Disclaimer : All Characters belong to Masashi Kishimoto

Warning: Cerita pasaran, bahasa gak jelas. OOC puarah...

A/N : Makasih readers yang udah baca, review, ngelike dan follow. Mungkin author kurang interaktif dengan tak membalas komen tapi percayalah. Karena review dari kalian i keep going on and on writing as fast as i can.

Semoga tetap follow cerita ini.

Suami Pengganti.

.

Chapter 03

.

Heart Break.

.

.

Pesawat mendarat di Jepang, Ino kembali dari bulan madunya di Yunani bersama Itachi. Mereka melewati beberapa hari dengan damai berduaan saja. Ada rasa canggung mengingat ia dan Itachi menghabiskan malam pertama dengan ehem...panas. Ino menghindari alkohol guna mencegah hal itu terulang lagi tapi tak bisa dipungkiri, Itachi tergolong pria seksi dengan caranya sendiri dan ia terang-terangan memberitahu Ino kalau dia tak akan keberatan berbagi ranjang dengannya dan membuat Ino merona terus menerus dengan komentar – komentar menjurusnya.

Mengejutkan sebenarnya ia bisa melihat sisi lain Itachi, Pria itu penuh perhatian dan ia benar-benar mendengarkan. Selama ini ia berpikir pria itu sebagai pria dingin, arogan dan perhitungan dan ternyata ia salah. Dalam beberapa hari Ino merasa sangat akrab dengan Itachi dan dia bahkan menceritakan hal yang tak berani ia ceritakan pada Sasuke. Sangat mudah bersikap terbuka dengannya karena Itachi mendengarkan tanpa menghakimi dan karena ia juga bukan kekasihnya, Ino tak perlu berusaha ekstra untuk membuat pria itu terkesan. Ino adalah gadis tegar yang tak ingin terlihat meneteskan air mata di depan orang lain. Apa lagi hanya karena patah hati, Tetapi kali ini dia menangis hingga matanya bengkak sambil mengutuki Sasuke dan Sakura di dada pria itu. Itachi tak berkomentar dia hanya memeluknya seakan dia berempati pada kesengsaraan yang Ino rasakan.

Pria itu melihatnya ketika ia terpuruk dan dengan suka rela menjadi tempat curhat-nya. Dulu ia selalu bercerita tentang segalanya pada Sakura, Sahabat baiknya dan sekarang gadis itu merebut Sasuke darinya. Ino pikir keakraban Sakura dan Sasuke sekedar platonik semata. Siapa yang salah kalau begini?, Dia yang membuat Sasuke merasa tak puas, Sasuke yang memilih mencari hal yang tak Ino punya pada wanita lain atau Sakura yang berakrab-akrab ria dengan pacar orang. Ino menghibur dirinya dengan mantra 'Mungkin kita tak berjodoh' tapi tetap saja sesak rasanya.

Sebuah tepukan lembut di punggungnya membuat Ino terkejut.

"Mengapa kau melamun begitu?" Itachi telah berdiri di sampingnya.

"Aku hanya berharap untuk tak pernah kembali ke Jepang."

"Takut bertemu mantan?" Ejek pria yang kini menjadi suaminya.

"Tentu saja, Aku takut bila aku melihat Sasuke. Aku akan merendahkan diriku dengan menangis dan memohon-mohon agar ia menerimaku kembali setelah dengan kejamnya meninggalkan aku di altar."

"Tenang saja Ino, Aku akan memastikan dirimu tak akan berbuat bodoh. Aku tak akan membiarkan istriku mengejar mantan kekasihnya."

"Menurutmu apa aku akan bisa balas dendam pada Sasuke?"

"Coba pikir apa yang akan membuat Sasuke kesal?"

"Aku tak tahu."

"Mantan akan terganggu bila kita move on dengan cepat. Aku dan kamu mengenal Sasuke dengan baik. Ego-nya yang besar pastinya akan terluka bila melihat kau tak meratapi dirinya."

"Jadi apa yang harus aku lakukan?"

