Perbedaan Godlike dan Strong... Godlike adalah karakter terkuat dari yang lain dan sebagainya. Sedangkan Strong, merupakan hal yang lebih wajar. karena meskipun kuat, namun masih ada yang lebih kuat dari dirinya. Kalau di Naruto verse, kekuatan malaikat sama dengan Godlike, namun di DxD verse, maka akan menjadi Strong. Karena tidak perlu diberitahupun kita bisa bilang Manusia lebih lemah daripada yang ciptaan Suci seperti Malaikat atau mahluk gaib lainnya.

Jadi jika pengkarakteran Naruto disini, adalah Godlike di Naruto Verse...(seperti canon-nya yang saat ini berjalan) dan strong di DxD verse. Ditambah lagi dengan perubahannya menjadi Malaikat, tentu saja kekuatannya agak berbeda. Ya, pokoknya serealistis mungkin lah. nggak kaya..."Naruto adalah orang terkuat yang bisa melampoi Ophis di kekuatan penuhnya atau Tuhan..atau blalala."

Untuk sayap? Yang jelas lebih dari satu pasang. Karena kita mengingat sistem sayap malaikat yang ditentukan oleh kekuatan mereka.

Pairing? In development. Kita lihat seiring cerita berjalan. Namun, di bagian tertentu dalam chapter yang saya buat kedepannya pasti akan ada interaksi yang bisa/mungkin akan berjalan ke arah Romance. Harem? Kita lihat semampu perkembangan jalan. Karena saya tidak ingin merusak cerita saya dengan Plot Harem berlebihan, yang mungkin akan memakan banyak chapter dan juga Development sang tokoh-tokoh.

Light Starry Hope: oh...begitu. Bisa mengerti apa yang saya tulis setelah membaca fic saya semua? Hm...hmm... hahahahaha! Hebat. Meskipun saya tersanjung dengan apa yang anda katakan. Namun, akan saya bilang... pemikiran anda salah. Meskipun terlihat jalan ceritanya sama...namun, endingnya akan berbeda. Dan lebih complex. Meskipun terlihat monoton, seperti yang anda katakan. Tapi...ya, tetap aja yang anda katakan salah. Karena, jika anda melihat cerita dan plot manga sesungguhnya, maka akan sangat susah merubah sesuatu tanpa menghancurkan jalan ceritanya.

AkiraRaymundo: mehh... saya mah nggak belajar dimana-mana. Namun, banyak baca Fic, Novel dan sebagainya. Memperbaiki tata bahasa. Dan juga belajar dari pengalaman. Menulis dengan banyak itu tentu saja akan membuat kita semakin berkembang dan lebih terampil.

Dan terimakasih buat Reviews yang kalian berikan. Yang paling saya suka, adalah review panjang yng terkadang anda tulis. Membuat saya mengerti bagaimana perasaan anda dengan chapter yang lalu. Ketimbang.."lanjut!" wkwkw. Tapi tetap saja, saya suka dengan review kalian.

Disclaimer: Not own anything.


Seorang bocah kecil terlihat termenung menatap Jendela kecil. Menatap pohon kecil nan hijau yang tumbuh di pekerangan Rumah sakit, tatapan tersebut hanya terpaku pada Tumbuhan itu. Meskipun begitu...anak itu tidak melihat pohon kecil itu, namun...merenung jauh kembali disaat sebelum kejadian itu. Air mata ingin keluar dari sudut kedua matanya. Namun anak itu tidak mengeluarkannya. Menahan layaknya sebagai Pria sejati.

Kuat seperti Lelaki sesungguhnya...

Seperti Ayahnya katakan.

Yang sayangnya meninggalkan dirinya terlebih dahulu..

Perban menyelimuti kepala, tangan dan juga kaki Anak tersebut. Infus yang tertancap dipergelangan tangannya. Dan juga seorang Dokter dan Suster yang terkadang kembali untuk memeriksa kondisinya.

XXXXXX

Issei terdiam didepan batu Nisan. Tongkat jalan yang berada diketiaknya menopang beban tubuhnya. Orang-orang sudah pergi meninggalkan dirinya terlebih dahulu. Entah itu rekan sekantor ataupun sanak saudara Ayahnya.

"jadi siapa yang merawat anak itu?"

Issei mendengar dari kejauhan. Pembicaraan itu, apa yang dikatakan kerabat jauh Ibunya.

