Antagonist

Cast : Namikaze Naruto – Uchiha Sasuke

Genre : Romance/Hurt/Comfort/Family

Rating : Mungkin T sampai M

Summary : Namikaze naruto adalah seorang psikiater yang jatuh cinta dengan pasiennya.

Disclaimer : naruto milik masashi kishimoto

Warning : Yaoi, BOY X BOY, Typos bertebaran dimana-mana, bahasa berantaka dan ambigu.

Happy Reading ~

'Merah….yang kulihat hanya warna merah'

"Dimana aku? Apakah ini mimpi?"

'Kubangkitkan tubuhku yang sempat terduduk saat pandanganku menganblur'

"Merah. Mengapa warna merah ini mengingatkanku pada darah?"

'Kulangkahkan terus kakiku untuk mencari jalan keluar. Namun, situasi berganti di ruangan dalam sebuah Manshion'.

"Bukankah ini…Tidak, tidak mungkin. Aku pasti berhalusinasi"

'Kulihat sebuah bayangan yang melintas di depanku. Karena penasaran, mau tak mau kuikuti bayangan itu. Aku merasa familiar akan sosok bayangan itu'

"Jangan-janga….Apaka itu kau…?"

"Tunggu…"

"Kumohon berhenti…"

'Sedikit lagi…ya…tinggal sedikit lagi aku bisa menggapainya'

"Akhirnya aku bisa menggapai—"

BYUURR

"—mu"

'Kurasakan tubuhku terhempas kedalam air. kubuka mataku dan kulihat bayangan matahari yang memantul kedalam air, kucoba untuk meraihnya namun semakin lama semakin jauh. Sesak, semakin banyak air yang mulai masuk kedalam paru-paruku'

"Apakah aku akan mati…."

BYUURR

'Kubuka mataku saat kurasakan sebuah tarikat lembut di tanganku. "Siapa dia? Malaikat pencabut nyawa kah ?" batinku bertanya-tanya sebelum pandanganku menjadi gelap.'

Naruto POV

'Cepat sekali dia menghilang' batinku sambil mengacak rambutku kesal.

Kulangkahkan kakiku menyusuri koridor rumah sakit tempatku bekerja. Hari ini adalah hari pertamaku bekerja setelah kepulanganku dari Amerika. Masih segar di ingatanku saat Tsunade bachan memintaku menjadi salah satu dokter di rumah sakitnya setelah aku menyelesaikan study ku di Amerikan.

Flash back On

Bandara Narita-Jepang pukul 15.00

"Tadaima" kataku saat aku kembali menginjakkan kakiku di Jepang.

"Okaeri" kata suara yang terasa familiar di telingaku.

Kuedarkan pandanganku kesekeliling bandara untuk menemukan asal suara yang begitu kurindukan.

"Disini Naruto" teriak seseorang di sebrang sana.

Kulangkahkan cepat kakiku menemui seseorang yang begitu kurindukan di sebrang sana.

"Sakura-chan" langsung saja kurengkuh tubuh itu kedalam pelukanku. Aku benar-benar merindukan gadis ini.

"Lepaskan aku Naruto, ini tempat umum" katanya tajam.

"Jadi, jika ini bukan tempat umum tidak apa-apakan" godaku padanya setelah pelukan kami terlepas.

'BUGH'

Mati rasa. Pukulannya benar-benar menyakitkan, dia sama sekali belum berubah. Tetap menjadi gadis yang kuat dan menawan. Gadis yang sempat kucintai dan mengisi hatiku.

"Aish…kau tega sekali padaku Sakura-chan" ringisku sambil memegangi perutku yang baru saja di tendang olehnya.

"Terima saja sebagai hukumanmu, kau benar-benar tidak berubah walaupun 7 tahun sudah berlalu" katanya tak percaya.

"Apa kau tak melihatnya, aku sudah bertambah tinggi dan semakin tampan. Dan tidakkah kau mendengar bisik-bisik para gadis disini yang sedang memperhatikanku. Jadi kesimpulannya, aku benar-benar sudah berubah" kataku panjang lebar dan penuh percaya diri.

"Fisikmu memang sudah berubah, tapi sifatmu masih kekanak-kanakan Naruto" katanya sambil memutar bola matanya malas.

"Kau juga belum berubah Sakura-chan" kataku sambil mensejajarkan langkahku dengannya.

"Cepatlah Naruto, Tsunade-san sudah menunggumu" Perintahnya mutlak.

"Eeeh, Kenapa ba-chan ingin menemuiku? Aku lelah sakura-chan, tak bisakah pertemuan ini di tundah besok?" kataku memelas.

"Kau akan mengetahuinya jika sudah sampai disana, dan tidak ada alasan untuk menundahnya" katanya tajam sambil menyeretku masuk kedalam taxi.

Sepanjang perjalanan, hanya kuhabiskan dengan mengumpat dan menggerutu tentang keputusan yang diambil secara sepihak dariku.

Akasaka Restaurant pukul 16.00

"Apa yang kau inginkan dariku ba-chan?"

