"Peganglah dengan benar." Jin menaruh pensil diantara sela jari telunjuk dan jempol TaeHyung lalu menggengamkan tangan kanan TaeHyung menjadi kepalan yang memegang pensil.

"Coba tulis ini." Ia memberikan selembaran tulisan hangul yang ia buat, menunjuk hangul 'A' untuk pertama yang akan dikerjakan TaeHyung.

TaeHyung diam tak mengerti dan Jin paham ekspresi itu, ia langsung memegang tangan TaeHyung untuk menuliskan garis lurus horizontal, didepannya diberi garis vertikal pendek. Jadilah hangul ᅡ.

Jin menyuruh TaeHyung menuliskan huruf hangul yang lainnya dan ia mengajari TaeHyung dengan kesabaran cukup yang ia miliki hari ini.

"Sekarang coba tulis namamu. Tulis huruf hangul 'th', 'ae', 'h', 'yeo', dan 'ng'." Jin menunjuk satu-satu hangul tersebut.

"'th' dan 'ae' disusun menjadi satu kotak. 'h', 'yeo' dan 'ng' disusun menjadi satu kotak lainnya." Jin memberikan contohnya dengan menuliskannya dikertas, menyusun huruf-huruf hangul itu menjadi 태형.

TaeHyung yang mengerti segera melakukan perintah Jin, menuliskan huruf yang Jin tunjuk. Selesai menulisnya dalam 15 menit, ia memberikan hasilnya pada Jin. Oh, Jin membutuhkan waktu lebih lama dari 15 menit untuk membaca tulisan yang benar-benar abstrak itu.

"Tya Hong ?" Ujarnya setelah menerjemahkan tulisan bagai cakar beruang itu. Matanya yang salah atau tulisan ini yang aneh?.

TaeHyung salah menulisnya menjadi 탸홍. Ia tak bisa membedakan hangul 'ya' dan 'ae', hanya berbeda tambahan satu garis saja pada 'ae' dan ia bingung, tak bisa menulis hangul 'yeo' malah jadi 'o'.

Jin mengusap wajahnya, sepertinya ia harus mengajari TaeHyung untuk berbicara dulu. Sejenak ia menahan emosinya dan menarik nafas dalam, mencoba bersabar lebih lama lagi. Ini akan susah dan menyusahkan entah itu bagi Jin atau si manusia rimba.

"Ucapkan 'Tae Hyung', 'T-A-E-H-Y-U-N-G, 'Tae Hyung''" Ia mencoba menjelaskan berkali-kali, memberikan contoh sebagai permulaan.

"T..Tae Hung?"

"Tae Hyung." Jin membenarkan dan mengulanginya lebih keras.

"Tea Hung." Malah parah.

"Tae Hyung." Syukurlah kesabaran Jin masih tersisa.

"Taa Hyong.", "Te Hung." TaeHyung mencoba lebih keras, namun tak mirip dengan yang Jin ucapkan.

"Tae Hyung!"

"Tu Hyaeng." Nyaris, tapi terbalik.

"Tae Hyung!" Tanda seru semakin bertambah seiring meningkatnya kekesalan Jin.

"Te Hyung?" Hilang satu huruf.

Aura panas dari kepala Jin sudah keluar, "Kau kemanakan 'A'-nya? Apa tidak dibawa dari hutan? Mengucapkan nama sendiri saja tidak bisa!" Jin kehilangan kesabarannya, meluapkan kekesalan dengan berteriak diwajah TaeHyung.

TaeHyung terperanjat kaget dan takut melihat wajah penuh emosi yang berkerut milik Jin dari jarak sedekat itu, dan ia'pun refleks berteriak, "T...Tae Hyung!"

Oh...

-%-

Akhirnya, dari dua hari ini selama dirumah. Inilah sore yang paling tenang untuk saatnya dia bersantai disofa ruang tamu setelah mengajari TaeHyung selama beberapa jam hanya untuk sebuah pengucapan nama.

Si tarzan? Tenang saja, dia sedang bermain diteras depan rumah dan ayah sedang pergi mencari ikan sebagai pekerjaannya seorang nelayan.