"Tersenyumlah, jangan tunjukan padanya kalau ia telah menyakitimu. Tunjukan kalau dia tak berarti untukmu."

"Dengan cara apa?"

"Berbahagia denganku atau berpura-puralah. Dia pasti akan terusik melihat mantan kekasihnya begitu cepat melupakannya dan berbahagia dengan kakak-nya sendiri. Lagi pula Sasuke itu kompetitif dan mengidap inferior kompleks pada diriku. Ia tak akan diam saja melihatmu bersamaku."

"Aku hanya ingin membuat mereka menderita, Itachi."

"Sudahlah Ino, Ada cara lain untuk mengobati patah hati."

"Apa itu?"

Itachi tersenyum, wajahnya melembut dan menatap Ino seolah dia satu-satunya objek yang berada di ruang pandangnya. "Jatuh cinta lagi."

Perhatian macam itu membuat Ino merasa spesial setelah kepercayaan dirinya luluh lantak akibat Sasuke.

Mereka mengambil bagasi dan keluar dari bandara. Ino hendak permisi dan pulang ke apartemennya mungkin mereka bisa bicara lain waktu, tetapi genggaman Itachi pada pergelangan tangannya membuatnya bertanya-tanya.

"Kau mau ke mana Ino?"

"Tentu saja pulang. Aku akan kembali ke apartemenku." Sial bagi Ino dia sebenarnya sudah mengepak barangnya dalam kardus dan menyewakan apartemennya kepada orang lain. Mengingat ia akan tinggal dengan Sasuke begitu mereka menikah.

"Tidak bisa, Kau harus tinggal denganku."

"Tapi Itachi kita tak benar-benar menikah."

"Siapa yang tahu soal itu, Di mata keluarga dan teman-teman kita telah menikah. Jadi aneh bila kita pisah rumah."

"Ya sudah, Kebetulan aku sudah terlanjur menyewakan apartemenku. Kalau begitu bisa aku kirimkan barang-barangku ke rumahmu?"

"Tentu saja, Ayo kita pulang sekarang."

Itachi mengeluarkan ponselnya dan menelepon sopirnya.

"Mobilnya akan tiba di sini setengah jam lagi. Bagaimana kalau kita menunggu sambil minum kopi?"

"Baiklah," Ino menurut saja. Kebetulan ia butuh kafein. Duduk terlalau lama dalam pesawat terbang membuatnya lelah.

"Apa kau siap menjadi Nyonya Uchiha?." Tanya Itachi sembari meminum kopi-nya.

Ino baru menyadari Itachi menyukai kopinya hitam dan pekat, seperti halnya kesukaan Sasuke. Ia tak bisa berhenti membandingkan mantan kekasihnya dan suaminya.

Wanita itu hanya tersenyum simpul, "Aku rasa aku memang di takdirkan menjadi Nyonya Uchiha."

"Sepertinya memang begitu."

"Itachi, Mengapa kau menikahiku."

"Karena diam-diam aku menyukaimu."

Jawaban Itachi benar-benar tak terduga. Saking terkejutnya Ino hampir tersedak kopinya. Matanya membelalak menatap Itachi tak percaya

"Serius?," wanita itu bertanya. Bagaimana mungkin pria itu menyukainya, mereka bahkan tak pernah benar-benar bicara.

Itachi terkekeh melihat ekspresi wajah Ino yang melongo. "Aku hanya bercanda Ino. Sebenarnya aku sayang saja bila upacaranya jadi sia-sia. Kau tahu kan ayahku dan ayahmu mengeluarkan uang yang cukup banyak untuk mewujudkan pernikahan impianmu."

Ino tercenung dan tampak sedikit muram, "Semuanya nyaris sempurna kecuali mempelai prianya kabur."

"tapi kau berhasil mendapatkan pengantinya kurang dari lima menit." Itachi mencoba menghibur.

"Apa ada alasan lain?, tak biasanya kau bersikap impulsif."

"Bila kau menginginkan alasan. Aku bisa memberikanmu seribu alasan. Yang jelas aku akan menikmati mempunyai istri tanpa harus repot-repot mengencani wanita dan dealing with their drama."

