BROKEN

BTS fanfiction

Real Life

Cast: BTS and other

Pair: KookV, Jungkook X Taehyung

Warning: BL, Real Life

Previous

Segala amarah Jungkook tertelan setelah dia tahu siapa yang memilih untuk mengacuhkan keberadaannya. Benar, Jeon Jungkook tidak melihat dengan teliti siapa orang yang berani mengacuhkannya tadi. Ketika berhadapan dengan kedua mata cokelat Kim Taehyung. Jungkook seolah lumpuh.

"Maaf." Gumam Taehyung.

Jungkook menurunkan tangan kirinya. "Bagian Administrasi ada di lantai tiga, kau salah jalan."

"Saya pergi ke kamar kecil sebentar untuk merapikan kemeja. Sekali lagi maafkan saya Tuan Jeon Jungkook, saya tergesa-gesa dan tidak menyadari kehadiran Anda."

"Pergilah." Putus Jungkook sebelum melangkah pergi.

BAB TIGA

Sayang, kita terjebak

Aku tidak tahu harus melakukan apa?

Apa aku harus ketakutan?

Apa aku harus merasa lega?

Karena kita terjebak bersama

"Kau pulang dengan Jungkook malam ini."

"Iya."

"Sedekat apa hubungan kalian?"

"Dia hanya memberiku tumpangan sebagai permintaan maaf atas sikap teman-temannya, hujan deras dan aku lupa membawa payung atau jas hujan."

"Dan pulang bersama Jungkook terdengar sebagai gagasan terbaik."

"Aku tidak punya pilihan Jim, kenapa kalian sangat membenci Jungkook?"

Taehyung mengedarkan pandangannya pada seluruh wajah teman-teman dekatnya yang berkumpul di meja makan. "Bukan hanya Jungkook tapi Jackson juga Sehun, kau cukup cerdas untuk mengambil kesimpulan dari semua berita yang tersebar."

Kening Taehyung berkerut dalam mendengar penuturan Seokjin. "Kesimpulan jika Jungkook, Jackson, dan Sehun itu brengsek. Jadi berhenti melibatkan dirimu dengan orang-orang brengsek seperti mereka."

"Mungkin Jungkook tidak seburuk pemikiran kalian. Jangan menilai orang hanya karena berita-berita yang belum tentu benar."

"Kim Taehyung!" Seokjin tidak suka dibantah.

"Sudahlah, kita lanjutkan makan malam dan kembali ke kamar masing-masing." Ujar Namjoon menengahi.

"Maaf Seokjin hyung." Taehyung menggumamkan permintaan maaf, Seokjin mengangguk pelan pertanda diapun sudah memaafkan Taehyung.

.

.

.

Taehyung memijit pangkal tulang hidungnya, berjalan perlahan menuju ruangan tempatnya akan dibimbing selama tiga bulan waktu magangnya. Menjilat cepat bibir bawahnya setelah kenangan masa lalu terlintas di benaknya. Jika dia tahu akhirnya akan seperti ini, Taehyung akan menuruti semua ucapan Seokjin untuk menjauhi Jungkook.

Tidak, Jungkook sama sekali tidak brengsek. Dia sangat baik hingga Taehyung jatuh ke dalam pesonanya seperti puluhan perempuan yang pernah menjadi kekasih Jungkook. Melakukan kesalahan terbesar di dalam hidupnya. Taehyung menunggu di depan pintu ruangan, menunggu senior yang akan membimbingnya datang. Sembari menunggu, Taehyung mengedarkan pandangannya ke segala arah yang menarik perhatiannya.

"Gedung sebesar ini dimiliki satu orang, aku sulit mempercayainya." Gumam Taehyung sebelum menundukan kepala mengamati ujung sepatu kulit berwarna hitam yang dia kenakan.

"Apa kau Kim Taehyung?"

"Iya." Jawab Taehyung sembari menegakan tubuh kemudian membungkuk hormat.

"Aku akan menjadi pembimbingmu selama tiga bulan, kau bisa memanggilku Gikwang hyung atau Senior, terserah pilihanmu."

Taehyung mengangguk pelan.

"Apa kau dan—Jeon Jungkook saling kenal?"

"Apa?" Taehyung bertanya balik sembari berusaha untuk mengendalikan ekspresi wajahnya.

"Sikap Jungkook padamu benar-benar lunak, kau tahu apa julukan Jungkook di tempat ini?"

Taehyung menggeleng, dia berharap topik pembicaraan ini tidak berlangsung lama. "Saya tidak tahu."

"Si Kejam Jungkook." Ujar Gikwang. "Tapi kau bersikap kurang ajar dan Jungkook melepaskanmu begitu saja. Yakin, kalian tidak saling kenal?"