"sudah kukatakan pada Dia, tapi dia tetap menikahi Pria pecundang itu. Lihat, sekarang dia sudah mati, dan juga Suaminya yang bodoh itu. Aku tidak mau ada urusan dengan anak dari Pria itu. Kirim saja ke Yatim-piatu."

"..hei jangan keras-keras."

Issei mengeratkan pegangan tongkatnya. Rasa kemarahan dan sakit yang tertahan di hatinya membuatnya semakin buruk. Ia tidak tahu harus melakukan apa. Disatu sisi, ia akhirnya tahu mengapa Ayah dan Ibunya tidak pernah membicarakan keluarganya. Mempunyai hubungan darah dengan keluarga lain hanyalah sebuah omong kosong.

Pandangannya serasa buram. Ia tidak tahu...

Karena air mata memaksa untuk keluar kembali dari ujung matanya, ia bertanya kepada dirinya sendiri...mengapa semua ini bisa terjadi? Rencana liburan yang menyenangkan malah menjadi petaka yang membuat kehidupannya jatuh kebawah. Berbalik dengan cepat, sehingga dirinya tidak bisa beradaptasi.

Haruskah ia menerima nasibnya? Ditolak keluarga sendiri...

Ke Yatim piatu juga tidak seburuk kelihatannya.

Setidaknya itu yang ia ingin bisikkan dalam benak hatinya.

Bocah itu menundukkan kepalanya. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Dan sejenak ia menatap bayangan di bawah kakinya. Ada bayangan lain selain dirinya...

Seorang Pria menaruh bunga yang tidak ia tahu ke Batu Nisan Ayah dan Ibunya.

"Nak...terkadang ketika kita ingin menangis...Lebih baik menangislah. Memendam perasaan hanya akan membawa kita pada penyesalan pada akhirnya.,"

Issei melirik Pria itu dengan mata berkaca, seakan masih menahan perasaannya.

"tapi...Ayahku bilang..."

"ya...Ayahmu benar. Namun ketika hal seperti ini terjadi, maka kita juga akan kembali menjadi Manusia, yang mempunyai perasaan. Menangis adalah bentuk bagaimana kita menunjukkan betapa berharganya orang yang meninggalkan , kita tidak boleh merasakan kesedihan terlalu mendalam. Inilah lingkaran kehidupan yang mendekup Manusia."

Issei makin mengeratkan pegangan tongkatnya. Perban yang menutupi tangan kanannya ternodai dengan warna merah, akibat luka yang masih terbuka.

"Tapi ini Tidak adil! Mengapa Tuhan harus mengambil Ayah dan Ibuku!?"

Pria itu terdiam sebentar. Serasa tidak bergerak dengan apa yang dikatakan Anak itu. Namun hal itu tidak berlangsung lama, ketika Pria itumemberikan Issei senyum sedih.

"kau seharusnya merasa beruntung, Nak. Kau masih bisa merasakan bagaimana rasanya memiliki Ayah dan Ibu yang mencintaimu selama hidupnya. Kenangan mereka akan selalu bersama dirimu, dan tidak akan memudar. Kau harus bangga, bahwa kau pernah merasakan kasih sayang Orangtua, karena banyak Anak-anak sepertimu yang tidak pernah mendapat pengalaman memiliki Keluarga. Ada yang merupakan anak buangan, ada yang cacat fisik dan menjadi aib..."

Issei mendengar ucapan Pria itu. Meskipun telinga memerah akibat nasehat yang ia dengarkan. Dirinya namun tidak bisa menyingkirkan bayangan apa yang dikatakan Pria tersebut. Haruskah ia merasa bahagia karena pernah menerima kasih sayang Orangtua? Atau ia merasa harus egois?

Tidak adil...

"hiks...I,bu...Ayah..."

Issei akhirnya mengeluarkan air mata yang ia tahan. Jatuh membasahi pipinya dan mengalir dengan lembutnya. Sensasi dingin yang ia rasakan dari hatinya terdalam. Air mata yang mengalir dari dagunya dan akhirnya terjatuh dan membasahi tanah cokelat dibawah kakinya.

Sebuah tangan menyentuh kepala Anak tersebut dan mengusapnya dengan lembut.

Anak itu menangis semakin mengeras. Mencoba berteriak hingga mulutnya kering dan serak. Tanpa sadar, Issei menaruh kepalanya ke perut Pria tersebut. Menangis dan membasahi kemeja yang dipakai Pria berambut kuning itu.

