You are Mine
.
.
Vocaloid belong to Yamaha
But This Fanfiction is Mine
Warning! This fanfiction is only fiction!
This fiction contain rate- M
Mature and vulgar content
If you are underage, please don't read it!
.
Chapter 3: The Deal
.
Yamaha Hall, 12.00
.
Kejadian yang beberapa jam lalu terjadi pada Miku berlalu dengan cepat seolah mimpi. Ya, mimpi buruk yang nyata bagi Miku. Luka datang disaat yang sama dengan Kuo beserta Satoru naik ke tangga lantai 4. Begitu melihat keadaan Miku, Luka langsung panik dan terkejut bukan kepalang. Bahkan jika tidak Miku halangi, Luka hampir saja membuat keadaan Teru yang pingsan akan makin memburuk. Akibat serangan- serangan dari Kuo, kira- kira ia akan pingsan selama 2 hari. Kuo melukai titik vital laki- laki itu. Meskipun belum menggunakan setengah dari kekuatanya, tetap saja ia akan pingsan selama 2 hari. Kuo tidak mau membuat Teru bersama dengan rekanya koma karena ingin membuat mereka merasakan akibat perbuatan mereka dibalik jeruji besi. Baik Luka dan Satoru telah mengetahui kronologinya secara singkat dari Kuo. Mereka belum bisa menanyai Miku karena Kuo larang. Ia tahu Miku masih trauma meskipun sudah tampak sedikit tenang.
Miku langsung dibawa Luka ke ruang pribadi gadis tosca itu dilantai 4 sesuai perintah Satoru. CCTV disana sudah dimatikan agar Luka bisa mengobati dan menenangkan Miku. Jikalau ada bagian- bagian tubuhnya yang terluka. Sementara Kuo menunjukkan bukti- bukti yang berhasil ia dapat pada Satoru. Satoru terdiam melihat semua itu. Setelah semua bukti telah Kuo tunjukan, Satoru angkat bicara. "Baiklah. Akan kubawa mereka kedalam rumah sakit polisi. Setelah mereka sadar, mereka akan segera dijatuhi hukuman berat." Kata Satoru tenang. Kedua bodyguard yang mengawal Satoru menerima ke- 4 handphone pelaku beserta hasil rekama Kuo. Tubuh ke- 4 pria itu dibawa oleh para bodyguard Satoru yang lain melewati tangga darurat menuju lantai bawah agar tidak menarik perhatian.
"Kau sudah membuat keputusan?" tanya Satoru sambil berjalan melewati Kuo untuk membuka pintu yang menghubungkanya dengan lantai 4.
"Hah. Bertemu dengan Gakupo saja belum dan kepalaku malah ditambah dengan masalah ini. Maaf saja, aku belum bisa memberi jawaban. Kalaupun kau minta jawaban dariku sekarang, jawabanya adalah 'tidak'." Satoru berhenti dimulut pintu. "Kau pikir aku mau bekerjasama dengan seseorang yang tidak konsisten? Orang asing bisa masuk ke gedung utamamu dengan mudah. Lalu, salah satu artismu ada yang hampir diperkosa, ah, mungkin sudah sedikit. Itu membuktikan kau tidak memiliki konsistensi yang memadai. Lalu bagaimana dengan aku nanti? Saat aku bekerjasama denganmu? Aku tidak heran kau bisa menghianatiku, menusukku dari belakang setelah aku menjalankan misiku dan memutus semua kontrak yang sudah kau beri secara sepihak. Atau misi ini bisa bocor ke telinga target karena kurangnya keamanan." Kuo berjalan melewati Satoru dengan langkah santai. Namun, nadanya dingin dan serius.
"Tunggu! Kuo! Ini hanya kecelakaan kecil! Aku bisa memperbaikinya! Aku sendiri tidak tahu Teru membawa orang luar entah lewat mana. Atau si cleaning service itu ternyata ikut terlibat." Satoru mengejar Kuo.
Kuo berhenti secara mendadak, begitupun Satoru. Laki- laki jangkung berkaos merah darah itu berbalik dan menatap Satoru yang tingginya 8 cm lebih pendek darinya dengan tatapan dingin. "Aku tahu, kau membentuk Vocaloid hanya untuk mencari pengaruh. Tapi setidaknya pikirkan perasaan dan keamanan mereka juga. Tingkatkan keamananmu atau aku tidak mau bekerjasama denganmu" katanya kemudian berbalik dan kembali melangkah dengan langkah biasa.
"Satu pertanyaanku, kenapa kau mau menolong Miku? Dari ceritamu tadi, pasti kau tidak tahu siapa gadis yang terancam bahaya itu. Dan kau bukanlah tipe orang baik hati yang mau menolong apalai terlibat masalah, bukan? Satoru bertanya sambil mengikuti langkah Kuo dari belakang.
Kuo tidak menjawab sampai ia sampai didepan pintu ruangan yang dimaksud Luka. Ruangan dimana Gakupo menunggunya. Ia berdiri dihadapan pintu itu sejenak, kemudian menjawab tanpa menolehkan kepalanya pada Satoru. "Itu bukan urusanmu." Jawabnya, lalu menghilang dibalik pintu. Begitu Kuo menghilang dari pandanganya, Satoru memijit pelipisnya. Posisinya sangat terancam. Bisasaja Kuo menolak tawaranya. Jika sudah begitu, usahanya selama ini akan sia- sia.
.
Spirit up GYM, 15.00
.
BUAK! BUAK! BUAK!
Beberapa sandsack yang digantung dihadapan Kuo berulangkali ditendangnya dengan kekuatan penuh sehingga ke- 3 sand sacak itu terlepas dari talinya. Bahkan, ada beberapa bagian sansack yang rusak karena tendanganya. Setelah melakukan pemanasan ringan tadi, ia memilih ke- 3 sandsack ini sebagai latihan pertamanya. Pikiranya sedang jenuh dan ia melepaskanya dengan olahraga di GYM hotel yang ada di basment. Setelah itu, barulah ia beralih pada alat fitness lain.
Berat tubuhnya menjadi bertambah karena Kuo menggunakan adjustable body weight dibagian kedua tangan, dada dan kakinya. Ia mengenakan benda itu agar latihanya makin berat dan menambah kekuatan tubuhnya karena tubuhnya bertambah bebanya, dan agak mempersulit pergerakanya. Tak heran, Tricep Machine menjadi agak lebih sulit ketimbang biasanya. Latihanya menjadi sedikit lebih berat, namun setelah 1 jam kemudian, beban yang ia bawa seolah sudah tak terasa lagi ditubuhnya. Ia dapat menggunakan alat fitnes lain seperti shoulder press machine, squat hack machine dan chest press machine menjadi lebih mudah. Tubuhnyapun sudah basah karena keringat yang mengalir. Untuk mendinginkan tubuhnya, Kuo melepas adjustable body weight yang dikenakanya lalu melakukan sedikit treadmill sebelum akhirnya ia berhenti untuk istirahat.
"Seperti yang mereka katakan, kamu ini gila olahraga atau bagaimana?" Luka muncul didalam ruangan fitnes secara tiba- tiba. Ia duduk disebelah barang bawaan Kuo yang haya berupa handuk serta sebotol air putih.
Penampilan Kuo sudah sangat berantakan. Seluruh tubuhnya berkeringat, dan t- shirt hitam yang dikenakanya sudah beralih ke pundak kananya, membiarkan tubuhnya yang lumayan berotot sixpack penuh keringat terekspos dihadapan Luka. Rambut tealnya aca- acakan dan basah, begitupula wajahnya yang kelihatan lelah namun nampak seksi. Para wanita pasti akan mimisan melihat penampilan lelaki satu ini sekarang. Luka bahkan sampai terbelalak dan terperangah saat melihat Kuo awalnya tadi.
"Menurutmu?" Kuo meraih sebotol air mineral dalam kemasan yang ia letakkan terikat dengan handuk hitamnya disamping Luka.
Selagi Kuo menegak sebotol air mineral itu sampai isinya tinggal setengah sambil berdiri, Luka kembali berucap, "Terimakasih. Kalau bukan karenamu, Miku pasti sudah bunuh diri sekarang." Ucapnya tulus.
Kuo mengelap keringat yang bercampur dengan air mineral diwajahnya. "Hn." Itulah balasanya. Ia tidak terkejut Luka bisa mengetahui tempat dimana ia menginap di Tokyo. Ini pastinya dari si Presdir itu. Bisa jadi, pak tua itu menyuruh Luka yang kenal denganya untuk membujuk dirinya menyetujui kesepakatan tadi.
