AN: Hallo! Ini adalah versi MUSE chapter 3 full. Aku harap kalian menikmati cerita ini tidak hanya sebagai sebuah fanfiction KaiSoo. Beritahu aku jika kalian mengalami masalah dalam pemahaman.

Terima kasih untuk kalian yang sudah membaca dari awal, juga untuk yang baru menemukan cerita ini. Cerita ini mengandung unsur dewasa yang mungkin membuat sebagian orang tidak menyukainya. Diusahakan update setiap bulan ^^


MUSE

Chapter 03

-KaiSoo-

Present by RoséBear

Content: BL. Crime. Mention of sex. Hurt Comfort. Anxiety

Created: 170107

Publish: 180923


Keadaan sore itu seperti separuh zona yang tidak memiliki situasi. Memikirkan banyak hal tentang perjalanan hidup, bukan tentang dirinya, lebih tepat tentang pria bersurai hitam yang masih tidur tertelungkup sementara tangannya menggenggam jemari Kai.

Udara dingin menjelang malam menerobos membuat tirai melambai dengan gerakan pelan. Entah sudah berapa lama Kai duduk menemani Kyungsoo tidur.

Tidak pernah dia merasakan perasaan khusus seperti ini. Mungkin bertemu dengan Chanyeol dan Baekhyun telah mengubah bentuk perasaannya dan perasaan itu ingin meluap kepada Kyungsoo?

"Eunghhh!"

Lenguhan Kyungsoo mengejutkan Kai. Tidak hanya itu, jemari Kai memegang kejantaannya sendiri yang terlihat separuh terbangun.

Di dalam otaknya terdapat kabut cukup tebal, mengeluarkan bayangan dirinya berciuman dengan bibir hati yang kini setengah terbuka. Membuat daerah selangkangannya semakin panas.

"Oh Kim Jongin!"

Dia menggeleng cepat menyadarkan diri. Melepaskan genggaman Kyungsoo paksa kemudian berlari ke kamar mandi.

Ini keadaan yang sangat mendesak di mana dia membutuhkan comfort zone, di dalam kamar mandi dia kembali membayangkan diri mengulangi bayangan yang sebelumnya. Menjadi lebih buruk ketika tubuh telanjang Kyungsoo yang muncul sebagai sebuah imajinasi.

Kai tidak tahu pasti apa yang seharusnya dia lakukan, tapi saat mengeluarkan desahan itu dia berharap tidak menarik perhatian Kyungsoo.

Knock

knock

Atau mungkin dia telah salah, ketukan pada pintu membuat jantungnya ingin melompat keluar.

"Apa kau yang di dalam?"

Dia bahkan menahan napas cukup lama.

"Kai?"

Sepertinya Kyungsoo bukanlah pria yang sabar. Dia memanggil nama pemuda itu, Kai sangat yakin jika sebelumnya Chanyeol sudah menjelaskan kepada Kyungsoo saat dia pingsan pagi ini.

Karena gugup dan khawatir dia putuskan untuk menjawab.

"Ya! T-tunggulah sebentar." Bahkan membuat kalimatnya terdengar tidak begitu sempurna.

Tapi kemudian Kai tidak mendengar suara bantahan apapun. Dia menghentikan semua kegilaan sore itu, berkali-kali mengusap wajah dengan air di keran. Pria itu menarik napas dalam sebelum tangannya memutar knop pintu.

Degh

"A-apa yang k-kau lakukan?"

Dia menjadi gugup, bahkan tubuhnya terpundur kembali ke dalam kamar mandi saat menemukan Kyungsoo berdiri di depan pintu dengan bersedekap tangan. Dari jarak sedekat ini, Kai bisa tahu jika sebagai lelaki Kyungsoo memiliki ukuran tubuh yang benar-benar lebih pendek darinya. Rambut lebat berwarna hitam, terlihat tidak pernah menyentuh pewarna, sepasang mata bulat yang menatapnya tajam. Ohh semakin ke bawah dia menemukan bibir hati Kyungsoo, terkatup membuat ekspresinya menjadi begitu datar. Satu kata, manis. Sebagai seorang lelaki Kai terkejut mendapatkan fakta jika dia tidak bisa memalingkan pandangan dari Kyungsoo.

"Menyingkirlah! Aku ingin menggunakannya!"

"O-owgh!"

Sudut bibir Kai tertarik membentuk senyum, namun semakin lama semakin lebar. Senyumnya menjadi begitu tulus.

"Maafkan aku tuan Do."

Pria bermata bulat itu memalingkan wajah sembari menghela napas berat. Saat Kai bergeser keluar dia segera melangkah masuk.

"Kyungsooo."

Blam

Kai berkedip beberapa kali. Dia tidak terlalu yakin, tapi sepertinya Kyungsoo meminta untuk memanggil nama kecilnya. Sesaat dia menjadi begitu gembira, tanpa sadar bayangan sebelumnya melintas kembali.

