Aaaahh! Beberapa ketikan sayah hilang bersama padamnya listrik. Uhh.. Maaf kalau terlihat tidak maksimal. Padam listrik kali ini mengesalkan bangets. Upload fic nya pun jadi tambah telat. Huhuhu gomenn..
Hmm.. kali ini pada awalan, sayah ga pake banyak bacot deh. Saya faham sama hasrat lemonnya kalian kok kyahahaha ~ oke deh, HAPPY READING!
Warning : M for Mesum contents - LEMON INSIDE. OOC. Gaje. Abal. Aneh. --- Thanks sudah menghargai rated yang sayah pasang (Paham kan maksud saya? Kalau tidak bisa menghargai atau memang belum waktunya baca rated M, dengan berat hati saya meminta anda untuk mundur satu langkah dan jangan lanjutkan membaca. Terimakasih atas perhatiannya) :)
5
4
3
2
1
Semuanya dimulai saat matahari masih mengintip dari peraduannya. Angin semilir berdesir sejuk. Embun basah turun dari pucuk-pucuk daun muda yang rendah melengkapi keindahannya. Pagi ini adalah hari yang ditunggu oleh seorang gadis. Karena terlalu semangat, rambut merah mudanya bahkan sudah tersisir rapih sejak matahari bahkan belum menampakkan diri.
Emeraldnya berbinar-binar.
"Sakura. Ini dibawa juga?"
Gadis yang dipanggil Sakura itu mengangguk pasti.
Pria yang mengangkat sebuah tas yang terlihat berat itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dengan senyuman yang terkembang di bibirnya. Rambut peraknya yang melawan gravitasi melambai-lambai lembut diterpa angin. Ia meletakkan tas itu di bagasi Mazda RX-8 kesayangannya.
"Sudah semua?"
"Sudaaahh!!!" jawab gadis itu semangat dengan senyum extra polos andalannya.
Kakashi tertawa pelan lalu mengelus rambut merah muda lembut milik kekasihnya. Rasanya saat ini ia lebih seperti piknik bersama murid sekolah dasar ketimbang dengan pacar sendiri. Tak terlihat tanda-tanda ia atau pacarnya akan bermesraan nanti.
"Ayo, ayo Kakashi! Nanti keburu macet!"
chiu-chi Hatake presents, with love~
After The Storm
Chapter 3
Dilihatnya gadis menggemaskan itu sudah berada di bangku depan mobil. Ah semangat sekali sih Sakura?
"Baiik." Kakashi berjalan mendekati pintu pengemudi, membukanya dan menstarter mobil kesayangannya itu.
"Seatbeltnya jangan lupa sayang."
"Ah. Baik!" dengan tergesa-gesa gadis itu menarik seatbelt yang ada di bagian kirinya. Tetapi ia merasa kesulitan saat akan menancapkannya pada pengamannya.
"Sini kubantu."
Kakashi membantu gadisnya yang sedang kesulitan. Dengan mudah, seatbelt itu telah tertancap pada tempatnya.
"Terimakasih, Kakashi."
Emerald Sakura menutup saat ia tersenyum senang. Merasa kesadaran gadisnya kurang, Kakashi mendekatkan bibirnya pada bibir ranum gadisnya. Melekatkan keduanya dengan lembut hingga mata emerald gadis itu membuka terkejut. Kini tangan kekar Kakashi sampai pada dagunya, sedang tangan lainnya tengah membelai lembut pipinya yang halus. Pria itu menjilat lembut bibir gadisnya sebagai penutup. Tak butuh waktu lama, ia sudah kembali pada posisinya yang menyandar pada jok mobilnya. Mencengkram kemudi dan mulai menancap gas.
"Jangan lupa tujuan kita, Sakura."
Seketika gadis itu terdiam dengan wajah yang memerah. Kemudian melirik lelakinya dengan ekor matanya.
Yang ditatap malah menjalankan mobilnya dan mulai konsentrasi dengan apa yang dikerjakannya. Menyetir.
Biru muda dan hijau yang bertabrakan mebentuk kurva-kurva dengan latarnya yang berwarna biru tengah mendominasi penglihatan mereka. Tinggi. Luas. Seakan mereka berada di perbatasan langit dan bumi. Langit yang sebelumnya terasa jauh kini bagai dalam pelukan. Ditambah dengan pemandangan indah, asri dan tertata yang memanjakan mata mereka. Begitu juga dengan udara ekstra segar yang memenuhi rongga dada mereka, pada setiap helaan nafas dan tarikannya.