"Saya rasa tidak. Kami tidak saling kenal. Saya rasa itu hanya kebetulan saja."

"Kebetulan?!" dengus Gikwang.

"Kebetulan saya sedang beruntung." Balas Taehyung kemudian tersenyum lebar, menunjukan senyum kotaknya yang manis.

Gikwang melempar tatapan malas membuat Taehyung bergegas meminta maaf. "Aku akan mengajarimu sekarang, kuharap kau cukup cerdas aku paling benci mengulangi ucapanku."

"Mohon bantuannya Senior."

.

.

.

Bagaimana Jungkook sempat berpikir bisa mengenyahkan Taehyung dari hidupnya, jika sekarang dia bahkan tidak bisa diam melihat salah satu karyawannya membentak Taehyung entah karena kesalahan apa. Jungkook mengarahkan langkah kakinya memasuki ruangan para karyawan magang.

Semua orang bergegas menundukan kepala melihat kedatangan Jungkook. Mengacuhkan semua orang yang memberinya hormat, Jungkook berjalan mendekati meja Taehyung dan pembimbingnya.

"Ada masalah di sini?"

"Saudara Kim Taehyung berulang kali salah mengurutkan dokumen."

"Jangan membentaknya, kau pembimbingnya, kau harusnya tahu karakter dari orang yang sedang kau bimbing, orang tidak akan bertambah pintar dengan bentakan."

Ujar Jungkook sebelum melangkah pergi seolah kedatangannya bukanlah hal yang luar biasa. Menelan ludah kasar, Taehyung memerhatikan punggung tegap Jungkook sebelum memaksa semua pikiran tentang Jungkook untuk menghilang.

"Senior, saya akan berusaha dengan lebih baik lagi." Ujar Taehyung.

"Ya." Balas Gikwang singkat.

"Senior bisa memarahiku jika aku salah."

"Aku tidak ingin mencari masalah dengan Bos. Lakukan tugasmu." Nada jengah terdengar jelas dari Gikwang lantas iapun pergi meninggalkan Taehyung seorang diri di belakang meja.

Tidak, tidak bisa terus seperti ini. Taehyung berdiri dari kursinya mengabaikan teriakan Gikwang yang memintanya untuk tinggal serta tatapan penuh tanya dari semua orang. Keluar ruangan Taehyung menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari keberadaan Jungkook. Taehyung melihat Jungkook memasuki lift ia berusaha mengejar namun gagal, Taehyung melihat nomor lantai dimana Jungkook akan turun. Lantai dua, tanpa menunggu waktu lagi Taehyung berlari menuju tangga untuk turun ke lantai dua.

Taehyung nyaris tergelincir atau menabrak tubuh orang lain ketika berlari menuruni tangga. Tapi sekarang dia tidak peduli pada apapun, dia hanya ingin bertemu dengan Jungkook dan berbicara entah apapun dengan dia.

Pintu lift terbuka Jungkook tidak percaya dengan penglihatannya. Kim Taehyung berdiri di hadapannya. "Aku ingin mengurus pengunduran diriku, sebelum penandatanganan kontrak aku tidak akan mendapat sangsi. Aku membaca semua peraturannya dengan teliti."

"Ikut aku." Ujar Jungkook singkat, ia melangkah keluar dari lift kemudian berjalan menuju ruangannya diikuti Taehyung di belakang tubuhnya.

.

.

.

"Taehyung!"

Taehyung mengedarkan pandangannya ke seluruh kantin mencari seseorang yang memanggil namanya dengan cukup nyaring. Ia menemukan Jungkook duduk seorang diri pada salah satu meja. Dia mengenakan kaos putih, dilapis jaket berbahan jins. Taehyung membalas lambaian tangan Jungkook lantas mendekat.

"Mejanya penuh." Ujar Taehyung.

"Karena itu aku memanggilmu." Balas Jungkook.

"Dimana teman-temanmu?" keduanya bertanya bersamaan dengan pertanyaan yang sama. Membuat Jungkook dan Taehyung tertawa lepas. "Kau dulu." Sambung Jungkook.

"Jimin, Seokjin hyung ada kelas. Namjoon hyung mencari tempat tinggal."

"Tempat tinggal?"

"Ya, waktu tinggal di asrama kampus kami hampir berakhir. Kami harus mencari tempat tinggal baru."

"Kalian sudah mendapatkannya?" Jungkook bertanya disela kegiatannya menikmati menu makan siang.

"Belum. Kuharap kami mendapatkan tempat tinggal dalam waktu dekat. Sebenarnya kami sudah mendapatkan tempat tinggal yang cocok hanya saja…," Taehyung berhenti memberi penjelasan karena sibuk mengunyah sayuran di dalam mulutnya.

