Tittle: Love me Tender

Universe: AU

Rating: T, enggak ada Lemon tapi akan ada 'lime'.

Genre: Romance/Drama/Comedy

Summary: Sakura menikah dengan pria yang selalu dicintainya selama ini. Seharusnya itu membuatnya bahagia, tapi sebuah rahasia membuat pernikahan mereka berubah menjadi komedi yang menyedihkan.

Disclaimer: Naruto punya Kishimoto-sensei

Note: Aku bukan fujoshi, 'slash' yang muncul di cerita ini cuma bagian dari plot. Ratting cerita ini nggak sampai M tapi dianjurkan untuk 16 tahun ke atas.

.

CHAPTER 2

"GAY and GUY"

Sambil mengetuk pintu kamar mandi dan menendangnya sekali, Ino menjerit memanggil namaku dengan kesal, "Hei, istri bodoh! Buka pintu kamar mandinya sekarang juga! Aku mau pipis!"

"T...hik...ta...hik...tapi...hik...tapi..hik...Inooooo…" Aku terisak sambil duduk memunggungi pintu kamar mandi sahabatku itu, "Hik… si bodoh… hik...Naruto… d-dia… hik… mencium Sasuke-kun! Dia mencium gay sialan itu di depan mataku! Ino… Kenapa sih dia begitu gay?"

"Itu salahmu sendiri kan?" Kata Ino terdengar jengkel, aku tahu ia membungkuk untuk mendorong pintu kayu itu kuat-kuat agar dapat terbuka.

"Kenapa bisa jadi salahku?" protesku dengan pipi yang masih dibasahi airmata.

"Kamu terlalu bodoh! Kupikir kamu menginginkan Naruto? Lalu kenapa kamu membiarkan selirnya tinggal di rumah kalian?"

"Itu kekasihnya, bukan selir! Mereka berdua laki-laki—kau tidak bisa menyebut seorang laki-laki dengan sebutan selir!" kataku lagi sambil berjengit, "Dan lagi kau mulai terdengar seperti Shika-kun!"

Ino berhenti sejenak menggedor pintu kamar mandi dan aku dapat membayangkan senyuman yang kini pasti tengah mekar di wajahnya, "Shika-kun?"

"Shikamaru Nara."

"Ok, siapa itu Shikamaru Nara?"Tanya Ino terdengar tidak sabaran.

"Teman masa kecilku. Mungkin kau tidak tahu tapi dulu dia sempat bekerja untuk agensi yang sama dengan Naruto-kun. Beberapa tahun yang lalu dia keluar dari agensi…"

"Kamu masih barhubungan dengan teman masa kecilmu itu?" Tanya Ino, aku tahu apa yang ada di kepalanya saat ini.

"Hanya lewat surat. Dia di Amerika sekarang..."

"Benarkah?" tanya Ino mencoba memancing informasi lebih banyak dariku.

"Apa yang ingin kau ketahui?" Tanyaku curiga sambil mengeluarkan tisu dari sakuku dan membersihkan ingusku, aku tahu apa yang Ino rencanakan, "Jangan mengada-ada Ino... Aku sudah muak dengan laki-laki!" gumamku, terutama laki-laki tampan yang cenderung memiliki bakat gay.

"Hei kau ini aneh deh, kenapa harus benci sama semua laki-laki? Dengar ya, Naruto nggak bakal jatuh cinta sama wanita karena dia gay! Seratus persen gay! Jangan benci laki-laki normal dong! Memang salah mereka apa?" Kata sedikit mendramatisir.

Aku melempar botol sabunnya ke arah pintu agar ia tahu aku kalau kesal dan tidak berniat mendengar nasehatnya itu.

"Dan ngomong-ngomong apa kau tidak pernah dengar teknologi bernama e-mail?"

"Cerewet! Alamat email dia cuma untuk urusan bisnis, aku nggak mau mengganggu pekerjaan Shika-kun. Lagipula aku suka bersurat lewat pos..." gumamku setengah melamun, "Lebih romantis…"

"Romantis? Berapa umurmu sebenarnya? Dan ngomong-ngomong lebih baik bukan sabun bulgariku yang kau lempar ke pintu barusan! Aku menguras tabunganku untuk membelinya," lalu Ino terdiam. Kupikir dia sedang mengendus apa sabun yang kulemparkan itu benar-benar sabun bulgarinya atau bukan—sebenarnya itu memang sabun bulgarinya—dan beberapa saat kemudian ia menambahkan, "Apa kamu suka sama si Shikamaru ini?"