"Kuo- kun, apa ini berkaitan dengan sepupumu itu?" tanya Luka hati- hati. Kuo tidak menjawab. Ia terus sahja mengelap leher dan beberapa bagian lenganya dari keringat. "Kamu dulu juga melakukan hal yang sama padaku, saat ada stalker yang menculik dan hampir memperkosaku. Dulu kau pernah berkata secara singkat, ada sepupumu diperkosa lalu dibunuh. Itu kau jadikan alasan untuk menolongku. Apa kali ini alasanya sama?" lanjutnya. Kuo terdiam. Badanya mematung. "Tapi itu karena dulu kau bilang aku mirip sepupumu. Tapi, Miku, dalam posisi mendengar dan merekamu, kamu pasti tidak mengetahui siapa orang itu. Meski dulu kamu bilang jika malas berurusan dengan manusia, tapi kelihatanya kamu sudah berubah sekarang, ya?" ia tersenyum lebar.
"Entahlah. Tubuhku bergerak sendiri. Aku sendiri baru tahu jika yang kutolong itu adalah diva utama Vocaloid." Kuo meletakan kembali handuknya disamping botol air mineral yang isinya tinggal setengah. "Rasanya tidak mungkin kau kemari hanya untuk mengatakan itu. Apa pak tua itu yang mengirimu?" tanya Kuo.
Luka menggeleng. "Hampir benar. Aku memang bertanya dimana kamu menginap pada pak Presdir, tapi tidak dijawab. Aku malah disuruh pergi! Jadi aku menggunakan logika saja. Hotel terdekat dengan Yamaha Hall adalah Tokyo Hotel. Sering juga kok, tamu penting perusahaan diinapkan di hotel itu. Jadi aku langsung saja datang kemari." Luka bangkit dan melepas jaket putih beserta selempang tasnya. Rambut pinknya ia ikat ponytail lalu ia berjalan mengikuti Kuo.
"Jadi apa maumu?" Kuo mengambil 2 buah dumbbell yang masing- masing seberat 6 kilo. Tubuhnya terasa lebih ringan ketimbang saat mengenakan adjustable body weight tadi. Ia mengangkat kedua benda berat itu naik turun secara bergantian.
Dihadapan Kuo, Luka tengah menggunakan treadmill dengan kecepatan yang membuatnya berlari kecil. "Hah? Memangnya aku tidak boleh bertemu dengan temanku secara bebas tanpa tujuan jelas? Aku menemuimu tentusaja karena aku rindu padamu. Selain kamu, pemotretan dengan model- model lain terasa kurang berkesan." Jelasnya sambil berlari.
"Sungguh? Hanya itu? Ekspresimu mudah dibaca, Megurine Luka. Katakan saja." Balas Kuo pada gadis bertanktop hitam itu.
"Ha...h... baiklah." Luka memelankan kecepatan treadmill yang digunakanya. "Seperti yang kukatakan tadi. Orang yang diinapkan oleh Presdir di Tokyo Hotel itu adalah orang yang sangat- sangat penting. Hotel ini memiliki pengamanan yang tinggi. Jika hanya untuk pelatih, aktor, ataupun model bahkan meski itu dari luar negeri sekalipun, biasanya hanya akan diinapkan di Baronez Hotel yang jaraknya 30 menit perjalanan dengan mobil. Sedangkan kamu, Kuo? Aku langsung tahu kamu menginap di Tokyo Hotel karena presdir nampak seperti mengejar- ngejarmu saat kita di tangga darurat tadi. Ia seolah akan kehilangan sesuatu yang besar jika sampai membuatmu kecewa. Meski ia sembunyikan, aku tahu, kamu disini bukan hanya untuk menjadi lawan main dari Gakupo, bukan?" jelas Luka sambil beralih ke static bicycle.
"Hh... kebiasaanmu membaca ekspresi orang itu merepotkan." Keluhan dengan Gakupo, Kuo lontarkan. Luka menyeringai sambil menggoes pedal sepeda statis itu. "Tapi itu memang benar. Ada hal lain yang pak tua itu mau dariku selain lawan main Gakupo." Kuo mengangkat kedua dumbbell itu dengan tangan lurus kedepan secara bersamaan. "Dia, memintaku untuk membantunya balas dendam. Dia ingin aku membunuh kepala keluarga Kidomaru yang membunuh kedua anaknya, dan mantan artis Yamaha, Linda Auritz. Dia juga memberitahuku identitas orang- orang yang membunuh keluargaku di Okinawa." Jelas Kuo. Kedua tanganya terentang ke arah yang berjauhan.
Luka terhenyak. Ia sampai mematung selama 4 detik. "Dan jawabanmu?" tanya Luka.
"Aku belum menjawabnya. Kurasa aku harus berterimakasih pada nona diva dan Gakupo untuk ini. Berkat mereka berdua, aku jadi bisa berfikir dan terbebas dari wajah memelas pak tua menyebalkan itu." Jawab Kuo disertai dengusan nafas jengkel.
"Hihi... Kuo-kun, ekspresi jengkelmu itu lucu kau tahu." Ejek Luka. Kuo membuang pandanganya kearah lain. "Yah, apapun keputusanmu nanti, entah kamu terima atau tidak. Kuo- kun, percayalah. Disini aku akan selalu membelamu dan berada di pihakmu." Kata Luka dengan tatapan penuh arti. Kedua pupil shappire birunya menatap lurus pupil turquoise Kuo. Luka sangat serius dan jujur dengan ucapanya. "Lagipula, Kamu sudah seperti adikku sendiri. Adik kecil yang nakal super tsundere~" godanya sambil kembali mengayuh pedal.
Kuo mendecih karena Luka berhasil menggodanya dan gadis itu nampak bahagia. Tapi setelah itu, Kuo tersenyum tipis. Ia beruntung ia bisa dekat dengan Luka setelah ia menyangka tak ada lagi orang yang bisa tulus kepadanya selain ibunya. "Kalau begitu, Luka- neesama mau kan mentraktir otoutomu yang tsundere steak negi hari ini?" Meletakkan kedua dumbbell tadi kembali ke tempatnya lalu berdiri dihadapan static bicycle sambil memegangi tengah stang yang dipegang Luka. Diwajahnya terukir seringaian nakal, dan Luka tahu, Kuo sedang membalas godaanya tadi. Duh, meskipun Kuo itu sudah ia anggap adik, tapi tetap saja, dia itu laki- laki! Siapa yang tahan ada laki- laki bertubuh seksi tanpa pakaian atas di hadapanmu dan dia melempar senyuman maut padamu!
"Dasar! Yasudah, setelah ini cepat benahi penampilanmu." Luka turun dari static bicycle dan mengenakan jaketnya kembali. "Aku akan menjemputmu lagi jam 7." Katanya seraya berjalan dan mengenakan tas selempang merahnya lagi. Kuo sendiri tersenyum penuh kemenangan dibelakang Luka sambil mengenakan kembali kaosnya. Namun, tiba- tiba wajah Luka kembali muncul di palang pintu. "Tapi kita makan di kedai kecil saja ya? Daah~" katanya kemudian berlari pergi. Kuo mendecih, Luka berhasil menggodanya lagi.
.
"Wah... lihat mereka... serasi sekali ya?"
"Iya... siapa itu? Tampan sekali! Tinggi pula!"
"Cantiknya! Mereka model ya!?" gumaman- gumaman pengunjung kedai makan di komplek jajanan Tokyo saling berbisik karena penampakan dua makhluk di amban pintu kedai.
Ya, Luka sangat serius dengan ucapanya. Ia membawa Kuo ke kedai makan kecil di pinggiran kota Tokyo yang memang sedang agak ramai pengunjung. Tapi, mereka juga harus menyamar. Luka tadi datang ke kamar Kuo dengan membawa kotak make up supernya beserta beberapa wig dan softlens. Karena ketenaran Luka, terpaksalah ia harus menyamar agar tidak dikenali, begitupula Kuo. Mereka berdua tentunya tidak ingin mendengar kabar miring tetang hubungan mereka berdua yang memang hanya sebatas kakak- adik. Jadilah Luka muncul dengan penampilan baru. Efek make up telah memberinya bentuk wajah yang agak tirus, hidung agak flat dan tahi lalat kecil di pipi kiri bawah. Ia mengenakan softlens berwarna coklat dan wig berwarna coklat kemerahan se- pundak. Sementara Kuo, bulumatanya menjadi lebih panjang, wajahnya menjadi agak tirus dan matanya terlihat lebih besar. Ia menggenakan wig berwarna hitam dengan softlens coklat gelap. Yah, ia malah menjadi terlihat imut seperti Jungkook BTS dalam video klip 'DOPE' dan itu berkat skill make up super Luka. Keduanya memakai pakaian casual. Luka, blus 3/4 berwarna salem dengan celana jeans se- lutut. Sedangkan Kuo, kaos biru dongker pendek dengan motif tribal putih dibagian depan dan celana jeans. Entah ini ide Luka atau bagaimana, mereka memakai warna sepatu yang sama, hitam. Kuo Nike Air Jordan hitam- merah sedangkan Luka Converse All Star hitam. Mereka nampak seperti sepasang kekasih yang tengah berkencan sekarang. Dan penyamaran mereka berhasil! Tak ada yang mengenali Luka. Mereka hanya tahu keduanya adalah pasangan serasi yang sedang berkencan.
