Couplet 1 – Fragrance of Rice
(Dao Xiang / Fragrance of Rice © Jay Chou)
Ruangan ini 20 kali 10 luasnya. Lantainya beralaskan permadani wol biru kualitas top dengan bordir Phoenix raksasa dari benang emas di tengahnya. Di kedua sisi ruangan, piala emas berbagai ukuran dan bentuk dipajang dalam etalase-etalase kaca tebal yang bersandar pada permukaan dinding. Sertifikat-sertifikat penghargaan digantung pada tembok dalam bingkai kayu mahoni.
Di seberang pintu ruangan kantor ini ada sebuah jendela kaca yang besar nan mewah, di hadapannya ada satu set meja kerja dari kayu jati, sebuah plat nama emas berdiri di pinggir meja, nama 'Cao Cao' tercetak pada permukaannya yang mulus dan mengkilap. Seorang pria duduk di belakang meja, wajahnya menampakkan ekspresi bahwa dirinya sedang sangat, sangat depresi. Ia melempar kertas laporannya ke meja, lalu menghela napas panjang.
"Rating kita semakin turun," pria itu berdiri, menghadap ke jendela. "Dulu kita selalu menjadi Nomor Satu. Kini, kita hanya masuk sepuluh besar…"
"Saingan kita, SEC, kali ini menang empat penghargaan berturut-turut. WTC sukses meraih banyak penghargaan dalam bidang perfilman," ia berpaling pada pria muda yang berdiri beberapa meter di hadapan meja. "Apakah kau memiliki rencana untuk menyelamatkan W2E, Wenruo?"
Nama pria muda itu adalah Xun Wenruo alias Xun Yu, seorang cendekiawan yang lulus dari Universitas Nasional Xuchang dengan peringkat lima besar. Usianya 24 tahun. Prestasi yang telah diraihnya adalah 'Top 10 Horror Movie Author' serta 'Xuchang Movie Awards 2013'.
Xun Yu membungkuk. "Dalam bidang perfilman, kita masih sanggup mengungguli SEC. Yang harus dikhawatirkan adalah bidang musik. Banyak musisi berbakat yang keluar dari W2E semenjak keluarnya Sima Yi."
"Sebagian besar dari mereka memilih JET karena secara garis besar, JET menyediakan keuntungan yang lebih banyak untuk mereka serta memiliki modal yang lebih besar dibanding kita sekarang," lanjutnya. "Selain itu, mayoritas voters adalah remaja muda dan penyanyi veteran kita sudah tidak dapat menghibur mereka. Kita harus mencari pemusik yang selain berbakat, ia juga tampan ataupun cantik."
"Aku tahu itu. Liu Bei, anak kemarin sore itu, berhasil mendapatkan bocah 'Pria Tertampan 2015' ini. Aku sempat datang untuk melihat konser band bocah ini dan aku sempat menyesal. Nilai jual band itu selain pada ketampanan anggotanya, juga pada kualitas mereka yang bukan main profesionalisme-nya. Inilah hasil didikan seorang Zhuge Liang..."
Cao Cao kembali membuka laporan tadi. "WTC mendapatkan Qiao Bersaudara yang sangat berbakat dalam akting, khususnya untuk film bertemakan romansa," Cao Cao mengeluarkan "Aku tidak bisa menyangkal bahwa selain karena akting mereka sangat bagus, mereka juga cantik. Qiang Bian yang berkancah dalam genre musik rock juga tidak bisa dianggap remeh. Setiap album yang baru dipasarkan selalu laku habis sampai tidak ada satu pun yang tersisa. Bahkan Am*zon dan Eb*y pun kehabisan stok, membuat penggemar yang tidak sempat membeli sampai marah-marah dan menyumpahi toko online."
"Sementara album yang kita rilis, hanya berhasil terjual 30 persen dari target kita," untuk kesekian kalinya, ia menghela napas.
