Lubirea Mea

Axis Powers Hetalia © Hidekaz Himaruya

This story's idea © Reza

This story's OCs ©Tauries4597 and Reza

Special thanks for Reza. Love ya~ :3

Summary: Universitatea din Bucureşti, salah satu universitas ternama di Romania adalah saksi bisu dari kisah cinta sejoli yang anehnya memiliki rupa serupa tetapi bukan saudara kandung, apalagi saudara kembar.| "Masa sih mirip? Aku akan mengajaknya berkenalan kalau begitu"| "Kalau ada orang yang mirip tapi bukan saudara kembar, mungkin saja jodoh"

Warning: Ocs, maybe OOC, romance, fluff, NO YAOI OR SHOU-AI, rate T-M, nama tempat disesuaikan dengan fakta yang sesungguhnya.

.

[Chapter 3 : First Love – Eternity Love?]

.

Latihan teater tahap pertama telah lewat dan kini para anggotanya tengah menikmati istirahat selama 30 menit. Kalau boleh jujur, waktu istirahat yang sangat singkat itu tidak cukup untuk mereka yang sejak tadi berlatih selama kurang lebih 5 jam sejak pukul 8 pagi. Tapi apa boleh buat? Mereka pun tahu kalau latihan mereka jadi semakin berat seiring semakin dekatnya waktu pertunjukkan mereka.

Tapi berat yang mereka rasakan berbeda dari apa yang Vladimir rasakan. Sebagai hukuman karena dia datang terlambat latihan, ia harus berlari mengelilingi halaman aula tempat mereka berlatih yang luasnya sama sekali tidak bisa diremehkan. Bahkan Milen sampai harus meletakkan handuk basah keatas wajah Vladimir yang langsung tepar setelah mereka latihan karena ia memang tidak diijinkan mengambil istirahat barang sejenak setelah berlari begitu.

"Makanya jangan terlalu lama mengobrol dengan gadis itu, Vladimir.." ujar Milen pelan. Ia hanya bisa menatap miris sahabatnya yang benar-benar tidak bisa bangun dari posisinya yang tiduran disampingnya yang masih dalam posisi duduk. "...tapi sejujurnya aku penasaran, bagaimana dia?"

Mungkin setelah ini, Milen harus pergi ke rumah sakit untuk mengecek jantungnya karena begitu ia bertanya mengenai gadis yang memiliki rupa yang serupa dengan sahabatnya itu, Vladimir segera bangkit dan menatapnya dengan wajah berbinar. "Sangat manis! Dia seperti... apa ya... ah! Bunga rosa canina yang siap mekar untuk menunjukkan betapa indahnya dia, tapi walau ia belum terkembang sempurna, ia sudah sangat memikat serangga-serangga; dan salah satu serangga itu adalah aku..!"

"Vladimir! Berhenti berteriak-teriak begitu dan lanjutkan hukumanmu!"

Oh sial. Tampaknya ia harus menyediakan sebotol air dingin lagi untuk sahabatnya yang kini berwajah pucat dengan ekspresi memelas yang terarah ke pemimpin teater mereka.

.

Sementara itu di tempat lain, Viorica menemukan dirinya sudah berada didalam café dengan sahabatnya, Sonya, yang duduk didepannya. Mereka berdua kini duduk saling berhadapan dengan segelas minuman masing-masing didepan mereka; Viorica memesan jus cherry dan Sonya memesan jus strawberry. Sejujurnya, Viorica tidak begitu ingat kapan dan bagaimana ia bisa berada didalam café tapi tampaknya ia tidak perlu terlalu lama merasa penasaran karena sahabatnya sudah menjelaskan semuanya.

Semuanya dengan detail yang mengerikan. Vio baru ingat akan kemampuan sahabatnya yang mampu menganalisis keadaan dengan tingkat akurasi yang mengerikan. Lebay? Memang, tapi itu kenyataannya.

"..jadi.. aku duduk dengan pandangan kosong di kursi taman setelah mengirimmu pesan tentang keberadaanku itu..?"

Sonya mengangguk.

"Tapi kamu tahu tidak ada hal yang buruk terjadi padaku, makanya kamu mengajakku kesini..?"

Sonya mengangguk. Lagi.

"Dan... apa aku tidak salah dengar kalau kali ini kamu menraktirku?"

Sonya menatap datar sahabatnya yang masih tampak tidak fokus, sebelum ia mengangguk setelah menghela nafas pelan. "Ya, ya, dan ya. Sejujurnya, saat kamu bilang tengah berada di kampus, aku sangat khawatir. Kamu? Sendirian? Jangan bercanda. Nenekmu itu menitipkanmu padaku, Vio. Coba pikirkan posisiku lebih dalam lagi, okay?"

