Disclaimer, Tadatoshi Fujimaki
"Tecchan!" tegur Kazunari yang sedari tadi hanya bicara sendiri tanpa diperhatikan oleh temannya yang ada di seberang meja, sibuk menyeruput vanila milkshake yang entah kenapa tidak kunjung habis padahal satu jam penuh Kazunari bercerita temannya itu terus minum. "Aku serius di sini! Kau sendiri kanapa bisa mudah sekali move on?!" serunya frustasi. Kazunari frustasi. Iya. Pasanya dia baru saja patah hati. Dan semua luapan kesedihannya dia tumpahkan pada teman berambut baby blue itu.
Tetsunya diam. Masih diam. Hingga suara 'pop' dari terpisahnya hubungan antara bibir tipis dan sedotan terjadi. Kazunari sweatdrop di tempatnya, gagal paham terhadap kecintaan Tetsuya terhadap minuman yang menurutnya terlalu manis itu. Lalu memulai, "Sejujurnya, Kazunari-kun." sedikit jeda, menata kalimat yang sekiranya cukup sopan untuk dilontarkan tapi malah membuat salah paham. "Saya tidak pernah move on dari siapa pun."
Kazunari cengo. "Ta- tapi... ka- kau bilang- tunggu! Apa karena kau bisa langsung mendapatkan penggantinya? Aaahh! Aku salah bertanya pada orang populer sepertimu!" Kazunari mengusap wajahnya kasar. Bukannya mendapat solusi, dia malah makin sakit hati karena cemburu akan kepopuleran Tetsuya.
"Bukan begitu, Kazunari-kun." Tetsuya menunggu hingga Kazunari memberi perhatian terhadap kata-katanya. "Awalnya saya hampir sama saja dengan Kazunari-kun ketika Akashi-kun memutuskan hubungan kami." sekarang dia mendapatkan perhatian penuh dari Kazunari, pasalnya dia hanya tahu kalau Tetsuya hanya memiliki Ahomine dan Bakagami sebagai mantan kekasihnya.
"Hoo... Tecchan, frustasi?" dia hanya bisa mendapatkan gambaran Tetsuya dengan wajah datar yang biasanya dan sekarang dia pakai. Bukan karena otaknya tidak kreatif, tapi wajah itu seperti sudah permanen seperti itu. Tapi apakah itu berarti Tetsuya adalah masokis? Tetap menyimpan perasaan indah yang menyakitkan itu? Kazunari saja semalaman menangis.
"Ya, dan saya tidak pernah move on dari Akashi-kun. Saya hanya menjadi rasional dan realis, berpikir bahwa Akashi-kun berasal dari keluarga berdarah biru dan harus memiliki keturunan, tidak selamanya dia bisa bermain-main dengan kehidupan romansanya. Meski begitu saya masih menyukai bagaimana Akashi-kun memanggil nama saya dan saya juga masih merindukan dia yang tertidur di pangkuan saya." dalam hati dia menambahkan, 'dan tinggi kami tidak terlalu jauh berbeda.'
"Lalu Aomine-kun, Kazunari-kun sudah tahu ceritanya. Itu karena dia mengidap selfcest." Kazunari terkikik. Aomine memang Ahomine. "Kise-kun, walau dia yang memutuskan hubungan kami, dia sendiri yang terus kembali mengharap. Mungkin penyesalan yang datang di akhir."
"Tunggu! Kau dan Kise?"
"Ya, Kazunari-kun. Tapi dia terus mengamati Aomine-kun, mengejar Aomine-kun. Aominecchi ini, Aominecchi itu. Hingga akhirnya dia mengatakan bahwa dia jatuh hati pada orang lain dan ingin mengakhiri hubungan kami untuk mengejar orang itu, yang sudah jelas adalah Aomine-kun." walau cerita yang dituturkannya sangat tragis, wajah itu masih datar tanpa emosi. Ingin rasanya Kazunari melempar bogem sayang namun batinnya ingin memeluk kasihan. Kazunari dilema. "Hingga akhirnya dia menyadari betapa egoisnya Aomine-kun dan akhirnya merasa bersalah."
