Chapter 1

Title :
One Week Girlfriend (remake)
Genre :
Hurt, romance
Rate :
M
Main Cast :
- Park Chanyeol
- Kyungsoo

.
Warning :
GenderSwitch! Aku suka cerita dari Monica Murphy, One Week Girlfriend the series ini. Oleh karenanya, aku me-remake cerita ini dengan tokoh utama Chanyeol dan Kyungsoo. Aku tidak mengubah alur cerita ini sama sekali, hanya mengganti nama tokohnya saja. Dan, disini Kyungsoo menjadi perempuan (maaf, untuk yang menyukai Kyungsoo, aku hanya suka dengan couple ChanSoo).
Yang mau baca silahkan, yang nggak juga silahkan. Yang protes, ya silahkan. :3
But, I hope you like it ~

.

.

.

4 hari sebelumnya…

.

Chanyeol... Drew (Kata kerja)

Arti: Menarik semua perhatian pada dirinya, memiliki pengaruh, atraktif.

–Drew: nama Chanyeol dalam bahasa Amerika–

.

Aku menunggunya di luar bar, bersandar di bangunan berbatu bata kasar dengan tangan yang berada jauh di dalam saku sweatshirtku, bahuku membungkuk melawan angin. Malam ini benar-benar dingin dan gelap karena awan menggantung rendah di langit. Tidak ada bintang, tidak ada bulan. Menyeramkan, terutama karena aku berdiri di sini sendirian.

Jika hujan turun dan dia belum juga selesai kerja, lupakan saja. Aku akan pergi. Aku tidak membutuhkan omong kosong ini.

Panik melandaku dan aku menghela nafas dalam-dalam. Aku tak bisa pergi dan aku tahu itu. Aku membutuhkan dia. Aku bahkan tak tahu dia siapa, dan pastinya diapun tak mengenalku, namun aku membutuhkannya untuk bertahan. Aku tak peduli jika kedengarannya aku cengeng atau apa, itu benar.

Tak ada jalan lain untuk aku bisa menghadapi minggu berikutnya dalam hidupku seorang diri.

Terdengar sayup-sayup suara musik dari bar itu dan aku mendengar setiap orang di dalam tertawa dan berteriak. Aku bersumpah aku mengenal beberapa dari suara itu. Mereka memiliki waktu yang menyenangkan. Ujian tengah semester sedang berlangsung dan seharusnya sebagian besar dari kami belajar, bukan? Membusuk di dalam perpustakaan atau membungkuk di meja, kepala tenggelam di dalam sebuah buku, atau di depan laptop. Membaca ulang catatan, menulis makalah, apapun.

Alih-alih begitu, sebagian besar temanku berada di dalam bar itu dan mabuk. Kelihatannya tak ada yang peduli jika hari ini baru hari selasa dan masih tersisa tiga hari lagi untuk tes dan seharusnya mereka bersiap-siap. Ujian atau libur, tapi setiap orang fokus pada fakta kalau minggu depan kami libur. Kami semua antusias untuk keluar dari kota kecil tempat kami kuliah ini.

Seperti aku. Aku akan keluar kota hari Sabtu sore. Meskipun aku tak menginginkannya. Aku lebih suka berada di sini.

Tapi aku tak bisa.

Dia akan selesai bekerja tengah malam nanti. Aku menanyakannya pada pelayan lain yang juga bekerja di La Salle ketika aku tiba di sini tadi, sebelum yang lainnya tiba. Dan sekarang dia sedang bekerja di dalam, di dapur, hingga dia tidak bisa melihatku. Dan itu bagus.

Aku tak ingin dia menyadari kehadiranku. Belum. Dan katakanlah beberapa orang yang di sebut teman-temanku juga tak perlu tahu untuk apa aku kesini. Tak ada yang tahu rencanaku. Aku takut mereka akan membicarakanku jika mereka tahu.

Dalam hidupku, aku bertingkah seperti punya banyak teman karena aku terlihat selalu di kelilingi banyak orang yang di panggil teman-teman, padahal aku tidak dekat dengan satu pun. Aku memang tidak ingin dekat dengan mereka. Karena dekat dengan seorang dari mereka hanya akan mendatangkan masalah.

Pintu kayu tua berayun terbuka, berderit di engselnya, suaranya menyerangku seperti serangan fisik di dadaku. Dia memasuki kegelapan, membanting pintu di belakangnya, suaranya bergema dalam keheningan udara malam. Dia memakai mantel tebal berwarna merah, membuat kakinya yang tertutup celana ketat hitam terlihat semakin jenjang.

Beranjak meninggalkan dinding, aku mendekatinya. "Hei."

Pandangan waspadanya ketika melihatku mengatakan segalanya. "Aku tak tertarik."

Hah? "Aku belum memintamu apapun."