"Baiklah, Kuo-kun kamu mau pesan apa?" tanya Luka begitu mereka mendapat tempat duduk dekat dengan counter kasir. Ia mulai melihat- lihat menu yang ada.
"Baik, jangan salahkan aku untuk ini. Aku mau steak panggang, takoyaki isi spesial, yakisoba porsi jumbo, dan chocholate ice." Kuo meletakan kembali menunya diatas meja dengan seringaian untuk Luka.
"Awas saja tidak kamu habiskan. Aku Takoyaki, spaghetti saus tuna, dan jus stroberi." Luka mencatat semua yang mereka pesan lalu memberikanya pada pelayan yang lewat. "Karena pesananmu over, kau harus menemaniku ke psikiater besok. Aku mau menjemput Miku. OK? Kalau tidak, kamu tidak akan kutraktir lagi..." Luka mendekatkan wajahnya ke wajah Kuo. Laki- laki itu dibuat mengerutkan alis olehnya. "...adikku sayang..." lalu ia menjauhkan badanya lagi setelah Kuo menarik tubuhnya kebelakang menjauhi wajah Luka.
"Baiklah. Terserah kau saja." Balas Kuo saat pesanan mereka datang. Luka tersenyum puas. Kuo bukan orang yang akan menarik kata- katanya sendiri. "Tapi, saat kita ke rumah sakit nanti..." ia menecilkan volume suaranya. "Aku boleh menghapus semua make up dan melepas wig ini kan?" tanyanya dengan nada tajam. Jujur, ia sangat risih dengan make up ini.
"Tentusaja. Yang penting jangan ingkari omonganmu itu loh." Luka memasukan sesuap spaghetti kedalam mulutnya diikuti Kuo yang juga mulai memotong steak.
.
07.32
.
Sesuai janji Kuo kemarin, Luka 'mengajak' Kuo ke tempat psikiater untuk menjemput Miku. Letaknya memang lumayan jauh dari Tokyo Hotel ataupun Vocaloid Manison. Tak heran Luka menggunakan mobil Honda Jass putihnya agar mereka cepat sampai. Dan tentunya Kuo yang menyetir, sedangkan Luka duduk manis disamping Kuo sambil memeluk boneka tuna favoritnya. Ya, hal itu sudah ia lakukan sejak mereka pergi makan kemarin. Tempat psikiater ini memang agak jauh, tapi keadaan yang tenang disana diharapkan bisa membantu pikiran Miku untuk rileks kembali. Dan mereka berdua kini pergi tanpa make up dan segala penyamaran mereka. Pakaian yang mereka gunakan tetap casual, Luka mengenakan blus berwarna putih dengan rok pendek berwarna abu- abu beserta flat shoes hitam. Sedangkan Kuo, ia mengenakan kaos berwarna siver pendek dengan celana gunung berwarna khaki dan sepatu Nike Air Jordan-nya yang tadi malam.
Kuo menggunakan peta GPS dari mobil Luka sehingga ia bisa mencari jalan alternatif yang lebih cepat. Untungnya, ia tidak mengemudi secara super seperti yang sering ia lakukan dulu. Dulu Kuo adalah mantan pembalap liar dijalan kota London, tapi ia paham, jika sampai ia menggores sedikit mobil Luka, entah hal buruk apa yang bisa gadis pink itu Lakukan padanya.
"Kuo-kun! Itu tempatnya!" Luka menunjuk sebuah gedung bertingkat 4 yang berada tak jauh dari pinggir laut. "Tidak kusangka, tempat ini memang dekat dengan laut..." gumam Luka. Ia membandingkan foto yang ada di handphonenya dengan tempat aslinya. Kemarin, setelah Luka membenahi penampilan Miku, gadis twintail itu langsung dibawa oleh anak buah Satoru ke tempat ini. Luka diminta untuk menjemput setelah Satoru mengirimkan gambar dan alamat tempat itu. Agak jauh dari kota, dekat dengan laut. Tempat yang sempurna untuk orang yang mau menenangkan diri. Udara laut dapat tercium kuat disini. "Katanya udara laut saat pagi hari bagus untuk orang yang mengalami stres. Apa itu jadi alasanya mengirim Miku ke tempat ini?" dumal Luka. Ia masih mengeluh karena jaraknya yang jauh dengan Tokyo. Dumalan dimobil tadi berlanjut sampai ia turun. Untung saja Kuo cukup sabar menghadapi gadis satu ini. Walaupun ia hanya diam sepanjang perjalanan, itu lebih baik ketimbang memaksa Luka diam dengan caranya.
Keduanya masuk dan langsung menuju bagian resipionis. "Maaf, kamar pasien bernama Hatsune Miku." Kata Luka pada wanita yang duduk dibelakang meja resipionis.
Wanita bersanggul berpenampilan rapi itu menjawab dengan cepat. "Pasien nona Hatsune Miku ada di lantai 3 kamar 'Lily'." Jawabnya cepat.
"Terimakasih." Luka langsung bergegas diikuti Kuo dibelakangnya. Ia sudah ingiin cepat- cepat bertemu Mikunya yang imut itu, apapun dan bagaimanapun keadaanya.
Begitu sampai didepan kamar Miku, Luka mengetuk lalu langsung masuk. Sedangkan Kuo lebih memilih menunggu di koridor saja. Tapi, tak lama kemudian, tiba- tiba,
BRAK!
Kuo menolehkan kepalanya kekanan, kearah pintu yang terbanting "Miku!" pekik Luka panik daridalam. pintu didobrak dari dalam dan Miku berlari keluar dengan pakaian pasien lalu ia terlihat, memeluk sesuatu. "Kuo-kun! Tolong tangkap Miku!" perintahnya panik. Tak perlu menunggu, Kuo langsung mengejar dan berhasil menangkap gadis itu dengan mengait perutnya dari belakang bersama dengan benda yang dipeluknya. Miku masih meronta dan berusaha melepaskan diri dari Kuo. "Miku!" Luka berlari menghampiri dengan terpogoh- pogoh. Miku masih meronta- ronta hingga membuat Kuo menahan kedua bahu gadis itu dengan tangan kirinya. Sudah benar- benar dipegangi dari belakangpun Miku masih tetap meronta. Ia tampak ketakutan, bahkan setelah Luka berjalan kehadapan Miku. Ia mencoba menenangkan Miku, meski wajahnya terlihat masih panik dan khawatir. "Tenanglah, tidak apa- apa..."
"Luka- nee jahat! Jahat!" teriak Miku dengan deraian airmata.
"Luka, memang kau apakan dia?" tanya Kuo.
"Aku hanya bilang, kenapa dia membawa- bawa jaket hitam ini. Padahal sudah kusuruh tinggal di Yamaha Hall. Dia membawanya sampai ke tempat ini, dan terus- terus saja memeluknya seperti boneka. Lalu, kuminta berganti pakaian, kuminta jaket itu agar tidak dipakai karena terlalu kebesaran untuk tubuhnya. Aku sudah bawa jaket lain untuknya. Tapi kemudian ia langsung berteriak tidak mau dan berlari keluar."
"Iya, karena kau dia panik dan meronta. Ditambah lagi, itu jaketku tahu! Tunggu..." Kuo merasakan Miku sudah tidak meronta lagi. "Kurasa dia sudah tenang. Kelihatanya dia lebih menyukai jaketku ketimbang jaket butikmu." Ejek Kuo. Ia melepaskan pegangan tanganya dari tubuh Miku. Ia membisikkan kata- kata pada Miku, lalu gadis itu menurut. Luka menuntun Miku untuk kembali ke kamarnya, berganti baju.
Namun, baru 2 langkah Miku berjalan, ia berhenti dan menatap Kuo sesaat dalam diam. Seketika, wajahnya langsung memerah dan ia langsung kembali berlari. "Miku!" pekik Luka. "Kali ini apa lagi? Kau apakan dia, Kuo- kun?! Wajahnya langsung memerah dan dia berlari lagi!" omel Luka.
"Entahlah." Balas Kuo cuek. "Aw!" Luka menendang betis kanan Kuo.
"Bicara apa kau ini?! Cepat tanggung jawab! Kejar dia!" perintah Luka. Kuo mendengus sambil menggelengkan kepalanya, sebelum akhirnya ia berlari dengan kecepatan tinggi.
Miku berlari melewati kamarnya, ia terus berlari disepanjang koridor sampai ia menuruni tangga diujung koridor. Melihat Miku tidak bisa ia tangkap dengan cara biasa, Kuo kembali melakukan atraksi atraksi akrobat dengan melompati pagar tangga dan membiarkan dirinya jatuh ke tangga yang lebih rendah. Untungnya ia dapat mendarat mulus diatas anak tangga lain dan mencegat Miku dihadapanya pas. Miku langsung memutar badanya saat Kuo masih belum mendarat sempurna. Ia kembali berlari keatas. Namun keseimbanganya hilang saat kakinya yang mengenakan sandal licin terpeleset dianak tangga tertinggi. Ia terhempas kebelakang sampai akhirnya Kuo berhasil menangkapnya sebelum gadis itu terjatuh lebih jauh. Ya, tapi tidak dengan posisi yang menyenangkan. Saat Miku melayang tadi, Kuo salah menangkap bagian tubuh Miku sehingga malah membuat posisi tubuh gadis itu menatapnya lurus. Lagi- lagi, mereka berdua berciuman dengan tanpa sengaja.