Ibunya pernah mengatakan, agar tidak pernah berbicara dengan orang asing. Namun...

Semuanya sekarang sudah asing bagi dirinya.

"tidak apa-apa...karena waktu akan menyembuhkan luka yang berada di hatimu."

Issei mendengar Pria tersebut mengatakan hal itu. Namun ia tidak mengerti. Ia tidak mengerti orang dewasa berbicara. Dan hanya menerimanya dengan anggukan, yang tentunya terasa oleh pria tersebut.

"hei...siapa Namamu?"

"...I,ssei...Hyoudou Issei."

"Nama yang bagus. Namaku adalah ...Namikaze Minato."

"...senang berkenalan dengan anda Jii-san."

...

..

.

"Issei...maukah kau ikut denganku? Aku akan merawatmu seperti keluargaku sendiri. Mungkin aku tidak bisa menggantikan orangtuamu, namun...aku bisa memberikanmu kehangatan memiliki seseorang yang peduli padamu..."

Issei terdiam sebentar. Memikirkan apa yang dikatakan Pria tersebut. Kemudian melihat batu Nisan orangtuanya, seakan bertanya. Mengingat kembali apa yang dikatakan oleh relatif keluarganya. Ia pun membulatkan tekadnya...

"oke..."

Pria itu hanya tersenyum lembut. Yang membuat perasaan Issei membaik sedikit. Mencoba memberikan senyum kembali..namun yang bisa ia lakukan hanyalah senyum menangis...

Issei merasakan Pria itu memegang kepalanya kembali. "kalau begitu, tunggu disini... aku akan berbicara dengan sanak keluarga Ibu dan Ayahmu.."

Dan Pria itu menjauh , berjalan bagaikan para Bangsawan yang ia lihat di TV. Pria itu semakin menjauh dari pandanganya dan semakin mengecil setiap langkah yang ia ambil. Dan yang ia lihat terakhir adalah Wajah senang dari keluarganya...

Senang akan kepergian dirinya.

XXXXX

Issei membuka matanya secara perlahan. Menatap keatas langit-langit kamarnya. Merasakan sinar hangat matahari yang membasuh pipinya secara perlahan.

Mimpi itu lagi...

Senyum tipis tampak di wajah Issei ketika mengingat kejadian waktu itu. Dan sampai sekarang ia tidak pernah menyesali hal itu...

Issei terpaku. Terdiam. Sensasi lembut yang menyentuh Pipinya membuatnya menduga-duga.

'OPPAI~" dalam hati Issei sudah berteriak dengan girangnya. Mengingat kembali sifat alami yang ia miliki. Wajah pemuda itu langsung berubah menjadi mesum. Tangannya serasa kejang, serasa tertarik ingin merasakan kelembutan dua buah dada tersebut. Namun menahan nafsunya, saat melihat wajah Gadis yang masih disampingnya...

"Rias-senpai!?"

"ah...Issei.."

XXXXXKristoper21XXXXX

Bangunan yang rusak. Puing-puing yang dahulunya merupakan banguna Biara, kini hancur bersebaran disegala arah. Asap yang masih mengepul dari debu yang ditimbulkan, mengganggu pemandangan mata.

Seorang Pria duduk disalah satu Batu besar. Digenggaman tangan kanannya, terdapat pedang panjang yang diselimuti cahaya kuning dan juga noda darah. Pandangan pria itu penuh akan kesedihan, namun tidak menunjukkan penyesalan. Pria tersebut menatap langit dan menutup matanya. Sayap-sayap putih yang berada dibelakangnya mulai menghilang dengan perlahan. Lingkaran cahaya yang berada di kepalanya juga meredup dan juga menghilang dari pandangan.

Kehancuran yang berada disekitarnya memberikan gambaran yang menyedihkan.

"...seharusnya kau tidak melakukan itu... Nak. Namun, dosa yang telah kau lakukan terlau besar untuk dimaafkan, untuk Jenis seperti kami." Pria itu berbicara dengan lembut, namun disertai nada tajam yang menusuk.

"k,kau ti...tidak tahu apa yang..k,kau lakukan... Aku tidak akan mati disini! Tidak akan." Suara tersendak-sendak bagaikan bisikan memasuki telinga Pria tersebut.

Seorang Pemuda berusaha untuk bangit, namun ia tidak bisa. Karena kakinya sudah terpotong dan musnah dari pandangan...

