FATE IS FATE
Halo, saya dechii. salam kenal OTL
saya kurang berpengalaman dalam tulis menulis, jadi yang ringan-ringan aja dulu deh
Oh iya sekali lagi diingatkan ini adalah kelanjutan dari WHEN YOU WILL GO AWAY yaitu cerita pertama saya, jadi yang belum baca, biar nyambung, leave this page and baca yang pertama dulu *sekalian promotor eh promosi*
Content Boys Love, (mungkin) typo dan ada beberapa karakter non-naruto seperti shino dan karin. entah siapa mereka. 8D~
Semboyan yang telah lama melanglang buana di dunia fanfic "DON'T LIKE, DON'T READ!"
Saya menerima apapun, mau ngeflame kek, silahkeun, tapi kalo ga dipeduliin ya ga apa ya? :P
HAPPY READ READERS xD
This all characters belongs to Masa-sih? Kishimo(l)to-sensei *dicubitin* AW!
Author : DeChii
Pairing : SasuNaru
Rating : K (aman bagi tubuh dan jiwa)
Warning : Content Boys Love (soft banjet kayak kenjen ben~), (mungkin) typo dan ada beberapa karakter non-naruto seperti shino dan karin. entah siapa mereka. 8D~
Warning THIS IS VERY SHORT CHAPTER! HOPE YOU WON'T DISSAPOINTED
~Home Sweet Home~
Just…
A sweet home
Sasuke's POV
"Ada apa dengan anak ini, kenapa bisa sampai jatuh begitu sih?" Aku buru-buru menyetandarkan motorku dan melepas helm. Ada-ada saja anak yang satu ini, padahal title nya sudah 'sensei'.
"Hei, Kau tak apa?", Apa? Aku cemas? Kenapa harus cemas? Tidak penting, yang penting selamatkan dulu orang sakit ini. Aku ulurkan tanganku, tapi dia malah berdiri dengan tangannya sendiri yang sedang bergetar hebat karena lemas.
"Ya, tak apa", senyumnya merekah, indah tapi menyilaukan seperti matahari. Senyum yang sangat hangat dan manis. Aku terpaku sebentar melihat senyum itu, senyum yang dimiliki guru yang memiliki marga sama dengannya. Senyum yang indah yang mungkin akan membuat semua orang terpana dan ingin memilikinya, seutuhnya. Naruto….
End of Sasuke's POV
"Teme~~", Naruto mengibaskan tangannya di depan Sasuke pelan, "Kenapa Kau bengong begitu?"
"Hn, ya." Seperti biasa jawaban seadanya untuk menjaga image. Dasar Uchiha..Uchiha(ha) *author geleng2 kepala*.
"Ayo masuk, bantu aku beres2in barangku ya, besok aku yang akan memindahkannya sendiri ke rumahmu.", Naruto menarik tangan Sasuke. Hanya dipegang mungkin, dan Sasuke langsung menurut ikut masuk.
Baru saja menginjakkan kaki di depan rumah Naruto, Sasuke sudah mencium bau citrus yang begitu kuat. dan harum. Naruto membuka pintu rumahnya dan bau harum itu menyeruak keluar, menyebar ke depan rumah Naruto.
"Ayo, Teme!", kata-katanya sangat pelan, Sasuke hanya mengerti lewat isyarat tangan Naruto yang memanggilnya.
Ruangan indah di dalam rumah kecil ini. Ketika masuk sudah dipenuhi dengan warna orange, dindingnya pun orange. "Cerah sekali.", gumam Sasuke.
"Hey, Dobe, mau beresin yang mana?", Sasuke mengedarkan pandangannya, mungkin sedikit tertarik dengan rumah kecil nan cerah itu.
Rumah itu tidak tingkat, hanya ada beberapa ruangan di sana. Ruang utama ya sekaligus tempat menonton dan tempat menerima tamu, Ruang dapur yang isinya tidak begitu penuh. Hanya terlihat beberapa cup ramen instant memenuhi tempat sampah si empunya rumah di dapur itu. Ada 3 ruangan lainnnya, kamar mandi minimalis yang sangat sangat sangat sederhana (maklum, rumah kontrakan), dan 2 kamar tidur.
Sasuke melihat-lihat ke dalam ruangan kamar tidur yang berada dekat dapur, hanya sekedari ingin melongokkan kepala saja. Tangannya menyentuh kenop pintu kamar itu, dan diputarnya. Tidak terbuka. Sekali lagi dicobanya memutar kenop pintu itu, masih juga tak terbuka.