'Aku tertarik padanya?'


~ RoséBear~


Pintu apartemen Kyungsoo terbuka sebelum jam delapan malam. Kai yang terkejut bangkit dari sofa di mana dia telah duduk berdua dalam diam bersama Kyungsoo.

"Hallo!"

Sapaan pertama membuat pria tan itu tersenyum kaku. Itu adalah Chanyeol dan Baekhyun.

"Kau sudah kembali? Hai! Senang melihatmu masih di sini Kai."

Pria cantik itu juga menyapa Kai.

Kyungsoo melangkah melewati Kai, mengabaikan sapaan Baekhyun menuju ke balik pintu apartemen.

Ketiganya saling menatap kebingungan dengan apa yang pemuda itu lakukan. Pada pintu utama masuk rumah yang terbuka, mereka bisa melihat Kyungsoo melakukan sesuatu pada kode akses pintu. Terdengar suara bippp beberapa kali dan pria itu kemudian selesai.

"Lain kali kau harus menekan bel apartemenku."

Tidak ada kata yang bisa mereka ucapkan. Bahkan bibir tipis Baekhyun terbuka sedikit mendengar kalimat pendek Kyungsoo. Pria itu ternyata telah mengganti kode akses pintu hunian agar kedua orang ini tidak masuk sembarangan. Itulah yang dia lakukan pada benda berbahan zonk alloy berkulitas tinggi itu.

Pengalaman, keseriusan dan yang mereka butuhkan sekarang adalah eskperimentasi. Mengabaikan bagaimana Kyungsoo telah melarang mereka bertindak tidak sopan terhadap huniannya, mereka mulai membicarakan tentang tujuan kenapa harus berkumpul.

Ada banyak hal yang mereka bicarakan, terutama tentang rencana selama satu minggu ke depan. Di mana Kyungsoo masih memprotes kenapa Kai harus menjadi modelnya. Jadi dia menerima kedatangan pria ini, walau dalam hatinya sepanjang hari memprotes keputusan Baekhyun. Dia diam saja sepanjang sore adalah untuk menunggu kedatangan kedua orang ini.

Dan sekarang mereka berdebat atau tepatnya hanya dua orang itu saja, antara Baekhyun dan Kyungsoo. Mempertahankan prinsip mereka masing-masing, sementara Kai dan Chanyeol hanya bisa membuat jarak dari pertikaian itu.

"Come on Kyungsoo! Aku sudah membayar Kai dan lelaki ini bahkan sudah menggunakan uang awal yang kuberikan, lagipula tubuh pria memiliki media yang lebih lebar dari wanita."

"Aku tidak mau!"

"Tapi kau bisa melakukannya!"

"Jangan gegabah Baekhyun! Kalian tahu masalahku! Kalau kau tidak mau menggantinya, kau bisa mencari orang lain!"

"A-apa? Jadi kau memilih meninggalkan proyek ini daripada melawan ketakutanmu?"

Perdebatan mereka telah berlangsung cukup lama, berakhir dengan tidak ada jawaban apapun dari Kyungsoo tentang pendapat terakhir Baekhyun. Pemuda itu memilih bersidekap tangan dan memalingkan wajahnya.

Mengabaikan bagaimana dua orang yang duduk di hadapannya serta Kai yang duduk di sebelah. Kebingungan Kai terlukis jelas di wajahnya, mungkin dia tidak peduli tapi kemudian Chanyeol menepuk pahanya, menghentakkan kaki lalu berdiri.

"Kau bisa mulai memperhatikan model yang akan menjadi media lukismu Kyungsoo. Jika tidak berhasil, kau bisa meminta jasa fotografi Baekhyun."

Pemuda itu mengabaikan ucapan Chanyeol, membiarkan pria tinggi itu menarik pergelangan tangan kekasihnya agar keluar dari sini.

Hanya berjarak satu meter Kai menyusul berdiri untuk mengantar keduanya.

"Kai?"

Tiba-tiba saja Chanyeol berhenti dan berbalik badan. Panggilannya kepada pemuda itu juga dilirik Kyungsoo.

"Kau ingat wanita tadi pagi? Dia bukan wanita baik-baik, jangan mendekatinya. Dan..."

Chanyeol mengintip Kyungsoo yang masih bertahan di sofa dengan posisi bersedekap tangan melalui punggung Kai.

"Sampai jumpa besok siang. Kurasa kita akan mempergunakan bantuan fotografi untuk tahap awal pekerjaan ini."

Kai mengangguk mencoba memahami maksud Chanyeol. Dia menutup pintu ketika dua orang itu berada di luar. Setengah ragu dia tidak ingin kembali berada di sofa bersama Kyungsoo. Kondisi pria itu terlihat tidak terlalu baik, dan Kai bukan pria yang tidak tahu diri.