Ia mencoba menggerakan tangannya, namun hanya ilusi bayangan yang berada. Karena tangannya sudah hancur menjadi gilingan daging...

"aku..aku ahli waris Klan Astaroth, kala..h oleh...malaikat rendahan s,sepertimu..." Pemuda berwajah tampan menatap Pria berambut kuning itu dengan tatapan penuh akan benci. "kau t,tidak tahu siapa aku...aku adalah saudara dari Maou yang sekarang... kau memicu perang disini..."

"aku tahu akan itu. Namun, engkau yang memulainya Nak. Kalian para Iblis melakukan sesuka kalian. Namun, engkau juga seharusnya tahu, biarawati dari bagian mana. Menyembah siapa. Dan kau tetap melakukannya. Jangan membenciku...Diadora Astaroth, namun bencilah dosa yang kau buat. Membunuh sama saja mengirimmu kembali ke tempatmu... dan karena inilah...aku memberikanmu "

Pria itu menaikkan tangannya kelangit beserta pedangnya, dan berbisik seraya menutup matanya.

"Pedangku, pedang-Nya...yang menghunuskan segala Dosa. Keinginan dan kehendaknya...Menebas segala yang menghalangi baik itu Manusia atau ciptaan lainnya... engkau pembuat Dosa

...hancurlah bersama jiwamu."

"ERASER"

Bagaikan lidah-lidah yang menjilat keluar dari pedang suci tersebut. Menyelimuti pedang yang terbuat dari emas paling murni itu dari pangkal hingga ujung, dan akhirnya menuju kelangit. Menembak membelah awan. Dan kemudian kembali kepermukaan bumi. Dan menyelimuti permukaan disekitar Malaikat tersebut dengan cahaya yang membutakan mata.

Hal terakhir yang dilihat Diadora Astaroth adalah cahaya yang meyelimuti dirinya...

Tidak ada rasa sakit.

Namun tubuhnya mulai menghilang bersama udara...

Yang hanya ia rasakan adalah kekosongan. Kekosongan didalam hatinya...

Ia tidak merasakan lagi tubuhnya...

Ia mulai lupa berpikir...

Mulai lupa untuk melihat...

Mulai lupa untuk bernafas...

Mulai lupa untuk menunjukkan emosi...

Lupa akan segala hal...

Seperti jiwanya... yang mulai menghilang dari dirinya. Seperti segala hal yang membuat dirinya terhapus dari kenyataan...

Hingga pada akhirnya ia hanyalah ketidakadaan. Kekosongan...seseorang yang ada di ingatan mahluk lain, namun tidak akan pernah ditemukan dimana-pun.

.

.

Penghapusan keberadaan secara mutlak.

.

Pria itu terdiam, tidak bergerak. Pedang yang masih menghunus kelangit memudar dari pandangan. Menghilang dari pandangan mata, dan kemudian menghilang dari kenyataan.

Darah tipis keluar dari ujung mulut Pria tersebut.

"kau terlalu berlebihan...seperti biasa, Naruto.."

Suara lembut bagaikan dawai memasuki pendengaran Pria tersebut. Pupilnya melebar mendengar suara yang ia sangat kenal. Inilah yang ia takutkan. Mereka menemukannya. Apakah ini kesalahannya? Ikut campur dengan dunia gaib?

"akhirnya...aku menemukanmu.."

"bagaimana bisa?"

Wanita itu mengeluarkan tawa halus yang lembut "tentu saja...karena kekuatan yang engkau keluarkan. Karena kau menggunakan kekuatan itu. Kekuatan yang diberikan oleh-Nya. Penghapusan secara mutlak." Wanita itu berjalan dengan pelan, tanpa menimbulkan suara disetiap langkahnya. "seluruh penghuni surga tahu ketika kau menggunakan itu"

"...begitukah...Gabriel" Naruto berbicara dengan nada lelah..."dan...sepertinya kau tidak pernah berhenti memanggilku dengan nama itu. Sudah kukatakan...jangan pernah memanggilku lagi dengan nama itu."

"setelah ratusan tahun tidak pernah bertemu, hanya itu yang kau katakan? Aku kecewa..." Gabriel kemudian melihat sekitarnya, dan hanya bisa meringis ketika melihat sekitarnya. Atau lebih tepatnya...tubuh-tubuh biarawati yang sudah mati.

