Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

Mr. Shikamaru, Vampyre © Hello Kitty Cute

Summary : Tak akan ada yang menduga kalau pemuda pemalas tak layak hidup itu merupakan seorang pangeran vampire yang memiliki kekuatan dahsyat.

Warning : DLDR, Typo's, OOC, AU, dan lainnya.

.

.

Mr. Shikamaru, Vampyre

.

.

Ketika mulai sadarkan diri, aku terkejut ketika mendapati diriku tidak terbangun di kamarku maupun kamar Shikamaru, melainkan terbangun di sebuah kamar yang... sangat asing. Sebuah kamar dengan perabotan emas ala kerajaan. Aku mengamati beberapa buah buku yang ditempatkan di lemari di samping jendela. Buku-buku itu tampak lembap dan berbau lapuk.

Dengan linglung, aku turun dari tempat tidur. Menyibak kain tirai yang berwarna emas. Aku memperhatikan penampilanku, gaun pengantinku masih setia melekat di tubuhku. Kucubit pipiku. Hasilnya, aku merintih kesakitan.

Aku sedikit terlonjak ketika melihat ke bawah. Permadani yang sangat aneh—bahkan terlihat menyeramkan. Menampilkan warna merah, zamrud, dan emas yang sudah memudar, dan tampaknya semacam lukisan kuno. Menggambarkan populasi hutan dengan makhluk yang aneh. Serigala dalam ukuran besar, wajah mereka yang tajam didominasi warna merah, matanya berkilau; kelelawar berwajah manusia, berukuran seperti monster; makhluk setengah manusia setengah hewan, dan basilisk; dan disalah satu sudutnya, terdapat seorang wanita cantik berwajah pucat dengan bunga menghiasi rambutnya.

Ketika aku sedang terombang-ambing dengan pemikiranku, sayup-sayup terdengar suara pria dan wanita yang terdengar seperti berseteru. Dengan segera aku menuju ke ruangan yang hanya dilapisi oleh tirai putih itu. Suara-suara itu mulai jelas.

"Aku tidak bisa berbagi yang satu ini denganmu!"

Suara pria itu terdengar menggeram. Dengan pelan kusibak tirai penghalang itu.

"Kenapa tidak? Apakah kau tidak mempercayaiku?"

Aku tak bisa mempercayai pengelihatan ku ini. Wanita yang baru saja berbicara itu, rupanya sangat persis denganku. Kemiripan kami tanpa cela.

"Bukan seperti itu—"

Aku tak bisa mengenali pria berjubah hitam yang menjadi lawan bicara wanita yang serupa denganku. Ia berdiri membelakangiku.

"Kalau begitu apa?" wanita itu mengepalkan kedua tangannya, meremas gaun biru pucatnya. Ia tampak kesal sekali.

Pria itu menggelengkan kepala, seolah dia sedang didorong melewati batas ketahanannya dan berkata, "Ini untuk kebaikanmu sendiri."

"Bagaimana mungkin untuk kebaikanku sendiri?" wanita itu berteriak dengan terkejut. "Apa pun rahasiamu, tidak mungkin lebih buruk dari sakit yang aku rasakan sekarang."

Bahu pria itu tampak bergetar, tapi kemudian dengan suara parau ikut berteriak, "Jika aku mengatakannya padamu, maka tidak akan ada kata mundur. Begitu kau mengetahuinya, kau tidak akan bisa menyalahkannya, dan jika saat itu kau memutuskan bahwa kau akan merasa lebih bahagia jika tidak mengetahuinya, semua sudah terlambat."

"Kalau begitu, jika kau tidak mau mengatakannya padaku, maka tidak ada harapan untuk kita," tegas wanita itu dengan lesu dan putus asa.

"Jangan berkata begitu," suara pria itu terdengar sangat terluka.

"Apa lagi yang bisa kukatakan?"

Aku tak bisa melihat bagaimana ekspresi pria itu ketika mendengar nada dingin dari wanita itu. Tapi kemudian wanita itu mengulurkan tangannya ke arah pria itu, dan dia bergerak seolah hendak menggapai wanita itu. Jari-jarinya berusaha meraihnya, tapi pria itu menariknya kembali.

"Tidak! Aku tidak bisa. Tapi, aku juga tidak bisa terus seperti ini," ujarnya dengan suara tersiksa. "Aku harus berpikir."

Pria itu pun lari bergegas ke luar pintu.

Ku lihat wajah wanita itu terlihat panik. Ia menatap pintu dimana pria itu berlari.

"Shikamaru!" teriaknya, tapi sudah terlambat karena pria itu sudah pergi dari kamar. Dan aku hanya mampu tercengang dengan nama yang baru saja diteriakkan oleh wanita itu—wanita yang wajahnya persis denganku. Sebelum ketidakwajaran ini menyeretku lebih dalam, aku langsung berlari keluar.

Koridor yang kulalui tampak sangat panjang dan seperti tanpa ujung. Karena kelelahan aku pun berhenti. Aku mengatur nafas sambil memejamkan mata. Ketika membuka mata, kegilaan yang lebih gila menyergapku. Aku sekarang berdiri di hutan terbuka, tempat pakis tumbuh dengan subur dan semak tampak lebat. Dari atas langit, terlihat seberkas cahaya, cukup menunjukkanku bahwa tempat ini berkabut, dunia seolah bertabrakan, malam dengan siang, gelap dengan terang.