Tapi ketika Kyungsoo berdiri dan berjalan ke kamar dia bernapas sedikit lega. Nyatanya sofa panjang itu tidak akan bisa menampung panjang tubuhnya, tanpa bantal dan selimut, tapi bagaimanapun hunian ini lebih baik.


~ RoséBear~


Udara dingin malam berhasil mengusik ketenangan Kai, ia terbangun di sepertiga malam kemudian mengalami kesulitan untuk tidur. Kai sudah mencoba dengan membaca buku yang selalu berulang. Duduk diam dengan pikiran tidak tenang, begitupun yang terjadi pada tubuh. Dia tidak bisa menahan lebih lama dari ini. Pria itu beranjak dari atas sofa, membuka pintu kamar Kyungsoo sepelan mungkin. Menemukan cahaya terang karena lampu tidak di matikan, ia melangkah begitu hati-hati.

Cklek

Pintu kamar mandi terbuka. Sebelum masuk Kai sempat mengintip apakah Kyungsoo terganggu atau tidak, tapi sepertinya tidak untuk rasa penasaran Kai.

Dia keluar dan seharusnya segera melangkah keluar kamar, tapi tanpa sadar kaki Kai mendekati ranjang Kyungsoo. Memperhatikan tubuh pria itu di balut setengah selimut. Kyungsoo tidak mendengkur, napasnya mengalun dengan teratur.

"Kyungsoo, kau harus tahu jika aku membutuhkan pekerjaan itu. Aku harap tidak ada protes lagi."

Ia berkata sembari tangannya menarik selimut hingga ke bawah dagu Kyungsoo. Membuat pemuda itu menggeliat kecil dalam kehangatan.

"Dingin~"

Kai terkejut dengan gumaman Kyungsoo barusan. Tangannya keluar dan mendapatkan jemari Kai, sekali lagi dia memeluk jemari Kai. Memaksa pemuda itu duduk di lantai, ia menepuk punggung tangan Kyungsoo pelan.

"Kau membutuhkan teman bicara? Makanya kau tidak bisa mengusirku?"

Asumsinya keluar, ia tersenyum kecil dengan tindakan Kyungsoo yang dia pikirkan.

Degh

Kai terkejut saat Kyungsoo membalik tubuhnya ke samping. Wajah damai dengan sepasang mata yang tertutup, bibir hati sedikit terbuka. Kai sudah memperingatkan dirinya, jadi dia memilih membalik badan, bersender di ranjang dengan tangan masih di dalam pelukan Kyungsoo.

Pria itu tertidur karena rasa lelah dan hangat yang dia dapatkan.


~ RoséBear~


Pagi itu, Kai tidak tahu jika tindakannya tadi malam membuat Kyungsoo menghindar, Kyungsoo terbangun lebih dulu. Mengejutkan Kai dengan suara pintu kamar mandi yang dibanting kuat.

Pusing membuatnya menggelengkan kepala, jadi Kai tidak memprotes jika Kyungsoo marah. Tapi dia akan memberikan penjelasan jika pemuda itu mengeluarkan amarah, nyatanya Kyungsooo memilih diam. Menyiapkan sarapan sendiri dan menyalakan televisi. Dia duduk bersila di atas sofa dengan semangkuk sereal di pangkuan.

Jujur saja, Kai berterima kasih Kyungsoo tidak mengusirnya. Jadi dia memilih membersihkan diri dan berniat melangkah keluar. Menemui Kris mungkin bisa memberinya makan, setelah itu dia akan mencari pekerjaan harian di mana Kai bisa mendapatkan uang setiap harinya walau dengan jumlah kecil sampai teguran Kyungsoo menghentikan langkahnya di depan pintu.

"Sebaiknya kau makan terlebih dahulu baru pergi ke studioku."

"Apa?"

Kai bertanya hanya untuk memastikan. Tatatapan tajam Kyungsoo menyatakan dia tidak ingin mengulangi ucapan barusan. Jadi daripada memaksa sebuah reka ulang, Kai memilih tersenyum. Kyungsoo mengalah atas perdebatan dengan Baekhyun tadi malam?

Dia segera menuju dapur, menuangkan sereal dan dengan sedikit tidak sopan duduk di sebelah Kyungsoo.

'Kondisi penjaga museum nasional A yang di kabarkan tertusuk tidak jauh dari keberadaan museum pada dua hari lalu masih dinyatakan kritis oleh dokter. Belum diketahui keberadaan pelaku penyerangan. Polisi mengecek seisi museum dan tidak menemukan tanda-tanda perampokan atau tindak kekerasan sejenis. Semua barang di dalam juga dinyatakan lengkap... Pip!'

Tiba-tiba saja televisi dimatikan membuat Kai menoleh dengan gerakan patah-patah. Ia menemukan Kyungsoo beranjak dan kembali ke kamar. Tapi Kai tidak ingin makan dalam keheningan, dia menyalakan kembali televisi. Mencari siaran kartun, mengabaikan siaran berita sebelumnya.


