Lupa tepatnya sudah berapa lama Naruto tidak merasakan sensasi ini. Bukan tanah beralas kain tipis, papan kayu, atau gubuk penuh serangga, tetapi kasur empuk yang membuat punggung sakitnya terasa nyaman.
Antara sedang bermimpi, atau sudah mati dia tidak bisa memastikan. Bahkan membuka kelopak mata rasanya sangat sulit. Mungkin jika saat itu telinganya tidak mendengar bisik seorang pria, entah sampai kapan dia akan tertidur pulas di sana.
"Anggur, dan roti," ada jeda sesaat, "juga semangkuk bubur gandum untuk pria itu."
Dia bisa mendengarnya. Suara itu terasa sangat familiar, tapi sulit mengingat milik siapa tepatnya.
"Sampai kapan kau akan tertidur?"
Kelopak mata dipaksa terbuka perlahan, menampilkan iris biru yang menatap kosong ke arah langit-langit ruangan. Masuk detik kedua, dia melirik sosok lain yang duduk pada kursi tepat di sebelah tubuhnya terbaring. Mengetahui itu sosok yang sama, hela napas sesal—karena tidak bisa menebak sejak awal—terdengar dari mulutnya.
"Bagaimana keadaanmu?"
"Sepertinya, aku harus mengumpulkan energi yang banyak untuk membunuhmu," sahut Naruto. Suaranya parau terdengar, dia tidak ingat kapan terakhir kali air melewati kerongkongannya yang kering.
"Kau memang membutuhkan energi yang banyak untuk membunuhku, tidak lemah seperti ini," sahut sang Master.
Hendak bangkit dari atas kasur. Namun seluruh tubuhnya yang terbalut perban sulit bergerak. Naruto menyerah, memang saat ini kondisinya lemah. "Melihatku seperti ini pasti sangat menyenangkan untukmu, Itachi. Terbalut perban tidak berdaya, kalah sebelum menyerang?"
Suara ketuk berasal dari arah pintu.
Sang Master memilih untuk mengabaikan pertanyaan Naruto sesaat. Dia menoleh ke arah pintu, lalu mengangguk pada si pelayan. Setelah semua hidangan terhidang di meja, dia kembali menoleh pada si pirang.
"Itachi? Sayang sekali, tapi namaku Uchiha Sasuke," ungkapnya datar.
Bungkam bukan pilihan yang diinginkan. Jika boleh jujur Naruto ingin menggeram, meluapkan segala rasa sesal yang membuatnya sesak seandainya diizinkan pita suara. Hatinya mencelos menyadari apa yang dilakukannya hanya membuang waktu. Lihat kondisinya yang menyedihkan saat ini, dia harus terbaring lemah karena gegabah memilih jalan mana yang harus ditempuh.
Pria itu bukan Itachi.
Harusnya dia ingat ada dua Uchiha muda di tempat ini. Bahkan Itachi pernah mengatakan jika dia memiliki saudara laki-laki.
Bodoh.
Dia merasa sangat bodoh membiarkan emosi menguasai kepala tanpa memastikan terlebih dulu, dan membuat dirinya tertangkap tangan seseorang yang bahkan bukan musuhnya.
"Apa ciri fisikku terlihat sama dengan pria itu? Kau harusnya bisa membedakan kami berdua itu tidak sulit karena kami bukan kembar. Lagi pula jika kau bisa membenci seseorang begitu hebatnya, bukankah wajahnya sulit dilupakan?" ujar Sasuke duduk di tepi kasur, dengan semangkuk bubur gandum di tangan.
"Sasuke, huh? Aku tidak punya urusan denganmu." Hidung bisa mengendus aroma manis bubur gandum dengan selai buah. Seberapa keras menutupi, perutnya yang lapar pasti berbunyi diluar kendali.
Sasuke bergumam, tahu sejak tadi Naruto menatap bubur gandum di tangannya lapar, tetapi malu untuk meminta. "Sebenarnya bukan kalimat itu yang ingin kudengar darimu."
Naruto mengamati juga menyelidik di waktu yang sama.
"Shikamaru tidak pernah membuatku kecewa sebelumnya. Dia seorang pemanah ahli, juga pembuat racun yang hebat, tapi kenapa racun itu tidak memiliki pengaruh di tubuhmu?" ujar Sasuke.
"Aku tidak akan mati secepat itu," balas Naruto.
Sasuke bergumam pelan. Mangkuk bubur gandum dari tangannya diletakkan di sisi kanan si pirang. "Harus kuakui, untuk saat ini pria sepertimu terlalu berharga jika dilenyapkan."
"Sudah kubilang aku tidak punya urusan denganmu!" geram Naruto muak, ingin melawan. Namun tubuhnya tidak mendukung keputusannya.
"Aku tidak tahu apa yang Itachi lakukan, tapi jika bandit hutan sepertimu ingin membunuh salah satu anggota keluarga Uchiha, tentu saja melindungi mereka menjadi tanggung jawabku."
Naruto tidak lagi membuka mulut saat mata pisau lipat menempel pada lehernya. Gerak Sasuke yang cepat hanya membuat posisinya semakin terdesak. Sekeras apa pun berusaha tidak akan ada hasilnya, saat ini semuanya akan jauh lebih baik jika dia diam, mengikuti semua keinginan pria itu tanpa menolak.
"Aku harus membunuhmu untuk memastikan keselamatan Itachi. Itu pekerjaan yang tidak sulit, tapi membuatku terlihat sangat sadis karena membunuh seseorang yang bahkan tidak bisa melawan," ada jeda sesaat, "juga ..., seperti yang kukatakan tadi, kau terlalu berharga untuk dilenyapkan. Tubuhmu kebal dengan racun paling mematikan milik Shikamaru. Kau tahu? Hal itu akan sangat menguntungkan jika kau menjadi anak buahku."
Selama beberapa detik keduanya tidak ada yang membuka mulut, hanya ada adu pandang di antara mereka.
"Sepertinya memang tidak ada jalan lain, huh? Para bandit memang sudah ditakdirkan untuk tidak bisa hidup dengan bahagia." Naruto tertawa. "Baiklah ..., aku akan jadi anak buahmu. Bahkan jadi anjing peliharaanmu jika perlu."
Sudut bibirnya yang pucat terangkat membentuk senyum puas. "Menyerahkan diri sebagai anjing peliharaan pada musuhmu? Aku tidak tahu kau ini sudah bosan hidup, bodoh, atau cerdas."