Viorica akhirnya mendapatkan kesadarannya kembali setelah sahabatnya berucap demikian. Jarang-jarang ia bisa melihat sahabatnya semarah itu, dan ia sebaiknya tidak melakukannya lagi.

"..scuze, Sonya.." gumam Viorica dengan kepalanya tertunduk. Meski tidak langsung menatap wajah sahabatnya, ia tahu kalau Sonya menyadari betapa merasa bersalahnya dirinya.

"Baiklah baiklah.. berhenti memasang wajah suram begitu dan nikmati saja jusmu kecuali kalau kamu mau membayari jusku juga."

Sonya kemudian tertawa kecil saat melihat Viorica merengut. Sahabatnya itu memang terlalu manis, membuatnya tidak tega meninggalkannya sendirian. Padahal kalau diingat-ingat, justru Sonya-lah yang harusnya merasa asing di tempat itu karena ia bukan orang Romania tapi berkat sahabatnya satu ini, ia tidak perlu merasa demikian.

"Sebenarnya, Vio," Sonya berucap tiba-tiba, menarik perhatian Viorica yang masih sedang menyesap jusnya melalui sedotan. "..nenekmu bertanya kapan kamu akan membawa pacarmu ke tempatnya."

Hari yang penuh kejutan untuk gadis Bulgarian itu ternyata belum berakhir. Andai saja ia membawa kameranya, mungkin laptopnya akan penuh dengan ekspresi lucu Viorica yang antara hidup segan mati tak mau.

Tapi bukan itu yang membuatnya tertarik, melainkan rona merah yang segera memenuhi wajah manis gadis Romanian yang ada didepannya. Ekspresi yang tidak pernah ia lihat sebelumnya selama ia bersahabat dengan gadis ini.

"...eh? Eh? Ada apa? Kenapa wajahmu merah begitu? Kamu demam?"

"T-tidak..! Tidak! A-aku tidak demam..!" jawab Vio gugup. Gadis yang lahir di Târgovişte itu melirik kearah luar café yang tiba-tiba membuatnya merasa tertarik lebih daripada ia harus menatap ekspresi tidak percaya sahabatnya.

"...j-jangan bilang..." Vio bisa merasa kalau ia harus menghitung detik demi detiknya sekarang juga karena sahabatnya pasti akan menyadari kalau...

"...Vio, kamu menyukai seseorang?"

Ah... benar, kan?

Tahu kalau ia tidak bisa membantah, Vio mengangguk kecil setelah diam dalam waktu yang cukup lama. Ia beruntung poninya bisa menutup sebagian besar wajahnya yang sudah semerah kepiting rebus, bertolak belakang dengan ekspresi Sonya yang seolah baru saja melihat alien berbentuk gurita raksasa yang ternyata bisa bermain musik jazz.

.

Tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 6 sore. Viorica dan Sonya kini tengah berada didalam Bucureşti Mall dan sedang melihat-lihat salah satu toko yang menjual aksesoris. Keduanya tampak asik dengan dunia mereka sendiri sampai Viorica tidak sengaja menyenggol seseorang yang berdiri dibelakangnya.

Dan saat ia hendak meminta maaf, Viorica harus menahan mulutnya untuk tidak terbuka terlalu lebar karena ternyata ia baru saja menabrak pemuda yang hari itu mengajaknya berkenalan.

"A-ah, buna ziua, Vladimir," sapa Viorica agak gugup. Walau ia tampak menunjukkan ekspresi datarnya, tapi bahkan orang yang tidak peka pun tahu kalau ia sangat gugup sekarang.

Tapi tampaknya pemuda yang ada didepannya pun sama gugupnya dengan Viorica. Ia bisa melihat bagaimana senyum cerah terbit begitu saja setelah ia tercengang. Atau terkesiap?

"Ah.. buna ziua, Viorica! Kebetulan sekali kita bisa bertemu disini, ya?" tanya Vladimir berbasa-basi. Ia bisa merasakan kalau degup jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya dan ia bisa saja mati berdiri kalau gadis yang ada didepannya mengetahui itu.

"Benar juga.." sahut Viorica dengan suara agak pelan. "Kebetulan sekali, ya.."

Ah.. manisnya gadis yang ada didepannya ini. "Hahaha, betul sekali. Ah, ya. Soal yang tadi pagi, maaf kalau aku mengagetkanmu, Vio."

Viorica berkedip kaget. Apa ia tidak salah dengar kalau pemuda yang ada didepannya ini memanggil nama panggilannya? Ah, tapi memang nickname-nya itu normal dengan nama pertamanya yang memang agak panjang.

"Tidak apa. Pastinya siapapun akan kaget kalau diajak berkenalan saat sedang fokus dalam satu hal." Jawab si gadis dengan senyum lembut. "Kalau aku boleh tahu, kenapa kamu bisa ada di kampus, Vladimir?"