~ RoséBear~


Ketika dia dibawa menaiki bus dengan jumlah penumpang yang dikatakan penuh memaksa Kai melindungi tubuh pria bermata bulat ini. Bagaimanapun, sejak melangkah masuk, mereka harus berhimpitan. Seharusnya Kyungsoo berpegangan pada tiang untuk menopang tubuhnya agar tidak terdorong orang lain, tapi pemuda itu memilih berkutat dengan ponselnya. Kai tidak terlalu peduli karena Kyungsoo terlihat begitu fokus pada layar ponselnya. Perlahan mereka terdorong ke bagian dinding, Kai harus menopang kedua tangan bertahan pada besi dingin itu agar tidak menghimpit Kyungsoo.

Owhh! Sekarang dia tampak kesal dengan sikap ketidakpedulian Kyungsoo. Dengan paksa Kai menarik pergelangan tangan pemuda itu dan mengeratkannya pada lengannya sendiri.

"Gunakan lenganku jika kau tidak bisa meraih handle grip."

Mata bulat itu, memandanginya dengan tanda tanya. Tahan untuk tidak berkedip beberapa detik membuat Kai salah tingkah dan malu atas perbuatannya.

"Apa kau menyukaiku?"

Degh

Dengan kepala yang dimiringkan dan mendongak, bisikan itu sukses melahirkan rona kemerahan di wajah Kai.

"A-aku... Bagaimana mungkin." Ucapannya terbata dan setengah berteriak.

"Lihatlah tanganku kesakitan menopang tubuh agar tidak menghimpit UWOAGHHHH!"

"Aww." Kyungsoo meringis saat tiba-tiba Kai memeluknya erat, memutar posisi mereka membiarkan tubuhnya sendiri menghantam besi dingin bus saat benda ini berhenti mendadak. Beberapa penumpang lain ada yang mengalami hal serupa karena tidak memiliki kesiapan. Beberapa saat kemudian terdengar pengumuman permintaan maaf dari sang supir atas ketidaknyamanan ini. Namun kejadian itu membuat ruang diam di antara mereka. Bahkan Kyungsoo turun tanpa mengajak pria tan itu. Berjalan beberapa meter, Kai pikir mereka akan pergi ke bar milik Chanyeol, nyatanya Kyungsoo berjalan ke samping bangunan, menemukan gang sempit yang hanya muat untuk pejalan kaki dan sebuah gerobak sampah.

Begitulah yang terjadi sebelum dia berdiri di depan sebuah bangunan dengan hanya satu pintu masuk dan keluar. Gembok berukuran besar yang menyatukan rantai besi itu dibuka, terdengar bunyi kerencang dari rantai yang bersentuhan satu sama lain saat Kyungsoo meletakkan di ke atas lantai. Bangunan ini tidak begitu besar, tepat berada di belakang bar milik Chanyeol, tertutupi oleh bangunan dua tingkat bar dan sebatang pohon cemara. Berada di antara bangunan-bangunan tinggi namun Kai menemukan kedamaian di tempat ini.

Selama dia memperhatikan sekeliling bangunan, selama itu juga Kyungsoo menunggu Kai melangkah masuk

"Oh! Maafkan aku."

Dia segera melangkah, aroma tidak sedap dari cat minyak menyapa indra penciuman Kai.

Ruangan menjadi gelap untuk beberapa detik ketika Kyungsoo menutup pintu, namun segera terang kembali setelah lampu dinyalakan. Dia memandang takjub pada ruangan ini, begitu luas karena tidak memiliki sekat. Di sepanjang sisi bangunan terususun melingkar easel kayu yang ditutupi kain putih. Sepertinya adalah hasil pekerjaan Kyungsoo.

Dua lemari kayu, satu sofa panjang serta perlengkapan lighting studio. Sepasang alis bertautan, mengangguk pelan mencoba memahami situasi di dalam bangunan. Terdapat sebuah tirai di bagian Selatan bangunan.

"Cepat lepaskan pakaianmu!"

Degh

Dengan gerakan patah-patah dia menoleh pada Kyungsoo yang berkacak pinggang menatap malas pada dirinya. Tampak kebosanan untuk memberi penjelasan atas keterkejutan Kai barusan.

Ia bersedekap tangan setelah memasang kamera pada tripod. Satu kakinya sedikit tertekuk dan dengan pandangan merendahkan dia mulai mencibir.

"Apa kau menunggu kedatangan Baekhyun dan Chanyeol baru kau akan membuka pakaianmu? Kumohon selesaikan pekerjaan ini segera. Aku hanya butuh beberapa pose untuk mempersiapkan media lukis yang sempurna."