"Aku tahu apa yang kau inginkan." Dia mulai berjalan lagi dan meninggalkanku di belakangnya. Mengejarnya sebenarnya, aku tak merencanakan akan melakukan hal ini. "Kalian semua sama saja. Berpikir kalian bisa menunggu disini, berharap bisa mencegatku. Menjebakku. Reputasiku berkembang jauh lebih hebat dari apa yang sebenarnya telah kulakukan dengan beberapa temanmu," dia menegakkan bahunya sembari dia berjalan semakin cepat. Untuk seseorang sekecil dia, dia benar-benar cepat.

Tunggu sebentar. Apa sih yang di bicarakannya? Apa sebenarnya maksudnya? "Aku tak tahu yang kau bicarakan."

Dia tertawa namun suara tawanya terdengar rapuh. "Kau tak perlu berbohong Park Chanyeol, aku tahu apa yang kau inginkan dariku." Setidaknya dia mengenalku. Aku memegang lengannya ketika dia akan menyeberang jalan, menghentikan langkahnya dan dia memandangku. Jemariku seperti tergelitik, padahal aku hanya memegang kain mantelnya.

"Menurutmu, apa yang kuinginkan darimu?"

"Seks." Dia menyebutkannya, mata hijaunya melebar, rambut pirang pucatnya bersinar terkena cahaya lampu jalan di atas kami. "Dengar, kakiku sakit dan aku sangat lelah. Kau memilih malam yang salah untuk berpikir kau bisa bersamaku."

Aku benar-benar bingung. Dia berbicara seolah dia adalah pelacur bayaran dan seolah aku berharap dia bisa memberikan oral seks cepat atau sejenisnya.

Memandanginya, pandanganku jatuh pada mulutnya. Dia memiliki mulut yang sempurna. Penuh, bibir yang seksi, dia mungkin saja bisa memberikan layanan oral yang luar biasa jika aku boleh jujur pada diri sendiri, tapi itu bukanlah alasanku berada disini.

Membuatku panasaran sebenarnya berapa banyak teman se-timku yang pernah bersamanya. Maksudku, satu-satunya alasanku berbicara dengannya hanya karena reputasi yang di sebutkannya tadi. Tapi aku bukan sedang mencoba membelinya untuk seks.

Aku mencoba membayarnya untuk perlindungan.

Kyungsoo... Fable (Kata benda)

Arti: Cerita yang tidak di temukan kebenarannya; sesuatu yang tidak benar terjadi; dusta.

–Fable: nama Kyungsoo dalam bahasa Amerika–

.

Park Chanyeol si anak emas kampus memegangku seolah dia tak akan melepaskanku. Dia besar, tingginya lebih dari 6 kaki dan dengan bahu yang seperti pegunungan. Karena dia bermain football, itu bukan sesuatu yang mengejutkan, bukan? Dan aku pernah jalan dengan beberapa teman se-timnya. Mereka semua berotot dan besar.

Tapi tak seorangpun dari mereka membuat jantungku berpacu hanya dengan memegang tanganku. Aku tak menyukai bagaimana aku bereaksi padanya. Biasanya aku tak bereaksi kepada siapapun.

Dengan segenap kekuatan, aku melepaskan diri dari genggamannya dan menjauh dari hadapannya, mencoba memperoleh sedikit jarak. Sebersit pandangan memohon melintas di matanya dan aku membuka bibirku, siap mengatakan kepadanya untuk menjauh ketika dia memegangku dengan erat.

"Aku butuh bantuanmu."

Merengut. Aku meletakkan tanganku ke pinggang, dan sangat sulit melakukannya karena mantel bodoh tebal yang kukenakan. Di luar sini sangat dingin dan rok tipis yang kukenakan untuk kerja memperihatkan kakiku seluruhnya. Syukurlah ada mantel wool ini, biarpun aku tahu bosku membencinya. Katanya itu sangat tidak seksi.

Aku siap berdebat dengannya tentang apa itu seksi. Tip yang kudapatkan tetap banyak. Aku mendapatkan lebih dari seratus dolar untuk malam ini saja. Biarpun sebenarnya semuanya telah ku belanjakan.

Uangku selalu sudah di belanjakan bahkan sebelum aku benar-benar mendapatkannya.

"Kenapa kau membutuhkan bantuanku?" aku bertanya.

Dia memandang sekitar. Seolah dia khawatir orang akan melihat kami. Bukan sebuah kejutan. Sebagian besar cowok tidak ingin terlihat bersamaku di depan umum.

Terkadang benar-benar menyebalkan, menjadi ayam kampus. Aku bahkan tidak kuliah di universitas bodoh itu.