"Hanya saja apa?"

"Tidak cukup jika kami tinggal bersama. Seokjin hyung, Namjoon hyung, dan aku, tidak akan cukup padahal Hoseok hyung mengalah untuk tinggal di tempat lain dan Jimin memilih tinggal dengan ibunya."

"Apa kalian harus tinggal bersama?"

"Inginnya seperti itu. Tapi sebentar lagi Seokjin hyung, Namjoon hyung, dan Hoseok hyung lulus."

"Berarti tidak bisa terus bersama." Timpal Jungkook.

"Entahlah." Balas Taehyung.

Jungkook melihat keengganan di dalam nada bicara Taehyung. "Kalian sangat dekat?"

"Ya, aku mengenal mereka sejak tahun pertamaku di sini."

"Hmm. Sebenarnya jika kau tidak keberatan kau bisa tinggal bersamaku, tapi jika kau ingin tinggal dengan teman-temanmu aku tidak akan memaksa."

"Wow! Terimakasih." Taehyung terkejut dengan tawaran Jungkook, sembari menusuk-nusuk sayuran di dalam piringnya Taehyung tersenyum tulus kepada Jungkook. "Akan aku pertimbangkan. Terimakasih."

.

.

.

Jungkook membawa Taehyung ke ruangannya. Mengunci pintu kemudian berdiri di hadapan Taehyung. "Ruanganku kedap suara dan meski terlihat dikelilingi kaca, orang di luar tidak akan bisa melihat kita di sini." Terang Jungkook.

"Saya ingin mengundurkan diri." Taehyung kembali mengutarakan niatnya.

"Apa pekerjaan di sini buruk? Apa pembimbingmu melakukan sesuatu yang membuatmu tersinggung?"

"Tidak Tuan, saya hanya merasa bukan di sini tempat saya bekerja."

"Kenapa kau melamar untuk bekerja di tempat ini jika akhirnya kau mundur di tengah jalan? Apa kau tidak paham tempat seperti apa yang akan kau lamar? Jangan bertindak konyol."

"Saya belum menandatangani kontrak kerja, saya…,"

"Aku." Jungkook memotong kalimat Taehyung. "Apa karena aku? Kau memutuskan untuk pergi? Sebelumnya kau tidak berpikir jika Jeon Jungkook pemilik dan pemimpin perusahaan ini adalah Jeon Jungkook yang kau kenal. Apa aku salah?"

"Tidak. Bukan karena itu Tuan saya tidak bisa menjelaskan semua alasannya, ini masalah pribadi."

"Enam tahun." Jungkook melangkah mendekati Taehyung. "Selama enam tahun ini, apa kau tidak pernah memikirkan aku? Sedikitpun?"

Taehyung mengalihkan pandangannya, membuang muka. "Jungkook hentikan, jangan memulainya."

"Apa kau tahu apa yang aku lakukan selama enam tahun ini untuk melupakanmu? Apa kau tahu Kim Taehyung? Aku selalu bertanya kenapa aku harus mencintaimu? Kenapa aku harus jatuh cinta pada seorang laki-laki? Apa yang salah denganku? Aku tidak pernah jatuh cinta pada seorang laki-laki kecuali kau, sebelumnya ataupun setelahnya."

"Itu hanya kesalahan Jungkook kau tidak perlu memikirkannya."

"Kesalahan?!" Jungkook ingin sekali menampar wajah Taehyung, berani-beraninya dia mengatakan jika semua yang dia rasakan adalah sebuah kesalahan. "Tidak perlu memikirkannya? Mudah sekali. Kim Taehyung."

"Tolong tunjukan prosedur pengunduran dirinya Tuan Jeon Jungkook."

"Selama enam tahun ini kenapa aku tidak bisa menghapus namamu dari hidupku, kenapa aku tidak bisa berhenti memikirkanmu, kenapa aku melihat halaman Facebook-mu yang tidak aktif hanya untuk mencari tahu sedikit keberadaanmu, hanya untuk tahu bagaimana kabarmu, kenapa aku mencari-carimu seperti makhluk melata menjijikan, mengais sisa-sisa keberadaanmu, kenapa rasanya sangat sakit saat aku berpura-pura jika kau tidak pernah menjadi bagian dari kehidupanku. Kim Taehyung? Lalu kau muncul seperti permainan laknat, dan sekarang kau ingin pergi. Pergi setelah kau berhasil menghancurkan kehidupanku dua kali?"

"Apa yang harus aku lakukan?" gumam Taehyung masih memalingkan wajahnya dari Jungkook. "Apa Jungkook?"