"Kuo kamu dap-... kyaa! Apa yang kau lakukan padanya dasar mesum!" pekik Luka saat melihat kedua manusia itu berciuman. Dari posisi mereka berdiri, wajar saja Luka berpikiran demikian. Kuo memeluk tubuh Miku, dengan posisi wajah yang ia setarakan wajahnya sampai kedua kaki gadis itu mengambang diatas lantai. Itu terjadi saat Kuo berusaha menangkap tubuh gadis itu saat terjatuh tadi. "Kamu... kukira kamu berbeda, Kuo- kun..." Luka mendekat dengan aura mengerikan dibelakang tubuhnya.
Cepat- cepat Kuo menurunkan Miku dari gendonganya. "Luka! Tung-...!"
PLAK!
.
Satu tamparan mulus mendarat dipipi kanan Kuo. Bekasnya terlihat jelas dipipi kiri putih laki- laki itu. Seumur- umur, baru ini ia ditampar wanita. "Tamparanmu sama kuatnya dengan gorilla." Komentar Kuo sambil mengemudikan mobil Honda Jass Luka.
"Kamu mau lagi?" tawar Luka. Kuo membuang muka. Kekuatan gadis pink satu ini memang tidak bisa diremehkan.
Kini, mereka ber- 3 didalam mobil. Miku duduk di kursi bagian belakang. Ia masih tetap diam. Meski kata psikiater ia sudah baikan, tapi masih ada beberapa trauma yang Miku belum bisa tangani. Miku sudah bisa berjalan menuruni tangga- tangga sepi meskipun masih gemetaran. Ya, sebab itulah ia jatuh saat Kuo mengejarnya tadi. Ia masih sedikit trauma. Ketakutanya pada tempat gelappun menjadi- jadi. Ia dari dulu sudah takut dengan gelap dan ditambah sekarang, keadaanya makin parah. Ia sendiri nampaknya masih enggan untuk bicara. Selama perjalanan pulang, Miku hanya diam di kursi tengah sambil memeluk jaket Kuo. Benda itu sudah seperti jimat pelindung baginya sejak kemarin.
"Kau siap?" tanya Luka saat Yamaha Hall terlihat dipengelihatan mereka.
"Hn."
"Ingat Kuo- kun, apapun keputusan yang kamu ambil, aku akan tetap dipihakmu. OK? Adikku sayang?" seringainya. Kuo mengerlingkan bolamatanya kearah lain. Tapi kemudian ia menjawab. "Ah. Terimakasih." Sifat aslinya kembali menjadi dingin. Ini adalah caranya untuk menghadapi masalah.
Begitu memasuki Yamaha Hall, Kuo berpisah dengan kedua gadis itu. Ia menuju lantai teratas, lantai 8 untuk menemui Satoru. Sedangkan Miku dan Luka ke lantai 4, ke ruangan pribadi Miku. Kuo malas repot- repot membuat janji dengan pak tua itu, karena pak tua itulah yang membutuhkanya. Ia hanya mengirim pesan singkat jika dirinya mau bertemu untuk memberikan jawaban pada sang Presdir. Dan ya, ia langsung mendapat jawaban persetujuan. Ia hanya tinggal masuk ke ruangan Satoru tanpa membuat janji seperti yang orang lain, bahkan Vocaloid lakukan.
"Masuklah, Presdir sudah menunggu." Kata bodyguard bersurai pirang cepak berkulit putih yang menjaga pintu ruangan Satoru. Kuo tak menanggapinya. Ia mengetuk pintu 3 kali, lalu ia masuk tanpa menunggu jawaban.
"Ah, kau sudah datang, Kuo. Duduklah." Katanya mempersilahkan duduk ditempatnya yang kemarin. "Jadi, kau sudah memikirkan jawabanmu?" tanya sang Presdir penuh harap.
Kuo tidak menjawab pertanyaan sang Presdir. Ia diam selama 4 dietik kemudian menjawab serius. "Aku akan menerima tawaranmu ini, tapi dengan beberapa syarat. Kau hanya memberikan informasi padaku tapi kau tidak memberikan tindakan. Sedangkan aku akan memberikan informasi dan tindakan padamu itu aku jelas sangat dirugikan."
"Jadi, apa maumu?" tanya Satoru. "Uang? Ketenaran? Rumah?" tanyanya.
"Yang pertama, aku butuh tim. Membunuh kepala keluarga itu tidaklah mudah. Jika hanya aku sendiri, harus aku akui, akupun akan tertangkap. Tapi aku tidak mau tim yang asal jadi. Aku mau yang profesional dan segala bisa. Bertarung, hacking, ackting, akrobat, melacak dan memiliki skill yang dibutuhkan para pembunuh bayaran, memahami racun, cara membunuh secara halus, serta tidak gegabah. Kegegabahan hanya akan menghancurkan misi ini dan baik kau maupun aku akan terancam aku jamin itu." Kuo menjelaskan rincian syarat yang pertama.
"Tenang saja, aku sudah mempersiapkan tim khusus untuk hal itu. Mereka sudah dilatih selama 4 tahun secara intensif dan mereka bisa kau temui lusa lagi. Ini orang- orangnya." Satoru menunjukan beberapa foto kehadapan Kuo. Lalu ia juga menunjukan bagaimana proses mereka dilatih. "Rencananya, jika kau menerima tawaran ini, lusa kedepan, kalian akan kuberi penyamaran. Aku akan membuat kalian seolah- olah menjadi artis Yamaha Group sama seperti Vocaloid. Hanya saja, dalam bentuk boyband diva teratas Vocaloid yang kalian mencerminkan transgender mereka. Dan Kuo, kau akan menjadi Miku versi laki- laki dengan nama panggung 'Hatsune Mikuo'." Jelas Satoru. Kedua mata Mikuo memincing tajam. Tatapanya berartikan 'kau jangan bercanda'. "Ada alasanya kalian kubuat demikian. Banyak orang yang menyangka boyband itu adalah sekumpulan Flower Boy, menganggap mereka lemah karena wajah cute dan tampan mereka, tapi sebenarnya itu salah. Banyak diantara anggota boyband yang menguasai beladiri sampai tingkatan tertinggi. Tujuan kalian dibentuk secara boyband adalah, menghindari kecurigaan. Akan ada banyak orang yang menganggap kalian lemah dan hanya bermodalkan tampang, bukan? Itu akan menghindari kecurigaan. Tenang saja, ini termasuk kontrak. Mulai lusa besok, kau bersama mereka akan di training khusus menjadi idol Yamaha. Jika tidak demikian, tentu akan mencurigakan jika kalian keluar masuk Yamaha Hall dan kadang akan bersamaku tanpa ada hubungan." Jelas Satoru sebelum Kuo mengulitinya dengan tatapan mata. Laki- laki berabut teal itu hanya diam. Ia menerima alasan itu.
"Kedua, kau harus siap jika aku meminta alat seaneh apapun itu. Baik itu berupa senjata, barang ataupun kendaraan."
Satoru menyeringai. "Tentusaja. Apapun itu. Bom, granat, roket launcher, belati, sampai motor GP sekelas Valentino Rossipun akan kusiapkan. Kau pikir aku tidak menyiapkan hal ini jauh- jauh hari? Kau meremehkanku, Kuo." Jawabnya.
"Ketiga, selain Luka, aku tidak mau ada yang tahu tentang masalah ini. Misi ini misi tingkat tinggi dan kerahasiaanyapun harus dijaga tinggi. Karena itu, kau harus bersikap sewajarnya pada aku dan timku nanti seperti kau memperlakukan yang lain." Lanjut Kuo.
"Baik. Apa lagi?" tanya Satoru.
Belum sempat Kuo menjawab, telpon diatas meja Satoru berdering.
Kriing... Kriing...
"Maaf." Satoru mengangkat telfon itu dan meminta agar pembicaraanya dengan Kuo ditunda sejenak. "Ada apa?" tanyanya kesal. ia tidak suka jika pembicaraanya yang penting diganggu. Padahal sebelum ini ia sudah memberitahu pada managernya agar ia tidak diganggu karena akan kedatangan tamu penting.
"Maafkan aku pak presdir, tapi saat ini Miku dalam masalah. Dia tidak mau menerima konser, melakukan sesi pemotretan ataupun melakukan rekaman. Dia malah menangis dan mengurung dirinya didalam ruangan pribadinya."
"Kalau begitu suruh Luka atau yang lain agar membujuknya!"