Jin menghirup kepulan udara dari secangkir teh melati panas yang ia buat, menghirupnya seperti bau aroma terapi setelah dia mencium bau badan dan nafas TaeHyung yang membuat pernafasannya tersendat. Melegakan sekali...

Baru saja ia meneguk tehnya untuk masuk ke tenggorokan.

"Maling!" Teriakan keras tetangga mengkagetkannya, menggagalkan air teh tersebut untuk masuk dengan benar hingga ia tersedak, terpaksa Jin mengeluarkan kembali air itu dengan menyemprotkannya dari mulut, dan jangan lupa secangkir teh panas itu terlepas dari tangannya yang refleks kaget, seluruh air yang masih panas jatuh turun ke kaki kirinya.

"Akkh! Hot! Siaaal." Jin mengumpat, mengasihani kakinya yang memerah.

Jin memutuskan keluar rumah, ia mempunyai dendam pribadi pada siapapun yang menganggu ketenangan yang baru didapatkannya dan yang baru dihancurkan karena entahlah siapakah tersangkanya, tetangga itu atau malingnya. Ia akan segera melihatnya dan membalaskan dendam.

Belum sempat Jin melihat kejadian dan tersangkanya, saat diambang pintu ia ditubruk TaeHyung yang berlari cukup keras untuk memaksa masuk kedalam rumah. Tak masalah jika hanya ditubruk, masalahnya adalah TaeHyung juga menginjak kakinya yang habis tersiram air panas. "Akh!" Tak adakah menit-menit untuk tenang dihidupnya?!.

Jin terlihat seperti ingin mengumpat habis-habisan, "Aakh, Dasar makhluk rimba. Apa kau tak lihat ada orang disini, hah?!" Jin menggerutu sambil memegangi kaki kirinya yang merasakan dua sensasi luar biasa antara panas dan nyeri.

"Jangan kabur, pencuri! Kembalikan pisang-pisangku!" Seorang ibu-ibu yang merupakan tetangganya berlari dengan hentakan kaki kesal menghampiri pagar rumah Jin, berteriak-teriak didepan rumahnya sambil menatap geram kearah TaeHyung.

Otak Jin memproses kejadian ini, ia menengok curiga ke arah TaeHyung dibelakangnya. Dan Jin sudah mengetahui penyebab kejadian ini yang sungguh demi daster yang dipakai ibu-ibu itu TaeHyung membawa segebok pisang matang ditangannya, dan Jin menelan ludahnya susah payah. Makhluk ini... ia geram dan ingin sekali memukul manusia rimba pencuri pisang itu.

"Kau? Apa yang telah kau perbuat?! Kembalikan! Kembalikan pisangnya, ini bukan milikmu!" Jin menarik segebok pisang dari genggaman erat TaeHyung.

Kejadian perebutan antara TaeHyung VS monyet kecil dulu seperti terulang kembali, tapi kali ini lawannya adalah Jin si gorila pemarah. Jadi TaeHyung harus mempertahankan pisang enak ini lebih kuat, si gorila sudah mulai mengeluarkan amukkannya.

"Lepaskan, Tarzan! Atau image keluarga ini akan buruk karena ada pencuri sepertimu!" Jin menarik segebok pisang itu dengan segenap kekuatan amarahnya sampai raut wajahnya menjadi derp hingga segebok pisang itu terlepas dari tangan TaeHyung, yang sungguh TaeHyung tercengang dengan wajah derp bercampur amarah Jin yang menakutkan sehingga ia melepaskan pisang enak itu.

"Cwesonghamnida, ahjumma. Dia tidak bermaksud mencuri, dia hanya menginginkannya dengan cara yang salah." Jin memberikan segebok pisang kepada pemilik sebenarnya, lalu menunduk sebagai penyesalan dan permintaan maafnya.

"Kau harus mengawasinya! Atau aku yang akan mengawasinya." Ibu-ibu itu menatap orang yang dimaksud dengan tatapan was-was dan penuh selidik, yang TaeHyung balas dengan kebiasaannya, yaitu menunjukkan wajah blank tak tahu apapun.