Kengerian menyergapku, mataku menatap liar kesana-kemari. Aku menangis, berharap semua ini hanya mimpi. Tiba-tiba, di tengah hutan terbuka dalam cahaya yang temaram, aku melihat dua sosok, dua orang pria, yang berdiri diam dalam keheningan. Kedua pria itu mengenakan pakaian satin, yang satu bermantel hitam yang bersulamkan benang emas, dan celana selutut berwarna hitam yang juga bersulamkan benang emas. Dan yang seorang lagi bermantel merah yang bersulamkan benang perak dengan celana merah selutut yang juga bersulamkan benang perak. Di kepala kedua pria itu, bertengger topi bulu dan wajahnya tertutup oleh topeng. Aku merasa familiar dengan topeng itu, aku pernah melihatnya. Tapi dimana? Aku lupa.

Kedua pria itu perlahan mendekat. Kengerian dan ketakutan yang menjalari seluruh syarafku hilang entah kemana, terganti dengan rasa rindu yang teramat dalam. Aku bingung, heran. Tubuhku tidak bisa bergerak, aku hanya bisa mengamati ketika kedua pria itu dengan perlahan melepaskan topengnya.

Pada detik dimana topeng kedua pria itu akan terbuka, suara lolongan serigala meraung di seantereo hutan, disusul dengan suara geraman yang sangat menakutkan. Aku bergidik ketakutan, darahku serasa membeku. Apalagi ketika melihat dua sosok pria itu memudar menjadi serpihan debu yang tertiup oleh angin entah kemana. Dalam ketakutanku yang memuncak, aku langsung berlari sekencang-kencangnya. Tak perduli dengan gaun pengantinku yang robek oleh semak berduri, tak perduli akan rasa nyeri yang menghinggapi kulitku, dan tak perduli dengan tetes-tetes darah yang menjadi jejakku. Aku terus berlari, tanpa menoleh kebelakang.

Lariku terhenti ketika kulihat sesosok pria berdiri di hadapanku dengan posisi membelakangiku. Rambutnya berwarna perak, berkilauan. Ia mengenakan jubah berwarna hitam. Punggungnya kokoh dan kuat. Dengan pelan, pria itu berbalik. Aku menatapnya dengan mata dipenuhi kengerian. Pria itu memiliki ketampanan yang menakutkan, wajahnya bersinar dengan cahaya yang mengerikan. Sosoknya tampak mulus, seolah terbuat dari marmer yang dipahat, kaku, dan penuh dengan kesempurnaan yang dingin.

Pria itu mengangkat tangan dan memanggilku, lalu pintu terbuka dengan sendirinya. Seperti orang yang sedang bermimpi, aku melangkah ke luar dari kereta kuda dan melintasi permukaan tanah hutan. Aku tercekat dan berhenti, bagaimana bisa aku berada di dalam kereta kuda. Pria itu tersenyum—tampak seram—dan tangan kanannya terulur. Di puncak ketakutanku yang sudah membuncah dan dipuncak kewarasanku, aku berteriak sekuat-kuatnya dengan mata terpejam.

"INI SEMUA MIMPI!"

.-.-.-.-.

Aku mengguncang-guncangkan tubuh Temari dengan erat. Aku cemas, heran, bingung dengan kondisi Temari yang sedari tadi mengigau tak jelas. Keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya, ia tampak sangat ketakutan. Tiba-tiba irisnya terbuka, ia menatapku dengan tatapan ketakutan. Detik berikutnya, ia membuatku terdiam. Aku jadi salah tingkah, bingung bagaimana mendiamkan tangisan seorang wanita.

Ketika aku sedang bergelut dengan pikiranku, wanita merepotkan itu kini bertingkah aneh, membuatku heran dengannya. Ia tampak tak waras. Sehabis menangis, ia terkekeh pelan. Membuatku merinding.

"Syukurlah, yang tadi benar-benar mimpi," ujarnya lega sambil tertawa keras. Ternyata ia memang setres. Dengan malas aku keluar kamar, kesal juga diabaikan.

"Tunggu!" cegah Temari.

"Apa?" sahutku malas. Merepotkan sekali sih wanita ini.

"Bagaimana keadaanmu? Maaf ya, aku tidak tahu kalau kau memiliki semacam penyakit alergi dengan matahari. Maafkan aku," wajahnya tampak bersalah dan bersedih. Membuatku heran, cepat sekali ekspresinya berubah.

"Tidak apa," ujarku masih dengan malas. Bermaksud menyudahi pembicaraan yang sangat merepotkan.

Aku keluar, dan Temari pun ikut keluar. Huh! Mau apa sih dia? Hidupku jadi tak tenang semenjak ada dia. Dia seperti membawa pengaruh buruk, lebih parah dari buruknya kutukanku. Kenapa aku merasa kesialanku semakin berkepanjangan saja. Dasar menyebalkan.

Aku duduk, dan Temari ikut duduk. Aku memejamkan mata, dan dapat kurasakan irisnya yang menatapku dengan intens. Mau dia apa sih? Aku berdehem kecil lalu membuka mata, dan gantian aku yang menatapnya. Temari terkejut, ia mengalihkan matanya dengan canggung. Aku tersenyum simpul, aku menang. Huh! Aku mikir apa sih? Ini bukan saatnya adu pelototan.

"Hei," panggilku. "Kau disuruh ibu dan nenek segera makan kalau sudah bangun."

"Nanti saja."

"Sudahlah, makan saja. Kalau kau pingsan lagi, aku yang dapat masalah—merepotkan."

Aku berdiri lalu berjalan menuju dapur—dengan malas. Temari mengikutiku. Kusuruh ia duduk di meja makan, membuka tudung makanan lalu... dia makan—begitulah. Selesai makan, ia mengucapkan terima kasih padaku.

"Bukan aku yang masak," sahutku bosan, aku ingin secepatnya tidur. Melelahkan, aku seperti baby sitter-nya.

Temari tersenyum simpul. "Kau bocah kecil yang sangat lucu," aku mendengus pelan.