Mereka berdua memasuki sebuah bangunan. Sepi. Kata itulah yang dapat menjelaskan penginapan besar dengan nuansa jepang yang kental beserta eksterior mewah dengan interiornya yang berkelas. Sakura hanya bisa memandang takjub ke segala arah. Sedangkan Kakashi hanya terdiam. Sesekali Sakura mendapati Kakashi melihatnya dengan tatapan aneh. Sepertinya Kakashi sedang resah. Sakura dapat merasakannya. Sebenarnya ada apa dengan Kakashi?
"Silahkan beristirahat, tuan dan nona." ucap seorang pelayan yang baru saja keluar dari dalam ruangan yang selama dua hari satu malam ini akan digunakan mereka berdua. Pelayan itu baru saja selesai memasukkan barang-barang yang dibawa Sakura dan Kakashi. "Saya permisi dulu, kalau ada apa-apa panggil saja." lanjut pelayan itu kemudian menunduk sopan lalu pergi.
Sakura melangkah masuk dengan Kakashi dibelakangnya. Setelah tubuh mereka masuk sepenuhnya, pintu geser kamar mereka ditutup oleh Kakashi. Kini dari tempatnya berdiri, terlihatlah sebuah jendela besar di ujung ruangan dengan pemandangan yang menakjubkan. Sebuah danau dengan pohon-pohon pinus yang mengelilinginya. Sakura berlari kecil ke arah kaca geser itu, menggesernya dan segera menyandarkan kedua lengannya pada balkon. Pemandangan indah dengan udara sejuk terasa lebih dekat olehnya.
Sepasang lengan kekar memeluknya dari belakang. Sunyi tercipta dari bibir mereka berdua yang mengatup diam. Yang terdengar hanya suara alam. Burung, kodok, dan binatang-binatang lain seakan sedang berokestra menyambut kedatangan dua insan yang tengah dimabuk asmara, suara angin yang bertabrakan dengan pohon-pohon di dekat mereka, juga suara kecipakan air yang samar-samar mengisi keheningan. Posisi serta kesunyian itu bertahan untuk beberapa lama sampai perasaan resah itu kembali dirasakan Sakura dari Kakashi yang menatap jauh. Tangan pria itu mengepal sedikit di dekat tangan mungil Sakura.
"Suka?" suara berat Kakashi menggetarkan tiap bagian hatinya. Syahdu. Nyaman. Berbeda jauh dengan Sakura, Kakashi sendiri merasa resah. Terlalu resah malah.
Gadis itu mengangguk semangat. Berharap dapat menghilangkan perasaan resah kekasihnya walau hanya sekejap. Ia menatap wajah pria tercintanya dan mengembangkan senyum terindah miliknya --- yah paling tidak menurutnya begitu.
"Terimakasih Sayang."
Seketika wajah Sakura berubah merah. Kata-kata yang tidak biasa diugunakan kalau diucapkan memang terasa aneh. Ya.. tentu saja.
Sesaat resah hilang dalam lekuk wajah Kakashi, terganti dengan senyum penuh sayang pada gadis di hadapannya. Dekapan Kakashi terasa semakin erat.
"Pernah ke onsen?"
"Belum... Aku mau!"
"Oke. Nanti sore ya.."
Kakashi menarik gadisnya lembut hingga mereka berhadapan.
"Sakura.."
"Hn?"
Kakashi terlihat menarik nafas dalam. Ia masih terlihat resah dengan harapan berkilat tipis pada onyxnya.
"Sebenarnya ada yang mau aku bicarakan.."
"Hmm.. apa itu?"
"ini.. Ini tentang kita berdua.."
"Maksudmu.." Wajah gadis itu memerah. Entah apa yang ada dipikirkannya. Gadis itu menatap pria di hadapannya dengan tegas dan tegar, "Mau melanjutkan hal setelah ciuman.. begitu?"