"aku akan mengubur mereka..."

Terkejut, itulah ekspresi Malaikat tercantik di Surga tersebut. "Dikubur oleh seor ang malaikat? Engkau memang tidak pernah berhenti mengejutkanku,Naruto. Apalagi dari seorang seperti dirimu. Jiwa mereka sudah berada di Surga..."

"begitukah..." Pria itu hanya mengeluarkan senyum tipis.

XXXXXXX

Fajar mulai datang, langit mulai menerang. Menunjukkan sebentar lagi akan Matahari terbit. Rona merah dan oranye melukis langit pagi.

"kamu tahu... Apa yang kau lakukan tadi akan membawa perselisihan antara Fraksi surga dan Iblis semakin memanas?"

"ya...aku tahu hal itu, namun kembali lagi...siapa yang memulai? Aku tidak bisa diam saja ketika mendengar suara yang memasuki telingaku. Meminta tolong, namun tidak ada satupun yang datang. Disatu sisi...aku tidak ingin berhubungan dengan Dunia gaib lagi...tetapi ketika merasakannya...aku tidak bisa diam begitu saja." Pria itu menghela nafasnya. Menatap langit dan menyisir rambutnya menggunakan jemarinya menuju arah belakang.

Tangan dan kemejanya yang kotor tidak menjadi halangan baginya.

"Gabriel...katakan, bagaimana Surga...pada saat ini?"

Wanita itu memberikan tatapan yang membuat Naruto tidak nyaman. Menatap bagaikan mencari sesuatu...

"meskipun mengalami kesulitan pada saat pertama. Namun, kami dapat mengendalikan sistem Surga dengan Michael sebagai pusatnya. Dan dari waktu ke waktu...jenis kita mulai berkurang. Setelah Tuhan tidak ada... banyak Malaikat yang mulai kehilangan jalannya, dan akhirnya jatuh karena tidak ada yang membimbing mereka."

"begitukah..." kata itu serasa kosong dimulutnya. Terbangun kembali ke kenyataan pahit yang memang harus ia terima. Meskipun ia sudah mengetahui akan hal sepert ini. Namun didalam hati ia masih berharap agar Jenisnya bisa bertahan.

Tapi...ia tidak bisa berkata apa-apa selain itu. Karena, ia sendiri juga sudah tidak menginjakkan kaki di Surga.

Pria itu kemudian melihat jam tangannya...dan hanya bisa tersenyum tipis...

"sebaiknya aku pergi...Gabriel." Naruto kemudian mulai melanjutkan langkahnya..

"apa kau...akan lari begitu saja, Naruto?"

Pertanyaan itu membuat Pria itu terhenti di langkahnya.

Naruto melihat dari pundaknya... namun cahaya pagi matahari mulai menghalangi pemandangannya untuk melihat wajah wanita itu. Membuatnya menyipitkan mata. Tidak dapat melihat ekspresi wanita itu pada saat ini. Rambut pirang yang bergelombang serasa meyerap matahari dan memberikan cahaya tersendiri...

Serasa tidak layak dilihat oleh dirinya.

"aku tak pernah lari...dan aku tidak pernah akan lari. Aku sudah membuat janji..." Pria itu memberikan tatapan kesal "dan sudah berapa kali harus kubilang... jangan pernah memanggilku dengan nama itu lagi!"

"tapi..." wanita itu menatap dengan berharap. Bayangan yang memberikan senyum sedih..."nama itulah yang selalu aku kenang...sampai pada saat ini."

Naruto terdiam sebentar. Ekspresi wajahnya datar bagaikan air laut yang tenang. Namun Matanya mengatakan hal yang lain. Percikkan kecil emosi terlintas di mata berwarna biru tersebut.

"Nama itulah yang diberikan padaku, Gabriel. Ia telah memberikanku nama yang baru. ...Tidak bisakah ...kau mengerti?" Pria berambut kuning itu berbisik dengan pelan. Angin membawa ucapan itu dan menuju Gabriel...

"he..kurasa kau tak akan pernah mengerti. Kau selalu saja begitu... " Pria itu kemudian berjalan... semakin menjauh. ,semakin mengecil disetiap langkah yang ia ambil. Dan pada akhirnya, hilang bersama angin yang berhembus di wajahnya. Dan yang terakhir didengar Gabriel adalah bisikkan yang membuat sesuatu didalam dirinya aneh

. Sesuatu...yang sakit.