"Mungkin semuanya," sahut Naruto.
"Apa pun itu, aku tidak akan menolak," ujar Sasuke bangkit dari tepi kasur. "Bukankah semuanya jadi lebih mudah seperti ini? Memastikan kau tidak akan bertindak bodoh seperti melukai Itachi, juga mendapatkan anjing kebal racun di waktu bersamaan tidak buruk sama sekali. Posisi ini justru sangat menguntungkan bagiku."
"Benar," timpal Naruto menyeringai.
"Hn," Sasuke bergumam. Kakinya melangkah mendekat ke arah pintu, tapi belum sempat jemarinya meraih knop dia menoleh tiba-tiba ke arah si pirang. "Karena kau sudah jadi anjing baik hari ini, kau boleh tidur di kamarku. Jangan lupa habiskan buburnya karena mulai pukul 6 pagi besok, kau sudah jadi milikku."
Kali ini giliran Naruto yang tersenyum puas. Tidak peduli apa yang Sasuke katakan, menurutnya berada di lingkungan yang sama dengan para Uchiha sudah lebih dari cukup. Dia bisa dengan leluasa membuat strategi untuk membunuh Itachi, dan hidup dikelilingi fasilitas mewah seperti ini tentu sulit baginya menolak.
Seorang Master yang memilih kehebatannya berperang dibandingkan nyawa kakaknya sendiri, atau seorang bandit hebat yang beralih menjadi anjing peliharaan. Naruto tidak tahu mana yang lebih menyedihkan di antara mereka, dan dia tidak lagi peduli.
"Bubur gandum, huh? Rasanya sudah lama sekali aku tidak makan ini."
.
"Bawa pedang-pedang kayu ini ke sana, dan CEPAT!"
Keringat dingin sebesar biji jagung menetes dari pelipis Naruto. Kondisi tubuhnya belum membaik seperti semula, tetapi kepala prajurit angkuh dengan kumis tebalnya itu sengaja memberinya pekerjaan yang membutuhkan setidaknya tenaga dari 3 orang pria dewasa.
"KUBILANG CEPAT! APA KAU INI TULI?! Dasar bandit hutan, kalian tidak berguna untuk apa pun!"
Sasuke yang menatap dari balik jendela ruang kerja terlihat sangat menikmati tiap detiknya. Semakin berat tugas Naruto, semakin puas dia terlihat. Ditemani anggur, dan potongan keju dia memilih untuk menghabiskan paginya menatap ke arah lapangan, terutama pada si pirang yang kini berlari dengan wajah memucat.
"Brengsek," umpat Naruto pelan, hampir tidak terdengar siapa pun kecuali dirinya.
"Letakkan di sana hati-hati. Pedang-pedang itu memang tidak mudah rusak, tapi bukan berarti kau bisa memperlakukannya dengan kasar."
Naruto melirik ke arah sumber suara yang berasal dari sisi kanan. Pria dengan busur dan anak panah tersampir di punggung, bersandar pada tembok menatap lurus ke arahnya.
"Kau rupanya," ujar si pirang, "si pemanah ahli dan pembuat racun yang hebat, tapi sepertinya itu tidak berlaku untukku. Jadi apa kau akan coba memanahku lagi hari ini?"
"Nara Shikamaru," sahut pria itu memperkenalkan diri. Tidak memedulikan sindiran Naruto, dia melangkah mendekat. "Master memintaku untuk mengajarimu bagaimana para prajurit bekerja, dan posisimu. Karena mulai hari ini kau akan bergabung dengan kami."
"Aku? Di kelompok kalian?" tegas Naruto mengernyit.
Shikamaru tidak menyahut. Dia menjauhi Naruto beberapa langkah untuk mendekati prajurit angkuh dengan kumis tebalnya, lalu 5 keping koin emas dilemparnya. "Aku akan membawa si pirang pergi, kau ambil alih pekerjaan ini."
"Apa?!" sergah si prajurit cepat, "m-maksudku tuan Nara pekerjaan bandit hutan ini belum selesai, masih ada puluhan pedang kayu untuk para murid yang harus dipindahkan."
Shikamaru melirik ke arah 5 keping koin emas di tangan si prajurit. "Kau tidak bisa menolak, ini perintah dari Master, jadi anggap saja itu hasil kerja kerasmu hari ini."
Naruto tertawa puas melihat si prajurit, sedangkan Shikamaru masih dengan ekspresi datarnya. Setelah itu mereka berjalan beriringan, meski detik berikutnya si pirang sengaja melangkah lebih pelan sehingga dia bisa berjalan di belakang.
"Hey, Shika. Apa maksudmu dengan kelompok, sebelumnya?"
"Master memiliki ratusan prajurit. Bahkan ribuan jika dia mengumpulkan semua prajuritnya yang tersebar bertugas di luar kota. Para prajurit yang dipimpin olehnya terbagi menjadi beberapa kelompok, dan masing-masing kelompok memiliki tugas yang berbeda mengikuti strategi yang berlaku saat itu. Pengintaian, pelindung, penyerangan, penyelamatan, dan sabotase," jelas Shikamaru
Naruto membiarkan pria itu bicara lebih banyak.
"Setiap kelompok memiliki 1 prajurit khusus. Mereka yang disebut 'elit' bertugas sebagai kepala utama. Mereka dilatih lebih keras jika dibandingkan dengan prajurit lainnya, dan terpilih karena dapat diandalkan. Fisik juga mental yang kuat, memiliki keyakinan, keberanian, keterampilan untuk beroperasi secara individu atau berkelompok."
"Kau salah satu dari 'mereka' bukan?" selidik Naruto.
Shikamaru bergumam singkat, lalu dia menghentikan langkahnya di sebuah pohon besar yang cukup rindang hanya untuk bersandar.
"Nara Shikamaru seorang pemanah ahli dan pembuat racun yang hebat, tidak mungkin jika posisimu hanya sebagai prajurit biasa. Lalu ..., pelindung? Pengintai? Penyerang?" timpal Naruto lagi sedikit mengejek.
"Sabotase," sahut Shikamaru datar.
Naruto tersenyum sinis. "Apa kau ini sama sekali tidak punya emosi? Aku sudah mengejekmu berulang kali, jangan bilang kau tidak sadar."