Tak ayal wajah Kakashi ikut memerah. Tentu saja bukan itu maksudnya. Walaupun kata-kata yang meluncur dari bibir Sakura tidak bisa disebut salah tapi yah.. bukan itu inti dari yang mau ia bicarakan. Ia melirik Sakura. Gadis itu tidak tampak polos dengan wajah penuh keingintahuan seperti anak kecil biasanya. Wajah itu diselimuti kabut merah tipis yang menjalar hingga telinganya.
'Lucu, menggemaskan' batin Kakashi.
"Hnn.. tidak. Jauh lebih berat dari itu."
Teka-teki. Manis sekali. Sepasang alis gadis itu bertaut bingung. Apa? Sebenarnya apa yang ingin diucapkan kekasihnya – Kakashi - ini? Ia belum bisa menebak.
"Hmm.. Lalu?"
Kakashi mengeluarkan sesuatu berbentuk kotak berwarna merah beludru dari celana panjangnya. Kemudian ia berlutut di hadapan gadis itu. Menarik dengan lembut lengan sebelah kiri Sakura lalu mengecupnya mesra.
"Sakura, Aku mencintaimu.." onyx itu menatap emerald Sakura dalam-dalam. Meneliti seluruh isi hatinya dengan memandang mata indahnya. Onyx dan emerald bertemu hangat. Lagi-lagi perasaan cinta mereka berdua tersampaikan. Onyx itu menutup kemudian terbuka diiringi sebuah senyuman hangat khusus untuk gadisnya. Ia mendapat keberaniannya lagi setelah menatap beningnya emerald gadis di hadapannya.
"... Maukah kau menjadi ibu dari anak-anakku kelak?"
Sakura tertegun. Entah mengapa secara tiba-tiba, sepertinya tiap bagian otaknya tidak mau diajak bekerja sama untuk mengolah informasi yang baru didapat. Pengkhianat. Otaknya mengalami keadaan freeze jangka panjang yang lebih dikenal dengan LOLA atau loading lama.
Hmm..
Ibu?
Anak ?
Baru saja Kakashi bilang, ibu dari anak-anaknya.. oh tolong. Lalu siapa yang menjadi ayahnya?
Kakashi menyadari perubahan suasana wajah Sakura yang sangat signifikan. Ia merasa kecewa. Sesaat sebelum ia memutuskan untuk mengatakannya, ia dapat melihat, pada mata emerald yang memancar indah itu terdapat tempat yang luas untuknya. Terdapat cinta untuknya. Tapi ada apa ini? Kenapa sesaat setelah ia meminta kesediaan gadisnya untuk mendampinginya seumur hidup –yang memang sejak tadi menjadi penyebab keresahannya– gadis itu malah terlihat kesulitan dan.. tidak menginginkannya?
Tangan Kakashi –lengan kanan—yang menumpu lengan kiri Sakura merosot. Sedangkan lengan kirinya terkulai dingin di lantai. Diantara jemarinya masih terlihat sebentuk benda berwarna merah beludru. Jemarinya meremas pelan benda yang ada di dalam rengkuhannya. Ia merasa kehilangan tenaga.
"Ano.." suara Sakura memecahkan keheningan dan kebekuan diantara mereka. Kakashi memandang wajah yang membuatnya miris. Ia sudah siap untuk melamarnya. Maka ia harus siap diterima. Dan ia pun harus siap untuk kemungkinan terburuk. Ditolak.. Serta kehilangan gadis yang amat sangat ia sayangi itu untuk selama-lamanya.
Tampaknya –dari wajah berkerut gadis di hadapannya—kemungkinan terbesarnya ia akan ditolak. Ia tahu itu. Tapi rasanya ia tidak mampu menerimanya apabila hal itu harus terjadi.
"Kakashi.. maksudmu kau menjadi ayahnya begitu?"
Kakashi kini menatapnya dengan pandangan tidak percaya. Bahkan lebih terlihat bingung daripada kebingungan yang terpancar jelas pada wajah mulus gadis di hadapannya.
"... Tentu saja."
"Jadi kita.. main rumah-rumahan.. ya?" gadis itu melihat perubahan wajah Kakashi. Entah kenapa ia merasa bersalah.
"Main?" mendengar sepatah itu ternyata berakibat buruk. Pikiran nakal mengambil alih kinerja otaknya.
Hal-hal yang merebak dalam otak selanjutnya segera ia tahan dengan sebuah sentakan keras dan menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Tentu saja hal itu membuat perhatian Sakura sepenuhnya menjadi milik Kakashi.