Aku mendengus mendengar pertanyaan itu. Aku tidak menjawab pertanyaan Ino itu. Perlahan aku memungut sabun yang tadi kulempar ke pintu dan meletakkannya kembali di tempatnya sebelum akhirnya membuka pintu hanya untuk melihat wajah Ino yang tersenyum lebar padaku.

"Apa?" tanyaku canggung.

"Kau baru saja menghindari pertanyaanku kan? Tapi yang lebih penting sekarang... MINGGIR! Aku perlu pipis!" katanya sambil berlari masuk ke kamar mandi dan menutup pintunya.

Aku menutup kedua kupingku dan bersiap mendengar jeritannya beberapa saat kemudian.

"ITU SABUN BULGARIKU!"

Aku tidak menghiraukan jeritan Ino. Aku hanya bisa nyengir lebar serba salah saat ia keluar dari kamar mandi sambil mengomel soal sabunnya.

"Kau sudah selesai pipis?" tanyaku sambil berbaring di tempat tidurnya, "Cepat sekali?"

"Yup!" katanya sambil duduk di tepian tempat tidur di dekat kakiku, "Apa kamu suka sama si Shikamaru itu?"

"Nggak! Nggak! Nggak! Nggak! Nggak!" aku bersikeras menyangkal tapi pipiku berkhianat dan memerah.

"Kau memerah!" goda Ino sambil nyengir lebar ke arahku, "Kau tahu, kurasa itu wajar dan sah buatmu untuk suka sama dia. Paling nggak akhirnya aku tahu kalau kamu bisa tertarik sama cowok!"

"Naruto juga cowok tahu!"

"Secara biologis sih iya tapi sebenarnya dia itu cewek yang terperangkap di tubuh cowok. Maksudku, apa kamu udah pernah coba nyatakan cinta ke dia? Siapa tahu dia suka kamu juga, ya kan? Lagipula kalian sudah tinggal bersama selama satu tahun, kalau dia memang laki-laki kan harusnya sudah terjadi sesuatu di antara kalian…" Ino mengusap dagunya, "Masalahnya, bagaimana bisa kamu begitu jatuh cinta sama dia, tapi dia tidak sadar sama sekali?" Tanya Ino penasaran. Ia merubah posisi duduknya hingga kini benar-benar menghadapku, "Aku nggak pernah jatuh cinta sama homo sih... Tapi sebaiknya kau coba untuk mengaku saja karena dia mungkin akan menyukaimu balik. Siapa tahu kan?"

"Menyatakan cinta terpendamku pada seorang gay?" tanyaku tidak habis pikir, kadang-kadang sahabatku ini bisa lebih bodoh dari kelihatannya, "Aku tetap menyukainya karena kadang-kadang aku berpikir kalau dia mungkin juga menyukaiku seperti aku menyukainya, Ino. Tapi dia gay! Lebih dari itu, dia menganggapku teman baiknya sekarang. Aku tidak ingin mengkhianatinya. Dia begitu mempercayaiku. Dia sering mengatakan dia mencintaiku, seperti bagaimana kebanyakan gay bertingkah laku di hadapan sahabat perempuannya. Posisiku sekarang ini ada di tengah-tengah, aku istrinya dan temannya. Tentu saja dia mencintaiku."

Ino menatapku dengan tatapan prihatin.

Aku menghela nafas, "Tapi hati dan tubuhnya bukan punyaku..."

"Kalau begitu sudah jelas, kau harus cari cowok lain." Kata Ino penuh simpati, ia menepuk kepalaku dengan lembut, "Kalau kau memiliki kekasih lain, kau tidak akan sekacau ini setiap kali dia melakukan ini padamu."

Aku tidak mengatakan apa-apa lagi. Aku berbalik dan membenamkan wajahku di bantal.