"Mungkin kita bisa pergi ke suatu tempat dan berbicara," dia menyarankan dengan senyuman tipis. Aku yakin cewek-cewek akan meleleh ketika pertama kali melihat senyum itu, dengan tampang memperdaya yang di milikinya. Wajahnya sangat tampan dan dia mengetahui hal itu, dengan alis gelapnya yang sangat cocok dengan rambut coklat dan mata birunya yang menyolok.

Tapi aku bukanlah cewek kebanyakan. Aku tidak akan terperdaya oleh sebuah omong kosong. "Aku tak akan kemanapun bersamamu untuk berbicara. Jika kau ingin mengatakan sesuatu, kau bisa mengatakannya disini. Dan katakan dengan cepat, karena aku ingin pulang." Aku sangat yakin ibuku tak ada di rumah dan adik lelakiku sendirian.

Tidak bagus.

Dia menghembuskan nafas berat, tersinggung. Aku tak peduli. Apapun yang ingin di katakannya bukanlah hal penting untukku. Tapi aku sangat penasaran, dan aku ingin tahu. Jadi aku bisa menikmatinya nanti.

Park Chanyeol tidak akan berbicara dengan gadis sepertiku. Aku cewek lokal. Cewek asli kota ini. Dia adalah quarterback (penyerang belakang) tim football juara di universitas. Demi Tuhan, dia seperti superstar, tersohor dengan fans dan segalanya.

Sementara aku mengerjakan pekerjaan menjijikan dan bisa kehilangan pekerjaanku kapan saja. Ibuku seorang alkoholik yang kerjaannya hanya tidur, dan adik lelakiku yang mulai teribat masalah di sekolahnya. Dunia kami benar-benar bertolak belakang dan aku benar-benar tak mengerti kenapa dia mau berbicara denganku sekarang.

"Minggu depan liburan Thanksgiving," dia memulai dan aku memutar mataku.

Duh, aku benar-benar bersyukur ada liburan. Itu artinya orang-orang akan berlibur dari kota ini dan bar akan kosong, membuat pekerjaan tak terlalu banyak. "Lanjutkan."

"Aku harus pulang ke rumah." Dia berhenti, tatapannya seolah membakarku dan kegelisahan mulai memenuhi pikiranku. Aku tak tahu ada apa denganku. "Aku ingin kau ikut bersamaku."

Baiklah, aku tak menyangka yang satu ini. "Apa? Kenapa?"

Matanya bertemu dengan mataku sekali lagi. "Aku ingin kau berpura-pura menjadi pacarku untuk seminggu."

Aku menganga kepadanya. Aku merasa seolah aku ini ikan yang sekarat. Menutup mulutku, dan membukanya lagi. Seolah aku menghirup nafas terakhirku, dan seolah aku benar-benar melakukannya. "Kau bercanda."

Dia menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Aku tidak bercanda."

"Kenapa aku?"

"Aku…" dia kembali menggelengkan kepalanya dan menutup mulutnya, seolah dia tak ingin memberitahuku. "Aku akan membayarmu."

Aku menyilangkan lenganku di dadaku. Dan sangat sulit melakukannya terlebih karena aku mengenakan mantel tebal ini. Aku membenci mantelku tapi mantel ini adalah yang paling hangat yang kumiliki. Aku menduga aku pasti terlihat canggung. "Aku tidak di jual."

"Dengar, aku tidak ingin membayarmu untuk sesuatu yang berbau… seksual." Suaranya turun satu oktaf dan membuat tubuhku merinding. "Aku hanya berharap kau bisa berpura-pura menjadi pacarku. Kita tak harus berbagi kamar atau sesuatu semacam itu. Aku tidak akan mencoba memasuki celanamu, tapi kita akan kelihatan seolah kita pacaran, kau tahu kan maksudku?"

Aku tak menjawab. Aku ingin dia terus berbicara jadi aku bisa mengingat bagaimana si Park Aneh Chanyeol ini memohon padaku untuk menjadi pacar pura-puranya. Tidak ada momen yang lebih nyata di bandingkan saat ini.

"Aku tahu kau punya kehidupan dan pekerjaan dan apapun hal lain yang kau lakukan. Mungkin akan sulit bagimu mengenyahkan segalanya dan pergi bersamaku selama seminggu, tapi aku bersumpah, aku akan membuatnya sebanding dengan waktumu."

Dia membuatku terdengar murahan dengan pernyataan terakhirnya itu. Seolah aku ini pelacur yang bisa di sewa siapa saja. Masalahnya cerita tentangku sudah kelewatan dan berkembang pesat di luar sana. Cerita yang sangat luar biasa, dan aku tak tertarik untuk repot-repot membantahnya. Tak ada gunanya. "Berapa yang akan kau berikan?" Matanya mengunci mataku dan aku terjebak di dalamnya. Antisipasi menggelora di dalamku dan aku menunggu jawabannya.

"Tiga ribu dolar."

.

.

.