"membuatku...repot..."

Wanita terkuat di Surga itu kemudian membawa sayapnya keluar. Putih suci yang menghiasi pagi. Mengepakkan sayap bagaikan burung-burung merpati, dan meninggalkan permukaan bumi. Bulu-bulu putih berjatuhan dengan pelan, dan menghiasi setiap langit...dengan keindahan yang ditimbulkan oleh mahluk suci tersebut.

Namun entah mengapa...

entah mengapa, kepakkan sayap tersebut serasa tak bertenaga. .

..

.

Serasa ...Lemah...

XXXXXXXXX

"ah...Tou-san?"

"tentu saja, kau pikir siapa?"

Issei membuka Pintu rumah tersebut dengan tawa gugup. "ee..." Issei kemudian melihat kondisi Ayahnya dari atas sampai bawah. Merasakan sesuatu yang aneh... sesuatu yang membuatnya merasa...takut.

"kau tak perlu menatapku seperti itu Nak." Naruto kemudian mengendus ketiaknya. "...aku tahu aku kotor. Tapi aku tidak sekotor saat dirimu B.A.B di celana"

"gakh.. Tou-san! Jangan ingatkan aku itu lagi!" seketika itu, Issei melupakan apa yang ia pikirkan. Dan mencoba menghilangkan ingatan memalukan yang baru saja dikatakan oleh Ayahnya.

"terserah, aku mau mandi" Naruto kemudian membuka pakaiannya satu persatu. Dan mengambil handuk dari gantungan yang berada di dinding.

"ah..sial. Aku benci saat kau menunjukkan itu!"

Naruto memberikan Issei tatapan aneh. Dan akhirnya baru menyadari apa yang dimaksud. "oh...begitukah~" Naruto kemudian memberikan Issei pose layaknya Body Builder. Menunjukkan otot dan Six-pack yang dimiliki tubuhnya.

"ah..inilah yang membedakan kita sebagai Pria...Issei." Naruto berbicara dengan bangganya...dan juga dengan nada memperolok.

"sial! Tidak disekolah. Tidak Dirumah. Ya Tuh- aww" Sebelum Issei bisa melanjutkan perkataannya. Sakit kepala sudah menyerangnya.

Seketika itu, Naruto terdiam dan menghentikkan aksinya. Dan kemudian menghela nafas...

"kalau sakit kepala, minum obat Issei."

"ah...sepertinya begitu." Issei serasa tidak mengerti apa yang terjadi. Dan hanya mengelus kepalanya.. Naruto yang melihat anaknya sudah kembali ke kondisi semula hanya tersenyum tipis. Tidak menunjukkannya...

Ia dengan senyum kemudian melangkah menuju kamar mandi.

"oh...tidak" Issei menjadi panik dengan seketika. Tangannya berusaha meraih ayahnya, namun terlambat..."jangan!"

Namun seperti yang sudah dijelaskan. Sudah terlambat...

Naruto dengan perlahan membuka handel pintu tersebut...

Seorang wanita atau gadis, pokoknya gendernya perempuan. Yang memiliki body Killer. Sedang mandi...dengan air yang mancur membasahi tubuhnya... rambut merah yang menawan dan juga refleksi dari air yang mengalir di kulit putih tersebut. Akhirnya gadis itu menyadari sesuatu, dan melirikkan wajahnya...

"ah..."

Serasa mengulang reaksi apa yang dikatakan oleh suara lembut tersebut... "Ah...maaf"

Mata tersebut berpapasan sejenak. Bibir bergerak serasa mengucapkan sesuatu...dan kemudian, Naruto membalikkan wajahnya dan menutup Pintu kamar mandi tersebut. Asap keluar dari hidung Naruto dan menatap Issei dengan tajam..

"Issei...seharusnya kau bilang, ada wanita seksi di Kamar mandi kita. Bukan! Maksudku...mengapa kau membawa gadis lain? Ha!? Bukankah kau sudah mempunyai pacar!?" Naruto kemudian menubruk kepala Issei dengan kepalan tangannya.. "sudah kubilang, ketika kau punya pacar, jangan mencoba bermain dari belakang!"

"gyaaa! Bukan begitu.. biar kujelaskan!" Issei memegang kepalanya yang membenjol dengan besar.

"aku kecewa... Issei. Aku tidak pernah mengajarkanmu begini" Naruto memberikkan Issei tatapan kecewa dan menggelengkan kepalanya.