Kai menatap Kyungsoo sedikit tersinggung. Setelah bertanya tentang perasaannya, sekarang dia meminta Kai melepas pakaian. Yang benar saja, dia masih memiliki harga diri, walau terkadang setengah ragu apa benar harga dirinya begitu berharga.

Mengurung harga dirinya, pria itu menemukan sesuatu yang sangat menarik dari kegelisahan Kyungsoo. Senyum miring tercetak, dengan segera dia membuka pakaian atas dan jeans yang dia kenakan.

"Yak! Yak! Kau tidak perlu membuka pakaian dalammu!"

Ia terkekeh pelan atas kepanikan Kyungsoo. Ahhh! Sekarang Kai berani melangkah tentang asumsinya kepada Kyungsoo. Dia hanya perlu memastikan saja. Mungkin memberikan beberapa pose sensual akan memberi petunjuk lainnya.

Pria itu maju ke depan. Seolah dia menemukan mainan baru dan itu adalah Kyungsoo.

"Apa aku harus merentangkan tanganku?"

Pertanyaannya konyol, membuat Kyungsoo memutar bola matanya malas. Napas pemuda itu berhembus dalam satu waktu.

"Up to you!"

Yang pada akhirnya memilih mengambil beberapa pose Kai. Detak jantungnya berdebar dengan hebat, berusaha mengabaikan bagaimana Kai menggunakan tangannya untuk menyentuh bagian tubuhnya sendiri. Di mulai dari leher, perut, kembali pada punggung dan yang paling membuat Kyungsoo terkejut adalah...

"Apa yang kau lakukan? Kembali ke tempatmu!"

Dia menjauhkan fokus dari kamera saat merasakan objek miliknya mendekat, menyerahkan wajahnya yang tersenyum tepat kehadapan kamera.

"Aku lelah, kita sudah melakukannya selama lima belas menit. Berapa banyak lagi yang kau inginkan?"

Berjalan menjauhi Kyungsoo dan kembali mengenakan pakaian yang tadi dia gantungkan begitu saja di salah satu easel.

Dalam gerakannya yang belum sempurna, Kai bisa mendengar Kyungsoo menggerutu tentang pekerjaan mereka yang seharusnya belum selesai. Ia membereskan lighting studio, mengambil kamera untuk melihat ulang hasilnya

Brugh

Sayang tubuh Kai mendorong Kyungsoo dengan gerakan cepat. Mengganti umpatan dengan kegugupan luar biasa. Di mana tubuhnya terjatuh ke atas sofa dengan kedua lutut membuat kaki mengayun pada lengan sofa, sementara pemuda itu mengurungnya dari atas.

"Kenapa kau tidak mengukurku secara langsung saja Kyungsoo-hyung?"

Ia melihat kekhawatiran di wajah Kyungsoo tepat setelah pertanyaan itu meluncur.

Perlahan dia mempertanyakan orientasi seksual dirinya sendiri. Bagaimana Kai bisa begitu tertarik pada wajah manis Kyungsoo, tentang kegugupannya yang seperti anak perempuan.

Semakin ia menekan, semakin Kyungsoo menarik diri menjauh. Menggunakan jemari, lelaki tan itu membelai wajah Kyungsoo membuatnya terpejam erat.

Tidak diragukan lagi, Kyungsoo sebenarnya sama seperti kedua orang yang telah Kai temui, -Chanyeol dan Baekhyun. Bahkan untuk memastikan Kai berani memajukan wajahnya, menempelkan bibir tebalnya pada bibir hati Kyungsoo.

Siapa yang telah memulai? Situasi itu tidak terkendali. Antara keingintahuan dan percaya diri, ia mencium Kyungsoo seakan pria itu adalah kekasih hatinya. Menikmati sentuhan lembut pada setiap gesekan di bibir mereka. Mencecap rasa manis dari saliva yang bersatu. Menikmati lenguhan yang terkubur dalam kenikmatan. Merasakan jari-jari Kyungsoo mencengkram rambutnya, seakan pria manis itu begitu merindukan sebuah sentuhan. Sentuhan yang tidak akan didapat dari sembarang orang.

Wajahnya memerah, panas menguasai sekujur tubuh keduanya. Mata bulat itu terlihat begitu teduh, memandang Kai setelah ciuman itu terlepas. Tangannya bertopang pada pundak Kai agar pemuda tan itu tidak menindihnya.

Dalam satu gerakan Kyungsoo mendorong tubuh Kai kuat. Membuatnya menghantam lantai dingin. Ia bangkit dan memandang Kai dengan begitu tajam. Napas terputus-putus, dengan kasar mengelap bibirnya. Seolah memiliki banyak umpatan namun Kyungsoo menelan semua emosinya. Memilih melangkah cepat meninggalkan Kai. Meninggalkan pria itu dengan sebuah kehampaan.