"Kau wanita tua yang sudah keriput," balasku malas. Dan bisa kulihat, ia tidak tersinggung sama sekali. Ia malah tertawa kecil. Benar-benar wanita setres.

Tiba-tiba tawanya terhenti, ia menatapku dengan wajah jijik, ah bukan aku tapi menatap sebuah benda di belakangku. Ia menatap kulkas yang sekarang kusandari. Aku ingat, ia pasti teringat dengan darah yang dilihatnya. Aku membuka pelan kulkas, dan bisa kurasakan Temari menahan nafasnya. Aku berpura-pura mengambil sebuah apel, seraya memperlihatkan seisi kulkas, dan kurasakan tarikan nafas lega dari Temari bersamaan dengan berdebamnya pelan pintu kulkas.

Aku menggigit apel yang baru saja kuambil dengan malas. Sumpah! Aku ingin secepatnya tidur.

"Wanita yang serupa denganku, pria yang mirip denganmu, hutan lebat yang menyeramkan, dua pria bertopeng, dan seorang pria tampan yang begitu menakutkan."

Aku terdiam mendengar penuturan lirih Temari. Apa maksud wanita ini?

"Ah, lupakan. Itu hanya mimpi buruk. Ngomong-ngomong dimana ibu dan nenekmu."

Aku menaikkan alis sebelah kananku, heran. Aku ragu kalau wanita ini memiliki kewarasan yang sewajarnya dimiliki oleh manusia lainnya. Dia tampak tertekan oleh sesuatu, pikirannya terganggu.

"Mereka sedang bekerja," sahutku datar.

"Kerja apa? Dimana? Kenapa kau tidak ikut membantu mereka?" aku berani bersumpah, tanganku sudah gatal ingin membekap mulut Temari. Dia bukan hanya merepotkan, tapi sangat cerewet.

"Begitulah," jawabku asal.

"Begitulah?" alis Temari bertaut heran.

Aku menguap lebar, Temari mendesah pelan. Setelah meletakkan apelku di piring, aku berjalan ke sofa. Bersamaan dengan aku yang memejamkan mata, desahan nafas panjang keluar dari bibir Temari. Lalu kudengar pintu kamar mandi tertutup.

.-.-.-.-.

Temari mondar-mandir di dapur, sibuk menyiapkan makan malam. Setidaknya dia harus membalas budi dengan keluarga Shikamaru, bukannya bermalas-malasan—seperti Shikamaru yang mendengkur di sofa. Heran, tahan sekali bocah itu seharian tidur. Apa tubuhnya tidak terasa pegal dan sakit?

Tiba-tiba, telinganya mendengar alunan musik lembut yang mendayu-dayu—seperti suara gaib yang muncul entah darimana. Ruangan dapur Shikamaru terlihat memudar, tergantikan dengan pilar marmer dan menjadi lantai aula dansa. Temari tercengang, centong nasi yang berada di digenggamannya terjatuh ke lantai, menimbulkan suara dentingan ketika menyentuh lantai marmer yang tengah dipijaknya. Semua orang yang sedang berdansa berhenti, mereka menatap Temari yang tengah berdiri gemetaran. Ah, bukan dia, tapi—

Wush!

Sesuatu melewati tubuhnya, ah bukan menembus tubuhnya.

Irisnya melotot dengan sempurna. Ia menyentuh tubuhnya dengan takut. Sekarang ia seperti segumpal angin yang melayang. Ketika ia sedang sibuk dengan ketakutannya, sesuatu yang lebih mencengangkan, semakin membuatnya merinding hebat.

Sesuatu yang tadi menembusnya adalah seorang wanita yang serupa dengannya. Wanita yang muncul dalam mimpinya bersama Shikamaru. Wanita itu mengenakan gaun berwarna merah, semerah darah dan kelopak bunga mawar. Wajahnya tampak berduka, dengan tatapan kosong ia menerima uluran tangan seorang pria yang lalu mencium tangannya dengan gaya hormat yang terkesan mencemooh. Pria itu mengenakan pakaian mewah sewarna daun kering, kulitnya putih pucat. Temari tak menyangkal betapa rupawannya rupa pria bermata gelap itu, dengan wajah yang dihiasi sebuah senyum, tapi senyuman yang aneh hingga terkesan dibuat-buat. Senyum itu menyiratkan sesuatu yang menggembirakan sekaligus kejam.

Temari mulai gemetar. Ia ingin berlari, tapi tubuhnya tidak bisa bergerak. Ia didekap dengan sangat kuat oleh sebuah kekuatan yang ia sendiri pun tak mengerti apa itu. Ketika ia berusaha memejamkan mata, sayup-sayup ia mendengar suara pria bermata hitam itu berseru, yang lebih mirip pada sebuah perintah.

"Kemarilah. Temui aku. Disini."

Temari membuka matanya. Nafasnya menderu seiring dengan jatuhnya beberapa tetes keringatnya. Ia terkulai lemas, bersandar pada dinding. Sekarang ia berada di dapur, dengan tangan yang masih menggenggam centong nasi.

"Semua hanya halusinasi dan mimpi belaka," tegas Temari sambil kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Tapi jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam, ia trauma. Lebih baik ia tak usah memejamkan mata, ia takut dengan mimpi yang seolah nyata itu.

.-.-.-.-.

Pukul tujuh malam, ibu dan nenek Shikamaru pulang. Temari menggiring keduanya ke meja makan yang disana sudah ada Shikamaru—yang tertidur di meja makan.

"Kau yang memasak semua ini Temari?" Temari tersenyum simpul sambil mengangguk pelan atas jawaban Yoshino.

"Silahkan dinikmati."