Wajah Xun Yu tidak berubah mendengar seluruh keluhan bos-nya, tetap tenang dan santai, seperti seseorang yang sudah pasti menemukan jalan keluarnya. Dan memang, ia telah memiliki jalan keluarnya.
"Cao daren, Xun Yu bisa membantu Anda untuk mencarikan beberapa orang yang hebat. Dan, Xun Yu telah menemukannya."
Cao Cao langsung bangkit. "Kau telah menemukannya?!"
Xun Yu menangguk, senyum di wajahnya semakin lebar. "Xun Yu memiliki tiga orang pilihan, dan tiga orang pilihan ini tidak termasuk bagian dari keluarga Anda."
"Oh? Siapa saja mereka?" wajah Cao Cao tidak bisa menyembunyikan rasa keingintahuannya.
"Mereka adalah Li Mancheng alias Li Dian, Yue Wenqian alias Yue Jin dan Guo Fengxiao alias Guo Jia. Mereka berbakat dalam dunia musik, khususnya Guo Jia yang multitalenta. Lalu, apakah Anda tahu bahwa dalam keluarga Anda sendiri; keluarga besar Cao, memiliki beberapa orang yang berbakat dalam dunia musik?"
Cao Cao mengangkat alis. "Ah…," ia kembali duduk. "Kau tahu bahwa Zihuan tidak terlalu berminat dalam bidang ini, ia lebih menyukai dunia akting. Padahal permainan pianonya sangat hebat; anak angkatku, Yin, bahkan masih kalah darinya."
Matanya menatap lekat kertas laporan kala melanjutkan, "Yin… dia memang berbakat bermain piano tetapi ia juga tidak tertarik dalam dunia entertainment. Ia lebih menyukai sastra. Aku pernah menawarinya tahun lalu untuk bergabung dengan W2E tetapi ia hanya tersenyum tanpa berkata satu kata apapun."
Cao Cao pusing tujuh keliling Xuchang memikirkan kedua anaknya yang bertalenta ini tidak menerapkan bakatnya di bidang yang tepat - menurutnya. Xun Yu manggut-manggut mendengar keluhan lain dari bos-nya. Ia memetik jari tangan kanannya, tersenyum.
"Xun Yu dapat membantu Cao daren untuk membujuk Cao erye agar ia bersedia untuk bergabung ke dalam W2E. Tetapi untuk Cao xiaojie, ada baiknya Cao daren sendiri yang membujuknya. Perempuan akan lebih menurut ketika fuqin-nya yang langsung datang untuk berbicara…"
Cao Cao tidak membalas, membayangkan kurang lebih bagaimana reaksi Cao Yin. Ya, kemungkinan besar akan ditolaknya seperti tahun lalu. Cao Cao mengurut dahinya memikirkan masa depan perusahaannya. Xun Yu hanya bisa diam melihat bos-nya yang sudah hampir mencapai limit.
W2E dalam sebuah masalah yang sangat besar…
...
Cao Cao masih memikirkan tentang perusahaannya hingga makan malam. Ia hanya duduk di hadapan meja bundar raksasa ini, makan tiga suap dan hanya menatap sayurannya sampai anak-anaknya semua selesai makan. Istrinya, Nyonya Bian, khawatir melihat kondisi suaminya yang stress sampai kehilangan nafsu makannya.
"Suamiku," Nyonya Bian mendekati Cao Cao, "Anda harus makan. Bila tidak, Anda akan jatuh sakit…"
Cao Cao menggelengkan kepala. Ia beranjak dari meja makan, berjalan menuju ruangannya yang ada di lantai atas. Sepasang kakinya membawanya menelusuri koridor, sampai di depan pintu ruang kamarnya. Ia membuka pintu, masuk ke dalam. Kemudian melanjutkan langkahnya ke depan jendela, membuka teralis jendela.