"Aku sudah membuang itu sejak lama, lagi pula emosi hanya akan membuat energiku terbuang percuma," sahutnya datar.
"Sepertinya bekerja satu kelompok dengan prajurit elit sepertimu akan sangat sulit, huh?" goda Naruto lagi.
"Mungkin," balas Shikamaru singkat.
Keduanya tidak ada yang berbicara saat itu, hingga si pirang membuka lagi mulutnya.
"Mulanya kukira Master hanya pria biasa yang melatih anak-anak kecil bagaimana caranya menggunakan senjata untuk melindungi diri. Status miliknya yang hebat didapatkan dari keluarganya yang berpengaruh di kerajaan hanya untuk mengumpulkan hormat dari orang sekitarnya," ujar Naruto, mencoba menggali semua informasi.
"Maksudmu seorang Master mendapatkan semuanya dengan mudah bukan karena kehebatannya sendiri?" ada jeda sesaat, "aku pernah berpikir sama sepertimu, tetapi menempatkan dirimu pada barisan utama, tidak tahu kapan kau harus mati hanya untuk melindungi seluruh kota juga penduduk, setiap hari dibayangi oleh kematian, apa kau pikir itu menyenangkan? Lagi pula jika dalam sebuah keluarga ada dua orang dengan ambisi kuat mengincar posisi yang sama tentunya akan sulit, bukan?"
Naruto tidak merespon saat itu. Dia menatap datar ke arah papan kayu yang mengantung di atas pintu dengan lambang 4 buah pedang bertali berwarna merah saling mengikat, dan menyilang. Tempat di mana Sasuke menghabiskan waktu setiap harinya sebagai seorang Master.
"Pekerjaanku selesai." Shikamaru membetulkan posisi tubuhnya, lalu melirik sekilas ke arah si pirang. "Aku akan melapor pada Master dan kembali berlatih. Terserah apa yang ingin kau lakukan setelah ini, tapi Master menginginkan kondisi tubuhmu cepat pulih."
"Naruto," ada jeda sesaat, "Uzumaki Naruto. Katakan itu pada Sasuke, bagaimanapun juga dia harus mengenali nama anak buahnya, bukan?"
Shikamaru menghela napas panjang. "Kau harusnya menghormati sedikit dengan memanggilnya Master."
Naruto tidak lagi merespon, dia menatap lekat ke arah punggung Shikamaru yang kini meninggalkannya jauh di belakang. "Jadi begitu rupanya. Sasuke pekerja keras, tetapi Itachi seorang pembunuh. Mereka benar-benar berbeda," batinnya.
.
"Keadaanya cukup membaik, meskipun belum sempurna. Dia pria yang cukup cerdas, kemampuan fisiknya luar biasa, dan mengerti bagaimana cara menggunakan senjata."
Sasuke meletakkan buku tebal bersampul merah kembali ke dalam rak, lalu dia menoleh. "Menjadikan bandit hutan sebagai prajurit sepertinya bukan ide yang buruk, huh? Mereka cukup istimewa, aku sudah melihatnya dengan mata kepalaku sendiri."
Shikamaru mengangguk, berusaha bersikap normal karena tidak ingin menunjukkan raut ragu pada wajah.
"Kau bisa menggunakan pria itu sebagai bahan percobaan racun milikmu. Dia tidak akan mati. Bukankah itu menguntungkan dua sisi?" ujar Sasuke datar.
"Tapi—"
"Pria itu kombinasi yang sempurna untukku, Shika," potong Sasuke cepat, "keputusanku sudah bulat. Aku menginginkan prajurit sepertinya tidak peduli apa yang sebenarnya terjadi di antara pria itu dan Itachi. Aku tidak bisa melepas kesempatan emas ini begitu saja. Aku tahu dia memang berbahaya, dan keberadaannya bisa mengancam setiap saat, tetapi selama pria itu ada di bawah kuasaku akan kupastikan dia tidak akan pernah bisa melakukan hal yang dia inginkan."
Mulanya Shikamaru hanya diam. Namun pada akhirnya menyerah dengan membungkuk tepat di hadapan Sasuke tanda hormat.
"Apa kau percaya padaku, Shika?" ujar Sasuke datar.
"Aku percaya padamu Master," sahut Shikamaru cepat berusaha meyakinkan. "Kau akan melakukan apa pun hanya untuk menjaga nama baik Uchiha, kerajaan, juga kota ini. Bahkan jika itu mempertaruhkan nyawamu sendiri."
"Jadi," ada jeda sesaat, "apa kau mau membantu meski itu berarti kau harus bekerja dua kali lebih keras selama ada Naruto di sini?" lanjut Sasuke, mengamati dengan sepasang mata hitamnya yang tajam.
"Bukan masalah bagiku, Master."
Melihat Shikamaru tidak menolak, Sasuke melangkah kembali ke meja. Dari tempatnya berdiri dia mengambil salah satu berkas dari dalam laci. Berkasnya sangat usang, bahkan tali dari kulit yang mengikatnya terlihat lapuk.
Shikamaru menatap ke arah berkas yang kini diletakkan di atas meja. Detik selanjutnya dia memerhatikan jemari Sasuke yang mulai memisahkan antara berkas satu, dan yang lainnya.
"11 tahun yang lalu ada keluarga terhormat dari kota ini yang dihukum karena terlalu banyak merugikan kerajaan," ujar Sasuke.
Shikamaru mendengar dengan saksama.
"Hukuman yang berlaku saat itu mengharuskan mereka dipenggal, tapi Master sebelumnya terlalu lemah," lanjut Sasuke.
"Dipenggal? Apa yang mereka lakukan sebenarnya?" tanya Shikamaru.
"Keluarga mereka memang berasal dari kalangan saudagar kaya raya. Semua orang tahu siapa mereka hanya dengan menyebutkan nama. Bahkan kepopuleran mereka saat itu hampir menyaingi para bangsawan. Setidaknya itu yang dipercaya kerajaan selama beberapa tahun terakhir. Tidak ada yang tahu jika sisi gelap dari keluarga mereka sebenarnya memperjualbelikan tanaman ilegal, wanita, juga prostitusi anak di bawah umur.
"Hingga kapal yang biasa mengangkut barang-barang mereka tenggelam karena ombak yang begitu besar. Keluarga mereka mengira tidak ada satu pun korban yang selamat, nyatanya satu anak laki-laki penumpang kapal yang akan dijual berhasil selamat dan melapor pada kerajaan tentang apa yang sebenarnya terjadi," jelas Sasuke, "setelah berita menyebar ke seluruh kota, kerajaan memutuskan hukum penggal pantas untuk mereka."