Di sini Kazunari memutuskan ingin meninju temannya, walau hanya sekilas, dia melihat bibir tipis itu tertarik keatas menyunggingkan senyum sinis.
"Tapi kau tahu, walau saya selalu menolak Kise-kun, saya tidak pernah move on dari perhatiannya. Karena perhatian Kise-kun yang terkesan terlalu berlebihan itu selalu diberikan sepenuh hati." Kazunari berguman takjub. Takjub akan pengetahuan barunya bahwa Tetsuya ada di sisi sadis.
"Yang terakhir Kagami-kun. Tentu saja saya tidak bisa move on darinya. Dia gambaran sempurna malaikat. Senyum bodoh, skill memasak, mandiri mengurus diri sendiri dan siapa pun yang menjadi pasangannya. Wajahnya ketika malu juga sangat manis."
"Tecchan! Itu terlalu sempurna sebagai tipe isteri idaman! Kenapa kalian putus?!"
"Oh, seperti yang saya bilang. Kagami-kun itu gambaran sempurna malaikat, intinya dia terlalu polos."
"... ma- maksud... maksudmu... polos..."
"Ya, polos, polos yang itu."
"... aa.."
"Dan selama saya berhubungan dengan Kagami-kun, saya lebih merasa hidup bersama pengasuh. Dia menangis ketika saya memutuskan untuk berpisah. Tapi sejujurnya, Kagami-kun adalah pasangan terbaik yang pernah saya miliki. Meski begitu, saya rasa kehadirannya sebagai seorang teman lebih baik dari pada saya harus memikirkan tentang diri saya yang seperti pengangguran tidak berguna."
"...err..."
"Kagami-kun bekerja sebagai desaigner freelance, pendapatannya lebih dari pendapatan saya sebagai seorang pengajar. Kagami-kun memasak, mencuci, membersihkan rumah, sementara saya hanya minum kopi dan menonton televisi."
"Aah!"
"Dan untuk sekarang ini, saya sedang tidak memiliki siapa pun sebagai kekasih."
"Eeh? Bohong! Padahal kau itu populer!" protes Kazunari, seratus persen melupakan kesedihannya karena cerita cinta masa lalu Tetsuya. "Ba- bagai mana dengan Izuki-san?"
"Dia hanya senior di tempat saya bekerja, lagi pula dia sepertinya sudah memiliki pasangan meskipun tidak secara terang-terangan."
"Lalu pemuda yang bersamamu di depan TK ketika aku mengantarkan bunga saat itu?"
"Furihata-kun mengantarkan anaknya karena itu hari pertamanya pindah."
"Lalu... tunggu, pria menyeramkan yang ada di fotomu bersama Mayuzumi-san?"
"Haizaki-san? Kami hanya bertemu sekali dan tidak terlalu banya bicara, Chihiro-nii hanya membawanya berkunjung karena masalah pekerjaan. Lagi pula Kazunari-kun, bukankah ini tentang dirimu yang sedang patah hati?"
"Aa... tapi aku tidak mau membayangkan kau dengan laki-laki seperti itu," Kazunari menenggelamkan kepalanya dalam lipatan tangan, "dan aku tidak percaya kau mengingatkanku tenatang masalah itu, aku bahkan bisa membayangkan diriku pulang memikirkan ceritamu dan tidur tanpa terpikir masalahku sendiri."
"Tapi itu tidak menyelesaikan masalahmu Kazunari-kun."
"Ghhaaah, aku tahu! Aku tahu! memang sekarang aku bisa apa?"
"..." sejenak terdiam, memiringkan kepalanya sedikit lalu berkata dengan nada datar yang seolah begitu polos. "... bagaimana denganku?"
Kazunari mungkin akan tersedak jika dia sedang makan atau meminum sesuatu, tapi sayangnya tidak. Dia hanya bisa diam dengan mulut terbuka tak percaya. Otaknya memproses lambat reaksi yang tepat. Apa Tetsuya mempermainkannya? Atau ini hanya candaan? Apa Tetsuya serius? Apa ini kenyataan atau delusinya yang patah hati?
"Kazunari-kun?"