TWITCH

"Kau benar-benar membuang waktuku disini ba-chan"

TWITCH

"Cepat katakan yang kau inginkan dariku, ba-chan. Aku benar-benar lelah dan ingin tidur.

TWITCH

"Jika tidak ada, Sebaiknya aku per—"

PRAAANG

Kulirik gelas sake yang sedari tadi dipegang oleh ba-chan tiba-tiba pecah. Entah mengapa aku merasakan firasat buruk menghampiriku. Hawa dingin yang begitu pekat menusuk di belakang punggungku. 'Firasat apakah ini?'

"N.A.R.U.T.O"

Kutolehkan kepalaku kebelakang dengan patah-patah. Sebelum aku tahu apa yang terjadi, aku sudah merasakan nyeri dan mati rasa di beberapa bagian tubuhku.

'BAGH. BUGH. BAGH. KRIEEK. BUGH.'

"Aku sudah mengetahui hasil kelulusanmu, kau lulus dengan gelar doctor terbaik" katanya memulai pembicaraan.

"Jadi?" tanyaku seolah mengetahui arah pembicaraa.

"Jadi sudah kuputuskan untuk merekrutmu sebagai salah satu dokter di rumah sakitku, apa kau setuju?" tanyanya memastikanku.

Aku hanya mengangguk menanggapinya dan bertanya "Well…, dimana posisiku?" bukannya bermaksud sombong, tapi kenyataannya aku adalah dokter muda berbakat yang sudah mencapai semua tingkatan dunia kedokteran.

"Aku ingin kau menjadi psikiater" jawabnya tenang.

"Kenapa?" tanyaku syarat akan kebingungan.

"Beberapa jam lagi aku, Shizune serta Sakura akan pergi ke Suna untuk ikut serta dalam pertukaran dokter"

"Lalu?"

"Ada seseorang yang ingin kau jaga untukku" katanya sendu.

Tak pernah sekalipun aku melihat tatapan sesendu itu di wajahnya. Siapakah orang yang ingin ku jaga untuknya? Apakah orang itu sangat berarti?

"Siapa?" tanyaku penasaran.

Melemparkan sebuah kunci padaku seraya berkata "Hanya seorang bocah manja yang kuat di luar namun rapuh di dalam, ku harap kau bisa menjaganya bahkan jika perlu melepaskannya dari belenggu masa lalunya"

"Apa ini?" tanyaku bingung.

"Itu kunci kamarnya, aku yakin suatu hari nanti kau pasti membutuhkannya" jelasnya.

"Oh…kapan kalian akan kembali?" tanyaku lagi.

"Kami tidak tahu ini hanya sementara atau selamanya, dan ya… kau bisa melakukan pekejaanmu mulai besok" katanya sebelum meninggalkanku dan Sakura sendirian.

Setelah kepergian ba-chan, suasana di sini mendadak hening dan canggung. Heh…kuputuskan untuk memulai percakapan terlebih dahulu.

"Saku—" kataku terpotong saat tiba-tiba Sakura memotong ucapanku.

"Kumohon Naruto, jaga dia untukku. Jangan biarkan dia terluka. Meskipun dia menyebalkan diluarnya, tapi sebenarnya jauh di dalam hatinya dia benar-benar rapuh. Jadi kumohon jagalah dia. Kalau tidak….Kraakk….siap-siaplah untuk kehilangan nyawamu" mohonnya setengah mengancam.

"B-ba-baiklah" kataku pasrah.

Dan setelah itu, aura kelam yang sempat keluar dari tubuh Sakura saat mengancam tiba-tiba menghilang dan di ganti oleh senyum lembut seolah-olah tidak terjadi apapun.

"Jadi Naruto, setelah ini kau akan tinggal dimana?" tanyanya yang mengingatkanku kembali pada persoalan itu.

"Beruntung sekali kau mengingatkanku tentang hal itu, aku tidak tahu akan tinggal dimana. Aku benar-benar tidak punya tujuan" kataku sambil menggaruk belakang kepalaku.

"Kalau begitu tinggal saja di rumah sakit" katanya tersenyum.

"Rumah sakit?" tanyaku membeo.

"Ya, rumah sakit. Disana ada ruangan khusus seperti apartement, ruangan itu biasanya digunakan Tsunade-san ketika pekerjaannya menumpuk atau jika ada pasien yang memerlukan perhatiannya lebih. Karena ruangan itu akan kosong dan tidak ada yang menempatinya selama kami di Suna, kau bisa tinggal di sana " jelasnya panjang lebar.

"Yosh…kalau begitu aku akan tinggal disana" putusku.

Sama seperti sebelumnya, perjalanan kami diisi dengan keheningan dan kecanggungan. Namun, kali ini bukan aku yang memulai membuka percakapan melainkan Sakura.

"Ne…Naruto, bukankah sekarang adalah waktu tercapainya cita-cita 'kalian' ?" ucapnya sambil menatap langit.

"Maksudmu?" tanyaku bingung.