"Tidak bisa. Saat ini, Megurine Luka sudah dalam perjalanan penerbangan absolut sebagai duta negara ke Okinawa. Sedangkan ia menolak mentah- mentah yang berusaha masuk keruanganya. Apa yang harus saya lakukan, pak presdir?" tanya managernya diseberang sana.
Satoru terdiam beberapa saat, kemudian ia menjawab. "Baiklah, aku akan kesana sebentar lagi." Katanya kemudian menutup pintu. "Maaf, Kuo. Pembicaraan ini harus kita tunda dulu. Miku, dia masih syok dan mengurung diri." Jelasnya. Satoru bangkit dari kursinya.
"Itu wajar saja." Jawab Kuo datar. "Lalu mau kau apakan dia?"
"Apapun itu yang penting dia mau bersikap seperti biasa dan kembali melakukan kegiatanya seperti biasa, bahkan jika harus mengancamnya." Jawab Satoru sambil berjalan keluar dari ruanganya diikuti 2 body guard yang berjaga dipintu.
Kini hanya tinggal dirinya sendiri didalam ruangan itu. Kuo mendengus lelah. Lalu ia membuka handphonenya dan membaca pesan di kotak masuk.
From: Luka
Kuo- kun, ini mungkin agak merepotkanmu. Tapi, bisakah kamu menjaga Miku selama aku pergi? Aku akan kembali lusa. Kumohon, aku sangat khawatir padanya. Aku hanya bisa tinggal bergantung padamu. Anggota Vocaloid lain sudah ditolaknya mentah- mentah dan sekarang dia mengurung diri diruanganya. Kumohon, ya? Akan kutraktir nasigoreng negi di restoran mahal sebagai gantinya! Kumohon Kuo- kun... kalau tidak ada dia, aku sudah tidak punya alasan untuk hidup...
Pesan itu sebenarnya masuk lebih awal ketimbang telfon Satoru, tapi Kuo barubisa membacanya sekarang. Luka sudah berpesan demikian. Jadi, apa yang harus ia perbuat? Mengurus gadis trauma yang bahkan hanya ia tahu namanya saja? Tapi apa yang Luka katakan di pesan itu tidaklah berlebihan. Dulu Luka pernah bercerita, ia sudah 8 kali hampir bunuh diri karena menyerah menjalani hidup. Dan selama 8 kali itu ada gadis yang berhasil menggagalkan dan membujuknya hingga menjadi seperti sekarang ini. Luka dulu pernah bilang ia berasal dari panti asuhan yang sama dengan gadis itu, dan sekarang gadis itu sudah jauh lebih bersinar ketimbang dirinya. Dan Kuo tahu, Miku lah gadis itu. Jika Kuo menolak, itu samasaja seperti membuat kakak sepupunya kecewa dan sedih, keluarga, baginya sangat penting dan ia tidak akan meninggalkan keluarganya. "Sial! Kenapa kau mirip sekali denganya sih!" umpatnya kemudian berlari keluar dari ruangan Satoru.
Didepan ruangan pribadi Miku, sudah ada banyak orang yang berkumpul. Vocaloid dari agensi Crypton berkumpul semua disitu kecuali Luka. Mereka menatap khawatir kearah pintu itu karena Presdir Yamaha sendiri yang mendatangi diva utama mereka. Mereka khawatir Miku akan terjebak dalam masalah yang makin berkalut- kalut. Satoru tak bicara apapun. Ia hanya berdiri dengan wajah dingin dengan dua bodyguard yang terus berusaha mendobrak pintu itu. Ruangan Miku didalam sana kedap suara dan tidak ada gunanya berteriak- teriak dari luar. Mereka sedaritadi menghubungi Miku lewat mikrophone bel didepan ruangan Miku yang suaranya bisa didengar didalam. Tapi Miku tak kunjung membukakan pintu.
"Meiko- nee... aku takut Miku- nee kenapa- napa." Rin memeluk Meiko sambil menahan tangis. Ia sangat takut Miku dikeluarkan atau diberi hukuman berat akibat tindakanya. Balum lagi itu presdir Yamaha yang terkenal tegas tanpa ampun.
"Tenang ya, Rin. Miku pasti baik- baik saja. Dia gadis baik jadi dewa pasti melindunginya." Hibur Meiko. Padahal didalam hatinya sendiri, ia sangat khawatir dengan keadaan Miku. Ia tadipun sudah mencoba, namun gagal. Begitupun Kaito yang juga sudah seperti kakak laki- laki Miku sendiri. Meiko, Kaito, Len dan Rin gagal. Luka yang menelfonpun tidak diangkatnya.
BRAK! BRAK!
Pintu terus didobrak oleh kedua orang itu. Didalamnya, Miku meringkuk diatas sofa dengan tubuh gemetaran dan airmata yang terus bercucuran.
"Pak Presdir, maafkan saya, tapi, bagaimana jika kita biarkan Miku tenang dulu. Saya rasa dia butuh istirahat karena lelah." Saran Kaito dengan hati- hati.
"Aku tidak tanya pendapatmu, Kaito." Jawab Satoru tegas. Semua membatu. "Miku adalah artis dunia. Dia tidak boleh bersikap kekanakan seperti ini. Semu orang juga lelah. Tapi tindakanya terlalu berlebihan." Jawab Satoru tegas. Nada bicaranya mengisyaratkan ancaman keras.
"Tapi, Pak! Dibrakan- dobrakan itu hanya akan membuatnya makin ketakutan dan stres!" tambah Kaito.
"Aku bilang diam!" sentak Satoru seraya menatap lurus Kaito. Kaito langsung terdiam. Ia tercengang.
"Kaito..." gumam Meiko khawatir. Rin dan Len memeluk Meiko ketakutan. Mereka khawatir Kaito akan dihukum. Kedua tangan Kaito terkepal kuat dan giginya bergemeretak. Menurutnya tindakan Satoru sudah sangat keterlaluan. Ia manganggap mental Miku hanyalah sampah, padahal gadis itu terus berusaha keras dibanding yang lain. Miku juga- lah yang membesarkan nama Yamaha!
"Kau..." wajah Kaito mengeras. Ia sangat marah.
"Apa yang dia bilang itu benar, pak tua." Seluruh pandangan beralih pada Kuo yang berjalan santai dari arah belakang Meiko. Kaitopun terkejut dengan ucapan Kuo yang terkesan 'menantang' sang presdir. "Jika aku jadi kau, aku akan menuruti apa yang dia katakan." Kuo melirik Kaito singkat dengan tatapan mata, 'Tenanglah. Serahkan padaku.' Otomatis kepalan tangan Kaito mengendur. "Jika aku jadi kau, akan kugunakan otak dan bukanya otot untuk hal ini." Langkah kaki Kuo berhenti didepan pintu ruangan Miku. "Suruh mereka minggir." Perintahnya pada Satoru.
"Kalian, berhenti." Perintah Satoru pada dua bodyguardnya.
Tanpa bicara, Kuo mengamati tombol- tombol kode di pintu, kemudian mengeluarkan smatphonenya. "Akan kubuka pintu ini, tapi dengan syarat, kau tidak boleh menampakkan wajahmu dihadapan gadis ini." Kuo menatap Satoru tajam. Satoru mengangguk tanpa bicara.
Semua diam menyaksikan bagaimana Kuo sibuk dengan handphone yang ia dekatkan ke sistem keamanan ruangan itu, kemudian ia menekan angka dipintu.
PIP
Semua tertegun melihat Kuo berhasil membuka pintu itu. Ia melakukanya dengan sangat mudah. Satoru detik itu juga merasa dipermalukan meski ia sudah tahu kemampuan Kuo. "Aku akan masuk. Sampai aku keluar, jangan ada yang boleh masuk." Katanya, "Maaf, tapi untuk kali ini, tolong serahkan Miku padaku. Lebih baik kalian pergi." Ucapan itu Kuo tunjukan pada Kaito dan para Vocaloid disitu. Kaito terdiam beberapa detik, tapi melihat keseriusan Kuo lewat matanya yang jujur, Kaito mengangguk. Ia percaya pada Kuo meskipun mereka belum saling kenal dengan baik. Kuo kemudian menghilang dibalik pintu Miku yang kembali tertutup.
"Ayo, kita serahkan ini pada kakak tadi saja." Ajak Kaito dengan senyuman pada Meiko dan duo pirang.
"Eh? Kakak tadi siapa? Kaito- nii? Warna rambutnya hampir sama dengan Miku- nee." Tanya Len.
"Iya, kelihatanya aku pernah melihat kakak itu dimana ya... tidak asing kok!" tambah Rin.
"Kamu yakin, Kaito?" tanya Meiko.
"Aku yakin. Dulu aku pernah tahu orang itu. Kita bisa percaya padanya. Ayo, kita kembali ke ruang tunggu." Kaito mengajak yang lain pergi. Sedangkan Satoru bersama manager dan dua bodyguardnya masih tetap disana. Berdiri dalam diam yang tegang dan kaku.