Setelah berbicara sedikit pada tetangganya, Jin masuk kedalam rumah dan menatap kesal orang yang berhasil menghancurkan sore tenangnya. Seharian ini ia hanya mendapatkan ketenangan yang bahkan tak sampai sepuluh menitpun.

Jin mencoba mengerti kenapa alasan makhluk rimba itu mencuri, yah.. bagaimanapun dia ikut kesini karena alasan pisang, tapi dari kemarin ia tak mendapatkannya. Dan Jin baru ingat, ia tak menanam bibit pisang untuk anak hutan itu. Tak sepenuhnya TaeHyung yang salah, Jin tak memenuhi keinginnan TaeHyung hingga makhluk itu berbuat kriminal. Ia hanya menginginkan makanan favoritnya.

"Besok kau akan mendapatknnya, jadi jangan lakukan lagi, mengerti?"

-%-

Jin mengibaskan debu tanah yang menempel pada celana panjangnya selesai berkebun menanam bibit di halaman depan rumah. Ia melakukan ini agar TaeHyung si manusia rimba tak menggondol pisang dipohon tetangga sebelah lagi dan membuatnya malu.

Masih pukul lima sore, ayahnya belum datang, dan Jin harus mengajari TaeHyung belajar lagi. Kali ini ia akan mengajari TaeHyung untuk mengenal nama-nama hewan dan buah, agar makhluk rimba itu tidak hanya tahu pisang saja. Jin sudah cukup stress gara-gara pisang.

"Kau pasti tahu hewan ini, kan? Dia mirip sekali denganmu." Jin menunjuk gambar monyet pada poster hewan-hewan yang ia pegang.

TaeHyung tak tahu cela'an yang diucapkan Jin, yang ia tahu Jin menunjuk monyet. Tidak, ia tidak suka monyet mengingat ia pernah menjadi korban copet monyet kecil. Tapi, diposter itu terdapat gambar simpanse, simpansenya nampak seperti kawanannya dihutan. Ia menunjuk gambar itu.

Jin salah mengartikan maksud TaeHyung, "Oh, jadi kau mirip yang ini? Sama saja sih, masih sejenis." Jin meneruskan cela'an nya dengan nada bercanda. Ini jadi menyenangkan karena TaeHyung tak akan mengerti yang diucapkannya.

Kemudian TaeHyung juga melihat seekor gorila berekspresi mengamuk disana, ia menunjuk gambar itu lalu menunjuk Jin secara bergantian bermaksud menyamakan. Benar-benar mirip ketika setiap kali Jin marah dan mengkerutkan alis menurutnya.

Jin tahu maksudnya, ia disamakan dengan seekor gorila. Dan menurut Jin, sangatlah jauh berbeda seperti jarak matahari dan bumi, dia tidak terima, ternyata makhluk rimba itu bisa membalas cela'annya. Sedangkan menurut Jin, TaeHyung itu mirip dengan monyet sedekat upil dan hidung. Bagaimana tidak? Postur tubuh TaeHyung yang cendreung menunduk itu membuatnya semakin mirip.

Sepuluh hari lagi liburan sekolah Jin akan berakhir, ia harus mengajari TaeHyung sehari penuh selama sepuluh hari itu. Ia akan bebas dari bau badan dan nafas TaeHyung, dan tentu saja dia tidak stress lagi karena mengajari TaeHyung yang membuat kesabarannya habis.

-%-

Sepuluh hari itu telah habis, Jin menghabiskannya dengan menjadi guru privat TaeHyung yang tak dibayar satu rupiahpun.

Pukul lima pagi. Jin baru saja keluar kamar mandi dengan handuk yang melilit dipinggangnya, dikamar ada TaeHyung yang dibantu ayah mengenakan atasan seragam.

Ia sedikit heran dengan seragam itu, "Bukankah itu seragamku? Kenapa ayah pakaikan pada manusia rimba?" tanyanya menunjuk seragam sekolahnya yang telah dipakai TaeHyung.

"Ini seragam TaeHyung sendiri, mulai hari ini dia akan berangkat sekolah denganmu." Ayah tersenyum bangga meilhat TaeHyung yang mengenakan seragam sekolah.

BLARR!