Tidak ada kata, berarti tidak ada percakapan. Yang tertinggal hanya kebingungan, Kai pikir tidak ada yang salah ketika ia merasakan Kyungsoo membalas ciumannya. Tiba-tiba saja dia memejamkan mata dan mengingat sesuatu.

"Oh astaga! Dia memiliki kekasih. Aku lupa tentang wanita itu."

Tubuhnya terbaring di lantai dingin, menutup pandangannya dengan lengan kanan. Pria itu bergumam. Seharusnya tidak seperti ini. Bagaimana jika Kyungsoo tersinggung dan mengusirnya?


~ RoséBear~


Jalanan Kota terlihat lenggang karena ini bukan akhir pekan, banyak orang sedang bekerja di balik meja dan berhadapan dengan monitor berbagai jenis. Anak-anak berada di kelas untuk mendengarkan guru menjelaskan pelajaran yang sedang berlangsung.

Sekolah.

Oh bukan! Bukan di sekolah, tapi sebuah taman di dekat sekolah. Pemuda itu telah duduk sekitar setengah jam. Tubuhnya bersender di salah satu kursi taman yang menghadap jalan, menutup sepasang caramel semanis madu itu, tanpa sadar lidahnya keluar membasahi kedua bibirnya.

Ia merasakan ciuman itu kembali, seperti sebuah tekanan yang begitu lembut. Ciuman pemuda tan itu, seperti madu yang mengalir. Meninggalkan rasa manis penuh ekstasi.

"Oppa!"

Panggilan barusan mengacaukan bayangannya. Tapi dia berterima kasih pada sosok gadis berambut coklat dengan mantel biru membalut tubuhnya yang hanya dilapisi pakaian mengetat dan begitu minim. Kyungsoo yakin dia sedang mengenakan sesuatu yang seksi di balik mantel tebal ini. Selalu seperti itu setiap kali mereka bertemu di luar, ini adalah sebuah kesepakatan jika gadis itu masih ingin menjadi kekasihnya.

"Sudah selesai bekerja? Kita bisa mulai berkencan?"

Anggukan pelan juga membawa tubuhnya berdiri tanpa memberi kesempatan sang gadis untuk duduk beristirahat beberapa detik saja. Kyungsoo tahu dia sedang diawasai. Untuk itu menerima uluran jemari Aako agar bergandengan tangan mungkin menjadi sesuatu yang lebih baik dalam perjalanan sore ini.

Kencan

Selalu berakhir di tempat mewah. Entah itu sebuah resto atau bar. Namun kali ini, tempat itu terasa sedikit asing bagi Kyungsoo. Bagaimana Aako membawanya ke sebuah restoran. Akan menjadi sebuah restoran biasa jika saja Ayah sang gadis tidak ikut dalam makan malam mereka. Pria itu berkumis, menatap tajam menggunakan mata sipitnya. Pakaian tradisional yang dia kenakan tampak begitu baik berbaur secara contemporer. Bagian terbaik adalah jika membandingkan pakaian sang anak yang begitu modis dengan sang Ayah yang begitu kuno. Mungkin orang-orang tidak akan percaya. Tapi, mulailah meneliti dari sebuah pepatah jika buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Dengan melupakan sedikit cover dari sang Ayah. Karena pria di hadapan Kyungsoo saat ini adalah seorang pria asing berkebangsaan jepang, tidak begitu mengejutkan. Namun Kyungsoo tahu jika Pria di hadapannya adalah seorang bos sebuah yanke. Oh! Kenapa di harus mengetahui tentang itu dari mulut kekasihnya sendiri.

"Bagaimana pekerjaanmu Kyungsoo?"

Ia tersenyum kaku, padahal di dalam pikiran Kyungsoo tahu jika dia tidak disukai.

"Baekhyun memberiku libur agar bisa berkencan dengan Aako."

"Jika kau ingin menikah dengan anakku, berhenti menjadi asisten photographer dari pasangan gay itu. Kau harus bekerja padaku, akan kusiapkan hotel untuk kau urus."

Asisten photographer? Begitulah dia memperkenalkan dirinya beberapa tahun lalu pada gadis ini. Kyungsoo tidak benar-benar memberitahu siapa dirinya. Tapi alasan itu yang membuat dia memiliki privasi, karena gadis ini takut pada sosok Baekhyun yang melebihi cerewetnya seorang ibu.

"Terima kasih banyak atas penawarannya. Tapi untuk saat ini pekerjaanku masih mencukupi kebutuhan sehari-hariku."

Jawaban itu terdengar tidak begitu baik, pria tua berkumis berdecih. "Kau tidak memiliki pekerjaan tetap. Bagaimana kau bisa membiayai kehidupan anakku nanti?"

"Ayah!? Kau bilang hanya akan makan malam. Lagipula aku bisa ikut bekerja. Aku juga akan berhemat mulai sekarang."