Tubuh Miku makin bergetar mendengar suara pintunya berhasil dibuka. Belum lagi ada suara orang yang memasuki ruanganya. Tubuhnya makin meringkuk seperti terenggiling diatas sofa putih itu. Begitu Kuo duduk disampingnya, ia memutar tubuhnya membelakangi lelaki itu.
Puk.
Tangan Kuo mendarat diatas kepala Miku. Meski tangan itu mendarat pelan, Miku sangat terkecut sampai tubuhnya sempat kejang sekali. "Kau masih ketakutan, ya?" tanya Kuo datar. "Apa kau juga takut padaku?" tanyanya lagi. Tubuh berkurang gemetarnya. "Namamu, Miku 'kan? Coba lihat aku. Apa kau masih meningatku?" takut- takut, Miku memutar sedikit kepalanya danmelirik dari ekormatanya. Yang ia lihat hanyalah laki- laki yang menolongnya disaat malapetaka itu terjadi. Kemudian ia menangguk pelan.
"Kuo...san?" katanya takut- takut. Kuo menjawabnya dengan senyuman tipis dibibirnya. Lalu, tiba- tiba ia teringat, ia sudah berciuman dnegan lelaki dihadapanya sebanyak 2 kali tanpa sengaja dan itu membuatnya memalingkan muka lagi karena malu. Malu sekali. "Ke- kenapa d-d- disini? A-a-aku ti-tidak apa-apa." Kata- katanya terbata- bata.
"Kau aneh. Keadaanmu saja begini bagaimana kau baik- baik saja?" balas Kuo dengan sebelah alis yang terangkat. "Aku disini tentusaja untuk menjengukmu. Luka berpesan padaku untuk menjagamu. Kau bisa membuatnya gila jika terus- terusan seperti ini." Miku terhenyak. Sadar dirinya salah mengucapkan kata- kata, Kuo meremak kata- katanya. "Aku kemari juga untuk minta maaf padamu. Luka mengomeliku, kelihatanya, kau juga syok ya, karena ciuman itu. Maaf, aku tidak sengaja." Sesalnya sambil menundukan wajah dengan kedua tangan yang ia tumpukan pada kedua pahanya dan saling terkait jemari- jemarinya. "Kalau kau mau pukul atau tampar aku sekarang, lakukan saja. Aku terima. Seperti yang dilakukan Luka tadi." Katanya. Kedua matanya bertemu dengan mata Miku yang sedikit menoleh dan menatapnya takut- takut. Dalam sejarah, baru kali ini Kuo Steelberg mengaku menyesal telah mencium seorang gadis. Ia yang terkenal diantara para wanita eropa, sudah sering berciuman ataupun melakukan hubungan badan lain tanpa ada penyesalan dan hal itu mereka lakukan secara sukarela agar bisa bersatu dengan sang pangeran ini. Tapi sekarang? Ia telah mencium seorang gadis polos itupun secara tidak sengaja.
Miku takut- takut membalikkan badanya setelah mengusap semua airmatanya. Ia menghadap Mikuo dan menyerahkan benda yang terus ia peluk selama ini. Jaket milik Kuo sendiri. "Te- terimakasih u- untuk jaketnya. Ma- maaf aku terlambat me- mengembalikanya." Katanya malu- malu dan terbata- bata. Kuo menatap jaket yang gadis itu sodorkan dan wajah gadis itu secara bergantian sesaat. Kedua mata Miku agak membengkak akibat menangis yang terlalu lama.
"Kau kabur dari Luka tadi karena jaket ini, bukan?" tanya Kuo. Miku mengangguk. "Simpan saja dulu. Kelihatanya, dengan memeluk jaket ini kau jadi tenang." Tolaknya, sambil mendorong jaket itu kearah Miku. Kedua mata Miku membulat. "Untuk sekarang, yang penting adalah ketenanganmu dulu. Katakan, apa aku membuatmu takut?" tanyanya. Tatapan matanya lurus ke kedua mata gadis itu sehingga membuat Miku bingung, salah tingkah dan membuang pandanganya kearah lain.
"Se... sedikit." Katanya pelan. Ia takut Kuo akan marah padanya. Bukanya marah, Kuo malah memutar badanya dan menatapnya penuh.
"Pinjam tangan kananmu." Pintanya. Takut- takut Miku memberikan tanganya. Kebgitu kedua tangan mereka bersentuhan, perbedaanya sangat signifikan. Meski kulit putih mereka hampir sama, tapi tangan Kuo jauh lebih besar dan kasar ketimbang tangan Miku. Lalu, tangan Miku terasa sedingin es sedangkan tangan Kuo hangat. Kuo mengarahkan telapak tangan kanan Miku pada pipi kirinya. "Tampar aku." Katanya. Miku menatapnya bingung bercampur terkejut. "Jika dengan menamparku bisa membuatmu tidak takut lagi padaku, lakukanlah. Tau mungkin, kau ingin memukulku?" Kuo membuat tangan kanan Miku terkepal. Dan mengarahkanya tepat kedepan wajahnya.
"Apa? Aku? Aku tidak ingin begitu!" tolak Miku.
"Tidak apa. Lakukanlah." Tambah Kuo.
"Tidak!" pekiknya. Miku menarik tanganya secara paksa dan ia berdiri secara spontan. "Kuo- san, kamu tidak salah apapun padaku! Kenapa kamu bertindak demikian!? Apa aku sudah sebegitu gilanya dimatamu!?" teriaknya. Kuo tidak bergeming, ekspresinya tetap dingin dan datar.
Ia membalas dengan datar, "Aku tidak menganggapmu gila. Hanya saja, kau pasti ingin memukulku, bukan? Lagipula, aku sudah melihat tubuhmu tanpa busana. Karena itu kau-..."
PLAK
Satu tamparan keras mendarat mulus dipipi kanan Kuo. Kuo terdiam, sedangkan Miku, ia terkejut dengan apa yang ia lakukan. Tubuhnya kembali bergetar. "Tolong, jangan ungkit kejadian itu... aku sudah berusaha..." Miku melepas Jaket Kuo dari pelukanya dan ia beralih mencengkram dan menarik kerah kaos Kuo. "Aku sudah berusaha melupakanya... dan... itu menyakitkan... mereka... tidak mengerti..." ia kembali menangis. Kuo tahu, setelah itu, ada kejadian yang tidak beres setelah Miku dibawa pergi dari Luka.
Bruk
Kuo menarik Miku kedalam pelukanya. Ia menyandarkan kepala itu didada bidangnya, berharap agar gadis itu tidak melakukan hal aneh lagi. "Mengislah sepuasmu. Kau sudah terlalulama menjadi kuat didepan orang- orang. Berteriaklah jika perlu, lepaskan semua dan jangan ragu." Katanya.
"Hwaaaa! Ini menyakitkan! Sakiiittt!" teriaknya sekeras mungkin. Kuo hanya bisa mengelus- elus punggung dan kepala gadis itu agar gadis itu merasa baikan. "Berhenti memaksaku terlihat baik- baik saja! Aku tersiksa! Kalian jahat! Aku tidak hamil! Kenapa kalian memaksaku meminum obat itu!?" teriaknya sedih.
'Apa? Obat?' batin Kuo. 'Obat apa itu? Narkoba kah?' tanyanya dalam hati. Lalu, setelah menggabungkan kata- kata Miku sebelumnya, ia langsung mengerti. 'Pasti itu obat penunda kehamilan atau peluruh rahim.' Tebaknya.
Miku menangis ada 30 menit lamanya. Setelah itu, ia tidak lagi berteriak. Hanya terisak. Kelihatanya ia sangat kelelahan. Menangis adalah hal yang sangat melelahkan, apalagi untuk orang yang sedang mengalami gangguan jiwa seperti Miku. "Bagaimana? Sudah enakan?" tanya Kuo pelan. Miku mengangguk.
Dari posisinya bersandar, Miku dapat mendenar jelas suara detak jantung Kuo yang begitu teratur dan membuatnya tenang. Ia baru tahu, mendengar suara detak jantung orang lain saat down bisa membuatnya tenang. "Su- sudah... te- terimakasih sudah me- merepotkan." Ucapnya terbata dan suaranya serak.
Keduanya terdiam. Hanya ada keheningan diantara keduanya. Tak ada suara- suara apapun diruangan itu selain suara ac dan nafas Miku ditelinga Kuo sedangkan ditelinga Miku ia hanya mendengar suara detak jantung Kuo yang tenang dan teratur.