"Bukan." bantah Kakashi.
Ia tersentak. Ia melupakan hal terpenting. Ia lupa akan keluguan gadisnya yang tidak perlu dipertanyakan. Lagipula lamarannya barusan terlalu berbelit. Gadis di hadapannya – dengan kelemotan ekstra yang melebihi kapasitas gadis biasa – pasti tidak mengerti tentang hal-hal seperti tadi. Hhh.. Semuanya adalah salahnya.
Perlahan wajah kaku Kakashi mencair. Ia memandang gadisnya penuh sayang.
"Bukan.." ujarnya lebih lembut kali ini. Mencoba meluruskan kesalah pahaman diantara mereka berdua. Kakashi berdehem sebentar lalu mulai merapihkan posisinya kembali menjadi seperti sebelumnya, berlutut dengan tangan kiri Sakura dalam genggamannya.
"Sakura.. Maukah kau menikah denganku?"
Sore menjelang. Mereka telah kembali dari memanjakan diri –mandi di air panas alami onsen penginapannya.
Sakura kembali berdiri di balkon Kamar penginapannya. Ia merasa damai dimanjakan oleh alam. Emeraldnya memandang syahdu semburat kemerahan yang dipantulkan riak bergelombang danau tidak terlalu jauh dari tempatnya berdiri. Rambut merah mudanya bergoyang sedikit disapu angin senja yang mulai mendingin.
Seseorang dibelakangnya menariknya lembut, membawanya kedalam sebuah pelukan hangat. Pria di hadapannya tersenyum menatapnya dengan onyx yang berpendar hangat. Rambut perak yang biasanya melawan gravitasi itu agak basah mengingat ia baru saja dari onsen.
Ia mengecup bibir gadis itu lembut. Mendekapnya erat dalam pelukannya yang hangat, dan dada bidang tempatnya bersandar tegak melawan angin dingin menyegarkan di balkon itu. Ia menyentuh dagu gadisnya lembut hingga belahan bibirnya terbuka dan segera saja menjelajahi setiap bagian rongga mulut Sakura dengan lidahnya. Gadisnya hanya bisa pasrah dengan wajah yang memerah dan mata yang terpejam. Manis yang aneh. Lembut. Hangat. Darahnya berdesir menggelitik menyampaikan cinta dari pria di hadapannya. Entah mengapa, tubuhnya bergerak sendiri, ia membalas pelukan hangat prianya dan mulai menikmati setiap sentuhan tangan, bibir, lidah serta kehangatannya yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Intim. Sakura merasa sangat dekat dan sangat dicintai oleh Kakashi.
Tak lama kemudian, keintiman itu berakhir. Ditutup dengan sengalan nafas hangat yang menerpa wajah masing-masing. Menuntut oksigen mengisi paru-paru mereka.
Kakashi membawanya ke sofa. Mendudukannya dalam pelukan hangat.
Posisi Kakashi yang berada di belakang Sakura mempermudahnya mengeratkan pelukan mereka. Menyampaikan getaran-getaran yang membuat mereka berdua merasa nyaman.
"Kakashi.."
"Hm?"
"Sebenarnya.." Sakura terlihat ragu. Jari-jemarinya memilin-milin rambut merah mudanya. Bibirnya memengerucut sedikit. Emeraldnya memandang ke langit-langit memilih kalimat yang bagus. Tapi ia masih belum juga menemukannya.
"Kenapa?" Kakashi mengeratkan pelukannya sesaat demi menghirup aroma khas yang menguar dari tubuh Sakura.
Tirai putih di dekat mereka yang melekat di jendela geser melambai-lambai berirama dibelai angin. Silver dan pink pun ikut bergoyang lembut diterpa sisa-sisa angin yang menyusup .
Sakura menyerah. Ia memutuskan menunda pembicaraannya hingga datang waktu yang tepat. Sakura berdiri dari bangku hangatnya dengan Kakashi. Ia menutup kaca geser di dekatnya. Menahan angin dingin untuk masuk.
Sakura kemudian melangkahkan kaki jenjangnya sampai futon tebal dan nyaman yang sudah tergerai. Ia mendudukkan diri disana.
Ia menyisir.