"Apa kau pikir aku bukan ratu drama?"

Satu alis Itachi terangkat, "Are you?"

"Of course i am. Apa kau berubah pikiran untuk mengajakku tinggal bersama?"

"Tidak, Aku rasa sedikit drama akan membuat hidupku yang monoton lebih menarik, Istriku."

Semburat merah muda mewarnai pipi wanita berambut pirang platina itu, mendengar Itachi memanggilnya istri. Aneh saja rasanya. "Apa kau akan selalu memanggilku begitu?."

"Apa kau tak suka?, aku bisa memanggilku sweet heart, darling, wifey, atau Bae."

"Oh Itachi, Ini memalukan."

"Aku harap kau akan terbiasa." Itachi terkekeh lagi. Ia tak menduga Ino begitu mudah merona. Itachi hanya mengenalnya sebagai wanita bertangan besi yang begitu serius meniti kariernya.

"Tak menyangka pria serius sepertimu bisa menggombal ."

"Aku juga tak menyangka wanita sepertimu begitu mudahnya tersipu."

"Wanita seperti apa aku di matamu?"

"Hm.." Itachi mengetuk-ketukan jari telunjuknya di meja seolah ia sedang berpikir keras. "Kau penuh percaya diri, berani, bossy, keras kepala dan terkadang terlalu emosional. Kira-kira itu gambaran yang aku dapatkan dari Interaksi kita di meja perundingan."

Ino menarik nafas panjang, " Kau selalu punya argumen untuk mendapatkan apa yang kau mau dari perusahaanku. Selama ini negosiasi di antara perusahaan kita selalu dimenangkan olehmu."

"Mungkin kau bisa membalasku dengan memenangkan negosiasi di kamar tidur." Ucap pria itu tanpa malu.

.

.

Mereka tiba di rumah Itachi yang terletak di rural area. Jaraknya kurang lebih empat puluh lima menit berkendara dari pusat kota. Area itu begitu tenang, di penuhi rumah-rumah mungil yang kebanyakan ditinggali keluarga urban. Ino menduga pria itu tinggal di sebuah mansion mewah yang di penuhi pelayan tetapi ia terkejut ketika mobil berhenti di sebuah rumah yang tampak sederhana bagi pria seperti Itachi Uchiha. Dia CEO Uchiha corps. Dia mampu membeli kompleks hotel mewah untuk ditinggali tetapi pria itu memilih sebuah rumah munggil bergaya western berlantai dua. Perpaduan batu alam dan dinding kayu pada eksteriornya memberikan kesan alami dan hangat. Jendela-jendela besar memastikan setiap ruangan mendapatkan sinar matahari dan udara mengalir ke dalam. Ino langsung jatuh cinta pada rumah itu. Sekilas ia melihat kebun yang luas di penuhi bunga dan tanaman perdu. Di tengah-tengah taman berdiri sebuah patio yang atapnya ditumbuhi pohon wisteria. Ino langsung membayangkan dirinya duduk minum teh dinaungi bunga wisteria keunguan menjuntai dari atas.

"Rumahmu mengagumkan." Ino berdecap, Dari dulu Ino ingin tinggal di rumah seperti ini. Seperti halnya rumah orang tuanya, tapi Sasuke lebih memilih apartemen posh yang berada di salah satu gedung pencakar langit. Pria itu beralasan lebih praktis tinggal di pusat kota karena dekat dengan kantor dan mall.

"Aku senang kau menyukainya. Sekarang tempat ini adalah rumahmu. Kau bisa mengaturnya sesukamu kecuali perpustakaan dan ruang kerjaku."

Lantai kayu berderit karena langkah-langkah mereka. Itachi membawa kopernya dan Ino menaiki tangga menuju lantai dua. Ino mengikuti pria itu. Membuka pintu menuju kamar tidur yang lapang dengan ranjang besar bertiang empat. Terdapat jendela menghadap arah timur membuat siapa pun yang tidur di sini akan mendapatkan sinar matahari pagi. Tak banyak pernak-pernik dekorasi menghiasi ruangan ini. Tembok hanya dihiasi sebuah lukisan seorang ninja dan deretan kunai di bawahnya dan sebilah Katana di atas rak. Ino mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan memutuskan ruangan ini kurang sentuhan feminin. Semuanya serba macho dan gelap.