"Berdiri!" Ino menepuk pantatku, "Aku tahu kemana aku harus membawamu untuk menghapus Naruto dari pikiranmu!" Katanya lagi sambil menarik tanganku agar bangun dari tempat tidur.

"Kemana?"

"Dimana tempat yang banyak cowoknya?"

"Stadion sepak bola?"

"Lebih baik lagi!"

"Jangan bilang ke host club? Aku nggak mau!" kataku, takut dengan ide gila Ino itu, "Kalau teman Naru-kun ada di sana... Atau anak buah kakekku... Atau siapapun! Mereka akan menganggapku berselingkuh!"

"Lupakan saja semuanya, kau bebas melakukan apa yang ingin kau lakukan... Host Club bukanlah ide buruk..." kata Ino sambil menyeretku keluar dari kamarnya.

"Kau benar-benar akan membawaku kesana!" mataku membelalak menatapnya.

"Kenapa tidak? Itachi-san bekerja disana sejak keluar dari agensi, kau tahu... Aku bertemu dengannya saat aku melamar kerja sambilan di sana. Sekarang aku kerja sambilan di sana. Dengan adanya aku dan Itachi-san disana, kau akan aman..."

Ino sudah gila. Dia akan mengajakku ke host club tempat kakak dari pacar suamiku—yang juga merupakan teman dekat suamiku—bekerja. Kalau sampai Itachi-san melapor pada Naruto, habislah aku. Ia tidak akan senang kalau tahu istrinya—yang seharusnya belum cukup umur untuk minum minuman beralkohol—pergi ke klab malam tanpa sepengetahuannya.

Baru saja aku akan mengatakan sesuatu untuk menolak ajakan Ino, tiba-tiba saja ponselku berdering, tanpa melihat siapa yang menelpon aku mengangkatnya dengan kesal, "Siapa ini? Aku sibuk, tolong cepat katakan ada perlu apa!"

"Sayangku.." Suara Naruto yang memelas membuatku tertunduk lemas, dia hanya memanggilku dengan panggilan sayang di saat dia merasa senang—atau dalam masalah. Dan dia tidak terdengar senang sama sekali.

"Ada apa? Apa ada sesuatu yang terjadi?"

"Aku membutuhkanmu..." katanya sembari mulai terisak.

Aku merasa agak syok. Ini pertama kalinya aku mendengarnya menangis. Naruto Uzumaki menangis? Hampir terdengar seperti lelucon untukku. Tapi dia memang menangis.

"Apa yang terjadi?" tanyaku cemas.

"Tolong, pulanglah sekarang. Aku membutuhkanmu..."

Kata-kata itu membuatku melupakan rencana gila Ino yang ingin membawaku ke host club. Aku segera berlari meninggalkan apartemen Ino dan mengendarai mobilku secepat yang aku bisa untuk menuju rumah.


"Naru-kun?" panggilku perlahan sambil membuka pintu.

Ruangan utama tampak gelap dan sunyi. Satu-satunya suara datang samar-samar dari televisi di kamarnya yang ada di lantai dua. Aku menaiki tangga dan segera menuju kamarnya.

Aku membuka pintu kamarnya dengan hati-hati dan memanggil namanya dengan perlahan, "Naru-kun?"

Kamarnya tampak sangat berantakan. Aku menemukannya dengan mudah. Saat aku melangkah memasuki kamarnya, ia sedang duduk di tengah tempat tidur berukuran king size-nya yang berantakan sambil makan cokelat dan menonton dorama.

"Kau bertengkar dengan Sasuke-kun?" Tanyaku, berusaha tidak menunjukkan rasa senang di suaraku sambil berjalan mendekat ke tempat tidurnya.

"Tidak."

'Sial!'

"Lalu apa yang terjadi?"

"Apa kau tadi sedang bersama Ino? Maaf aku sudah memaksamu datang," katanya meminta maaf sambil menggigit cokelatnya dan meminum bir kalengan yang diletakkan di pangkuannya. Suaranya terdengar serak.

Aku menghela nafas dan memanjat naik ke tempat tidurnya. Aku duduk di sebelahnya dan menatapnya dengan simpati.

"Kau makan cokelat. Ini pasti masalah besar..." kataku sambil mengerutkan dahiku.