Suaranya terdengar manja, mengalungkan tangan pada lengan Kyungsoo. Memberi tanda jika dia mencintai pemuda ini.

Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi, benar-benar berdering hingga mendapati tatapan tajam dari pria berkumis.

"Maafkan saya, sepertinya ada pekerjaan mendadak. Apa aku bisa meninggalkanmu dengan ayahmu?"

Mereka diam seperkian detik mencoba memahami permintaan pemuda ini. Yang pada akhirnya ia diberi persetujuan.

Langkahnya menjadi semakin cepat setelah melewati pintu putar restoran. Dari berjalan, Kyungsoo berlari cepat mencari sebuah angkutan umum. Dia menemukan taxi yang bisa membawanya ke sebuah bengkel.

"Kami sudah memperbaiki mobil anda..."

Kedatangannya menjadi singkat, Kyungsoo tidak yakin tentang apa yang harus dia lakukan sekarang. Beberapa memaksa otaknya berpikir cepat, karena kebingungan. Dia memilih membawa laju mobilnya kembali ke Kota. Tepatnya menuju sebuah rumah sakit.

Bau obat menguar di langkah pertama dia melewati koridor rumah sakit, mata caramel semanis madu itu meneliti setiap tulisan yang menjelaskan keterangan ruangan. Ia berhenti di depan salah satu pintu, menarik napas dalam sebelum memutar knop pintu.

Seseorang terbaring dengan bantuan alat medis. Seorang wanita baya menoleh menyadari kedatangannya. Wanita itu tersenyum.

Pintu tertutup rapat. Memberi privasi bagi mereka untuk bicara setelah Kyungsoo memberi penghormatan terhadap pria muda yang kini terbaring di ranjang rumah sakit.

"Kita pernah bertemu beberapa minggu lalu, aku terkejut mendengar berita di televisi pagi ini dan segera datang untuk berkunjung."

Wanita baya itu mengangguk, bukan karena dia tidak ingin bicara tapi dia memang tidak bisa bicara. Pandangan Kyungsoo beralih pada pemuda yang terbaring.

"Hyung? Segeralah sadar agar semua menjadi lebih baik."

Ia mendapat tarikan pada lengan bajunya, sebuah panggilan dari wanita baya di dekatnya. Wanita itu mengambil buku dan pena, menulis sesuatu yang cukup panjang hingga memaksa Kyungsoo harus mengeja tulisannya.

'Dokter bilang dia kritis. Peluangnya sadar tidak sampai 40 persen.'

Senyum Kyungsoo menjadi kaku setelah membaca tulis tangan wanita baya ini. Dia menariknya dalam pelukan sebagai seorang pria.

'Jangan khawatir. Kau bilang dia anak yang kuat, polisi pasti akan menangkap pelakunya.'

Bisikkan Kyungsoo begitu pelan.

Kunjungannya malam itu tidak bisa lama, tepatnya Kyungsoo tidak bisa berlama-lama. Dia ingin kembali ke suatu tempat, tapi dia urungkan ketika teringat sesuatu.

Kai

Tiba-tiba saja Kyungsoo teringat pemuda itu. Sebisa mungkin langkahnya pelan, sepersekian detik dia tercekat menyadari Kai berdiri di depan pintu apartemen. Ia pikir pemuda itu akan pergi dengan sendirinya. Kyungsoo tidak tahu jika Kai benar-benar butuh tempat tinggal saat ini. Tapi pikiran itu tidak berlangsung lama.

Kode akses di tekan dan pintu terbuka. Kyungsoo berbalik badan membuat Kai yang berjalan di belakangnya ikut berhenti setelah menabrakkan dada bidangnya pada kepala Kyungsoo. Saat itu Kyungsoo akui dia lebih pendek dari Kai saat kaki mereka tidak mengenakan alasan apapun. Tapi tatapan tajam itu membuat Kai segera mundur selangkah.

Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam dompetnya, memberikan pada Kai, itu adalah card code akses apartemennya.

"Kau bisa menggunakannya untuk dirimu sendiri. Aku tidak menerima siapapun sebagai tamu di hunian ini."

Tapi kemudian sesuatu Kai berikan hingga mengejutkan Kyungsoo.

"Kau meninggalkannya."

Ia tersenyum mengejek menerima kartu memory pemberian Kai.

"Kenapa kau tidak langsung memberikannya saat aku sendirian."

Kyungsoo tahu Kai pasti terkejut. Karena pengintaiannya siang tadi disadari Kyungsoo. Tentu saja dengan jelas dia bisa tahu Kai mengawasinya, bahkan sepanjang kencan bersama kekasihnya. Kai adalah yang terburuk dalam melakukan pengawasan. Setidaknya dia harus mengenakan topi atau masker, tapi pria ini hanya membuat jarak yang tidak aman.

"Kyungsoo!" Ia panggil pria yang lebih tua itu.

"Tentang siang tadi."