"Kau akan tidur di sini Ino."

"Bukanlah ini kamarmu?" Ino menduga dari deretan sepatu pria yang terpajang rapi di rak.

"Kamar kita."

"Hey, Aku mau tidur di kamar lain saja."

"Sayang sekali aku tak punya. Dua ruangan lainnya telah menjadi ruang kerjaku. Kau bisa tidur di ranjang ini atau di sofa."

"Aku tinggal di rumah orang tuaku saja." Ino merengut.

"Apa kau mau membuat mereka kecewa. Kita baru saja menikah kau mau kembali ke rumah orang tuamu." Itachi berjalan melintasi ruangan mendekati Ino yang berdiri di dekat ranjang.

"Mau apa kau mendekat?"

"Hm...Minta jatah, Aku sudah menahan diri untuk tidak menyentuhmu selama di Yunani. I want my little minx back." Pria itu menyeringai licik.

"Ayolah Itachi. Kau tahu aku super mabuk malam itu."

" Tak mengubah fakta aku sudah mengecap kenikmatan dirimu dan menginginkannya lagi. Mengapa kau jadi malu-malu begini, tak ada yang salah kalau aku menginginkan istriku melayaniku."

" Simpan komentar sexist-mu, Sejak kapan wanita wajib melayani pria, kau pria chauvinist. Jangan mendekat." Ino melangkah mundur dan tersandung. Ia jatuh terlentang di kasur. Itachi tak membuang kesempatan untuk menindih wanita itu. Dengan Itachi berada di atasnya Ino tak bisa bergerak. Ia hanya menatap wajah pria itu yang kini begitu dekat.

"Itachi, " Wanita itu mengucapkan namanya dengan lirih. Ia mengamati wajah Itachi dengan tatapan tak percaya.

"Apa?" Pria itu mendekatkan bibirnya ke bibir Ino.

"Kau banyak keriput, Mau coba krim anti ageing yang aku pakai? Lumayan bisa mengencangkan kulit." Tiba-tiba saja Ino bicara begitu.

Apa pun niat Itachi tadi langsung buyar. Pria itu berguling ke samping.

"Memang kenapa kalau keriput?"

"Kan jadi terlihat tua."

"Memang aku sudah tua. Kau pernah dengar Men aging like a wine? Semakin tua pria itu semakin enak. Lagi pula pria tak pernah terobsesi ingin terlihat awet muda seperti wanita dan buang banyak uang dan waktu untuk itu."

"Apa kau tak suka melihat wanita muda nan cantik dan seksi.?"

"Tentu saja."

"Nah, Itu satu alasan mengapa wanita harus menjaga penampilan. Kalau tidak nanti lakinya diambil orang"

"Aku berpendapat kalau pria yang berselingkuh menggunakan kalimat istriku tak lagi menarik sebagai pembenaran hannyalah pria bodoh yang tak benar-benar mencintai istrinya. Tentu saja penampilan itu punya daya tarik tersendiri. Tapi rupa akan berubah seiring waktu. Aku lebih peduli pada kepribadian seorang wanita karena aku ingin sebuah hubungan yang bertahan selamanya."

"Ternyata kau cukup romantis juga. Di zaman marak perceraian kau masih menginginkan pernikahan yang langgeng."

"Tentu saja, apa kau tak mempunyai sentimen yang sama?"

"Wanita mana yang ingin bercerai. Hanya terkadang situasi tak memungkinkan lagi."

"Kalau begitu, Apa kau mau mengusahakan dan menjalani pernikahan ini? Aku ingin kau berdiri di sampingku menjadi istriku."

"I am your wife." Ino menunjukkan jari manisnya yang berhiaskan cincin.