Setelah Yoshino menjitak kepala Shikamaru agar pemuda itu terbangun, mereka mulai makan—disusul dengan Shikamaru yang bersungut-sungut. Temari sedikit kecewa karena keluarga Shikamaru hanya makan sedikit, apa masakannya tidak enak.

"Masakanmu sangat enak, Temari," puji Yoshino dengan senyum anggunnya. Temari coba menerka, berapa usia wanita itu. Kulit putih bening ibu Shikamaru tampak kencang dan berseri. Wajahnya bersih tanpa noda dan keriput, tubuhnya ramping, rambut cokelatnya senada dengan irisnya yang berkilau teduh. Begitu cantik, ia tak sadar kalau nyonya Yoshino itu masih sangat muda. Mungkin seumuran dengannya, atau tua dirinya. Dan, bila disandingkan dengan Shikamaru, mereka berdua seperti kakak-beradik. Sepertinya ibu Shikamaru menikah muda.

Setelah keluarga Shikamaru selesai makan, ia menyuruh mereka beristirahat. Yoshino memerintahkan Shikamaru untuk membantu Temari membereskan dapur. Dengan enggan bocah vampire delapan belas tahun itu pun mengelap piring-piring yang baru saja dicuci oleh Temari.

Selesai dengan urusan dapur, Temari keluar rumah sambil menatap pepohonan pinus yang diterangi seberkas cahaya bintang yang berkelap-kelip. Shikamaru keluar dengan mengenakan jaket berwarna hijau lalu menuju sepedanya.

"Mau kemana?" tanya Temari ketika pemuda itu akan mengayuh pedal sepedanya.

"Mau ikut?" Shikamaru malah balik melontarkan pertanyaan dengan malas.

"Memangnya kau mau kemana?" Temari sedikit mendesak, kesal karena bocah itu sama sekali tak menaruh hormat padanya.

"Go to the hell," jawab Shikamaru asal. Kedua alis Temari bersatu.

"Baiklah, aku ikut!" seru Temari kesal, lalu berlari dan duduk di kursi belakang sepeda dengan posisi menyamping.

"Kau benar-benar wanita tua yang merepotkan," gerutu Shikamaru kesal sambil mengayuh sepedanya dengan tenaga ekstra.

"Dan kau benar-benar anak ingusan bau kencur yang sama sekali tak lucu—kutarik ucapanku yang tadi," balas Temari tak kalah sadis.

Keduanya menyusuri jalan yang kiri-kanannya di penuhi oleh pohon pinus, gelap dan sunyi. Seakan-akan dari balik pepohonan pinus itu terdapat pasang mata buas yang mengawasi mereka. Temari menjauhkan pikiran buruknya, ia bersenandung kecil sambil merentangkan tangannya, menikmati semilir angin malam yang membelai tubuhnya. Sementara Shikamaru, pemuda itu sudah mengutuk Temari sedari tadi. Ia susah-susah mengayuh, wanita itu malah duduk enak bak seorang putri, mana suaranya cempreng lagi. Benar-benar menyebalkan. Ia kesal setengah mati, kenapa sih ibunya selalu menyuruhnya untuk melakukan hal yang sama sekali tidak disukainya? Seperti sekarang ini, ibunya menyuruhnya untuk mengajak Temari jalan-jalan karena sudah bersusah payah membuatkan masakan. Huh! Itukan memang sudah menjadi tugasnya, dia kan numpang. Merepotkan.

Keduanya sampai di kota. Lampu jalan dan gedung-gedung pencakar langit terlihat berkelipan, mengalahkan pendar para bintang. Para pejalan kaki, pengendara mobil dan motor terlihat ramai berlalu-lalang. Musik-musik jalanan beradu dengan dentum disko para night club. Kehidupan malam memang selalu lebih ramai bila dibandingkan dengan siang hari ataupun pagi hari.

"Kenapa kita kesini?" tanya Temari heran ketika Shikamaru menghentikan sepedanya di sebuah cafe pinggir jalan.

"Terserah aku," sahut Shikamaru malas.

Temari mendengus kesal. Ia duduk lalu seorang pelayan mendekat. Temari memesan segelas susu coklat dan Shikamaru sama sekali tak berminat memesan, pemuda itu malah melipat kedua tangannya di meja dan menangkupkan kepalanya disana. Sudah pasti tidur.

"Sebenarnya dia ini manusia bukan sih? Atau jangan-jangan jelmaan beruang yang kabur dari hibernasi-nya? Heran, kerjaannya tidur melulu. Terus, apa sih maksudnya kesini?" gerutu Temari bingung.

Tak berselang lama, pesanan Temari datang, setelah membayarnya, ia menyesap minumannya dengan nikmat. Dengan jahil ia menempelkan minumannya yang hangat itu ke pipi Shikamaru. Pemuda itu tersentak lalu terbangun. Temari tersenyum geli melihat ekspresi Shikamaru, benar-benar lucu.

"Pantas saja kau dicampakkan. Sudah merepotkan, menyebalkan lagi," ujar Shikamaru kesal.

Temari membatu. Sedetik kemudian, ia berdiri. "Aku punya salah apa denganmu? Kau seperti mendendam denganku. Aku berusaha mengakrabkan diri, kau sudah kuanggap seperti adik, tapi semuanya selalu salah di matamu," lirih Temari. Kini gantian Shikamaru yang membatu.

"Maaf, aku tidak bermaksud," ujar Shikamaru merasa bersalah. Tiba-tiba Temari menyeringai, membuat perasaan bocah remaja itu merinding.

