Halo-halo minna-san.. maaf banget ya lama update, lagi sibuk UTS nih, jd sibuk T_T. Sekali lagi maaf ya, saya sudah menelantarkan readers semua #plak!

Oke deh, langsung aja, jangan lupa review yaa..

Cinta yang Terlambat...

(GS version from 'Cinta di Ambang Keterlambatan' in Captain Tsubasa fandom)

By: Yuri Misaki

Disclaimer: All of charas in Gundam Seed belongs to Sunrise


Three...

Karena kejadian waktu itu,rasanya Lacus sudah tak bergairah lagi menikmati hidup. Hatinya benar-benar kacau sekarang. Ia sudah tak mampu lagi mengetahui isi hati yang sebenarnya. Pikirannya pun acap kali tak fokus, meskipun sedang belajar di kelas Mrs. Ramius pun, pikirannya terus saja melanglang buana kemana-mana. Raganya memang hadir disana, sedang duduk sendiri di tepi jendela dengan bertopang dagu menatap papan tulis. Tapi jiwanya tidak benar-benar utuh disana.

Gara-gara dia, semua ini gara-gara dia.

"Lacus Clyne!"

Lacus tergeragap, dan tanpa sadar ia segera berdiri dari bangkunya, "I..i-iya?"

"Sudah lima kali ibu panggil namamu! Kenapa kau masih melamun saja? Cepat baca halaman 62!"

Lacus terburu-buru membuka buku panduan gundamnya dan mulai membacanya, "Strike Freedom adalah salah satu jenis gundam yang hebat. Ia memiliki kemampuan perang yang luar biasa, dan karena sebab itu orang yang mengendalikannya juga harus orang yang benar-benar mengerti dengan gundam itu, seperti misalnya...," jeda sejenak, "Ki-Kira Yamato," suara Lacus mulai bergetar ketika mengucapkan nama itu –sebuah nama yang menjadi alasan dibalik kebingungannya saat ini. Ia berusaha sebisa mungkin membendung pelupuk matanya yang entah kenapa tiba-tiba dibanjiri tetesan air mata.

Dan seorang pemuda yang akhir-akhir ini mengisi kehidupan gadis itu, tersenyum datar, tanda mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

...

"Lacus tunggu!"

Yang dipanggil menoleh, "Ada apa Athrun?"

"Mau kemana?"

"Ke perpustakaan, kenapa? Mau ikut?"

Athrun seperti berpikir sejenak, lalu mengangguk, "Baiklah, aku ikut"

Setibanya di perpustakaan, mereka pun langsung mengambil tempat duduk dekat jendela menghadap ke taman. Lacus langsung mengambil buku secara acak dan langsung membukanya.

"Hm? Sejarah berdirinya ZAFT? Aku baru tahu kalau kamu suka baca buku sejarah, " komentar Athrun ketika melihat judul buku yang dipegang Lacus.

Lacus bersikap tak acuh, berusaha terus membaca, tapi sepertinya, tatapan matanya tidak bisa berbohong kali ini.

Athrun hanya mendengus, "Sudahlah, tak usah dipaksakan. Kamu sedang ada pikiran kan?"

Lacus terdiam. Menutup bukunya dan menatap wajah temannya itu, "Darimana kamu tahu?"

"Begini ya, yang aku tahu, kamu itu jarang sekali ke perpustakaan, makanya aku heran sekali waktu kamu bilang mau kesini. Apalagi, kamu langsung ambil buku sejarah. Itu bukan kamu banget," papar Athrun.

Lacus hanya bisa tercengang, tak percaya kalau Athrun betul-betul mengenal dirinya.

"Kau benar, aku...sedang banyak pikiran"

Athrun menatap lekat mata biru muda gadis itu, seolah mencoba menyingkap apa yang dipendam gadis itu, "Lacus...apa kau..kangen sama Kira?" tanyanya hati-hati.

Deg!

'Lacus...apa kau..kangen sama Kira?'

Cukup dengan satu pertanyaan barusan, kedua pelupuk mata Lacus mulai dibanjiri air mata. Tetes demi tetes mulai mengalir di pipinya yang halus itu. Athrun dengan cepat merengkuh tubuh gadis itu erat, seolah ingin turut merasakan kesedihannya.

"Aku..benar-benar rindu padanya Athrun...tapi...kenapa..di-dia gak pernah ngerti...,"Lacus mulai terisak sedih.

"Sudahlah..," Athrun mengelus punggung Lacus lembut, "Masih ada aku disini, kau bisa bergantung padaku"

Mendengar kalimat barusan, Lacus tersenyum. Senyuman yang sangat tulus, membuat hati Athrun langsung meleleh karenanya.

"Terimakasih.."

...

Keesokan harinya, seisi kelas gempar ketika Lacus langsung menempati bangku bersama Athrun. Meskipun mereka berdua nampak tenang, namun yang lainnya malah sibuk kasak-kusuk membicarakan mereka. Bahkan ada yang memulai isu kalau Lacus putus dengan Kira dan berpacaran dengan Athrun.

Dan kabar itu pun sampai juga di telinga Kira.

"Kakak..lagi sibuk ya?"

Kira yang saat itu tengah sibuk memperbaiki gundamnya, refleks langsung menoleh, "Hm..ada apa Cagalli?"

Gadis berrambut kuning cerah yang bernama Cagalli Yula Athha itu tersenyum, "Anu..bisa bicara sebentar?"

"Tunggu dulu ya, Cagalli..aku masih harus memperbaiki ini," ujar Kira tanpa mengalihkan pandangannya dari gundam kesayangannya itu.

"Tapi ini penting, Kak!" jeda sejenak, "Tentang Lacus-senpai!"