"Sekarang kau sudah menjadi dokter, bukankah itu artinya cita-cita 'kalian' sudah terwujud?" tanyanya padaku.

Sekarang aku mengerti kemana arah pembicaraan ini berlanjut. Ya…ini semua tentang cita-citaku dengan 'dia' sosok yang merubah hidupku dimasa lalu

"Jika kau berpikir bahwa saat ini adalah waktu cita-cita 'kami' terwujud maka jawabannya adalah salah. Menjadi dokter adalah janjiku 'kepadanya' bukan cita-cita 'kami'. Cita-cita 'kami' yang sebenarnya belum terwujud" kataku menjelaskan.

"Kalau bukan menjadi dokter, lalu cita-cita kalian apa?" tanyanya ingin tahu.

Sambil tersenyum, kujawab pertanyaannya "Cita-cita kami adalah…."

Flash back End

Seulas senyum simpul terbentuk di bibirku saat mengingatnya kembali. Tak kurasa kakiku membawaku di sebuah koridor yang menghadap taman belakang. Baru kusadari bahwa taman belakang rumah sakit ini benar-benar indah dan menenangkan. Perpaduan antara bau mawar serta kesejukan danau mampu membantu menyejukkan pikiran yang sedang kacau. Kulihat sebuah sosok yang mengalahkan indahnya taman saat itu. Helai panjang miliknya yang tertiup angin serta dress putih yang terlihat pas ditubuh rampingnya, membuat dirinya begitu menyatu dengan ribuan mawar yang mekar di sekitarnya. 'Hm…ternyata gadis ah ralat pemuda ini ada disini'. Kuingat kembali pertemuan pertamaku dengannya, Uchiha Sasuke. Saat pertama kali kami bertemu, aku benar-benar tertipu akan pesonanya. Mendengus geli, saat kuingat kata-kata Sakura-chan mengenai dirinya. Dia adalah seorang gadis er pemuda yang berlidah pedas namun terlihat begitu rapuh saat kau lihat kedalam matanya.

Ku amati terus setiap gerak gerik yang dilakukan olehnya, ya…sejak awak aku sudah terjerat olehnya dan tak bisa ku pungkiri jika aku tak bisa mengalihkan pandanganku darinya. Tertawa kecil saat melihatnya terjatuh, 'Ah…dia benar-benar ceroboh' kataku dalam hati. Sebuah pertanyaan tiba-tiba muncul di benakku 'Apakah aku jatuh cinta dengannya?' itu tidak mungkin, sudah pasti jawabannya adalah 'Tidak'. Kita adalah sama-sama lelaki dan tak mungkin untuk memiliki hubungan seperti 'itu'. Mungkin saja aku tak menyangkal perasaan itu jika seandainya dia adalah seorang gadis. Terlalu larut dalam pikiranku, ku fokuskan kembali pandanganku pada sosoknya. Semakin lama, aku merasa aneh dengan tingkahnya…

'Ku amati dia yang beberapa kali terjatuh dan kembali lagi berjalan dengan tertatih-tatih'

"Apa dia akan melukai dirinya lagi?"

'Kulihat dia seperti mengejar dan menggapai sosok di depannya'

"Apakah dia sadar apa yang dilakukannya?"

'Sekelebat pertanyaan menari-nari memenuhi kepalaku'

"Jangan-jangan…."

'Kugelengkan kepalaku dan Kulirik kembali kearahnya saat dia akan mencapai danau…tunggu, danau….'

"Gawat, dia bisa tenggelam…"

'Terlambat…..'

BYUURR

"Tidak mungkinkan dia…"

'Berlari kearahnya, kubuang sembarangan sepatu dan jas dokter yang kukenakan lalu mengikutinya masuk kedalam air'

"Gelap…disini gelap….dimana dia?"

'Kucari terus keberadaannya didalam air dan warna merah menuntunku untuk menemukannya'

"Sepertinya dia terlukan…"

'Kutarik lembut tangannya dan mendekapnya dalam pelukanku lalu membawanya kepermukaan'

"Sadarlah" kataku sambil menepuk-nepuk pipinya lembut. Namun, hal itu tak menyadarkannya. 'Sepertinya terlalu banyak air yang masuk kedalam tubuhnya' pikirku. Kutekan dadanya untuk mengeluarkan air yang masuk kedalam paru-parunya. Gagal. Sudah beberapa menit hal itu kulakukan tapi tak membuahkan hasil. 'Jika begini terus dia bisa mati'. Ada satu-satunya cara untuk menyelamatkannya tapi 'Haruskah kulakukan?'

Naruto POV End

TBC

Note:

Makasih minna buat yang udah baca serta ngeriview sama nunggu ff ini.

Maaf updatenya telat…

Thanks to

fatayahn : terima kasih sama sarannya

Shawokey / yassir2374 /shouta Ryuuji / ClapJun / EthanXel / Guest / shin / yuichi / YoungChanBiased : di tunggu aja chap selanjutnya… terima kasih review nya

Naminamifrid : ya…bisa jadi