Ucapan enteng yang tiba-tiba itu bagai petir menyambar Jin. Mengejutkannya.

Wajah Jin berkerut, terutama di bagian alis, terlihat sangat tidak setuju. "Ma... maksudnya dia akan bersekolah? Disekolah yang sama denganku?" Sungguh Jin berharap ia salah maksud, namun ayahnya mengangguk membenarkan.

"Apa?! Kenapa? Satu tambah satu saja dia tidak bisa!" Jin memprotes.

"Makanya dia harus disekolahkan untuk diajari."

"Kenapa tidak di tingkat SD saja?"

"Itu tidak mungkin sekali, umurnya sudah 17 tahun. Aku menyekolahkan disekolah yang sama denganmu agar kau juga bisa membantunya." Terdengar seperti perintah.

Jin ingin menghilang saja. Ini akan menyusahkan sekali, ia pikir ia akan bebas dari tugas mengurus manusia rimba, namun kenyataan yang ayah bilang benar-benar bisa membuat Jin masuk rumah sakit jiwa.

"Ah, ya, dan tolong potong rambutnya yang panjang ini, agar terlihat lebih rapi." Perintah lagi.

Jin menggerutu dengan mulutnya yang mengomel tanpa suara agar ayahnya tak bisa mendengar, "Kenapa selalu aku? Bikin mood hilang saja!." namun ia melaksanakan perintah yang tak bisa ditolak itu.

Jin mendudukkan TaeHyung dihadapan meja yang terdapat kaca yang besar. Ia menyisiri rambut TaeHyung yang perlu kekuatan untuk menyisir rambut yang benar-benar rengket dan kusut itu. Lalu ia mulai memotong rambut dengan model rambut yang sama dengannya.

Tangan Jin bergetar melihat kutu dikepala TaeHyung. Ia mendesah, astaga, apa dia juga tak membersihkan rambutnya?. Ia menatapnya sedikit jijik tapi ia harus meneruskan pekerjaannya.

Selesai memotong pendek rambut TaeHyung yang nyaris sebahu itu, Jin mengecat rambut TaeHyung dengan warna oranye agar warna rambut cokelat pucat TaeHyung tertutupi.

Jin melongo melihat hasil kerjaannya yang, yang... begitu berbeda. Wajah manusia rimba kini terlihat lebih jelas dan ehm... Jin berfikir anak hutan ini ternyata tampan juga, tapi aku lebih tampan tentunya, ia meralat kata-katanya sendiri dengan ucapan penuh percaya diri. Yang jujur saja Jin sebenarnya terkejut, tercengang, atau... terpesona? Akh tidak tahu. Jin tak ingin tahu kata yang tepat karena ia hanya terpesona pada wajahnya yang mempesona.

-%-

TaeHyung masuk sebagai murid kelas 12-B, sekelas dengan Jin yang Jin perkenalkan sebagai saudaranya, yang sungguh Jin tak ingin berkata seperti itu, namun karena pelotot'an dari sang ayah ia tak bisa menolak dan terpaksa.

Sambutan murid kelas 12-B benar-benar heboh, apalagi siswi-siswinya yang berteriak, "Tampan!", "Seok Jin, saudaramu handsome sekali! Kalian benar-benar dua bersaudara yang tampan.", "Keduanya sama-sama tampan! kyaa!", dll.

Jin menghela nafas lega, syukurlah sambutannya tidak buruk. Mereka semua tidak tahu jika orang tampan berambut oranye ini adalah manusia rimba yang selama ini hidup dihutan. Tentu saja Jin tidak memberitahukannya dengan banyak alasan, salah satunya dia malu, dia bukan saudara 'manusia rimba'.

Jin banyak berharap semoga makhluk rimba itu tak membuat masalah atau kekacauan disini, jika makhluk itu berbuat sesuatu hingga membuatnya malu, maka image dan reputasi Jin taruhannya.

Pelajaran pertama dimulai. Tempat duduk TaeHyung dibelakang Jin, baru saja ia duduk, ia mencolek-colek punggung Jin, namun tak dihiraukan. Karena pelajaran pertama adalah pelajaran NamJoon songsaenim, guru matematika yang terkenal dengan tatapan matanya yang menakutkan hingga bisa membuat orang yang dipelototinya kebelet pipis ketakutan.