"Kau hebat ya? Menahan semua rasa sakitmu selama ini. Entah sudah berapakali ancaman menyebalkan pak tua itu membelit tubuhmu, tapi kau tetap bisa bertahan. Dan kau beruntung, aku masih bisa menolongmu dengan. Kau bayangkan, sudah berapa kasus pemerkosaan di negara ini? Bagaimana perasaan korbanya yang ternoda seutuhnya? Kau beruntung, Miku. Masih beruntung. Kau hanya ternoda sedikit, dan itu masih bisa dibersihkan." Hibur Kuo sambil terus mengelus punggung dan kepala Miku. Wajah Miku terasa panas dipuji seperti itu oleh laki- laki selain anggota Vocaloid. "Setelah kau merasa baikan, temuilah keluargamu itu. Para Vocaloid. Mereka sangat mengkhawatirkan keadaanmu. Si rambut biru dongker saja tadi sempat dipelototi pak tua karena membelamu." Cerita Kuo.
"Ka- Kaito-nii?" Miku mendongakkan wajahnya.
"Kaito? Entahlah, aku tidak tahu namanya selain rambut dongkernya. Yah, dari info yang kubaca di internet, kelihatanya dia sering berpasangan denganmu dalam lagu." Lanjut Kuo.
"A- Apa dia baik- baik saja? Pak Presdir tidak mengancamnya 'kan? 'kan?" tanya Miku khawatir. "Kalau itu sampai terjadi, me- mereka bisa dikeluar-..."
"Ssh... hemat suaramu itu." Kuo memotong kata- kata Miku dengan menempelkan telunjuk kirinya dibibir pink gadis itu sehingga membuatnya diam seketika. "Suaramu itu penting, bukan? Masih banyak orang yang menunggumu diluar sana. Mereka menantikan Hatsune Miku yang selalu tersenyum dan bernyanyi untuk mereka. Jangan kecewakan mereka dengan suaramu yang serak. Pulihkanlah dirimu dulu. Soal masalah pak tua itu, biar aku yang mengurusnya."
"Kuo- san?" Miku bingung. Kuo, orang yang baru ia kenal bisa menangani salah satu orang paling berpengaruh di Jepang?
"Itu rahasia." Laki- laki bersuarai teal itu tersenyum misterius pada Miku. "Apa kau sudah bisa kutinggal sekarang? Bagaimana caramu pulang nanti? Aku masih ada pembicaraan dengan pak tua itu."
"Tu- tunggu! A- aku rasa aku akan ikut. Bagaimanapun juga ini semua berawal dari kesalahanku yang ceroboh dan egois. Aku akan minta maaf pada pak presdir. Kumohon!" Miku menatap lurus Kuo. Ia memohon dengan sangat.
Awalnya Kuo enggan, namun setelah ia mendengus sesaat, ia mengangguk. "Baiklah. Tapi, kau hanya boleh minta maaf pada pak tua itu atas kesalahanmu, tidak lebih. Akan kupanggil dia kemari." Laki- laki tinggi itu bangkit dari sofa yang didudukinya bersama Miku kearah pintu. Sambil berjalan, ia mengirim pesan singkat agar Satoru datang ke ruangan Miku, dan bukan sebaliknya. Ia ingin mengajarkan Satoru untuk mengakui kesalahanya dan meminta maaf pada Miku pula. Sifat menyebalkanya itu, ia sangat tidak suka.
Selagi menunggu Satoru datang, Miku menyiapkan dua buah kursi yang berhadapan dengan sofa untuk ia dan Kuo duduk. Sedangkan Satoru nantinya akan duduk di sofa. Bagaimanapun juga, Miku masih menaruh hormat pada laki- laki itu.
"Apa yang kau lakukan, aneh." Kuo mengangkat 2 kursi yang dibawa Miku dengan kedua tanganya. "Keadaanmu itu masih belum stabil. Minumlah dulu sana dan basuh wajahmu. Kau tidak mau melihat muka pak tua itu tambah tertekuk karena penampilanmu, bukan?" perintahnya seraya meletakkan 2 kursi itu didepan sofa putih. Miku menurut dan membasuh wajahnya di kamar mandi ruanganya. Setelah mengelap wajahnya dengan handuk kering, ia menenguk segelas air putih dan merapikan tatanan rambutnya. Ia merasa sangat ringan sekarang, seolah masalah- masalah tak ada yang menimpanya. Kuo berhasil membuatnya tenang. Ia rasa, ia berhutang budi pada laki- laki itu. Ah, ia memang berhutang budi. Dialah yang telah menyelamatkanya. Sedikit ternoda itu lebih baik, masih bisa dibersihkan ketimbang ternoda seutuhnya. Kata- kata itu terekam dalam ingatan Miku dan seolah menjadi bahan bakarnya untuk bergerak kembali menghadapi masa depan.
Begitu Miku duduk di kursi hitam sebelah kanan, Kuo kembali bersama Satoru disampingnya. Satoru duduk disofa, menghadap kedua makhluk berwarna surai hampir sama itu bergantian. Kuo duduk setelah Satoru duduk. Hati Miku tertawa saat melihat Kuo yang duduk di kursi tanpa sandaran itu. Kursinya terlalu rendah sehingga Kuo nampak tidak nyaman duduk disana. Kakinya yang panjang sering berubah posisi untuk mencari posisi yang nyaman.
Tertawa? Ia memang jauh lebih baik sekarang. Entah sihir apa yang Kuo gunakan padanya. Dalam waktu 30 menit ia sudah dapat mengembalikan moodnya lagi menjadi lebih baik.
"Jadi, ada masalah apa yang ingin kalian katakan? Mulai dari kau, Miku." Tanya Satoru seraya menyilangkan kaki kananya diatas kaki kiri. Wajah angkuh dan dinginya terlihat jelas dan Kuo ingin sekali memukul orang seperti itu sekarang.
"Aku minta maaf sudah membuat keributan. Terimakasih sudah menutupi kasus pemerkosaanku, pak presdir. Tapi, sungguh, saya tidak hamil disini. Mereka baru menyentuh saya saja. Saya rasa tindakan anda memaksa saya meminum obat peluruh kandungan dan penunda kehamilan itu agak berlebihan. Tapi saya tahu, itu demi melindungi nama Vocaloid dan perusahaan Yamaha. Saya minta maaf sudah bertindak egois. Maafkan saya." Miku membungkukkan badanya dihadapan Satoru.
"Hn. Baiklah. Terserah." Ucap Satoru singkat. "Jangan ulangi tindakan bodohmu itu. Karena ulahmu, aku harus repot membuat skandal pencurian oleh orang- orang itu dan membungkam banyak orang. Kau harus segera aktif lagi besok atau kau dalam bahaya. Aku tidak mau mendengar alasan kau trauma atau apalah itu."
"Baik, Tuan." Jawab Miku sambil membungkuk dari kursinya.
Krtk...
Kuo meregangkan tulang ke-10 jarinya sampai suaranya terdengar ketelinga Miku dan Satoru. Ia merasa kesal dan terganggu.
"Giliranmu, Kuo." Kata Satoru. Miku menegakkan badanya kembali.
"Kuharap kau masih ingat pembicaraan kita di kantor tadi. Jika kau lupa, itu akan menjadi resiko bagimu sendiri. Aku mau melanjutkan persyaratanku tadi. Keempat, meski kau bersikap padaku biasa, dan kau berkuasa, tapi kata- kataku absolut jika kau ingin selamat." Satoru mengangguk mengerti. "Kelima, perlakukan mereka disini secara manusiawi. Jika kau mendengar ada skandal pornografi pada idol- idolmu, kau harus segera mengusut siapa pelakunya tanpa pandang bulu. Jangan sampai kejadian sama terulang. Kau sendiri yang bilang, skandal dapat berpengaruh pada eksistensi di dunia hiburan dan itu juga berpengaruh pada misiku nanti." Satoru mengangguk menurut lagi.
"Akan kulakukan." Kata Satoru.
"Dan yang terakhir." Kuo terdiam agak lama untuk ini. Ia sempat melirik Miku sesaat kemudian menatap Satoru lagi. "Aku mau Hatsune Miku menjadi milikku. Aku tidak tahan melihatnya kau perlakukan seenakmu. Dan jika yang terakhir ini kau menolak, kesepakatan kita gagal." Kata- kata Kuo yang terakhir ini membuat Satoru dan Miku terbelalak kaget.
"Apa maksudmu, Kuo?!" hardik Satoru. Miku menutup mulutnya dengan kedua tangan karena terkejut. "Dia diva utama Vocaloid! Manamungkin aku memberikanya padamu!"
"Well, itu karena berhutang padaku." Kuo mengerling dan menyeringai pada Miku yang melirik kearahnya singkat. Kemudian gadis itu tertunduk malu. Wajahnya panas, pipinya bersemu merah. "Aku baru bertemu denganya dan dia langsung menciumku, 2 kali pula. Kurasa, hal itu akan menjadi bayaran yang seimbang." Kuo senang melihat ekspresi diwajah Satoru. "Tenang saja, aku hanya minta dia dibelakang panggung. Kau tahu, backstreet. Kau masih bisa memilikinya sebagai diva yang bekerja pada Yamaha. Tapi, aku mau Hatsune Miku, dia yang bukan diva. Dia yang asli sebagai manusia, saat tidak dipanggung. Itu saja. Permintaan selesai." Ia mengakhirinya dengan seringaian.