"Aku tidak tahu." Balas Jungkook, entah untuk keberapa kali di dalam ingatannya dia selalu tak berdaya jika berhadapan dengan Taehyung dan apapun yang berhubungan dengan Taehyung. "Aku tidak tahu."

"Seharusnya kita tidak pernah bertemu, aku tidak memiliki jawaban apa-apa jika kau bertanya padaku. Maaf Jungkook, maafkan aku untuk semua yang terjadi di antara kita."

"Kau tidak perlu pergi dari sini jangan mengorbankan keinginanmu. Aku yang akan pergi."

"Kau—pergi? Kemana?"

"Kau tidak perlu tahu yang jelas kau tidak perlu pergi dari sini."

Taehyung menarik napas dalam. "Aku tetap pergi, aku tidak bisa tinggal di sini. Alasannya pribadi tapi aku benar-benar harus pergi."

"Sudah jangan berkilah lagi Kim Taehyung. Alasannya adalah aku, karena kau takut berhadapan denganku, karena kau masih memiliki perasaan untukku."

"Ya." Taehyung tidak memiliki pilihan dan menjawab jujur. "Alasannya karena kau, karena sampai kapanpun kita tidak akan pernah menjadi sekedar teman biasa."

"Karena kau mencintaiku." Ujar Jungkook masih menatap lekat wajah Taehyung kendati orang di hadapannya memalingkan wajah.

"Karena aku menyambut perasaanmu." Taehyung memejamkan kedua kelopak matanya singkat, sebelum memutuskan untuk menatap kedua mata bulat Jungkook.

"Karena secara moral sosial ini salah." Ujar Jungkook dengan suara lemah.

"Laki-laki untuk perempuan."

"Laki-laki bukan untuk laki-laki lainnya."

"Aku mengerti, pergilah semuanya akan beres dengan cepat."

"Terimakasih Tuan." Taehyung membungkuk kemudian memutar tubuhnya dan melangkah pergi.

Jungkook duduk di atas meja kerja, menatap pintu ruangannya yang beberapa detik lalu tertutup. Begitu singkat, Jungkook tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi dirinya sendiri juga perasaannya sekarang. Sekarang, ketika seorang Kim Taehyung berada begitu dekat dan berniat untuk pergi kedua kalinya.

.

.

.

"Berapa sewanya?"

"Sewa apa?"

"Aku tinggal bersamamu, aku harus membayar sewa."

"Aku pikirkan nanti sekarang masukan barang-barangmu ke kamar."

"Ok." Ujar Taehyung sembari menarik koper berisi pakaiannya memasuki tempat tinggal Jungkook. Rumah ini cukup besar untuk ketiga temannya yang lain tinggal, tapi Jungkook tidak memberi penawaran setidaknya Jimin, Seokjin, dan Namjoon bisa tinggal bersama tanpa terpisah.

"Ada tiga kamar kosong di rumah ini kau bisa memilih di lantai dua atau di samping kamarku."

"Kamarmu ada di lantai satu?"

"Hmm."

"Aku di samping kamarmu saja, di lantai dua akan sangat sepi."

Jungkook hanya tersenyum kemudian mengarahkan Taehyung ke kamar yang akan dia tempati. "Jungkook."

"Apa?"

"Tidak masalah aku tinggal bersamamu? Maksudku sepertinya Sehun dan Jackson tidak begitu menyukaiku."

"Kalian belum kenal dekat karena itu kesannya jadi tidak begitu baik, jika sudah kenal dekat Sehun dan Jackson itu menyenangkan. Percayalah." Ujar Jungkook meyakinkan.

"Semoga kau benar." Balas Taehyung. "Satu lagi bagaimana dengan kekasihmu, apa aku tidak akan mengganggu jika kalian—jika kalian membutuhkan waktu untuk berduaan."

"Tidak, dia tidak akan keberatan."

"Sebenarnya teman-temanku sedikit keberatan aku tinggal denganmu."

"Tak masalah, berita tentangku Sehun dan Jackson rata-rata tidak ada yang baik."

"Mereka belum mengenalmu dengan baik." Ujar Taehyung.

Jungkook tersenyum. "Ya."

"Kau tidak berniat untuk membersihkan nama baikmu?"

"Aku tidak mau membuang tenaga dan waktu. Terserah orang-orang itu mau berpikir apa. Masuk sana tata barang-barangmu aku akan pesan makanan. Masakan China bagaimana?"

"Aku mau mie."

"Ok."

TBC

Terimakasih untuk semua pembaca, terimakasih reviewnya in kooktae, GaemGyu92, Park RinHyun Uchiha, jjkkth4, 7D, autumnChoi, Kyunie. See Ya Next Chap...