Cokelat mengandung aphrodasiac yang bagus untuk dikonsumsi saat sedang dalam masalah. Tapi cokelat juga mengandung banyak kalori yang akan membuatmu gemuk. Naruto tidak ingin menjadi gemuk, jadi aku dapat menyimpulkan kalau pasti masalahnya cukup besar sampai dia memutuskan untuk makan cokelat sebanyak itu.

"Aku benci Jiraiya."

"Kau datang ke kantor hari ini?" tanyaku sedikit terkejut. Padahal belakangan ini ia selalu bertengkar dengan para staf dan manajernya karena menolak untuk datang ke kantor meskipun Jiraiya sendiri yang memanggilnya.

"Mau bagaimana lagi? Ia mengancamku kalau tidak datang kali ini. Lihat, ada lebam besar di mataku!" katanya marah sambil menunjukkan lebam hitam di mata kirinya.

"Wow! Panda!" kataku spontan dan langsung disambut dengan tatapan pembunuhnya.

"Kau ingin aku membunuhmu?" tanyanya suram.

Aku segera menggelengkan kepalaku kuat-kuat. Kalau membunuh dengan ciuman boleh juga.

"Mana Sasuke-kun?"

"Aku tidak ingin ia melihatku dalam keadaan begini. Dia sedang ada syuting di luar kota beberapa hari." Katanya sedih, ia menyandarkan dagunya di pundakku, "Mau cokelat?"

"Aku sedang diet." Tolakku, "Aku nggak makan cokelat karena sekali makan aku nggak akan bisa berhenti." Kataku sambil mendengus.

Aku meletakkan tanganku di atas tangannya yang ada di atas tempat tidur dan menautkan jari-jariku dengan jari-jari panjangnya.

"Kau akan menautkan jarimu seperti itu ketika melakukan seks." Gumam Naruto sambil memandang jari kami yang saling bertautan, "Tapi kurasa kau tidak akan tahu karena kau masih perawan…" godanya.

"Jangan khawatir, aku nggak perawan lagi. Aku bercinta hari ini."

"Apa?" Ia nyaris berteriak.

Ia menarik tangannya dariku dan meletakkan kedua tangannya di pundakku. Ia menatapku dengan tatapan serius sambil mengguncangkan pundakku. Ia tampak panik dan aku menahan diri untuk tidak tertawa melihatnya.

"Siapa bajingan yang memperkosamu? Aku akan membunuh si brengsek sialan itu!"

Aku mengeluh dan berusaha menyingkirkan kedua tangannya dari pundakku tapi ia malah memperkuat cengkeramannya, "Itu seks biasa, bodoh! Kami berdua menyetujuinya,"

"Aku tidak percaya! Siapa yang mau tidur denganmu? Seluruh penjuru negeri ini tahu bahwa kau adalah istri Naruto Uzumaki dan tidak ada yang cukup bodoh untuk berurusan denganku!" katanya terdengar angkuh, "Hanya orang buta, mabuk, dan bodoh yang berani menyentuhmu. Aku—bagaimana pun—soal lain."

"Oh ayolah, cowok tampan yang normal nggak akan membawa pulang seseorang yang memiliki penis sepertinya..." cemoohku, "Lagipula, lihat wajahmu itu, seseorang telah membuktikan bahwa dia berani menonjokmu. Tepat di wajah. Kau bukan siapa-siapa!" kataku marah sambil menepis tangannya dengan kasar.

"Tutup mulutmu!" katanya sambil melempar bantal ke arahku.

"Sebenarnya apa yang terjadi sih?" aku mengambil bantal yang dilemparkannya dan menjadikannya alas kepalaku sambil berbaring di tempat tidurnya.

Aku memang beruntung. Aku tahu ada jutaan orang yang bersedia mati untuk bisa tidur di tempat tidur Naruto Uzumaki

"Masalah lama... Masalah lama..." katanya sambil memainkan rambutku dengan jarinya.

"Kau mencoba membuatnya melihatmu sebagai wanita meskipun secara fisik kau laki-laki?" tanyaku membiarkannya memilin rambutku dengan jarinya.