"Hm? Oh ya, aku dan sahabatku ini," Vladimir menunjuk 'sahabat' yang ia maksud dengan menunjukkan ibu jarinya ke belakang. Pemuda itu tahu kalau sahabatnya tengah melambai ringan kearah Viorica, ia bisa lihat dari ekspresi sang gadis yang awalnya tampak sedikit terkejut. "Yaah, kami berdua menjadi anggota inti dalam pementasan teater akhir Agustus nanti. Kau tahu, yang ada di pamflet itu?"

Viorica mengangguk paham. Ia baru saja mengingat pamflet yang dimaksud yang kebetulan ia dapatkan saat ia hendak menuju kampusnya. "Ah, ya.. dan kamu dengan..."

"Milen. Panggil saja Milen, Viorica," sahut Milen dengan senyum lembut. "Dan ya, kami menjadi anggota inti di pementasan itu dan Vladimir ini," ia menunjuk sahabatnya dengan menepuk bahu kirinya agak keras. "Dia menjadi bintangnya untuk perwakilan teater dari Romania. Keren, kan?"

Si gadis Romanian tertawa kecil. Ia kagum dengan pemuda yang pagi itu ia anggap aneh tapi ternyata hanya terlalu riang dan bersahabat.

Dan omong-omong sahabat, Viorica penasaran kenapa ia tidak mendengar sepatah kata apapun dari sahabatnya yang seharusnya paling depan kalau sedang dalam hal ini. Ketika ia menoleh kearah belakang, Viorica harus menyesali keputusannya tersebut. 'Seharusnya aku tidak menoleh ke belakang..' gumamnya dalam hati.

"Jadi kamu yang bernama Vladimir? Perkenalkan, aku Sonya Nikolova. Kita seangkatan tapi aku sekelas dengan Viorica. Salam kenal." Ujar Sonya dengan nada yang Viorica tahu dibuat-buat. Nada yang selalu Sonya pakai ketika ia menemukan hal yang menarik.

"O-oh, salam kenal, Sonya," sahut Vladimir agak kaget, namun kemudian ia kembali memasang wajah ramahnya yang kesekian kalinya membuat Viorica merona. "Dan ini saha-"

"Aku sudah dengar namanya, tenang saja. Salam kenal, Milen. Tampaknya kamu juga sama denganku yang orang Bulgaria ini," potong Sonya yang tersenyum lebar kearah Milen yang memasang ekspresi penuh arti.

Milen mengangguk. "Milen I. Hinov dan ya, aku memang orang Bulgaria. Juga... tampaknya tebakanku tepat, hm?"

Ini hanya firasat belaka atau Viorica maupun Vladimir memang merasa kalau masing-masing sahabat mereka seolah sudah menemukan partner in crime mereka?

.

Pukul 9 malam waktu Bukares sekitar, disinilah Vladimir yang tengah duduk di meja belajarnya ketika Milen tengah membaca naskah pertunjukkan mereka. Menghela nafas pelan, ia tidak bisa berhenti membayangkan sosok wanita yang sejak tadi pagi telah mencuri hatinya.

Sampai bayang-bayangnya sedikit buyar ketika sahabatnya mengucapkan sebuah kalimat yang menurutnya... unik. "Kau tahu, Vladi? Kalau ada orang yang mirip tapi bukan saudara kembar, mungkin saja jodoh."

Vladimir mengenali kalimat itu. Kalimat yang diucapkan dosen mereka di kelas sastra klasik. Menarik.

"Jodoh? Kalau iya, aku akan sangat senang karena aku yakin Viorica ini adalah jodohku~"

Bila dilihat dengan pandangan imajiner, bisa dipastikan akan ada banyak hati-hati yang berterbangan dari pemuda Romania itu. Senyum lebar seperti anak kecil yang sedang membayangkan liburan yang ia impikan di esok hari, Vladimir kemudian tertawa kecil sebelum ia meraih handphone-nya dari saku celananya.

Seandainya senyuman Vladimir bisa lebih terkembang, mungkin ia akan sampai di Surga karena ia menemukan apa yang ia cari di handphone yang wallpaper-nya bergambar kelelawar. Kontak wanita yang disebut memiliki rupa yang mirip dengannya tapi tampak lebih dewasa darinya.

Ah, betapa indahnya hari ini.

"Jangan bilang kalau kamu ingin mengirimkan pesan ke Viorica. Ingat sekarang sudah jam berapa, Vladi. Mungkin saja dia sudah tidur," ujar Milen yang masih tidak melepaskan pandangan dari naskahnya.