Ia melihat pemandangan malam kota Xuchang yang ramai oleh kegiatan orang-orang dan terang benderang oleh cahaya lampu-lampu. Cao Cao menarik napas dalam, kemudian menghembuskannya dengan gaya pasrah. Seorang Cao Cao yang tidak mengenal mundur kali ini terpojokkan dan putus asa. Otaknya terus berputar memikirkan sebuah cara untuk membujuk Cao Yin agar ia bersedia bergabung dengan W2E.
"Hai ji de ni shuo jia shi wei yi de cheng bao
Sui zhe dao xiang he liu ji xu ben pao
Wei wei xiao
Xiao shi hou de meng wo zhi dao~"
"Bu yao ku rang ying huo chong dai zhe ni tao pao
Xiang jian de ge yao yong yuan de yi kao
Hui jia ba
Hui dao zui chu de mei hao~"
Sepasang telinga Cao Cao menangkap suara yang melantunkan lagu indah itu, meresapi setiap baitnya. Suara seorang perempuan. Dan sangat dekat. Siapakah perempuan yang menyanyikan lagu indah nan berarti sangat dalam itu, batin Cao Cao.
Cao Cao memejamkan sepasang matanya, menikmati nyanyian tersebut. Hatinya yang gundah sedari tadi siang akhirnya merasa terbebaskan dari segala beban pikiran, kini rasa semangat kembali menyapu dirinya. Ia menoleh ke atas, menemukan siapa yang tengah menyanyikan lagu tersebut. Rupanya adalah Cao Yin si penyanyi itu. Cao Cao terkejut. Pasalnya, selama hampir 13 tahun Cao Yin hidup bersama keluarga Cao, ia baru kali ini mendengar anak angkatnya menyanyi!
Inilah penyanyi yang ia butuhkan dalam band penyelamat W2E! Begitu semangatnya, Cao Cao melangkah jauh lebih cepat dari sebelumnya, lurus ke ruangan anak angkatnya. Ia mengetuk pintu tiga kali, pintu dibuka beberapa saat kemudian oleh pemilik kamar.
"Ah, yifu - Ayah Angkat! Selamat malam!" Cao Yin menyapa berbarengan dengan seulas senyuman cerah. Suasana hati Cao Cao semakin baik melihat wajah cerah Cao Yin, tekad untuk memintanya bergabung dengan W2E semakin tidak bisa ditahan lagi.
"Yin, apakah kau yang menyanyikan lagu tadi?" tanya Cao Cao tanpa basa-basi. Cao Yin mengangguk. Tai hao la! – Bagus sekali! "Yin, ada yang perlu kubicarakan denganmu."
"Apakah ini masalah menyangkut W2E, yifu?" Cao Cao mengangguk pelan, wajahnya serius. Cao Yin tidak lagi berani menatap yifu-nya secara langsung. "A-ah… jadi… apa yang hendak yifu bicarakan…?" ia sendiri kagok.
"Yin, suaramu sungguh indah!" puji Cao Cao. "W2E sedang dalam ambang kehancuran dan hanya kau beserta anggota baru yang sanggup menyelamatkannya! Jika sampai W2E hancur, niscayanya keluarga kita dan seluruh keluarga karyawan W2E juga terkena imbasnya! Tentunya kau tidak mau hal ini sampai terjadi, bukan?"
Mendengar permintaan dan melihat keseriusan di wajah Cao Cao seperti ini, Cao Yin sekali lagi hanya bisa diam memandangi lantai yang diinjaknya. Tidak ada satupun kata-kata yang sanggup ia keluarkan. Ia ingin sekali membantu Cao Cao, membalas budi karena Cao Cao sudah merawatnya sampai detik ini juga, tetapi ada sesuatu menghalanginya untuk menjawab permintaan Cao Cao dengan 'ya' dan juga 'tidak'.
"Yin!" Cao Yin mengangkat kepalanya, melihat Cao Cao yang ber-kowtow di hadapannya. Ia membungkuk sampai dahinya menempel pada permukaan lantai. Ini membuat Cao Yin semakin sulit untuk menolak. Di satu sisi, ini adalah strategi Cao Cao.
