas semua ini?

Salah. Tuhan tidak pernah bersalah. Tuhan tahu itu yang terbaik untuk mereka. Suatu saat mereka pasti tahu kalau ada hikmah di balik semua ini. Dan sampai saat itu tiba, mampukan mereka dapat bertahan untuk terus hidup bersama?

TBC

.

Sedikit bocoran untuk chapter depan saya bikin flashback dulu untuk lebih mengenal karakter mereka semua. Saya apdet fic inih setelah saya semesteran ya..

Karna nanti setelah semesteran saya libur kuliah 2bulan, jadi bisa fokus ngetiknya. *curcol*

Well, boleh minta ripiu? *diinjek*

.

Special thanks for:

SAASU7KEY jUst cHipmUnkZ, Ame ChochoSasu, Zeroyuuki, Miss Uchiwa 'Tsuki-Chan, Merai Alixya Kudo, Rie HanaKatsu, Ichaa Youichi, Kazuma B'tomat, Hikari Meiko EunJo, SaGaara Tomiko, Fae-chan, Arzhetty, pochan, Mhaya Hatake, , Yue minMie Lolly, Vampire 9irL, Sa-chan, twin's saku chan, aya, gieyoungkyu, aya-na rifa'i, 4ntka-ch4n, edogawafirli, D kiroYoiD, Auriya Kazuya, Liam-chan, Chi hachi-nigatsuchan, Iea, Rangiku Himeka Yoichi, 789, Meiko luna-chan sasori, Kurosaki Kuchiki, Valkyria Sapphire, syea, kirei love uchiharuno, d-She ryuusei Hakuryuu, Vany Rama-kun, Aurellia Uchiha, Y-Y, LucCy ZaNiitha, Sd-chan, Kenshin, Lilyna Sky Pea, Pink Uchiha, Senayuki-chan, jiho.

.

NB: Maaf kl salah nulis nama dan maaf kalau ada nama yang lupa saya cantumkan..

.

Happy New Year Minna-san! *peluk readers satu2* ^^