"Then do what a wife do"

"Maaf, tapi aku tak punya bakat memasak dan bersih-bersih. Apa kau pria macho yang berpikir tempat istri itu di dapur dan mengurusi anak? Bila iya aku rasa kita tak akan pernah cocok."

"Tidak aku tak berpikir begitu, kau menangani perusahaan ayahmu dengan baik. Cerdas dan berlidah tajam. Aku tak memandang wanita lebih rendah dari lelaki. Kau pun bisa mendominasiku bila kau mau."

"Aw, Apa kau memancingku lagi."

"Serius, aku tak keberatan menjadi budakmu Ino."

Ino tertawa, "Kau, sang pria alfa. Yang di kantornya sangat ditakuti dan disegani mau tunduk padaku."

"Memang salah kalau aku ingin memuja istriku. Lagi pula kalau tak salah kau pun selalu menurut pada Sasuke. Aku sampai bingung melihat wanita yang begitu keras kepala dan sanggar di ruang rapat tak berani berargumen dengan kekasihnya sendiri. Kau selalu menurut dan dia memperlakukanmu dengan sesuka hati."

"Itu karena aku takut kehilangan Sasuke. Aku memilih untuk tidak bertengkar, bukankah pria suka perempuan yang patuh?"

"Tidak semua. Aku paham Ino, kau memberikan segala hal yang Sasuke minta darimu agar dia merasa senang. Kau melakukannya karena kau sangat mencintainya, Tapi merendahkan dirimu bukanlah cara yang baik untuk mempertahankan seseorang. Seperti yang kau lihat pada akhirnya Sasuke merasa bosan padamu karena kau membuat segalanya begitu mudah."

"Aku, Entah sejak kapan bersikap begitu pada Sasuke. Kau tahu kan. Sasuke begitu populer, Meski kami pacaran para wanita tak berhenti mendekatinya dan Sasuke tak pernah terang-terangan menolak pendekatan mereka. Itu membuatku takut kalau suatu hari aku akan tergantikan."

"Bila Sasuke membuatmu merasa Insecure seperti itu, memang lebih baik dia meninggalkanmu. It's not love if you compromise yourself too much. Anggaplah ini sebuah pembebasan."

"Tapi Itachi , apa yang harus aku lakukan? Hatiku sakit sekali. Aku tak bisa menerima dia meninggalkanku begitu saja padahal aku selalu berusaha menjadi pacar yang baik dan sangat pengertian." Ino menatap langit-langit. Membicarakan Sasuke selalu membuat bulir air matanya mengalir. Luka ini masih segar dan mengangga. Ino tak tahu bagaimana harus menyembuhkannya dengan cepat.

Ino menemukan Itachi menghapus air mata yang membasahi pipinya dengan Ibu jari. "Biarkan perasaan itu pergi dan perlahan waktu akan memupus rasa sakitnya. Lagi pula ada aku di sini yang akan menjauhkan pikiranmu dari Sasuke."

"Bagaimana?"

"I will be your distraction."

"Bukankah tak adil bagimu Itachi?, Aku tanpa sadar selalu membandingkan dirimu dengan Sasuke dan berharap kau adalah dia. Kau pikir aku bisa menjadi istrimu dengan hati yang tak utuh seperti ini."

"Kau pikir aku tak sadar, Ino aku menawarkan diriku untuk kau manfaatkan dan aku tak keberatan karena aku yakin tak lama lagi kau akan menyadari aku berbeda dari adikku. Aku akan berusaha membuatmu bahagia. Bila kau mengizinkannya."

Ino hanya bisa melihat determinasi di mata pria itu. Dia tahu Itachi adalah orang yang berpegang teguh pada kata-katanya. Mungkin salah menggunakan Itachi sebagai pelampiasan dan pengganti Sasuke tapi pria itu yang menawarkan dirinya. Itachi hanya ingin menolongnya dan Ino pun menggenggam tangan pria itu.

"Itachi, Bantulah aku untuk melupakannya."

"Aku akan melakukan semua hal yang kau minta Ino, Selama aku mampu."