Tidak ada suara yang berasal dari bibirnya kala itu, tetapi untuk beberapa detik, ekspresi di wajah Shikamaru menggelap.
"Sayangnya, di waktu yang sudah ditentukan kerajaan tidak mampu memperlihatkan kepala mereka yang harusnya tidak lagi menyatu dengan tubuh pada para penduduk. Itu karena salah satu pangeran mengaku sering membeli anak-anak kecil untuk teman tidurnya, dan keluarga saudagar mengancam akan menyebarkan bukti aib si pangeran jika mereka dibunuh."
Shikamaru menatap Sasuke yang tertawa bingung, karena menurutnya tidak ada yang lucu dari cerita mengenaskan yang baru saja telinganya dengar.
"Kau tahu apa yang lebih buruknya lagi? Master yang harusnya menghukum keluarga saudagar itu, ternyata memiliki hubungan gelap dengan sang pangeran!" Tawa Sasuke pecah, "Tentu saja Master tidak mau hubungannya yang erat dengan kerajaan hancur, apalagi seluruh kota mengetahui aib kekasihnya."
Shikamaru tidak tahu bagaimana harus merespon, semua cerita dari masa lalu ini membuatnya perutnya mual.
"Aku benci bisnis yang tidak selesai seperti ini, bagaimana mungkin mereka bisa hidup dengan nyaman, dan pura-pura buta pada kenyataan? Aku memang lahir dari keluarga yang mengabdikan seluruh hidupnya pada kerajaan. Bahkan kau bisa melihatnya sendiri dari posisiku sekarang, tapi itu bukan berarti aku bisa membenarkan apa yang sudah mereka lakukan selama ini,
"Keluarga saudagar itu harusnya mati. Pangeran, juga Master kekasihnya. Bahkan jika kepala mereka digantung di tengah kota sebagai bukti, itu belum cukup untuk menebus seluruh rasa sakit yang dialami para wanita dan anak-anak yang harus melerelakan tubuhnya dijual, mimpi mereka direnggut, dan masa depan yang hancur. Itu sangat tidak adil, bukan?" lanjut Sasuke.
Shikamaru bisa melihat emosi yang menyulut dari sepasang netra Sasuke, dia juga bisa merasakan kesungguhan dari kalimat yang diucap bibir pucat itu.
Sasuke menoleh ke arah jendela. "Aku tahu ini cerita lama yang harusnya tidak lagi dibahas, tapi dari berita yang kudengar terakhir kali mereka masih hidup nyaman di hutan, bahkan membuka bar untuk para bandit di sana. Apa itu tidak membuatmu iritasi?"
Kalimat terakhir Sasuke membuka paksa bibirnya yang sedari tadi terkunci. "Bandit hutan?"
Sasuke bergumam.
"Apa ini ada hubungannya dengan Naruto?" tanya Shikamaru lagi.
"Mungkin iya, mungkin tidak," sahut Sasuke, "aku tidak tahu pastinya Shika, tapi Naruto yang memang hidup di hutan sudah pasti lebih paham tentang hal disekitarnya, bukan?"
Kali ini Shikamaru yang bergumam mengiyakan.
"Aku bisa saja mengirim kalian berdua untuk menyelidik, tapi kondisi Naruto saat ini hanya akan menyulitkanmu. Hingga kondisinya membaik, tugas ini tanggung jawabmu sepenuhnya," jelas Sasuke.
Shikamaru meraih berkas yang diberikan Sasuke untuknya. Dia membaca baris demi baris tulisan bertinta luntur, juga memerhatikan detil sketsa wajah para saudagar di lembar kedua, lalu bola matanya berhenti tepat di baris nama.
"Yamanaka?"
.
Semangkuk bubur gandum habis dilahap. Dari atas sofa empuk di kamar Sasuke, Naruto bersandar memandangi langit melalui jendela. Bosan, sebab tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Dia sudah menjelajahi seluruh bangunan, mengorek segala info yang bisa didapatnya dari seluruh penghuni. Namun setiap kali dia menyentuh soal Itachi, para prajurit, pelayan, juga koki masak memilih bungkam, atau mengalihkan topik pembicaraan mereka.
Dia tahu di mana pastinya Uchiha Itachi berada; kediaman Uchiha di sebelah timur kota, tapi melihat kondisinya sekarang, dia ragu Sasuke mengizinkannya meninggalkan tempat ini.
Ketuk di pintu terdengar beberapa kali.
Dari arah sofa, Naruto memerhatikan pelayan wanita yang menghampirinya dengan nampan berisikan beberapa butir pil, serta segelas air.
"Master me—"
"Aku tidak membutuhkannya," potong Naruto.
Si pelayan memberikan senyum ramah seolah tidak memedulikan penolakan Naruto. Nampan pada tangannya diletakkan di atas meja, jemarinya mengambil beberapa pil—tepatnya 3 buah—yang dicampurkan ke dalam gelas. Air yang semula bening berubah kehijauan dalam hitungan detik.
Naruto masih memerhatikan. Dalam kepalanya dia menyadari betapa Sasuke menginginkan kondisinya cepat pulih seperti semula. Obat, makanan, bahkan suplemen yang diracik khusus oleh medikus kerajaan terus diberikan untuknya. Diperlakukan spesial tidak seperti prajurit lainnya—benar-benar diperlakukan seperti peliharaan kesayangan, terkadang membuatnya tertawa ironis.
"Master menginginkan yang terbaik untukmu," ujar si pelayan.
Gelas di hadapan wajahnya membuat alis Naruto mengernyit. Dia bisa mencium aroma aneh menusuk tajam yang membuatnya mengernyit karena menahan pening di kepala. Dia tahu memang tidak ada obat yang enak, tapi seumur hidupnya baru kali ini mencium aroma yang tidak bisa dijabarkan jelas bagaimana.
"Kumohon," lanjut si pelayan.
Diperlakukan seperti anak kecil membuat Naruto terdesak. Dia malu. Bahkan pipinya memunculkan semburat merah tipis. Entah si pelayan sengaja membujuknya seperti itu, atau memang Sasuke yang meminta si pelayan untuk memperlakukannya seperti itu, Naruto tidak lagi tahu. Pastinya saat ini, dia tidak bisa lagi menolak.