Bunyi kaca pecah dan foodtray yang jatuh dengan suara begitu keras yang menyadarkan Kazunari dari syoknya. Menoleh ke asal suara kekacauan itu, seorang pria tinggi dengan pakaian tebal lengkap dengan mantel berdiri dari kursinya. Dua pelayan Majiba menghampiri pria itu, satu menanyakan apa yang salah sementara yang lainnya membereskan peralatan makan yang bisa membahayakan pelanggan lain.
"Kuroko Tetsuya! Apa maksudmu dengan semua ini?!" seru pria itu penuh amarah. Dia berbalik, menghampiri meja mereka dan langsung menggebrak meja yang sekeras batu berlapis akrilik. Sepertinya sakit.
"Salam, Midorima-kun. Saya minta maaf, sepertinya saya tidak mengerti maksud Midorima-kun." dia tersenyum. Sopan. Terlalu sopan. Terlalu manis. Sementara Kazunari memasuki syok tahap lain.
"Apa kau bermaksud merebut Kazunari dariku, nanodayo?!"
"Saya tidak mengerti, sungguh. Kazunari-san datang kepada saya dengan perasaan sakit hati, terlebih dia sendiri berkata bahwa seseorang telah membuangnya hingga kini dirinya tidak memiliki pasangan." sarkas.
Shintarou terdiam, wajahnya sedikit masam akan kenyataan. Rasa bersalah menghantui pikirannya sejak kemarin, awal dari semua ini.
"Tecchan benar," suara Kazunari hanya seperti bisikan. "Tetsuya benar! Kau sudah mengatakannya dengan jelas agar aku tidak usah mengganggumu lagi! Kenapa kau mengaku-ngaku bahwa Tetsuya merebutku?!"
"Kazunari! Itu hanya karena aku sedang tertekan! Aku minta maaf! Aku tidak bermaksud begitu-"
"Aku tidak percaya kau mengusirku karena kelinci itu kabur."
"Tapi-"
"Siapa suruh membawa kalinci hidup saat kencan kita, hah?!"
"Itu lucky itemku, nanodayo! Dan hari itu posisiku terbawah!"
"Jadi kau akan lebih mementingkan keberuntunganmu dalam horoskop dari pada aku?!"
"Bukan it-"
Pertengkaran itu terhenti karena dua pasangan yang sedang panas-panasnya bertengkar itu mendapat hantaman dari foodtray di kepala mereka. Sang pelaku hanya berwajah datar, menunggu mereka cukup sadar situasi, "Kalian membuat saya malu. Kazunari-kun, Midorima-kun. Semua ini terjadi karena kebodohan kalian berdua, pikirkan baik-baik semua yang terjadi di antara kalian. Gunakan kepala kalian, bukan suara keras kalian itu. Terlebih jika kalian di tempat umum!"
Ya. Percekcokan homo itu disaksikan oleh semua pengunjung dan staff Majiba. Remaja perempuan cekikikan, yang laki-laki memperhatikan tertarik, orang tua menutupi telinga anak mereka.
"Jika kalian sudah tenang, tolong duduk dan bicarakan baik-baik!" Tetsuya beranjak dari duduknya, mendorong dua orang itu untuk duduk sebelum membereskan barang-barangnya dan milkshakenya. "Jangan gunakan kekerasan, jika tidak tertahankan," dia meletakkan dua kupon mencurigakan dan satu kotak seukuran genggaman. "Selesaikan dengan ini!" dan melenggang pergi sambil menyeruput kembali milkshakenya.
Kazunari dan Shintarou cengo. Lalu sweatdrop, sebelum meledak dengan wajah memerah hingga telinga. Dua kupon love hotel untuk sepasang dua malam berturut-turut dan satu paket pengaman hanya duduk manis di tempat mereka diletakkan. Dalam batin mereka kompak menyumpah serapahi Tetsuya yang pergi seperti tanpa dosa.
.
Drabble, tapi gabisa stop nulis ini ide karena kenyataanya tadi ada yang nanya Author gimana cara move on... Author ga pernah muv on puh-liisss.. /pundung/
Chi's big thanks for, L