Akan menjadi sulit ketika bayangan kejadian siang tadi terlintas di pikiran Kai maupun Kyungsoo. Pria bermata bulat itu juga menatap Kai menunggu sebuah penjelasan.

"Aku minta maaf."

Bibir hatinya tertarik, dia tersenyum kecil sebelum meninggalkan Kai di ambang pintu.

'Hahh! sebenarnya dia gay atau tidak?'

Lelaki tan itu mengeram kesal, tanpa sadar erangannya yang dijaga sepelan mungkin masih terdengar oleh Kyungsoo. Sebuah perasaan aneh mengerayangi Kyungsoo setelah pernyataan Kai tentang dirinya.


~ RoséBear~


"Terima kasih banyak!"

Suara keras terucap dengan lantang, berterima kasih pada wanita baya yang selesai ia bantu berjalan. Pria tan itu, pagi-pagi sekali berada di sebuah kedai sarapan. Membantu seorang wanita baya berjualan untuk mendapatkan upah harian. Ia selesai di satu tempat, berjalan cepat menuju sebuah bimbingan belajar di mana menemukan kelas yang membutuhkan seorang pengajar. Itu adalah tempat bimbingan belajar milik Kris. Dia sudah menerima bayaran dari Kris, tidak seharusnya Kai lepas dari tanggung jawab. Lantas dia kembali dan bekerja seperti biasa.

Siang ini, dia juga melakukan pekerjaan lain. Kembali ke tempat ini, menemukan tatapan tajam Kyungsoo. Pemuda bermata bulat itu tampak kesal atas kehadiran Kai, sebab dia membuat mereka menunggu hingga berjam-jam.

"Kau darimana saja? Kami tidak bisa menghubungimu. Karenamu kita bisa bekerja sampai malam."

Baekhyun. Lelaki cantik itu memberi peringatan pada Kai yang baru saja tiba di studio milik Kyungsoo. Ruangan ini, sofa yang sedang diduduki Kyungsoo. Membawa tatapan Kai pada bibir hati Kyungsoo.

"Segera bersihkah tubuhmu. Kita bisa mulai dengan the dream dari Picaso."

Suara Kyungsoo pada akhirnya meredam emosi Baekhyun. Pria itu menatap Kai penuh arti, mengiringi setiap langkah kaki dengan pandangannya yang tajam. Hingga Kai menghilang di balik pintu kamar mandi.

"Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba kau diam saja? Tidak ada protes tentang pemuda itu? Setidaknya tentang keterlambatannya."

Baekhyun melirik Kyungsoo, saat ini lelaki yang lebih muda setahun darinya itu hanya memandang Baekhyun dengan pundak terangkat.

"Entahlah. Tidak ada alasan untuk marah padanya."

Tidak ada alasan untuk marah? Terdengar sangat sederhana, namun jawaban itu membawa Baekhyun mendekat. Dia memegang kedua bahu Kyungsoo dari samping, mendekatkan wajah untuk bisa berbisik sesuatu.

"Kau menyukainya?"

"..."

"OKE! Lupakan perkataanku barusan!"

Menjauh dari Kyungsoo saat tatapan tajamnya keluar adalah hal terbaik yang bisa dilakukan Baekhyun. Jika Chanyeol mendengar semua ini, dia pasti akan berseru sangat senang.

Selesainya mereka, Kai keluar dari kamar mandi dengan rambut basah serta handuk melingkar di pinggang. Tubuhnya benar-benar indah, terlihat dengan sempurna seperti tubuh dewa Yunani.

Seperti semua bagian tubuhnya sangat berharga. Dia harus diberi sedikit pelindung. Baekhyun berjalan mendekat, memberikan sebuah tas kepada Kai.

"Kau bisa menggunakannya, itupun jika kau mau."

Kyungsoo memperhatikan Kai yang membuka tas pemberian Baekhyun. Tiba-tiba saja pemuda itu memandang dirinya kemudian tersenyum miring. Membuat alis Kyungsoo naik setingkat karena bingung dengan ekspresi yang Kai berikan barusan.

"Bagaimana jika aku tidak menggunakan apapun? Apa hasilnya akan lebih baik?"

Untuk waktu yang sangat lama, Kyungsoo pikir laki-laki itu sedang bermain dengan dirinya. Kyungsoo tidak mempermasalahkan jika media tubuh yang dia gunakan telanjang, jika itu adalah perempuan. Tapi saat ini mereka menggunakan tubuh seorang laki-laki. Seorang laki-laki yang bahkan dengan tidak sopan masuk dan tinggal di rumahnya, tidak sebatas itu, lelaki yang telah berani tidur di kamarnya lalu mencium bibirnya.

"Apa kau akan baik-baik saja kyungsoo?"

Dia tertawa pendek, Kyungsoo membuat isyarat.

Lakukanlah. Jika kau berani.


To be continue...