Bukan Vladimir namanya kalau ia menghentikan aktifitasnya hanya karena nasihat dari Milen. Ia memang tidak akan berhenti dalam memperjuangkan apa yang ia inginkan. Dan apa yang ia inginkan sekarang adalah mengirim pesan untuk sang wanita yang ada di apartemen di salah satu sisi ibukota Romania ini. Bagaimana ia tahu? Sonya 'cukup' berbaik hati untuk menyebutkan alamat mereka berdua saat mereka berempat tidak sengaja bertemu di Bucureşti Mall.

Vladimir berjanji untuk tidak melupakan alamat yang sudah terpatri di ingatannya. Katakanlah ia sangat candu akan apapun yang berhubungan dengan Viorica F. Popescu itu sekarang.

Omong-omong, kalau ada kemungkinan Viorica sudah tertidur, mungkin ia bisa mengirim pesan selamat malam dan semoga mimpi indah? Ide bagus!

To : Vio

Subject : Good night

'Hey, Vio. Selamat malam dan semoga bermimpi indah.'

Sent.

Milen mungkin bisa segera menghubungi rumah sakit jiwa sekarang karena sahabatnya tidak juga berhenti tertawa sendiri. Susah memang sekamar dengan seseorang yang sedang dirudung asmara. Tapi kalau Milen ingat-ingat lagi, ini kan memang kali pertama Vladimir jatuh cinta. Iya ya.

Di lain tempat, lebih tepatnya disebuah apartemen, terlihat Sonya dan Viorica tengah duduk diatas kasur milik Sonya sambil bermain kartu tarot. Bagaimana mereka bisa bermain kartu tarot? Semua karena keinginan tiba-tiba dari si gadis Romania yang tidak henti-hentinya tersenyum selama perjalanan pulang, apalagi kalau ia menyebutkan nama pemuda yang tidak sengaja keduanya temui di mall.

"Bagaimana hasilnya, Sonya?" tanya Viorica penuh harap. Wajahnya yang merona dan mata yang berkilat dengan penuh semangat benar-benar membuat Sonya tidak tega untuk menolak permintaan sahabatnya. Apalagi ketika ia melihat hasil ramalan kartu tarot tersebut.

"Hmm... hasilnya mengejutkan, Vio. Tampaknya kamu memang dijodohkan dengannya..." Sonya merasa terpelatuk ketika hasilnya benar-benar berada di pihak sahabatnya. Ada apa? Apa hari ini adalah hari perayaan untuk cinta pertama Viorica F. Popescu? Kalau iya, tampaknya ia melupakan kue tart-nya.

Tapi satu alis Sonya terangkat ketika pandangannya terpatri ke salah satu kartu tarot yang kini ada ditangannya.

"Ada apa, Sonya? Ekspresimu aneh. Apa kamu sa-" PING!

Viorica kemudian mengambil handphone-nya dari sisinya ketika benda tersebut berbunyi demikian. Dan seketika tersenyum lebar. Mengabaikan ekspresi Sonya yang sebenarnya bisa saja mengubah senyum itu, ia justru menunjukkan layar handphone-nya ke sahabatnya. "Sonya, lihat! Vladi mengirimkan pesan selamat malam padaku..!"

Wah, Viorica bahkan sudah memanggil pemuda itu dengan nama pendeknya. "Wah, kamu sangat beruntung, Vio," jawab Sonya sekenanya. Senyuman yang biasa ia tunjukkan pun muncul di wajahnya. Biasanya Vio akan menyadari kalau ada yang tidak beres dengan dirinya, tapi tampaknya gadis Romania itu tidak memedulikannya.

'...die together...?' gumam si gadis Bulgaria dalam hati sambil tetap memandang kartu tarot yang bergambar sepasang kekasih yang memegang pedang besar. "...semoga bukan pertanda buruk..." tambahnya dengan suara yang sangat pelan.

.

-To be continued-

.

A/n:

Lubirea Mea : My love (Romanian) - Buna : Hello (Romanian) - Scuze : Sorry (Romanian)

[Listening to OST Tsubasa Reservoir Chronicle - BLAZE]

|Created : 2017-08-12 - Finished : 2017-08-14|

Yep, ending yang buruk seperti biasa. Dan selamat untukku karena berhasil menamatkan chapter tiga ini~! YEAAAAH~! /shot/

Sebenarnya chapter ini sudah nyaris selesai sejak dua hari lalu tapi ternyata ide saya segera padam seiring jam sudah menunjukkan pukul 3 pagi. Begadang di kamar yang angker memang tidak bagus, ya? Haha.

So, seperti yang sudah saya sebutkan di chapter awal, saya benar-benar ingin membuat fanfic ini tidak berakhir angst karena saya capek nangis. Sungguh. Kalau nanti suatu saat ada yang membuat fanfic dengan latar yang serupa-nyaris-sama dengan yang ini, mungkin saja itu partner saya yang buat karena dia angst lover. /apahubungannya?

That's it. This newbie needs your read and review..!

.

Tauries4597, salute!