Cairan dalam gelas ditenggak habis. Anehnya meski bau begitu tajam menyengat, rasanya di lidah tidak seburuk itu.
Si pelayan pergi dengan senyum puas, dan Naruto menghela napas dengan tubuh lemas di atas sofa. Dia benci efek mengantuk yang didapat setelah mengkonsumsi obat. Membuat tubuhnya tidak berdaya. Bahkan untuk membuka kelopak mata berat rasanya.
5 detik setelahnya dia tertidur pulas.
Entah sudah berapa jam terlewat setelah itu. Namun yang Naruto lihat saat kelopak matanya terbuka lagi; lilin yang semula padam sudah menyala, tirai yang semula terbuka kini menutup jendela, juga ekspresi dingin Sasuke yang menatapnya dari atas tepi kasur.
"Tidurmu nyenyak?"
Butuh beberapa detik bagi Naruto memilih gumam sebagai respon. Suaranya sangat serak, dan mengucap kata dirasa berat.
"Minum," ujar Sasuke, melangkah menghampiri.
Naruto sempat berpikir untuk menolak. Dia tidak ingin lagi mengkonsumsi obat yang membuatnya tidak berdaya, tapi melihat cairan dalam gelas yang diberikan Sasuke terlihat seperti air biasa, niatnya diurung. Tangannya meraih, lalu cairan dalam gelas ditenggak habis membasahi tenggorokan yang kering.
"Lebih baik?" tanya Sasuke, mengambil kembali gelas dari tangan Naruto. Dia menatap selama beberapa detik, sebelum menyentuh dahi si pirang untuk mengukur suhu tubuh.
Si pirang memalingkan wajah. Lagi-lagi rasa malu menyerangnya. Dia ini bandit hutan, terbiasa hidup keras sejak kecil, dan tidak seharusnya diperlakukan lembut seperti ini. Pelan dia mengucap, "Kapan kau memberiku tugas seperti prajurit lainnya?"
"Hn? Bukankah sudah kuberi tugas?" Sasuke balik bertanya.
Naruto berusaha mengingat. Entah memorinya melemah karena terlalu banyak tidur, atau Sasuke membodohinya. Dia tidak bisa mengingat diberi perintah hari ini. "Kau tidak memberikanku tugas," ujarnya ragu.
"Pedang kayu, perisai, anak panah, dan yang lainnya kau pindahkan pagi ini, itu tugas dariku," jelas Sasuke menatap datar, dan Naruto merasa harga dirinya diinjak.
"Apa kau pikir aku selemah itu?!" Tubuhnya menghentak bangkit untuk berdiri sejajar dengan si Uchiha. Ekspresi Naruto tampak jelas jika dia tidak suka diremehkan; wajahnya memerah dengan urat di dahi, serta tatap matanya setajam belati.
Lama mereka saling menatap, hingga Sasuke tertawa pelan.
"Kau pikir bisa menjalankan tugas dengan luka di seluruh tubuhmu? Kau pikir bisa membunuh dengan tangan itu?" Sasuke lagi-lagi balik bertanya. Sama sekali tidak terintimidasi, justru balik mendorong tubuh si pirang kembali ke atas sofa, hingga wajah mereka hanya berjarak 3 senti.
Naruto menatap tanpa berkedip. Sasuke terlalu dekat. Bahkan dia bisa merasakan deru napas hangat pria itu pada wajahnya.
"Apa yang kulakukan padamu tidak akan berujung sia-sia. Tidak ada yang suka anjing lemah, Naruto? Jadi diam saja dan ikuti perintahku." Sasuke tersenyum tipis, "Lagi pula, bukankah aku Master di sini dan kau anjingnya?"
Saat tubuh Sasuke menjauh, Naruto memilih bungkam. Tangannya erat mengepal dan giginya saling menghentak menahan emosi. Baru kali ini dia tidak tahu bagaimana harus merespon pernyataan si Uchiha.
.
5 jam lebih berkuda di dalam hutan, Shikamaru mendapati pemandangan yang tidak biasa. Tertarik, dia turun untuk menuntun kudanya mendekat.
Ada bangunan dari kayu yang terlihat tidak begitu kuat. Beberapa batang kayu peyangga terlihat lapuk, kayu-kayu lainnya yang digunakan tidak berkualitas bagus, juga penerangan dari lilin yang minim.
Shikamaru mengikat tali kekang kudanya pada salah satu pohon, lalu melangkah mendekati pintu waspada. Tangan yang semula mengenggam anak panah, beralih mengetuk permukaan pintu beberapa kali. Namun tidak terdengar ada jawaban dari dalam. Langit sudah gelap, tentu tidak akan ada yang mau membuka pintu untuk tamu mengingat hutan dikenal sebagai sarang para bandit. Tidak menyerah, dia coba mengetuk lebih keras. Untuk sesaat telinganya bisa mendengar suara langkah pelan dari dalam. Langkah kaki yang terdengar ragu-ragu, mendekati pintu perlahan.
Shikamaru tahu, harusnya dia mengucap satu atau dua patah kata. "Maaf. Apa kau bisa membantuku?" bohongnya, diiringi ketukan lebih keras.
Suara langkah kaki dari dalam tidak lagi terdengar, kali ini suara seorang wanita yang menyahut pelan. "S-Siapa kau?"
Shikamaru menaikkan sebelah alisnya. Dia mulai ragu apa ini taktik baru para bandit yang menggunakan wanita sebagai umpan, atau memang wanita itu hidup sendiri di dalam hutan.
"Siapa kau?!" Kali ini wanita itu meninggikan suaranya, karena tidak mendapat jawaban.
"Aku penjual bibit gandum dari desa sebelah barat, dan aku tersesat. Kota begitu jauh, kudaku sangat lemah dan butuh air. Dia sangat kehausan," ujar Shikamaru, lalu melanjutkan kalimatnya dengan bisik, "aku takut kudaku tidak mampu berlari lagi. Para bandit akan menjadikan ini kesempatan untuk merampok dan membunuhku. Kumohon, aku hanya minta satu ember air."
Cukup lama menunggu, pada akhirnya Shikamaru bisa mendengar suara gesek kayu pelan dari belakang pintu.