Kakashi hanya mengamati gadis itu dari duduknya. Kemudia pria itu berdiri, berpindah duduk ke futon yang diduduki sakura. Ia Mengambil alih Sisir kecil yang digenggam Sakura untuk menyisir rambutnya, kemudian menyisirkannya ke rambut merah muda Sakura yang setengah basah.
Setelah selesai, gadis itu tersenyum lembut padanya agak membungkuk sedikit kemudian mengucapkan terimakasih. Kakashi baru saja menyadari sesuatu yang membuat hasrat kelaki-lakiannya menguat.
Yukata gadisnya sedikit longgar membuat belahan dada Sakura nampak jelas dari tempatnya berada.
Ia terdiam. Dan segera memalingkan wajah.
Sakura mendekat padanya. Wajah gadis itu sangat merah. Setelah bibirnya dan telinga Kakashi berhadapan, Sakura berbisik yang membuat Kakashi membelalakkan matanya, dan membuat hasratnya semakin tinggi.
"Aku mencintaimu.."
"Aku? Siapa?" tanya pria tampan itu untuk hanya untuk membuktikan bahwa yang didengarnya tidaklah salah. Tangannya mulai menyusup pada helaian-helaian rambut merah muda di hadapannya. Mengelusnya lembut. Menunggu jawaban si gadis.
"Aku mencintai Kakashi.." Jelasnya tertunduk. Kemudian mengangkat wajahnya ragu-ragu. Yang dilakukan Sakura tentu saja malah terasa seperti menguji keimanan Kakashi karena Sakura terlihat semakin manis dikala malu.
Kini, hasrat Kakashi sudah sampai batasnya..
Ia menarik gadis itu lembut dalam sebuah pelukan dengan dekapan erat yang hangat. Semuanya nyata. Gadis itu sudah benar-benar jadi miliknya dengan cincin yang tersemat di jari manisnya. Haru menyeruak pada aliran darahnya. Sedang, kebahagiaan berpendar di matanya. Di antara pelukan itu, Kakashi mengangkat wajah Sakura untuk menengadah. Serasa sampai, ia mengunci bibir gadis itu dengan perasaan cinta yang menguar lewat bibirnya. Sakura membuka bibirnya kali ini karena pengalaman sebelunya memberi tahu dia bahwa ciuman ternyata seperti itu.. Hmm..
Lidah Kakashi mengulum lembut lidah gadis di hadapannya, kemudian menyusuri tiap lekuk rongga mulut gadisnya, memastikan setiap inchi milik gadis di hadapannya merupakan miliknya juga.
Kini dekapan erat keduanya mengendur setelah ciuman membara itu terlepas. Mata Sakura terlihat sayu dan menggoda untuk Kakashi, ia mendekati wajah gadisnya lagi dengan bibirnya. Ia mencium kening, kelopak mata gadisnya, pelipis, kemudian hidungnya. Lalu menyandarkan wajahnya pada pundak gadisnya.
"Aku juga sangat mencintaimu.."
Perlahan tapi pasti, Kakashi mendorong gadisnya hingga terbaring di futon tebal mereka. Dengan yakin, Kakashi memastikan malam panjang ini hanya untuk mereka.
Kakashi membenarkan posisinya yang berada di atas Sakura agar mereka berdua bisa merasa lebih nyaman dan leluasa. Ia sendiri hanya terdiam memandang emerald yang balas menatapnya sayu. Jemari Kakashi bergerak menyusuri wajah gadisnya. Dari keningnya kemudian turun secara perlahan sampai pada hidungnya hingga akhirnya sampai pada bibir Sakura. Jarinya mematung beberapa saat sampai akhirnya kembali bergerak menyapu pipi Sakura. Mata mereka bertemu tatap. Onyx dan emerald dalam ikatan baru. Keduanya melengkungkan bibir masing-masing membentuk senyuman rahasia di kala mentari kembali ke peraduannya.
Tak ada lagi berkas-berkas cahaya jingga memabukkan dari jendela geser yang beku. Gelap mulai meraja. Sedang dua insan yang tengah dimabuk cinta tak perduli saat cahaya tak lagi nyata. Keduanya tertahan dalam lautan dalam yang selalu menenggelamkan. Cinta. Mereka sungguh memabukkan dan dapat benar-benar mematikan akal sehat. Menjadikan perasaan diutamakan di atas segalanya.