Temari menepuk-nepuk kepala Shikamaru yang berkuncir satu itu. "Bagus, anak pintar. Menghormati orang yang lebih tua itu adalah wajib. Sekarang, ayo kita jalan-jalan lagi," ujar Temari sambil melangkah menuju sepeda, meninggalkan Shikamaru yang cengo sekaligus malu.

"Dasar wanita tua merepotkan," gerutu Shikamaru.

Dan Temari membalas. "Ayo cepat adikku, kakak sudah pegal berdiri disini," kekehan pelan Temari dibalas dengan decihan oleh Shikamaru.

.-.-.-.-.

"Apa tidak apa membiarkan Shikamaru akrab dengan Temari? Bagaimana kalau mereka jatuh cinta?"

"Itu malah yang kucari bu. Sejak kepindahan kita kemari, Shikamaru sama sekali tidak pernah menunjukkan tanda-tanda menyukai perempuan. Aku tak ingin pikirannya dihantui oleh wanita itu, aku ingin ia melupakan wanita itu dan hidup bahagia dengan Temari. Dengan begitu, kutukannya akan terasa lebih ringan," sahut Yoshino lirih sambil menatap gelas yang berada di genggamannya. Sebuah gelas yang berisi penuh dengan darah.

"Wanita itu sudah lama hilang dalam pikirannya. Bukankah kau juga ikut menyaksikan kejadian itu? Kejadian yang menyebabkan Shikamaru kehilangan semua ingatannya? Yakinlah, semua masa lalu yang kelam itu, tak akan mengejar kita sampai sini. Kita tinggal jauh dari dunia kita, sebaiknya kita jalani hidup ini seperti air mengalir. Mengikuti pergantian waktu, hari, minggu, bulan, tahun, bahkan berabad-abad nanti. Makhluk seperti kita, tak pantas memiliki pendamping. Aku tak ingin melihat Shikamaru bersedih menangisi kepergian Temari ketika maut merenggut wanita itu, tapi aku juga sangat menentang bila Temari dirubah menjadi vampire."

"Tapi bu—"

"Yoshino, usiaku sudah berabad-abad lamanya. Aku mengalami banyak kehilangan dan duka yang berkepanjangan ketika dirubah menjadi vampire oleh ayah Shikaku. Ayah, ibu dan adikku, mereka menjadi lemah dan menua seiring pergantian tahun, dan akhirnya meninggal di depan keabadianku. Lalu, satu persatu orang yang di dekatku mulai meninggalkanku, dan aku tak pernah menua—sampai sekarang. Kau pun juga merasakan hal yang sama denganku kan?—ketika kau dirubah menjadi vampire oleh Shikaku? Dan, aku tak ingin Temari seperti itu."

Yoshino terdiam. Ia tahu betul dengan penderitaan batin ibu mertuanya itu. Karena ia pun juga merasakan hal yang sama. Selalu muda dan abadi, terus hidup meski generasi orang yang sebaya kita telah lama tiada. Ia memperhatikan gerak tangan ibunya ketika menghapus kerut-kerut yang menghiasi wajah, leher, dan tangannya dengan waslap. Setelah semua make-up itu bersih, wajah ibu mertuanya itu kembali seperti semula. Wanita anggun dengan kulit yang masih sangat kencang.

"Meski aku lelah dengan semua ini, tapi dengan melihat cucuku, aku sudah merasa bahagia, dia segalanya bagiku. Juga kau Yoshino," sang ibu mertua merangkul sang menantu.

"Suamiku meninggalkanku karena mempertahankan tahta, meninggalkanku dalam kesendirian ketika mengandung Shikaku. Dan kau pun begitu, ketika tahta sudah kembali ke tangan Shikaku, mereka kembali merebutnya. Membunuh puteraku dengan keji, tapi bedanya Shikamaru masih bisa menghabiskan waktu bersama ayahnya. Dulu aku sangat mengharapkan Shikamaru bisa membalaskan dendam kita, tapi sepertinya hal itu memang tak disetujui oleh Yang Maha Kuasa. Kau lihat, sejak kejadian itu, Shikamaru kehilangan semuanya, ingatannya bahkan jati dirinya sebagai vampire yang terkuat—meski darahnya tidak murni. Cukup sudah mendoktrinnya, aku ingin dia hidup tenang tanpa dibayangi oleh cerita kita akan masa lalunya."

"Baiklah bu."

"Sebaiknya, besok Temari harus pergi dari sini. Aku tak ingin semuanya terlambat. Kesendirian memang lebih pantas bagi mahkluk kelam seperti kita. Aku tak ingin wanita malang itu menjadi bagian dari kita, terkurung oleh keabadian yang tak berujung."

Kedua wanita itu memandang langit yang berbintang. Sorot mata keduanya menerawang jauh ke angkasa, menyiratkan kerinduan yang mendalam pada pujaan hati yang mungkin sedang tersenyum menatap balik keduanya.

Trak.

Suara ranting patah yang dipijak itu, membuat kedua wanita itu waspada. Aura vampire tercium oleh mereka. Keduanya langsung masuk ke rumah dan mengunci rapat-rapat.

.-.-.-.-.

Shikamaru berhenti mengayuh ketika merasa kota yang dilaluinya berubah. Semua yang ada memudar—gedung-gedung, orang-orang, mobil, dan motor. Tergantikan dengan sebuah kamar kayu. Shikamaru hanya mampu terdiam ketika Temari menyenggol lengannya. Ternyata keduanya melihat hal aneh yang sama.

Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Kedua orang itu tampak sangat terkejut, apalagi Temari. Disana, diranjang kayu bertiraikan manik-manik bak permata itu, duduk seorang wanita yang serupa dengannya. Wanita itu lagi.