"Aku tidak tahu bagaimana caranya berterima kasih, nyonya. Aku hanya memiliki beberapa koin perunggu, jika kau menginginkannya sebagai ganti," ujar Shikamaru, menatap siluet wanita paruh baya yang mengintip dari balik pintu dengan membawa ember penuh berisikan air di tangan.
"Aku tidak membutuhkannya, lagi pula kau hanya mememinta air, tapi ..., apa kau bisa pergi sekarang? Letakkan saja embernya di luar setelah kau selesai," pinta wanita itu saat Shikamaru meraih ember dari tangannya.
Mengangguk paham. Shikamaru melangkah kembali ke tempat semula. Air dalam ember dituang ke atas tanah karena tidak dibutuhkan, lalu dia menuntun kudanya pergi.
Jika menginginkan lebih, wanita itu jelas bukan tandingannya. Hanya satu dorongan, juga anak panah berlumur racun diarahkan sebagai ancam sudah pasti bisa mendapat segala informasi yang diinginkan, tapi Shikamaru tidak suka memaksa dengan cara yang kotor. Lagi pula sang Master belum memerintah untuk membunuh, dan dia bukan pengecut yang bisa mengangkat tangannya pada wanita tua yang sudah menolongnya meski hanya pura-pura.
15 menit berjalan dia merogoh apel dari dalam saku. Si kuda yang melihat meringkik senang, menunggu apel disantap Shikamaru memutuskan untuk duduk di atas akar pohon, beristirahat.
"Dia bukan dari kalangan bandit. Sayang aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, tapi apa yang dilakukan wanita tua sepertinya seorang diri di sana? Penduduk buangan dari desa? Buangan dari kota? Atau wanita itu salah satu anggota keluarga Yamanaka?" Hanyut dalam pikiran, Shikamaru tidak menyadari ada seekor kelinci yang melompat ke arahnya. Saat kakinya bersentuhan dengan bulu, secara refleks busur ditarik lalu anak panah melesat cepat menembus perut si kelinci.
Darah segar menetes, mewarnai bulu yang semula putih menjadi merah gelap, juga dedaunan kering di atas tanah. Menyadari dia telah mengambil nyawa si kelinci, hembus napas pelan terdengar dari mulut.
"Kau hanya ingin cari makan, dan aku membunuhmu, huh?" ujarnya menghampiri si kelinci, berjongkok tepat di sampingnya, lalu menarik anak panah terlepas dari perut yang tidak lagi berwarna putih. "Kau punya orangtua? Pasangan? Atau mungkin anak-anak yang menunggumu kembali di sarang?"
Shikamaru mengusap lembut dahi si kelinci dengan ujung jemarinya, "Mereka tidak bisa melihatmu lagi."
.
"Master meminta sarapanmu dihabiskan."
Semalaman terjaga tidak membuat kondisinya memburuk. Bahkan Naruto sama sekali tidak mengantuk. Dari tempatnya berdiri—persis sebelah jendela—dia menoleh ke arah meja, lalu memalingkan wajah di detik selanjutnya untuk memerhatikan anak-anak kecil yang sedang berlatih dengan para prajurit. Dahulu cita-citanya berdiri di tengah lapang dengan pedang, dan perisai kayu. Berlari mengejar lawan, untuk menikam mereka tepat di selipan lengan dan pinggang.
Siapa yang menyangka, beberapa tahun setelahnya dia berdiri di tempat yang sama. Namun bukan dengan pedang atau perisai melainkan para pelayan yang membawa semangkuk bubur gandum, beberapa pil, dan segelas air.
Naruto muak. Sangat muak kehilangan paksa kontrol akan tubuhnya. Dia sudah merasa lebih baik, lalu untuk apa harus menelan obat yang membuatnya tidak bisa berfungsi.
"Aku akan menunggu hingga kau menghabiskan ma—"
"Sampai kapan kau akan memaksaku memakan obat-obatan ini?!" Dia menoleh sebelum melangkah dengan mengentak, emosi yang tertahan karena tidak bisa membalas pernyataan si Uchiha kemarin, secara tidak sadar dia limpahkan seluruhnya pada si pelayan.
"Aku hanya menjalankan instruksi dari Master," elak si pelayan masih memaksa bibirnya untuk tersenyum, meski telapak tangan mulai menggenggam erat tepian baju.
"Master! Master! Master?!" bentak Naruto, "Aku bisa membunuhmu di sini dan kau akan terbebas dari perintah pria itu!"
Kali ini, si pelayan tidak lagi tersenyum ramah. Bibirnya mulai pucat dengan tangan gemetar hebat melihat Naruto menatapnya tanpa berkedip. Dia melangkah mundur perlahan, hingga tubuhnya terpojok pada dinding. "A-Aku ..., aku h-hanya ... me—"
"Menjalankan perintah? Kehidupanmu ini sangat membosankan. Apa kau tidak pernah memiliki keinginan untuk bebas? Keinginan untuk mati? Karena aku bisa mengabulkan keinginanmu saat ini juga!"
Belum sempat Naruto mencengkram leher si pelayan, Sasuke sudah lebih dulu menarik tangannya ke arah belakang. Menguncinya tepat di punggung hingga Naruto tidak lagi bisa berkutik, hanya mematung di tempat sambil menatap tajam.
"Beraninya kau menyentuh wanita, terutama pelayanku!" sergah Sasuke mencengkram lebih kuat, hingga si pirang harus menahan protes dari tenggorokannya.
Si pelayan berlari meninggalkan ruangan setelah membungkuk sopan pada sang Master. Matanya memerah tidak mampu lagi menahan air yang sudah membendung di sudut mata, ekspresinya campur aduk antara takut, marah, juga lega.
Naruto balas dengan seringai, "Bagaimana denganmu? Memerintahkan seorang wanita lemah seperti mereka untuk memberi makan anjing buas yang bisa menyerang kapan saja? Apa itu salah satu fetismu?"
"Aku akan membunuhmu terlebih dulu, Naruto!" geram Sasuke.
"Hahahahaha—" Naruto tertawa, "Master kau membuatku takut, tapi ini bukan cerita tentang majikan dan peliharaannya yang akur. Bagaimana jika perliharaanmu menolak segala perintah?"
Sasuke melepas cengkraman tangan seraya mengentak kuat belakang kaki Naruto hingga membuatnya jatuh berlutut, lalu tangan kiri yang menahan beban tubuh pada lantai diinjaknya kuat. Semakin keras dia melihat si pirang berusaha menahan geram, semakin puas ekspresi wajahnya terlihat.