Aku tahu alasan kenapa aku harus menikahi Naruto adalah karena kakekku butuh uang dan Naruto menikahiku karena Jiraiya-san ingin mencoba untuk menutupi fakta bahwa asetnya yang paling berharga di agensinya adalah seorang gay. Jiraiya-san mengeluarkan uang banyak untuk membantu perusahaan kakekku yang hampir bangkrut dengan syarat kakekku mau menikahkanku dengan Naruto.

"Jangan berkata seperti begitu! Kedengaran seperti kau menganggapku sebagai banci atau semacamnya. Ok aku tahu aku bukan wanita sejati sepertimu, tapi aku jauh di dalam diriku aku adalah wanita," Katanya bersikeras, "Bagaimana menurutmu kalau aku menjalani operasi untuk mengganti jenis kelaminku? Aku dan Sasu-kun sudah membicarakannya dan dia tidak keberatan. Tidakkah kedengarannya hebat kalau aku bisa punya dada yang besar?" ia melirik ke arah dadaku dan tertawa, "Sebesar punyamu juga tidak apa-apa sih..."

Pelecehan seksual!

"Kau sepertinya tidak kapok juga ya. Kali ini Jiraiya-san sampai menonjokmu di wajah..." Aku benci topik ini, ia seperti menamparku dengan fakta bahwa jauh di dalam dirinya, ia adalah wanita sepertiku. Apa aku aku harus menjadi laki-laki dulu agar ia melihatku?

Kalau Naruto tidak normal karena jatuh cinta pada seseorang yang berjenis kelamin sama dengannya, maka mungkin aku pun tidak normal karena jatuh cinta pada seseorang yang memiliki jiwa yang sama denganku.

"Menonjokku?" Naruto mencibir, "Dia melemparkan asbak ke arahku. Beruntung aku berhasil menangkis guci cina yang dilemparkan berikutnya." Katanya sambil menunjukkan kepalan tangannya yang terluka.

Aku baru menyadari luka di kepalan tangannya dan menghela nafas. Aku tahu Naruto berbohong padaku. Jiraiya-san tidak akan melemparkan guci cina dari dinasti Ming kesayangannya yang seharga tiga juta yen itu ke arah Naruto.

"Kau meninju cermin lagi kan? Berapa kali kubilang untuk tidak melakukannya?" tanyaku marah dan memelototinya.

Aku berdiri untuk mencari perban dan alkohol untuk membersihkan lukanya. Si bodoh itu selalu saja melukai dirinya saat sedang terbawa emosi.

"Maafkan aku, Sakura…" katanya sambil menatapku dengan tatapan yang mengingatkanku pada anak anjing yang dibuang pemiliknya. Aku tidak akan bisa marah terlalu lama padanya.


Aku kembali ke tempat tidur dengan membawa kotak perlengkapan pertolongan pertama. Aku meraih tangannya dan membubuhkan alkohol ke lukanya. Ia meringis kesakitan dan itu membuatku sedikit merasa puas. Aku tahu ia tidak akan berani protes meskipun aku menuangkan alkohol banyak-banyak pada lukanya karena ia sadar kalau ia memang salah.

"Kalau kau lakukan ini lagi, aku akan memotong tanganmu." Ancamku sambil membalut tangannya dengan perban, "Ini sudah ke-8 kalinya kau melakukan ini, dan ini tidak sehat."

Aku terus mengomel sambil membalut lukanya. Ia tidak mengatakan apapun meskipun aku memarahinya. Baguslah kalau ia merasa bersalah. Aku mengangkat wajahku untuk menatapnya setelah selesai memerban tangannya. Ada beberapa bulir airmata yang siap menetes dari matanya.

"Ok, maaf, aku mungkin agak kelewat kasar..."

"Agak? Kau menuangkan alkohol di tanganku dan sengaja mengikat perbannya erat-erat!" katanya marah.

Aku tersenyum melihat reaksi kekanakkan yang ditunjukkannya. Sebelum sadar apa yang kulakukan, tahu-tahu saja aku sudah mencium dahinya dan menepuk kepalanya dengan lembut.

Ia menatapku dan bertanya dengan bingung, "Apa yang kau lakukan?"

"Memperlakukanmu seperti anak kecil, karena kau bertingkah seperti anak kecil." Jawabku enteng.

Aku berbaring lagi di sebelahnya.