Shikamaru dan Temari terdiam kaku, mereka selayaknya penonton yang sedang menikmati drama. Keduanya sama sekali tak disadari oleh wanita itu. Tiba-tiba wanita itu menoleh ke pintu, terpaksa dua buah kepala itu pun ikut menoleh.

Shikamaru turun dari sepeda lalu mundur ke belakang, Temari yang merasa takut, langsung bersembunyi di belakang Shikamaru. Disana, diambang pintu berdiri seorang pria yang fisiknya sangat serupa dengan Shikamaru, tapi meski sama, Shikamaru dan pria itu sangat berbeda. Pria itu tampak kaku dan... kenapa terlihat tampan—keren. Temari merutuk.

Pria itu mengenakan celana selutut, dan kemeja putih yang basah oleh keringat. Dia terlihat sexy—Temari pun kembali merutuki dirinya. Rambut pria itu acak-acakan dan matanya nanar. Tampak sangat rapuh. Wanita serupa Temari berdiri lalu mengulurkan tangan pada pria serupa Shikamaru. Sesaat kedua makhluk yang sibuk menonton itu menahan nafas, mencoba menerka apa yang bakal terjadi selanjutnya. Dan keduanya pun melotot.

Pria itu memeluk si wanita, meletakkan tangan dibelakang kepalanya dan menciumnya dengan gairah. Sampai akhirnya pria itu menggigit bibir bawah si wanita hingga berdarah. Seluruh tubuh pria itu berguncang, seolah tersengat listrik, dengan wajah tersiksa pria itu melompat dari si wanita.

"Apa yang sudah kulakukan?" ujar pria itu ketakutan. "Oh, cintaku, apa yang sudah kulakukan padamu?—"

Hoek—Shikamaru ingin muntah, Temari merinding.

"—Aku membuatmu ketakutan. Kau gemetar," pria itu melangkah maju untuk menenangkan si wanita, kemudian berhenti, terlihat berusaha melawan kehendaknya sendiri, dan memaksakan diri untuk mundur. "Aku tidak menyangka akan seperti ini. Aku pikir kau tidak perlu tahu, aku pikir aku bisa menyembunyikan darimu, aku pikir kita bisa bahagia, dan mungkin, jika segalanya berbeda, jika mereka seperti apa yang aku pikirkan... tapi seharusnya aku tidak mengambil risiko, seharusnya aku tidak menyeretmu ke dalam mimpi buruk ini. Aku minta maaf, Temari—"

Temari maupun Shikamaru sama-sama membeku.

"—Aku sangat menginginkanmu sehingga aku membodohi diriku sendiri dengan berpikir semua ini mungkin berhasil. Tapi, ternyata tidak. Tidak akan pernah berhasil."

"Shikamaru...," wanita itu berujar lirih.

Kedua makhluk yang asyik menonton itu seakan diguyur oleh ribuan batu es. Dua orang yang serupa itu memang benar Shikamaru dan Temari. Tapi kapan? Kenapa keduanya tak ingat kalau pernah melakoni adegan seperti itu—dan, kenapa berlebihan sekali?

"Sudah sering sekali aku ingin mengatakan padamu. Ketika kau bertanya padaku apa yang salah, aku berusaha untuk mengatakannya padamu, tapi aku tidak bisa menemukan kata yang tepat, dan sekalipun aku menemukannya, aku tidak memiliki hak untuk merampasmu dari dunia yang aman dan tidak asing untukmu. Bagaimana mungkin aku bisa membawamu ke dunia yang penuh dengan mimpi buruk? Dunia yang gelap dan suram, tempat para makhluk buas menguasai malam? Aku tidak pernah bermaksud—"

Shikamaru sadar kemana arah pembicaraan pria itu. Ia juga tahu siapa pria itu. Dia vampire. Sebelum Temari tahu dan terhanyut dalam lingkar halusinasi ini, Shikamaru langsung menarik Temari menuju sepeda dan mengayuhnya dengan kencang.

Temari berteriak ketika Shikamaru sama sekali tak mengerem walaupun melihat dinding kayu di depan mereka. Teriakan panjang Temari berlalu, tertelan oleh suara ramainya dunia malam. Shikamaru dan Temari mengerjap-ngerjapkan mata, berusaha beradaptasi. Tempat yang sama, kota yang sama. Keduanya menarik nafas lega.

Tiba-tiba beberapa bayangan berkelebat, Shikamaru memasang tampang waspada, mengacuhkan celotehan Temari yang sama sekali tak bermutu menurutnya. Ia bisa merasakan aura kaumnya. Mereka ada begitu banyak. Shikamaru merasakan tubuhnya menegang, ada sesuatu dalam dirinya yang memberontak ingin dilepaskan. Di atas gedung yang berada tepat di hadapan Shikamaru dan Temari—yang tidak sadar karena masih sibuk berdebat dengan dirinya akan siapa sosok wanita yang serupa dengannya—berdiri seorang pria tinggi besar dengan mengenakan jubah gelap yang berkibar di tiup angin.

Shikamaru merasakan sebuah firasat buruk, ia segera memutar arah sepeda dan mengayuh dengan kencang, membuat Temari memeluk pinggang pemuda itu dengan erat. Pria berjubah itu menyunggingkan senyum sinis sebelum akhirnya berkelebat pergi.

Ditengah kekacauan pikirannya, Shikamaru tak memperdulikan lagi lubang-lubang yang ada. Ia hanya ingin cepat sampai ke rumah. Temari yang dibonceng merasa sangat tersiksa, pantatnya sakit semua.

"Hei, bocah! Pelan-pelan dong! Kalau jatuh gimana? Lagian kau ngejar apa sih? Makan malam sudah lewat tahu!" pekik Temari kesal. Shikamaru diam, dia hanya terfokus pada ibu dan neneknya. Mereka membutuhkan dirinya.