"Dengar Naruto," ujar Sasuke menaikkan salah satu kaku pada bahu si pirang, jemarinya yang bersuhu dingin mengangkat wajah pria itu untuk mendongak ke arahnya. Dia melanjutkan kalimat, "Lakukan saja perintahku. Karena aku tidak terbiasa menerima penolakan, ataupun negosiasi."
Naruto bisa mendengar dengan jelas tekanan volume pada akhir kalimat yang diucap si Uchiha. Tengorokannya terasa panas ingin membalas. Namun sekarang dia sadar tubuhnya memang belum pulih seperti biasa. Bahkan dia tidak mampu menahan serangan enteng yang diberikan pria itu padanya. Kondisi yang sangat menyedihkan, mengingat dia terbiasa membunuh siapa pun begitu mudah sebelumnya.
"Hn?" tegas Sasuke, meminta respon atas kalimat yang sebelumnya diucap.
Naruto menunduk. Berat, tetapi tidak punya pilihan selain mengikuti apa yang pria itu inginkan. Kali ini keputusannya sudah bulat. Sedikit ludah dari mulutnya yang kering ditelan, bersamaan dengan harga dirinya. "Baik, Master."
Sasuke mengangkat kakinya yang menginjak tangan Naruto. Melihat si pirang masih pada posisi semula juga tangan kiri pria itu yang mulai membiru, tubuhnya ikut berlutut merasa iba. Dia menatap selama beberapa detik, lalu tanpa ragu menarik tubuh si pirang ke dalam dekap.
Naruto menegang karena terkejut, napas tercekat, jantung seakan berhenti berdetak. Namun tidak berusaha untuk menolak sensasi aneh yang diberikan pria itu padanya. Dia membiarkan tubuhnya yang kaku didekap, helai rambutnya disentuh, juga bahunya yang digunakan sebagai tempat sangga kepala pria itu. Permukaan kulit mereka bersentuhan, suhu rendah tubuh si Uchiha terasa berbeda dengan suhu tubuhnya yang tinggi. Dia tidak mengerti bagaimana mungkin pria yang hampir membunuhnya kini memperlakukannya begitu lembut.
"Aku tahu dari caramu memprotes kau membenci kami para Uchiha, sebaliknya aku menginginkanmu," ada jeda sesaat, "Kau membenci Itachi, mungkin Itachi juga membencimu. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian dulu ..., tapi aku tidak akan pernah membencimu, Naruto," ujar Sasuke, "Kenapa hanya karena Itachi, aku tidak bisa memilikimu? Jika Itachi tidak membuatmu terluka di masa lalu, apa kau bisa memperlakukanku berbeda?"
Dada Naruto sesak. Rasa terbakar begitu hebat yang membuatnya mulai menarik napas dalam-dalam melalui mulut seakan ingin memadamkan api dalam tubuh.
"Seandainya aku yang bertemu denganmu lebih awal, mungkin kita tidak harus melewati pengalaman tidak menyenangkan seperti ini," lanjut Sasuke.
Semakin banyak Sasuke melontarkan kalimat, semakin perih rasa pada tenggorokan Naruto terasa. Dia tahu apa yang salah, tahu apa yang sedang terjadi, tahu mengapa tubuhnya mengkhianati seperti ini. Semuanya terjadi diluar keinginannya, dan dia benci merasakan pengelihatannya mulai kabur karena kedua netra yang mulai memanas.
"Berhenti," dia memohon, hampir terisak. Namun Sasuke semakin mendekapnya erat seakan tidak peduli, seakan tidak mendengar permintaannya.
Dia benci diperlakukan lembut, dia benci sentuhan lembut, dia benci kata-kata yang lembut. Dia benci semua hal yang membuatnya tersadar masih memiliki sisi lemah seperti manusia pada umumnya, karena sejak kecil dia tidak diizinkan untuk memperlihatkan sisi itu pada siapa pun, juga merasakannya.
"Kumohon ... berhenti..." Dia memohon lagi. Kali ini pipinya sudah basah, suaranya bergetar, dan kedua tangannya tidak lagi mampu menahan untuk balas mendekap.
"Kau tidak benar-benar menginginkannya untuk berhenti, bukan?" Sasuke tersenyum lembut. Wajah Naruto didorongnya ke dalam perpotongan leher dan pundak. Tidak lama setelah itu, dia merasa bajunya mulai basah oleh tetes hangat.
Naruto hilang kendali. Lagi-lagi kehilangan kendali atas tubuhnya, tetapi yang berbeda kali ini dia melakukannya dengan sadar.
.
Menyadari langkah sang kuda melambat, Shikamaru menarik tali kekangnya. Memutuskan berhenti sejenak di samping semak belukar, dia tahu memang sudah 3 jam lebih berkuda tanpa istirahat. Bahkan langit yang semula gelap saat ini terlihat begitu cerah, hewan nokturnal kembali ke sarang, sedangkan hewan diurnal mulai mencari mangsa untuk mengisi perut mereka.
Dari atas kuda dia memastikan sekitar waspada. Setelah dirasa aman, busur beserta anak panah disampir kembali pada punggung. Dia melompat turun menapak tanah. Mengusap dahi sang kuda beberapa kali sebelum memberinya sebuah apel yang langsung dilahap habis.
Paham itu sisa apel terakhir yang dibawa, Shikamaru menghela napas panjang.
Kembali ke kota dirasa tidak mungkin dengan sedikitnya info yang didapat, sedangkan melanjutkan kembali, dia tahu waktu yang diberikan Sasuke padanya mulai menipis. Kedua pilihan memiliki konsekuensi sama buruk, tetapi dia harus memilih.
"MENYINGKIR!"
Jerit yang didengarnya menyita perhatian. Shikamaru menoleh ke arah barat yang diyakini sebagai tempat asal. Dari suara dia bisa menebak jarak mereka sebenarnya tidak begitu jauh, hanya saja pepohonan yang tumbuh berdekatan satu dengan yang lain membuat aksesnya tertutup.
"JANGAN MENYENTUHKU!"
Jerit kedua, Shikamaru masih sama pada posisi semula—berdiri di samping kuda, dengan busur dan anak panah dalam genggam. Jujur saja dia tidak begitu peduli dengan pekerjaan sosial menyangkut wanita. Dia percaya mereka memiliki kesetaraan derajat yang sama, dan percaya mereka tidak selalu membutuhkan bantuannya karena wanita adalah mahluk yang kuat.