Lama Jin tak menolehkan badannya kebelakang, TaeHyung secara bergantian mencolek punggung dan menarik-narik baju seragam Jin dengan tidak sabaran, "Pisang!" pintanya, ia kelaparan belum makan pagi.

Jin mengusir telunjuk TaeHyung yang mencolek punggungnya dengan menggerakkan bahunya acuh.

"Ck, duduklah dengan benar dan diamlah!" Jin sedikit berbisik kebelakang.

"Pisang."

Songsaenim mulai membacakan soal, "Diketahui jumlah kedua akar—"

Jin mendesah, "Jika kau diam kau akan mendapatkannya!" ia juga mendelik ke arah TaeHyung yang langsung diam melihat pelototan kemarahan itu.

TaeHyung tidak sabar menerima pisang yang ada didalam tas Jin. Sebelum kesekolah Jin bilang, ia hanya boleh makan disaat jam menunjukkan pukul 10, saat istirahat. Itu artinya 2 jam lagi. Lama sekali. Ia mencolek Jin lagi dan kembali mengajukan permintaannya. "Pisang."

"—Dan hasil kali kedua akar suatu persamaan kuadrat berturut-turut adalah—" Suara songsaenim masih terdengar.

Kini TaeHyung menarik-narik seragam Jin lebih keras, "Pisang." Ia tak jera untuk mendapatkan pisangnya.

Jin sudah cukup, cukup pada batas tahannya. Ia sudah tak tahan lagi dengan ucapan "pisang" yang menggangu telinganya. Dan lagi, ia risih, manusia rimba itu mencolek-colekinya seperti sabun colek. Ia menggeram dan berdiri dengan kesal, "Tak bisakah kau diam, ha?!" ia berteriak cukup keras, lupa pada daratan yang kini berisi makhluk-makhluk yang menatapnya dengan melongo. Heran.

"— -1dan -6. Persamaan kuadrat tersebu... " NamJoon songsaenim menghentikan soal yang dibacakannya. Menoleh lalu melotot tajam menatap orang yang barusan berteriak. Jin bergidik seketika.

"Ada masalah apa, Kim Seok Jin?" Tanya NamJoon tenang dinada'nya, namun wajahnya menunjukkan kalau dia sedang marah. Ia beranggapan murid bernama Seok Jin itu menyuruhnya diam dengan berteriak. Meneriaki dirinya?! Ups, sepertinya Jin akan mendapatkan peti dari NamJoon.

"Bu... Bukan songsaenim. Saya tidak bermaksud—" Jin kehilangan kata-katanya saat menatap pelototan mata maut sang songsaenim. Ia menunduk kebawah, bukan karena menyesal. Melainkan ia melihat celananya dan memastikan agar dia tidak pipis dicelana tiba-tiba karena ketakutan. Yang sungguh menurut Jin mata itu benar-benar bisa menakuti hantu sekalipun.

Semua murid didalam sana diam terkaku. Ikut takut dengan suasana menakutkan yang NamJoon songsaenim hasilkan. Semua murid membatin, bagaimana bisa Jin melakukan tindakan ekstrim begitu?.

Sudah dipastikan nasib Jin terancam.

-%-

Bersambung............................................

Awalnya saya berniat menghapus FF absurd ini, tapi ternyata ada yang komen lagi, uhuk uhuk*terharu* jadi dilanjutin next chapternya ini. Saking senengnya gak tau harus bales reviewnya apa...

See you at the last chapter (identitas tarzan akan terungkap). Kemungkinan berakhir dichapter 4. Oya, silahkan kunjungi(?) twitter acc saya at adikookie *promosi dikit*

Dan gimana ya caranya merubah Misc Misc. Plays/Musicals ke Plays Screenplays ? sudah saya coba tapi gak bisa L *maklum author pendatang baru di *.

Terakhir, Terimakasih banyak yang reviews, favorites, dan follows story *huks huks, gak nyangka T_T* yaudah deh*cerewet sekali* gamsahamnidaa~ *bow*

Finished : 08.06.14