Aku membayangkan apa Sasuke juga berbaring begini setiap malam di tempat tidur ini...

"Naru-kun…"

"Hmm?" tanyanya sambil merebahkan tubuhnya di sebelahku.

Ia berbalik dan menatap ke arahku dengan ekspresi lembut. Aku hampir saja tidak dapat menahan keinginanku untuk menarik wajahnya ke arahku dan menciumnya.

"Apa kau selalu gay?"

Dia tertawa dan balik bertanya, "Pertanyaan macam apa itu?"

"Cuma pertanyaan biasa, kau tidak akan mati karena menjawabnya..."

"Mungkin." Katanya terdengar tidak yakin, "Aku tidak tahu."

Aku menatap wajahnya yang berada begitu dekat denganku. Ia tampak serius memikirkan pertanyaanku dan terdiam selama beberapa saat.

"Mungkin dulu aku pernah jadi cowok normal, tapi aku lupa. Itu sudah lama sekali. Aku berusaha melakukan kegiatan yang lebih seperti laki-laki tapi tidak berhasil." Katanya dengan tatapan menerawang, "Aku pernah berkencan dengan seorang gadis, tapi aku malah menyukai laki-laki lain. Sejak itu aku tidak ingin menjalin hubungan dengan wanita karena aku tahu aku hanya akan melukai mereka. Aku tidak bisa menyukai mereka seperti aku menyukai laki-laki."

Aku terpukul dengan pernyataannya itu. Air mataku siap untuk keluar tapi aku mencoba untuk menahannya.

"Jadi, Jiraiya-san selalu kesal karena itu?"

"Sangat kesal. Saat aku bilang bahwa aku ini gay dia hanya tertawa, tapi saat kubilang aku ini wanita dia menghajarku dengan tongkatnya sampai aku nyaris mati. Aku diopname beberapa hari setelah itu." Ia memajukan bibirnya dengan kesal, "Katanya, 'Jiraiya's Entertainment membutuhkan pria bukan wanita!'. Pasti dia sangat senang saat kakekmu meminta bantuan keuangan darinya. Jiraiya langsung berpikir untuk melangsungkan pernikahan ini."

"Yeah, dan mereka segera menikahkan kita," kataku datar, "Kau sangat benci harus terikat denganku kan? Aku ingat reaksimu saat tahu harus menikah denganku. Aku juga masih ingat perlakuanmu padaku di hari pernikahan kita. Kamu sebegitu tidak inginnya menikah dengan seorang wanita?"

"Itu karena aku harus menikahimu."

"Hei! Apa maksudnya itu?" kataku merasa terhina.

Ia menertawai reaksiku. Aku berpura-pura merajuk padanya. Aku bergeser sedikit untuk menyandarkan kepalaku di dadanya yang berbaring di sebelahku. Ia tidak keberatan dengan tindakanku ini. Aku memejamkan mataku dan mencoba mendengarkan detak jantungnya.

"Kau membenciku?"

"Aku terbiasa dengan hidupku yang dulu..." katanya entah kenapa seolah menghindari pertanyaanku.

"Kau punya Sasuke-kun sekarang…" kataku sambil berdoa pada Tuhan agar ia tidak menangkap kesedihan di suaraku.

"Yah..."

Aku terdiam.

"Sakura?"

"Hmm?"

"Apa kau pernah jatuh cinta?"

Dadaku hampir meledak mendengar pertanyaan itu, tapi aku memutuskan untuk menjawabnya dengan jujur, "Ya, dua kali"

"Dua kali?" gumamnya sambil jarinya kembali memainkan rambutku, sayang aku tidak bisa melihat ekspresinya saat ini, "Siapa saja?"

"Waktu aku masih kecil aku jatuh cinta dengan teman masa kecilku," kataku, ia berhenti memainkan rambutku untuk mendengarkan ceritaku. Aku tahu, sebenarnya ia tahu siapa yang kumaksud dengan teman masa kecilku itu.

"Siapa cowok yang sangat tidak beruntung itu?" Tanyanya nyaris berbisik, aku mengacuhkan nadanya yang menyebalkan itu.

"Shika-kun." Kataku menghindari menggunakan nama lengkapnya, karena aku tahu Naruto bagaimanapun tahu siapa yang kumaksud.