"KUBILANG JANGAN MENYENTUHKU!"
Jerit ketiga, Shikamaru tidak punya pilihan selain melihat apa yang sebenarnya terjadi. Jika memang pertolongan dibutuhkan maka dia akan memberikannya, sebaliknya jika tidak, dia akan kembali ke tempatnya semula tanpa menunjukkan diri.
Dari atas pohon dia memerhatikan. Empat orang pria—yang dia yakini sebagai bandit hutan—mengepung seorang wanita. Dilihat dari sisi mana pun jumlah mereka jelas tidak sebanding. Wanita itu hanya memiliki pisau lipat di tangan, seakan siap menyerang jika saja ada yang berani menyentuhnya, sedangkan empat pria yang lain memilih menggunakan tangan kosong untuk menyerang.
Jika Shikamaru berada di posisi mereka, dia tidak akan sebodoh para bandit yang menyepelekan keadaan. Wanita yang terdesak posisinya dengan senjata di tangan jauh lebih membahayakan daripada hewan buas mana pun. Menyentuh mereka dengan tangan kosong sama saja seperti memohon pada dewa kematian.
"Menyerah saja, aku tidak akan melukaimu jika kau tidak memberontak." Salah satu pria tertawa meremehkan. Berusaha melangkah mendekat, tanpa melepas tatap lapar dari pinggul si wanita.
"Kami ini pria baik-baik. Kau saja yang begitu arogan, menolak seluruh bantuan dari kami."
"Kau pasti senang masuk ke dalam kelompok kami," timpal pria lainnya.
"Aku akan memberikanmu semua perhiasan, pakaian mahal, dan semua alat rias yang kau inginkan, cantik."
"Mundur!" geram wanita itu, mengacungkan pisau sebagai tanda defensif. Kilat matanya penuh emosi, napas menderu, mimik wajah terlihat begitu keras seolah menahan diri untuk tidak lepas kendali.
"Huh? Kau pikir bisa melukai kami dengan mainan seperti itu?" Pria itu tertawa. Sengaja mengeraskan volume suara seolah merasa paling berkuasa di antara yang lainnya.
"Jangan menolak tawaran kami. Dia tidak lagi ada di sini, bukan? Siapa yang akan melindungimu nantinya jika bukan kami?"
"Lupakan saja pria sepertinya yang tidak peduli denganmu! Bagaimana mungkin kau bisa bertahan hidup membayangkan adikmu akan kembali seperti dulu? Dia sudah mati!"
Semua pria tertawa terbahak-bahak. Namun tidak bagi Shikamaru yang masih menatap dari atas pohon. Dia benar-benar merasa para bandit seperti mereka mungkin terlahir dengan isi kepala yang kosong. Hanya melihat sekali, dia bisa tahu jika wanita itu tidak akan menahan diri lebih lama lagi. Aura membunuh yang sangat intens terlihat dari sepasang netranya. Satu dorongan lagi, bisa dipastikan wanita itu akan meledak.
"Kau tahu? Bahkan semut bisa menggigit lebih sakit dibandingkan denganmu, manis," ujar pria lainnya, menyentuh paksa helai rambut si wanita dengan jemarinya.
Muak. Wanita itu spontan menoleh. Pisau ditebas tanpa ragu, detik setelahnya laung pria itu terdengar diiringi tiga jarinya yang jatuh ke atas tanah.
"B-Beraninya kau pelacur!" Pria lainnya mengumpat. Dia menatap ngeri ke arah rekannya yang berlutut, mendesah kesakitan, mencengkram lengan bersimbah darah dengan tangan gemetar.
"Sudah kukatakan untuk tidak menyentuhku," wanita itu mengucap, suaranya datar. Pisau yang kini diwarnai merah digenggam tangannya erat, tidak berniat dilepas.
Shikamaru menghela napas. Dia sudah bisa menebak sejak awal. Dia bisa membaca semua yang akan terjadi dengan mudah. Wanita itu sudah kehilangan kendali, wanita itu bisa membunuh tanpa diminta lagi, tetapi dia tidak akan mengizinkan tangan yang bersih itu dikotori oleh noda darah lebih banyak lagi hanya karena kebodohan beberapa pria.
"Bunuh wanita itu!"
Keempat pria menyerang serempak. Namun belum sempat satu jari pun menyentuh tubuh si wanita, empat anak panah melesat bagaikan kilat dari atas pohon, menembus tepat ke jantung mereka dari arah belakang.
Tubuh mereka ambruk ke atas tanah.
Wanita itu menarik napas dalam menatap mayat yang berjarak 5 senti dari kakinya. Beberapa detik kemudian tubuhnya ikut ambruk ke atas tanah dengan tangis pilu. Tidak tahu siapa yang menolong, tidak tahu harus berterima kasih ke mana, tetapi dia lega semuanya telah berakhir.
Dari atas, Shikamaru yang hendak pergi menoleh untuk terakhir kali. Dia tidak berniat untuk menunjukkan siapa dirinya pada wanita itu, juga tidak berniat mengoleksi ucapan terima kasih. Namun pemandangan yang dilihatnya saat ini membuat otaknya berhenti sejenak; wajah cantik wanita itu memerah, kedua pipi yang basah, dan helai rambutnya yang pirang panjang tergerai menyentuh tanah. Tiba-tiba saja, dia merasa kakinya sulit bergerak.
"Haaa," hela napas malas dari mulutnya mengawali langkah untuk melompat ke bawah.
Tidak peduli tatapan terkejut si wanita, Shikamaru berjongkok untuk menggenggam lengan yang lebih kecil darinya. Membersihkannya dari tetes darah dengan selembar kain, lalu membuang jauh-jauh pisau lipat dari genggam tangannya. Dirasa tidak ada penolakan, dia tidak buang waktu untuk membawa pergi wanita itu dari sana.
"Jangan menangis," ujar Shikamaru, "kau mampu memotong jari pria itu tadi, jadi jangan menangis dan membuat dirimu terlihat lemah sekarang."
Melihat busur beserta anak panah pada punggung Shikamaru, wanita itu menunduk dalam. Dia membiarkan air matanya mentes untuk terakhir kalinya hari itu, lalu mendongak dengan senyum lembut di bibirnya yang merah.
"Ino," ujar wanita itu pelan, "namaku Ino."
.
Continued