"Tapi, itu-!"
"Miku sudah sekali terkena kasus pemerkosaan. Bukanya akan lebih baik ada yang menjaganya? Aku bisa melakukanya disela- sela melakukan misiku. Lagipula, Luka sendiri sudah minta tolong padaku untuk menjaganya. Yah, itu semua tergantung keputusanmu yang masih berharap Yamaha masih dapat berdiri atau tidak. Permintaanku yang dihitung kuminta secara pribadi hanya 3. Dan kurasa itu mudah. Apalagi untuk orang sepertimu yang menginginkan pembalasan diatas segalanya."
Satoru terdiam lama, kemudian ia menatap Kuo dan Miku secara bergantian. "Bagaimana pendapatmu, Miku?" tanya Satoru.
"Um... itu... jika itu..." ia melirik Kuo dari ekor matanya. Kuo sengaja membuang pandanganya kearah lain agar Miku bisa menentukan pilihanya sendiri. "Ka... karena Luka- nee yang memintanya, jadi, aku mau..." Miku terasa mau pingsan mengatakanya.
Satoru mendengus. "Baiklah. Kau dapat semua yang kau mau, Kuo. Kuharapkan kerjasamamu yang maksimal untuk ini. Mulai lusa besok kau akan dikontrak sebagai idol dan model. Bersiaplah untuk latihan intensif. Dalam waktu kurang dari satu bulan kalian akan melakukan debut. Mengerti?" Satoru mengulurkan tanganya dan Kuo menjabatnya.
"Senang bekerjasama denganmu." Balas Kuo.
"Jika ada keperluan, kau telfon saja aku. Jika sudah selesai, aku permisi dulu." Katanya kemudian berlalu meninggalkan ruangan Miku.
Bruk!
"Ku- kuo san?!" Miku terkejut melihat Kuo membanting tubuhnya diatas sofa. Ia tidur dengan posisi terlentang. Nafasnya terengah- engah. Tangan kananya menutupi kedua matanya.
"Aku lelah bicara... haa...h." memang, hari ini ia menjadi lebih banyak bicara. Biasanya ia sangat irit dalam berkata- kata. Tapi kali ini, mulutnya sangat lelah dalam bicara. Banyak bicara sangat bukan dirinya dan tidak cocok dengan imagenya. "Maaf, tapi aku pinjam sofamu dulu." Katanya dengan nafas yang masih terengah- engah.
"Ba- Baiklah..." jawab Miku. "A- akan kubawakan air." Miku berjalan kebelakang untuk mengambil segelas air. Ia melihat bibir Kuo kering.
Saat Miku pergi, Kuo mengacak- acak rambutnya dan menutupi kedua katanya dengan kedua telapak tanganya. Entah kenapa, ia merasa sedikit malu. Kata- kata itu meluncur begitusaja dari mulutnya karena ia tidak tahan melihat Miku diperlakukan begitu oleh atasanya. Tapi untungsaja ia bisa mencari alasan yang masuk akal tadi. Ia rasa ia sudah gila. Tapi dengan begini, ia rasa ia bisa menjaga dan mengobati trauma Miku. Luka bisa mengulitinya jika ia gagal. Gadis itu, tidak boleh merasakan apa yang ia rasakan dulu. Jika hal ini dibiarkan saja, Miku bisa hancur.
Permintaan gila itu muncul karena di kedai makan kemarin malam, Luka sudah menceritakan segalanya tentang Miku. Salah seorang lagi orang yang Luka anggap adik. Ia dulu pernah bercerita saat mereka melakukan pemotretan keliling Eropa, namun kali ini lebih mendetail. Luka dan Miku berasal dari panti asuhan yang sama dan dipungut oleh salah seorang agen Crypton Entertaiment saat mereka sedang berakting layaknya idol, menari dan menyanyi ditaman. Namun, Miku berasal dari keluarga yang sebelumnya terpandang. Keluarga Miku dulunya adalah pendiri sebuah perusahaan alat musik, kemudian secara mencurigakan, tiba- tiba perusahaan itu hancur. Pabriknya terbakar, begitupun rumah sang pendirinya. Ayah dan ibu Miku memang sudah meninggal dalam kebakaran itu, namun Miku masih selamat dan disembunyikan didalam panti asuhan oleh pelayanya yang sekarang menjadi pengurus panti asuhan mereka dulu. Luka sudah menyelidiki kasus yang terjadi beberapa belas tahun yang lalu itu, dan ia mendapat hasil yang mencengangkan. Karena itu, ia sangat melindungi Miku. Dan ia juga minta Kuo untuk bekerjasama. Satoru terlihat sangat mengejar- ngejar Kuo, ia pastinya akan rela melakukan apapun untuk Kuo. Luka menyarankan padanya untuk mengajukan persyaratan penjalanan misi, termasuk permintaanya untuk melindungi Miku. Untuk masalah melindungi Miku, Luka memang sangat menomor satukan hal ini. Kuo bahkan yakin, Luka pasti rela tidur dengan banyak lelaki demi keselamatan Miku.
"Kuo- san? Ini, aku bawakan air." Miku menyodorkan segelas air putih untuk Kuo.
"Terimakasih." Ia bangkit dan menegak air itu sampai dalam 3 tegukan. Ia sangat haus. Ia heran, kenapa bisa ada orang cerewet di dunia ini? Kenapa mereka bisa tidak kehabisan tenaga?
Saat Miku kembali ke belakang untuk mengembalikan gelas Kuo tadi, diam- diam ia melirik punggung Miku dari belakang. Ia memang orang yang terlalu beralasan didunia ini. Ia malas melakukan sesuatu tanpa ada alasan dan tujuanya. Dan kini, ia sudah memiliki alasan untuk melindungi Miku. Karena bagaimanapun juga, detik itu juga Miku adalah miliknya 'kan? Wajar saja ia mau melindungi susuatu yang merupakan miliknya.
"Miku, bisa kau kemari sebentar?" panggil Kuo.
Miku datang dan duduk diatas sofa, namun jaraknya sangat berjauhan dengan Kuo. Ia canggung dan bingung harus berbuat apa. Kuo sendiri jadi bingung. Kalau dia biasa bermain dengan wanita, tidak ada acaranya canggung- canggungan seperti ini. Mereka biasanya langsung menerjangnya terlebih dahulu. Tapi? Ini kejadianya sangat jauh berbeda. Miku masih sangat polos apalagi masalah percintaan.
"A- ada apa Kuo- san?" tanya Miku. Ia bertanya setelah mereka diam beberapa saat.
"Bisa kau tidak memanggilku kaku begitu? Suffix-mu itu menggangguku." Komentarnya.
"Ja, jadi, Ku- Kuo-kun... begitu?" Sudah, Miku rasanya mau pingsan. Baru pertama ini ia memanggil orang sampai sesulit ini.
"Tidak buruk." Balas Kuo. "Lusa besok, kau harus menerima sesuatu yang mengganggumu dalam hidupmu." Katanya serius.
"Apa itu?" tanya Miku.
"Namaku bukan Kuo Steelberg lagi. Tapi Hatsune Mikuo. Menggelikan bukan?" katanya. Bukanya tertawa, Miku malah menyeritkan alis sekaligus terkejut. "Lusa besok, aku dan bebrapa orang lain akan di training disini sebagai boyband yang anggotaya merupakan genderbender dari para Vocaloid teratas. Aku menjadi genderbendermu, Miku." Jelasnya. "Semua orang pastinya akan berubah memanggilku Mikuo nantinya. Tapi, maukah kau tetap memanggilku 'Kuo' saja?" pintanya.
"Tentu saja. Lagipula, agak aneh juga memanggilmu Mikuo." Miku memelankan suaranya dibagian akhir kata- katanya.
"Sudah kuduga, nama itu aneh." Kuo menutupi wajahnya dengan telapak tanganya. Miku menahan tawanya melihat ekspressi malu Kuo yang lucu dimatanya. "Ah, satu lagi. Ingat, sekarang, jika kau sudah dibelakang panggung, kau itu milikku seutuhnya. Hati, pikiran dan tubuhmy hanya untukku. Ingat itu." Dengan tanganya yang panjang, Kuo menyentil dahi Miku disertai seringaian dibibirnya.
"Aw!" keluhnya. Wajah Miku memanas dan kedua pipinya memerah.
"O ya, jangan katakan hal ini pada Luka, ya? Ini rahasia kita berdua dan pak tua itu saja. Daah." Sebelum pergi, ia mengacak- acak rambut Miku dan mengecup bibir gadis itu singkat. "Itu untuk 2 ciuman kecelakaan cerobohmu."
BLUSH
Wajah Miku merah sempurna. Begitu Kuo sudah keluar dari ruanganya... "AAAAHHH!" Miku berteriak keras. Ia sangat malu. Malu sekali!
.
To be Continued
.