"Shikamaru Nara?" Ia tertawa.

Aku mencubit perutnya tapi ia tetap tertawa.

"Dia itu cowok yang sempurna di mataku. Aku bahkan melamarnya berkali-kali dulu. Dia berjanji akan menikahiku, karena kalau menolak aku akan memasukkan cacing ke kotak makan siangnya. Lalu ia mulai bergabung dengan Jiraiya's Entertainment dan kami jadi jarang bertemu. Setelah ia keluar dari agensi kalian, kami kembali dekat tapi lalu ia memutuskan untuk berangkat ke New York."

"Sekarang bagaimana?"

"Rasa sukaku padanya memudar seiring waktu. Sekarang aku suka orang lain. Orang yang bercinta denganku hari ini..." Kataku setengah tertawa, aku bukanlah seorang pembohong yang ulung. Tapi di luar dugaan, kata-kataku itu berhasil membuatnya terdiam.

"Sakura..."

"Apa lagi sih?"

"Kau tidak benar-benar melakukan seks kan?" tanyanya.

Aku mencoba menatapnya. Wajahnya yang kelihatan serius berada begitu dekat denganku, kalau saja aku mendekatkan kepalaku sedikit ke arahnya...

Sakura hentai!

"Tentu tidak! Aku menyimpannya untuk pria benar-benar kucintai!" kataku padanya dan tiba-tiba saja tanpa bisa kutahan lagi, aku mencium bibirnya.

Gawat, sepertinya aku memang perlu pergi ke Host Club itu untuk melampiaskan stres!

Dia tampak terkejut saat aku menjauhkan wajahku darinya tapi ia tidak mengatakan apa-apa mengenai tidakan nekadku itu dan diam-diam aku berterimakasih padanya.

Tidak lama kemudian ia tersenyum dan berkata, "Tidur denganku malam ini? Sahabatku tersayang..."

"Di kamar berantakan begini?" tanyaku sambil mencibir.

Sebenarnya dadaku terasa sesak. Apa dia tahu aku menyukainya? Bahkan setelah aku menciumnya, ia tidak beraksi apa pun. Ia malah memintaku tidur dengannya malam ini? Tidakkah dia tahu kalau aku menyukainya?

Tidak.

Mustahil.

Dia tipe orang yang hanya peduli pada dirinya sendiri.

Dia tidak akan menyadari perasaanku padanya meskipun seandainya aku memerkosanya malam ini.

"Aku butuh seseorang malam ini. Aku tidak bisa melupakan wajah marah Jiraiya-san. Aku rasa aku telah mengecewakannya." Katanya terdengar sedih.

Aku memang terlalu baik.

"Ok. Tapi lebih baik kau tidak mengorok." Kataku akhirnya menyerah sambil menarik selimut sebatas dadaku.

Ia tersenyum puas sambil melingkarkan tangannya di pinggangku dan menarikku agar semakin dekat dengannya sementara aku mengistirahatkan tanganku di dadanya.

"Selamat malam, istriku…"

.

.

Author's Note:

Sebelumnya terima kasih atas reviewnya :D Sebenarnya, plot cerita ini sudah selesai sejak lama, ini adalah proyek daur ulang dari plot lama yang saya buat tahun 2006, makanya saya bisa update dengan sangat cepat. Kalau saya mau bisa sih sehari dua chapter, tergantung bagaimana respon pembaca. Hehe..

Oh maaf ya di chapter-chapter sebelumnya saya salah mengeja nama "Ino" ^^; Saya masih confused soal karakter-karakter Naruto. Tapi diusahakan supaya lebih baik lagi. Kalau karakter favorit saya di Naruto, sebenarnya sih Gaara (kyaaaaa). Tapi kalau pairing sepertinya saya lebih suka sama NaruSaku.

Oh ya, semoga ada yang sadar, sebenarnya Jiraiya's Entertainment tempat Naruto cs bernaung itu plesetan dari Johnny's Entertainment, agensi tempat boyband-boyband favorit saya bernaung (ARASHI, kanjani8, SMAP)

Anyway pals, I will reply all of the reviews tomorrow.

.

Recchinon.