"Tou-san~ biar kujelaskan~~" Air mata dengan deras mengalir dari pipi Issei.

XXXXX

Dan ...dengan sedikit penjelasan dari Issei dan Rias, akhirnya Naruto menggaruk kepala belakangnya dengan tawa gugup.

"dan dia adalah Rias Gremory...ketua Klub Gaib di Sekolahku... dan..." Issei mendekati Ayahnya dan berbisik dengan pelan..."Dia Gadis tercantik di Sekolahku..."

"oh...ha,ha,ha,ha! Katakan dari tadi dong!" Naruto dengan tawa lebar menepuk-nepuk punggung Issei dari samping meja makan.

"Pak tua, Itu sakit tahu!"

Namun, Naruto hanya mengacuhkan hal tersebut. "ah...silahkan makan Rias-chan, kamu satu-satunya Gadis yang dibawa Issei ke Rumah selama masa pencarian jati dirinya. Kurasa ini hari dimana aku merayakannya. Tadinya aku berpikir, Hormon Issei sudah pada puncaknya dan akhirnya menculik gadis tak bersalah sepertimu...untuk di-"

"...Tou-san, seberapa rendahnya kau menatap kehidupan Remajaku?"

Sekali lagi. Issei diacuhkan...

"Terimakasih, Namikaze-san... saya tidak tahu bagaimana membalas kebaikan anda..."

"meh...tidak usah. Yang penting jangan gunakan bahasa Formal denganku, itu terlalu pahit di lidah.."

Rias hanya tersenyum tipis. Menatap Pria yang diketahui sebagai Ayah angkat Issei. Ia masih tidak bisa menebak Pria yang didepannya. Ekspresi yang dikeluarkan juga sangat murni...tidak dibuat-buat. Namun, Rias juga mengingat janji yang dibuat malam tadi. Dirinya akan menepati janji itu, hingga Ayahnya Issei mengijinkannya. Urusan keluarga bukanlah sesuatu yang ingin dia ikut campur. Apalagi dirinya tidak tahu mengenai seluk beluk keluarga Issei. Ditambah mendengar nama keluarga yang berbeda membuat Rias mulai menyusun satu-persatu petunjuk. Dan sudah jelas...Issei merupakan anak Adopsi..

"baiklah, Jii-san." Rias tersenyum.

"oh Tou-san. Kenapa tadi tidak berada di Rumah? ke mana? " Issei bertanya dengan santai.

...

..

"ah..aku menemui seorang teman."

"ee teman atau apa~"

.

"oi. Issei, sampai kapan kau diam? Mandi sana!"

"astaga! Aku lupa!" dengan cepat, Issei beranjak dan menuju kamarnya, berniat untuk mandi. Karena jika tidak, ia akan terlambat sekolah.

...

..

.

Hening. Rias merasa mulai tidak nyaman, dengan atmosfer yang berada di Udara. Dirinya tahu, ini karena sifat alaminya sebagai Iblis yang selalu merespon sesuatu yang suci...seperti didepannya. Namun, ia mencoba untuk membiasakan dirinya. Ia tidak ingin terlihat seperti orang bodoh didepan Ayah pion barunya.

"Rias-san, jadi bagaimana keadaan Issei? Apakah dia sudah pulih?"

Rias menjadi serius, namun masih tersenyum. Saat mendengar perubahan panggilan dari "chan" menjadi "san". Tatapan Rias tertuju pada satu pasang bola mata berwarna biru tersebut. Seperti jiwanya tersedot kedalam. Itulah yang Rias rasakan saat melihat tatapan khawatir dari Naruto.

"jangan khawatir... ia akan baik-baik saja. Jika Jii-san melihat sendiri... Issei-kun sudah benar-benar pulih."

"ah...baguslah." Pria itu tersenyum sedih dan kemudian melihat kedinding...sebuah bingkai yang berisikan Foto. Foto kenangan saat bermain di taman. "terkadang aku terlalu mengkhawatirkannya..."

"semua orang-tua tentu saja akan mengkhawatirkan anaknya, Jii-san. Tidak ada yang tidak..."

"begitukah..."

"yap"

Hening sekali lagi. Gadis itu tidak tahu harus memulai pembicaraan dari mana. Ia tidak suka dengan keheningan seperti ini yang serasa membuat jenuh. Pria itu tidak bersuara. Tidak berbicara lagi. Hanya sibuk dengan makanan didepannya, dan juga dasi yang ia pasang. Sepertinya Ayah Issei pekerja Kantor yang sibuk.