Itachi merengkuh Ino dalam pelukannya. Membiarkan wanita itu menuangkan kesedihan yang ia tanggung di dadanya. Ia marah pada Sasuke yang telah membuat senyum menghilang dari wajah cantik Ino tapi ia akan membuat wanita itu tersenyum kembali. Ia berjanji pada dirinya. Itachi sendiri tak pernah mengalami jatuh cinta, mungkin ia punya hubungan singkat di sana-sini dengan wanita. Tapi itu tak cukup memberikan informasi mengapa dan ia peduli dan ingin melindungi wanita itu. Meski ia tahu Ino bisa menjalani ini tanpa bantuannya. Mungkin rasa ketidakadilan atau kasihan menuntunnya untuk menikahi Ino. Tapi lama-lama ia menyukainya dan tak ingin Ino merasa tersia-siakan. Memeluknya seperti ini membuat Itachi sadar Ino juga seorang wanita yang rapuh.

Itachi mendesah pendek, memeluk tubuh ramping itu dengan lebih erat dan membelai rambut pirangnya. Tangisan Ino berubah menjadi isak yang kian lama kian lirih dan membuat hati Itachi mengerut mendengarnya.

"Menangislah Ino, luapkan rasa sakitmu. Aku yakin kau tak akan membiarkan satu pria menghancurkan dirimu."

Ino akhirnya melepaskan pelukannya. Mereka berdua dalam posisi terbaring di ranjang. Merasa malu telah bersikap histeris. Ino membuat jarak dengan duduk di pinggir ranjang. Itachi ikut duduk dan mencoba menahan rasa gelinya melihat wajah Ino yang berantakan. Maskaranya meleleh menodai pipinya. Sepertinya wanita itu tak sadar.

Ino menatap mata onyx pria yang berusaha menghiburnya dan ia sedikit heran mengapa Itachi terlihat seperti sedang mengulum senyum. Pria itu merogoh saku celananya dan menyerahkan saputangan pada wanita itu.

Ino menerimanya dan dengan tak sangat tidak elegan menggunakan saputangan mahal itu untuk membuang ingusnya yang ikut keluar gara-gara menangis.

"Tentu saja, Aku akan buktikan pada Sasuke aku hidup lebih bahagia tanpa dirinya."

Itachi terkekeh, "Sebelum itu. Lebih baik kau lihat penampilanmu. Lain kali pastikan memakai make-up yang waterproof, sayang."

Ino langsung cepat-cepat mencari cermin. Ia syok melihat pipi dan matanya berlepotan maskara hitam yang luntur.

"Aku serius menangis dan sedih. Kau malah tertawa."

"Maaf, tapi wajahmu jadi sangat lucu."

Ino melupakan sakit hatinya sejenak pada Sasuke karena sebal pada Itachi yang tak sensitif. Ino membuka sepatunya dan menimpuk Itachi karena emosi.

"Dasar kurang ajar, orang sedih malah ditertawai."

Itachi menghindar dari sepatu yang terbang ke arahnya dengan akurat.

"Istriku, kau tak hanya bossy tapi juga galak ya." Ujarnya bercanda menambahkan bensin pada Ino yang sedang naik pitam.

"Kemari kau, Tak ada yang macam-macam pada Ino Yamanaka." Wanita itu berkacak pinggang.

"Nope...Aku tak akan mendekati wanita yang sedang kalap."

Ino berderap menuju pria yang masih duduk santai di tepi ranjang. Ino mengayunkan tinjunya. Maaf saja kalau dia kasar dia lagi galau malah dia ajak bercanda dasar pria tak tahu situasi.

Itachi menarik tangan wanita itu. Membuat Ino terjatuh ke pangkuannya. Tiba-tiba saja Itachi menciumnya.

"Aku lebih suka kau marah daripada menangis dan Istriku kau masih cantik meski wajahmu berlepotan."

"Dasar tukang gombal."

"Aku hanya gombal padamu"

Ino memutar bola matanya. Untuk sesaat pikirannya teralih dari sang mantan tunangan.

.