Shikamaru melompat dari sepeda dan langsung berlari ke dalam rumah, meninggalkan Temari yang cengo dengan sepeda yang terus melaju. Hasilnya, wanita itu tersungkur ke tanah. Sekujur tubuhnya lecet dan berdarah. Dengan terseok-seok Temari menuju rumah, ia bersumpah akan mencakar-cakar wajah pemalas Shikamaru.

Tiba-tiba sebuah bayangan hitam merangkulnya, membawanya masuk ke dalam lebatnya pepohonan pinus. Temari berteriak kencang, ia ketakutan. Ini nyata, ini bukan seperti mimpi atau halusinasinya. Ini benar-benar nyata. Sampai di tengah hutan, pria itu menurunkan Temari.

"Kau siapa?" hardik Temari. Meski terkesan berani dan tangguh, sebenarnya ia sudah ketakutan setengah mati.

Pria bermantel hitam itu mengenakan tudung, tak jelas bagaimana rupanya.

"Apa yang kau inginkan dariku?" Temari kembali menghardik. Iris hijau pekatnya menatap tajam.

"Begitu segar, begitu harum," ujar pria itu sambil berbisik saat berjalan memutari Temari, tak memperdulikan pertanyaannya. Tangan pria itu menyusuri bahu Temari. "Kau sangat cantik," puji pria itu saat berhenti di hadapan Temari, mengangkat tangan yang pucat dan dingin untuk membelai rambutnya, kemudian menyusuri jari di pipinya, sepanjang bibirnya, mengirimkan gelombang sedingin es di seluruh syaraf Temari.

Temari terdiam, ia tak bisa bergerak, seolah dirinya ditahan oleh kehendak pria itu. Pria itu mendekatkan kepalanya ke lengan Temari yang berdarah, menghirup dalam aroma anyir yang menyegarkan itu...

...dan terdengar suara mengancam dari arah belakang.

"Menjauh darinya."

Temari berbalik untuk melihat Shikamaru berlari melintasi hutan pinus dengan ekspresi murka di wajahnya. Temari sama sekali tak mempercayai pengelihatannya, kecepatan lari Shikamaru diatas rata-rata manusia normal, bahkan mengalahkan pelari tercepat di dunia. Lalu ekspresinya, terasa jauh berbeda dengan Shikamaru yang ia kenal.

"Lepaskan dia," geram Shikamaru. "Dia milikku."

Temari terdiam. Pria berjubah itu tampak senang.

"Milikmu?" ujar pria itu dengan nada mengejek. "Dia bukan milikmu. Tidak ada baumu di darahnya, tidak ada tanda-tanda dirimu di tubuhnya."

"Menjauh darinya," ancam Shikamaru sekali lagi.

Pria itu tergelak meremehkan, lalu dengan kasar mendorong Temari sampai tersungkur. Shikamaru menggeram, melompat ke depan dan menampakkan taringnya.

Temari menutup mulutnya, kedua irisnya melotot sempurna. Tanah yang didudukinya serasa bergoyong seiring dengan segala sesuatunya yang berubah gelap.

Pria itu sedikit terkesiap, tapi ekspresinya langsung terganti dengan gelak tawa yang menggema. "Selamat datang kembali Shikamaru Nara. Ah, bukan, yang mulia pangeran Alps," ujar pria itu dengan nada mencemooh, diiringi senyuman sinis nya

"Vampire kelas rendah sepertimu, sama sekali bukan lawanku. Cepat katakan dimana ibu dan nenekku, sebelum kuhancurkan kau," suara Shikamaru terdengar berbeda, begitu kuat dan menggelegar meski pelan.

Pria itu membuka tudungnya, memperlihatkan wajahnya yang dipenuhi oleh bekas luka gores. "Ternyata kutukanmu sudah hilang, bagaimana bisa? Bagaimana bisa kau menemukan penawar yang telah hilang beratus-ratus tahun lamanya?"

"Apa maksudmu?" tanya Shikamaru tak mengerti.

Pria itu menggeram, menampakkan taringnya. "Bagaimana bisa?" tanyanya murka.

Vampire itu langsung menerjang Shikamaru, tapi meleset. Dengan gerakan cepat, Shikamaru menangkap lehernya lalu mematahkannya. Vampire itu berteriak histeris lalu mundur ke belakang. Tangan besar Shikamaru yang berkuku tajam itu langsung menyentuh dada kirinya.

"Katakan dimana ibu dan nenekku?" geram Shikamaru. Mata kelamnya memancarkan kemurkaan yang sangat dahsyat.

Vampire itu tersenyum mengejek. Dan dengan sadis, Shikamaru menarik keluar jantung vampire itu lalu meremasnya hingga hancur. Tubuhnya di lempar sampai terpental berpuluh-puluh meter, sederet pohon pinus bertumbangan.

Shikamaru menggeram kencang, tanah kembali bergoyang dengan lebih kuat. Sekumpulan kelelawar menghampirinya dan tampak seperti memberi hormat. Shikamaru menatap sosok Temari yang pingsan, berangsur-angsur sosok vampire-nya lenyap. Ia mendekati Temari lalu menggendongnya.

'Meski kekuatan vampire ku telah muncul, aku tetap merasa ada yang kurang,' batin Shikamaru bingung. Tapi, lebih baik ia segera mencari ibu dan neneknya. Ia yakin mereka ada disana.

"Tunjukkan jalan ke Alps," perintah Shikamaru pada sekumpulan kelelawar itu.

"Aku merasa sangat kuat. Akan kutunjukkan pada kalian, siapa yang lebih berhak menduduki tahta Alps."

TBC...