Memang, ia seakan memaksa Cao Yin untuk bergabung tetapi jika anak angkatnya sampai tidak bergabung, ambang kehancuran itu semakin dekat selangkah demi selangkah.
"Yi-yifu!?" Cao Yin segera berlutut, menyetarakan tingginya dengan yifu-nya yang masih ber-kowtow padanya. "Yifu telah merawat Yin hingga sekarang! Dengan cara apapun akan kulakukan untuk membalas budi yifu!" Cao Yin memejam erat sepasang matanya. "Te-tetapi…" detak jantung Cao Cao melonjak cepat mendengar kata 'tetapi' itu. "Tetapi… Yin…"
Cao Cao benar-benar takut bahwa anak perempuannya ini akan kembali menolaknya seperti tahun lalu.
"Aku… mabuk panggung…"
Mendengar alasan itu, Cao Cao merasa jantungnya berhenti berdetak untuk sesaat. Tanpa bisa menahan rasa geli pada dadanya, ia melepas tawa. Momen itu juga, wajah anak angkatnya langsung merah padam antara dua rasa; malu dan kesal. Bagaimana tidak? Apakah alasan yang membuatnya menolak setiap permintaan Cao Cao untuk dirinya bergabung ke dalam W2E itu lucu sekali?
"Yin…," Cao Cao menghela napas, tetapi tidak atas dasar kesal ataupun kecewa, namun oleh perasaan lega. "Apakah itu yang membuatmu selalu menolak permintaanku?" Cao Yin mengangguk, masih dalam posisi kowtow. "Kau kira siapa yifu-mu ini? Hmm…? Urusan seperti itu sangat mudah bagiku – Cao Cao!"
"Jika kau tidak mau wajahmu dilihat oleh publik agar bisa menghindari kejaran media massa ataupun para penguntit itu, kau bisa menggunakan topeng. Sebenarnya, bisa saja W2E membuatkan sebuah hologram lipsing untukmu tetapi, anggaran W2E saat ini sudah tidak mencukupi. Kau harus maju sendiri ke panggung dan satu-satunya cara adalah dengan mengenakan topeng. Aku yakin orang yang dipilih Wenruo juga mengerti cara mengatasi demam panggung-mu itu, Yin."
Mendengar penjelasan ayah angkatnya, Cao Yin merasa aman. Benar juga, mengapa cara itu tidak pernah terpikirkan olehku sebelumnya? Dalam benaknya, ia mementung kepalanya dengan tongkat baton.
"Jadi, bagaimana? Apakah kau bersedia bergabung dengan W2E?" Cao Cao menatap lekat sepasang mata anak angkatnya, menunggu kepastian.
Seulas senyum penuh kemantapan muncul di wajah Cao Yin. Ia mengangguk lalu ber-kowtow pada Cao Cao, "Ya, Yin ingin bergabung dengan W2E!"
Cao Cao tersenyum, bangga pada keputusan anak angkatnya. Ia lalu membantu Cao Yin berdiri, menepuk bahunya. "Ah... yifu hampir lupa. Kau juga membutuhkan nama samaran..."
"Yin tidak memiliki ide untuk itu..."
"Hmm..." Cao Cao mengurut dagunya. "Bagaimana dengan 'Luo Yinyue'? Kau menyukainya?"
"Luo Yinyue..." Cao Yin mengangguk, tersenyum. "Aku menyukainya!"
"Temui aku di kantorku besok jam 10 pagi. Meskipun kau adalah anak angkatku serta bagian dari keluarga Cao, keterlambatan tidak diampuni!"
"Mengerti, yifu!"
Cao Cao berbalik, berjalan menuju ruangannya sembari menelpon Xun Yu. Ia mendapatkan kabar gembira bahwa keempat calon anggota band penyelamat W2E berjanji akan menemui Cao Cao esok. Masa depan dari W2E pasti akan terselamatkan oleh lima anggota W2E ini, ia sangat yakin.
"W2E berada di tangan kalian berlima, anak muda."
...
To Be Continued...