"Oh, ruang kosong mungkin", batin Sasuke dan kemudian ia hanya memandangi ruangan itu. Pintunya masih bagus, tak ada bekas baretan di sekitarnya, cat orange pintu itu masih terawat dengan baik. "Yah, secerah warnanya, se-simple orangnya", Sasuke tersenyum simpul.
Kepala Naruto menyembul dari kamar tidur di sebelah ruangan yang sedang dipandangi Sasuke, "Hei, Sasuke~ sedang apa Kau di sana? Ayo kesini bantu aku beres-beres." Suara Naruto sangat lemas, entah si Uchiha itu dengar atau tidak, hem, sepertinya dia dengar. Ditolehkan kepalanya ke arah si empunya suara, dan berjalan ke arahnya, dan berhenti tepat di depan si pemilik mata Saphire itu.
"Hn? Ya", Sasuke masuk ke kamar itu, melewati Naruto yang kepalanya masih menyembul keluar. Naruto pun akhirnya membalikkan badan dan ikut masuk.
"Itu, tolong dimasukkan ke dalam kardus disebelahnya. Hanya itu, sisanya nanti aku bereskan sendiri.", Naruto membantu mengeluarkan beberapa baju dari lemarinya untuk disusun oleh Sasuke ke dalam kardus.
Suasana pun menjadi hening. Hanya ada suara-suara kain dan kardus yang sedang dibereskan. Maklumlah, si ceria itu sedang pucat pasi.
"Dobe", Sasuke mulai bicara duluan.
"Ya? Ada apa Teme?", tengok Naruto ke bawah badannya dengan tangan penuh kain yang sedang ia keluarkan.
"Hn, tidak ada.", sungguh-sugguh Uchiha yang hemat kata. Sikap Sasuke itu akhirnya membangkitkan gairah kehidupan si Naruto untuk memenuhi panggilan dimana darahnya telah naik menjalar ke seluruh tubuhnya dan bisa dirasakan mukanya telah memerah.
"Tunggu sebentar ya Teme, tunggu disitu sebentar", Naruto tersenyum dengan beberapa kedutan merah di dahinya *lebay*. Dia keluar kamar menuju ke arah dapur dan mencari-cari sesuatu. Setelah kembali dari dapur, mukanya sudah tidak terlalu pucat lagi dan semangatnya? Jangan ditanya!
"TEMEEEEEEEEEEEE! Berani-beraninya Kau dari awal memnaggilku "DOBE"? Apa-apaan itu? Dan lagi, buat apa Kau hemat-hemat kata begitu? Apa semua UCHIHA seperti itu adanya HAHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH?", Naruto muncul seperti jagoan dengan backsound lagu rock yang memacu adrenalin. Oh, hp author lupa di silent, tunggu-tunggu *matiin* oke lanjut! Inilah dia, si Naruto yang penuh semangat.
Sasuke sedikit kaget mendengar suara lantang yang (sudah di dengarnya dan) belum mendengar lagi selain saat Naruto merengek ke Tsunade-sama. "Hn, ya Dobe?"
"Uchiha sok COOL! Aku benceeeeeeeeeeeeeeeeeeee!", sampai Naruto salah melafal kata saking stressnya dan menarik-narik rambutnya hingga kusut.
"Hn", Sasuke hanya melihat Naruto, dan berbalik lagi ke kegiatannya mengepak kain ke dalam kardus.
Sudah berkedut-kedut dahi Naruto, mencoba memancing cara licik agar si Uchiha ini marah. Seringai muncul di bibirnya dan mendapat beberapa ide licik di otaknya, YANG PASTINYA tidak akan ampuh bagi seseorang yang memiliki darah Uchiha mengalir di tubuhnya.
Dilemparnya kertas ke arah Sasuke sampai seratus kali, tak ada reaksi. Dilemparnya bola mainannya ketika mandi hampir dua puluh kali, masih tak ada reaksi. Di gerak-gerakkannya semua benda agar berisik dan memancing amarah si penyuka ketenangan ini, dan MASIH tak ada reaksi. Hingga kesabaran Narutolah yang malah terus-terusan hilang. Diambilnya batu besar di belakang rumahnya dan mengangkatnya tinggi-tinggi di depan pintu kamarnya sampai terlihat urat-urat mukanya keluar menahan marah dan menahan berat batu itu. Sasuke pun menengok, "Ada apa? DOBE?"
JGLEGER! Petir besar tiba-tiba saja ada tepat di belakang Naruto yang masih menahan batu itu dengan muka penuh kedutan menahan rasa marah dan jengkel.