Tak ada lagi yang terlihat jelas. Yang ada hanya cahaya remang-remang yang membantu meski sedikit. Meski begitu bagi dua insan ini ada yang membuatnya jelas. Emerald dan onyx yang menyala menjadi cahaya di hati masing-masing.
Kakashi mengikat bibir Sakura dengan bibirnya. Mengulumnya, menghisap dan menjelajahi tiap sisinya. Sedang tangannya tak diam. Sebelah tangannya menyangga leher gadisnya yang kepalanya sedikit menengadah sedang lengan lainnya mulai menyusup pada obi yukata yang dipakai Sakura.
Terdengar lenguhan kecil saat ikatan bibir itu terasa semakin ganas. Bibir yang saling bertaut tanpa ada keinginan untuk saling melepas membuat Sakura kehilangan kesadaran akan obinya yang benar-benar lepas dari tempat yang seharusnya. Dengan mudah, Kakashi membuka yukata yang sudah menjadi kain tak berguna tanpa obi yang menyangga. Sesaat Sakura merasa angin menghantam tubuhnya saat yukatanya tersingkap. Dingin. Saat itu pulalah keintiman di antara dua bibir yang saling membutuhkan terlepas.
Kakashi mengerti mengapa pagutan hangat mereka terlepas, bibirnya kini turun ke leher jenjang Sakura. Mata Kakashi mengerjap-ngerjap pelan menghirup aroma Sakura yang manis. Bulu mata Kakashi yang tengah mengerjap itu menggelitik Sakura dan mengirimkan perasaan geli yang aneh. Bibir Kakashi kini menyentuh leher Sakura kemudian menelusuri tiap lekuknya. Sesekali terdengar erangan erotis menggema di telinga Kakashi. Ia menyembulkan lidah sedikit dari bibirnya kemudian menjilati leher Sakura bagai hewan kelaparan. Bahkan sesekali ia menggitnya pelan atau menghisapnya hingga tertinggal beberapa tanda berupa bercak-bercak kemerahan di leher putih mulus Sakura.
Yukata Sakura yang sebelumnya sedikit tersingkap itu sengaja dibuka lebih lebar oleh Kakashi. Angin dengan lebih bebas dapat membelai Sakura. Dingin lebih terasa menusuk pada kulitnya yang halus dan rapuh. Sakura hanya dapat memejamkan matanya lemah. Kini di hadapan Kakashi telah tampak sepasang gumpalan daging yang mengacung berani tersembunyi di balik bra hitam gadisnya. Ia meremas pelan dada kanan gadisnya yang masih tersembunyi dan mulai menjilat bagian kulit yang terbuka tak tertutup bra. Erangan-erangan pelan tertahan terus terdengan dari bibir Sakura yang menutup membuka silih berganti. Berbeda dari bibirnya, matanya terus terpejam erat menikmati tiap sentuhan hangat penuh cinta prianya. Inikah kelanjutan dari ciuman? Perasaan aneh yang nikmat ini? Perasaan geli yang menyebar perlahan sampai ke ujung jarinya? Entah kenapa Sakura merasa beruntung terlahir sebagai seorang wanita..
T
B
C
Ah ini adalah chapter tersulit yang sayah buat, jalan menuju lemon untuk seorang gadis polos dengan seorang pria yang berbudi baik (Yah maksud sayah, di dalam cerita ini, karakter dan image seperti itu lah yang saya buat) itu susaaaaahh banget. Dan sayah merasa sedikit menyesal melihat chapter ini. Udah entah berapa kali saya hapus beratus-ratus kata dan mengetiknya ulang. Fyuh~ dan sampe sekarang pun sayah belum bisa mengatakan sayah puas :( sampe mau nangis deh rasanya (T___T) apalagi lemonnya kepotongg!! ARGGHH!! *gelindingan frustasi*
Lalu, maaf atas amat sangat telat updatenya sayah.. Gomen gomen.. Semuanya ini akibat dari terlalu banyak yang harus saya lakukan dalam waktu yang minim. Hasilnya sayah cuma bisa apdet diantara waktu-waktu tertentu dan itu juga lewat hp, jadi bahasanya masih buruk rupa dan sayah sendiri butuh waktu cukup lama untuk perbaikin tensesnya (halah). Maka dari itu seperti yang sebelumnya sayah katakan. Banyak banget perubahan ini itu ini itu. Malah jadi nggak selesai-selesai, kan? Liat aja uda 2 minggu gini ditinggal ckck. Padahal mah niatnya update 2hari sekali.. hiiksu.