Maaf sebelumnya, Kitty lupa memberitahukan. Di fic ini tidak ada pemberitahuan siapa yang bercerita (POV) jadi kalau tiba-tiba yang bercerita berganti jangan bingung. Harap membacanya pelan2. mungkin diawal2 akan banyak unsur hening, bayangan2 atau apalah itu, tapi tidak selamanya seperti itu, pasti ada kisah lucunya. apalagi ini bergenre banyak.
Dan, untuk kisah sekolah. Itu tidak ada, hanya hiasan saja. Ini semua akan menitikberatkan ke kisah ShikaTema di Alps.

Kitty hanya berharap kalian semakin suka dengan fic ini yang mungkin sudah sangat bertambah gaje. Salahkan imaginasi kitty yang terlalu gaje. hehehehe.

.

Balesan buat yang udah mau RnR fic Kitty.
Makasih semua ya, tanpa kalian Kitty pasti males buat bikin lanjutan nih fic.

NgalorNgidol12 – arigatou gozaimasu yuki-san, sekali lagi yuki-san jadi reviewer pertama. (hadiah kedua sedang diantar. #plak)
Arigatou juga sarannya, boleh juga sih, tapi masalahnya shika terlalu pemalas untuk melakukan semua itu. #plak (ngelesnya enggak nyambung.)
Tapi, sarannya kitty tampung, pasti akan berguna nanti. Arigatou.
Seperti yang saya baca, setiap vampire memiliki pantangan yang berbeda-beda. Seperti ada yang tak bisa terkena bawang putih, tak memiliki bayangan dan tak bisa berada di luar ruangan selama matahari terbit atau tenggelam. Keluarga Shikamaru termasuk ke vampire golongan ini, ia akan berasap dan lama-kelamaan menjadi transparan lalu memudar dan menghilang.
Dan untuk statusnya, memang seharusnya seorang pangeran vampire memiliki perbedaan dengan vampire biasa, tapi ada satu hal yang membuat kelemahan itu ada dalam diri shikamaru—nanti diberitahu. Kesempurnaan selalu disertai dengan kelemahan. #paseh?
Sekali lagi makasih Yuki-san atas RnRnya. Chap 3 udah apdet, RnR lagi?

Arezzo Calienttes 'Namikaze – arigatou Arezzo-san karena masih mau RnR. Benarkah menegangkan? Saya jadi terharu(?). : XD Chap 3 udah apdet, RnR lagi?

Ayren – arigatou Ayren-san atas RnRnya. Nanti akan ada cerita bahagianya, seperti romance dll, jadi unsur dark nya sedikit ilang, tapi awal2 ini mungkin belum ada. Kalau cerita sekolahnya enggak ada, ini akan menitikberatkan ke kisah vampire shikamaru di dunianya nanti—begitulah. Sulit untuk menjelaskan, kitty aja bingung. #plak. Chap 3 udah apdet, RnR lagi?

Endah 'pinkupanpu – maybe yes, maybe no. #duak. Hehehe… arigatou endah-san masih mau RnR. Chap 3 udah apdet. RnR lagi?

Narchambault – arigatou narchambault-san atas RnRnya, apalagi pujiannya. Hehehe, jadi malu. Nanti pasti tahu, jadi terus ikutin ceritanya ya, kalau enggak… tak cincang kowe. #dicincang balik. Hehehe. Chap 3 udah apdet, RnR lagi?

SoraYa UeHara – mending telat daripada enggak sama sekali. Hehe, arigatou soraya-san masih mau RnR. Ini udah apdet, RnR lagi?

Guest – ini udah apdet, jadi kita enggak saling bunuh. (?) hehehe, arigatou atas RnR-nya. Chap 3 udah ada, RnR lagi?

Nara Kazuki – nee-san, sumpah kitty ngakak baca review-nya. Ngocol deh. Shika emang lebay, lebay banget malah. #dihisap darah ampe abis sama shika. Arigatou nee-san masih mau RnR. Ini chap 3 udah apdet, RnR lagi?

CharLene Choi – ehm, bener enggak ya? Er,,, kasih tau enggak ya. Enggak usah aja deh. #plak. Dibaca ndiri aja ya lene-san. Arigatou lene-san. Ini udah apdet chap 3. RnR lagi?

Lollytha-chan – arigatou lollytha-chan masih mau RnR. Ini udah apdet chap 3. RnR lagi?

EMmA ShiKaTeMa – arigatou emma-san masih mau RnR. Ini udah apdet chap 3. RnR lagi?

Min Cha 'ShikaTema – arigatou mincha-san atas RnRnya. Ini udah apdet chap 3. RnR lagi ya?

ShiningLoveARA – arigatou shining-san atas RnRnya. Ini udah apdet chap 3. RnR lagi?

Kithara – hehe, sebenarnya itu emang sengaja enggak pakai pov, jadi bacanya pelan2 aja ya. Arigatou kithara-san atas RnRnya. Chap 3 udah apdet. RnR lagi?

Dust-man – ah, dust man-san jangan memuji begitu, kitty jadi malu. #cakar2 wajah sendiri. Hehehe,,, arigatou ya udah mau RnR. Ini chap 3 udah apdet, RnR lagi?

Neko-Ai-Nyan – arigatou neko-san atas RnRnya. Ini udah ada chap 3nya, RnR lagi?

Sabaku Yuri – awas, nyamuk! Hehe, arigatou yuri-san atas RnRnya. Ini udah chap 3, RnR lagi?

Putri Suna – dibaca aja ya, ntar pasti tahu. : D arigatou atas RnRnya putri-san. Ini udah apdet, RnR lagi ya?

Silahkan tinggalkan review.
Saran, kritik dan lainnya kuterima dengan tangan terbuka...