"TEEEEEEEEMMMMMMMMMMEEEEE!", dan dimulailah pertengkaran tanpa arti di rumah (ehem, kontrakan) dimana yang emosi hanya Naruto dan Sasuke bahkan tidak pernah menghiraukan. Eh, tentunya sambil membereskan dong. Selesai bertengkar, selesai pula pekerjaan mereka membereskan semuanya.
Sasuke melihat jam tangannya, "Hn, empat jam di sini. Lumayan. Ayo ke rumahku, nanti pekerjaanmu tidak selesai, Dobe." Naruto menengok ke sebelahnya dan memberikan tatapan kebencian dan di dahinya terlihat perempatan, yang tidak menimbulkan efek apa-apa.
"Ah!" Naruto mengeluarkan kunci, kunci yang bentuknya lumayan aneh. Bergerigi dari ujung sampai tengah dan bagian yang bisa dipegang dari kunci itu berukirkan bunga sakura yang indah. Yang unik lagi, kunci itu berwarna putih seperti kunci mainan dengan tulisan, "We will always love you. Keep alive" di bagian tengah atas dan dibawahnya ada 3 inisial nama "-M. N. K-".
"Tunggu, tunggu Teme, aku lupa." Naruto berlari ke arah kamar tidur yang terkunci itu, diikuti oleh Sasuke yang jalan di belakangnya dan membuka gembok di bagian atas dan bawah pintu itu dengan kunci putih yang tadi ia keluarkan.
"Pantaslah tadi tidak terbuka, ternyata di gembok seperti itu", batin Sasuke sambil melihat ke tempat gembok itu tadi dipasang.
Naruto melihat ke arahnya dan nyengir lebar, "Hehehe, kenop pintu ini rusak, jadi kupasang saja cantolan gembok dan memakai gembok ini."
Gembok di tengan Naruto itu berwarna emas, BENAR-BENAR EMAS. Sepertinya itu harta yang sangat berharga baginya. Dengan tulisan dan inisial yang sama seperti pada kunci putihnya itu.
Naruto membuka pintu kamar itu dan terbelalaklah mata sang Uchiha ini. Seluruh dinding kamar itu ditutupi oleh foto, ya, foto-foto Naruto dan beberapa orang yang tidak dikenalnya baik yang berukuran besar sekali sampai ukuran kecil. Sasuke mengedarkan pandangannya dan dilihatlah foto yang paling besar diantara foto-foto yang lain.
Tampak seorang anak berambut kuning cerah nyengir lebar hingga giginya kelihatan sambil membentuk tangan kirinya sebuah "peace" dan tangan yang satu lagi menggaet leher seorang anak yang lebih kecil darinya seakan-akan dipaksa ikut foto. Di belakang dua anak itu, berdiri tiga orang yang lebih tua. Dari sebelah kanan, seorang laki-laki yang kira-kira umurnya 17 tahun, poninya menutupi sebelah matanya dan dua orang di sebelahnya seperti suami istri. Sang suami, dengan rambut blonde-nya yang agak panjang dan di tengah-tengah, sang istri dengan rambut merah panjang tergerai terlihat malu-malu.
Foto itu berlatar ilalang-ilalang hijau dan langit biru di atasnya. Sungguh indah dan Uchiha pun tidak memungkiri hal itu. Lama ditatapnya foto itu, sampai sebuah suara memanggilnya,
"Hoy, Teme!"
"Hn?", Sasuke menengok ke arah sumber suara tepat di belakangnya.
"Aku mau melepas foto-foto ini dulu, sepertinya bakal sampai malam. Kalau mau pulang, pulanglah. Tak apa kau tak jadi membantuku dengan tugas sekolah itu, istirahatlah Teme." Naruto membalikkan badan dan bersiap membereskan foto itu dan dia merasa tangannya ditarik kemudian ia menoleh.
"Aku bantu ini. Nanti kubantu dengan tugasmu." Dilepaskannya genggaman tangannya pada Naruto dan bersiap melepas foto-foto itu. Naruto diam.
"Dobe, bagaimana melepas foto-foto ini? Kau mau ini rusak semua?" Sasuke menoleh padanya dan mengembalikan lagi pandangannya ke arah foto-foto yang mau dilepas itu.
"UNG! Baik TEME~!" naruto mengangguk penuh semangat, dan hal itu berlangsung hingga larut malam.
-Dechii*HomeSweetHome*-
To be Continued
Mind to Read and Review Right?