"oh...Tou-san. Kalau begitu...aku pergi dulu." Issei keluar dari kamarnya dengan pakaian lengkap Sekolah.

Rias kemudian beranjak dari tempat duduknya, dan kemudian memberikan hormat dengan membungkukkan badannya, dan juga mengikuti Issei keluar.

"nah...hati-hati. Dan Issei..."

"ya?"

"liat kejalan saat bawa sepeda. Jangan kebelakang melihat Gadis cantik aja!"

"Osu!"

Issei kemudian mengambil sepedanya dari bagasi. Dan membawanya keluar. Cahaya matahari pagi entah mengapa membuatnya terasa aneh. Meskipun masih gugup, dan tidak tahu cerita sebenarnya...

"eee...apa benar Rias-senpai? Kamu..mau ikut goncengan denganku?"

"apa tidk boleh?"

"tidak,tidak! Bukan begitu...hanya saja, aku tidak mengerti bagaimana kamu bisa berada disampingku tadi pagi..." Wajah Issei memerah tersipu malu

"oh...begitu." Rias kemudian dengan perlahan duduk di bangku goncengan sepeda tersebut. Dan memeluk pinggang Issei untuk pegangan.

'wahhhh, tangan Senpai~ ehehehe'

Sepenjang jalan Issei tersenyum tidak jelas, bunga-bunga mekar disetiap ia mengayuh...

Setidaknya di pikiran Issei.

"ah...tidak mungkin!"

"Mati kau mesum!"

"tidak! Rias-sama sudah dinodai oleh Si mesum!"

Dan begitu seterusnya. Berbagai hujatan datang silih bergantih disetiap Issei semakin mendekat ke sekolah. Namun berkat latihan dan pengalaman sebagai anggota 3 mesum, ia bisa mengatakan; aku sudah kebal dengan hal seperti itu.

Issei kemudian memarkirkan sepedanya ke tempat parkir sekolah. Dan kemudian menatap Rias...

"Issei...jika kau ingin tahu kebenaran apa yang terjadi pada waktu itu. Datanglah ke ruangan Klub kami...klub Gaib." Rias kemudian beranjak meninggalkan Issei.

Issei hanya menatap Rias yang sudah dahulu pergi. Ia tidak mengerti mengapa...

Ada sesuatu yang aneh. Entah itu perasaannya...

Atau bukan...

Wajah serius pertama kali menghiasi ekspresi pemuda itu. Wajah yang jarang dilihat orang..

Rias berjalan melewati koridor kelas. Tatapan kagum, hormat dan nafsu mengiringi jalannya. Seperti biasa...seperti biasa bagaimana para siswa menatapnya. Hal itu sudah menjadi rutininitas bagi dirinya. Apalagi mengingat gelarnya yang merupakan siswi tercantik. Rias menghentikkan langkahnya saat mendengar namanya dipanggil...

"oh...kau Sona.." nada bosan tersebut nentu saja membuat gadis yang disebut menatap Rias dengan tatapan kesal. Yang tentu saja ia sukai..

"Rias, sekarang bukan waktunya. Kita mendapat informasi penting."

"informasi apa?" Rias memberikan perhatiannya dan menatap Sona Sitri dengan serius.

"Diadora Astaroth...pewaris dari Klan Astaroth...menghilang. Atau lebih tepatnya mati. Ia tidak ditemukan dimana-mana. Bahkan jejaknya pun seperti menghilang ditelan dimuka bumi. Hal ini sungguh membuat Dunia bawah menjadi kacau, mengingat ia juga merupakan Adik dari salah satu Maou, yaitu Ajuka Beelzebub."

"...hal ini tentu saja akan membuat ketegangan diantara Tiga Fraksi semakin menguat,dan memanas. Saling tuduh pasti tak akan terhindar lagi, mengingat siapa Diadora. Beelzebub-sama tentu saja tidak akan diam jika salah satu keluarganya menghilang tanpa jejak. Atau lebih tepatnya..mati tanpa ada petunjuk."


Done! Chapter 3 akhirnya selesai. Tidak banyak yang mau dikatakan. Seperti yang saya katakan di A/N di atas.

kristoper21 Out~

see 'ya next time!