Yaah apa mau dikata, semua sudah terjadi. Tapi sayah ingin mengucapkan, Selamat yaa bagi yang ujian-ujiannya (Nggak hanya UN) lulus :)
: REPLIES for REVIEWS :
vieszcy : huehuehue ah sayah masih berusaha untuk terus menjadi lebih baik untuk memuaskan anda. Makasih ya bonus semangat dan juga reviewnya :)
lopelope : ahh .. Kurenai Kakashi? Hmm.. sepertinya akan dijawab di chap depan dehh :) ahh pm O_O ntah kenapa error terus pas saya bales. Maafkan sayah :( segini kira-kira udah cukup panjang belum lope-san? (pasti belom deh T_T) tapi maaf atas keterlambatan sayah. Sayah ngerasa ga puas terus sih :( ia, yang bener itu gravitasi lhoo~ sip" makasih lope-san. Ini akhirnya di update jugaa~ arigato yaa uda mau review ^^
atsuchan : wkwkwkw gimana lemonnya? Udah ada tuh diatas *nunjuk-nunjuk ke atas* maaf atas kepotong dan keterlambatan apdetnya yaa~ thanks riviunyaa!
: ahh takapapa kok mina-san :) waahh sayah jadi tersanjung disejajarkan sama awan hitam senpai :p *terbang* thanks uda riviu yaa :)
harunaru chan muach : lam knal juga. Aih makasih banyakk. Ini udah updaate. Gomen lama :( makasih ya uda riviu ^^
aRaRaNcHa : waa jadi ikut terharuuu *bales peluk-peluk* ehn. Kayaknya chap depan baru bisa nih hehe. sepertinya kedua-duanya bisa dijadiin alasan looh :p siip. Makasih yaa uda riviu~ ^^
Ai Coshikayo : wkwkwk .. gapapa kok. Sayah harap pas anda menjelaskan itu si sakura nya lagi lemod :p jadi sayah masih dengan kebahagiaan yang meluap terus mengganggunya hyohyohyo. Hnn.. emang belum sayah jelaskan kok tentang Kakashi dan Kurenai. Niatnya mau dijelasin di chap depan. ahaha. Untung saja, sayah emang ga pengen bikin yang berat-berat. Semoga bisa nikmatin yang ini juga yaa ^^ siip. Thanksss ud riviu :)
Ryu Kirei no Joozu : ahaii tidak apa-apa. :) hohoo grade 9? Gimana? Lulus ga nih? :p siip". Gimana nih lemonnya? Maaf ya kepotong, btw Thanks ya riviunyaa ~
nne Kishida : ah ini sudah dihadirkan lemonnya—walaupun masih kepotong. Gimana gimana ? ah makasih. Jadi maluu! Siap. Btw thanks riviunyaa :)
Awan Hitam : aduh.. lagian senpai lari slowmotion sih wkwkw. KakaAwan ya? Waduh.. gimana jadinya itu? *bayangin yang aneh-aneh* *tampang mesum mode on* wkkwkw :p hm.. hmm.. sayang nya pas pembukaan chapter ini Kakashi nya lagi napsuan tuh.. tuh tuh liat aja. Emang dasar hentai. *di sharingan Kakashi* wah.. kakak. Saya juga mau cowok yang kayak gitu. Apalagi kalo gantengnya seganteng Kakashi *mimpi mode on* ah maaf yaa lama update. Semoga aja pas baca bisa terhibur sedikit. :) thanks ya senpai reviewnyaa ~
tobi anak-bae : haiia~ terimakasih ^^ nda tau? Itu looh diatas diataaaas X) btw thanks reviewnya ;)
buat yang uda riviu makasiiih banyak banyak banyak sebanyak banyaknya. Liat kan banyak nya ada 5.. *gaploked ga penting*
rencananya, besok atau lusa saya update lagi nih. Omelin yaa kalo misalnya saya telat nanti :p
buat silent readers juga. Semoga suatu saat kita bisa ngobrol ya? :)
ARIGATO GOZAIMASHITA for following this story :)