Mendengar nama tadi, Kira langsung menghentikan pekerjaan. Ia langsung menyamakan posisinya dengan adik tersayangnya itu.

"Ada apa dengannya?" jelas sekali suaranya terdengar khawatir.

"Apa kakak sudah tahu, kalau Lacus-senpai katanya pacaran sama Athrun-senpai.. apa benar, Kak? Bukannya kakak pacaran sama Lacus-senpai ya?"

Mendengar paparan Cagalli tadi, mata violet-nya langsung terbelalak kaget. Urat saraf kepalanya terasa berdenyut lebih cepat, berdentum-dentum. Tangannya mulai terkepal erat hingga menampakkan urat sarafnya. Wajahnya sudah memerah seperti tengah mendidih saking banyaknya emosi yang mulai meletup-letup. Rasanya, ia benar-benar siap untuk meninju Athrun yang telah merebut Lacus yang artinya merebut gadisnya itu.

Tapi setelah itu, ia hanya menghela napas berat, seperti sudah tersadar dengan realita yang ada kini.

Ia sadar, ia bukan siapa-siapanya Lacus lagi.

"Ya, memang mereka pacaran, "jeda sejenak, "Lacus bilang, Athrun lebih mengerti dirinya daripada aku, makanya... aku pikir kami lebih baik...putus"

Cagalli hanya diam, menunggu paparan cerita Kira berikutnya.

"Awalnya aku benar-benar kesal saat Lacus bilang begitu, padahal aku selalu berusaha membuatnya senang bila di sisiku. Tapi, kalau dipikir-pikir, belakangan ini aku benar-benar sibuk, jadi aku kadang melupakan dia, tidak memerhatikan dia, tidak menemaninya saat dia kesepian..."

Kira menghela napas panjang.

"Sampai akhirnya, aku menyesal kalau Athrun melangkah lebih cepat dariku. Sebetulnya aku masih belum percaya kalau mereka pacaran, tapi..."

Kira mulai terisak. Menyadari itu, Cagalli mengamit jemarinya lembut.

"Tapi... inilah kenyataannya. Aku memang terlambat"

Cagalli mengusap punggung kakaknya yang kini terisak pilu itu dengan sayang, "Kakak gak terlambat kok. Kalau kakak masih suka sama dia, yang kakak perlu lakukan Cuma meyakinkan dia kalau kakak masih suka sama dia, masih cinta sama dia..."

"Cagalli, aku..."

"Jangan patah semangat, Kak! Kakak harus mempertahankan apa yang kakak cintai..."

Kira benar-benar tersentuh dengan nasihat adiknya itu. Didekapnya tubuh adiknya itu erat, "Terimakasih Cagalli... kau benar-benar adik yang baik..."

...

"Lacus..kita ke taman yuk!"

Namun Lacus sama sekali tak bergeming. Ia tetap saja duduk dengan tenang di bangkunya. Matanya tak pernah lepas dari jendela.

Puk!

Lacus langsung menoleh ke arah teman yang menepuk bahunya tadi, "Eh..ah.. Athrun?"

Athrun hanya tersenyum kecil melihat tingkah Lacus barusan, "Sudah, jangan melamun saja, kita ke taman yuk!"

Lacus pun menuruti Athrun dan membiarkan lelaki itu menggandeng tangannya. Biasanya, wajahnya akan bersemu ketika Athrun menggandeng tangannya. Biasanya, hatinya akan senang ketika Athrun mengajaknya keliling kampus berdua saja. Biasanya, biasanya, biasanya...

... dirinya akan selalu senang bila ia berada di sisi Athrun. Rasanya tenang, nyaman, dan hangat.

Tapi, kali ini lain. Entah mengapa, akhir-akhir ini Lacus sering melamun, tanpa tahu apa yang dipikirkannya. Perasaannya juga biasa saja saat Athrun mengajaknya ngobrol, jalan-jalan, atau sekadar berduaan saja.

Kali ini, hatinya terasa kosong, hampa.

Tak sengaja, mata biru mudanya menangkap ruang instalasi gundam disana. Sepasang matanya tak bisa lepas dari sana. Bukan, bukan karena melihat gundam baru yang begitu gagah ataupun para awak ZAFT yang begitu gesit memeriksa tiap gundam.

Tapi matanya tak bisa lepas dari pemandangan itu.

Pemandangan yang berupa seorang lelaki yang tengah memeluk seorang gadis dengan sayang. Lacus memang tak mengenali gadis itu karena mereka sedikit jauh, tapi Lacus kenal betul dengan lelaki itu. Seorang lelaki yang sudah melupakannya, dan juga meninggalkannya.

Seorang lelaki yang bernama Kira.

Tapi, pikiran Lacus sepertinya tak peduli akan hal itu. Toh, ia sudah punya Athrun yang lebih memerhatikan dia daripada Kira. Ia sudah tak perlu menyesal lagi sekarang. Hidupnya akan lebih bahagia sekarang. Cintanya pun akan selalu terbit setiap harinya, tanpa perlu merasakan sakit hati berkepanjangan lagi.

Tapi, mengapa hatinya mengatakan hal sebaliknya?

...

Oh, ya, sekalian bales review aja kali ya.. :)

Ishylotyzz : Sip, ini udah lanjut kan.. Nggak kok, diusahain happy ending deh :)

atas nama kira : Oke..ini udah lanjut :) Hmm.. sebenernya sempet kepikiran Kira yang jadi ultimate coordinatornya. Cuma karena disini ultimate coordinator tuh juga punya six sence dan kebetulan aku lagi pengen Lacus yang jadi main chara-nya, makanya Lacus yang jadi ultimate coordinator :)

Oke deh..jadi lanjut apa nggak nih? Langsung review aja yaa...